Ulama adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing ummat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupum masalah sehari hari yang diperlukan dari sisi keagamaan maupun kemasyarakatan. Ulama adalah penerus para Nabi. Rasulullah Saw bersabda, ”Ulama adalah ahli waris misi dan fungsi kenabian.” (HR Ahmad).
Para Nabi sejatinya membawa misi transformasi sosial yang dijiwai oleh nilai-nilai tauhid, sebagaimana firman Allah Swt, "Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: `Bahwasanya tidak ada Tuhan yang hak melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku'." (QS Al-Anbiya 21: 25).
Maka, dalam rangka mengemban misi para rasul, sudah selayaknya seorang Ulama harus betul-betul mengamalkan fungsi kenabian bagi ummat manusia seperti termaktub dalam firman Allah Swt: "Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya, dan untuk menjadi cahaya yang menerangi." (QS Al-Ahzab 33: 45-46).
Dalam perspektif Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Ath-Thusi Asy-Syafi'i atau lebih dikenal sebagai Syeikh Imam Al-Ghazali (1058 M – 1111 M), dalam kitabnya yang sangat termasyhur Ihya Ulumuddin menyebutkan beberapa kriteria dan golongan ulama-ulama yang berada di sekitar Islam. Meski dirumuskan beratus tahun yang silam, nampaknya rumusan-rumusan tersebut masih tetap relevan, bahkan semakin relevan di zaman sekarang. Zaman ketika yang buruk berwajah baik dan kebaikan semakin tertindas oleh gegap gempita kezhaliman.
Golongan pertama yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali adalah yang menonjol penguasaannya terhadap ilmu-ilmu syariah dan juga ilmu umum lainnya. Tapi dia memiliki satu kelalaian besar, yaitu lupa mengamalkan. Golongan ini mengalami kegersangan jiwa yang hebat, sebab ilmunya tak dialiri keberkahan dari Allah yang Maha Memiliki ilmu.
Mereka memiliki ilmu, tapi lupa mengamalkan. Mereka mengetahui, namun tidak memahami. Meski bersurban besar dan berjubah panjang, ulama seperti ini jauh dari ketakwaan dan sedikit sekali memiliki keterikatan dengan akhirat yang besar.
Golongan kedua, adalah ulama-ulama yang memiliki ilmu dan melaksanakan ketaatan. Tapi sayang, ketaatan tersebut hanya sebatas permukaan, tak mendalam dan tak sampai pada hakikat penghambaan. Mereka rajin mengamalkan, menjauhi kemaksiatan, namun ada satu hal yang lebih dia kejar: popularitas dan pengaruh yang lebih besar. Ilmu dan amal yang dilakukannya, hanya sebagai batu loncatan untuk meraih nama besar.
Golongan ketiga, ada ulama-ulama di antara ummat yang menguasai ilmu, tidak lalai mengamalkan ilmunya, tidak lupa mengetahui amalan-amalan utama dalam agama. Namun hidup mereka penuh kemewahan, harta bertumpuk dan bergelimang kemakmuran. Mereka menjadikan ilmu agama sebagai pakaian yang indah dan mewah, tapi lupa pada perintah zuhud dan hidup sederhana. Umar bin Khattab pernah berkata pada penguasa kota Syam yang berkomentar tentang pakaiannya yang sederhana. “Sesungguhnya Allah telah memuliakan Muslim dengan Islam. Maka kita tidak mencari kemuliaan dari selain Islam.” Kemuliaan tidak datang dari baju, tidak datang dari kendaraan, tidak datang dari kemewahan yang disandang. Tapi kemuliaan akan muncul ketika kita bersama Islam.
Golongan keempat. ada di antara ulama-ulama itu orang-orang yang senantiasa menjaga ilmunya, menghiasi dengan ketaatan, dan menyemarakkan amal kebaikan. Tapi mereka lupa dan lalai sehingga menjadi ulama-ulama yang tunduk pada kekuasaan. Macam-macam alasannya. Mulai dari ketakutan sampai dengan menginginkan pengaruh dan jabatan yang lebih besar. Mereka menikmati puja-puji. Mereka menginginkan dikelilingi orang-orang yang selalu mengagumi. Tapi ulama yang seperti ini akan bersedih hati ketika satu persatu pengagumnya meninggalkan dan pergi. Dia akan dirundung rasa perih ketika tak ada yang bertepuk tangan dan memuji.
Selain keempat golongan di atas, menurut Imam Al-Ghazali, ada kelompok lain yaitu Ulama yang menyesatkan ummatnya, yaitu Ulama yang sibuk dalam mengejar ilmu-ilmu kalam, logika dan melalaikan ilmu-ilmu dasar dalam agama yang mulia ini.
Kelompok pertama, ada sebagian dari orang-orang alim yang disibukkan dengan ilmu-ilmu fatwa, menggeluti hukum dan masalah yang diperselisihkan dalam muamalah duniawi yang sangat lebar. Mereka membatasi ilmu dengan sebutan fiqih dan mazhabiyah. Mereka sibuk mempermasalahkan cabang, tapi lalai pada pokok yang besar. Mereka terlibat menjatuhkan orang dan lawan sesama Muslim. Mereka menolak kebenaran, demi kemenangan dan persaingan. Dengan mudah kelompok ini akan menjatuhkan fatwa sesat dan bid’ah. Bahkan tak segan-segan mereka mengkafirkan saudara seiman. Mereka memiliki watak dasar suka menyakiti dan memiliki hasrat besar untuk mengalahkan. Mereka tidak mendalami dan menggeluti satu ilmu, kecuali untuk mengalahkan.
Kelompok kedua, yang memiliki ciri menonjol suka berdebat dan berbantahan. Sibuk mencari cara dan metode yang canggih untuk mengalahkan lawan argumentasi. Mereka meyakini bahwa perdebatan memiliki nilai ibadah dan mulia. Tapi mereka lupa, perdebatan itu juga bisa menghasilkan kebingungan yang luar biasa pada ummat yang ada di bawah. Seringkali mereka yang berada dalam kelompok ini bergerak dengan motivasi popularitas, pengaruh dan pengakuan yang lebih besar. Mereka tak pernah puas dengan puji dan sanjungan. Mereka merasa sangat bangga jika dikutip dan menjadi rujukan.
Kelompok ketiga, adalah orang-orang yang berdakwah, memberikan ceramah, menyeru dan mengingatkan, namun selalui diwarnai dengan rasa ujub dan riya’ yang mematikan. Orang-orang seperti ini berciri, senang melihat orang susah dan susah melihat orang lain senang. Mereka akan sakit hati jika mengetahui rival atau pesaing-pesaing dalam pemikiran lain yang mendapat pengakuan dari ummat. Namun, kerap kali kelompok ini sangat sering lebih diakui. Karena mereka yang berada dalam kelompok ini memiliki retorika yang indah dan logika yang tinggi. Mereka mampu mengubah yang syubhat - tidak jelas - menjadi halal dan memiliki keahlian dengan dalil-dalil yang meyakinkan untuk mengubah haram menjadi remang-remang.
Kelompok keempat menurut Al-Ghazali adalah para alim dan ulama yang menggeluti ilmu hadits, mengajarkannya, mengejar dan mencari riwayat-riwayat dalam jumlah yang luar biasa banyaknya. Mereka tak peduli dengan jarak jauh yang ditempuh. Tak menghitung berapa syuyukh - pemuka masyarakat - yang didatangi. Mereka menghabiskan waktu, umur, kekuatan, dana dan segala macam untuk tujuan mulia itu. Tapi ulama golongan ini melupakan tujuan mulia lainnya, bahwa hadits dan riwayat diketahui untuk dipahami, untuk diamalkan, dan menjadi tersebar. Esensi hadits yang demikian terlupakan karena kenikmatan yang didapatkan dalam mengejar ilmu pengetahuan.
Kelompok kelima, Beberapa ulama yang menghabiskan waktu dan umurnya untuk mempelajari sastra dan nahwu - tata bahasa, syair dan puisi, linguistik yang rumit dan pelik. Mereka lupa bahwa bahasa hanyalah pengantar untuk tujuan yang lebih besar. Mempelajari bahasa perlu batasan-batasan yang disepakati jaraknya. Jangan lupa, bahasa adalah jembatan untuk memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits. Tapi golongan ini terlalu sibuk membangun jembatan dan lupa menyeberang dan lalai pada tujuan utama perjalanan.
Hari ini, pengamatan kita yang cermat diperlukan untuk memilih Ulama yang menjadi panutan kita, karena memang tidak semua Ulama layak menjadi panutan. Boleh jadi ilmunya tinggi, tapi akhlaknya masih banyak yang harus diperbaiki. Hari ini pula kita saksikan para ulama jauh dari permasalahan penting dan krusial, tapi sibuk dengan hal-hal yang remeh dan di luar kepentingan besar ummat Islam. Soal-soal besar dikecilkan dan masalah kecil malah dibesarkan. Banyak Ulama yang hebat dalam berdebat, tapi lemah dalam membangkitkan semangat ummat. Mereka hanya fokus pada permasalahan yang dangkal, tapi tak pernah mau menerjuni persoalan yang dalam dan sangat vital tentang bagaimana membangkitkan ummat Islam.
Selanjutnya Imam Al-Ghazali pernah berkata, “Para sahabat Rasulullah Saw hanya bermusyawarah ketika mereka mendapat permasalahan yang baru atau jika menemui masalah yang mungkin akan menjadi masalah besar. Namun hari ini kita mendapat manusia suka berdebat tentang hal-hal kecil yang tidak penting, tapi tak pernah mengeluarkan fatwa tentang masalah-masalah besar yang dibutuhkan. Semua Ulama dalam setiap forum ingin menjadi orang yang paling dominan dan pendapatnya saja yang paling benar.”
Imam Al-Ghazali sangat terpukul dengan kondisi ulama yang seperti ini. Jika pada masa itu saja sudah seperti ini kegelisahan Imam Al-Ghazali, bagaimana pula jika beliau hidup di zaman kita ini? Wallahu’alam bisshawab.
Para Nabi sejatinya membawa misi transformasi sosial yang dijiwai oleh nilai-nilai tauhid, sebagaimana firman Allah Swt, "Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: `Bahwasanya tidak ada Tuhan yang hak melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku'." (QS Al-Anbiya 21: 25).
Maka, dalam rangka mengemban misi para rasul, sudah selayaknya seorang Ulama harus betul-betul mengamalkan fungsi kenabian bagi ummat manusia seperti termaktub dalam firman Allah Swt: "Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya, dan untuk menjadi cahaya yang menerangi." (QS Al-Ahzab 33: 45-46).
Dalam perspektif Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Ath-Thusi Asy-Syafi'i atau lebih dikenal sebagai Syeikh Imam Al-Ghazali (1058 M – 1111 M), dalam kitabnya yang sangat termasyhur Ihya Ulumuddin menyebutkan beberapa kriteria dan golongan ulama-ulama yang berada di sekitar Islam. Meski dirumuskan beratus tahun yang silam, nampaknya rumusan-rumusan tersebut masih tetap relevan, bahkan semakin relevan di zaman sekarang. Zaman ketika yang buruk berwajah baik dan kebaikan semakin tertindas oleh gegap gempita kezhaliman.
Golongan pertama yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali adalah yang menonjol penguasaannya terhadap ilmu-ilmu syariah dan juga ilmu umum lainnya. Tapi dia memiliki satu kelalaian besar, yaitu lupa mengamalkan. Golongan ini mengalami kegersangan jiwa yang hebat, sebab ilmunya tak dialiri keberkahan dari Allah yang Maha Memiliki ilmu.
Mereka memiliki ilmu, tapi lupa mengamalkan. Mereka mengetahui, namun tidak memahami. Meski bersurban besar dan berjubah panjang, ulama seperti ini jauh dari ketakwaan dan sedikit sekali memiliki keterikatan dengan akhirat yang besar.
Golongan kedua, adalah ulama-ulama yang memiliki ilmu dan melaksanakan ketaatan. Tapi sayang, ketaatan tersebut hanya sebatas permukaan, tak mendalam dan tak sampai pada hakikat penghambaan. Mereka rajin mengamalkan, menjauhi kemaksiatan, namun ada satu hal yang lebih dia kejar: popularitas dan pengaruh yang lebih besar. Ilmu dan amal yang dilakukannya, hanya sebagai batu loncatan untuk meraih nama besar.
Golongan ketiga, ada ulama-ulama di antara ummat yang menguasai ilmu, tidak lalai mengamalkan ilmunya, tidak lupa mengetahui amalan-amalan utama dalam agama. Namun hidup mereka penuh kemewahan, harta bertumpuk dan bergelimang kemakmuran. Mereka menjadikan ilmu agama sebagai pakaian yang indah dan mewah, tapi lupa pada perintah zuhud dan hidup sederhana. Umar bin Khattab pernah berkata pada penguasa kota Syam yang berkomentar tentang pakaiannya yang sederhana. “Sesungguhnya Allah telah memuliakan Muslim dengan Islam. Maka kita tidak mencari kemuliaan dari selain Islam.” Kemuliaan tidak datang dari baju, tidak datang dari kendaraan, tidak datang dari kemewahan yang disandang. Tapi kemuliaan akan muncul ketika kita bersama Islam.
Golongan keempat. ada di antara ulama-ulama itu orang-orang yang senantiasa menjaga ilmunya, menghiasi dengan ketaatan, dan menyemarakkan amal kebaikan. Tapi mereka lupa dan lalai sehingga menjadi ulama-ulama yang tunduk pada kekuasaan. Macam-macam alasannya. Mulai dari ketakutan sampai dengan menginginkan pengaruh dan jabatan yang lebih besar. Mereka menikmati puja-puji. Mereka menginginkan dikelilingi orang-orang yang selalu mengagumi. Tapi ulama yang seperti ini akan bersedih hati ketika satu persatu pengagumnya meninggalkan dan pergi. Dia akan dirundung rasa perih ketika tak ada yang bertepuk tangan dan memuji.
Selain keempat golongan di atas, menurut Imam Al-Ghazali, ada kelompok lain yaitu Ulama yang menyesatkan ummatnya, yaitu Ulama yang sibuk dalam mengejar ilmu-ilmu kalam, logika dan melalaikan ilmu-ilmu dasar dalam agama yang mulia ini.
Kelompok pertama, ada sebagian dari orang-orang alim yang disibukkan dengan ilmu-ilmu fatwa, menggeluti hukum dan masalah yang diperselisihkan dalam muamalah duniawi yang sangat lebar. Mereka membatasi ilmu dengan sebutan fiqih dan mazhabiyah. Mereka sibuk mempermasalahkan cabang, tapi lalai pada pokok yang besar. Mereka terlibat menjatuhkan orang dan lawan sesama Muslim. Mereka menolak kebenaran, demi kemenangan dan persaingan. Dengan mudah kelompok ini akan menjatuhkan fatwa sesat dan bid’ah. Bahkan tak segan-segan mereka mengkafirkan saudara seiman. Mereka memiliki watak dasar suka menyakiti dan memiliki hasrat besar untuk mengalahkan. Mereka tidak mendalami dan menggeluti satu ilmu, kecuali untuk mengalahkan.
Kelompok kedua, yang memiliki ciri menonjol suka berdebat dan berbantahan. Sibuk mencari cara dan metode yang canggih untuk mengalahkan lawan argumentasi. Mereka meyakini bahwa perdebatan memiliki nilai ibadah dan mulia. Tapi mereka lupa, perdebatan itu juga bisa menghasilkan kebingungan yang luar biasa pada ummat yang ada di bawah. Seringkali mereka yang berada dalam kelompok ini bergerak dengan motivasi popularitas, pengaruh dan pengakuan yang lebih besar. Mereka tak pernah puas dengan puji dan sanjungan. Mereka merasa sangat bangga jika dikutip dan menjadi rujukan.
Kelompok ketiga, adalah orang-orang yang berdakwah, memberikan ceramah, menyeru dan mengingatkan, namun selalui diwarnai dengan rasa ujub dan riya’ yang mematikan. Orang-orang seperti ini berciri, senang melihat orang susah dan susah melihat orang lain senang. Mereka akan sakit hati jika mengetahui rival atau pesaing-pesaing dalam pemikiran lain yang mendapat pengakuan dari ummat. Namun, kerap kali kelompok ini sangat sering lebih diakui. Karena mereka yang berada dalam kelompok ini memiliki retorika yang indah dan logika yang tinggi. Mereka mampu mengubah yang syubhat - tidak jelas - menjadi halal dan memiliki keahlian dengan dalil-dalil yang meyakinkan untuk mengubah haram menjadi remang-remang.
Kelompok keempat menurut Al-Ghazali adalah para alim dan ulama yang menggeluti ilmu hadits, mengajarkannya, mengejar dan mencari riwayat-riwayat dalam jumlah yang luar biasa banyaknya. Mereka tak peduli dengan jarak jauh yang ditempuh. Tak menghitung berapa syuyukh - pemuka masyarakat - yang didatangi. Mereka menghabiskan waktu, umur, kekuatan, dana dan segala macam untuk tujuan mulia itu. Tapi ulama golongan ini melupakan tujuan mulia lainnya, bahwa hadits dan riwayat diketahui untuk dipahami, untuk diamalkan, dan menjadi tersebar. Esensi hadits yang demikian terlupakan karena kenikmatan yang didapatkan dalam mengejar ilmu pengetahuan.
Kelompok kelima, Beberapa ulama yang menghabiskan waktu dan umurnya untuk mempelajari sastra dan nahwu - tata bahasa, syair dan puisi, linguistik yang rumit dan pelik. Mereka lupa bahwa bahasa hanyalah pengantar untuk tujuan yang lebih besar. Mempelajari bahasa perlu batasan-batasan yang disepakati jaraknya. Jangan lupa, bahasa adalah jembatan untuk memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits. Tapi golongan ini terlalu sibuk membangun jembatan dan lupa menyeberang dan lalai pada tujuan utama perjalanan.
Hari ini, pengamatan kita yang cermat diperlukan untuk memilih Ulama yang menjadi panutan kita, karena memang tidak semua Ulama layak menjadi panutan. Boleh jadi ilmunya tinggi, tapi akhlaknya masih banyak yang harus diperbaiki. Hari ini pula kita saksikan para ulama jauh dari permasalahan penting dan krusial, tapi sibuk dengan hal-hal yang remeh dan di luar kepentingan besar ummat Islam. Soal-soal besar dikecilkan dan masalah kecil malah dibesarkan. Banyak Ulama yang hebat dalam berdebat, tapi lemah dalam membangkitkan semangat ummat. Mereka hanya fokus pada permasalahan yang dangkal, tapi tak pernah mau menerjuni persoalan yang dalam dan sangat vital tentang bagaimana membangkitkan ummat Islam.
Selanjutnya Imam Al-Ghazali pernah berkata, “Para sahabat Rasulullah Saw hanya bermusyawarah ketika mereka mendapat permasalahan yang baru atau jika menemui masalah yang mungkin akan menjadi masalah besar. Namun hari ini kita mendapat manusia suka berdebat tentang hal-hal kecil yang tidak penting, tapi tak pernah mengeluarkan fatwa tentang masalah-masalah besar yang dibutuhkan. Semua Ulama dalam setiap forum ingin menjadi orang yang paling dominan dan pendapatnya saja yang paling benar.”
Imam Al-Ghazali sangat terpukul dengan kondisi ulama yang seperti ini. Jika pada masa itu saja sudah seperti ini kegelisahan Imam Al-Ghazali, bagaimana pula jika beliau hidup di zaman kita ini? Wallahu’alam bisshawab.
Imam Puji Hartono
No. 133
No. 133
Ass.wr.wb, terima kasih mas Her, bagaimana keadaan mas Her dan keluarga semoga Allah selalu memberikan kebahagiaan ya, amin. Salam buat keluarga.
BalasHapusAlaikum salam wr.wb. Alhamdulillah kami baik. Semoga Anda dan keluarga juga baik. Terimakasih do'a Anda.Salam untuk keluarga dan teman-teman.
BalasHapusHari ini kita mendapati ulama suka berdebat tentang hal-hal kecil yang tidak penting, tapi tak pernah mengeluarkan fatwa tentang masalah-masalah besar yang dibutuhkan. Fatwa MUI sifatnya reaksif, kurang inisiatif sendiri untuk mencegah polemik.
BalasHapusUlama? Umumnya seperti selebriti......
BalasHapus