Sabtu, 25 Januari 2014

BELAJAR DARI PERISTIWA PEMBEBASAN MAKKAH


إِذَا جَاء نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ﴿١﴾ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجاً ﴿٢﴾ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّاباً ﴿٣﴾
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu Lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Mahapenerima tobat.” (An-Nashr QS 110 :1-3).
Surah An-Nashr yang ditulis di atas terdiri atas tiga ayat yang membicarakan fathu Makkah, pembebasan kota Makkah dari kemusyrikan dan terbukanya kota ini bagi kaum muslimin untuk menunaikan ibadah di dalamnya. Sebagaimana kita maklumi, Makkah adalah tempat kelahiran Muhammad Saw, sekaligus tempat Masjidil Haram dan Ka'bah berada. Sudah tentu Muhammad sangat menyayangi tanah airnya itu.
Salah satu wujud kecintaannya adalah keprihatinan beliau yang sangat mendalam terhadap sikap dan perilaku penduduk Makkah, yang benar-benar berada dalam keadaan jahiliyah, kegelapan yang pekat. Laki-laki mereka, setelah mencari nafkah hanya berfoya-foya belaka, menghabiskan harta untuk hal-hal yang tidak berguna. Mereka senang sekali berjudi dan minum minuman keras tanpa ingat waktu, sehingga isteri dan anak-anak tidak mendapatkan perhatian yang memadai. Mereka bersaing dalam mempertontonkan harta kekayaan dan kemampuan-kemampuan lainnya. Merekapun bersaing untuk mendapatkan julukan ‘yang ter’, apakah terkaya atau terbanyak anak lelakinya, atau terbanyak pengikutnya. Persaingan antar orang berkembang menjadi persaingan antar keluarga, kemudian antar suku. Yang demikian itu kemudian menimbulkan perselisihan dan pertengkaran. Sejak muda Muhammad Saw merasakan keprihatinan yang mendalam tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk merubah keadaan.
Pada usia 40 tahun beliau menerima wahyu pertama, disusul oleh wahyu-wahyu berikutnya yang memberi petunjuk tentang apa yang benar dan apa yang salah, apa yang harus dilakukan dan apa yang mesti ditinggalkan. Pada saat itulah beliau mendapatkan pencerahan hati yang sangat beliau dambakan. Maka dengan semangat tinggi beliaupun menyampaikan keterangan-keterangan Allah kepada sanak keluarga, kaum kerabat, sahabat dekat dan akhirnya masyarakat umum. Tetapi ternyata tanggapan yang beliau terima jauh panggang dari api. Kebanyakan di antara saudara dan teman-teman sendiri bukan saja menolak tetapi juga mengejek dan mencemooh. Nabi Muhammad kemudian bekerja lebih keras, berusaha untuk mengajak masyarakat dengan lebih tekun dan cermat. Ternyata semakin keras beliau berusaha semakin keras pula reaksi negatif yang beliau dapatkan. Dari ejekan berkembang menjadi pengucilan, sampai kemudian penganiayaan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang masuk Islam.
Akhirnya, untuk keselamatan jiwa, Rasul menyuruh para pengikut beliau untuk hijrah, meninggalkan Makkah - mula-mula ke Abessinia kemudian ke Yatsrib. Rasul sendiri kemudian hijrah pula, dan selanjutnya tinggal menetap di Yatsrib, kota yang kemudian disebut Madinah al Rasul - kotanya Rasul, atau Madinah al-Munnawwarah - kota yang menerangi dunia dengan cahaya Islam Orang-orang Makkah yang musyrik masih juga benci dan dengki kepada Rasulullah Saw dan bersikeras untuk menghancurkan agama yang beliau sampaikan. Mereka mengirimkan pasukan demi pasukan untuk menyerbu Madinah, tetapi hampir selalu pasukan itu dapat dipukul mundur. Kekuatan kaum Qureisy semakin lama semakin lemah, sebaliknya kaum muslimin justru semakin kuat.
Maka pada akhirnya Rasulullah Saw mengirimkan pasukan yang sangat besar, lebih dari 10.000 orang dengan perlengkapan tempur yang canggih untuk ukuran masa itu. Kali ini kaum Muslimin tidak lagi defensif akan tetapi datang menyerbu Makkah, untuk menghentikan serangan-serangan mereka langsung dari sumbernya. Selain itu penyerbuan dimaksudkan untuk membuka kota Makkah dan Masjidil Haram bagi kepentingan ibadah. Ekspedisi pasukan besar itu berhasil dengan gilang gemilang, bahkan dapat dikatakan tanpa meneteskan darah setitikpun. Para penguasa Makkah yang melihat pasukan sebanyak itu tidak punya nyali lagi untuk melawan. Mereka yang tetap tidak mau tunduk kepada Muhammad, menyingkir ke luar kota, sedangkan sebagian besar memilih tunduk dan taat kepada Islam. Itulah yang disebut Fathu Makkah, peristiwa kemenangan yang sangat penting, dan karena itu diabadikan pada surah Al-Nashr untuk dikenang dan diambil hikmahnya oleh umat Islam dari berbagai penjuru dan generasi.
Ayat pertama surah An-Nashr: إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ mengingatkan Rasulullah dan kaum mukminin bahwa kemenangan itu mereka dapatkan karena pertolongan Allah Swt. Peringatan demikian ini penting karena banyak orang yang menjadi lupa diri ketika memperoleh kemenangan atau keberhasilan. Mereka merasa bahwa kemenangannya itu merupakan hasil dari kemampuan dan kepandaiannya, atau ketekunan dan kecermatannya sendiri. Karena anggapan yang demikian itu merekapun menjadi sombong, congkak dan angkuh. Ini adalah penyakit yang sangat berbahaya namun tidak disadari oleh pengidapnya. Seperti kaum 'Ad dan kaum Tsamud, dua bangsa purbakala yang diceriterakan Al-Quran.
Mereka memang berhasil mencapai kemajuan yang sangat tinggi, baik di bidang ekonomi maupun teknologi untuk ukuran masa itu. Namun mereka menjadi lupa diri, amat sombong dan akibatnya jatuh terpuruk. Raja Fir'aun di Mesir yang hidup ribuan tahun kemudian, mengulang kesalahan mereka. Begitu pula Napoleon Bonaparte di Perancis dan Hitler di Jerman. Tentara mereka pada zamannya masing-masing adalah tentara yang sangat tangguh. Akan tetapi karena pemimpinnya menjadi congkak, sunnatullah terjadi; mereka mengalami kehancuran yang benar-benar tidak terbayangkan sebelumnya. QS Al-Fath 48; 23 menyatakan: سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلا  - “Ketetapan Allah sudah berlaku sejak dahulu dan tidak akan kamu jumpai perubahan dalam ketetapan Allah itu sedikitpun.” 
Agar kaum Muslimin tidak mengulang kesalahan orang-orang di masa lalu, Allah Swt segera memberi peringatan yang sangat penting. Orang yang beriman, baik yang turut serta pada fathu Makkah maupun yang tidak, jangan sekali-kali menjadi sombong karena kemenangan itu. Hendaklah mereka ingat bahwa kemenangan gilang gemilang tersebut mereka dapatkan karena Allah berkenan menolong. Sesungguhnya betapapun rinci orang membuat rencana, betapapun cermat orang menyusun siasat, akan tetapi banyak sekali faktor yang tidak dia ketahui, atau yang dia ketahui tetapi tidak dia kuasai. Pasukan Hitler yang menyerbu Rusia ternyata kalah bukan oleh musuh akan tetapi oleh cuaca yang sangat dingin. Sekelompok pasukan Amerika yang mencoba menyerang Iran ternyata hancur di tengah jalan karena trouble di peralatannya sendiri. Rencana dan siasat manusia, sejak zaman kuno sampai masa modern pada hakekatnya sama saja, bergantung sepenuhnya kepada rencana Allah. وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ   - “Dan mereka membuat siasat dan Allah membuat siasat pula, dan Allah adalah sebaik-baik Pembuat siasat.”
Apa sebenarnya makna pembebasan Makkah? Bukan kejayaan pribadi Muhammad, bukan pula pengakuan atas kehebatan orang-orang Madinah. Fathu Makkah adalah kunci utama bagi dakwah Islam. Ayat dua surah An-Nashr menyatakan tentang hal ini: وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا - “Dan engkau melihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong.” Ketika Makkah dibebaskan dari syirik dan kezaliman, orang secara berbondong-bondong masuk agama Allah. Mereka adalah orang-orang yang selama bertahun-tahun dihimpit oleh rasa takut, ketika hendak mengikuti dan menyuarakan kebenaran. Mereka telah mendengar ajaran agama yang disampaikan oleh Muhammad Saw, dan hatinya sudah dapat menerima. Tetapi mereka juga menyaksikan siksaan yang dialami oleh orang-orang yang menyatakan diri beriman. Ada di antara mereka yang terus menerus diejek dan dicemooh di mana saja berada, ada yang dikucilkan dan diboikot, tidak boleh berdagang dengan kafilah Qureisy bahkan tidak boleh berjual beli dengan orang-orang Qureisy lainnya. Malahan ada yang disiksa secara tidak manusiawi seperti Bilal bin Rabah, dan dibunuh dengan terang-terangan seperti suami isteri Yasir dan Sumayah. Maka banyak penduduk Makkah dan sekitarnya yang baru beriman dalam hati karena merasa belum sanggup menanggung resiko seperti para pengikut Rasulullah. Baru ketika fathu Makkah telah terjadi dan kaum kafirin telah kehilangan kekuasaannya, orang-orang itu berani muncul dan mengaku Muslim.
Apa yang harus dilakukan Rasul dan kaum mukminin ketika memperoleh kemenangan gilang gemilang demikian? Ayat 3 surah An-Nashr menurunkan petunjuk sebagai berikut: فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا “Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesunguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” Ayat ini pertama-tama menyuruh Rasululullah dan kaum mukminin agar ketika memperoleh sukses segera bertasbih. Kalimat tasbih yang paling umum adalah Subhanalloh yang artinya "Maha Suci Allah". Suci dari apa? Dari segala kesalahan, kekurangan, dan kelemahan. Allah tidak mungkin lemah atau salah dalam mencipta dan mengatur alam semesta, termasuk manusia. Allah tidak akan mengalami  kesulitan dalam menganugerahkan rizki kepada setiap makhluk-Nya. Salah satu cara menyucikan Allah adalah memuji Dia atas segala pertolongan-Nya sehingga mencapai sukses. Pujian berarti pengakuan bahwa keberhasilan itu diperolehnya dari Allah, bukan semata-mata hasil usaha sendiri. Meski demikian, pujian tersebut sama sekali bukan untuk kepentingan Allah, karena Dia tidak memerlukan pujian. Yang berkepentingan untuk memuji Allah adalah justru manusia sendiri. Yang akan memperoleh keuntungan dengan memuji Allah adalah orang yang mengucapkannya. Mengapa? Karena ucapan itu akan membebaskannya dari penyakit sombong, penyakit yang sangat berbahaya karena orang yang sombong berarti lupa mengakui peranan Allah, kemudian mengingkari eksistensi Allah. Dengan kata lain kesombongan akan mengantar orang kepada kekufuran.
Akibat buruk lainnya dari kesombongan adalah kezhaliman terhadap sesama manusia. Mengapa? Karena orang yang sombong itu cenderung menganggap remeh orang lain. Maka kalau dia mendzalimi orang lain hal itu dianggap sebagai hal yang biasa saja. Pantaslah bila Allah melarang keras bersikap sombong, dengan menyatakan dalam suatu hadits Qudsi: "Kebesaran dan kesombongan adalah ibarat selendang-Ku. Maka barangsiapa memakainya akan Aku siksa dia." Ayat yang 3 surah Al-Nashr menyatakan, supaya tidak menjadi sombong, orang yang memperoleh setiap keberhasilan harus segera memuji Allah dan berterima kasih atas karunia Allah. Dengan demikian orang akan cepat menyadari bahwa perannya dalam keberhasilan hanyalah ikhtiar. Yang menentukan hasil adalah Allah Swt.
Ayat tadi kemudian memerintahkan Rasul agar istighfar -  memohon ampun. Mengapa? Karena dalam setiap usaha dan perjuangan, besar sekali kemungkinan orang melakukan kekeliruan. Mungkin dia memaki-maki, mungkin menggerutu, mungkin salah menampar, mungkin bersikap tidak adil, dan sebagainya. Ketika sukses sudah didapat, mungkin pula dia terlalu berbangga diri. Maka untuk menghapus dosa-dosa yang disebabkan oleh sikap dan perilaku tersebut, hendaknya orang segera istighfar, memohon ampun kepada Allah dengan sepenuh hati. إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا  - Sesungguhnya Allah itu Maha Penerima taubat, demikian dikemukakan pada ujung ayat 3 tadi. Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa seandainya saja Allah tidak berkenan mengampuni dosa, dan seandainya Allah tidak menyediakan prosedur untuk menghapuskan dosa, kita tidak bisa membayangkan bagaimana mungkin ada orang yang lolos dari neraka. Setiap hari, setiap jam, setiap menit orang melakukan kesalahan yang berakibat dosa. Semakin lama dia hidup di bumi, semakin banyak dosa yang menumpuk di bahunya? Maka bagaimana mungkin orang bisa mempertanggungjawabkan dosa-dosanya itu? Kita pantas bersyukur bahwa Allah berjanji akan menghapus dosa-dosa orang yang bertobat. Maka dengan janji Allah itu masa depan hidup manusia menjadi cerah, dan beban hidup terasa lebih ringan.
Meskipun surah An-Nashr ini secara lahiriah ditujukan kepada Rasul dan berkenaan dengan fathu Makkah, namun tentu saja yang dituju adalah semua orang. Pada suatu ketika setiap orang pasti mendapatkan kemenangan, sukses, kegembiraan, baik di bidang ekonomi maupun di bidang-bidang lain. Maka pesan Allah tetap berlaku: Segeralah bertasbih dengan memuji Allah, dan memohon ampunan. Jangan ditunggu setan datang mengguncang iman, usir mereka dengan tasbih, keluarkan mereka dari hati dengan hamdalah, dan jaga diri dengan sikap tawaddhu - rendah hati. Dengan demikian kita akan selamat di dunia, menuju kebahagiaan di akhirat kelak.
Sakib Machmud
 No. 211

1 komentar:

  1. Hancurnya pesawat Amerika sebelum menbom Iran adalah bukti Allah lebih hebat dari siasat manusia..

    BalasHapus