إِذَا
جَاء نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ﴿١﴾ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ
اللَّهِ أَفْوَاجاً ﴿٢﴾ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ
تَوَّاباً ﴿٣﴾
“Apabila telah
datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu Lihat manusia masuk agama
Allah dengan berbondong-bondong, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan
mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Mahapenerima tobat.”
(An-Nashr QS 110 :1-3).
Surah An-Nashr
yang ditulis di atas terdiri atas tiga ayat yang membicarakan fathu Makkah, pembebasan kota Makkah
dari kemusyrikan dan terbukanya kota ini bagi kaum muslimin untuk menunaikan
ibadah di dalamnya. Sebagaimana kita maklumi, Makkah adalah tempat kelahiran
Muhammad Saw, sekaligus tempat Masjidil Haram dan Ka'bah berada. Sudah tentu
Muhammad sangat menyayangi tanah airnya itu.
Salah satu
wujud kecintaannya adalah keprihatinan beliau yang sangat mendalam terhadap
sikap dan perilaku penduduk Makkah, yang benar-benar berada dalam keadaan jahiliyah, kegelapan yang pekat.
Laki-laki mereka, setelah mencari nafkah hanya berfoya-foya belaka,
menghabiskan harta untuk hal-hal yang tidak berguna. Mereka senang sekali
berjudi dan minum minuman keras tanpa ingat waktu, sehingga isteri dan
anak-anak tidak mendapatkan perhatian yang memadai. Mereka bersaing dalam
mempertontonkan harta kekayaan dan kemampuan-kemampuan lainnya. Merekapun bersaing
untuk mendapatkan julukan ‘yang ter’, apakah terkaya atau terbanyak anak
lelakinya, atau terbanyak pengikutnya. Persaingan antar orang berkembang
menjadi persaingan antar keluarga, kemudian antar suku. Yang demikian itu
kemudian menimbulkan perselisihan dan pertengkaran. Sejak muda Muhammad Saw
merasakan keprihatinan yang mendalam tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan
untuk merubah keadaan.
Pada usia 40
tahun beliau menerima wahyu pertama, disusul oleh wahyu-wahyu berikutnya yang
memberi petunjuk tentang apa yang benar dan apa yang salah, apa yang harus
dilakukan dan apa yang mesti ditinggalkan. Pada saat itulah beliau mendapatkan
pencerahan hati yang sangat beliau dambakan. Maka dengan semangat tinggi
beliaupun menyampaikan keterangan-keterangan Allah kepada sanak keluarga, kaum
kerabat, sahabat dekat dan akhirnya masyarakat umum. Tetapi ternyata tanggapan
yang beliau terima jauh panggang dari api. Kebanyakan di antara saudara dan
teman-teman sendiri bukan saja menolak tetapi juga mengejek dan mencemooh. Nabi
Muhammad kemudian bekerja lebih keras, berusaha untuk mengajak masyarakat
dengan lebih tekun dan cermat. Ternyata semakin keras beliau berusaha semakin
keras pula reaksi negatif yang beliau dapatkan. Dari ejekan berkembang menjadi
pengucilan, sampai kemudian penganiayaan dan pembunuhan terhadap orang-orang
yang masuk Islam.
Akhirnya,
untuk keselamatan jiwa, Rasul menyuruh para pengikut beliau untuk hijrah,
meninggalkan Makkah - mula-mula ke Abessinia kemudian ke Yatsrib. Rasul sendiri
kemudian hijrah pula, dan selanjutnya tinggal menetap di Yatsrib, kota yang
kemudian disebut Madinah al Rasul -
kotanya Rasul, atau Madinah al-Munnawwarah
- kota yang menerangi dunia dengan cahaya Islam Orang-orang Makkah yang musyrik
masih juga benci dan dengki kepada Rasulullah Saw dan bersikeras untuk
menghancurkan agama yang beliau sampaikan. Mereka mengirimkan pasukan demi
pasukan untuk menyerbu Madinah, tetapi hampir selalu pasukan itu dapat dipukul
mundur. Kekuatan kaum Qureisy semakin lama semakin lemah, sebaliknya kaum
muslimin justru semakin kuat.
Maka pada
akhirnya Rasulullah Saw mengirimkan pasukan yang sangat besar, lebih dari
10.000 orang dengan perlengkapan tempur yang canggih untuk ukuran masa itu.
Kali ini kaum Muslimin tidak lagi defensif akan tetapi datang menyerbu Makkah,
untuk menghentikan serangan-serangan mereka langsung dari sumbernya. Selain itu
penyerbuan dimaksudkan untuk membuka kota Makkah dan Masjidil Haram bagi
kepentingan ibadah. Ekspedisi pasukan besar itu berhasil dengan gilang
gemilang, bahkan dapat dikatakan tanpa meneteskan darah setitikpun. Para
penguasa Makkah yang melihat pasukan sebanyak itu tidak punya nyali lagi untuk
melawan. Mereka yang tetap tidak mau tunduk kepada Muhammad, menyingkir ke luar
kota, sedangkan sebagian besar memilih tunduk dan taat kepada Islam. Itulah
yang disebut Fathu Makkah, peristiwa
kemenangan yang sangat penting, dan karena itu diabadikan pada surah Al-Nashr
untuk dikenang dan diambil hikmahnya oleh umat Islam dari berbagai penjuru dan
generasi.
Ayat pertama
surah An-Nashr: إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
mengingatkan Rasulullah dan kaum mukminin bahwa kemenangan itu mereka dapatkan
karena pertolongan Allah Swt. Peringatan demikian ini penting karena banyak
orang yang menjadi lupa diri ketika memperoleh kemenangan atau keberhasilan.
Mereka merasa bahwa kemenangannya itu merupakan hasil dari kemampuan dan
kepandaiannya, atau ketekunan dan kecermatannya sendiri. Karena anggapan yang
demikian itu merekapun menjadi sombong, congkak dan angkuh. Ini adalah penyakit
yang sangat berbahaya namun tidak disadari oleh pengidapnya. Seperti kaum 'Ad
dan kaum Tsamud, dua bangsa purbakala yang diceriterakan Al-Quran.
Mereka memang
berhasil mencapai kemajuan yang sangat tinggi, baik di bidang ekonomi maupun
teknologi untuk ukuran masa itu. Namun mereka menjadi lupa diri, amat sombong
dan akibatnya jatuh terpuruk. Raja Fir'aun di Mesir yang hidup ribuan tahun
kemudian, mengulang kesalahan mereka. Begitu pula Napoleon Bonaparte di
Perancis dan Hitler di Jerman. Tentara mereka pada zamannya masing-masing
adalah tentara yang sangat tangguh. Akan tetapi karena pemimpinnya menjadi
congkak, sunnatullah terjadi; mereka
mengalami kehancuran yang benar-benar tidak terbayangkan sebelumnya. QS Al-Fath
48; 23 menyatakan: سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ
لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلا - “Ketetapan Allah sudah berlaku sejak
dahulu dan tidak akan kamu jumpai perubahan dalam ketetapan Allah itu
sedikitpun.”
Agar kaum Muslimin
tidak mengulang kesalahan orang-orang di masa lalu, Allah Swt segera memberi
peringatan yang sangat penting. Orang yang beriman, baik yang turut serta pada
fathu Makkah maupun yang tidak, jangan sekali-kali menjadi sombong karena
kemenangan itu. Hendaklah mereka ingat bahwa kemenangan gilang gemilang
tersebut mereka dapatkan karena Allah berkenan menolong. Sesungguhnya betapapun
rinci orang membuat rencana, betapapun cermat orang menyusun siasat, akan
tetapi banyak sekali faktor yang tidak dia ketahui, atau yang dia ketahui
tetapi tidak dia kuasai. Pasukan Hitler yang menyerbu Rusia ternyata kalah
bukan oleh musuh akan tetapi oleh cuaca yang sangat dingin. Sekelompok pasukan Amerika
yang mencoba menyerang Iran ternyata hancur di tengah jalan karena trouble di peralatannya sendiri. Rencana
dan siasat manusia, sejak zaman kuno sampai masa modern pada hakekatnya sama
saja, bergantung sepenuhnya kepada rencana Allah. وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ
الْمَاكِرِينَ - “Dan mereka membuat siasat dan Allah
membuat siasat pula, dan Allah adalah sebaik-baik Pembuat siasat.”
Apa sebenarnya
makna pembebasan Makkah? Bukan kejayaan pribadi Muhammad, bukan pula pengakuan
atas kehebatan orang-orang Madinah. Fathu Makkah adalah kunci utama bagi
dakwah Islam. Ayat dua surah An-Nashr menyatakan tentang hal ini: وَرَأَيْتَ النَّاسَ
يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا -
“Dan engkau melihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong.”
Ketika Makkah dibebaskan dari syirik dan kezaliman, orang secara
berbondong-bondong masuk agama Allah. Mereka adalah orang-orang yang selama bertahun-tahun
dihimpit oleh rasa takut, ketika hendak mengikuti dan menyuarakan kebenaran.
Mereka telah mendengar ajaran agama yang disampaikan oleh Muhammad Saw, dan
hatinya sudah dapat menerima. Tetapi mereka juga menyaksikan siksaan yang
dialami oleh orang-orang yang menyatakan diri beriman. Ada di antara mereka
yang terus menerus diejek dan dicemooh di mana saja berada, ada yang dikucilkan
dan diboikot, tidak boleh berdagang dengan kafilah Qureisy bahkan tidak boleh
berjual beli dengan orang-orang Qureisy lainnya. Malahan ada yang disiksa
secara tidak manusiawi seperti Bilal bin Rabah, dan dibunuh dengan
terang-terangan seperti suami isteri Yasir dan Sumayah. Maka banyak penduduk
Makkah dan sekitarnya yang baru beriman dalam hati karena merasa belum sanggup
menanggung resiko seperti para pengikut Rasulullah. Baru ketika fathu Makkah telah terjadi dan kaum
kafirin telah kehilangan kekuasaannya, orang-orang itu berani muncul dan
mengaku Muslim.
Apa yang harus
dilakukan Rasul dan kaum mukminin ketika memperoleh kemenangan gilang gemilang
demikian? Ayat 3 surah An-Nashr menurunkan petunjuk sebagai berikut: فَسَبِّحْ بِحَمْدِ
رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا –
“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.
Sesunguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” Ayat ini pertama-tama
menyuruh Rasululullah dan kaum mukminin agar ketika memperoleh sukses segera
bertasbih. Kalimat tasbih yang paling umum adalah Subhanalloh yang artinya
"Maha Suci Allah". Suci dari apa? Dari segala kesalahan, kekurangan,
dan kelemahan. Allah tidak mungkin lemah atau salah dalam mencipta dan mengatur
alam semesta, termasuk manusia. Allah tidak akan mengalami kesulitan dalam menganugerahkan rizki kepada
setiap makhluk-Nya. Salah satu cara menyucikan Allah adalah memuji Dia atas
segala pertolongan-Nya sehingga mencapai sukses. Pujian berarti pengakuan bahwa
keberhasilan itu diperolehnya dari Allah, bukan semata-mata hasil usaha
sendiri. Meski demikian, pujian tersebut sama sekali bukan untuk kepentingan Allah,
karena Dia tidak memerlukan pujian. Yang berkepentingan untuk memuji Allah
adalah justru manusia sendiri. Yang akan memperoleh keuntungan dengan memuji
Allah adalah orang yang mengucapkannya. Mengapa? Karena ucapan itu akan
membebaskannya dari penyakit sombong, penyakit yang sangat berbahaya karena
orang yang sombong berarti lupa mengakui peranan Allah, kemudian mengingkari
eksistensi Allah. Dengan kata lain kesombongan akan mengantar orang kepada
kekufuran.
Akibat buruk
lainnya dari kesombongan adalah kezhaliman terhadap sesama manusia. Mengapa?
Karena orang yang sombong itu cenderung menganggap remeh orang lain. Maka kalau
dia mendzalimi orang lain hal itu dianggap sebagai hal yang biasa saja.
Pantaslah bila Allah melarang keras bersikap sombong, dengan menyatakan dalam
suatu hadits Qudsi: "Kebesaran dan kesombongan adalah ibarat
selendang-Ku. Maka barangsiapa memakainya akan Aku siksa dia." Ayat
yang 3 surah Al-Nashr menyatakan, supaya tidak menjadi sombong, orang yang
memperoleh setiap keberhasilan harus segera memuji Allah dan berterima kasih
atas karunia Allah. Dengan demikian orang akan cepat menyadari bahwa perannya
dalam keberhasilan hanyalah ikhtiar. Yang menentukan hasil adalah Allah Swt.
Ayat tadi
kemudian memerintahkan Rasul agar istighfar - memohon ampun. Mengapa? Karena dalam setiap
usaha dan perjuangan, besar sekali kemungkinan orang melakukan kekeliruan.
Mungkin dia memaki-maki, mungkin menggerutu, mungkin salah menampar, mungkin
bersikap tidak adil, dan sebagainya. Ketika sukses sudah didapat, mungkin pula
dia terlalu berbangga diri. Maka untuk menghapus dosa-dosa yang disebabkan oleh
sikap dan perilaku tersebut, hendaknya orang segera istighfar, memohon
ampun kepada Allah dengan sepenuh hati. إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا - Sesungguhnya Allah itu Maha Penerima taubat,
demikian dikemukakan pada ujung ayat 3 tadi. Pernyataan ini mengingatkan kita
bahwa seandainya saja Allah tidak berkenan mengampuni dosa, dan seandainya
Allah tidak menyediakan prosedur untuk menghapuskan dosa, kita tidak bisa
membayangkan bagaimana mungkin ada orang yang lolos dari neraka. Setiap hari,
setiap jam, setiap menit orang melakukan kesalahan yang berakibat dosa. Semakin
lama dia hidup di bumi, semakin banyak dosa yang menumpuk di bahunya? Maka
bagaimana mungkin orang bisa mempertanggungjawabkan dosa-dosanya itu? Kita
pantas bersyukur bahwa Allah berjanji akan menghapus dosa-dosa orang yang
bertobat. Maka dengan janji Allah itu masa depan hidup manusia menjadi cerah,
dan beban hidup terasa lebih ringan.
Meskipun
surah An-Nashr ini secara lahiriah ditujukan kepada Rasul dan berkenaan dengan fathu
Makkah, namun tentu saja yang dituju adalah semua orang. Pada suatu ketika
setiap orang pasti mendapatkan kemenangan, sukses, kegembiraan, baik di bidang
ekonomi maupun di bidang-bidang lain. Maka pesan Allah tetap berlaku: Segeralah
bertasbih dengan memuji Allah, dan memohon ampunan. Jangan ditunggu setan
datang mengguncang iman, usir mereka dengan tasbih, keluarkan mereka
dari hati dengan hamdalah, dan jaga
diri dengan sikap tawaddhu - rendah
hati. Dengan demikian kita akan selamat di dunia, menuju kebahagiaan di akhirat
kelak.
Sakib Machmud
No. 211
Hancurnya pesawat Amerika sebelum menbom Iran adalah bukti Allah lebih hebat dari siasat manusia..
BalasHapus