Sabtu, 25 Mei 2013

PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA


Karakter adalah ciri khas kepribadian yang dimiliki seseorang, dan berbeda satu sama lain. Karakter itu sifatnya tidak permanen, dapat berubah tergantung pada lingkungan tempat tinggal atau bergaul seseorang, dan seiring dengan berjalannya waktu. Jadi, karakter yang dimilki seseorang dapat terbentuk dan berubah oleh kedua faktor tersebut.
Secara umum dapat dikatakan bahwa bangsa Indonesia sekarang ini hampir tidak memiliki karakter baik. Sebaliknya karakter yang paling dominan adalah karakter materialisme dan egoisme, yang dimiliki hampir semua lapisan, profesi dan golongan di dalam masyarakat.
Maka untuk menciptakan karakter yang baik, seseorang harus berada di lingkungan yang mendukung terciptanya karakter tersebut, dan setidaknya menjalani kehidupan dengan sebagian besar waktu yang dimiliki setiap harinya di lingkungan baik tersebut. Untuk itu menyenggarakan pendidikan karakter yang berkualitas adalah keniscayaan. Pendidikan seyogyanya dilakukan sedini mungkin mulai usia 0 sampai usia 15 tahun (usia paling lambat mulainya).
Kondisi Pendidikan di Indonesia
Kondisi pendidikan di sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia sekarang masih belum mencerminkan cita-cita pendidikan yang diharapkan. Misalnya masih banyak siswa yang menyontek ketika sedang ujian, bersikap malas, tawuran antar sesama siswa, mahasiswa dan pemuda. Mereka juga ada yang terlibat narkoba, penyimpangan seksual, kekerasan, dan lainnya.
Kita tentu tidak menginginkan bangsa kita kelak menjadi manusia yang berkelakuan buruk seperti yang terjadi sekarang ini; melakukan pencurian, perampokan, pemerkosaan, penyekapan, perbudakan, pembunuhan dan mutilasi, penculikan, penyimpangan seksual, dan korupsi yang bukan hanya dilakukan oleh orang-orang dewasa, tetapi juga oleh anak-anak usia belasan tahun, dan bahkan ada bocah membunuh bocah, anak memutilasi ibu kandungnya dan kekejian lainnya..
Di samping itu, terjadinya anarkisme, tindak kekerasan dan pemaksaan kehendak di kalangan pelajar, mahasiswa dan warga pada umumnya merupakan cermin kegagalan pendidikan kita dalam membentuk pribadi manusia yang beriman dan bertakwa. Maka mutu karakter SDM Indonesia harus ditingkatkan sehingga mampu membentuk pribadi yang baik dan tangguh. Artinya, bangsa ini harus ’diformat ulang’ melalui pendidikan karakter oleh para pendidik yang kompeten.
Pendidikan Berawal di Lingkungan Keluarga
Pembahasan dalam tulisan ini akan mengacu pada peran pendidikan, terutama pada para pendidik, sebagai kunci keberhasilan implementasi pendidikan karakter. Pendidikan karakter tentu saja harus dimulai dari lingkungan keluarga, karena keluarga adalah madrasah al-uula - sekolah pertama dan utama - dalam mendidik anak dengan baik. Keluargalah yang akan melahirkan dzurriyatan dhi’afan - anak cucu yang lemah - atau dzurriyatan thayyibatan - anak cucu yang kuat / berkualitas. Maka, keluarga adalah tempat yang paling cocok untuk menumbuhka dan mengembangkan karakter, karena keluarga merupakan tempat pertama bagi seorang anak dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Karena itu orangtua harus bekerja keras untuk menyiapkan kehidupan yang layak ekonomi bagi anak-anaknya, bukan yang miskin. Sebagian dari perilaku menyimpang anak-anak dan remaja antara lain disebabkan karena faktor kemiskinan. Namun, tidak berarti bahwa warisan harta kekayaan saja cukup untuk menyelamatkan anak-anak dari perlaku buruk. Kecukupan ekonomi hanyalah untuk memenuhi kebutuhan dasar yang belum bisa menyelamatkan anak-anak dari keburukan. Ada yang lebih utama daripada warisan harta kekayaan yaitu warisan iman (aqidah), ilmu, akhlak, moral dan etika yang baik.
Menyinergikan Tiga Jenis Pendidikan
Seiring berjalannya waktu, seorang anak yang beranjak menjadi remaja, komunikasi akan bertambah, tidak hanya dengan anggota keluarga, tetapi juga dengan lingkungan yang lebih luas, sehingga untuk membentuk karakter yang baik di luar lingkungan keluarga, maka pendidikan di sekolah adalah tempat yang cocok.
Sekolah merupakan ujung tombak pembentukan karakter karena sekolah bersifat formal dan memiliki peraturan yang mengikat, ada guru yang bisa dijadikan teladan. Di sekolah selain diajarkan berbagai ilmu juga diajarkan tentang arti tanggungjawab, toleransi, tenggang rasa antar sesama, dan sebagainya..
Di banyak negara maju, pendidikan tidak hanya pada jalur pendidikan formal seperti sekolah atau perguruan tinggi, tetapi juga pendidikan non formal dan informal. 
  1. Pendidikan formal, adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang dari pendidikan dasar, menengah dan tinggi.
  2. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal seperti lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, majelis taklim, dan lainnya.
  3. Pendidikan belajar secara mandiri, yang lazim disebut pendidikan informal, untuk membedakannya dengan pendidikan non formal
Di Indonesia, ketiga jenis pendidikan tersebut selama ini cenderung berjalan terpisah satu sama lain, tidak saling mendukung membentuk kepribadian anak secara utuh, melainkan hanya secara parsial. Misalnya anak bersikap baik di rumah, namun ketika di luar rumah atau berada di sekolah ia melakukan tawuran antar pelajar, perampokan dan tertarik pada hubungan seks yang sesat. Kelakuan seperti ini merupakan bagian dari penyimpangan akhlak, moral dan etika. Karena itu diperlukan sinergi ketiga komponen lembaga pendidikan tersebut.
Dalam hal ini para pendidik (guru) dan orangtua perlu berkumpul bersama mencoba memahami gejala-gejala anak pada fase negatif anak-anak didik, misalnya keinginan menyendiri, kurang kemauan belajar, mengalami kejenuhan, kegelisahan, pertentangan sosial, kepekaan emosional, kurang percaya diri, mulai timbul minat pada lawan jenis, perasaan malu yang berlebihan, kesukaan berkhayal dan sebagainya.
Dengan mempelajari gejala-gejala negatif yang dimiliki anak remaja pada umumnya, orangtua dan pendidik akan dapat menyadari dan melakukan upaya perbaikan perlakuan sikap terhadap anak dalam proses pendidikan formal, non formal dan pendidikan di keluaga. Dengan demikian maka akan dapat ditemukan karakter anak dengan ciri kapasitas mental yang berbeda satu sama lain seperti, ketulusan, kejujuran dan keterpercayaan, keberanian, ketegasan, ketegaran, kekuatan dalam memegang prinsip, dan sifat-sifat unik lainnya yang melekat dalam dirinya.
Perlu kita sadari bahwa untuk membentuk SDM yang kuat dan berkarakter baik harus mencakup unsur-unsur: 1. Iman dan Takwa, 2. Moral dan Etika, 3. Kejujuran, 4. Tanggungjawab, 5. Kepatuhan Kepada Kesepakatan (Hukum / UU) 6. Kepedulian Sosial, 7. Kesungguhan dan Profesionalisme, 8. Pembinaan Generasi Penerus, 9. Kesederhanaan, dan 10. Disiplin.
Lebih lanjut tentang kesepuluh unsur tersebut silakan membaca tulisan 1 berjudul ‘Sepuluh Prinsip Membangun Masyarakat Islami (SPMMI)’ di lajur kanan media ini.
Kewajiban Para Pendidik
Peran pendidik dalam membentuk karakter SDM harus memiliki kepentingan untuk membentuk pribadi siswa. Untuk itu maka pendidik harus melakukan hal-hal berikut:
  1. Terlibat dalam proses pembelajaran, diskusi, dan mengambil inisiatif dalam upaya membangun pendidikan karakter.
  2. Bertanggungjawab untuk menjadi model yang memiliki nilai-nilai moral dan memanfaatkan kesempatan untuk mempengaruhi siswa. Artinya pendidik di lingkungan sekolah hendaklah mampu menjadi teladan yang hidup bagi setiap siswa, bukan mencabuli siswa (anak didik). Mereka juga harus terbuka dan siap untuk mendiskusikan dengan siswa tentang berbagai nilai-nilai yang baik. 
  3. Pendidik  yang terdiri dari guru dan orangtua siswa perlu memberikan pemahaman kepada para siswa bahwa kepribadian siswa tumbuh melalui partisipasi dan kerjasama para siswa dalam mengambil keputusan.
  4. Pendidik perlu melakukan refleksi atas masalah alhlak, moral dan etika berupa pertanyaan rutin untuk memastikan apakah para siswanya mengalami perkembangan karakter.
Dengan demikian pendidikan yang bermula dari keluarga akhirnya kembali ke keluarga juga. Kita telah memahami bahwa peran keluarga sangat besar dalam membangun karakter anak bangsa.
Di sini para ibu memiliki peran penting dalam mendidik anak-anaknya, karena para ayah lebih banyak waktunya digunakan untuk bekerja mencari nafkah, bukan sebaliknya. Penulis tidak setuju jika para ibu meninggalkan keluarganya untuk mencari nafkah termasuk menjadi pembantu rumah tangga (PRT) di luar negeri. Apapun alasannya, pengiriman PRT itu lebih banyak memberikan keuntungan perusahaan pengirimnya. Oleh karena itu, perlu dikaji ulang manfaat pengiriman PRT yang cenderung mendekati perdagangan manusia yang dilarang agama.
Kesimpulan
Dalam membangun kualitas SDM, kita belum menunjukkan komitmen jelas. Karena itu sangat penting diterapkannya pendidikan karakter anak bangsa bukan semata-mata untuk membangun manusia yang cerdas (kecerdasan intelektual), melainkan juga untuk memperbaiki akhlak, moral, etika, (kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional).
Maka Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama adalah pihak yang paling bertanggungjawab atas kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Dengan demikian pendidikan dari waktu ke waktu haruslah dikelola oleh orang-orang terbaik di masyarakat, di mana kedua kementerian tersebut harus menjadi yang terdepan dalam kualitas pelayanan dan teladan baik dalam akhlak, moral dan etika, agar jangan sampai menjadi ‘sarang koruptor’ yang kini menjadi tolok ukur baik buruknya akhlak, moral dan etika bangsa.
Dengan demikian diharapkan masyarakat akan percaya bahwa dunia pendidikan masih punya harapan untuk menghasilkan SDM yang berkualitas dan memiliki ilmu yang meliputi kesadaran pentingnya Iman dan Takwa (Imtak) yang tinggi, dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang memadai untuk mengelola kehidupan bermasyarakat yang Islami. Dan untuk membangun masyarakat Islami, maka menyosialisasikan SPMMI adalah keniscayaan.
Islam adalah agama mengajarkan keseimbangan antara keshalehan religositas dan keshalehan sosial. Seseorang yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt akan memiliki akhlak mulia, menjunjung tinggi moral dan etika, berlaku jujur dalam meraih sukses di dunia untuk akhirat kelak, bertanggungjawab atas apa yang dikerjakannya baik kepada Allah maupun kepada sesamannya, mematuhi kesepakatan bersama baik dalam mematuhi hukum, dan undang-undang dan aturan lainnya, memiliki kepedulian sosial kepada sesamanya, bekerja dengan kesungguhan dan profesional dalam melakukan pekerjaan apapun, meninggalkan generasi penerus yang cerdas, hidup sederhana dan berhemat, dan menegakkan disiplin.
Semua itu adalah tanggungjawab kita generasi sekarang selaku pendidik bagi generasi mendatang sebagaimana firman Allah Swt: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah (bodoh), yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS An-Nisaa’ 4: 9).
Hermanto Harsolumakso
No. 186

Rabu, 15 Mei 2013

MENELADANI KEPEMIMPINAN RASULULLAH DAN SAHABATNYA


Rasulullah Saw bersabda: “Setiap orang adalah pemimpin. Imam (pemimpin apa saja dalam tingkatan apapun), suami, isteri, dan pembantu rumah tanggapun merupakan pemimpin yang akan diminta pertanggungjawabannya. (HR Al-Bukhari). Beliau mengingatkan akan pertanggungjawaban atas segala amanah yang Allah titipkan. Amanah berkaitan dengan kepemimpinan, dan kepemimpinan tidak lepas dari tanggungjawab manusia, apapun kedudukannya.
Kepemimpinan seseorang ditunjukkan dalam setiap sikap, perilaku dan keputusan yang diambil dalam setiap situasi, mulai dari yang sederhana menyangkut kehidupan sehari-hari, sampai masalah yang besar dan menyangkut kepentingan masyarakat banyak ataupun permasalahan kenegaraan.  
Kematangan dalam kepemimpinan dilandasi hal-hal yang pokok meliputi; memahami lingkungan yang dipimpinnya, mengerti arah dan tujuan, memiliki konsep untuk mencapai tujuan, mengetahui permasalahan yang dihadapi dan mampu melihat kemungkinan masalah yang timbul, memiliki rencana dan strategi pemecahan masalah-masalah, tegas mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas segala risiko yang menyertainya.
Kisah-Kisah Teladan Rasulullah Saw
Allah Swt berfirman: ▪ “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzaab 33: 21) ▪ “Barang siapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatannya itu), maka Kami tidak mengutus Rasul untuk menjadi penjaga mereka.” (QS An-Nisaa’ 4: 80)
Pada suatu ketika Rasulullah dalam perjalanan bersama-sama sahabatnya. Setelah tiba waktu makan para sahabat bermaksud hendak menyembelih kambing. Yang seorang berkata: “Biarlah aku yang menyembelih” Yang seorang lagi berkata: “Akulah yang mengupas kulitnya.” Yang lain berkata: “Akulah yang memasak.” Tiba-tiba Rasulullah berkata: “Biarlah aku yang mencari kayu bakarnya.” Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, biarkan kami yang bekerja, tenaga kami cukup untuk ini.” Rasulullah berkata: “Aku tidak suka jika aku diistimewakan melebihi kalian semua. Sesungguhnya Allah Swt benci melihat hambaNya diberi keistimewaan tersendiri melebihi kawan-kawannya yang lain.”
Kisah yang lain terjadi dalam Perang di Dhat Ur Riqa pada tahun 4 H / 626 M. Pada waktu itu Nabi Saw mendengar berita bahwa Banu Muharib dan Banu Tha’laba dari kaum Najd sedang mempersiapkan pasukannya untuk menyerang Madinah. Beliau kemudian berunding dengan para sahabat dan memutuskan untuk menghadapi musuh di tengah jalan. Oleh karena berita yang mendadak dan terburu-buru, pasukan muslim hanya mendapatkan jumlah unta yang sedikit, sehingga seekor unta ditunggangi  oleh 6 orang secara bergantian. Pasukan Islam berjalan dengan tertatih-tatih karena kakinya penuh luka terantuk batu-batuan tajam di tanah Hamida (tanah gersang yang tidak bisa ditanami).  Agar kakinya tidak terlalu sakit kemudian dibalut dengan riqa yaitu kain dari sobekan pakaian. Oleh karena itu terkenal dengan perang Dhat ur Riqa, sebab kaki para prajurit dibalut dengan sobekan kain dari pakaian .
Setelah mereka menginap di Nahl, pasukan Islam melihat rombongan musuh. Begitu berhadapan mereka tidak berani saling menyerang lebih dahulu. Pasukan Islam tidak berani karena jumlahnya lebih sedikit dibandingkan musuh, sedangkan musuh tidak berani karena terpengaruh oleh kemenangan pasukan Islam di Badr dan di Uhud meskipun dengan prajurit sedikit. Ketika itu, pada saat musuh masih berpikir, Rasulullah memerintahkan Shalat-ul-Khauf yaitu shalat ketika menghadapi bahaya. Pasukan Islam dibagi menjadi dua kelompok, yang satu shalat dan yang lain mengawasi musuh.
Musuh melihat hal demikian menjadi kagum dan heran, bagaimana bisa prajurit yang sedang menghadapi musuh melaksanakan shalat seakan-akan musuh diabaikan dan dianggap tidak sedang dalam keadaan bahaya. Sementara pasukan Mekah terbengong-bengong melihat apa yang dilakukan pasukan muslim demikian tidak berani menyerang dan bahkan mereka mulai mundur sebagian-sebagian. Akibat dari itu pasukan Islam merasa mereka sangat ditakuti musuh.
Ketika matahari bersinar dengan teriknya, pasukan Islam membubarkan diri untuk mencari tempat berteduh dan beristirahat sambil tidur-tiduran, tidak ada sorangpun yang ingat untuk waspada dan berjaga-jaga. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh seorang Badewi  dari suku Bani Mustaliq yang mengetahui bahwa pasukan Muslim sedang beristirahat, kemudian dia dengan mengendap-endap menghampiri tempat Rasulullah Saw hingga dekat sekali, tanpa disadari oleh Rasulullah. Kemudian dengan sigap ia mengarahkan pedangnya ke kapala Rasulullah seraya berkata: “Muhammad! Keluarkan pedangmu! Tidak takutkah akan pedangku ini?”. “Tidak, apa perlunya aku takut kepadamu?” jawab Rasulullah. “Kamu tidak takut pada pedang yang sudah terkenal ini?”. “Tidak, karena Allah melindungi kami!” kata Rasulullah. Hatinya sabar serta yakin  dan mata beliau menyorot tajam ke arah orang Badewi itu.
Orang Badewi itu berdiri terpaku ketika dipandang oleh Rasulullah seperti itu, hatinya kecut dan jantungnya berdebar keras, keringatnya bercucuran membasahi pipinya.  Tangannya memegang kuat pedangnya, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Tiba-tiba pedangnya jatuh tepat di hadapan Rasulullah yang kemudian dengan secepat kilat pedang itu diambil oleh Rasulullah seraya berkata dengan tegas: “Sekarang apa yang akan kamu lakukan?”. “Aku menyerah, dan terserah kepada tuan apa yang akan lakukan.” kata Badewi dengan pasrah dan putus asa.
Oleh Rasulullah pedang itu dikembalikan kepadanya dan memerintahkan untuk segera meninggalkan tempat itu tanpa diminta untuk masuk Islam. Maksudnya agar teman-temannya mengerti dan mengetahui akan  keagungan agama Islam dan mudah-mudahan kereka tertarik masuk Islam.
Orang Badewi yang sangat ditunggu-tunggu oleh kawan-kawannya, dia sudah berjanji bahwa pulangnya akan membawa kepala Muhammad, tetapi ketika dia datang malah berkata: “Baru saja aku bertemu dengan raja dari rajanya manusia!” Dia hanya berkata demikian dan kembai lagi ke tempat pasukan Islam dan menyatakan masuk Islam.
Khalifah Umar bin Khattab
Pada waktu Umar bi Khattab menjadi Khalifah, kota Bashrah dipimpin oleh Gubernurnya yang bernama Abu Musa Al Asyari. Pada suatu ketika, ada seorang prajuritnya dari suku Badui meminta harta rampasan perang yang menjadi haknya yaitu harta semua lawan-lawan yang berhasil dibunuhya. Meskipun pada waktu itu peraturannya demikian, namun Abu Musa dengan pertimbangannya memutuskan untuk memberikan sebagian saja. Ternyata prajurit ini tidak mau menerima putusan itu.  Dengan marah dan bernada kasar dia menolak putusan Gubernurnya itu. Tanpa mengenal takut akan hukuman yang mungkin menimpa, dia tetap menuntut semua harta yang diperoleh. Di pihak lain,  Abu Musa sebagai Gubernur tidak mau kehilangan  wibawa di hadapan bawahan dan rakyatnya. Karena masing-masing tetap mempertahankan pendapat dan kepentingannya, maka suasana menjadi semakin panas. Abu Musa yang merasa telah memutuskan dengan pertimbangan yang benar, berkeinginan dalam hatinya untuk memperlihatkan kewibawaannya. Abu Musa juga merasa tersinggung karena menurutnya adalah sangat tidak pantas bila seseorang hanya sebagai prajurit bawahan menentang keputusannya. Akhirnya sebagai penguasa, dia menjatuhkan hukuman bagi prajurit tersebut, yaitu dengan hukuman cambuk 20 kali dan rambutnya dicukur gundul. Hukuman pun dilaksanakan. Betapa marahnya si penuntut tadi menerima hukuman ini. Ia heran kenapa Abu Musa berbuat demikian, karena menurutnya Islam adalah agama kemerdekaan, tidak menghendaki kehinaan, dan kezhaliman. Islam adalah agama yang menjunjung keadilan dan menghormati hak orang lain. Hukuman cambuk 20 kali dan cukur gundul diperolehnya hanya karena dia menuntut apa yang menjadi haknya. Menurutnya ini adalah suatu keterlaluan.
Dengan hati pedih dan malu yang amat sangat karena harga diri dan kehormatannya telah diinjak-injak di muka orang banyak, dikumpulkannya seluruh potongan-potongan rambutnya yang berserakan itu. Lalu iapun berangkat ke Madinah akan mengadukan hal ini kepada atasannya Abu Musa yaitu Khalifah Umar bin Khattab.
Di hadapan Khalifah Umar, dengan sangat emosional dilemparkannya potongan-potongan rambutnya sambil melaporkan kejadian yang dialaminya itu. Amirulmukminin Umar sangat heran sekaligus terkejut mendengar dan mengetahui kelakuan Abu Musa. Beliau segera menangani masalah ini, karena hal ini menyangkut citra pemimpin-pemimpin Islam. Tetapi Umar tidak begitu saja mengambil tindakan Atas Abu Musa. Sebagai penguasa, seseorang yang harus menegakkan kebenaran, beliau tidak dapat menetapkan sesuatu begitu saja. Beliau juga harus mendengar dari Abu Musa. Beliau tidak mau bertindak gegabah, dengan langsung menjatuhkan hukuman kepada Abu Musa. Khalifah Umar mengirim surat kepada Abu  Musa, surat yang beliau kirimkan berbunyi: “Assalamu ‘alaikum. Salam sejahtera buat anda. Salah satu penduduk kota anda telah datang menghadap saya di Madinah. Dia telah menceriterakan semua persoalan yang menimpanya. Jika anda bertindak terhadapnya di muka umum, siapkan diri anda untuk menerima pembalasan, sebagaimana yang anda lakukan terhadapnya. Jika secara tertutup hal itu anda lakukan, siapkan diri anda pula untuk melakukan hal yang demikian darinya. Wassalam.”
Abu Musa menerima surat itu. Betapa kecil dirinya, yang baru disadari setelah membaca surat itu. Ternyata jabatan dan kedudukannya tidak memberikan manfaat dan perlindungan baginya, kecuali kebenaran semata-mata. “Terima kasih Umar. Anda telah menyadarkanku akan kekhilafan selama ini. Engkau telah menempatkan hak dan kebenaran di atas segala-galanya. Jabatan dan berbagai embel-embel lain kehormatan akan musnah. Tetapi kebenaran dan hak tetap abadi, kekal selamanya.” Kata  Abu Musa kepada dirinya  sendiri sesaat setelah membaca dan merenung isi surat itu. Hati Abu Musa bimbang juga, apakah dia selaku pemimpin dan salah satu sahabat Rasulullah harus menjalani hukuman yang setimpal, 20 kali cambuk dan cukur gundul? Tetapi kebenaran bagaimanapun harus ditegakkan  Jika dia menolak berarti dia menegakkan kezaliman dan kesalahan, satu hal yang dijauhi dalam Islam. “Yah, aku harus menjalankan hal itu. Bagaimanapun rasanya.” Itu kata hatinya.
Waktu pembalasan pun akhirnya tiba. Masyarakat berkumpul menyaksikan Gubernurnya akan dihukum cambuk 20 kali dan dicukur gundul oleh seorang prajuritnya sendiri. Meskipun beberapa tokoh masyarakat telah membujuk agar orang itu memaafkan Abu Musa, dengan mengingatkan bahwa Abu Musa sahabat Rasulullah dan banyak jasanya, namun orang itu tetap menolak. Abu Musa sendiri tidak ingin menghindar dari hukuman yang akan ditimpakan kepadanya. Dia duduk dengan pasrah menanti pelaksanaan hukumannya.
Dengan tegak orang Badui itu mendatangi Abu Musa, siap untuk melaksanakan hukumannya. Dipandangnya Abu  Musa dengan berbagai perasaan. Terngiang di telinganya akan “Barang siapa yang menganiayamu, aniayailah sebagaimana yang dilakukan terhadapmu.” Tetapi sebelum melakukan keinginannya itu, nuraninya berbisik: “Sebenarnya dia bermaksud baik. Dengan kebesaran kedudukannya, serta ilmunya, dia berusaha melakukannya demi kepentingan ummat. Meskipun tak seharusnya dia menghukum aku hanya karena tuntutanku. Tapi ..... Apakah tak sebaiknya kumaafkan saja dia?”
Orang itu ragu-ragu bertindak, karena masih didengarnya hati kecilnya berdialog mempertanyakan kebenaran tindakan yang akan dilakukannya. “Yah ... memang sekarang tidak ada lagi yang akan menghalangiku. Aku bebas membalaskan sakit hatiku padanya. Memang tak pantas aku memaafkannya. Tapi bagaimana jika karena Allah hal itu kulakukan?” Itulah bisikan yang menahan langkahnya.
Orang Badui itu berhenti sejenak. Ditundukkannya kepala untuk berpikir lebih lanjut. Akhirnya dengan tersenyum diangkatnya muka memandang ke atas. Hatinya tenang karena telah mendapatkan kepastian. Dia akan memberi maaf kepada Abu Musa, meskipun telah menginjak harga diri dan kehormatannya. Dengan tersenyum dia berkata: “Ya Allah, aku memberi maaf kepadanya ...” Kepalanya tertunduk, napasnya lega. Tak lama kemudian terdengar suara takbir menyambut putusannya itu. Sedang Abu Musa menangis mendengarnya. Tangis yang mencerminkan keharuannya. Tangis ungkapan rasa terima kasihnya atas seseorang yang telah dianiayanya. Tangis yang muncul dari kebersihan dan ketulusan hati Abu Musa.         
Khalifah Ali bin Abi Thalib
Kisah yang lain terjadi semasa Khalifah Ali bin Abi Thalib. Sebagaimana Rasulullah pernah mengatakan bahwa hukum belaku untuk semua orang, bahkan jika puterinya sendiri (Fatima) kedapatan mencuri niscaya beliau akan memotong tangannya. Kekayaan, kedudukan, ataupun kekeluargaan tidak dapat digunakan untuk tempat bersembunyi atau untuk menyembunyikan hak.
Pada suatu peristiwa, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Ra menemukan kembali baju besinya yang hilang di tangan seorang Yahudi.  Namun orang Yahudi itu bersikeras bahwa baju besi itu adalah miliknya dan tidak mau mengembalikannya kepada Amirul mukminin. Akhirnya kasus ini dibawa ke pengadilan. Hakim bertanya kepada sayidina Ali, “Wahai Amirulmukminin, apa yang Tuan kehendaki?” Sayidina Ali yang waktu itu sebagai Amirulmukminin (kepala negara)   menjawab: “Baju besiku jatuh dari untaku, kemudian diambil oleh orang Yahudi ini.” Jawaban sayidina Ali ini langsung disambar si Yahudi: “Tidak benar. Ini adalah baju besiku!” Melihat keadaan ini lalu Hakim bertanya kepada sayidina Ali: “Apakah Tuan memiliki sedikitnya 2 orang saksi yang melihat kejadian itu?” Maka Amrulmukminin mengajukan 2 orang saksi, yaitu pembantunya yang bernama Qanbar dan puteranya sendiri yaitu Hasan.
Hakim menerima kesaksian Qanbar, tetapi tidak mau menerima kesaksian Hasan. “Kesaksian Qanbar kami benarkan, tetapi kesaksian Hasan tidak dapat kami terima karena ia adalah putera Tuan!”  Mendengar keputusan Hakim ini lalu sayidina Ali berkata: “Tidakkah tuan dengar bahwa Umar pernah berkata bahwa Rasulullah telah bersabda bahwa Hasan dan Husain adalah pemimpin di surga?” Dengan takzim Hakim berkata: ‘Yang Tuan katakan itu memang benar Tetapi hukum tidak memandang hal itu.” Akhirnya Hakim memutuskan, bahwa baju besi itu adalah kepunyaan orang Yahudi.
Mendengar putusan bawahannya ini, Amirulmukminin tidak marah. Dengan tersenyum beliau berkata, “Sungguh benar engkau Hakim, saya tidak mempunyai pembuktian lain. Saya terima putusan ini.” Orang Yahudi itu melihat semua ini dengan perasaan takjub! Bagaimana mungkin seorang penguasa negara tunduk pada putusan bawahannya!  Maka akhirnya iapun mengaku, “Sesungguhnya baju besi ini benar-benar kepunyaan Amirulmukminin, aku telah memungutnya waktu terjatuh dari unta tatkala Amirulmukmini hendak pergi ke Siffin .... “ Selanjutnya orang Yahudi itupun mengucapkan: “Asyhadu allaa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah.”
Mendengar hal ini lalu Amirulmukminin dengan spontan berkata: “Kalau begitu baju besi ini kuhadiahkan kepadamu.”      
Kesimpulan
Kematangan pemimpin dicerminkan dalam sikap dan perilaku dalam menjaga amanah, antara lain; tidak ingin diistimewakan, berhati teguh, taat pada hukum biarpun menyangkut diri dan keluarganya, mendengar keluhan rakyatnya, serta mengutamakan kebenaran dan hak di atas pangkat dan jabatan, 
Mohammad Kamal
No. 185

Minggu, 05 Mei 2013

METODE DAKWAH DA’I FETULLAH GULEN YANG EFEKTIF



Banyak fakta bahwa dakwah Islam kurang tepat sasaran. Artinya, masyarakat Islami belum bisa diwujudkan oleh gerakan dakwah yang dilakukan selama ini. Betapun rendah kualitas seorang da’i, kebanyakan mad’u - penerima dakwah - tetap mengharapkan da’i menjadi tokoh perubahan dan sekaligus pemimpin. Da’i menupakan unsur yang dominan dalam kegiatan dakwah, bahkan lebih dari itu, da’i merupakan pemegang kunci yang penting terhadap sukses atau tidaknya pelaksanaan dakwah. Gerakan dakwah Islam, selain ditujuksn untuk meningkatkan iman dan takwa di kalangan mad’u, juga harus dapat mengubah segala bentuk kehidupan jahiliyah di abad modern ini dalam hal system sosial, ekonomi, hukum dan lainnya menyangkut ibadah mu’amalah.
Melihat persoalan ummat yang semakin kompleks, maka sangat dirasakan betapa pentingnya menggali kembali system dakwah yang lebih baik. Ketika arus perubahan sosial berjalan tanpa keseimbangan antara aspek material dan aspek spiritual, terasa bahwa kualitas dakwah Islam semakin menurun, yang akibatnya dakwah Islam yang seharusnya menjadi penyangga tata kehidupan Islam menjadi kabur eksistensinya.
Allah Swt dalam QS Ali ‘Imran 4: 110, menegaskan: “Kamu adalah ummat yang terbaik, yang dilahirkan bagi manusia. Kamu menyuruh melakukan yang benar dan melarang yang mungkar, dan kamu beriman kepada Allah.” Yang dimaksud di dalam ayat tersebut juga termasuk para para da’i. yang berkewajiban menjadikan ummat Islam sebagai yang terbaik di antara manusia. Para da’i hendaknya mengevaluasi metode dakwah yang selama ini dinilai kurang mencapai sasaran.
Untuk itu para da’i hendaknya mencari metoda dakwah yang digunakan, dengan pemahaman mendalam terhadap kata ‘hikmah’ di dalam QS An-Nahl 16: 125, sebagai pedoman pelaksanaan dakwah yang dikehendaki oleh Allah: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. Petunjuk ini masih sangat umum, dan perlu dijabarkan dana disesuaikan dengan keadaan mad’u. Dalam konteks itulah maka hubungan yang serasi antara da’i dan mad’u sangat mutlak diperlukan demi terwujudnya tujuan dakwah yang diharapkan.
Efektifitas Metode
Dalam kenyataan di lapangan, dakwah banyak diwarnai oleh dakwah bil-lisan berupa ceramah dan sejenisnya, di mana hubungan da’i dengan mad’u hanyal bersifat formalitas, dan tujuan utama dakwah yang menjadi tujuan menjadi kabur, kurang sistematis, dan keberhasilan dakwah hanya diukur dengan banyaknya pengunjung dan gelak tawa mereka, sementara itu da’i pun berubah menjadi selebrita, bahkan ada yang menjadi pengiklan komersial.
Maka kita perlu meninjau kembali efektifitas metoda tersebut untuk diterapkan dalam kondisi dakwah, agar ajaran Islam dapat dipahami, dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari oleh mad’u. Efektif berarti adanya efek, akibat atau pengaruh dan kesannya, yaitu terjadinya suatu efek atau akibat yang dikehendaki dalam suatu perbuatan. Agar metode dakwah bisa effektif paling sedikit harus memenuhi lima unsur pokok.
  1. Metode dakwah harus dibawakan dengan cara yang menarik, baik bil-lisan - secara lisan maupun bil-hal - dengan perbuatan, yang dapat mendorong mad’u untuk segera ingin tahu.
  2. Dakwah harus dapat dipahami dengan mudah oleh mad’u yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat.
  3. Materi dakwah yang disampaikan disesuaikan dengan keadaan lingkungan mad’u. Terhadap sesuatu yang diinginkan, seseorang biasanya akan berusaha sekuat perhatian untuk merealisasikan apa yang diinginkannya
  4. Memberikan kesan-kesan yang baik dan mendalam di hati sanubari para mad’u.
  5. Materi dakwah yang dapat dilaksanakan oleh mad’u. sehingga efektivitas metode dakwah menjadi tumpuan keberhasilan tujuan dakwah.
Hakikat metode dakwah adalah suatu pelayanan, suatu sarana untuk mencapai tujuan. Para da’i harus bertekad untuk menemukan metode dan mau belajar dari dakwah yang sukses dengan menemukan resep yang ampuh untuk melaksanakan dakwah dengan baik dan berhasil mencapai sasaran.
Dakwah Fetullah Gulen Melalui Gerakan Sosial
Ahmad Ganis, Ketua Harian Dewan Pembina Yayasan Paramadina, yang juga pembaca setia Al-Mustaqiim, sekembalinya dari kunjungannya dari Turki dua tahun yang lalu bersama beberapa cendekia Muslim Indonesia lainnya, menceritakan tentang keberhasilan metode dakwah da’i Fetullah Gulen melalui gerakan sosialnya. (Al-Mustaqiim lajur kanan No. 5). Keberhasilan da’i Gulen ini telah mendorong penulis untuk menguraikan lebih lanjut tentang metode dakwah yang dilakukannya, dengan merangkumkan berbagai tulisan dan informasi lainnya yang banyak beredar di internet.   
Fetullah Gulen dilahirkan di Korucuk, dekat Erzurum, Turki Timur pada ahun 1938. Selain mengikuti pendidikan formal, Gulen mendapat pendidikan Al-Qur’an terutama dari ayahnya. Ia belajar ilmu agama, khususnya ilmu tasawuf. Pada usia 25 tahun, Gulen diangkat sebagai guru agama, di Izmir, kota ketiga terbesar di Turki. Selama lima tahun menjalankan tugasnya itu, ia memperkenalkan pendidikan dan pelayanan sebagai strategi utama untuk mengembangkan Islam di zaman modern ini. Gulen bersama sejumlah kolega dan muridnya membahas gerakan baru untuk menampung ide dan gagasannya. Ia juga melakukan sejumlah diskusi di berbagai provinsi di Turki.
Pada tahap awal aktivitas dakwahnya, Gulen memanfaatkan liburan musim panas dengan mengadakan pesantren kilat. Sebagai da’i, ia sangat khawatir anak-anak muda terjebak pada gagasan ateisme di satu sisi, dan radikalisme di sisi lain. Ia mengharapkan anak muda dapat menerima ajaran dasar Islam dan sekaligus taat hukum. Selain itu, ia mulai mengembangkan cemaat - dijelaskan di bagian belakang - dengan membangun komunitas-komunitas di beberapa tempat. Pengikut Gulen semakin hari semakin banyak. Mereka bukan saja menjadi pendengar, melainkan juga penyumbang dana operasional gerakan. Mengapa Gulen mendapat begitu banyak dukungan? Paling tidak, empat pemikiran yang memperkuat daya tarik bagi pengikutnya.
Pertama, sebagian orang menganggap Gulen membentuk tarekat sufi sendiri. Dalam beberapa kesempatan, Gulen menyatakan bahwa sufisme adalah hubungan spiritual antara makhluk dan Tuhannya yang hanya bisa dirasakan secara individual. Berguru itu wajib, tetapi bagaimana spiritualitas dirasakan dan dialami seseorang, bukanlah  tanggungjawab guru.
Kedua, sebagai sufi, Gulen memandang bahwa prinsip dasar Islam berlaku universal. Menurut Gulen, Al-Qur’an bisa menjadi petunjuk bagi siapa saja yang ingin melakukan perjalananan internasional. Bertemu dengan jenis budaya manapun, prinsip dasar dalam Al-Qur’an bisa menjadi acuan. Namun demikian, Gulen adalah tokoh Muslim yang tidak setuju dengan penerapan hukum Islam sebagai totalitas ajaran. Menurut Gulen, totalitas ajaran Islam bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri yang selalu terbuka untuk ditafsir sesuai dengan ruang dan waktu. Sifat yang bisa menembus ruang dan waktu itu merupakan alasan mengapa Islam bisa dan harus menjadi rahmatan lil alamiin.
Ketiga, ajaran dasar gerakan Gulen adalah cinta. Kata Gulen, tidak ada senjata yang lebih kuat daripada senjata cinta. Atas dasar cinta, ia menganjurkan ummat Islam untuk bersikap toleran, terbuka, dan mengupayakan perdamaian. Gulen terbuka untuk menjadi sahabat dari ajaran dan agama apapun. Gagasan inilah yang di kemudian hari memudahkan gerakan Gulen membentuk forum lintas iman internasional.
Keempat, Gulen menekankan aspek layanan (hizmet) dari setiap kegiatannya. Pertama kali ia dapat membangun sekolah di Izmir dan Istanbul, ia menamakan gerakannya sebagai layanan pendidikan (hizmet school). Begitu pula ketika ia bersama koleganya mendirikan media massa, ia menyebutnya layanan informasi. Hampir semua aktivitas hingga ke manca negara juga merupakan bentuk layanan untuk ummat.
Gerakan ini berdiri ketika anak-anak muda tidak mendapat cukup pendidikan agama. Para pendiri khawatir bahwa nilai-nilai Islam yang seharusnya menjadi landasan manusia beradab dan toleran, tidak tertanam dalam diri ummat Islam Turki. Gerakan ini merupakan sekumpulan individu yang sudah melampaui batas-batas keluarga dengan kepentingan kolektif terkait dengan kebijakan publik dan kekuasaan. Gulen tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai gerakan politik, meskipun ada anggota gerakan ini yang menjadi angota partai politik tertentu di Turki, melainkan berdakwah melalui jalur gerakan sosial.
Seperti disebutkan di atas, Gulen mengemukakan jantung seluruh gerakannya adalah aspek pelayanan. Apapun yang dikerjakan oleh gerakannya harus dilakukan dalam rangka melayani kepentingan ummat; meningkatkan pendidikan, memberi pelayanan kesehatan, memperbanyak akses pengetahuan dan sebagainya, adalah pelayanan untuk meningkatkan kualitas ummat. Bila kualitas ummat baik, maka kekerasan bukan pilihan untuk mengibarkan panji dan membumikan nilai-nilai Islam.
Gerakan ini mendapat momentum terutama pada masa kebijakan liberalisasi di bawah pemerintahan Presiden Halil Turgut Ozal (1989-1993), setelah sebelumnya sekularisasi diterapkan Turki oleh Presiden Mustafa Kemal Ataturk (1923-1938) yang meminggirkan agama dan tradisinya. Mereka selain tidak ramah terhadap agama juga menutup rapat kemungkinan ajaran agama tampil di ruang publik, segala atributpun, seperti jilbab tidak mendapat tempat. Dalam perkembangannya sekularisasi juga menutup madrasah, sekolah sekolah tradisional di bidang agama bagi anak-anak. Kurikulum pendidikan agama juga dihapuskan dari kurikulum sekolah.
Gerakan Gulen berhasil membangun sekolah. Pada dua dekade berikutnya, puluhan sekolah yang mengasosiasikan diri dengan gerakan Gulen, bisa tumbuh dan berkembang. Sekolah-sekolah tersebut juga mereka kembangkan hingga ke Balkan, Uni Soviet, Afrika Selatan dan beberapa negara Barat.
Implikasi kebijakan liberalisasi tidak hanya memobilisasi ekonomi ummat Islam, tetapi juga kebijakan di bidang pendidikan agama mengalami perubahan. Pemerintahan Turgut Ozal mewajibkan seluruh warga negara Muslim untuk mengambil pelajaran agama untuk menangkal masuknya komunisme ke Turki. Anggota parlemen boleh ke masjid bila tiba waktunya untuk shalat. Pebdek kata Rezim Ozal membuka ruang kebebasan yang memungkinkan gerakan Gulen bereksplorasi membangun organsiasinya.
Gerakan Gulen memberi kesempatan kepada siapa saja terutama mereka yang berpendidikan tinggi dan memperoleh penghasilan baik, untuk menyumbangkan sebagian dari uangnya sebagai wujud dari pelayanan sosialnya. Dengan konsep pelayanan pula, siapapun dapat menyumbanglan pada gerakan ini baik tenaga maupun kemampuan lainnya.
Gulen kemudian mendorong gerakannya untuk mendirikan media massa yang bisa menyuarakan gagasan pendidikan dan pelayanan sebagai prinsip dasar gerakan. Liberalisasi rezim Ozal juga membuka peluang bagi terbitnya jurnal bulanan Sizinti, yang kemudian menjadi jurnal bulanan paling laku di Turki. Kemudian, gerakan ini juga berhasil merintis dan mendirikan surat kabar Zaman, yang kemudian menjadi harian terlaris, dicetak dalam 10 bahasa dunia dan berbagai bahasa lokal di Turki. Tidak hanya itu, belakangan, gerakan ini mendapat liputan di berbagai media internasional seperti Forbes, Oxford Analytica, New York Times, Le Monde, The International Herald Tribune, The Economist, dan lainnya Liputan-liputan tersebut bukan hanya karena keberhasilan Gulen dalam bidang pendidikan dan pelayanan, tetapi juga karena gerakan Gulen membangun lembaga internasional yang bergerak dalam bidang dialog antar agama dan kerukunan antar ummat beragama. Sebagai penggagas kerukunan, Gulen telah membawa jamaahnya yang lebih dari ratusan ribu orang untuk dapat bersikap terbuka kepada ummat dari agama dan keyakinan yang berbeda. Inilah wajah Islam damai dan toleran yang bisa menyaingi pamor Islam garis keras di mata dunia internasional.
Kunci Keberhasilan Gulen
Untuk menjelaskan keberhasilan Gerakan Gulen ini, Helen Rose Ebaugh, profesor sosiologi Universitas Houston, Amerika Serikat menggunakan dua perspektif.
Pertama, teori mobilisasi sumberdaya manusia (SDM). Dalam gerakan sosial, efektivitas, efisiensi dan capaian maksimal amat ditentukan oleh keberhasilan aktornya dalam mengelola SDM dan keuangan yang tersedia. Gerakan Gulen mampu mengelola SDM dan keuangan yang mereka miliki.
Kedua, teori komitmen organisasi. Keberhasilan sebuah gerakan juga ditentukan oleh loyalitas anggotanya terhadap komitmen gerakan. Tanpa loyalitas, gerakan Gulen akan ditinggalkan para pendukungnya. Loyalitas para pendukung dipupuk dengan cara terus menerus mengingatkan bahwa sistem dan kebijakan pemerintah masih bermasalah untuk kepentingan bersama, khususnya dari segi pelayanan untuk masyarakat luas. Kemudian, Gulen melalui media dan fasilitas yang dimilikinya, memperlihatkan bahwa gagasan yang ia tawarkan dengan mendirikan gerakan sosial dan memberikan pelayanan sosial bisa menyelesaikan masalah yang tidak bisa diatasi negara.
Melalui kedua perspektif ini, Ebaugh menelusuri dasar komitmen yang berkembangan dalam gerakan Gulen, yang dapat mempererat loyalitas anggotanya hingga rela berkorban demi gerakan ini. Ebaugh menemukan bahwa keberhasilan gerakan Gulen terletak pada komitmen yang dibangun dalam ikatan komunitas. Komunitas ini dalam tradisi Turki yang dinamakan cemaat. Cemaat dibentuk oleh komunitas Muslim yang ingin mempertahankan warisan Islam sekaligus mengadopsi modernitas. Komunitas ini biasanya terdiri dari pebisnis, guru, dokter dan orang-orang dari profesi lainnya. Mereka tertarik berkumpul untuk mempelajari tafsir Al-Qur’an dan ajaran agama lainnya, khususnya tafsir ala Gulen.
Seringkali komunitas pengikut Gulen ini terdiri dari orang-orang seprofesi atau tinggal di kompleks yang sama. Kondisi ini memudahkan mereka bertukar pikiran dan menggalang dana untuk kegiatan pelayanan (service projects) seperti membangun lembaga pendidikan, layanan kesehatan, dan layanan publik lainnya. Masing-masing komunitas diberi keleluasaan untuk menentukan sendiri jenis pelayanan yang mereka bangun.
Untuk memotivasi para pendukungnya, Gulen dalam ceramah dan tulisannya merujuk pada jenis filantropi Islam - ajaran Islam yang mengedepankan cinta sesama, seperti zakat, infaq, dan shadaqah. Tetapi ia tidak membatasi sumbangan dalam bentuk uang, melainkan dengan berbagai cara. Salah satunya berupa sumbangan tenaga untuk mengelola sekolah atau rumah sakit yang baru saja mereka dirikan secara sukarela. Pada awal gerakan, misalnya, banyak di antara pengikut Gulen yang menyumbangkan tenaga dan pikiran menjadi tenaga adminstrasi di sekolah komunitas Gulen. Ada sebagian lain yang cukup kaya menyumbangkan sejumlah uang untuk keberlangsungan gerakan tersebut. mekanisme yang disepakari adalah menyumbang 5%, 10% dan 20% dari total penghasilan per tahun. Kelompok bisnis rata-rata menyumbangkan 20% dari total penghasilan tahunan mereka. Dengan kata lain, sumber utama finansial gerakan ini dari sumbangan anggota di setiap komunitasnya yang independen.
Dalam pengelolaan keuangan, Gulen mengambil jarak. Sikap ini adalah untuk memotivasi dan membangun kepercayaan para pendukungnya. Bukan saja mengambil jarak, tetapi uang tersebut dikelola langsung oleh komunitas masing-masing. Gulen mendorong setiap komunitas agar mandiri secara finansial sehingga sumber dana yang ada dapat membangun lembaga pelayanan baru di tempat lain. Strategi ini berhasil mengembangkan lembaga pelayanan dan memperlebar kader.
Pelajaran Untuk Indonesia
Di tengah-tengah keberhasilan kegiatan dakwahnya, salah satu kekhawatiran gerakan Gulen adalah kesinambungan di masa mendatang. Gerakan yang mengidentikkan pada pendirinya akan bergantung pada sosok pendiri, sehingga  ketergantungan pada pendiri itu menyulitklan ruang gerak pasca pendiri tersebut tiada. Di samping itu, ketiadaan sosok pendiri akan membuka persaingan antar pengikut untuk mengukuhkan diri sebagai pewaris paling sah versi masing-masing. Akibatnya, perpecahan di antara pengikut sulit dihindari. Meski begitu, menilai Gerakan Gulen akan pecah dikemudian hari, pasca ditinggal sosok Gulen, masih harus menunggu waktunya kelak, namun perlu diantisipasi.
Terlepas dari kekhawatiran tersebut, paling tidak kita bisa menemukan tiga pelajaran berharga dari kisah sukses dakwah bil hal ala Fethullah Gulen dan gerakannya untuk kita renungkan.
Pertama, Gulen membawa gagasan yang sesuai dengan kebutuhan ummat. Ia menekankan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai Islam di tengah-tengah ideologi negara yang tidak ramah terhadap agama tampil di ruang publik. Sekularisasi ala Turki yang cenderung anti-agama harus dilawan dengan memperlihatkan bahwa nilai-nilai Islam sama sekali tidak mengancam pada perbedaan dan keragaman. Ia juga menekankan bahwa ajaran Islam tidak bertentangan dengan demokrasi dan sekularisme itu sendiri. Karena ajaran Al-Qur’an menurutnya akan selalu sesuai dengan kebutuhan zamannya.
Kedua, selain mempertahankan prinsip Islam sebagai jalan hidup, Gulen juga menekankan sikap terbuka terhadap perkembangan zaman. Demokrasi misalnya, adalah sistem yang dianggapnya paling masuk akal bagi prinsip Islam masuk ke dalamnya. Karena prinsip dasar ajaran Islam yang universal dapat memberi sumbangsih dalam tata aturan negara atas dasar hasil musyawarah dan mufakat. Sistem hasil musyawarh itu senantiasa terbuka untuk ditafsirkan kembali. Meskipun memungkinkan adanya pembaharuan, prinsip dasar Islam akan selalu ikut memberi pendasaran baru dalam konteks yang berbeda.
Ketiga, Gulen menggunakan konsep layanan (hizmet) sebagai strategi gerakan sosial. Ini adalah jenis dakwah yang langsung bermanfaat untuk kemajuan ummat. Melalui layanan pendidikan, layanan kesehatan, layanan informasi, dan jenis layanan lainnya, gerakan Gulen berhasil masuk ke akar rumput. Mereka berjasa terutama untuk memobilisasi kehidupan ummatnya. Layanan ini bukan pekerjaan mudah. Layanan dalam gerakan Gulen diwujudkan dengan memanfaatkan SDM dan ekonomi yang ada, mempererat kebersamaan ide melalui cemaat di bawah gagasan ala Gulen, dan memanfaatkan momen di bawah dukungan politik yang memadai untuk mengembangkan setiap aktivitas layanan untuk ummat Islam.
Bila kita bandingkan, Islam Indonesia dan Turki pernah memiliki struktur politik yang mirip. Salah satu kemiripannya adalah sikap negara terhadap Islam politik yang tidak ramah. Bila keduanya memiliki kesamaan struktur politik, maka apa yang berhasil dilakukan gerakan Gulen bisa kita lakukan di Indonesia.
Dalam pengelolaannya, ada dua pelajaran berharga lainnya dari dakwah ala Gulen yang barangkali tidak akan selalu mudah ditiru oleh pemimpin Islam Indonesia.
Pertama. Islam diajarkan sesuai kebutuhan ummatnya. Sebagaimana dijelaskan di atas, Gulen melalui gerakannya berhasil merumuskan apa yang menjadi kebutuhan ummat Islam di Turki. Sehingga gagasan dan kreativitas yang dikembangkan dalam gerakannya segera mendapat respons positif dari pengikut dan ummat Islam pada umumnya. Oleh karena itu, bila gerakan Islam ingin sukses, maka radar pemimpin Islam harus dapat menangkap sinyal kebutuhan ummatnya.
Kedua, Gulen berhasil menjadi simbol bagi gerakan sosial berdasarkan prinsip pelayanan bagi ummat hingga berkembang ke mancanegara. Barangkali sudah banyak organsiasi sosial Islam di Indonesia yang menjadikan konsep pelayanan sebagai basis organisasi, meskipun masih sangat terbatas. Karena berbagai kelemahan yang biasanya dihadapi ummat Islam Indonesia, yaitu bukan pada bagaimana mendirikan gerakan sosial Islam, tetapi bagaimana mempertahankan gerakan tersebut dan mengembangkannya hingga mendapat pengakuan internasional. Kunci ketahanan gerakan Gulen adalan pengelolaan yang moderen dan transparan. Sehingga sumbangan ummat, baik tenaga, pikiran maupun materi tersalurkan efektif dan tepat sasaran.
Seandainya, strategi dakwah bil hal gerakan Gulen ditiru ummat Islam di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia, dengan gaya dan bentuk masing-masing, maka tantangan untuk menghapus persepsi Islam identik dengan kekerasan akan dengan sendirinya menghilang. Pada saat yang sama, gerakan Islam garis keras tidak lagi mendapat tempat di hati ummat Islam. Dengan sendirinya mereka beradaptasi untuk mengembangkan dakwah Islamiyah yang mengedepankan perdamaian. Harapan selalu ada, meskipun tidak selalu mudah diwujudkan.
Dakwah bil lisan al-hal berarti mengandung pengertian mendorong manusia agar berbuat kebajikan dan menurut pada petunjuk, menyeru mereka berbuat kebajikan dan melarang mereka dari perbuatan mungkar agar mereka mendapat kebahagian dunia dan akhirat.
Pelaksanaan dakwah bil lisan al-hal yang ditujukan untuk pengembangan masyarakat yang paling dirasakan adalah masalah dana atau logistik. Tanpa dana yang cukup, dakwah yang dilakukan akan sangat terbatas. Karena itu da’i Didin Hafiduddin pernah mengatakan, dari ummat Islam Indonesia yang berjumlah 190 juta orang, jika 20% saja di antaranya mau berzakat Rp. 100 ribu setiap bulan, maka jumlah uang yang terkumpul sangatlah besar - sekitar Rp. 3,8 trilyun, atau Rp. 45.8 trilyun per tahun. Dana besar tersebut jika dikelola dengan baik akan sangat mampu membiayai dakwah ala gerakan Gulen. Selain itu, ada juga keterbatasan fasilitas dan kurangnya kemampuan da’i. Dengan keterbatasan kemampuan da’i mengakibatkan media atau fasilitas yang ada akan kurang optimal dalam penggunaannya.
Dalam konteks dakwah bil lisan al-hal, pemahaman tentang kebutuhan sasaran dakwah mutlak diperlukan. Idealnya, pengembangan dakwah yang efektif harus mengacu pada masyarakat untuk meningkatkan kualitas keIslamannya, sekaligus kualitas hidupnya. Tujuan dakwah bukan hanya menganjurkan perbuatan Islami, tapi juga menumbuhkan etos kerja yang baik. Inilah yang sebenarnya diharapkan dalam praktek dakwah bi lisan al-hal. Kegiatan nyata dalam dakwah bil hal adalah mendekatkan masyarakat kepada kebutuhannya secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi peningkatan kualitas keberagamaannya.
Hermanto Harsolumakso
No. 184