Rabu, 15 Januari 2014

MUHASABAH DENGAN KEJUJURAN HATI

Allah Swt berirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS Al-Hasyr 59: 18).

Pada akhir tahun 2013, sudahkah pembaca melakukan muhasabah dengan bersungguh-sungguh? Muhasabah itu sebenarnya, bukan hanya dilakukan pada momen-momen tertentu seperti bulan Ramadhan, pergantian tahun Hijriyah ataupun tahun Masehi saja, melainkan dilakukan kapan saja setiap saat, sebagaimana peringatan Allah dalam QS Al-Hasyr 59: 18 tersebut di atas, karena Dia mengetahui apa saja yang telah kita perbuat, termasuk setiap kesalahan dan keburukan. Maka memasuki tahun baru 2014 dan selanjutnya, seyogyanya kita senantiasa melakukan muhasabah dengan kesungguhan dan kejujuran hati.
Pepatah Indonesia menyebutkan “Gajah di pelupuk mata tak terlihat, kunang-kunang di seberang lautan terlihat.’ Pepatah Arab menyebutkan: “Mata boleh melihat jauh dan dekat namun mata tak mampu melihat diri sendiri melainkan dengan cermin.” Dengan mengambil makna pepatah-pepatah itu, kita seharusnya menyadari betapa kita sering melihat kesalahan orang lain tanpa pernah mampu melihat kesalahan kita sendiri, betapa sering kita melihat orang-orang yang menyakiti dan mengumpat, kita, namun jarang kita menyadari bahwa luka yang sama bahkan lebih dalam lagi telah kita torehkan di hati orang lain, betapa sering kita ‘melempar batu dan sembunyi tangan’, menjadi orang yang sangat pengecut, padahal Allah mengetahui apa-apa yang kita lakukan tanpa kita sadari. Mau mengakui kesalahan memang hal yang tidak mudah kita lakukan, karena yang mudah itu memang menyalahkan orang lain, dan kita biasanya memilih yang mudah. Kalau bisa menyalahkan orang lain mengapa harus menyalahkan diri sendiri? Begitulah pikiran kebanyakan orang.
Tetapi pernahkah kita berpikir bahwa dengan mengakui sesuatu kesalahan sebagai milik kita, maka kita bisa belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama lagi. Selama kita tidak mengakuinya bagaimana kita mau belajar? Mengapa kita tidak bersikap jujur bahwa kesalahan yang kita buat tersebut adalah salah kita dan milik kita. Dengan mengakui bahwa kita melakukan ini dan itu,  dan  bertanggungjawab atas resiko yang ada, maka kita seharusnya berterima kasih kepada kesalahan-kesalahan yang kita buat, karena kita mendapat pelajaran berharga untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut. Dan bisa dipastikan kita juga pasti sangat marah di dalam hati, jika terkena masalah dari lemparan orang lain. Bukanlah kita sebaiknya melatih jujur dan menumbuhkan jiwa jujur dalam diri kita sendiri mulai saat ini karena esok hari mungkin sudah terlambat?
Indahnya kejujuran meski pahit, meski setelah jujur kita harus jungkir balik memperbaiki kesalahan kita, setidaknya itu membuat diri kita lebih baik dan lebih baik lagi. Itulah sebenarnya salah satu ciri manusia pecinta Allah, yaitu mereka yang sibuk memperbaiki diri sendiri, bukan mereka yang sibuk mencari kesalahan orang lain. Sesungguhnya tidak tak ada untungnya mencari kesalahan orang lain, itu hanya membuat jiwa menjadi lelah. Janganlah kita menggadaikan kebahagiaan dengan kegelisahan karena memikirkan orang lain yang belum tentu salah. Itu hanya melelahkan.
Memfungsikan Kembali Indera Keenam
Setelah cukup lama kita menapaki jalan hidup, kita perlu berhenti sejenak, duduk di majelis muhasabah. Tujuan muhasabah adalah untuk mengistirahatkan pikiran, hati, dan fisik, agar memperoleh stamina, energi, gelora, harapan, dan motivasi baru. Untuk itu kita perlu mengerahkan potensi indra keenam, yaitu hati.  Mengapa? Karena kelima indera kita memiliki keterbatasan, sedangkan hati adalah indera yang juga kita miliki sejak kita dilahirkan di dunia ini. Akan tetapi beberapa potensi fungsi hati itu tidak mampu kita maksimalkan. Mengapa? Karena memang kita tidak melatihnya.
Manusia terlahir sudah memiliki indera keenam yang berfungsi dengan baik. Ia menangis dan tertawa sendiri karena melihat ada ‘sesuatu yang berbeda’. Akan tetapi seiring dengan bertambahnya usia, kemampuan indera keenam tersebut menurun drastis. Sebab orang tua kita tidak melatih indera keenam kita. Mereka lebih melatih lima panca indera kita untuk memahami dunia luar. Orangtua kita sangat risau apabila anaknya tidak bisa menggunakan panca indera kita dengan baik. Namun sebenarnya kemampuan penginderaan hati kita jauh lebih dahsyat.
Hati kita bisa merasakan, melihat, dan mendengar apa yang tidak dirasakan, dilihat, dan didengar oleh panca indera. Kita bisa ‘berkenalan’ dengan Allah Swt hanya dengan cara mengaktifkan fungsi hati kita dengan baik. Kita bisa ‘melihat’ Allah hanya dengan hati kita, bukan dengan mata. Kita bisa ‘merasakan’ adanya Allah bukan dengan kulit kita, namun dengan hati. Allah Swt sudah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an akan pentingnya menghidupkan hati: “Dan barang siapa di dunia ini buta hatinya, maka di akhirat nanti juga akan buta, dan lebih sesat lagi jalannya.” (QS Al-Israa’ 17: 72). Rasulullah Saw pernah mengingatkan para sahabat akan pentingnya mengedepankan fungsi hati sebagai raja bagi kehidupan.
Apabila kita menjadikan akal kita sebagai raja dan hati menjadi pengawalnya, maka tunggulah kehancuran hidup kita. Hati kita akan tertutup dengan bercak hitam sehingga kita tidak mampu mengenal Allah. Akal menjadi raja untuk diri kita karena kita membiasakan diri menilai kebahagiaan hidup hanya melalui apa yang dirasakan di dunia ini saja. Yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dirasakan oleh lidah dan kulit, semuanya diinterpretasikan di otak (akal). Sehingga kitapun lebih memercayai rasio, logika dan nalar kita untuk mengukur kebahagiaan hidup. Pola ini akan membawa kita pada pola hidup yang mengandalkan akal dan mengesampingkan hati nurani. Banyak orang yang pintar dan cerdas dalam menguasai suatu ilmu namun kering akan ruhani ketuhanan. Mereka tidak mampu melihat sesuatu yang metafisik, sesuatu dibalik segala ciptaan yang tak terbatas. Mereka akhirnya juga tidak mampu mereguk nikmatnya ibadah dan tidak mampu merasakan kehadiran Allah Swt.
Berbeda halnya apabila hati kita yang menjadi raja bagi diri kita. Kita akan bisa merasakan kehadiran Allah Swt dalam hidup kita. Dalam kehidupan sosial, kita juga bisa merasakan apa yang orang lain rasakan (peka). Oleh karena itu jadikanlah hati sebagai raja bagi diri kita. Orang yang tidak melatih hatinya saat hidup di dunia - sehingga hatinya tertutup - maka mereka akan dibangkitkan oleh Allah Swt di akhirat nanti dalam keadaan buta. Dalam QS Thahaa 20:124 disebutkan: “Barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”
Lalu, bagaimanakah cara melatih hati kita untuk bisa ‘melihat’ Allah Swt? Mari kita menuntut ilmu demi mengharap ridha Allah Swt, bekerja karena Allah Swt, shalat, puasa, bersedekah, dzikir, do’a, dan semua bentuk ibadah adalah karena Allah Swt, dengan hati yang tulus dan ikhlas. Insya Allah kita akan bisa melihat Allah Swt di dunia ini dan juga di akhirat kelak.
Maka kita perlu memfungsikan kembali hati kita di majelis iman. Kita evaluasi diri kita secara kritis dan radikal (taqwim wal muhasabah). Sudah sejauh mana kita menapaki jalan hidup ini? Apa yang telah kita hasilkan? Masih berapa lama lagi kita diberi jatah waktu untuk menuntaskan sisa tugas ini? Sudah cukupkah bekal untuk meraih tujuan akhir yang hakiki?
Semua itu perlu kita renungkan demi perbaikan masa depan. Dengan cara itu kita akan selalu bersyukur atas capaian ilmu, pengalaman, dan prestasi selama ini. Dengan cara itu pula kita mampu mencermati apa yang belum kita realisasikan dalam hidup. Kita pertahankan tradisi baik yang meliputi spirit iman, ibadah dan jihad serta akhlak, dan membuka diri untuk menerima sesuatu yang baru. Muhasabah akan menghindarkan kita dari tindakan bodoh dan sia-sia. Kadang kala hal itu tanpa sadar kita melakukan dua hal yang bertolak belakang.
Allah Swt berfirman: “Dan janganlah kamu seperti perempuan tua (pada masa jahiliyah) yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” (QS An-Nahl 16: 92). Di sini Allah membuat analogi hal ini dengan seorang wanita tua yang memintal benang, yang setelah benang dipintal dengan kuat, dicerai beraikan lagi olehnya. Sehingga tak pernah benang itu menjadi kain.  
Hal serupa ibarat kita giat membangun benteng spiritual, namun di sisi lain kita rajin merobohkannya kembali. Kalau seperti ini, kapan benteng keIslaman kita akan selesai dibangun? Pepatah Arab menyebutkan, “Kapan bangunan itu akan sempurna apabila kalian giat membangunnya sementara yang lain rajin merusaknya.” Karena itulah, Islam mengajarkan sebuah kaidah (ushul fiqh) yakni: “Mempertahankan tradisi masa lalu yang baik dan mengambil temuan baru yang lebih baik.”
Terbukaan Dalam Muhasabah Menjadikan Kita Kuat
Kita harus tegas dalam persoalan kaidah, namun toleran terhadap metodologi, media, atau teknik untuk mencapai tujuan akhir (ghayah). Kita harus konsisten dengan ghayah dan terbuka terhadap media (wasilah) dalam menuju tujuan antara (hadaf) untuk menggapai ghayah. Dengan muhasabah kita akan menata ulang dan memperbarui (tajdid) persepsi kita terhadap realitas kehidupan dengan mata hati yang bening. Kita akan mengoptimalkan kecerdasan akal, batin, emosi dan mengasah potensi dzikir, pikir, secara sinergis, seiring, seimbang dan paralel.
Dengan berhenti sejenak, mengambil jarak dari rutinitas, insya Allah akan mengantarkan kita untuk lebih dewasa, matang, arif, dan bijaksana dalam menyikapi persoalan yang terus berkembang dan dinamis. Bukankah kesibukan sering mengurangi ketajaman dan kepekaan spiritual kita? Stamina banyak terkuras, telaga ruhani pun sering terkontaminasi debu-debu kotor akibat lingkungan kurang kondusif untuk pencerahan iman (fudhulul mukhalathah).
Karenanya, kita perlu mengisi ulang bahan bakar spiritual agar pengabdian dan komitmen kita kembali tulus, lillahi ta’ala. Sungguh kita memerlukan saat-saat yang berkesan itu. Allah Swt berfirman: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya. Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang orang yang fasik.” (QS Al-Hadiid 57: 16).
Hati manusia bisa rusak karena dosa yang sedikit demi sedikit bertambah, yaitu ketika hati itu menjadi keras, tidak bisa menerima nasihat dan peringatan. Hati mereka tidak bisa lembut meskipun didatangkan janji dan ancaman. Kebanyakan mereka menjadi orang yang fasiq, yakni hati mereka rusak karena debu-debu dosa melekat dalam kepribadian mereka, maka perilaku mereka batil.
Karena itu, sebelum hati itu benar-benar rusak, kita butuh suasana yang akan mengajak kita berdialog dengan diri sendiri. Suasana yang mampu membawa kita mencermati sisi gelap, menuju sisi terang pada diri kita. Suasana seperti ini memudahkan kita berdialog langsung dengan realitas metafisik, dan mendorong kita untuk terampil mengelola gejolak diri kita. Sayidina Umar bin Khattab mengatakan, “Rahimaallahu ‘abdan ‘arafa haddahu fa waqafa ‘indahu - Allah merahmati hamba-Nya yang memahami keterbatasan dirinya dan berhenti sejenak di situ.”
Titik sentuh ‘berhenti sejenak’ adalah hati nurani. Menyentuh kesadaran yang paling dalam agar kita tetap memelihara stamina spiritual ketika dihadapkan pada masalah hidup, baik individu, keluarga, atau bangsa, kemudian mengembalikan solusinya kepada Allah, Dzat Yang Memahami rahasia kehidupan ini.
Majelis iman adalah sarana penjernihan jiwa, pencerahan kalbu, penguatan tekad (azzam), pengokohan niat dan motivasi, penajaman orientasi, agar kita tetap istiqamah menapaki jalan yang lurus. Dalam sejarah hidup para shalafush shalih, majelis iman yang kecil di rumah-rumah, masjid, forum kajian (halaqah), terbukti telah melahirkan lompatan pemikiran yang cemerlang, ide-ide brilian, dan gagasan spektakuler.
Diam mereka adalah perenungan, pembicaraan mereka adalah dzikir dan amar ma’ruf nahyi munkar. Rasulullah Saw senang berkhalwat - menyendiri - sebelum diangkat menjadi Rasul. Beliau menganjurkan kita untuk selalu i’tikaf, utamanya pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Sayidina Umar bin Khattab juga memiliki kebiasaan i’tikaf seminggu sekali di Masjidil Haram. Itulah teladan muhasabah yang belum kita budayakan. Muhasabah seperti itu belum mentradisi di kalangan kita. Akibatnya, diamnya kita berubah menjadi imajinasi yang tidak terarah, kurang terkendali, dan liar. Bicara kita menjelma menjadi penuh dengki, dendam, sombong, niat jahat, intrik terhadap kawan seperjuangan, ghibah, fitnah dan adu domba (namimah), mencela ke sana-sini, mengobral janji, kasak kusuk, dan sumpah serapah.
Maka, hidup kita kehilangan kekuatan inti yang sesungguhnya sangat kita perlukan. Kita merasa sempit di tengah samudera luas tidak bertepi. Kita merasa gelap di bawah sorotan cahaya illahi. Karunia Allah Swt tidak bisa kita nikmati. Kesempitan, kekalutan, kegalauan jiwa, mulai tumbuh. Kesempitan ruhani akan membawa hidup kita jauh dari petunjuk, rahmat, berkah, serta pertolongan Allah Swt.
Kita benar-benar perlu berhenti sejenak, duduk di majelis iman, agar kita tetap bisa mempertahankan jati diri di tengah pusaran badai kehidupan. Namun harus diingat, ini bukan ‘uzlah - hidup menyendiri - dan lari dari tanggungjawab, melainkan mempersiapkan diri menghadapi tantangan dengan jiwa ksatria.
Maka mulai sekarang jadilah kita jujur dan belajar melihat kesalahan sendiri, Menjadi jujur seperti seorang ksatria dan berwibawa, atau mencoba tidak jujur (bohong) seperti seorang pencuri yang terhina dan tidak berharga.
Jujur adalah sebagian dari Iman. Coba bayangkan, misalnya setengah bagian dari keimanan telah kita genggam, jika kita jujur, dan setelah kita jujur dengan kesalahan, maka waktunya kita melangkah menjadi manusia yang lebih baik dan lebih baik lagi, kita insya Allah kita akan menjadi hamba yang dibanggakan Allah Sang Pencipta. Marilah kita buat Allah menjadi bangga karena memiliki banba-hamba seperti kita, hamba-hamba yang jujur, hamba-hamba yang tidak mudah terprovokasi dan ramai-ramai menghujat orang lain yang belum tentu salah, dan semoga kita mampu menjadi melihat kesalahan kita sendiri. Kalau bisa jujur, kenapa kita harus dusta, kalau memang kita salah kenapa kita harus menyembunyikan diri dari kesalahan? Kenapa kita semua berbuat salah? Bukankah kita semua tempatnya salah? Bukankah kita tempatnya khilaf? Semoga kita dicintai Allah karena kejujuran dan keberanian kita mengaku kesalahan kita Irhamnna yaa Allah - Berilah kasih sayang-Mu yaa Allah.
Hermanto Harsolumakso
No. 210

3 komentar:

  1. bagus mari kita bermuhasabah banyak amal sholehnya apa amal salahnya, banyak ngamalnya apa ngomelnya, banyak dzikirnya apa banyak plesirnya, Mari kita tatap tahun baru dengan bekal ilmu dan iman (dari facebook)

    BalasHapus
  2. Muhasabahlah dengan jujur dan jangan berbuat dosa lagi, supaya tidak kena musibah seperti ini, gunung mbledos, banjir di mana-mana ......

    BalasHapus