Pada suatu hari, sahabat Rasulullah Saw dan pembela Islam yang konsekuen
Abu Dzar Al-Ghifari, meminta kepada beliau agar diangkat menjadi pejabat.
Tetapi Rasulullah menolaknya. Sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu, Nabi
Saw berkata kepadanya: ''Tidak, Abu Dzar, engkau orang lemah. Ketahuilah,
jabatan itu amanah. Ia kelak di hari kiamat merupakan kehinaan dan penyesalan,
kecuali bagi orang yang mendapatkannya dengan benar dan melaksanakan tugas dan
kewajibannya dengan benar pula.'' (HR Al-Bukhari).
Imam Nawawi menyebut hadits
di atas merupakan pedoman dasar dalam berpolitik untuk mencapai kekuasaan.
Politik dapat menjadi sumber petaka bagi orang yang tidak mampu dan tidak bertanggungjawab.
Sebaliknya, politik dapat pula menjadi ladang pengabdian dan amal shaleh yang
subur bagi orang yang mampu dan bertanggungjawab.
Kekuasaan bukan sesuatu
yang buruk. Ia ibarat pisau bermata dua; bisa baik dan buruk. Ia menjadi baik
dengan tiga syarat, seperti disebut dalam hadits di
atas, yaitu berada di tangan orang yang tepat, diperoleh dengan cara yang
benar, dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran dan
kejahteraan rakyat. Sayangnya, dalam percaturan politik, orang sering hanya
memikirkan bagaimana merebut kekuasaan, bukan bagaimana mengunakan kekuasaan
dan mempertanggungjawabkannya kepada rakyat, dan Allah Swt.
Diakui bahwa kekuasaan
memang menggiurkan. Menurut Imam Al-Ghazali kekuasaan adalah
sesuatu yang sangat digandrungi oleh manusia. Setiap orang boleh mendapatkan
kekuasaan, karena bukan sesuatu yang dilarang oleh agama, asalkan dengan cara
yang baik dan digunakan untuk kebaikan pula. Nafsu kekuasaan itu lebih besar
daripada nafsu harta, hal itu disebabkan karena tiga faktor.
Pertama.
Kekuasaan bisa mendatangkan apa saja yang diinginkan termasuk harta kekayaan. Karena itu ada orang yang kekayaannya trilyunan rupiah
juga masih ingin menjadi presiden. Dengan kekuasaan, ia membayangkan dapat
mencapai semua impian dan yang diinginkannya, baik berupa pengabdian bagi
rakyat maupun untuk kepentingan sendiri. Diakui bahwa untuk
mencapai kekuasaan, diperlukan harta kekayaan, tetapi tidak setiap orang yang
menggunakan banyak harta kekayaan, bisa dengan sendirinya mencapai kekuasaan.
Kedua.
Kekuasaan bisa menimbulkan popularitas. Begitu seseorang berhasil menjadi
penguasa, maka seketika itu akan menjadi masyhur. Diakui bahwa untuk mencapai
kekuasaan diperlukan popularitas, tetapi tidak setiap orang yang
populer bisa dengan sendirinya mencapai
kekuasaan.
Ketiga.
Kekuasaan bisa mendatangkan loyalitas. Pada sebagian orang, pengaruh kekuasaan
bisa menimbulkan loyalitas yang sangat tinggi, bahkan loyalitas sampai mati. Ada kader partai politik (parpol)
yang bersedia
mewakafkan nyawanya demi loyalitas kepada pemimpinnya meskipun
pemimpin itu kemudian dinyatakan sebagai tersangka korupsi oleh komisi
pemilihan umum (KPK). Loyalitas seperti ini menunjukkan bahwa pengaruh
kekuasaan lebih kuat dan tahan lama dibandingkan dengan pengaruh harta kekayaan
dan popularitas.
Demikian telah kita pahami pengaruh
kekuasaan yang bisa menghasilkan apa saja yang diinginkan termasuk harta
kekayaan, menimbulkan popularitas dan menumbuhkan loyalitas.
Dan telah kita pahami pula bahwa untuk mencapai kekuasaan, diperlukan
kekayaan dan popularitas, meskipun tidak setiap orang yang memanfaatkan harta
kekayaan dan popularitas, bisa dengan sendirinya mencapai kekuasaan.
Selanjutnya kita akan membahas
seberapa jauh popularitas itu penting bagi seseorang untuk mendapatkan
harta kekayaan. Di samping itu kita juga akan membahas seberapa jauh peran loyalitas
itu penting bagi seseorang untuk mendapatkan kekuasaan.
Popularitas Untuk
Mendapatkan Harta Kekayaan
Menjelang pemilihan umum
(pemilu) legislatif tahun 2014, beberapa selebrita mendaftarkan diri ke parpol
untuk menjadi peserta pemilu legislatif, dengan memanfaatkan popularitas mereka
untuk meraih kekuasaan sebagai legislator di DPR atau DPRD, meskipun kemampuan
mereka di bidang legislasi, penganggaran dan pengawasan belum jelas. Mereka
lebih mengedepankan popularitas daripada kualitas.
Pemilihan umum kepala
daerah (pemilukada) yang baru lalu, sedang dan akan berlangsung di beberapa
daerah, diwarnai dengan partisipasi beberapa peserta dari kalangan legislator.
Mereka berpikir bahwa popularitas mereka sebagai legislator di tingkat nasional
akan memudahkan untuk memperoleh kekuasaan di daerah. Meskipun undang-undang
tidak melarangnya, seharusnya mereka menyelesaikan masa pengabdiannya selama
lima tahun sebagai wakil rakyat. Tidak etis jika seorang legislator melepas
tanggungjawab itu untuk kemudian mengambil tanggungjawab lain dengan mencari
kekuasaan di daerah. Di samping itu ada pula selebrita yang langsung terjun ke
arena pemilukada. Bahkan ada penyanyi dangdut yang akan ikut serta dalam
pemilihan presiden tahun 2014 mendatang. Fantastik.
Di sisi lain, kita bisa
menyaksikan bahwa berita-berita di media yang memuat kebenaran dan kebaikan
tidak lebih laku daripada berita-berita lainnya yang lebih bisa mendatangkan
popularitas tinggi. Sudah terbukti bahwa pemberitaan dengan
tema-tema asmara, perceraian, perselingkuhan, cinta segitiga, dan
kesenangan semu pengguna narkoba di kalangan selebrita, sangat
populer dan banyak diminati oleh kebanyakan orang. Itulah
sebabya infotainment dapat tumbuh subur di negeri ini,
mengalahkan berita-berita lain yang lebih bekualitas dan
bermanfaat untuk disajikan kepada masyarakat. Meskipun tayangan dan tulisan di media bernuansa ghibah itu telah difatwa haram
oleh para ulama, fatwa itu tidak mengurangi jumlah pemirsa dan pembaca infotainment.
Kalangan media menyadari, semakin
krusial suatu obyek berita diangkat, semakin banyak diminati pembaca atau
pemirsa. Semakin menyebalkan media mencitrakan orang-orang yang
baik, semakin banyak orang yang benci kepada mereka tanpa perlu tahu di mana
letak kesalahan dan kebenaran yang sebenarnya terjadi. Tidak peduli baik atau
buruk, yang penting popularitas naik.
Untuk meningkatkan kompetensi dan daya
saing dalam pemberitaan, dibutuhkan pemasukan dana.
Iklan adalah sumber pemasukan terbesar dalam bisnis mereka. Itu wajar. Namun sumber dana yang seharusnya hanya merupakan sarana
untuk meningkatkan kompetensi dan daya saing, jika kemudian berubah menjadi
sarana utama mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari pemasangan iklan, itu
adalah penyimpangan fungsi media yang seharusnya memberikan pelayanan informasi
kebenaran terbaru yang disuguhkan kepada masyarakat.
Masih tentang popularitas, setidaknya ada 20 stasiun televisi di Indonesia setiap hari menyiarkan
dakwah agama Islam. Namun, seberapa jauh Islam membentuk
keshalehan sosial berdasarkan ajaran Al-Qur’an dan Hadits, stasiun televisi
nampaknya tidak peduli, karena penayangan dakwah dilakukan demi popularitas dan
bahkan ada pula yang memanfaatkan da’i / daiah sebagai
bintang iklan.
Begitu pula acara pertandingan
sepakbola Eropa dan Amerika Latin yang sangat digemari sebagian besar masyarakat dunia termasuk Indonesia,
diberitakan secara luas oleh media dalam waktu panjang di media elektronik. Hasil-hasil pertandingan, cedera pemain, transfer pemain antar klub dan
sebagainya diberitakan di newsticker setiap waktu bahkan ada yang sampai
24 jam. Mereka berpikir bahwa obyek berita yang ditampilkan haruslah obyek yang
bisa meningkatkan popularitas untuk mendapatkan uang.
Berbeda dengan di
Jepang, meskipun sepakbola menduduki peringkat kedua di antara penggemar
olahraga - sesudah baseball, hasil-hasil pertandingan baik baseball
maupun sepakbola hanya ditampilkan di newsticker pada acara berita
olahraga. Media Jepang menyadari kewajibannya untuk menyajikan berita kepada
masyarakat secara adil dan berimbang. Orang Jepang berpikir bahwa kualitas
penyajian berita yang berkualitas dengan sendirinya akan mendukung kenaikan
popularitas.
Peran Loyalitas Dalam Mendukung Calon Pemimpin
Seperti
kita ketahui, parpol didirikan adalah untuk melakukan
propaganda dan ‘penyerangan’ dalam suatu ‘peperangan politik’ guna mencapai
kemenangan yang diinginkannya. Popularitas seorang calon presiden, gubernur,
bupati atau walikota (selanjutnya
disebut calon) dipandang penting. Calon yang tingkat
popularitasnya tinggi diprediksikan akan mencapai kemenangan di dalam perang
politik. Popularitas memang memiliki nilai keuntungan yang tinggi, karena orang
tidak akan memberikan hak pilihnya untuk memilih orang kurang atau sama sekali tidak ia kenal.
Keuntungan dari
popularitas seorang calon, memberikan kemudahan bagi parpol untuk memperoleh
simpati publik. Apabila calon adalah seorang yang
sudah dikenal mempunyai kualitas diri yang baik maka parpol tidak akan
kesulitan mendapatkan partisipasi masyarakat secara luas. Popularitas seorang
calon ibarat gerbang pertama dalam mencapai sebuah kesuksesan. Semakin populer
calon tersebut maka semakin banyak kesempatan untuk menang dan menjadi
pemimpin, Tingkat popularitas inilah yang umumnya dimanfaatkan oleh parpol
untuk menentukan figur yang akan diusung dalam pemilu.
Tetapi sebenarnya
popularitas hanyalah masalah pencitraan bagaimana seorang tokoh di mata publik.
Perlu diingat bahwa popularitas seorang calon dapat mudah dijatuhkan dengan hal
yang sifatnya sepele, misalnya loyalitas kader dan anggota
parpol atau kelompok masyarakat yang mengusungnya.
Membandingkan antara
popularitas dengan loyalitas memang bukan proporsi yang tepat. Tetapi mengingat
loyalitas didasari oleh tanggungjawab dan kecintaan seseorang dalam parpol
maupun masyarakat secara luas, maka membandingkan kedua aspek tersebut menjadi
relevan dalam peperangan politik. Aspek loyalitas
kader dan anggota parpol akan memberikan pengaruh besar
terhadap popularitas parpol tersebut, apakah akan mengalami peningkatan atau
penurunan.
Apabila setiap kader
parpol mempunyai loyalitas tinggi maka perpecahan tidak akan terjadi. Melalui
loyalitas inilah kinerja dan strategi parpol dalam menyukseskan calon pemimpin
yang diusung dapat dijalankan dengan baik atau tidak. Secara keorganisasian,
loyalitas kader dan anggota terhadap parpol lebih mempunyai
kekuatan daripada sekedar popularitas calon yang
diusung.
Peperangan politik dapat dilihat sebagai sebuah kompetisi untuk
mencari siapa yang terbaik di antara berbagai parpol yang diusung untuk menjadi
calon. Di dalam kompetisi politik ini, ada aspek
yang dinamakan ‘ketahanan dan stabilitas’ parpol dalam menghadapi perang
politik, yaitu loyalitas kader dan anggota parpol.
Apabila kader dan anggota parpol mempunyai loyalitas yang tinggi tidak akan ada
teknik pecah-belah yang berhasil dilakukan oleh lawan politik (parpol lain).
Berbagai perpecahan di dalam parpol disebabkan karena kepentingan yang sifatnya
mengarah pada pengkhianatan terhadap asas pendirian parpol. Kesatuan dan
persatuan setiap komponen yang menentukan keutuhan parpol, pada akhirnya akan
membawa kekuatan maksimal dalam ‘peperangan politik’. Kita pernah menyaksikan dalam pemilihan presiden ada dua calon wakil
presiden dari satu parpol sama yang mendampingi calon presiden yang berbeda
parpol. Kekuatan
penuh dalam bentuk loyalitas yang dimiliki oleh parpol dalam kancah
perpolitikan akan memberikan proporsional yang cukup besar dalam menentukan
nilai kemenangan dibanding aspek popularitas seorang calon. Namun, bagaimanapun juga dalam demokrasi, ada perpecahan, pengkhianatan,
penggembosan dan loyalitas yang merupakan bagian dari demokrasi yang tidak
terpisahkan.
Demikian bahasan kaitan
antara popularitas dan loyalitas yang merupakan kajian lanjut dari yang
dikatakan oleh Imam Al-Ghazali; pengaruh kekuasaan bisa mendatangkan harta
kekayaan, popularitas dan loyalitas. Hakikat politik adalah mencari kekuasaan,
sesuatu yang paling diminati oleh kebanyakan orang. Tetapi seseorang perlu
berhati-hati dengan kekuasaan yang dimilikinya, karena ia harus
bertanggungjawab kepada masyarakat dan terutama kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Hermanto Harsolumakso
No. 181
Alhamdulillah, Terima kasih Mas.
BalasHapusSemoga Allah selalu melindungi dan menjaga kesehatan Mas Hermanto. Amin
Terimakasih doa Anda. Amin
HapusTepat sekali. Saya sependapat dengan ustad.
HapusKualitas saja di negeri ini belum tentu laku. Harus ada aspek popularitas dan loyalitas. Jadi popularitas didukung loyalitas kader dan anggota parpol yang mengusung juga sangat penting. AU yang populer dan berkualitas pemimpin punya banyak kader PD yang loyal kepadanya .....tapi naas belum tampil dalam peperangan sudah menjadi tersangka korupsi. Rupanya kualitas itu harus mencakup akhlak dan moral. Calon dari Nasdem yang menggembosi Golkar akan sulit laku. begitu juga Golkar yang tidak didukung sepenuhnya oleh kader yang menyeberang ke Nasdem juga sulit laku. Begitu kira-kira materi teori ustadz kita ini. Betul tidak ustadz?
BalasHapusItu bukan teori saya, itu hanya kajian atau akal-akalan yang kira-kira masuk akal. Materi yang Anda kemukakan itu mungkin saja betul. Kalau Anda bertanya kepada saya komentar Anda betul atau tidak, maka jawanan saya mungkin betul.
HapusKomentar M. Fakhruri seharusnya diketik di komentar baru. Bukan membalas komentar Dadi Ruswandi kan?
Terima kasih atas semua komentar, semoga tulisan saya yang populer di atas bermanfaat bagi para pembaca, meskipun saya tidak berniat menggalang popularitas apalagi loyalitas, karena kualitas saya kurang memadahi, dan sudah tua, lebih baik mengingat mati supaya tenteram......., kata ustadz Sakib Machmud.
Maaf, saya salah kolom untuk menulis komentar.
HapusMengapa ustadz menjawab dengan 'mungkin betul'? Apa ada yang salah?
BalasHapusTidak ada yang salah, tetapi belum tentu betul, karena, 1. AU sebagai tersangka belum tentu divonis bersalah di pengadilan. 2 Siapa tahu kader yang tidak loyal di Nasdem dan Golkar menjadi loyal dan solid untuk mendukung calon-calonnya. Karena itu saya jawab mungkin betul. Saya tidak mengatakan mungkin salah kan?
HapusYa memang, terima kasih ustadz.
HapusDicari orang-orang populer untuk jadi caleg pemilu 2014, wah, wah, wah. PPP membuka caleg dari non muslim untuk capai target 15%. Kalau nggak ada yang kompeten, ya jangan dipaksa ngorbankan nilai-nilai perjuangan Islam. Kalau begitu partai mana yang memperjuangkan aspirasi Islam? Elite PKS terlibat korupsi dan skandal lainnya. PPP jadi partai terbuka, PAN sudah terbuka. PKB pernah tawarkan ke Hari Tanu tapi tak digubris. PBB? entahlah. PD tarik Yenny Wahid untuk naikkan elektabilitas. Lily Wahid nyeberang ke Hanura untuk bersaing dengan Muhaimin. Kalau potensi Islam terpecah belah, siapa yang akan ngibarkan bendera Islam?
BalasHapusTidak usah khawatir ustadz. Kan masih ada pembaca Al-Mustaqiim seperti ustadz Sanjaya. Pembaca Al-Mustaqiim memang langka, tetapi mereka adalah orang-orang berkualitas. Small but beautiful. Sosialisasikan saja media kita ini. Memang tidak mudah. Karena banyak orang tidak suka baca yang baik-baik, kalau adapun sekedar mengomentari tulisn-tulisan agama yang sekarang banyak tersebar melalui facebook. Umumnya komentar yang ditulis sekedar sebagai basa basi silatutahim kepada penulisnya. Penulisnya akan merasa tersanjung melihat tanda jempol dan pujian lainnya. Itu termasuk bentuk lain dari loyalitas. Kita mencari pahala dari amalan kita yang ikhlas. Tidak untuk mencari popularitas maupun kekayaan. Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk ke jalan yang lurus.
HapusSaya penggemar sepakbola, tapi sebel juga kalau mau cari berita umum terbaru tapi yang muncul di newsticker hasil pertandingan sepakbola melulu....
BalasHapus