Allah Swt
berirman: “Hai orang-orang
yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan
apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (QS
Al-Hasyr 59: 18).
Pada akhir tahun 2013, sudahkah pembaca melakukan muhasabah dengan bersungguh-sungguh? Muhasabah itu sebenarnya, bukan hanya dilakukan pada momen-momen tertentu seperti bulan Ramadhan, pergantian tahun Hijriyah ataupun tahun Masehi saja, melainkan dilakukan kapan saja setiap saat, sebagaimana peringatan Allah dalam QS Al-Hasyr 59: 18 tersebut di atas, karena Dia mengetahui apa saja yang telah kita perbuat, termasuk setiap kesalahan dan keburukan. Maka memasuki tahun baru 2014 dan selanjutnya, seyogyanya kita senantiasa melakukan muhasabah dengan kesungguhan dan kejujuran hati.
Pepatah Indonesia menyebutkan “Gajah
di pelupuk mata tak terlihat, kunang-kunang di seberang lautan terlihat.’ Pepatah
Arab menyebutkan: “Mata boleh melihat jauh dan dekat namun mata tak mampu
melihat diri sendiri melainkan dengan cermin.” Dengan mengambil makna pepatah-pepatah
itu, kita seharusnya menyadari betapa kita sering melihat kesalahan orang lain
tanpa pernah mampu melihat kesalahan kita sendiri, betapa sering kita melihat
orang-orang yang menyakiti dan mengumpat, kita, namun jarang kita menyadari
bahwa luka yang sama bahkan lebih dalam lagi telah kita torehkan di hati orang
lain, betapa sering kita ‘melempar batu
dan sembunyi tangan’, menjadi
orang yang sangat pengecut, padahal Allah mengetahui apa-apa yang kita lakukan
tanpa kita sadari. Mau mengakui kesalahan memang hal yang tidak
mudah kita lakukan, karena yang mudah itu memang menyalahkan orang
lain, dan kita biasanya memilih yang mudah. Kalau bisa menyalahkan orang lain
mengapa harus menyalahkan diri sendiri? Begitulah pikiran kebanyakan orang.Pada akhir tahun 2013, sudahkah pembaca melakukan muhasabah dengan bersungguh-sungguh? Muhasabah itu sebenarnya, bukan hanya dilakukan pada momen-momen tertentu seperti bulan Ramadhan, pergantian tahun Hijriyah ataupun tahun Masehi saja, melainkan dilakukan kapan saja setiap saat, sebagaimana peringatan Allah dalam QS Al-Hasyr 59: 18 tersebut di atas, karena Dia mengetahui apa saja yang telah kita perbuat, termasuk setiap kesalahan dan keburukan. Maka memasuki tahun baru 2014 dan selanjutnya, seyogyanya kita senantiasa melakukan muhasabah dengan kesungguhan dan kejujuran hati.
Tetapi
pernahkah kita berpikir bahwa dengan mengakui sesuatu kesalahan sebagai milik
kita, maka kita bisa belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama lagi.
Selama kita tidak mengakuinya bagaimana kita mau belajar? Mengapa kita
tidak bersikap jujur bahwa kesalahan yang kita buat tersebut adalah
salah kita dan milik kita. Dengan mengakui bahwa kita melakukan ini dan
itu, dan bertanggungjawab atas resiko yang ada, maka kita
seharusnya berterima kasih kepada kesalahan-kesalahan yang kita buat,
karena kita mendapat pelajaran berharga untuk tidak mengulangi kesalahan
tersebut. Dan bisa dipastikan kita juga pasti sangat marah di dalam hati,
jika terkena masalah dari lemparan orang lain. Bukanlah kita sebaiknya melatih
jujur dan menumbuhkan jiwa jujur dalam diri kita sendiri mulai saat ini
karena esok hari mungkin sudah terlambat?
Indahnya
kejujuran meski pahit, meski setelah jujur kita harus jungkir balik memperbaiki
kesalahan kita, setidaknya itu membuat diri kita lebih baik dan lebih baik
lagi. Itulah sebenarnya salah satu ciri
manusia pecinta Allah, yaitu mereka yang sibuk memperbaiki diri sendiri, bukan
mereka yang sibuk mencari kesalahan orang lain. Sesungguhnya
tidak tak ada untungnya mencari kesalahan orang lain, itu hanya membuat jiwa
menjadi lelah. Janganlah kita menggadaikan kebahagiaan dengan kegelisahan
karena memikirkan orang lain yang belum tentu salah. Itu hanya melelahkan.
Memfungsikan Kembali Indera Keenam
Setelah cukup lama kita menapaki jalan hidup, kita
perlu berhenti sejenak, duduk di majelis muhasabah.
Tujuan muhasabah adalah untuk mengistirahatkan pikiran, hati, dan
fisik, agar memperoleh stamina, energi, gelora, harapan, dan motivasi baru.
Untuk itu kita perlu mengerahkan potensi indra keenam, yaitu hati. Mengapa? Karena kelima indera kita
memiliki keterbatasan, sedangkan hati adalah indera yang juga kita miliki sejak
kita dilahirkan di dunia ini. Akan tetapi beberapa potensi fungsi hati itu
tidak mampu kita maksimalkan. Mengapa? Karena memang kita tidak melatihnya.
Manusia terlahir sudah memiliki indera keenam yang
berfungsi dengan baik. Ia menangis dan tertawa sendiri karena melihat ada ‘sesuatu
yang berbeda’. Akan tetapi seiring dengan bertambahnya usia, kemampuan indera
keenam tersebut menurun drastis. Sebab orang tua kita tidak melatih indera
keenam kita. Mereka lebih melatih lima panca indera kita untuk memahami dunia
luar. Orangtua kita sangat risau apabila anaknya tidak bisa menggunakan panca
indera kita dengan baik. Namun sebenarnya kemampuan penginderaan hati kita jauh
lebih dahsyat.
Hati kita bisa merasakan, melihat, dan mendengar apa
yang tidak dirasakan, dilihat, dan didengar oleh panca indera. Kita bisa
‘berkenalan’ dengan Allah Swt hanya dengan cara mengaktifkan fungsi hati kita
dengan baik. Kita bisa ‘melihat’ Allah hanya dengan hati kita, bukan dengan
mata. Kita bisa ‘merasakan’ adanya Allah bukan dengan kulit kita, namun dengan
hati. Allah Swt sudah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an akan pentingnya
menghidupkan hati: “Dan barang siapa di dunia ini buta hatinya, maka di
akhirat nanti juga akan buta, dan lebih sesat lagi jalannya.” (QS Al-Israa’ 17:
72). Rasulullah Saw pernah mengingatkan para sahabat akan pentingnya
mengedepankan fungsi hati sebagai raja bagi kehidupan.
Apabila kita menjadikan akal kita sebagai raja dan
hati menjadi pengawalnya, maka tunggulah kehancuran hidup kita. Hati kita akan
tertutup dengan bercak hitam sehingga kita tidak mampu mengenal Allah. Akal
menjadi raja untuk diri kita karena kita membiasakan diri menilai kebahagiaan
hidup hanya melalui apa yang dirasakan di dunia ini saja. Yang dilihat oleh
mata, didengar oleh telinga, dirasakan oleh lidah dan kulit, semuanya
diinterpretasikan di otak (akal). Sehingga kitapun lebih memercayai rasio,
logika dan nalar kita untuk mengukur kebahagiaan hidup. Pola ini akan membawa
kita pada pola hidup yang mengandalkan akal dan mengesampingkan hati nurani.
Banyak orang yang pintar dan cerdas dalam menguasai suatu ilmu namun kering
akan ruhani ketuhanan. Mereka tidak mampu melihat sesuatu yang metafisik,
sesuatu dibalik segala ciptaan yang tak terbatas. Mereka akhirnya juga tidak
mampu mereguk nikmatnya ibadah dan tidak mampu merasakan kehadiran Allah Swt.
Berbeda halnya apabila hati kita yang menjadi raja
bagi diri kita. Kita akan bisa merasakan kehadiran Allah Swt dalam hidup kita.
Dalam kehidupan sosial, kita juga bisa merasakan apa yang orang lain rasakan
(peka). Oleh karena itu jadikanlah hati sebagai raja bagi diri kita. Orang yang
tidak melatih hatinya saat hidup di dunia - sehingga hatinya tertutup - maka
mereka akan dibangkitkan oleh Allah Swt di akhirat nanti dalam keadaan buta.
Dalam QS Thahaa 20:124 disebutkan: “Barangsiapa yang berpaling dari
peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan
menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”
Lalu, bagaimanakah cara melatih hati kita untuk bisa
‘melihat’ Allah Swt? Mari kita menuntut ilmu demi mengharap ridha Allah Swt,
bekerja karena Allah Swt, shalat, puasa, bersedekah, dzikir, do’a, dan semua
bentuk ibadah adalah karena Allah Swt, dengan hati yang tulus dan ikhlas. Insya
Allah kita akan bisa melihat Allah Swt di dunia ini dan juga di akhirat
kelak.
Maka kita perlu memfungsikan kembali hati kita di majelis
iman. Kita evaluasi diri kita secara kritis dan radikal (taqwim wal muhasabah).
Sudah sejauh mana kita menapaki jalan hidup ini? Apa yang telah kita hasilkan?
Masih berapa lama lagi kita diberi jatah waktu untuk menuntaskan sisa tugas ini?
Sudah cukupkah bekal untuk meraih tujuan akhir yang hakiki?
Semua itu perlu kita renungkan demi perbaikan masa
depan. Dengan cara itu kita akan selalu bersyukur atas capaian ilmu,
pengalaman, dan prestasi selama ini. Dengan cara itu pula kita mampu mencermati
apa yang belum kita realisasikan dalam hidup. Kita pertahankan tradisi baik yang
meliputi spirit iman, ibadah dan jihad serta akhlak, dan membuka diri untuk
menerima sesuatu yang baru. Muhasabah akan menghindarkan kita dari
tindakan bodoh dan sia-sia. Kadang kala hal itu tanpa sadar kita melakukan dua
hal yang bertolak belakang.
Allah Swt berfirman: “Dan janganlah kamu seperti
perempuan tua (pada masa jahiliyah) yang menguraikan benangnya yang sudah
dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” (QS An-Nahl 16: 92).
Di sini Allah membuat analogi hal ini dengan seorang wanita tua yang
memintal benang, yang setelah benang dipintal dengan kuat, dicerai beraikan
lagi olehnya. Sehingga tak pernah benang itu menjadi kain.
Hal serupa ibarat kita giat membangun benteng
spiritual, namun di sisi lain kita rajin merobohkannya kembali. Kalau seperti
ini, kapan benteng keIslaman kita akan selesai dibangun? Pepatah Arab
menyebutkan, “Kapan bangunan itu akan sempurna apabila kalian giat membangunnya
sementara yang lain rajin merusaknya.” Karena itulah, Islam mengajarkan sebuah
kaidah (ushul fiqh) yakni: “Mempertahankan tradisi masa lalu yang baik
dan mengambil temuan baru yang lebih baik.”
Terbukaan Dalam Muhasabah Menjadikan Kita Kuat
Kita harus tegas dalam persoalan kaidah, namun toleran
terhadap metodologi, media, atau teknik untuk mencapai tujuan akhir (ghayah).
Kita harus konsisten dengan ghayah dan terbuka terhadap media (wasilah)
dalam menuju tujuan antara (hadaf) untuk menggapai ghayah. Dengan
muhasabah kita akan menata ulang dan memperbarui (tajdid)
persepsi kita terhadap realitas kehidupan dengan mata hati yang bening. Kita
akan mengoptimalkan kecerdasan akal, batin, emosi dan mengasah potensi dzikir,
pikir, secara sinergis, seiring, seimbang dan paralel.
Dengan berhenti sejenak, mengambil jarak dari
rutinitas, insya Allah akan mengantarkan kita untuk lebih dewasa, matang, arif,
dan bijaksana dalam menyikapi persoalan yang terus berkembang dan dinamis.
Bukankah kesibukan sering mengurangi ketajaman dan kepekaan spiritual kita?
Stamina banyak terkuras, telaga ruhani pun sering terkontaminasi debu-debu
kotor akibat lingkungan kurang kondusif untuk pencerahan iman (fudhulul
mukhalathah).
Karenanya, kita perlu mengisi ulang bahan bakar
spiritual agar pengabdian dan komitmen kita kembali tulus, lillahi ta’ala.
Sungguh kita memerlukan saat-saat yang berkesan itu. Allah Swt berfirman: “Belumkah
datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka
mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan
janganlah mereka seperti orang orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab
kepadanya. Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka
menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang orang yang fasik.”
(QS Al-Hadiid 57: 16).
Hati manusia bisa rusak karena dosa yang sedikit demi
sedikit bertambah, yaitu ketika hati itu menjadi keras, tidak bisa menerima
nasihat dan peringatan. Hati mereka tidak bisa lembut meskipun didatangkan
janji dan ancaman. Kebanyakan mereka menjadi orang yang fasiq, yakni
hati mereka rusak karena debu-debu dosa melekat dalam kepribadian mereka, maka
perilaku mereka batil.
Karena itu, sebelum hati itu benar-benar rusak, kita
butuh suasana yang akan mengajak kita berdialog dengan diri sendiri. Suasana
yang mampu membawa kita mencermati sisi gelap, menuju sisi terang pada diri
kita. Suasana seperti ini memudahkan kita berdialog langsung dengan realitas
metafisik, dan mendorong kita untuk terampil mengelola gejolak diri kita. Sayidina
Umar bin Khattab mengatakan, “Rahimaallahu ‘abdan ‘arafa haddahu fa waqafa
‘indahu - Allah merahmati hamba-Nya yang memahami keterbatasan dirinya dan
berhenti sejenak di situ.”
Titik sentuh ‘berhenti sejenak’ adalah hati nurani.
Menyentuh kesadaran yang paling dalam agar kita tetap memelihara stamina
spiritual ketika dihadapkan pada masalah hidup, baik individu, keluarga, atau
bangsa, kemudian mengembalikan solusinya kepada Allah, Dzat Yang Memahami
rahasia kehidupan ini.
Majelis iman adalah sarana penjernihan jiwa,
pencerahan kalbu, penguatan tekad (azzam), pengokohan niat dan motivasi,
penajaman orientasi, agar kita tetap istiqamah menapaki jalan yang lurus. Dalam
sejarah hidup para shalafush shalih, majelis iman yang kecil di rumah-rumah,
masjid, forum kajian (halaqah), terbukti telah melahirkan lompatan
pemikiran yang cemerlang, ide-ide brilian, dan gagasan spektakuler.
Diam mereka adalah perenungan, pembicaraan mereka
adalah dzikir dan amar ma’ruf nahyi munkar. Rasulullah Saw senang berkhalwat
- menyendiri - sebelum diangkat menjadi Rasul. Beliau menganjurkan kita untuk
selalu i’tikaf, utamanya pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Sayidina Umar
bin Khattab juga memiliki kebiasaan i’tikaf seminggu sekali di Masjidil
Haram. Itulah teladan muhasabah yang belum kita budayakan. Muhasabah
seperti itu belum mentradisi di kalangan kita. Akibatnya, diamnya kita berubah
menjadi imajinasi yang tidak terarah, kurang terkendali, dan liar. Bicara kita
menjelma menjadi penuh dengki, dendam, sombong, niat jahat, intrik terhadap
kawan seperjuangan, ghibah, fitnah dan adu domba (namimah), mencela ke sana-sini,
mengobral janji, kasak kusuk, dan sumpah serapah.
Maka, hidup kita kehilangan kekuatan inti yang
sesungguhnya sangat kita perlukan. Kita merasa sempit di tengah samudera luas
tidak bertepi. Kita merasa gelap di bawah sorotan cahaya illahi. Karunia Allah Swt
tidak bisa kita nikmati. Kesempitan, kekalutan, kegalauan jiwa, mulai tumbuh.
Kesempitan ruhani akan membawa hidup kita jauh dari petunjuk, rahmat, berkah,
serta pertolongan Allah Swt.
Kita benar-benar perlu berhenti sejenak, duduk
di majelis iman, agar kita tetap bisa mempertahankan jati diri di tengah
pusaran badai kehidupan. Namun harus diingat, ini bukan ‘uzlah - hidup
menyendiri - dan lari dari tanggungjawab, melainkan mempersiapkan diri
menghadapi tantangan dengan jiwa ksatria.
Maka mulai sekarang jadilah kita jujur dan belajar melihat kesalahan sendiri, Menjadi
jujur seperti seorang ksatria dan berwibawa, atau mencoba tidak jujur
(bohong) seperti seorang pencuri yang terhina dan tidak berharga.
Jujur adalah sebagian dari Iman. Coba bayangkan, misalnya setengah bagian dari keimanan telah kita genggam, jika kita jujur, dan setelah kita jujur dengan kesalahan, maka waktunya kita melangkah menjadi manusia yang lebih baik dan lebih baik lagi, kita insya Allah kita akan menjadi hamba yang dibanggakan Allah Sang Pencipta. Marilah kita buat Allah menjadi bangga karena memiliki banba-hamba seperti kita, hamba-hamba yang jujur, hamba-hamba yang tidak mudah terprovokasi dan ramai-ramai menghujat orang lain yang belum tentu salah, dan semoga kita mampu menjadi melihat kesalahan kita sendiri. Kalau bisa jujur, kenapa kita harus dusta, kalau memang kita salah kenapa kita harus menyembunyikan diri dari kesalahan? Kenapa kita semua berbuat salah? Bukankah kita semua tempatnya salah? Bukankah kita tempatnya khilaf? Semoga kita dicintai Allah karena kejujuran dan keberanian kita mengaku kesalahan kita Irhamnna yaa Allah - Berilah kasih sayang-Mu yaa Allah.
Hermanto Harsolumakso
No. 210
No. 210
bagus mari kita bermuhasabah banyak amal sholehnya apa amal salahnya, banyak ngamalnya apa ngomelnya, banyak dzikirnya apa banyak plesirnya, Mari kita tatap tahun baru dengan bekal ilmu dan iman (dari facebook)
BalasHapusBagus, mencerahkan.
BalasHapusMuhasabahlah dengan jujur dan jangan berbuat dosa lagi, supaya tidak kena musibah seperti ini, gunung mbledos, banjir di mana-mana ......
BalasHapus