Jumat, 05 April 2013

KEKAYAAN, POPULARITAS DAN LOYALITAS


Pada suatu hari, sahabat Rasulullah Saw dan pembela Islam yang konsekuen Abu Dzar Al-Ghifari, meminta kepada beliau agar diangkat menjadi pejabat. Tetapi Rasulullah menolaknya. Sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu, Nabi Saw berkata kepadanya: ''Tidak, Abu Dzar, engkau orang lemah. Ketahuilah, jabatan itu amanah. Ia kelak di hari kiamat merupakan kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkannya dengan benar dan melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan benar pula.'' (HR Al-Bukhari).
Imam Nawawi menyebut hadits di atas merupakan pedoman dasar dalam berpolitik untuk mencapai kekuasaan. Politik dapat menjadi sumber petaka bagi orang yang tidak mampu dan tidak bertanggungjawab. Sebaliknya, politik dapat pula menjadi ladang pengabdian dan amal shaleh yang subur bagi orang yang mampu dan bertanggungjawab.
Kekuasaan bukan sesuatu yang buruk. Ia ibarat pisau bermata dua; bisa baik dan buruk. Ia menjadi baik dengan tiga syarat, seperti disebut dalam hadits di atas, yaitu berada di tangan orang yang tepat, diperoleh dengan cara yang benar, dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran dan kejahteraan rakyat. Sayangnya, dalam percaturan politik, orang sering hanya memikirkan bagaimana merebut kekuasaan, bukan bagaimana mengunakan kekuasaan dan mempertanggungjawabkannya kepada rakyat, dan Allah Swt.
Diakui bahwa kekuasaan memang menggiurkan. Menurut Imam Al-Ghazali kekuasaan adalah sesuatu yang sangat digandrungi oleh manusia. Setiap orang boleh mendapatkan kekuasaan, karena bukan sesuatu yang dilarang oleh agama, asalkan dengan cara yang baik dan digunakan untuk kebaikan pula. Nafsu kekuasaan itu lebih besar daripada nafsu harta, hal itu disebabkan karena tiga faktor.
Pertama. Kekuasaan bisa mendatangkan apa saja yang diinginkan termasuk harta kekayaan. Karena itu ada orang yang kekayaannya trilyunan rupiah juga masih ingin menjadi presiden. Dengan kekuasaan, ia membayangkan dapat mencapai semua impian dan yang diinginkannya, baik berupa pengabdian bagi rakyat maupun untuk kepentingan sendiri. Diakui bahwa untuk mencapai kekuasaan, diperlukan harta kekayaan, tetapi tidak setiap orang yang menggunakan banyak harta kekayaan, bisa dengan sendirinya mencapai kekuasaan.
Kedua. Kekuasaan bisa menimbulkan popularitas. Begitu seseorang berhasil menjadi penguasa, maka seketika itu akan menjadi masyhur. Diakui bahwa untuk mencapai kekuasaan diperlukan popularitas, tetapi tidak setiap orang yang populer  bisa dengan sendirinya mencapai kekuasaan.
Ketiga. Kekuasaan bisa mendatangkan loyalitas. Pada sebagian orang, pengaruh kekuasaan bisa menimbulkan loyalitas yang sangat tinggi, bahkan loyalitas sampai mati. Ada kader partai politik (parpol) yang bersedia mewakafkan nyawanya demi loyalitas kepada pemimpinnya meskipun pemimpin itu kemudian dinyatakan sebagai tersangka korupsi oleh komisi pemilihan umum (KPK). Loyalitas seperti ini menunjukkan bahwa pengaruh kekuasaan lebih kuat dan tahan lama dibandingkan dengan pengaruh harta kekayaan dan popularitas.
Demikian telah kita pahami pengaruh kekuasaan yang bisa menghasilkan apa saja yang diinginkan termasuk harta kekayaan, menimbulkan popularitas dan menumbuhkan loyalitas. Dan telah kita pahami pula bahwa untuk mencapai kekuasaan, diperlukan kekayaan dan popularitas, meskipun tidak setiap orang yang memanfaatkan harta kekayaan dan popularitas, bisa dengan sendirinya mencapai kekuasaan.
Selanjutnya kita akan membahas seberapa jauh ­popularitas itu penting bagi seseorang untuk mendapatkan harta kekayaan. Di samping itu kita juga akan membahas seberapa jauh peran loyalitas itu penting bagi seseorang untuk mendapatkan kekuasaan.
Popularitas Untuk Mendapatkan Harta Kekayaan
Menjelang pemilihan umum (pemilu) legislatif tahun 2014, beberapa selebrita mendaftarkan diri ke parpol untuk menjadi peserta pemilu legislatif, dengan memanfaatkan popularitas mereka untuk meraih kekuasaan sebagai legislator di DPR atau DPRD, meskipun kemampuan mereka di bidang legislasi, penganggaran dan pengawasan belum jelas. Mereka lebih mengedepankan popularitas daripada kualitas.
Pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) yang baru lalu, sedang dan akan berlangsung di beberapa daerah, diwarnai dengan partisipasi beberapa peserta dari kalangan legislator. Mereka berpikir bahwa popularitas mereka sebagai legislator di tingkat nasional akan memudahkan untuk memperoleh kekuasaan di daerah. Meskipun undang-undang tidak melarangnya, seharusnya mereka menyelesaikan masa pengabdiannya selama lima tahun sebagai wakil rakyat. Tidak etis jika seorang legislator melepas tanggungjawab itu untuk kemudian mengambil tanggungjawab lain dengan mencari kekuasaan di daerah. Di samping itu ada pula selebrita yang langsung terjun ke arena pemilukada. Bahkan ada penyanyi dangdut yang akan ikut serta dalam pemilihan presiden tahun 2014 mendatang. Fantastik.
Di sisi lain, kita bisa menyaksikan bahwa berita-berita di media yang memuat kebenaran dan kebaikan tidak lebih laku daripada berita-berita lainnya yang lebih bisa mendatangkan popularitas tinggi. Sudah terbukti bahwa pemberitaan dengan tema-tema asmara, perceraian, perselingkuhan, cinta segitiga, dan kesenangan semu pengguna narkoba di kalangan selebrita, sangat populer dan banyak diminati oleh kebanyakan orang. Itulah sebabya infotainment dapat tumbuh subur di negeri ini, mengalahkan berita-berita lain yang lebih bekualitas dan bermanfaat untuk disajikan kepada masyarakat. Meskipun tayangan dan tulisan di media bernuansa ghibah itu telah difatwa haram oleh para ulama, fatwa itu tidak mengurangi jumlah pemirsa dan pembaca infotainment.
Kalangan media menyadari, semakin krusial suatu obyek berita diangkat, semakin banyak diminati pembaca atau pemirsa. Semakin menyebalkan media mencitrakan orang-orang yang baik, semakin banyak orang yang benci kepada mereka tanpa perlu tahu di mana letak kesalahan dan kebenaran yang sebenarnya terjadi. Tidak peduli baik atau buruk, yang penting popularitas naik.
Untuk meningkatkan kompetensi dan daya saing dalam pemberitaan, dibutuhkan pemasukan dana. Iklan adalah sumber pemasukan terbesar dalam bisnis mereka. Itu wajar. Namun sumber dana yang seharusnya hanya merupakan sarana untuk meningkatkan kompetensi dan daya saing, jika kemudian berubah menjadi sarana utama mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari pemasangan iklan, itu adalah penyimpangan fungsi media yang seharusnya memberikan pelayanan informasi kebenaran terbaru yang disuguhkan kepada masyarakat.
Masih tentang popularitas, setidaknya ada 20 stasiun televisi di Indonesia setiap hari menyiarkan dakwah agama Islam. Namun, seberapa jauh Islam membentuk keshalehan sosial berdasarkan ajaran Al-Qur’an dan Hadits, stasiun televisi nampaknya tidak peduli, karena penayangan dakwah dilakukan demi popularitas dan bahkan ada pula yang memanfaatkan da’i / daiah sebagai bintang iklan.
Begitu pula acara pertandingan sepakbola Eropa dan Amerika Latin yang sangat digemari sebagian besar masyarakat dunia termasuk Indonesia, diberitakan secara luas oleh media dalam waktu panjang di media elektronik. Hasil-hasil pertandingan, cedera pemain, transfer pemain antar klub dan sebagainya diberitakan di newsticker setiap waktu bahkan ada yang sampai 24 jam. Mereka berpikir bahwa obyek berita yang ditampilkan haruslah obyek yang bisa meningkatkan popularitas untuk mendapatkan uang.
Berbeda dengan di Jepang, meskipun sepakbola menduduki peringkat kedua di antara penggemar olahraga - sesudah baseball, hasil-hasil pertandingan baik baseball maupun sepakbola hanya ditampilkan di newsticker pada acara berita olahraga. Media Jepang menyadari kewajibannya untuk menyajikan berita kepada masyarakat secara adil dan berimbang. Orang Jepang berpikir bahwa kualitas penyajian berita yang berkualitas dengan sendirinya akan mendukung kenaikan popularitas.
Peran Loyalitas Dalam Mendukung Calon Pemimpin
Seperti kita ketahui, parpol didirikan adalah untuk melakukan propaganda dan ‘penyerangan’ dalam suatu ‘peperangan politik’ guna mencapai kemenangan yang diinginkannya. Popularitas seorang calon presiden, gubernur, bupati atau walikota (selanjutnya disebut calon) dipandang penting. Calon yang tingkat popularitasnya tinggi diprediksikan akan mencapai kemenangan di dalam perang politik. Popularitas memang memiliki nilai keuntungan yang tinggi, karena orang tidak akan memberikan hak pilihnya untuk memilih orang kurang atau sama sekali tidak ia kenal.
Keuntungan dari popularitas seorang calon, memberikan kemudahan bagi parpol untuk memperoleh simpati publik. Apabila calon adalah seorang yang sudah dikenal mempunyai kualitas diri yang baik maka parpol tidak akan kesulitan mendapatkan partisipasi masyarakat secara luas. Popularitas seorang calon ibarat gerbang pertama dalam mencapai sebuah kesuksesan. Semakin populer calon tersebut maka semakin banyak kesempatan untuk menang dan menjadi pemimpin, Tingkat popularitas inilah yang umumnya dimanfaatkan oleh parpol untuk menentukan figur yang akan diusung dalam pemilu.
Tetapi sebenarnya popularitas hanyalah masalah pencitraan bagaimana seorang tokoh di mata publik. Perlu diingat bahwa popularitas seorang calon dapat mudah dijatuhkan dengan hal yang sifatnya sepele, misalnya loyalitas kader dan anggota parpol atau kelompok masyarakat yang  mengusungnya.
Membandingkan antara popularitas dengan loyalitas memang bukan proporsi yang tepat. Tetapi mengingat loyalitas didasari oleh tanggungjawab dan kecintaan seseorang dalam parpol maupun masyarakat secara luas, maka membandingkan kedua aspek tersebut menjadi relevan dalam peperangan politik. Aspek loyalitas kader dan anggota parpol akan memberikan pengaruh besar terhadap popularitas parpol tersebut, apakah akan mengalami peningkatan atau penurunan.
Apabila setiap kader parpol mempunyai loyalitas tinggi maka perpecahan tidak akan terjadi. Melalui loyalitas inilah kinerja dan strategi parpol dalam menyukseskan calon pemimpin yang diusung dapat dijalankan dengan baik atau tidak. Secara keorganisasian, loyalitas kader dan anggota terhadap parpol lebih mempunyai kekuatan daripada sekedar popularitas calon yang diusung.
Peperangan politik dapat dilihat sebagai sebuah kompetisi untuk mencari siapa yang terbaik di antara berbagai parpol yang diusung untuk menjadi calon. Di dalam kompetisi politik ini, ada aspek yang dinamakan ‘ketahanan dan stabilitas’ parpol dalam menghadapi perang politik, yaitu loyalitas kader dan anggota parpol.
Apabila kader dan anggota parpol mempunyai loyalitas yang tinggi tidak akan ada teknik pecah-belah yang berhasil dilakukan oleh lawan politik (parpol lain). Berbagai perpecahan di dalam parpol disebabkan karena kepentingan yang sifatnya mengarah pada pengkhianatan terhadap asas pendirian parpol. Kesatuan dan persatuan setiap komponen yang menentukan keutuhan parpol, pada akhirnya akan membawa kekuatan maksimal dalam ‘peperangan politik’. Kita pernah menyaksikan dalam pemilihan presiden ada dua calon wakil presiden dari satu parpol sama yang mendampingi calon presiden yang berbeda parpol. Kekuatan penuh dalam bentuk loyalitas yang dimiliki oleh parpol dalam kancah perpolitikan akan memberikan proporsional yang cukup besar dalam menentukan nilai kemenangan dibanding aspek popularitas seorang calon. Namun, bagaimanapun juga dalam demokrasi, ada perpecahan, pengkhianatan, penggembosan dan loyalitas yang merupakan bagian dari demokrasi yang tidak terpisahkan.
Demikian bahasan kaitan antara popularitas dan loyalitas yang merupakan kajian lanjut dari yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali; pengaruh kekuasaan bisa mendatangkan harta kekayaan, popularitas dan loyalitas. Hakikat politik adalah mencari kekuasaan, sesuatu yang paling diminati oleh kebanyakan orang. Tetapi seseorang perlu berhati-hati dengan kekuasaan yang dimilikinya, karena ia harus bertanggungjawab kepada masyarakat dan terutama kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Hermanto Harsolumakso
No. 181

12 komentar:

  1. Alhamdulillah, Terima kasih Mas.
    Semoga Allah selalu melindungi dan menjaga kesehatan Mas Hermanto. Amin

    BalasHapus
  2. Kualitas saja di negeri ini belum tentu laku. Harus ada aspek popularitas dan loyalitas. Jadi popularitas didukung loyalitas kader dan anggota parpol yang mengusung juga sangat penting. AU yang populer dan berkualitas pemimpin punya banyak kader PD yang loyal kepadanya .....tapi naas belum tampil dalam peperangan sudah menjadi tersangka korupsi. Rupanya kualitas itu harus mencakup akhlak dan moral. Calon dari Nasdem yang menggembosi Golkar akan sulit laku. begitu juga Golkar yang tidak didukung sepenuhnya oleh kader yang menyeberang ke Nasdem juga sulit laku. Begitu kira-kira materi teori ustadz kita ini. Betul tidak ustadz?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu bukan teori saya, itu hanya kajian atau akal-akalan yang kira-kira masuk akal. Materi yang Anda kemukakan itu mungkin saja betul. Kalau Anda bertanya kepada saya komentar Anda betul atau tidak, maka jawanan saya mungkin betul.

      Komentar M. Fakhruri seharusnya diketik di komentar baru. Bukan membalas komentar Dadi Ruswandi kan?

      Terima kasih atas semua komentar, semoga tulisan saya yang populer di atas bermanfaat bagi para pembaca, meskipun saya tidak berniat menggalang popularitas apalagi loyalitas, karena kualitas saya kurang memadahi, dan sudah tua, lebih baik mengingat mati supaya tenteram......., kata ustadz Sakib Machmud.

      Hapus
    2. Maaf, saya salah kolom untuk menulis komentar.

      Hapus
  3. Mengapa ustadz menjawab dengan 'mungkin betul'? Apa ada yang salah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak ada yang salah, tetapi belum tentu betul, karena, 1. AU sebagai tersangka belum tentu divonis bersalah di pengadilan. 2 Siapa tahu kader yang tidak loyal di Nasdem dan Golkar menjadi loyal dan solid untuk mendukung calon-calonnya. Karena itu saya jawab mungkin betul. Saya tidak mengatakan mungkin salah kan?

      Hapus
  4. Dicari orang-orang populer untuk jadi caleg pemilu 2014, wah, wah, wah. PPP membuka caleg dari non muslim untuk capai target 15%. Kalau nggak ada yang kompeten, ya jangan dipaksa ngorbankan nilai-nilai perjuangan Islam. Kalau begitu partai mana yang memperjuangkan aspirasi Islam? Elite PKS terlibat korupsi dan skandal lainnya. PPP jadi partai terbuka, PAN sudah terbuka. PKB pernah tawarkan ke Hari Tanu tapi tak digubris. PBB? entahlah. PD tarik Yenny Wahid untuk naikkan elektabilitas. Lily Wahid nyeberang ke Hanura untuk bersaing dengan Muhaimin. Kalau potensi Islam terpecah belah, siapa yang akan ngibarkan bendera Islam?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak usah khawatir ustadz. Kan masih ada pembaca Al-Mustaqiim seperti ustadz Sanjaya. Pembaca Al-Mustaqiim memang langka, tetapi mereka adalah orang-orang berkualitas. Small but beautiful. Sosialisasikan saja media kita ini. Memang tidak mudah. Karena banyak orang tidak suka baca yang baik-baik, kalau adapun sekedar mengomentari tulisn-tulisan agama yang sekarang banyak tersebar melalui facebook. Umumnya komentar yang ditulis sekedar sebagai basa basi silatutahim kepada penulisnya. Penulisnya akan merasa tersanjung melihat tanda jempol dan pujian lainnya. Itu termasuk bentuk lain dari loyalitas. Kita mencari pahala dari amalan kita yang ikhlas. Tidak untuk mencari popularitas maupun kekayaan. Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk ke jalan yang lurus.

      Hapus
  5. Saya penggemar sepakbola, tapi sebel juga kalau mau cari berita umum terbaru tapi yang muncul di newsticker hasil pertandingan sepakbola melulu....

    BalasHapus