Minggu, 25 Desember 2011

ACARA MENYAMBUT PERGANTIAN TAHUN, UNTUK APA?


Tujuh hari lagi, sekiranya Allah menghendaki, penduduk dunia akan mengalami pergantian tahun Masehi, dari 2011 ke 2012. Sebenarnya yang disebut tahun Masehi itu tidak lain dari penggalan waktu, yang pangkal, ujung, dan bagian-bagian di dalamnya ditetapkan manusia berdasar pengamatannya terhadap kedudukan matahari. Maka sistem kalender yang didasarkan kepada kedudukan matahari itu disebut kalender surya atau kelender syamsiah. Di pihak lain ada sistem kalender yang didasarkan kepada pengamatan atas kedudukan bulan; ini dikenal sebagai kalender qomariyah, yang digunakan untuk tahun Hijriyah.

Buku tipis “Perjalanan Mengenal Astronomi” yang diterbitkan oleh Observatorium Bosscha ITB menerangkan, sistem kalender surya telah digunakan oleh bangsa Arab sejak 4241 tahun sebelum Masehi. Pada tahun 45 sebelum Masehi penguasa Romawi Julius Caesar dengan bantuan matematikawan Alexandria bernama Sosigenes mereformasi kalender surya temuan orang Arab tersebut dengan melakukan sejumlah perubahan. Kemudian pada abad ke 16 Masehi, Paus Gregorius XIII melakukan perubahan lagi untuk menyesuaikan hitungan sebelumnya agar lebih cocok dengan kenyataan di alam. Para astronom menyatakan bahwa pada waktunya orang harus melakukan penyesuaian lagi
.
Uraian di atas menunjukkan bahwa saat pergantian tahun itu sebenarnya hanya sebuah titik dalam perjalanan waktu, yang didasarkan kepada kesepakatan manusia. Titik tersebut tidak menunjukkan adanya sebuah peristiwa khusus atau sebuah kejadian besar di alam raya. Namun ternyata orang di berbagai kawasan di muka bumi ini membuat tradisi untuk menyambutnya dengan gegap gempita. Orang-orang di banyak negara pada saat pergantian tahun itu meniup terompet, sejak dari terompet kertas sampai terompet yang digunakan dalam orkestra. Selain itu orang juga menyulut kembang api dan petasan. Penyalaan petasan ini mengikuti dan mengembangkan tradisi Cina, yang menganggap bunyi-bunyi nyaring sebagai sarana mengusir roh jahat dan menolak bencana. Banyak pula orang yang menyelenggarakan pesta-pesta meriah yang menghabiskan dana sangat besar. Tahun lalu misalnya publik Amerika Serikat mengadakan pesta di Time Square New York dengan menyalakan 32.000 buah lampu besar. Mudah dipahami bila perayaan besar yang diikuti banyak sekali orang itu menimbulkan bencana. Di Filipina tahun lalu 546 orang luka, berat maupun ringan.

Masyarakat Indonesia seakan tidak mau kalah dengan bangsa-bangsa lain, juga melaksanakan berbagai acara pergantian tahun. Di berbagai kota anak-anak muda berkeliling menjelajahi jalan besar dan kecil, dengan kendaraan masing-masing, terutama sepeda motor yang gasnya digerung-gerungkan dan klaksonnya dibunyikan keras-keras. Di kampung-kampung anak-anak bermain petasan; semakin keras bunyinya semakin senang mereka. Semua stasion televisi mengadakan siaran khusus, dengan ragam acara khusus, yang berpuncak pada ritus count downIndonesia terlanjur kagum kepada mereka sebagai negara dan bangsa yang dianggap modern, kaya dan bergaya. Sayang, yang ditiru dari mereka bukan hal-hal baik seperti disiplin, berpikir dan bekerja keras, taat aturan; sikap-sikap yang menjadikan mereka mampu mencapai kemajuan ilmu dan teknologi pada taraf yang tinggi. tepat di tengah malam. Apa tujuan orang mengadakan perayaan demikian itu? Sungguh tidak jelas. Yang paling banyak tentunya ikut-ikutan belaka, terutama ikut-ikutan masyarakat Barat tanpa tahu maknanya.
Kesenangan meniru orang lain secara membuta ini telah terjadi sejak dahulu, pada masa Rasulullah Saw. Orang-orang Yahudi Madinah yang kreatif tetapi juga licik, banyak memperoleh keuntungan harta dengan memanfaatkan kondisi orang-orang Arab yang masih bodoh dan miskin. Berbekal banyak kekayaan itu mereka hidup dengan aneka lagak. Maka banyak orang-orang Muslim yang ingin sekali menjalani kehidupan seperti mereka. Karena itu Allah Swt menurunkan peringatan kepada mereka: “Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir”. (QS At-Taubah 9: 55).

Rasulullah Saw menandaskan peringatan Allah tersebut dengan sabdanya: “Sungguh kamu sekalian akan mengikuti orang-orang yang kamu kagumi itu, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga tatkala orang itu masuk liang landak, kamu tetap mengikutinya juga.” Sabda Rasul tersebut pada intinya menegaskan bahwa meniru orang lain tanpa memahami apa yang ditirunya, mengapa dan untuk apa, pasti mendatangkan bencana, baik di dunia maupun di akhirat.


Ada
yang menjustifikasi pesta-pesta tak jelas itu dengan menyatakannya sebagai ekspressi kegembiraan, yang lumrah dan manusiawi. Kita patut bertanya: Kegembiraan karena apa dan untuk apa? Apakah bergembira karena baru saja mencapai kesuksesan dalam satu atau beberapa usaha yang telah dilakukan dengan tekun dan bersungguh-sungguh? Sukses dalam pencapaian ilmu, pengembangan budaya luhur, kemakmuran yang adil, atau apa? Kita telah membicarakan di atas bahwa pergantian tahun hanyalah sebuah ttik yang kita mau tidak mau harus melewatinya karena titik itu berada di garis waktu yang tidak akan berhenti sampai Kiamat tiba. Letak titik itu bisa saja diubah, karena hanya didasarkan kepada perjanjian atau penetapan manusia belaka.


Julius Caesar pernah mengubahnya dan kemudian Paus Gregorius XIII mengubahnya pula. Bahkan pada pergantian tahap kedua itu ada sepuluh tanggal yang ditiadakan yaitu tanggal 5 sampai dengan 14 Oktober 1582. Pada saat itu Kamis tanggal 4 Oktober langsung disambung dengan Jum’at 15 Oktober. Lalu apa artinya tanggal 1 Januari sehingga dirayakan secara besar-besaran?


Seandainyapun pergantian tahun itu dianggap sebagai sebuah momentum untuk mengenang sesuatu, maka bagi orang beriman ada dua hal yang semestinya dilakukan, yaitu tasyakkur bin ni’mah dan muhasabah. Yang dimaksud dengan tasyakkur bin ni’mah adalah menyadari dan berterima kasih kepada Allah atas karuniaNya yang tak terkira. Al-Qur’an menerangkan: “Jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya.” (QS An-Nahl 16: 18). Setiap orang memang patut menyadari segala karunia Allah Swt yang telah dikucurkan kepada dirinya, sejak masih berada di rahim ibu sampai dengan saat yang dianggap momentum itu. Kehendak Allah Swt untuk memberikan perlindungan diawali ketika sekitar 250 juta flagella yang berada dalam 3 cc cairan kental berenang-renang memperebutkan posisi untuk bertemu dan berpadu dengan ovum. Kemudian paduan dua zat hidup itu berproses di dalam rahim dengan cara yang unik, sampai menjadi janin dan akhirnya ke luar sebagai bayi (QS Al-Mukminun 23: 12-14). Selanjutnya Allah mengembangkan pada bayi yang lahir dalam keadaan tak berdaya itu, kemampuan indera dan akal secara bertahap sehingga mencapai tingkatan yang optimal (QS An-Nahl 16: 78). Sejalan dengan itu fisik berkembang pula sampai menjadi manusia dewasa.


Setiap orang pasti mengalami keadaan yang berubah-ubah, ada yang sesuai dengan keinginan dan ada yang berbeda dengan harapan. Orang yang sering tasyakkur bin ni’mah merasakan bahwa keadaan baik itu jauh lebih banyak dia peroleh dibanding yang sebaliknya. Bahkan kondisi yang tidak sesuai dengan keinginanpun memberi pelajaran, peringatan, dan manfaat-manfaat lainnya. Sebaliknya dia sadar pula bahwa keadaan-keadaan baikpun merupakan ujian baginya, apakah bersyukur atau justru menjadi manusia tak tahu diri. (QS An-Naml 27: 40).


Hal kedua yang mestinya dilakukan seorang Mukmin pada momentum tertentu adalah muhasabahaqidah - ajaran dasar agama telah dihayatinya dengan sangat baik, atau masih sering melupakan Allah? Apakah ibadah mahdhoh - aktivitas ritual telah ditunaikannya dengan penghayatan yang baik ataukah hanya sekedar melakukannya tanpa pengertian yang mendalam? Atau bahkan penunaiannya secara fisik pun masih berlubang di sana sini? Lalu apakah aqidahibadah mahdhoh-nya itu telah mampu menghiasi nuraninya sehingga selalu cenderung untuk berbuat kebaikan (amal saleh) kepada sesama manusia sebagaimana yang diperintahkan dan dicontohkan Rasul? Muhasabah ini diperlukan karena orang seringkali lupa. Pepatah Arab menyatakan: Al-Insanu mahallul khotho’ wan nisyan - manusia itu tempatnya salah dan alpa. Manusia, siapapun termasuk Rasul, tidak akan tahu kapan saatnya dipanggil Allah. Bila saat pemanggilan itu tiba, dia tidak siap, maka kesengsaraan yang luar biasa akan dia jalani dalam masa yang tidak ada ujungnya. - introspeksi, mengingat-ingat apa yang telah diperbuatnya di dalam mengisi hidupnya sampai saat itu. Apakah dan


Suasana pergantian tahun, bisa tetapi tidak harus diperingati. Namun peringatan itu hanya sebagai momentum untuk memantapkan tasyakkur bin ni’mah dan melakukan muhasabah yang bersungguh-sungguh. Kalau orang merayakan tanpa makna dan tanpa pengertian, dia hanya akan merugi dengan kerugian besar. Tradisi penyambutan yang membudaya di mana-mana hanya akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang menangguk keuntungan besar dengan memberi pelayanan maksimal kepada siapa saja yang senang berpesta pora. Kesenangan berpesta pora jelas tidak sejalan dengan kehendak Allah agar orang beriman berkehidupan sederhana, produktif, dan bermanfaat bagi lingkungan masyarakatnya. Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik orang di antara kamu adalah yang memberi manfaat paling banyak kepada masyarakatmu.”


Sakib Machmud
No. 134

3 komentar:

  1. Assalamu'alaikum ustadz. Apakah motivasi merubah tanggal oleh Julius Caesar dan Paus Gregorius XIII tersebut di atas? Atas dasar kepentingan apa? Terima kasih. Wassalam.

    BalasHapus
  2. Pada dasarnya satu tahun syamsiyah adalah waktu yang diperlukan bumi untuk bejalan satu putaran mengitari matahari. Dalam hitungan orang Arab kuno, satu tahun adalah 365 hari. Kalender Julius Caesar mengoreksinya - sesuai perkembangan ilmu menjadi 365,25 hari. Karena itu kemudian ada tahun panjang 366 hari dan ada tahun pendek 365 hari. Kalender Gregorian mengoreksinya lagi menjadi 365,2425 hari. Maka setelah berabad-abad, kalender Julian itu melakukan kesalahan sampai 10 hari. Hitungan Gregorian juga tidak tepat benar, maka pada saat-saat tertentu dalam hitungan abad, perlu ada koreksi lagi. Demikian kata para astronom menurut penangkapan saya yang bukan ahli. Terima kasih. SM.

    BalasHapus
  3. Terimakasih ustadz. Saya tahunya satu putaran 365,25 hari, baru tahu sekarang ada yang 365,2425 hari. Wassalamu'alaikum wr.wb.

    BalasHapus