Sabtu, 25 Januari 2014

BELAJAR DARI PERISTIWA PEMBEBASAN MAKKAH


إِذَا جَاء نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ﴿١﴾ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجاً ﴿٢﴾ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّاباً ﴿٣﴾
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu Lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Mahapenerima tobat.” (An-Nashr QS 110 :1-3).
Surah An-Nashr yang ditulis di atas terdiri atas tiga ayat yang membicarakan fathu Makkah, pembebasan kota Makkah dari kemusyrikan dan terbukanya kota ini bagi kaum muslimin untuk menunaikan ibadah di dalamnya. Sebagaimana kita maklumi, Makkah adalah tempat kelahiran Muhammad Saw, sekaligus tempat Masjidil Haram dan Ka'bah berada. Sudah tentu Muhammad sangat menyayangi tanah airnya itu.
Salah satu wujud kecintaannya adalah keprihatinan beliau yang sangat mendalam terhadap sikap dan perilaku penduduk Makkah, yang benar-benar berada dalam keadaan jahiliyah, kegelapan yang pekat. Laki-laki mereka, setelah mencari nafkah hanya berfoya-foya belaka, menghabiskan harta untuk hal-hal yang tidak berguna. Mereka senang sekali berjudi dan minum minuman keras tanpa ingat waktu, sehingga isteri dan anak-anak tidak mendapatkan perhatian yang memadai. Mereka bersaing dalam mempertontonkan harta kekayaan dan kemampuan-kemampuan lainnya. Merekapun bersaing untuk mendapatkan julukan ‘yang ter’, apakah terkaya atau terbanyak anak lelakinya, atau terbanyak pengikutnya. Persaingan antar orang berkembang menjadi persaingan antar keluarga, kemudian antar suku. Yang demikian itu kemudian menimbulkan perselisihan dan pertengkaran. Sejak muda Muhammad Saw merasakan keprihatinan yang mendalam tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk merubah keadaan.
Pada usia 40 tahun beliau menerima wahyu pertama, disusul oleh wahyu-wahyu berikutnya yang memberi petunjuk tentang apa yang benar dan apa yang salah, apa yang harus dilakukan dan apa yang mesti ditinggalkan. Pada saat itulah beliau mendapatkan pencerahan hati yang sangat beliau dambakan. Maka dengan semangat tinggi beliaupun menyampaikan keterangan-keterangan Allah kepada sanak keluarga, kaum kerabat, sahabat dekat dan akhirnya masyarakat umum. Tetapi ternyata tanggapan yang beliau terima jauh panggang dari api. Kebanyakan di antara saudara dan teman-teman sendiri bukan saja menolak tetapi juga mengejek dan mencemooh. Nabi Muhammad kemudian bekerja lebih keras, berusaha untuk mengajak masyarakat dengan lebih tekun dan cermat. Ternyata semakin keras beliau berusaha semakin keras pula reaksi negatif yang beliau dapatkan. Dari ejekan berkembang menjadi pengucilan, sampai kemudian penganiayaan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang masuk Islam.
Akhirnya, untuk keselamatan jiwa, Rasul menyuruh para pengikut beliau untuk hijrah, meninggalkan Makkah - mula-mula ke Abessinia kemudian ke Yatsrib. Rasul sendiri kemudian hijrah pula, dan selanjutnya tinggal menetap di Yatsrib, kota yang kemudian disebut Madinah al Rasul - kotanya Rasul, atau Madinah al-Munnawwarah - kota yang menerangi dunia dengan cahaya Islam Orang-orang Makkah yang musyrik masih juga benci dan dengki kepada Rasulullah Saw dan bersikeras untuk menghancurkan agama yang beliau sampaikan. Mereka mengirimkan pasukan demi pasukan untuk menyerbu Madinah, tetapi hampir selalu pasukan itu dapat dipukul mundur. Kekuatan kaum Qureisy semakin lama semakin lemah, sebaliknya kaum muslimin justru semakin kuat.
Maka pada akhirnya Rasulullah Saw mengirimkan pasukan yang sangat besar, lebih dari 10.000 orang dengan perlengkapan tempur yang canggih untuk ukuran masa itu. Kali ini kaum Muslimin tidak lagi defensif akan tetapi datang menyerbu Makkah, untuk menghentikan serangan-serangan mereka langsung dari sumbernya. Selain itu penyerbuan dimaksudkan untuk membuka kota Makkah dan Masjidil Haram bagi kepentingan ibadah. Ekspedisi pasukan besar itu berhasil dengan gilang gemilang, bahkan dapat dikatakan tanpa meneteskan darah setitikpun. Para penguasa Makkah yang melihat pasukan sebanyak itu tidak punya nyali lagi untuk melawan. Mereka yang tetap tidak mau tunduk kepada Muhammad, menyingkir ke luar kota, sedangkan sebagian besar memilih tunduk dan taat kepada Islam. Itulah yang disebut Fathu Makkah, peristiwa kemenangan yang sangat penting, dan karena itu diabadikan pada surah Al-Nashr untuk dikenang dan diambil hikmahnya oleh umat Islam dari berbagai penjuru dan generasi.
Ayat pertama surah An-Nashr: إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ mengingatkan Rasulullah dan kaum mukminin bahwa kemenangan itu mereka dapatkan karena pertolongan Allah Swt. Peringatan demikian ini penting karena banyak orang yang menjadi lupa diri ketika memperoleh kemenangan atau keberhasilan. Mereka merasa bahwa kemenangannya itu merupakan hasil dari kemampuan dan kepandaiannya, atau ketekunan dan kecermatannya sendiri. Karena anggapan yang demikian itu merekapun menjadi sombong, congkak dan angkuh. Ini adalah penyakit yang sangat berbahaya namun tidak disadari oleh pengidapnya. Seperti kaum 'Ad dan kaum Tsamud, dua bangsa purbakala yang diceriterakan Al-Quran.
Mereka memang berhasil mencapai kemajuan yang sangat tinggi, baik di bidang ekonomi maupun teknologi untuk ukuran masa itu. Namun mereka menjadi lupa diri, amat sombong dan akibatnya jatuh terpuruk. Raja Fir'aun di Mesir yang hidup ribuan tahun kemudian, mengulang kesalahan mereka. Begitu pula Napoleon Bonaparte di Perancis dan Hitler di Jerman. Tentara mereka pada zamannya masing-masing adalah tentara yang sangat tangguh. Akan tetapi karena pemimpinnya menjadi congkak, sunnatullah terjadi; mereka mengalami kehancuran yang benar-benar tidak terbayangkan sebelumnya. QS Al-Fath 48; 23 menyatakan: سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلا  - “Ketetapan Allah sudah berlaku sejak dahulu dan tidak akan kamu jumpai perubahan dalam ketetapan Allah itu sedikitpun.” 
Agar kaum Muslimin tidak mengulang kesalahan orang-orang di masa lalu, Allah Swt segera memberi peringatan yang sangat penting. Orang yang beriman, baik yang turut serta pada fathu Makkah maupun yang tidak, jangan sekali-kali menjadi sombong karena kemenangan itu. Hendaklah mereka ingat bahwa kemenangan gilang gemilang tersebut mereka dapatkan karena Allah berkenan menolong. Sesungguhnya betapapun rinci orang membuat rencana, betapapun cermat orang menyusun siasat, akan tetapi banyak sekali faktor yang tidak dia ketahui, atau yang dia ketahui tetapi tidak dia kuasai. Pasukan Hitler yang menyerbu Rusia ternyata kalah bukan oleh musuh akan tetapi oleh cuaca yang sangat dingin. Sekelompok pasukan Amerika yang mencoba menyerang Iran ternyata hancur di tengah jalan karena trouble di peralatannya sendiri. Rencana dan siasat manusia, sejak zaman kuno sampai masa modern pada hakekatnya sama saja, bergantung sepenuhnya kepada rencana Allah. وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ   - “Dan mereka membuat siasat dan Allah membuat siasat pula, dan Allah adalah sebaik-baik Pembuat siasat.”
Apa sebenarnya makna pembebasan Makkah? Bukan kejayaan pribadi Muhammad, bukan pula pengakuan atas kehebatan orang-orang Madinah. Fathu Makkah adalah kunci utama bagi dakwah Islam. Ayat dua surah An-Nashr menyatakan tentang hal ini: وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا - “Dan engkau melihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong.” Ketika Makkah dibebaskan dari syirik dan kezaliman, orang secara berbondong-bondong masuk agama Allah. Mereka adalah orang-orang yang selama bertahun-tahun dihimpit oleh rasa takut, ketika hendak mengikuti dan menyuarakan kebenaran. Mereka telah mendengar ajaran agama yang disampaikan oleh Muhammad Saw, dan hatinya sudah dapat menerima. Tetapi mereka juga menyaksikan siksaan yang dialami oleh orang-orang yang menyatakan diri beriman. Ada di antara mereka yang terus menerus diejek dan dicemooh di mana saja berada, ada yang dikucilkan dan diboikot, tidak boleh berdagang dengan kafilah Qureisy bahkan tidak boleh berjual beli dengan orang-orang Qureisy lainnya. Malahan ada yang disiksa secara tidak manusiawi seperti Bilal bin Rabah, dan dibunuh dengan terang-terangan seperti suami isteri Yasir dan Sumayah. Maka banyak penduduk Makkah dan sekitarnya yang baru beriman dalam hati karena merasa belum sanggup menanggung resiko seperti para pengikut Rasulullah. Baru ketika fathu Makkah telah terjadi dan kaum kafirin telah kehilangan kekuasaannya, orang-orang itu berani muncul dan mengaku Muslim.
Apa yang harus dilakukan Rasul dan kaum mukminin ketika memperoleh kemenangan gilang gemilang demikian? Ayat 3 surah An-Nashr menurunkan petunjuk sebagai berikut: فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا – “Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesunguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” Ayat ini pertama-tama menyuruh Rasululullah dan kaum mukminin agar ketika memperoleh sukses segera bertasbih. Kalimat tasbih yang paling umum adalah Subhanalloh yang artinya "Maha Suci Allah". Suci dari apa? Dari segala kesalahan, kekurangan, dan kelemahan. Allah tidak mungkin lemah atau salah dalam mencipta dan mengatur alam semesta, termasuk manusia. Allah tidak akan mengalami  kesulitan dalam menganugerahkan rizki kepada setiap makhluk-Nya. Salah satu cara menyucikan Allah adalah memuji Dia atas segala pertolongan-Nya sehingga mencapai sukses. Pujian berarti pengakuan bahwa keberhasilan itu diperolehnya dari Allah, bukan semata-mata hasil usaha sendiri. Meski demikian, pujian tersebut sama sekali bukan untuk kepentingan Allah, karena Dia tidak memerlukan pujian. Yang berkepentingan untuk memuji Allah adalah justru manusia sendiri. Yang akan memperoleh keuntungan dengan memuji Allah adalah orang yang mengucapkannya. Mengapa? Karena ucapan itu akan membebaskannya dari penyakit sombong, penyakit yang sangat berbahaya karena orang yang sombong berarti lupa mengakui peranan Allah, kemudian mengingkari eksistensi Allah. Dengan kata lain kesombongan akan mengantar orang kepada kekufuran.
Akibat buruk lainnya dari kesombongan adalah kezhaliman terhadap sesama manusia. Mengapa? Karena orang yang sombong itu cenderung menganggap remeh orang lain. Maka kalau dia mendzalimi orang lain hal itu dianggap sebagai hal yang biasa saja. Pantaslah bila Allah melarang keras bersikap sombong, dengan menyatakan dalam suatu hadits Qudsi: "Kebesaran dan kesombongan adalah ibarat selendang-Ku. Maka barangsiapa memakainya akan Aku siksa dia." Ayat yang 3 surah Al-Nashr menyatakan, supaya tidak menjadi sombong, orang yang memperoleh setiap keberhasilan harus segera memuji Allah dan berterima kasih atas karunia Allah. Dengan demikian orang akan cepat menyadari bahwa perannya dalam keberhasilan hanyalah ikhtiar. Yang menentukan hasil adalah Allah Swt.
Ayat tadi kemudian memerintahkan Rasul agar istighfar -  memohon ampun. Mengapa? Karena dalam setiap usaha dan perjuangan, besar sekali kemungkinan orang melakukan kekeliruan. Mungkin dia memaki-maki, mungkin menggerutu, mungkin salah menampar, mungkin bersikap tidak adil, dan sebagainya. Ketika sukses sudah didapat, mungkin pula dia terlalu berbangga diri. Maka untuk menghapus dosa-dosa yang disebabkan oleh sikap dan perilaku tersebut, hendaknya orang segera istighfar, memohon ampun kepada Allah dengan sepenuh hati. إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا  - Sesungguhnya Allah itu Maha Penerima taubat, demikian dikemukakan pada ujung ayat 3 tadi. Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa seandainya saja Allah tidak berkenan mengampuni dosa, dan seandainya Allah tidak menyediakan prosedur untuk menghapuskan dosa, kita tidak bisa membayangkan bagaimana mungkin ada orang yang lolos dari neraka. Setiap hari, setiap jam, setiap menit orang melakukan kesalahan yang berakibat dosa. Semakin lama dia hidup di bumi, semakin banyak dosa yang menumpuk di bahunya? Maka bagaimana mungkin orang bisa mempertanggungjawabkan dosa-dosanya itu? Kita pantas bersyukur bahwa Allah berjanji akan menghapus dosa-dosa orang yang bertobat. Maka dengan janji Allah itu masa depan hidup manusia menjadi cerah, dan beban hidup terasa lebih ringan.
Meskipun surah An-Nashr ini secara lahiriah ditujukan kepada Rasul dan berkenaan dengan fathu Makkah, namun tentu saja yang dituju adalah semua orang. Pada suatu ketika setiap orang pasti mendapatkan kemenangan, sukses, kegembiraan, baik di bidang ekonomi maupun di bidang-bidang lain. Maka pesan Allah tetap berlaku: Segeralah bertasbih dengan memuji Allah, dan memohon ampunan. Jangan ditunggu setan datang mengguncang iman, usir mereka dengan tasbih, keluarkan mereka dari hati dengan hamdalah, dan jaga diri dengan sikap tawaddhu - rendah hati. Dengan demikian kita akan selamat di dunia, menuju kebahagiaan di akhirat kelak.
Sakib Machmud
 No. 211

Rabu, 15 Januari 2014

MUHASABAH DENGAN KEJUJURAN HATI

Allah Swt berirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (QS Al-Hasyr 59: 18).

Pada akhir tahun 2013, sudahkah pembaca melakukan muhasabah dengan bersungguh-sungguh? Muhasabah itu sebenarnya, bukan hanya dilakukan pada momen-momen tertentu seperti bulan Ramadhan, pergantian tahun Hijriyah ataupun tahun Masehi saja, melainkan dilakukan kapan saja setiap saat, sebagaimana peringatan Allah dalam QS Al-Hasyr 59: 18 tersebut di atas, karena Dia mengetahui apa saja yang telah kita perbuat, termasuk setiap kesalahan dan keburukan. Maka memasuki tahun baru 2014 dan selanjutnya, seyogyanya kita senantiasa melakukan muhasabah dengan kesungguhan dan kejujuran hati.
Pepatah Indonesia menyebutkan “Gajah di pelupuk mata tak terlihat, kunang-kunang di seberang lautan terlihat.’ Pepatah Arab menyebutkan: “Mata boleh melihat jauh dan dekat namun mata tak mampu melihat diri sendiri melainkan dengan cermin.” Dengan mengambil makna pepatah-pepatah itu, kita seharusnya menyadari betapa kita sering melihat kesalahan orang lain tanpa pernah mampu melihat kesalahan kita sendiri, betapa sering kita melihat orang-orang yang menyakiti dan mengumpat, kita, namun jarang kita menyadari bahwa luka yang sama bahkan lebih dalam lagi telah kita torehkan di hati orang lain, betapa sering kita ‘melempar batu dan sembunyi tangan’, menjadi orang yang sangat pengecut, padahal Allah mengetahui apa-apa yang kita lakukan tanpa kita sadari. Mau mengakui kesalahan memang hal yang tidak mudah kita lakukan, karena yang mudah itu memang menyalahkan orang lain, dan kita biasanya memilih yang mudah. Kalau bisa menyalahkan orang lain mengapa harus menyalahkan diri sendiri? Begitulah pikiran kebanyakan orang.
Tetapi pernahkah kita berpikir bahwa dengan mengakui sesuatu kesalahan sebagai milik kita, maka kita bisa belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama lagi. Selama kita tidak mengakuinya bagaimana kita mau belajar? Mengapa kita tidak bersikap jujur bahwa kesalahan yang kita buat tersebut adalah salah kita dan milik kita. Dengan mengakui bahwa kita melakukan ini dan itu,  dan  bertanggungjawab atas resiko yang ada, maka kita seharusnya berterima kasih kepada kesalahan-kesalahan yang kita buat, karena kita mendapat pelajaran berharga untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut. Dan bisa dipastikan kita juga pasti sangat marah di dalam hati, jika terkena masalah dari lemparan orang lain. Bukanlah kita sebaiknya melatih jujur dan menumbuhkan jiwa jujur dalam diri kita sendiri mulai saat ini karena esok hari mungkin sudah terlambat?
Indahnya kejujuran meski pahit, meski setelah jujur kita harus jungkir balik memperbaiki kesalahan kita, setidaknya itu membuat diri kita lebih baik dan lebih baik lagi. Itulah sebenarnya salah satu ciri manusia pecinta Allah, yaitu mereka yang sibuk memperbaiki diri sendiri, bukan mereka yang sibuk mencari kesalahan orang lain. Sesungguhnya tidak tak ada untungnya mencari kesalahan orang lain, itu hanya membuat jiwa menjadi lelah. Janganlah kita menggadaikan kebahagiaan dengan kegelisahan karena memikirkan orang lain yang belum tentu salah. Itu hanya melelahkan.
Memfungsikan Kembali Indera Keenam
Setelah cukup lama kita menapaki jalan hidup, kita perlu berhenti sejenak, duduk di majelis muhasabah. Tujuan muhasabah adalah untuk mengistirahatkan pikiran, hati, dan fisik, agar memperoleh stamina, energi, gelora, harapan, dan motivasi baru. Untuk itu kita perlu mengerahkan potensi indra keenam, yaitu hati.  Mengapa? Karena kelima indera kita memiliki keterbatasan, sedangkan hati adalah indera yang juga kita miliki sejak kita dilahirkan di dunia ini. Akan tetapi beberapa potensi fungsi hati itu tidak mampu kita maksimalkan. Mengapa? Karena memang kita tidak melatihnya.
Manusia terlahir sudah memiliki indera keenam yang berfungsi dengan baik. Ia menangis dan tertawa sendiri karena melihat ada ‘sesuatu yang berbeda’. Akan tetapi seiring dengan bertambahnya usia, kemampuan indera keenam tersebut menurun drastis. Sebab orang tua kita tidak melatih indera keenam kita. Mereka lebih melatih lima panca indera kita untuk memahami dunia luar. Orangtua kita sangat risau apabila anaknya tidak bisa menggunakan panca indera kita dengan baik. Namun sebenarnya kemampuan penginderaan hati kita jauh lebih dahsyat.
Hati kita bisa merasakan, melihat, dan mendengar apa yang tidak dirasakan, dilihat, dan didengar oleh panca indera. Kita bisa ‘berkenalan’ dengan Allah Swt hanya dengan cara mengaktifkan fungsi hati kita dengan baik. Kita bisa ‘melihat’ Allah hanya dengan hati kita, bukan dengan mata. Kita bisa ‘merasakan’ adanya Allah bukan dengan kulit kita, namun dengan hati. Allah Swt sudah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an akan pentingnya menghidupkan hati: “Dan barang siapa di dunia ini buta hatinya, maka di akhirat nanti juga akan buta, dan lebih sesat lagi jalannya.” (QS Al-Israa’ 17: 72). Rasulullah Saw pernah mengingatkan para sahabat akan pentingnya mengedepankan fungsi hati sebagai raja bagi kehidupan.
Apabila kita menjadikan akal kita sebagai raja dan hati menjadi pengawalnya, maka tunggulah kehancuran hidup kita. Hati kita akan tertutup dengan bercak hitam sehingga kita tidak mampu mengenal Allah. Akal menjadi raja untuk diri kita karena kita membiasakan diri menilai kebahagiaan hidup hanya melalui apa yang dirasakan di dunia ini saja. Yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dirasakan oleh lidah dan kulit, semuanya diinterpretasikan di otak (akal). Sehingga kitapun lebih memercayai rasio, logika dan nalar kita untuk mengukur kebahagiaan hidup. Pola ini akan membawa kita pada pola hidup yang mengandalkan akal dan mengesampingkan hati nurani. Banyak orang yang pintar dan cerdas dalam menguasai suatu ilmu namun kering akan ruhani ketuhanan. Mereka tidak mampu melihat sesuatu yang metafisik, sesuatu dibalik segala ciptaan yang tak terbatas. Mereka akhirnya juga tidak mampu mereguk nikmatnya ibadah dan tidak mampu merasakan kehadiran Allah Swt.
Berbeda halnya apabila hati kita yang menjadi raja bagi diri kita. Kita akan bisa merasakan kehadiran Allah Swt dalam hidup kita. Dalam kehidupan sosial, kita juga bisa merasakan apa yang orang lain rasakan (peka). Oleh karena itu jadikanlah hati sebagai raja bagi diri kita. Orang yang tidak melatih hatinya saat hidup di dunia - sehingga hatinya tertutup - maka mereka akan dibangkitkan oleh Allah Swt di akhirat nanti dalam keadaan buta. Dalam QS Thahaa 20:124 disebutkan: “Barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”
Lalu, bagaimanakah cara melatih hati kita untuk bisa ‘melihat’ Allah Swt? Mari kita menuntut ilmu demi mengharap ridha Allah Swt, bekerja karena Allah Swt, shalat, puasa, bersedekah, dzikir, do’a, dan semua bentuk ibadah adalah karena Allah Swt, dengan hati yang tulus dan ikhlas. Insya Allah kita akan bisa melihat Allah Swt di dunia ini dan juga di akhirat kelak.
Maka kita perlu memfungsikan kembali hati kita di majelis iman. Kita evaluasi diri kita secara kritis dan radikal (taqwim wal muhasabah). Sudah sejauh mana kita menapaki jalan hidup ini? Apa yang telah kita hasilkan? Masih berapa lama lagi kita diberi jatah waktu untuk menuntaskan sisa tugas ini? Sudah cukupkah bekal untuk meraih tujuan akhir yang hakiki?
Semua itu perlu kita renungkan demi perbaikan masa depan. Dengan cara itu kita akan selalu bersyukur atas capaian ilmu, pengalaman, dan prestasi selama ini. Dengan cara itu pula kita mampu mencermati apa yang belum kita realisasikan dalam hidup. Kita pertahankan tradisi baik yang meliputi spirit iman, ibadah dan jihad serta akhlak, dan membuka diri untuk menerima sesuatu yang baru. Muhasabah akan menghindarkan kita dari tindakan bodoh dan sia-sia. Kadang kala hal itu tanpa sadar kita melakukan dua hal yang bertolak belakang.
Allah Swt berfirman: “Dan janganlah kamu seperti perempuan tua (pada masa jahiliyah) yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” (QS An-Nahl 16: 92). Di sini Allah membuat analogi hal ini dengan seorang wanita tua yang memintal benang, yang setelah benang dipintal dengan kuat, dicerai beraikan lagi olehnya. Sehingga tak pernah benang itu menjadi kain.  
Hal serupa ibarat kita giat membangun benteng spiritual, namun di sisi lain kita rajin merobohkannya kembali. Kalau seperti ini, kapan benteng keIslaman kita akan selesai dibangun? Pepatah Arab menyebutkan, “Kapan bangunan itu akan sempurna apabila kalian giat membangunnya sementara yang lain rajin merusaknya.” Karena itulah, Islam mengajarkan sebuah kaidah (ushul fiqh) yakni: “Mempertahankan tradisi masa lalu yang baik dan mengambil temuan baru yang lebih baik.”
Terbukaan Dalam Muhasabah Menjadikan Kita Kuat
Kita harus tegas dalam persoalan kaidah, namun toleran terhadap metodologi, media, atau teknik untuk mencapai tujuan akhir (ghayah). Kita harus konsisten dengan ghayah dan terbuka terhadap media (wasilah) dalam menuju tujuan antara (hadaf) untuk menggapai ghayah. Dengan muhasabah kita akan menata ulang dan memperbarui (tajdid) persepsi kita terhadap realitas kehidupan dengan mata hati yang bening. Kita akan mengoptimalkan kecerdasan akal, batin, emosi dan mengasah potensi dzikir, pikir, secara sinergis, seiring, seimbang dan paralel.
Dengan berhenti sejenak, mengambil jarak dari rutinitas, insya Allah akan mengantarkan kita untuk lebih dewasa, matang, arif, dan bijaksana dalam menyikapi persoalan yang terus berkembang dan dinamis. Bukankah kesibukan sering mengurangi ketajaman dan kepekaan spiritual kita? Stamina banyak terkuras, telaga ruhani pun sering terkontaminasi debu-debu kotor akibat lingkungan kurang kondusif untuk pencerahan iman (fudhulul mukhalathah).
Karenanya, kita perlu mengisi ulang bahan bakar spiritual agar pengabdian dan komitmen kita kembali tulus, lillahi ta’ala. Sungguh kita memerlukan saat-saat yang berkesan itu. Allah Swt berfirman: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya. Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang orang yang fasik.” (QS Al-Hadiid 57: 16).
Hati manusia bisa rusak karena dosa yang sedikit demi sedikit bertambah, yaitu ketika hati itu menjadi keras, tidak bisa menerima nasihat dan peringatan. Hati mereka tidak bisa lembut meskipun didatangkan janji dan ancaman. Kebanyakan mereka menjadi orang yang fasiq, yakni hati mereka rusak karena debu-debu dosa melekat dalam kepribadian mereka, maka perilaku mereka batil.
Karena itu, sebelum hati itu benar-benar rusak, kita butuh suasana yang akan mengajak kita berdialog dengan diri sendiri. Suasana yang mampu membawa kita mencermati sisi gelap, menuju sisi terang pada diri kita. Suasana seperti ini memudahkan kita berdialog langsung dengan realitas metafisik, dan mendorong kita untuk terampil mengelola gejolak diri kita. Sayidina Umar bin Khattab mengatakan, “Rahimaallahu ‘abdan ‘arafa haddahu fa waqafa ‘indahu - Allah merahmati hamba-Nya yang memahami keterbatasan dirinya dan berhenti sejenak di situ.”
Titik sentuh ‘berhenti sejenak’ adalah hati nurani. Menyentuh kesadaran yang paling dalam agar kita tetap memelihara stamina spiritual ketika dihadapkan pada masalah hidup, baik individu, keluarga, atau bangsa, kemudian mengembalikan solusinya kepada Allah, Dzat Yang Memahami rahasia kehidupan ini.
Majelis iman adalah sarana penjernihan jiwa, pencerahan kalbu, penguatan tekad (azzam), pengokohan niat dan motivasi, penajaman orientasi, agar kita tetap istiqamah menapaki jalan yang lurus. Dalam sejarah hidup para shalafush shalih, majelis iman yang kecil di rumah-rumah, masjid, forum kajian (halaqah), terbukti telah melahirkan lompatan pemikiran yang cemerlang, ide-ide brilian, dan gagasan spektakuler.
Diam mereka adalah perenungan, pembicaraan mereka adalah dzikir dan amar ma’ruf nahyi munkar. Rasulullah Saw senang berkhalwat - menyendiri - sebelum diangkat menjadi Rasul. Beliau menganjurkan kita untuk selalu i’tikaf, utamanya pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Sayidina Umar bin Khattab juga memiliki kebiasaan i’tikaf seminggu sekali di Masjidil Haram. Itulah teladan muhasabah yang belum kita budayakan. Muhasabah seperti itu belum mentradisi di kalangan kita. Akibatnya, diamnya kita berubah menjadi imajinasi yang tidak terarah, kurang terkendali, dan liar. Bicara kita menjelma menjadi penuh dengki, dendam, sombong, niat jahat, intrik terhadap kawan seperjuangan, ghibah, fitnah dan adu domba (namimah), mencela ke sana-sini, mengobral janji, kasak kusuk, dan sumpah serapah.
Maka, hidup kita kehilangan kekuatan inti yang sesungguhnya sangat kita perlukan. Kita merasa sempit di tengah samudera luas tidak bertepi. Kita merasa gelap di bawah sorotan cahaya illahi. Karunia Allah Swt tidak bisa kita nikmati. Kesempitan, kekalutan, kegalauan jiwa, mulai tumbuh. Kesempitan ruhani akan membawa hidup kita jauh dari petunjuk, rahmat, berkah, serta pertolongan Allah Swt.
Kita benar-benar perlu berhenti sejenak, duduk di majelis iman, agar kita tetap bisa mempertahankan jati diri di tengah pusaran badai kehidupan. Namun harus diingat, ini bukan ‘uzlah - hidup menyendiri - dan lari dari tanggungjawab, melainkan mempersiapkan diri menghadapi tantangan dengan jiwa ksatria.
Maka mulai sekarang jadilah kita jujur dan belajar melihat kesalahan sendiri, Menjadi jujur seperti seorang ksatria dan berwibawa, atau mencoba tidak jujur (bohong) seperti seorang pencuri yang terhina dan tidak berharga.
Jujur adalah sebagian dari Iman. Coba bayangkan, misalnya setengah bagian dari keimanan telah kita genggam, jika kita jujur, dan setelah kita jujur dengan kesalahan, maka waktunya kita melangkah menjadi manusia yang lebih baik dan lebih baik lagi, kita insya Allah kita akan menjadi hamba yang dibanggakan Allah Sang Pencipta. Marilah kita buat Allah menjadi bangga karena memiliki banba-hamba seperti kita, hamba-hamba yang jujur, hamba-hamba yang tidak mudah terprovokasi dan ramai-ramai menghujat orang lain yang belum tentu salah, dan semoga kita mampu menjadi melihat kesalahan kita sendiri. Kalau bisa jujur, kenapa kita harus dusta, kalau memang kita salah kenapa kita harus menyembunyikan diri dari kesalahan? Kenapa kita semua berbuat salah? Bukankah kita semua tempatnya salah? Bukankah kita tempatnya khilaf? Semoga kita dicintai Allah karena kejujuran dan keberanian kita mengaku kesalahan kita Irhamnna yaa Allah - Berilah kasih sayang-Mu yaa Allah.
Hermanto Harsolumakso
No. 210

Minggu, 05 Januari 2014

PERGANTIAN TAHUN DAN SISA USIA

Masih dalam suasana Tahun Baru 2014 yang baru saja dirayakan di berbagai tempat di negeri kita, bahkan disambut dengan berbagai cara di seluruh dunia. Sudah menjadi tradisi masyarakat merayakan momen pergantian tahun dengan acara yang meriah, kostum gemerlapan dan disertai dengan pesta yang menghabiskan biaya tidak sedikit. Di kota-kota besar bahkan cara menyambut pergantian tahun ini dilakukan dengan menyelenggarakan event-event khusus mulai di hotel-hotel, taman hiburan, sampai pesta terbuka dengan berbagai atraksi-atraksi musik yang berpuncak pada tengah malam memasuki tahun baru dengan dimeriahkan pesta kembang api yang spektakuler.

Dalam kancah pendidikan, pergantian tahun dibarengi dengan pergantian tahun ajaran baru yang akan diikuti dengan perubahan berupa kenaikan kelas yang menandai peningkatan dalam proses menuntut ilmu menuju ke tataran yang lebih tinggi, baik di sekolah-sekolah maupun pada tingkat perguruan tinggi.
Di sisi lain, para pebisnis menggunakan momen ini untuk menawarkan produk-produk barunya yang disertai inovasi terkini, seakan-akan memasuki tahun yang baru perlu diikuti perangkat baru dengan model-model terkini, yang berkesan menjadi keharusan mengikuti tren, kalau tidak ingin dianggap kertinggalan jaman.
Dari perjalanan kehidupan kenegaraan, tahun baru selalu dijadikan momen evaluasi atas kemajuan yang dicapai dalam membangun tata kehidupan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta kecerdasan bangsa, sekaligus melakukan perencanan ke depan sebagai upaya perbaikan dan peningkatan atas apa yang telah dicapai. Khususnya di Indonesia, tahun 2014 akan menjadi ajang penyelenggaraan pesta demokrasi yang penting setiap lima tahunan, yaitu pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden.
Secara umum tahun baru merupakan momentum yang menjadi tanda suatu perubahan; dimulai dengan bertambahnya usia, lebih majunya ilmu pengetahuan, lebih baiknya prasarana dan sarana, dan meningkatnya  tingkat kehidupan masyarakat. Semuanya memberikan kesan adanya kemajuan dan peningkatan pencapaian di segala aspek.
Namun apabila kita memandang dari sisi yang lain, yaitu dari keberadaan alam seisinya sebagai ciptaan-Nya, kita akan melihat kondisi  yang berbeda, sekaligus akan merubah cara pandang dan menyikapinya.
Jam Pasir
Allah menciptakan manusia melalui suatu proses, dimulai dari bentuk segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging yang kemudian lahir ke dunia sebagai bayi. Selanjutnya perkembangan dimulai sejak usia anak-anak, menjadi remaja yang disusul meningkat dewasa, menikah dan mempunyai anak, selanjutnya menjadi orang tua yang lemah dan akhirnya meninggal dunia. Suatu perjalanan yang pasti dilalui oleh setiap orang sampai akhir perjalanan hidupnya yaitu ‘kematian’. Hanya saja, kapan akhir hidup seseorang tidak ada yang tahu kecuali Allah Swt. Bahkan bagi setiap orang sudah tertulis ‘perjalanan hidup’nya di suatu tempat di ‘lauh mahfudz.
Riwayat perjalanan hidup manusia ibarat suatu ‘jam pasir’ di mana masing-masing memiliki ukuran gelas dan jumlah pasir tertentu yang menentukan berapa lama umur seseorang. Semenjak seseorang lahir di dunia, pada waktu itu pula jam pasir mulai dibuka dan pasirnya akan terus mengalir tidak berhenti sampai habis, yang menandai akhir hidupnya. 
Firman Allah yang menjelaskan tentang batas waktu hidup manusia: “Tiap-tiap ummat mempunyai batas waktu (ajal); maka apabila datang waktu (ajal)-nya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS Al-A’raaf 7: 34).
Cara pandang seperti di atas cukup menunjukkan kenyataan yang tidak dapat dibantah, bahwa setiap pergantian tahun berarti waktu telah bertambah satu tahun, dan pada saat yang bersamaan umur kita kerkurang satu tahun. Pada pergantian tahun berikutnya umur kita akan berkurang lagi satu tahun, yang berarti kita makin dekat menuju kematian sesuai sisa ‘pasir’ yang masih kita miliki, sementara kita tidak mengetahui secara pasti jumlah ‘pasir’ yang disediakan pada diri kita.
Dengan meninjau kedua cara pandang di atas, maka bagaimana seharusnya setiap orang mukmin menyikapi fenomena pergantian tahun, yang dalam hal ini dapat diperluas menjadi setiap perubahan yang terkait dengan berjalannya waktu.
Berkaitan dengan keberadaan kita saat ini sebagai hamba Allah yang diciptakan tidak lain kecuali untuk beribadah kepada-Nya, maka ada pertanyaan mendasar terkait dengan fenomena di atas, yaitu; Apa yang telah kita kerjakan selama hidup kita hingga sampai dengan saat ini?. Apa yang telah kita berikan untuk kemashlahatan ummat manusia sebagai wujud pengabdian kita kepada Allah Swt? Apa yang masih mungkin kita lakukan pada sisa hidup kita sebelum dipanggil ke hadapan Allah Swt?
Jawabannya adalah berupa sikap dan langkah yang didasari oleh iman melalui cara; bersyukur, berupaya untuk tidak  menjadi orang yang merugi, dan memanfaatkan setiap waktu dengan amalan yang didasari oleh ibadah. 
Bersyukur
Kita patut bersyukur bahwa sebagai seorang muslim kita telah mempunyai pegangan yang mencakup seluruh aspek selama hidup di dunia, bahkan bekal di akhirat kelak, yaitu Al-Qur’an.
Dengan bersyukur itu pulalah kita menerima segala apa yang telah kita peroleh atas nikmat dari Allah Swt hingga sampai saat ini. Nikmat berupa kesehatan, keberhasilan, harta, pangkat dan kedudukan serta keturunan.  Namun syukur perlu kita tunjukkan juga atas kegagalan yang terjadi, hambatan atau musibah, yang sebenarnya tersirat di dalamnya peringatan dari Allah dan sebagai petunjuk dari-Nya agar tetap beriman dan dekat dengan-Nya.
Firman Allah Swt: ▪“Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih.” (QS Ibrahim 14: 7). ▪ “Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mangingkari (nikmat)-Ku.” (QS Al-Baqarah 2: 152). Dari Hadis Nabi Saw: ▪  “Allah senang melihat bekas (bukti) nikmat-Nya dalam penampilan hamba-Nya.” (HR At-Tirmidzi).
Hakikat syukur adalah ‘menampakkan nikmat’, dan hakikat kekufuran adalah menyembunyikannya. Menampakkan nikmat antara lain berarti menggunakannya pada tempatnya.
Demikian pula momen pergantian tahun harus kita syukuri sebagai karunia dan nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt hingga sampai dengan saat ini. Pernyataan syukur tidak mesti berupa pesta yang meriah dengan kembang api beraneka warna dengan biaya yang cukup besar.
Ada tiga sisi dari syukur yaitu; syukur dengan hati, dengan lidah, dan dengam anggota badan lainnya.
Bersyukur dengan hati, dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa hikmat yang diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan kemurahan Ilahi. Syukur dengan hati mengantarkan manusia untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu maupun keberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut.
Bersyukur dengan lidah, adalah mengakui dengan ucapan bahwa sumber nikmat adalah Allah, sambil memujinya, syukur dengan lidah adalah “alhamdulillah” (segala puji bagi Allah)
Bersyukur dengan perbuatan, sebagaimana pesan Allah Swt kepada Nabi Daud As: “Bekerjalah wahai Daud sebagai tanda syukur.” (QS Saba’ 34: 13). Yang dimaksud dengan ;’bekerja’ di sini adalah menggunakan nikmat yang diperoleh itu sesuai dengan maksud dan tujuan penciptaan atau penganugerahannya.
Jangan Menjadi Orang Yang Merugi
Allah mengingatlkan setiap manusia agar tidak menjadi orang-orang  yang merugi, sebagaimana firman-Nya: “Demi Waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan saling menasehati dengan kebenaran  dan saling menasehati dengan kesabaran.” (QS Al-Ashr 103: 1-3).
Amal manusia yang beraneka ragam bersumber dari empat daya yang dimilikinya.
Daya tubuh, yang memungkinkan manusia memiliki antara lain kemampuan dan ketrampilan teknis.
Daya akal, yang memungkinkan manusia memiliki kemampuan mengembangkan ilmu dan teknologi, serta memahami dan memanfaatkan sunnatullah.
Daya kalbu, yang memungkinkan manusia memiliki kemampuan moral, estetika, etika, , serta mempu berkhayal, beriman dan merasakan kebesaran Ilahi.
Daya hidup, yang memungkinkan manusia memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan, mempertahankan hidup, dan menghadapi tantangan.
Keempat daya ini apabila digunakan sesuai petunjuk Ilahi akan menjadikan amal tersebut sebagai ‘amal shaleh’
Singkat kata, ‘amal shaleh’ merupakan perbuatan baik yang dilakukan seorang muslim disertai niat yang ikhlas karena Allah, dimulai dari perbuatan yang paling ringan seperti menyingkirkan duri di jalan agar seseorang tidak tertusuk kakinya, sampai memberikan karya yang berguna bagi kepentingan umum dan kesejahteraan masyarakat sehingga hasil amal perbuatannya memberikan manfaat yang diterima dan dikenang sepanjang masa.
Saling menasehati dengan kebenaran dan saling menasehati dengan kesabaran, mengandung arti adanya mekanisme saling memberi ‘kebaikan’ dalam segala bentuknya. Dan apabila setiap muslim melakukan ini, maka dari logika sederhana akan tercipta ‘gunung kebaikan’ yang semakin besar dan terus bertambah besar seiring dengan berjalannya waktu. Apalagi hal ini dilakukan bersama-sama dengan ‘kesabaran’.
Allahu Akbar, betapa indahnya firman Allah dan betapa dalam maknanya, apabila semua orang mau memahami dan mengamalkannya.
Memanfaatkan Setiap Waktu Demi Ibadah
Pertama kali Allah menunjukkan waktu berakhirnya sesuatu: ▪ “Setiap ummat mempunyai batas waktu berakhirnya usia.” (QS Yunus 10: 49) ▪. “Dan mereka berkata, Kehidupan ini tidak lain saat kita berada di dunia, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan (mematikan) kita kecuali ‘dahr’ (perjalanan waktu yang dilalui oleh alam).” (QS Al- Jaatsiyah 45: 24).
Al-Qur’an telah memerintahkan ummat manusia untuk memanfaatkan waktu semaksimal mungkin, bahkan dituntunnya ummat manusia untuk mengisi seluruh ’ashr’ (waktu)-nya dengan berbagai amal dengan mempergunakan semua daya yang dimilikinya.
Memanfaatkan waktu dari sisa usia dan mengisinya dengan amalan-amalan yang tidak pernah lepas sedikitpun dari niat ibadah, mengacu pada perintah Allah: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzaariyaat 51: 56). Memanfaatkan waktu dari sisa usia dengan upaya menjauhi dosa biarpun hanya sebesar zarah. Karena kita tidak pernah tahu seberapa lama lagi sisa usia kita.
Jika seseorang bertanya, apakah akibat yang akan terjadi kalau menyia-nyiakan waktu? Salah satu jawaban yang paling jelas adalah ayat pertama dan kedua surat Al-Ashr di atas: “Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam ‘khusr’ (kerugian).”
Kerugian tersebut baru disadari setelah berlalunya masa yang berkepanjangan,  yakni paling tidak akan disadari pada waktu ‘ashr’ kehidupan menjelang hayat terbenam. Itu agaknya yang menjadi sebab sehingga Allah mengaitkan kerugian menusia dengan kata ‘ashr’ untuk menunjuk ‘waktu secara umum’, sekaligus untuk mengisyaratkan bahwa penyesalan dan kerugian selalu datang kemudian.
Demikian, kajian singkat dan pandangan terhadap fenomena pergantian tahun dan bagaimana ummat Islam perlu menyikapinya. 
Mohammad Kamal
No. 209