Allah
Swt berfirman:
وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ
وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ ﴿٤٥﴾ الَّذِينَ يَظُنُّونَ
أَنَّهُم مُّلاَقُوا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ﴿٤٦﴾
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan
sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali
bagi orang-orang yang khusyu'. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka
akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS
Al-Baqarah 2: 45-46).
Ada pepatah Arab yang menyatakan: Al-hayatu
silsilatun minal imtihan - Hidup ini
merupakan untaian dari ujian demi ujian. Ada ujian yang ringan tetapi ada pula
ujian yang berat. Ada ujian yang berupa kesulitan dan keadaan yang tidak diharap,
tetapi ada pula ujian yang justru berupa kesuksesan dan kesenangan. Allah
menyaksikan dan menilai kemudian memberi balasan terhadap sikap dan perbuatan setiap
mereka ketika menghadapi berbagai ujian hidup itu. Pada saat-saat itu syeitan
datang membujuk, merayu dan menipu orang-orang yang dijumpainya, untuk
membawanya ke jalan yang bengkok, yaitu yang berujung pada neraka Jahanam.
Orang yang dalam hatinya ada iman kepada Allah,
berjuang menghadapi godaan syeitan, bekerja keras untuk tetap berada di jalan
yang benar. Tetapi perjuangan itu sungguh tidak mudah. Syeitan datang dengan
wajah ramah, dan mengaku sebagai sahabat yang akan selalu memberi nasehat yang
baik dan berguna. (QS Al-A'raaf 7: 21). Syeitan menjadikan orang memandang baik
perbuatan mereka yang buruk. Lalu ketika usaha itu berhasil, dia menjadi
pemimpin bagi orang-orang yang berhasil ditipunya. (QS An-Nahl 16: 63).
Orang-orang yang jiwanya telah dikuasai syeitan, mereka menjadi golongan
syaitan (QS Al-Mujaadilah 58: 19], yang mengajak orang-orang lain berlaku
seperti dirinya.
Kepada orang-orang yang sedang melakukan perjuangan
berat itu Al-Qur’an berseru sebagaimana yang direkam pada ayat yang menjadi
pokok bahasan kita hari ini yaitu: "Mintalah pertolongan kepada Allah
dengan sabar dan shalat.. Awal ayat 45 surah Al-Baqarah mengundang
orang-orang yang sedang menghadapi persoalan, supaya memohon pertolongan untuk
menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Sudah tentu orang yang beriman memohon
bantuan hanya kepada Allah, sesuai dengan ikrarnya: "Hanya kepada
Engkau kami mengabdi dan hanya kepada Engkau saja kami mohon pertolongan."
(QS Al-Faatihah 1: 5). Dalam hal apa orang memohon pertolongan? Tentunya
karena sedang bergulat dengan bujuk rayu syeitan, maka orang memohon agar
dikuatkan hatinya dan dikukuhkan imannya sehingga mampu menangkal segala tipu
daya syaitan tersebut. Ayat yang sedang kita bicarakan ini menerangkan bahwa
kukuhnya jiwa dalam menghadapi godaan syeitan diperoleh dengan sabar dan
shalat.
Yang dimaksud dengan sabar menurut Al-Ghazali
(1058-1111 M), adalah kondisi mental dalam mengendalikan nafsu yang tumbuh atas
dorongan agama. Kita telah membicarakan dalam tulisan sebelum ini, bahwa nafsu
merupakan salah satu kondisi batin manusia, yang menjadikannya menikmati apa
yang dia lakukan beserta hasilnya. Tetapi nafsu harus dikendalikan, karena dia
cenderung berlebih-lebihan. Kalau tidak dibatasi secara proporsional, nafsu
cenderung merusak; hal yang demikian itu tidak disukai Allah. (QS Yusuf 11: 53
dan QS Al-A'raaf 7: 31). Sabar berkaitan sangat erat dengan iman dalam arti:
semakin kuat iman seseorang dia menjadi semakin sabar.
Sehubungan dengan kemampuan mengendalikan nafsu ini,
ulama membagi manusia ke dalam tiga golongan. Kelompok pertama: orang yang
mampu mengalahkan nafsunya karena memiliki tingkat kesabaran yang tinggi.
Kelompok kedua: orang yang tunduk menyerah kepada nafsu dan mengikuti segala
keinginannya. Kelompok ketiga: orang yang selalu berada dalam kondisi melawan
nafsu; kadang-kadang dia berhasil kadang-kadang gagal. Kebanyakan orang berada
dalam golongan ini.
Mengenai shalat, semua kita tahu bahwa itu merupakan
salah satu tata cara ibadah mahdhah - pengabdian diri secara ritual
kepada Allah Swt. Ada shalat yang wajib dan ada yang sunnat. Shalat merupakan
ibadah yang utama. Rasulullah Saw menyatakan bahwa amal yang paling dahulu
dinilai Allah pada hari Kiamat adalah shalat. Barang siapa yang baik shalatnya,
akan nampak baik semua amalnya tetapi barangsiapa yang buruk shalatnya,
kelihatan buruk pula semua amalnya. Sebagaimana semua perintah Allah yang lain,
kewajiban shalat bukan beban tetapi merupakan karunia Allah kepada manusia,
yaitu tata upacara menghadap dan mendekatkan diri yang paling intensif dengan
Allah Swt. Gerakan maupun ucapan shalat merupakan pernyataan tunduk dan patuh
yang sedalam-dalamnya kepada Pencipta, Pemelihara dan Pembina semesta alam
termasuk manusia, termasuk yang menunaikan shalat itu. Dengan shalat yang
diresapi sepenuhnya orang menghayati eksistensi Allah, keagungan Allah,
kebaikan Allah yang tak berbatas. Rasa kedekatan mushalli (orang yang
shalat) dengan Allah, mewujudkan suasana tenteram dan nyaman serta mengusir
rasa resah dan gelisah yang acap kali bertengger di hati (QS Al-Ma'arij 70:
19-22) Situasi tenteram serta nyaman itu menguatkan kemampuan dia untuk
mengendalikan nafsunya.
Ayat 45 surah Al-Baqarah menggalakkan orang-orang yang
memohon pertolongan Allah agar menyertai do'a tersebut dengan usaha keras untuk
memadukan sabar dan shalat. Apabila orang berhasil dalam usahanya mengharmonikan
sabar dan shalat, Allah pasti berkenan mengaruniakan pertolongan kepadanya
sehingga dia istiqamah – teguh hati dalam berbuat benar di sepanjang
hidupnya. Tetapi, ayat tersebut dengan jelas menyatakan bahwa hal itu berat. Tidak
mudah orang melaksanakan semua itu karena - lagi-lagi - dia akan terus menerus
berhadapan dengan nafsunya sendiri yang rentan terhadap bujukan syaitan. Kecuali
orang-orang yang khusyu'.
Para ulama menerangkan bahwa khusyu' adalah
kondisi mental yang mampu memusatkan pikiran dan perhatian kepada Allah Swt
tatkala menunaikan shalat. Pada waktu shalat itu dia tidak ingat apapun dan
tidak memikirkan apapun kecuali Allah. Ada ceritera beredar di kalangan kaum
muslimin bahwa kaki Muslim bin Yasar pada suatu ketika tertimpa runtuhan bangunan,
sehingga kaki itu harus diamputasi. Karena pada masa itu belum ada obat bius,
maka pemotongan kakinya dilaksanakan ketika dia sedang shalat, sehingga tidak
merasakan sakitnya. Ada cerita pula mengenai Ali bin Abi Thalib yang salah satu
bagian tubuhnya terkena anak panah. Benda tajam tersebut tentu saja harus
dicabut, maka pencabutan juga dilakukan pada saat beliau sedang shalat.
Kedua cerita itu cukup terkenal, tetapi penulis
meragukan kebenarannya. Mestinya orang yang paling khusyu' ketika shalat
adalah Nabi Muhammad Saw. Tetapi hadits menuturkan bahwa tatkala sedang shalat beliau
masih dapat melihat cucunya yang hendak jatuh. Maka beliau sejenak meninggalkan
shalatnya untuk mengamankan dahulu anak kecil tersebut, kemudian meneruskan
shalat tanpa mengulang dari awal. Beliau juga mengajarkan, tatkala seseorang
sedang mengerjakan shalat di rumahnya, lalu ada tamu yang datang, dia memberi
tanda dengan agak mengeraskan ucapan shalatnya sehingga tamu tersebut mengerti;
maka tamu itupun menunggu atau pergi.
Khusyu' memang merupakan keharusan dalam mengerjakan
shalat; orang mesti memusatkan pikiran dan perhatiannya kepada Allah, tetapi
masih tetap memahami lingkungannya. Ensiklopedi Islam (PT Ichtiar Baru van
Hoeve 1994) menerangkan, usaha seseorang untuk menumbuhkan khusyu' itu
ditempuh dengan melakukan beberapa hal yaitu: (1) menyadari bahwa ketika shalat
dia sedang berhadapan langsung dengan Allah yang Mahakuasa dan Mahatahu apa
yang tersimpan dalam hatinya. (2) memerhatikan arti dari segala yang dibacanya.
(3) menghayati arti tersebut di dalam hati. (4) tidak tergesa-gesa di dalam mengerjakan
shalat (5) menjauhkan diri dari segala sesuatu yang membimbangkan hati.
Ayat 46 surah Al-Baqarah menjelaskan bahwa pemusatan
batin sepenuhnya kepada Allah itu dimungkinkan bila orang yakin akan menghadap
Allah pada hari Kiamat. Dengan sepenuh hati dia mengimani keterangan Al-Qur’an
bahwa setiap orang akan kembali kepada-Nya. Mati bukan akhir dari riwayat hidup
seseorang tetapi hanya akhir dari babak pertama kehidupannya. Pada saat yang
ditetapkan Allah setiap orang yang pernah berada di alam dunia kemudian mati,
akan dibangkitkan kembali untuk mempertanggung-jawabkan sikap dan perbuatannya
selama di dunia ini.
Setelah proses pemeriksaan agung yang dilakukan oleh
Allah pribadi selesai, orang akan mendapat vonis yang menentukan nasibnya dalam
masa yang amat sangat panjang. Salah satu dari dua tempat akan dihuninya yaitu
surga dan neraka. Al-Qur’an berulang kali menerangkan keadaan surga yang serba
indah, menyediakan segala kebutuhan dan keinginan, tenang serta menenteramkan.
Hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari mengemukakan firman Allah: "Telah
Aku sediakan bagi hamba-Ku yang saleh, surga yang belum pernah terlihat oleh
mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati
seorangpun." Sebaliknya neraka adalah tempat yang amat menyengsarakan.
Hadits riwayat Bukhari, Muslim dan Tirmidzi mengemukakan keterangan Rasulullah
Saw, bahwa seringan-ringan siksaan penghuni neraka adalah: dipakaikan kepadanya
alas kaki dan pengikatnya dari api neraka. Karena panas yang ke luar dari alas
kaki tersebut mendidihkan otaknya seperti mendidihnya air di dalam kuali."
Keyakinan akan realitas di alam akhirat tersebut
menimbulkan dua sikap bersamaan dalam hati manusia yaitu khauf dan raja'
- ketakutan dan harapan. Dia takut kepada adzab Allah dan sangat mengharapkan
anugerah Allah. Keduanya menyebabkan orang khusyu' memusatkan perhatian
dan ingatan kepada Allah ketika shalat maupun sesudah shalat. Hati yang khusyu'
menjadikan dia merasa ringan dalam mengerjakan shalat, bahkan menikmatinya
dengan kenikmatan yang luar biasa. Rasa nikmat di dalam kehidupan dunia
menjauhkan dia dari keinginan berbuat buruk dan mendorong dia melakukan banyak
kebaikan. Pada akhirnya, harapannya akan ridha Allah dan surga, serta dijauhkan
dari neraka, terwujud dengan nyata. Semoga kita termasuk ke dalam kelompok
hamba-hamba Allah yang demikian. Amin ya Rabbal 'alamin.
Sakib Machmud
No. 183
Tidak ada komentar:
Posting Komentar