Senin, 25 Maret 2013

MENGINGAT MATI MENGANTARKAN KETENTERAMAN


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُون.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam”.
Ayat 102 surah Ali 'Imran (3) yang dipampangkan di atas diawali dengan seruan Allah Swt untuk bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar takwa. Sebagian ulama menerangkan secara ringkas bahwa takwa adalah senantiasa melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Terhadap keterangan singkat ini Ensiklopedi Islam (PT Ichtiar Baru van Hoeve Jakarta, 1994) mengelaborasi lebih lanjut: Sikap takwa lahir dari adanya kesadaran mental transendental. Manusia yang bertakwa adalah yang memiliki kepekaan moral yang teramat tajam untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan suatu perbuatan. Dia memiliki mata batin yang menembus jauh untuk melihat yang baik itu baik dan yang buruk itu buruk.
Dengan demikian tingkah lakunya sehari-hari selalu mencerminkan perilaku mulia, dan selalu menghindari hal-hal yang menjadikan Allah Swt murka. Uraian ini sejalan dengan pernyataan cendekiawan Muslim terkemuka Muhammad Asad (1900-1992) yang sebelum masuk Islam bernama Leopold Weiss Dia menyatakan bahwa takwa adalah The God consciousness - kesadaran akan eksistensi Tuhan, Allah Swt.     
Kalimat berikutnya pada ayat tersebut yaitu: "Jangan sampai kamu mati kecuali dalam keadaan Islam", tidak berarti menyuruh orang beriman untuk mengatur saat kematian sehingga terjadi ketika sedang Islam; hal itu tidak mungkin dapat dilakukan. Kalimat itu merupakan perintah kepada kaum mukminin untuk mempersiapkan diri dengan segera dan bersungguh-sungguh, sehingga kapanpun kematian datang, dia berada dalam keadaan Islam. Persiapan yang dilakukan adalah memperbanyak pahala dan mengurangi dosa. Memperbanyak pahala dengan melakukan kesalehan yang sebanyak dan sebaik mungkin, sedangkan mengurangi dosa dengan tidak melakukan perbuatan buruk dan dengan sesering mungkin bertobat memohon ampunan kepada Allah. Sedangkan kondisi Islam, adalah kondisi sebagaimana yang digambarkan oleh Konsul Republik Federal Jerman di Bandung pada akhir tahun 1960-an Dr. Muhammad Hobohm: submission to the Will of God with love and joy - tunduk patuh kepada Kehendak Allah dengan cinta dan gairah.
Kematian adalah pasti. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, setiap orang akan mati. Tetapi toh banyak orang yang justru berusaha melupakan kenyataan yang pasti akan terjadi itu. Maka walaupun semua orang sudah tahu, toh Al-Qur’an menandaskan pada QS Ali ‘Imraan 3: 185: "Tiap-tiap yang berjiwa akan mengalami mati." Tidak ada seorangpun, yang dapat lari menghindar dari kematian, betapa tinggipun kedudukannya, betapa besarpun kekuasaannya, betapa luaspun ilmu yang dimilikinya. QS An-Nisaa’ 4: 78 menegaskan: "Di manapun kamu berada, maut akan mendatangi kamu, walaupun kamu berlindung di dalam benteng yang kokoh kuat." Rasulullah Saw sendiri, penutup semua Nabi, tidak dapat melepaskan diri dari mati. Sebuah riwayat menceriterakan, ketika beliau sedang sakit keras, dan puteri beliau Fatimah Al-Zahra menunggui dengan wajah sangat sedih, Rasul bersabda dengan pelan tetapi jelas "Wahai puteriku, sungguh akan datang kepada ayahmu sesuatu yang tidak akan ada seorangpun dapat menghindar darinya sampai hari Kiamat, yaitu maut".
Maka jelas bahwa tiap-tiap kita adalah calon mayit, yang tidak tahu kapan waktunya menjadi mayit. Sebagian dari kita mungkin masih memperoleh jatah umur beberapa puluh tahun lagi, tetapi sebagian dari kita, termasuk yang menyusun tulisan ini, barangkali tinggal menunggu waktu sebentar sekali. Tidak ada aturan bahwa yang tua pasti mendahului yang muda; semua bergantung kepada ketetapan Allah yang Dia rahasiakan kepada siapapun. Ada berbagai penyebab bagi datangnya kematian: sakit, kecelakaan, bunuh diri, dan sebagainya.
Ada dua proses datangnya kematian: menyengsarakan, atau mendatangkan kenikmatan. QS Al-An’aam 6: 93 menggambarkan proses kematian bagi orang-orang yang banyak berdosa: Alangkah ngerinya perasaanmu sekiranya kamu melihat tatkala orang yang zhalim berada dalam tekanan sakaratul maut; malaikat memukul-mukulnya dia dengan tangannya sambil membentak: "Keluarkan nyawamu!". Demikianlah perlakuan malaikat ‘Izrail ketika mencabut nyawa orang yang dosanya bertumpuk-tumpuk. Sedangkan mengenai orang yang benar-benar beriman, Rasulullah Saw menceriterakan: malaikat akan datang dengan senyum ramah, kemudian mencabut nyawanya dengan lembut, seperti orang yang mencabut benang di dalam tepung tanpa mengusik tepung itu sedikitpun. Orang yang dicabut nyawanya itu seperti tertidur pulas di dalam kenikmatan hakiki, dan masuk ke alam barzakh dengan penuh suka cita.
Kalau proses kematian sudah merupakan masalah besar, maka sudah tentu keadaan pasca mati lebih dahsyat lagi. Allah Swt Pemilik semesta alam beserta segala isinya menerangkan dengan sejelas-jelasnya, bahwa kematian bukanlah akhir dari riwayat manusia. Akan ada baginya kehidupan yang kedua, yang jauh lebih lama dari kehidupan dunia. Pada suatu saat yang hanya diketahui oleh Allah, berlangsung hari Kiamat, hari yang menutup kehidupan dunia dan mengawali kehidupan akhirat. Ketika saat tersebut tiba, malaikat Israfil membunyikan sangkakala, maka berlakukah apa yang digambarkan pada QS Al-Zalzalah 99: Bumi diguncang dengan guncangan yang dahsyat. Dan bumi mengeluarkan segala isinya. Orang-orang bertanya-tanya: Apa yang sedang terjadi? Peristiwa Kiamat tersebut sedemikian mengerikan sehingga diceriterakan pada QS Al-Qaari’ah 101: Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran. Dan gunung-gunung bagaikan bulu yang dihambur-hamburkan. Bukan hanya planet bumi yang dihancurkan, tetapi seluruh alam. Al-Qur’an menggambarkan secara mataforik bahwa pada saat itu langit terbelah (QS Al-Infithaar 82:1), bintang-bintang berjatuhan (QS Al-Infithaar 82: 2), matahari mendadak mati tak berfungsi (QS At-Takwir 81: 1). Sesudah itu terjadilah apa yang dinyatakan dalam QS Ibrahim 14: 48: Pada hari itu bumi diganti dengan bumi yang lain, dan langit demikian pula.
Lalu Israfil, atas perintah Allah, membunyikan sangkakala lagi, maka semua orang bangkit dari alam kuburnya, hidup kembali sebagaimana dia hidup di dunia dahulu. Namun pada waktu itu kondisi masing-masing orang berbalik seratus delapan puluh derajat. Mereka yang dahulu bersikap congkak, menolak berita kebenaran yang disampaikan Rasul, menggunakan waktu dan segala yang dimilikinya untuk berfoya-foya belaka, digambarkan pada QS Al-Ghaasyiyah 88: 2-3. banyak wajah pada hari itu yang tertunduk hina, berusaha keras untuk berjalan ke padang Mahsyar dalam keadaan kepayahan. Sedangkan orang-orang yang beriman dan banyak beramal kebajikan selama hidup di dunia, dinyatakan pada QS Al-Ghaasyiyah 88: 8-9: “Banyak wajah pada hari itu yang berseri-seri, mereka merasa puas karena usahanya di dunia.” Kemudian berlangsunglah prosedur baku yang ditetapkan Allah bagi manusia yaitu: pemeriksaan dan pertanggungjawaban amal, penimbangan pahala dan dosa, dan penetapan vonis. QS Al-Zalzalah 99: 7-8 menyatakan: Barangsiapa berbuat kebajikan, sekecil apapun perbuatan baik itu dia akan menyaksikan hasilnya. Dan barangsiapa mengerjakan keburukan, sekecil apapun perbuatan buruk itu, dia juga akan menyaksikan hasilnya. Pada akhirnya hanya akan ada dua tempat bagi manusia, yaitu surga dan neraka.
Orang yang ditetapkan masuk surga akan berada di tempat yang penuh kenikmatan itu untuk selama-lamanya. Tidak akan dia dikeluarkan dari tempat yang sangat indah serta memenuhi segala kebutuhan dan keinginan penghuninya itu. Berapa lama mereka berada di sana? Tidak ada batasnya. Pasti lebih dari jutaan, miliaran bahkan triliunan tahun. Sedangkan yang berada di neraka akan terdiri atas penghuni tetap dan penghuni sementara. Mereka yang sama sekali tidak beriman akan menjadi penghuni tetap, sedangkan orang-orang yang beriman tetapi sering tidak tahan menghadapi godaan setan, akan menjadi penghuni sementara. Berapa lama orang itu berada sementara di neraka? Tergantung nilai keburukannya. Bisa jadi hanya beberapa puluh tahun, tetapi mungkin juga beberapa juta atau beberapa miliar tahun.
Al-Qur’an bertanya kepada kita: “Maka ke mana kamu akan pergi?” (QS At-Takwir 81: 26). Hanya ada dua jurusan keberangkatan seseorang: menuju ke jannatun na’im - surga yang penuh kenikmatan, atau ke Naru jahannam - neraka yang sarat kesengsaraan. Surga adalah sebuah tempat, yang digambarkan oleh Rasul: belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah dapat dibayangkan oleh seorangpun. Sedangkan neraka adalah kancah siksaan yang tidak ada tolok bandingnya. Rasulullah Saw menggambarkan: "Seringan-ringan siksaan di dalam neraka adalah dipakaikan kepada penghuninya dua borgol dari api neraka, yang mengikat tangan dan kakinya. Dari borgol itu keluarlah panas yang dahsyat, sedemikian sehingga mendidihlah otaknya seperti mendidihnya air di dalam kuali". Bagi yang memilih jurusan pertama, silakan meningkatkan takwa kepada Allah Swt dan beramal kebajikan sebagaimana yang diperintahkan Allah. Bagi yang memilih jurusan kedua, silakan bergabung dengan orang-orang yang berkata, seperti yang dituturkan pada QS Al-Jaatsiyah 45: 24: “Kehidupan ini tidak lain kecuali kehidupan dunia saja. Di sini kita mati dan di sini kita hidup. Tidak ada yang membinasakan kita kecuali waktu”.
Pembicaraan tentang maut meresahkan segolongan orang, dan mengganggu keasyikan mereka tatkala sedang menikmati kesenangan-kesenangan hidup. Tetapi Rasulullah Saw justru menyatakan: Perbanyaklah ingatan tentang maut, karena ingatan itu akan mengurangi kelezatan duniawi. Maka orang yang ingat mati tidak akan dijangkiti penyakit hubbud dunya - penyakit yang akan menjauhkan dia dari kebahagiaan akhirat. Orang yang banyak mengingat mati juga tidak akan dijangkiti kesombongan, kedengkian, keresahan, kesedihan berlebihan - hal-hal yang mengganggu kesenangan di dunia ini sendiri. Mudah-mudahan kita termasuk golongan orang yang tenteram di bumi dan bahagia kelak di akhirat.
Sakib Machmud
No. 180 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar