Senin, 15 April 2013

WASPADA SYIRIK TERHADAP GURU SPIRITUAL


Menyikapi fenomena masysrakat yang sedang marak saat ini dalam kaitannya dengan keimanan kepada Tuhan sangat beragam mulai dari kegiatan dalam lingkup pribadi atau keluarga sampai dengan pergaulan yang lebih luas dalam masyarakat, profesi, bisnis dan perdagangan. Salah satu fenomena yang menjadi tren saat ini dan sedang ramai dibicaarakan di media antara lain apa yang disebut ‘guru spiritual’, yaitu sebutan bagi tokoh yang oleh seseorang dianggap menjadi panutan, tempat bertanya atau curhat, dan sekaligus merupakan figur yang dipercaya memberi kekuatan maupun bimbingan dalam menghadapi masalah-masalah dunia yang sangat komplek.
Para artis terkenal, selebrita, bahkan pemimpin dunia banyak yang menyandarkan dirinya pada peran guru spiritual sebagai tempat bertumpu, bahkan meyakini sebagai sumber kekuatan atas kesuksesannya. Tercatat dalam rekaman berita, penyanyi Madonna mempunyai guru spiritual seorang rabbi yang mengilhami karya dan penampilannya yang sukses, dan tidak segan-segan  mengucurkan sebagian (besar) penghasilannya yang jutaan dollar kepada gurunya. Demikian juga bintang film Holywood Richard Gere, memilih Dalai Lama XIV seorang pemimpin Budha dari Tibet sebagai guru spiritualnya, sedangkan Tom Cruise dengan gurunya seorang pendiri faham Scientologi yaitu suatu faham kepercayaan baru di Amerika Serikat, bahkan pemain sepak bola terkenal Roberto Baggio yang memilih guru spiritualnya bhiksu Budha aliran Soka Gakkai dari Jepang. Akhir-akhir ini kita kenal Nicolas Maduro sang wakil presiden Venezuela yang sat ini menjabat sebagai presiden setelah wafatnya presiden Hugo Chavez, memiliki guru spiritual seorang pendeta Hindu dari India Sai Baba.
Di Indonesia kita kenal Eyang Subur, sosok kontroversial yang sedang menjadi topik pembicaraan terkait kedekatannya di kalangan artis-artis dan selebrita. Sebagian dari mereka menjadikannya sebagai guru spiritual, namun sebagian dari mereka akhir-akhir ini mulai meragukan ajarannya dan menganggap sebagai aliran sesat. Masih banyak lagi di tanah air kita ini mereka yang dianggap guru spiritual dengan maksud kurang lebih sama dengan contoh-contoh di atas.
Dakwah dan  Guru Spiritual
Adanya seorang ‘guru spiritual’ di kalanan para tokoh-tokoh terkenal dari berbagai profesi dan lapangan pekerjaan, menunjukkan bahwa setiap orang sebagai manusia di manapun, pada tingkat sosial apapun dengan beragam kondisi kesejahteraannya, memerlukan pegangan  hidup untuk ketenangan jiwanya. Dengan kata lain, manusia sebagai makhluk Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, secara sadar atau tidak mereka membutuhkan bimbingan dan petunjuk dari Allah Swt. 
Di dalam setiap diri manusia adalah suara nurani, dan apabila setiap orang menyadari betapa lemah dirinya di hadapan Allah, dan betapa kuasa dan perkasa Dia Yang Maha Agung itu, suara yang mereka dengarkan ltu adalah suara fithrah manusia. Setiap orang memiliki fithrah itu, dan terbawa serta olehnya sejak kelahiran. Walau seringkali karena kesibukan dan dosa-dosanya ia terabaikan, suaranya menjadi lemah hingga tidak terdengar lagi. Tetapi bila diusahakan untuk didengarkan, kemudian benar-benar tertanam dalam jiwa, akan hilanglah segala ketergantungan kepada unsur-unsur lain kecuali kepada Allah. Tiada tempat begantung, tiada tempat menitipkan harapan, dan tiada tempat mengabdi kecuali kepada-Nya. Laa haula wa laaquwwata illaa billaahil ‘Alyyil Azhiim - Tiada daya untuk memperoleh manfaat, tiada pula kuasa untuk menolak mudharat kecuali bersumber dari Allah  Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Dan dengan demikian tidak ada lagi rasa takut yang menghantui atau mencengkeram, tiada pula rasa  sedih yang mencekam.
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata (berprinsip) bahwa Tuhan Pemelihara kami adalah Allah, serta istiqamah dengan prinsip itu, akan turun kepada mereka malaikat (untuk menenangkan mereka sambil berkata): “Jangan takut, jangan bersedih, berbahagialah kalian dengan surga yang dijanjikan.” (QS Fushshilat 41: 30).
“Orang-orang yang beriman dan jiwa mereka menjadi tenteram karena mengingat Allah. Memang hanya dengan mengingat Allah lah jiwa menjadi tenteram.” (QS Al-Ra’d 113: 28).
Inilah sebenarnya yang ‘dicari’ oleh para tokoh dan selebriti, bahkan setiap insan hamba Allah, sebagai pegangan hidup dan untuk menangkan jiwa. Maka dengan dakwah manusia diingatkan untuk selalu mendengar suara nurani ini.
Syirik dan  Aliran Sesat
Firman Allah dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa selain dari syirik itu.....” (QS An-Nisaa’ 4: 48).
Inti dari ajaran Islam adalah Tauhid, tidak ada Tuhan selain Allah. Sebagian besar surat-surat Al-Qur’an isinya melarang manusia menduakan-Nya. Dari kisah-kisah para Nabi yang terdahulu, seperti Nabi Musa, Ibrahim, Isa dan lainnya, menekankan agar manusia jangan melakukan perbuatan syirik. Allah sangat murka kepada hamba-Nya yang memprersekutukan Dia, sebagaimana firman Allah tersebut di atas. Karenanya itu tidak ada ampunan bagi orang yang mempersekutukan Dia.
Ayat-ayat Al-Qur’an yang  menerangkan besarnya murka Allah pada orang yang melakukan syirik:
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam’ padahal Al-Masih (sendiri) berkata: ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu’. Sesungguhnya orang-orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya adalah neraka  tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS Al-Maidah 5: 72). 
Ayat di atas menerangkan bahwa orang yang berpendirian (haqqul yakin) bahwa Allah itu Al-Masih putera Maryam, atau keyakinan yang menyimpang dari makna ‘la ilaaha ilallah’ dan kemudian mati dalam keadaan keyakinan seperti itu, maka Allah mengharamkan surga bagi mereka.
Ayat yang lain dalam Al-Qur’an: “Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yakub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk, dan kepada  Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas, semuanya termasuk orang-orang yang shaleh. Dan Ismail, Ilyasa’ Yunus dan Luth, masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas ummat (di masanya). Dan Kami lebihkan (pula) derajat  sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi Nabi-nabi dan rasul-rasul), dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka kitab, hikmat dan kenabian.” (QS Al-An’aam 6: 84-88)    
Yang Termasuk Dalam Katagori Syirik
Termasuk dalam katagori syirik adalah setiap perbuatan yang dapat merusak keimanan. Hal ini seperti misalnya, percaya kepada keris pusaka, jimat, isim dan benda lain serupa itu, yang kemudian benda-benda itu dijadikan andalan sebagai pelindung keselamatan, pemberi rezeki dan sebagainya.  Meskipun harus diakui bahwa ‘benda-benda’ itu mempunyai kekuatan gaib (kadang-kadang dapat dibuktikan khasiatnya), namun janganlah kita sampai tergoda untuk menjadikannya sebagai pelindung atau andalan hidup.
“Perumpaman orang-orang yang mengambil pelindung-peindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang mebuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah itu ialah rumah lba-laba kalau mereka mengetahui”. (QS Al-Ankabuut 29: 41).
Meskipun sudah sangat jelas dikatakan dalam ayat tersebut, namun masih banyak orang-orang yang meminta perlindungan kepada jin, makam keramat atau sejenisnya. Meskipun diantara mereka ada yang kelihatannya sukses, namun tetap diingatkan agar janganlah mengikutinya, karena dosa syirik itu tidak terampuni.
Jenis-Jenis Syirik
Syirik secara umum dapat dikatakan sebagai kecondongan untuk bersandar pada sesuatu ataupun seseorang selain Allah. Hal ini hanya terjadi pada orang-orang yang tidak mampu mengendalikan nafsu jahatnya, karena memang sesungguhnya nafsu jahat itu lebih suka menyembah produk imajinasinya sendiri. Ada 4 (empat) jenis syirik:
1.  Syirk ul-Ilm
Inilah syirik yang umumnya terjadi di kalangan ilmuwan. Mereka mengagungkan ilmu sebagai maha segalanya, dan mereka tidak mempercayai pengetahuan yang diwahyukan Allah. Sebagai contoh, mereka mengatakan bahwa manusia berasal dari kera, mereka iuga percaya bahwa ilmu pengetahuan kelak akan dapat menemukan formula agar manusia tidak perlu mengalami mati dan lain sebagainya.
2.  Syirikut-Tasarruf
Syirik jenis ini pada prinsipnya, disadari atau tidak oleh pelakunya, menentang bahwa Allah Maha Kuasa dan segala kendali atas penghidupan manusia  berada di tangan-Nya. Mereka percaya adanya perantara bagi Allah, dan percaya pula bahwa sang perantara itu mempunyai ‘kekuasaan dan kekuatan’. Contohnya dalam hal ini adalah; kepercayaan bahwa Nabi Isa As. itu anak Tuhan, percaya pada dukun, tukang-tukang sihir atau ahli nujum, ‘orang pintar’, percaya pada ‘jimat’, patung, dan lain yang sejenis. 
3.  Syirkul-Ibadah
Yaitu syirik yang menuhankan pikiran, ide-ide atau fantasi. Mereka hanya percaya pada fakta-fakta konkret yang berasal dari pengalaman lahiriah.  Seorang yang tidak bertuhan (atheist), termasuk dalam jenis ini dan biasanya memuja pengingkaran  terhadap Tuhan.
4.  Syirk ul ‘Adah
Ini adalah kepercayaan terhadap takhayul. Sebagai contoh, percaya bahwa 13 adalah angka sial, sehingga tidak mau dan menghindari menggunakan angka tersebut; menghubungkan kucing hitam dengan kejahatan; jangan bepergian pada hari Saptu; jangan melakukan upacara perkawinan pada hari-hari tertentu; menempelkan gambar atau simbul pada kendaraan supaya selamat; dan sebgainya.
Syirik, Dosa Yang Tidak Terampuni
Dosa akibat perbuatan syirik tidak akan pernah diampuni oleh Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun. Oleh karena Itu, satu-satunya jalan bagi orang-orang yang pernah melakukan perbuatan syirik, upaya untuk membersihkan diri adalah disamping bertobat kepada Allah, juga harus ‘dengan sekuat tenaga’ memperbanyak perbuatan amal shaleh. Karena dengan begitu Insya Allah, dosa besar akibat syirik yang pernah dilakukannya dapat diimbangi dengan pahala yang dianugerahkan-Nya.
Firman Allah: “Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya, dan barang siapa membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dirugikan”. (QS Al-An’aam 6: 160).
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS Al-Anfaal 8: 29).
Janganlah kita sekali-kall menggunakan ‘isim’, ‘susuk’ ataupun ‘jimat’ dalam bentuk apapun, dan untuk tujuan apapun. Cukuplah Allah sebagai Pelindung, karena Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong (QS Al-Anfaal 8: 40). Perlu pula diingat firman Allah berikut ini:
“Katakanlah: “Apakah patut kamu mencari pelindung kepada selain Allah, pencipta langit dan bumi?” (QS Al-An’am 6: 14).
Jangan pula kita meminta pertolongan atau berkolusi dengan bangsa jin. Memang jin dapat diajak bekerjasama atau ditundukkan, namun perlu diingat, tokoh panutan kita Rasulullah Saw tidak pernah mau bekerjasama dengan makhuk ini. Al-Qur’an pun menegaskan bahwa hal tersebut lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya.
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin,maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS Al-Jin 72: 6).
Menjaga Diri Dari Perbuatan Syirik
Seorang yang beriman wajib menjaga dirinya dari perbuatan syirik yang melemahkan imannya.
Bila seseorang mengalami musibah, banyak di antara mereka meminta pertolongan kepada ‘dukun’ (istilah yang penulis gunakan untuk mereka yang dianggap sebagai ‘orang pintar’). Meskipun banyak dukun yang berstatus juga sebagai ‘kiai’, ‘ajeungan’  atau ‘ulama’, namun dalam melakukan prakteknya di antara mereka ada yang melakukan perbuatan menjurus kepada syirik. Dari tinjauan dan pengalaman, dukun itu terdiri dari dua kategori.
Kategori pertama, dukun yang menggunakan perantara seperti, keris atau pun makhluk halus dari bangsa jin. Ciri dukun semacam ini adalah antara lain; suasananya seram, penampilannya gagah, ucapannya sombong, suka pamer atau memberitahukan kebiasaan dan kesuksesannya. Nasihat yang diberikan sedikit sekali yang berasal dari Al-Qur’an atau Hadits.
Kategori kedua, dukun yang tidak menggunakan perantara seperti disebutkan di atas, tapi langsung berkomunikasi dengan Allah. Ciri dukun semacam ini adalah; suasananya sejuk, sehingga kita merasa betah bersamanya, ucapannya tidak sombog, dan selalu memberikan nasihat yang diambil dari ayat-ayat  Al-Qur’an dan Hadis.
Baik dukun yang tergolong katagori pertama maupun kedua, selalu mengatakan bahwa mereka tidak mampu melakukan apa-apa, semua semata-mata tergantung kehendak Allah.
Orang yang meminta pertolongan kepada dukun katagori pertama, biasanya tidak perlu melakukan usaha-usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah, dia cukup melaksanakan syarat-syarat yang ditentukan oleh dukun itu, di mana syarat-syarat tersebut sama sekali tidak akan meningkatkan ketakwaan orang itu kepada Allah. Sedangkan orang yang meminta bantuan pada dukun katagori kedua, harus aktif melakukan usaha sendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah, sedang peran sang dukun hanya sebagai pembimbing saja. Jadi sukses atau tidaknya maksud orang itu tergantung pada upayanya sendiri dalam mematuhi perintah Allah Swt.
Bila ingin meminta bantuan seorang dukun, maka sabaiknya carilah seorang dukun yang semata-mata hanya menggunakan kekuatan doa langsung kepada Allah, dan bersedia membimbing agar dapat berhubungan sendiri dengan Allah, jadi fungsi dukun di sini adalah memberikan bantuan nasehat mendekatkan kepada Allah, intinya adalah meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt.
Kesimpulan
Sebagai penutup disampaikan hal-hal sebagai berikut: Fenomena ‘guru spiritual’ menunjukkan bahwa setiap manusia, memerlukan pegangan  hidup untuk ketenangan jiwanya. Inti dari ajaran Islam adalah Tauhid, tidak ada Tuhan selain Allah. Allah sangat murka kepada hamba-Nya yang memprersekutukan Dia, Karenanya itu tidak ada ampunan bagi orang yang mempersekutukan Dia. Seorang yang beriman wajib menjaga dirinya dari perbuatan syirik yang melemahkan imannya. Bila ingin mencari guru sebagai panutan dan pembimbing rohani, upayakan untuk tidak menjurus ke arah mengkultuskan seseorang dan menghindarkan dari perbuatan syirik.
Mohammad Kamal
No. 182

5 komentar:

  1. Awas dan waspada: Guru spiritual, dukun santet, ustad terapis, dukun kejawen dan ....

    BalasHapus
  2. Ass. Om Hermanto, barusan buka al mustaqiim, ada yg menarik bagi saya, yaitu 10 prinsip membangun masyarakat Islami (spmmi), kok gak bisa dibuka kenapa? Saya ingin penjelasannya dibuka bagian sebelah mana? (via sms).

    BalasHapus
    Balasan
    1. 'Alaikumsalam. Silakan buka arsip Deseember 8008 dan Januari & Februari 2009. Saya khilaf baru sadar kalau ada yang menanyakan hal ini, maka mulai hari ini saya cantumkan petunjuk itu lajur tengah bagian atas, sedangkan daftar arsip ada di lajur kanan bagian atas juga. Terima kasih atas pertanyaan Anda. Wass.

      Hapus
    2. Oke, terima kasih bisa utk materi ceramah terbaru.

      Hapus
    3. Berkat pertanyaan Anda di atas, akhirnya kami telah menyusun kembali SPMMI dan menampilkan di lajur kanan No. 1, sehingga pembaca lebih mudah membaca secara keseluruhan. Wassalam

      Hapus