Minggu, 05 Mei 2013

METODE DAKWAH DA’I FETULLAH GULEN YANG EFEKTIF



Banyak fakta bahwa dakwah Islam kurang tepat sasaran. Artinya, masyarakat Islami belum bisa diwujudkan oleh gerakan dakwah yang dilakukan selama ini. Betapun rendah kualitas seorang da’i, kebanyakan mad’u - penerima dakwah - tetap mengharapkan da’i menjadi tokoh perubahan dan sekaligus pemimpin. Da’i menupakan unsur yang dominan dalam kegiatan dakwah, bahkan lebih dari itu, da’i merupakan pemegang kunci yang penting terhadap sukses atau tidaknya pelaksanaan dakwah. Gerakan dakwah Islam, selain ditujuksn untuk meningkatkan iman dan takwa di kalangan mad’u, juga harus dapat mengubah segala bentuk kehidupan jahiliyah di abad modern ini dalam hal system sosial, ekonomi, hukum dan lainnya menyangkut ibadah mu’amalah.
Melihat persoalan ummat yang semakin kompleks, maka sangat dirasakan betapa pentingnya menggali kembali system dakwah yang lebih baik. Ketika arus perubahan sosial berjalan tanpa keseimbangan antara aspek material dan aspek spiritual, terasa bahwa kualitas dakwah Islam semakin menurun, yang akibatnya dakwah Islam yang seharusnya menjadi penyangga tata kehidupan Islam menjadi kabur eksistensinya.
Allah Swt dalam QS Ali ‘Imran 4: 110, menegaskan: “Kamu adalah ummat yang terbaik, yang dilahirkan bagi manusia. Kamu menyuruh melakukan yang benar dan melarang yang mungkar, dan kamu beriman kepada Allah.” Yang dimaksud di dalam ayat tersebut juga termasuk para para da’i. yang berkewajiban menjadikan ummat Islam sebagai yang terbaik di antara manusia. Para da’i hendaknya mengevaluasi metode dakwah yang selama ini dinilai kurang mencapai sasaran.
Untuk itu para da’i hendaknya mencari metoda dakwah yang digunakan, dengan pemahaman mendalam terhadap kata ‘hikmah’ di dalam QS An-Nahl 16: 125, sebagai pedoman pelaksanaan dakwah yang dikehendaki oleh Allah: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. Petunjuk ini masih sangat umum, dan perlu dijabarkan dana disesuaikan dengan keadaan mad’u. Dalam konteks itulah maka hubungan yang serasi antara da’i dan mad’u sangat mutlak diperlukan demi terwujudnya tujuan dakwah yang diharapkan.
Efektifitas Metode
Dalam kenyataan di lapangan, dakwah banyak diwarnai oleh dakwah bil-lisan berupa ceramah dan sejenisnya, di mana hubungan da’i dengan mad’u hanyal bersifat formalitas, dan tujuan utama dakwah yang menjadi tujuan menjadi kabur, kurang sistematis, dan keberhasilan dakwah hanya diukur dengan banyaknya pengunjung dan gelak tawa mereka, sementara itu da’i pun berubah menjadi selebrita, bahkan ada yang menjadi pengiklan komersial.
Maka kita perlu meninjau kembali efektifitas metoda tersebut untuk diterapkan dalam kondisi dakwah, agar ajaran Islam dapat dipahami, dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari oleh mad’u. Efektif berarti adanya efek, akibat atau pengaruh dan kesannya, yaitu terjadinya suatu efek atau akibat yang dikehendaki dalam suatu perbuatan. Agar metode dakwah bisa effektif paling sedikit harus memenuhi lima unsur pokok.
  1. Metode dakwah harus dibawakan dengan cara yang menarik, baik bil-lisan - secara lisan maupun bil-hal - dengan perbuatan, yang dapat mendorong mad’u untuk segera ingin tahu.
  2. Dakwah harus dapat dipahami dengan mudah oleh mad’u yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat.
  3. Materi dakwah yang disampaikan disesuaikan dengan keadaan lingkungan mad’u. Terhadap sesuatu yang diinginkan, seseorang biasanya akan berusaha sekuat perhatian untuk merealisasikan apa yang diinginkannya
  4. Memberikan kesan-kesan yang baik dan mendalam di hati sanubari para mad’u.
  5. Materi dakwah yang dapat dilaksanakan oleh mad’u. sehingga efektivitas metode dakwah menjadi tumpuan keberhasilan tujuan dakwah.
Hakikat metode dakwah adalah suatu pelayanan, suatu sarana untuk mencapai tujuan. Para da’i harus bertekad untuk menemukan metode dan mau belajar dari dakwah yang sukses dengan menemukan resep yang ampuh untuk melaksanakan dakwah dengan baik dan berhasil mencapai sasaran.
Dakwah Fetullah Gulen Melalui Gerakan Sosial
Ahmad Ganis, Ketua Harian Dewan Pembina Yayasan Paramadina, yang juga pembaca setia Al-Mustaqiim, sekembalinya dari kunjungannya dari Turki dua tahun yang lalu bersama beberapa cendekia Muslim Indonesia lainnya, menceritakan tentang keberhasilan metode dakwah da’i Fetullah Gulen melalui gerakan sosialnya. (Al-Mustaqiim lajur kanan No. 5). Keberhasilan da’i Gulen ini telah mendorong penulis untuk menguraikan lebih lanjut tentang metode dakwah yang dilakukannya, dengan merangkumkan berbagai tulisan dan informasi lainnya yang banyak beredar di internet.   
Fetullah Gulen dilahirkan di Korucuk, dekat Erzurum, Turki Timur pada ahun 1938. Selain mengikuti pendidikan formal, Gulen mendapat pendidikan Al-Qur’an terutama dari ayahnya. Ia belajar ilmu agama, khususnya ilmu tasawuf. Pada usia 25 tahun, Gulen diangkat sebagai guru agama, di Izmir, kota ketiga terbesar di Turki. Selama lima tahun menjalankan tugasnya itu, ia memperkenalkan pendidikan dan pelayanan sebagai strategi utama untuk mengembangkan Islam di zaman modern ini. Gulen bersama sejumlah kolega dan muridnya membahas gerakan baru untuk menampung ide dan gagasannya. Ia juga melakukan sejumlah diskusi di berbagai provinsi di Turki.
Pada tahap awal aktivitas dakwahnya, Gulen memanfaatkan liburan musim panas dengan mengadakan pesantren kilat. Sebagai da’i, ia sangat khawatir anak-anak muda terjebak pada gagasan ateisme di satu sisi, dan radikalisme di sisi lain. Ia mengharapkan anak muda dapat menerima ajaran dasar Islam dan sekaligus taat hukum. Selain itu, ia mulai mengembangkan cemaat - dijelaskan di bagian belakang - dengan membangun komunitas-komunitas di beberapa tempat. Pengikut Gulen semakin hari semakin banyak. Mereka bukan saja menjadi pendengar, melainkan juga penyumbang dana operasional gerakan. Mengapa Gulen mendapat begitu banyak dukungan? Paling tidak, empat pemikiran yang memperkuat daya tarik bagi pengikutnya.
Pertama, sebagian orang menganggap Gulen membentuk tarekat sufi sendiri. Dalam beberapa kesempatan, Gulen menyatakan bahwa sufisme adalah hubungan spiritual antara makhluk dan Tuhannya yang hanya bisa dirasakan secara individual. Berguru itu wajib, tetapi bagaimana spiritualitas dirasakan dan dialami seseorang, bukanlah  tanggungjawab guru.
Kedua, sebagai sufi, Gulen memandang bahwa prinsip dasar Islam berlaku universal. Menurut Gulen, Al-Qur’an bisa menjadi petunjuk bagi siapa saja yang ingin melakukan perjalananan internasional. Bertemu dengan jenis budaya manapun, prinsip dasar dalam Al-Qur’an bisa menjadi acuan. Namun demikian, Gulen adalah tokoh Muslim yang tidak setuju dengan penerapan hukum Islam sebagai totalitas ajaran. Menurut Gulen, totalitas ajaran Islam bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri yang selalu terbuka untuk ditafsir sesuai dengan ruang dan waktu. Sifat yang bisa menembus ruang dan waktu itu merupakan alasan mengapa Islam bisa dan harus menjadi rahmatan lil alamiin.
Ketiga, ajaran dasar gerakan Gulen adalah cinta. Kata Gulen, tidak ada senjata yang lebih kuat daripada senjata cinta. Atas dasar cinta, ia menganjurkan ummat Islam untuk bersikap toleran, terbuka, dan mengupayakan perdamaian. Gulen terbuka untuk menjadi sahabat dari ajaran dan agama apapun. Gagasan inilah yang di kemudian hari memudahkan gerakan Gulen membentuk forum lintas iman internasional.
Keempat, Gulen menekankan aspek layanan (hizmet) dari setiap kegiatannya. Pertama kali ia dapat membangun sekolah di Izmir dan Istanbul, ia menamakan gerakannya sebagai layanan pendidikan (hizmet school). Begitu pula ketika ia bersama koleganya mendirikan media massa, ia menyebutnya layanan informasi. Hampir semua aktivitas hingga ke manca negara juga merupakan bentuk layanan untuk ummat.
Gerakan ini berdiri ketika anak-anak muda tidak mendapat cukup pendidikan agama. Para pendiri khawatir bahwa nilai-nilai Islam yang seharusnya menjadi landasan manusia beradab dan toleran, tidak tertanam dalam diri ummat Islam Turki. Gerakan ini merupakan sekumpulan individu yang sudah melampaui batas-batas keluarga dengan kepentingan kolektif terkait dengan kebijakan publik dan kekuasaan. Gulen tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai gerakan politik, meskipun ada anggota gerakan ini yang menjadi angota partai politik tertentu di Turki, melainkan berdakwah melalui jalur gerakan sosial.
Seperti disebutkan di atas, Gulen mengemukakan jantung seluruh gerakannya adalah aspek pelayanan. Apapun yang dikerjakan oleh gerakannya harus dilakukan dalam rangka melayani kepentingan ummat; meningkatkan pendidikan, memberi pelayanan kesehatan, memperbanyak akses pengetahuan dan sebagainya, adalah pelayanan untuk meningkatkan kualitas ummat. Bila kualitas ummat baik, maka kekerasan bukan pilihan untuk mengibarkan panji dan membumikan nilai-nilai Islam.
Gerakan ini mendapat momentum terutama pada masa kebijakan liberalisasi di bawah pemerintahan Presiden Halil Turgut Ozal (1989-1993), setelah sebelumnya sekularisasi diterapkan Turki oleh Presiden Mustafa Kemal Ataturk (1923-1938) yang meminggirkan agama dan tradisinya. Mereka selain tidak ramah terhadap agama juga menutup rapat kemungkinan ajaran agama tampil di ruang publik, segala atributpun, seperti jilbab tidak mendapat tempat. Dalam perkembangannya sekularisasi juga menutup madrasah, sekolah sekolah tradisional di bidang agama bagi anak-anak. Kurikulum pendidikan agama juga dihapuskan dari kurikulum sekolah.
Gerakan Gulen berhasil membangun sekolah. Pada dua dekade berikutnya, puluhan sekolah yang mengasosiasikan diri dengan gerakan Gulen, bisa tumbuh dan berkembang. Sekolah-sekolah tersebut juga mereka kembangkan hingga ke Balkan, Uni Soviet, Afrika Selatan dan beberapa negara Barat.
Implikasi kebijakan liberalisasi tidak hanya memobilisasi ekonomi ummat Islam, tetapi juga kebijakan di bidang pendidikan agama mengalami perubahan. Pemerintahan Turgut Ozal mewajibkan seluruh warga negara Muslim untuk mengambil pelajaran agama untuk menangkal masuknya komunisme ke Turki. Anggota parlemen boleh ke masjid bila tiba waktunya untuk shalat. Pebdek kata Rezim Ozal membuka ruang kebebasan yang memungkinkan gerakan Gulen bereksplorasi membangun organsiasinya.
Gerakan Gulen memberi kesempatan kepada siapa saja terutama mereka yang berpendidikan tinggi dan memperoleh penghasilan baik, untuk menyumbangkan sebagian dari uangnya sebagai wujud dari pelayanan sosialnya. Dengan konsep pelayanan pula, siapapun dapat menyumbanglan pada gerakan ini baik tenaga maupun kemampuan lainnya.
Gulen kemudian mendorong gerakannya untuk mendirikan media massa yang bisa menyuarakan gagasan pendidikan dan pelayanan sebagai prinsip dasar gerakan. Liberalisasi rezim Ozal juga membuka peluang bagi terbitnya jurnal bulanan Sizinti, yang kemudian menjadi jurnal bulanan paling laku di Turki. Kemudian, gerakan ini juga berhasil merintis dan mendirikan surat kabar Zaman, yang kemudian menjadi harian terlaris, dicetak dalam 10 bahasa dunia dan berbagai bahasa lokal di Turki. Tidak hanya itu, belakangan, gerakan ini mendapat liputan di berbagai media internasional seperti Forbes, Oxford Analytica, New York Times, Le Monde, The International Herald Tribune, The Economist, dan lainnya Liputan-liputan tersebut bukan hanya karena keberhasilan Gulen dalam bidang pendidikan dan pelayanan, tetapi juga karena gerakan Gulen membangun lembaga internasional yang bergerak dalam bidang dialog antar agama dan kerukunan antar ummat beragama. Sebagai penggagas kerukunan, Gulen telah membawa jamaahnya yang lebih dari ratusan ribu orang untuk dapat bersikap terbuka kepada ummat dari agama dan keyakinan yang berbeda. Inilah wajah Islam damai dan toleran yang bisa menyaingi pamor Islam garis keras di mata dunia internasional.
Kunci Keberhasilan Gulen
Untuk menjelaskan keberhasilan Gerakan Gulen ini, Helen Rose Ebaugh, profesor sosiologi Universitas Houston, Amerika Serikat menggunakan dua perspektif.
Pertama, teori mobilisasi sumberdaya manusia (SDM). Dalam gerakan sosial, efektivitas, efisiensi dan capaian maksimal amat ditentukan oleh keberhasilan aktornya dalam mengelola SDM dan keuangan yang tersedia. Gerakan Gulen mampu mengelola SDM dan keuangan yang mereka miliki.
Kedua, teori komitmen organisasi. Keberhasilan sebuah gerakan juga ditentukan oleh loyalitas anggotanya terhadap komitmen gerakan. Tanpa loyalitas, gerakan Gulen akan ditinggalkan para pendukungnya. Loyalitas para pendukung dipupuk dengan cara terus menerus mengingatkan bahwa sistem dan kebijakan pemerintah masih bermasalah untuk kepentingan bersama, khususnya dari segi pelayanan untuk masyarakat luas. Kemudian, Gulen melalui media dan fasilitas yang dimilikinya, memperlihatkan bahwa gagasan yang ia tawarkan dengan mendirikan gerakan sosial dan memberikan pelayanan sosial bisa menyelesaikan masalah yang tidak bisa diatasi negara.
Melalui kedua perspektif ini, Ebaugh menelusuri dasar komitmen yang berkembangan dalam gerakan Gulen, yang dapat mempererat loyalitas anggotanya hingga rela berkorban demi gerakan ini. Ebaugh menemukan bahwa keberhasilan gerakan Gulen terletak pada komitmen yang dibangun dalam ikatan komunitas. Komunitas ini dalam tradisi Turki yang dinamakan cemaat. Cemaat dibentuk oleh komunitas Muslim yang ingin mempertahankan warisan Islam sekaligus mengadopsi modernitas. Komunitas ini biasanya terdiri dari pebisnis, guru, dokter dan orang-orang dari profesi lainnya. Mereka tertarik berkumpul untuk mempelajari tafsir Al-Qur’an dan ajaran agama lainnya, khususnya tafsir ala Gulen.
Seringkali komunitas pengikut Gulen ini terdiri dari orang-orang seprofesi atau tinggal di kompleks yang sama. Kondisi ini memudahkan mereka bertukar pikiran dan menggalang dana untuk kegiatan pelayanan (service projects) seperti membangun lembaga pendidikan, layanan kesehatan, dan layanan publik lainnya. Masing-masing komunitas diberi keleluasaan untuk menentukan sendiri jenis pelayanan yang mereka bangun.
Untuk memotivasi para pendukungnya, Gulen dalam ceramah dan tulisannya merujuk pada jenis filantropi Islam - ajaran Islam yang mengedepankan cinta sesama, seperti zakat, infaq, dan shadaqah. Tetapi ia tidak membatasi sumbangan dalam bentuk uang, melainkan dengan berbagai cara. Salah satunya berupa sumbangan tenaga untuk mengelola sekolah atau rumah sakit yang baru saja mereka dirikan secara sukarela. Pada awal gerakan, misalnya, banyak di antara pengikut Gulen yang menyumbangkan tenaga dan pikiran menjadi tenaga adminstrasi di sekolah komunitas Gulen. Ada sebagian lain yang cukup kaya menyumbangkan sejumlah uang untuk keberlangsungan gerakan tersebut. mekanisme yang disepakari adalah menyumbang 5%, 10% dan 20% dari total penghasilan per tahun. Kelompok bisnis rata-rata menyumbangkan 20% dari total penghasilan tahunan mereka. Dengan kata lain, sumber utama finansial gerakan ini dari sumbangan anggota di setiap komunitasnya yang independen.
Dalam pengelolaan keuangan, Gulen mengambil jarak. Sikap ini adalah untuk memotivasi dan membangun kepercayaan para pendukungnya. Bukan saja mengambil jarak, tetapi uang tersebut dikelola langsung oleh komunitas masing-masing. Gulen mendorong setiap komunitas agar mandiri secara finansial sehingga sumber dana yang ada dapat membangun lembaga pelayanan baru di tempat lain. Strategi ini berhasil mengembangkan lembaga pelayanan dan memperlebar kader.
Pelajaran Untuk Indonesia
Di tengah-tengah keberhasilan kegiatan dakwahnya, salah satu kekhawatiran gerakan Gulen adalah kesinambungan di masa mendatang. Gerakan yang mengidentikkan pada pendirinya akan bergantung pada sosok pendiri, sehingga  ketergantungan pada pendiri itu menyulitklan ruang gerak pasca pendiri tersebut tiada. Di samping itu, ketiadaan sosok pendiri akan membuka persaingan antar pengikut untuk mengukuhkan diri sebagai pewaris paling sah versi masing-masing. Akibatnya, perpecahan di antara pengikut sulit dihindari. Meski begitu, menilai Gerakan Gulen akan pecah dikemudian hari, pasca ditinggal sosok Gulen, masih harus menunggu waktunya kelak, namun perlu diantisipasi.
Terlepas dari kekhawatiran tersebut, paling tidak kita bisa menemukan tiga pelajaran berharga dari kisah sukses dakwah bil hal ala Fethullah Gulen dan gerakannya untuk kita renungkan.
Pertama, Gulen membawa gagasan yang sesuai dengan kebutuhan ummat. Ia menekankan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai Islam di tengah-tengah ideologi negara yang tidak ramah terhadap agama tampil di ruang publik. Sekularisasi ala Turki yang cenderung anti-agama harus dilawan dengan memperlihatkan bahwa nilai-nilai Islam sama sekali tidak mengancam pada perbedaan dan keragaman. Ia juga menekankan bahwa ajaran Islam tidak bertentangan dengan demokrasi dan sekularisme itu sendiri. Karena ajaran Al-Qur’an menurutnya akan selalu sesuai dengan kebutuhan zamannya.
Kedua, selain mempertahankan prinsip Islam sebagai jalan hidup, Gulen juga menekankan sikap terbuka terhadap perkembangan zaman. Demokrasi misalnya, adalah sistem yang dianggapnya paling masuk akal bagi prinsip Islam masuk ke dalamnya. Karena prinsip dasar ajaran Islam yang universal dapat memberi sumbangsih dalam tata aturan negara atas dasar hasil musyawarah dan mufakat. Sistem hasil musyawarh itu senantiasa terbuka untuk ditafsirkan kembali. Meskipun memungkinkan adanya pembaharuan, prinsip dasar Islam akan selalu ikut memberi pendasaran baru dalam konteks yang berbeda.
Ketiga, Gulen menggunakan konsep layanan (hizmet) sebagai strategi gerakan sosial. Ini adalah jenis dakwah yang langsung bermanfaat untuk kemajuan ummat. Melalui layanan pendidikan, layanan kesehatan, layanan informasi, dan jenis layanan lainnya, gerakan Gulen berhasil masuk ke akar rumput. Mereka berjasa terutama untuk memobilisasi kehidupan ummatnya. Layanan ini bukan pekerjaan mudah. Layanan dalam gerakan Gulen diwujudkan dengan memanfaatkan SDM dan ekonomi yang ada, mempererat kebersamaan ide melalui cemaat di bawah gagasan ala Gulen, dan memanfaatkan momen di bawah dukungan politik yang memadai untuk mengembangkan setiap aktivitas layanan untuk ummat Islam.
Bila kita bandingkan, Islam Indonesia dan Turki pernah memiliki struktur politik yang mirip. Salah satu kemiripannya adalah sikap negara terhadap Islam politik yang tidak ramah. Bila keduanya memiliki kesamaan struktur politik, maka apa yang berhasil dilakukan gerakan Gulen bisa kita lakukan di Indonesia.
Dalam pengelolaannya, ada dua pelajaran berharga lainnya dari dakwah ala Gulen yang barangkali tidak akan selalu mudah ditiru oleh pemimpin Islam Indonesia.
Pertama. Islam diajarkan sesuai kebutuhan ummatnya. Sebagaimana dijelaskan di atas, Gulen melalui gerakannya berhasil merumuskan apa yang menjadi kebutuhan ummat Islam di Turki. Sehingga gagasan dan kreativitas yang dikembangkan dalam gerakannya segera mendapat respons positif dari pengikut dan ummat Islam pada umumnya. Oleh karena itu, bila gerakan Islam ingin sukses, maka radar pemimpin Islam harus dapat menangkap sinyal kebutuhan ummatnya.
Kedua, Gulen berhasil menjadi simbol bagi gerakan sosial berdasarkan prinsip pelayanan bagi ummat hingga berkembang ke mancanegara. Barangkali sudah banyak organsiasi sosial Islam di Indonesia yang menjadikan konsep pelayanan sebagai basis organisasi, meskipun masih sangat terbatas. Karena berbagai kelemahan yang biasanya dihadapi ummat Islam Indonesia, yaitu bukan pada bagaimana mendirikan gerakan sosial Islam, tetapi bagaimana mempertahankan gerakan tersebut dan mengembangkannya hingga mendapat pengakuan internasional. Kunci ketahanan gerakan Gulen adalan pengelolaan yang moderen dan transparan. Sehingga sumbangan ummat, baik tenaga, pikiran maupun materi tersalurkan efektif dan tepat sasaran.
Seandainya, strategi dakwah bil hal gerakan Gulen ditiru ummat Islam di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia, dengan gaya dan bentuk masing-masing, maka tantangan untuk menghapus persepsi Islam identik dengan kekerasan akan dengan sendirinya menghilang. Pada saat yang sama, gerakan Islam garis keras tidak lagi mendapat tempat di hati ummat Islam. Dengan sendirinya mereka beradaptasi untuk mengembangkan dakwah Islamiyah yang mengedepankan perdamaian. Harapan selalu ada, meskipun tidak selalu mudah diwujudkan.
Dakwah bil lisan al-hal berarti mengandung pengertian mendorong manusia agar berbuat kebajikan dan menurut pada petunjuk, menyeru mereka berbuat kebajikan dan melarang mereka dari perbuatan mungkar agar mereka mendapat kebahagian dunia dan akhirat.
Pelaksanaan dakwah bil lisan al-hal yang ditujukan untuk pengembangan masyarakat yang paling dirasakan adalah masalah dana atau logistik. Tanpa dana yang cukup, dakwah yang dilakukan akan sangat terbatas. Karena itu da’i Didin Hafiduddin pernah mengatakan, dari ummat Islam Indonesia yang berjumlah 190 juta orang, jika 20% saja di antaranya mau berzakat Rp. 100 ribu setiap bulan, maka jumlah uang yang terkumpul sangatlah besar - sekitar Rp. 3,8 trilyun, atau Rp. 45.8 trilyun per tahun. Dana besar tersebut jika dikelola dengan baik akan sangat mampu membiayai dakwah ala gerakan Gulen. Selain itu, ada juga keterbatasan fasilitas dan kurangnya kemampuan da’i. Dengan keterbatasan kemampuan da’i mengakibatkan media atau fasilitas yang ada akan kurang optimal dalam penggunaannya.
Dalam konteks dakwah bil lisan al-hal, pemahaman tentang kebutuhan sasaran dakwah mutlak diperlukan. Idealnya, pengembangan dakwah yang efektif harus mengacu pada masyarakat untuk meningkatkan kualitas keIslamannya, sekaligus kualitas hidupnya. Tujuan dakwah bukan hanya menganjurkan perbuatan Islami, tapi juga menumbuhkan etos kerja yang baik. Inilah yang sebenarnya diharapkan dalam praktek dakwah bi lisan al-hal. Kegiatan nyata dalam dakwah bil hal adalah mendekatkan masyarakat kepada kebutuhannya secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi peningkatan kualitas keberagamaannya.
Hermanto Harsolumakso
No. 184

6 komentar:

  1. Alhamdulillah, terima kasih informasi ini, semoga bisa disosialisasikan di Indonesia ....

    BalasHapus
  2. Memang da’i kita di Indonesia lebih suka dikunjungi pendengar yang umumnya orang-orang dewasa / tua. Materi dakwah mereka selama ceramah masuk di telinga kiri, di perjalanan pulang keluar dari telinga kanan. Dana yang terkumpul setiap sholat Jum’at di masjid dekat rumah saya habis untuk membayar khotib, ustadz majelis ta’lim dan penceramah lain pada hari besar Islam yang tarifnya 1 jutaan. Tidak ada perbaikan akhlak di kalangan ummat. Anak-anak muda tetap saja nakal, beberapa remaja dari keluarga mampu diberitakan suka mengkonsumsi narkoba, mereka yang kurang mampu suka corat-coret dinding rumah tetangga dan mencuri mangga ...... Informasi dakwah da’i Gulen di atas sangat membanggakan, semoga Yayasan Paramadina, UIN, pesantren-pesantran dan Al-Mustaqiim bisa menjadi penggerak Gulen-Gulen Indonesia. Nampaknya ustadz Didin Hafiduddin sudah melaksanakan hal itu dengan BAZNAS dan dompet dhuafa dengan fasilitas pelayanannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih komentar Anda, semoga seluruh ummat Islam Indonesia bangkit dengan semangat baru. JSM dengan media Al-Mustaqiim sebagai organisasi swadiri masih sangat kesepian pembaca, belum bisa melakukan dakwah bil hal secara nyata. Namun kami tetap optimis dan terus menyampaikan pesan ash-shirathal-mustaqiim. Insya Allah

      Hapus
  3. Bagus sekali, mari kita berubah untuk maju...

    BalasHapus
  4. Industri pertelevisian kita telah melahirkan sejumlah ustaz pesohor yang dikenal publik. Berbekal ilmu agama yang dimilikinya, para ustaz pesohor itu berdakwah di layar kaca dengan ciri dan gayanya masing-masing. Tak jarang, ustaz pesohor itu berlaku layaknya seorang selebritis yang kerap diliput infotainmen. Gosip seputar kehidupan pribadinya pun kerap diburu para pekerja infotainmen. Isu perselingkuhan dan gaya hidup 'wah' layaknya seorang selebritis seperti tak asing lagi menerpa mereka. Untuk meraih simpati publik, mereka tak jarang menggunakan canda dan guyonan dalam ceramahnya.Hal itu terkadang mengakibatkan inti dakwah yang seharusnya disampaikan tak dapat dicerna publik. Penampilan mereka di layar kaca semakin mudah dilihat seiring datangnya bulan Ramadan. Berbeda dengan ustaz 'kampung' yang hanya dibayar dengan besek atau kadang hanya ucapan terimakasih, ustaz pesohor justru mendapat bayaran jutaan rupiah.
    Lantas bagaimana tanggapan MUI terhadap fenomena ustaz pesohor? "Dakwah mereka kurang mengena dan mendidik masyarakat. Misalnya, gayanya, tema dakwah yang disampaikannya juga ada yang tidak ada isinya alias hanya bercanda saja itu tidak akan memperbaiki akhlak masyarakat, penampilan dan kata-kata yang dipakai juga terlalu vulgar," kata Ketua MUI, Ma'ruf Amin. Itu yang saya baca di salah satu suratkabar. Menurutnya, berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan MUI soal ustaz pesohor diperoleh hasil pemahaman dan metode dakwah yang disampaikan mereka perlu diperbaiki. Sebab, dakwah yang disampaikan mereka akan berpengaruh kepada umat. Atas dasar itu, MUI telah menyiapkan sebuah program pelatihan kepada ustaz pesohor. "Kami akan mengadakan training pelatihan kepada ustaz yang sering tampil di televisi supaya membawa perbaikan, jadi tidak sekedar seperti hiburan, tapi memiliki edukasi," kata dia. Dia menilai, gaya 'baru' yang para ustaz pesohor dalam berdakwah tak lepas dari tuntutan masyarakat. Sebab, kebanyakan masyarakat menyukai ceramah yang bersifat jenaka dan tidak serius. "TV juga kan maunya ustaz yang digemari masyarakat. Tapi yang penting arahannya sehingga mereka tidak hanya sekedar mengikuti tuntutan masyarakat saja tapi juga memberi perubahan kepada masyarakat melalui dakwahnya," kata dia. Sementara, mengenai gaya hidup 'wah' dan gosip miring yang kerap menimpa para ustaz pesohor, dia mengatakan seorang ustaz harus menjauhkan dirinya dari sesuatu yang tak baik. Karena, karena ustaz adalah ujung tombak agama untuk memberi pencerahan kepada masyarakat. "Kalau mereka melakukan hal-hal yang seperti itu nanti masyarakat juga akan menilai dan tak akan respect. Kita menilai yang penting ustaz itu jangan menyimpang," kata dia. Semoga para ustaz selebritis bisa muhasabah dan lebih bertanggungjawab melaksanakan amanah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. MUI harus cepat tanggap dan program yang direncanakan hendaknya segera dilaksanakan.

      Hapus