Kamis, 25 April 2013

MENGHADAPI BERBAGAI UJIAN HIDUP


Allah Swt berfirman:

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ ﴿٤٥﴾ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ﴿٤٦﴾
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS Al-Baqarah 2: 45-46).
Ada pepatah Arab yang menyatakan: Al-hayatu silsilatun minal imtihan -  Hidup ini merupakan untaian dari ujian demi ujian. Ada ujian yang ringan tetapi ada pula ujian yang berat. Ada ujian yang berupa kesulitan dan keadaan yang tidak diharap, tetapi ada pula ujian yang justru berupa kesuksesan dan kesenangan. Allah menyaksikan dan menilai kemudian memberi balasan terhadap sikap dan perbuatan setiap mereka ketika menghadapi berbagai ujian hidup itu. Pada saat-saat itu syeitan datang membujuk, merayu dan menipu orang-orang yang dijumpainya, untuk membawanya ke jalan yang bengkok, yaitu yang berujung pada neraka Jahanam.
Orang yang dalam hatinya ada iman kepada Allah, berjuang menghadapi godaan syeitan, bekerja keras untuk tetap berada di jalan yang benar. Tetapi perjuangan itu sungguh tidak mudah. Syeitan datang dengan wajah ramah, dan mengaku sebagai sahabat yang akan selalu memberi nasehat yang baik dan berguna. (QS Al-A'raaf 7: 21). Syeitan menjadikan orang memandang baik perbuatan mereka yang buruk. Lalu ketika usaha itu berhasil, dia menjadi pemimpin bagi orang-orang yang berhasil ditipunya. (QS An-Nahl 16: 63). Orang-orang yang jiwanya telah dikuasai syeitan, mereka menjadi golongan syaitan (QS Al-Mujaadilah 58: 19], yang mengajak orang-orang lain berlaku seperti dirinya.  
Kepada orang-orang yang sedang melakukan perjuangan berat itu Al-Qur’an berseru sebagaimana yang direkam pada ayat yang menjadi pokok bahasan kita hari ini yaitu: "Mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat.. Awal ayat 45 surah Al-Baqarah mengundang orang-orang yang sedang menghadapi persoalan, supaya memohon pertolongan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Sudah tentu orang yang beriman memohon bantuan hanya kepada Allah, sesuai dengan ikrarnya: "Hanya kepada Engkau kami mengabdi dan hanya kepada Engkau saja kami mohon pertolongan." (QS Al-Faatihah 1: 5). Dalam hal apa orang memohon pertolongan? Tentunya karena sedang bergulat dengan bujuk rayu syeitan, maka orang memohon agar dikuatkan hatinya dan dikukuhkan imannya sehingga mampu menangkal segala tipu daya syaitan tersebut. Ayat yang sedang kita bicarakan ini menerangkan bahwa kukuhnya jiwa dalam menghadapi godaan syeitan diperoleh dengan sabar dan shalat.
Yang dimaksud dengan sabar menurut Al-Ghazali (1058-1111 M), adalah kondisi mental dalam mengendalikan nafsu yang tumbuh atas dorongan agama. Kita telah membicarakan dalam tulisan sebelum ini, bahwa nafsu merupakan salah satu kondisi batin manusia, yang menjadikannya menikmati apa yang dia lakukan beserta hasilnya. Tetapi nafsu harus dikendalikan, karena dia cenderung berlebih-lebihan. Kalau tidak dibatasi secara proporsional, nafsu cenderung merusak; hal yang demikian itu tidak disukai Allah. (QS Yusuf 11: 53 dan QS Al-A'raaf 7: 31). Sabar berkaitan sangat erat dengan iman dalam arti: semakin kuat iman seseorang dia menjadi semakin sabar.
Sehubungan dengan kemampuan mengendalikan nafsu ini, ulama membagi manusia ke dalam tiga golongan. Kelompok pertama: orang yang mampu mengalahkan nafsunya karena memiliki tingkat kesabaran yang tinggi. Kelompok kedua: orang yang tunduk menyerah kepada nafsu dan mengikuti segala keinginannya. Kelompok ketiga: orang yang selalu berada dalam kondisi melawan nafsu; kadang-kadang dia berhasil kadang-kadang gagal. Kebanyakan orang berada dalam golongan ini.
Mengenai shalat, semua kita tahu bahwa itu merupakan salah satu tata cara ibadah mahdhah - pengabdian diri secara ritual kepada Allah Swt. Ada shalat yang wajib dan ada yang sunnat. Shalat merupakan ibadah yang utama. Rasulullah Saw menyatakan bahwa amal yang paling dahulu dinilai Allah pada hari Kiamat adalah shalat. Barang siapa yang baik shalatnya, akan nampak baik semua amalnya tetapi barangsiapa yang buruk shalatnya, kelihatan buruk pula semua amalnya. Sebagaimana semua perintah Allah yang lain, kewajiban shalat bukan beban tetapi merupakan karunia Allah kepada manusia, yaitu tata upacara menghadap dan mendekatkan diri yang paling intensif dengan Allah Swt. Gerakan maupun ucapan shalat merupakan pernyataan tunduk dan patuh yang sedalam-dalamnya kepada Pencipta, Pemelihara dan Pembina semesta alam termasuk manusia, termasuk yang menunaikan shalat itu. Dengan shalat yang diresapi sepenuhnya orang menghayati eksistensi Allah, keagungan Allah, kebaikan Allah yang tak berbatas. Rasa kedekatan mushalli (orang yang shalat) dengan Allah, mewujudkan suasana tenteram dan nyaman serta mengusir rasa resah dan gelisah yang acap kali bertengger di hati (QS Al-Ma'arij 70: 19-22) Situasi tenteram serta nyaman itu menguatkan kemampuan dia untuk mengendalikan nafsunya.
Ayat 45 surah Al-Baqarah menggalakkan orang-orang yang memohon pertolongan Allah agar menyertai do'a tersebut dengan usaha keras untuk memadukan sabar dan shalat. Apabila orang berhasil dalam usahanya mengharmonikan sabar dan shalat, Allah pasti berkenan mengaruniakan pertolongan kepadanya sehingga dia istiqamah – teguh hati dalam berbuat benar di sepanjang hidupnya. Tetapi, ayat tersebut dengan jelas menyatakan bahwa hal itu berat. Tidak mudah orang melaksanakan semua itu karena - lagi-lagi - dia akan terus menerus berhadapan dengan nafsunya sendiri yang rentan terhadap bujukan syaitan. Kecuali orang-orang yang khusyu'.
Para ulama menerangkan bahwa khusyu' adalah kondisi mental yang mampu memusatkan pikiran dan perhatian kepada Allah Swt tatkala menunaikan shalat. Pada waktu shalat itu dia tidak ingat apapun dan tidak memikirkan apapun kecuali Allah. Ada ceritera beredar di kalangan kaum muslimin bahwa kaki Muslim bin Yasar pada suatu ketika tertimpa runtuhan bangunan, sehingga kaki itu harus diamputasi. Karena pada masa itu belum ada obat bius, maka pemotongan kakinya dilaksanakan ketika dia sedang shalat, sehingga tidak merasakan sakitnya. Ada cerita pula mengenai Ali bin Abi Thalib yang salah satu bagian tubuhnya terkena anak panah. Benda tajam tersebut tentu saja harus dicabut, maka pencabutan juga dilakukan pada saat beliau sedang shalat.
Kedua cerita itu cukup terkenal, tetapi penulis meragukan kebenarannya. Mestinya orang yang paling khusyu' ketika shalat adalah Nabi Muhammad Saw. Tetapi hadits menuturkan bahwa tatkala sedang shalat beliau masih dapat melihat cucunya yang hendak jatuh. Maka beliau sejenak meninggalkan shalatnya untuk mengamankan dahulu anak kecil tersebut, kemudian meneruskan shalat tanpa mengulang dari awal. Beliau juga mengajarkan, tatkala seseorang sedang mengerjakan shalat di rumahnya, lalu ada tamu yang datang, dia memberi tanda dengan agak mengeraskan ucapan shalatnya sehingga tamu tersebut mengerti; maka tamu itupun menunggu atau pergi.
Khusyu' memang merupakan keharusan dalam mengerjakan shalat; orang mesti memusatkan pikiran dan perhatiannya kepada Allah, tetapi masih tetap memahami lingkungannya. Ensiklopedi Islam (PT Ichtiar Baru van Hoeve 1994) menerangkan, usaha seseorang untuk menumbuhkan khusyu' itu ditempuh dengan melakukan beberapa hal yaitu: (1) menyadari bahwa ketika shalat dia sedang berhadapan langsung dengan Allah yang Mahakuasa dan Mahatahu apa yang tersimpan dalam hatinya. (2) memerhatikan arti dari segala yang dibacanya. (3) menghayati arti tersebut di dalam hati. (4) tidak tergesa-gesa di dalam mengerjakan shalat (5) menjauhkan diri dari segala sesuatu yang membimbangkan hati.
Ayat 46 surah Al-Baqarah menjelaskan bahwa pemusatan batin sepenuhnya kepada Allah itu dimungkinkan bila orang yakin akan menghadap Allah pada hari Kiamat. Dengan sepenuh hati dia mengimani keterangan Al-Qur’an bahwa setiap orang akan kembali kepada-Nya. Mati bukan akhir dari riwayat hidup seseorang tetapi hanya akhir dari babak pertama kehidupannya. Pada saat yang ditetapkan Allah setiap orang yang pernah berada di alam dunia kemudian mati, akan dibangkitkan kembali untuk mempertanggung-jawabkan sikap dan perbuatannya selama di dunia ini.
Setelah proses pemeriksaan agung yang dilakukan oleh Allah pribadi selesai, orang akan mendapat vonis yang menentukan nasibnya dalam masa yang amat sangat panjang. Salah satu dari dua tempat akan dihuninya yaitu surga dan neraka. Al-Qur’an berulang kali menerangkan keadaan surga yang serba indah, menyediakan segala kebutuhan dan keinginan, tenang serta menenteramkan. Hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari mengemukakan firman Allah: "Telah Aku sediakan bagi hamba-Ku yang saleh, surga yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati seorangpun." Sebaliknya neraka adalah tempat yang amat menyengsarakan. Hadits riwayat Bukhari, Muslim dan Tirmidzi mengemukakan keterangan Rasulullah Saw, bahwa seringan-ringan siksaan penghuni neraka adalah: dipakaikan kepadanya alas kaki dan pengikatnya dari api neraka. Karena panas yang ke luar dari alas kaki tersebut mendidihkan otaknya seperti mendidihnya air di dalam kuali."
Keyakinan akan realitas di alam akhirat tersebut menimbulkan dua sikap bersamaan dalam hati manusia yaitu khauf dan raja' - ketakutan dan harapan. Dia takut kepada adzab Allah dan sangat mengharapkan anugerah Allah. Keduanya menyebabkan orang khusyu' memusatkan perhatian dan ingatan kepada Allah ketika shalat maupun sesudah shalat. Hati yang khusyu' menjadikan dia merasa ringan dalam mengerjakan shalat, bahkan menikmatinya dengan kenikmatan yang luar biasa. Rasa nikmat di dalam kehidupan dunia menjauhkan dia dari keinginan berbuat buruk dan mendorong dia melakukan banyak kebaikan. Pada akhirnya, harapannya akan ridha Allah dan surga, serta dijauhkan dari neraka, terwujud dengan nyata. Semoga kita termasuk ke dalam kelompok hamba-hamba Allah yang demikian. Amin ya Rabbal 'alamin.
Sakib Machmud
No. 183 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar