يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ
وَأَنتُم مُّسْلِمُون.
“Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam”.
Ayat 102 surah Ali 'Imran (3) yang dipampangkan di atas
diawali dengan seruan Allah Swt untuk bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar
takwa. Sebagian ulama menerangkan secara ringkas bahwa takwa adalah senantiasa
melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Terhadap keterangan
singkat ini Ensiklopedi Islam (PT Ichtiar Baru van Hoeve Jakarta, 1994)
mengelaborasi lebih lanjut: Sikap takwa lahir dari adanya kesadaran mental
transendental. Manusia yang bertakwa adalah yang memiliki kepekaan moral yang
teramat tajam untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan suatu perbuatan. Dia
memiliki mata batin yang menembus jauh untuk melihat yang baik itu baik dan
yang buruk itu buruk.
Dengan demikian tingkah lakunya sehari-hari selalu
mencerminkan perilaku mulia, dan selalu menghindari hal-hal yang menjadikan
Allah Swt murka. Uraian ini sejalan dengan pernyataan cendekiawan Muslim
terkemuka Muhammad Asad (1900-1992) yang sebelum masuk Islam bernama Leopold Weiss
Dia menyatakan bahwa takwa adalah The God consciousness - kesadaran akan
eksistensi Tuhan, Allah Swt.
Kalimat berikutnya pada ayat tersebut yaitu: "Jangan
sampai kamu mati kecuali dalam keadaan Islam", tidak berarti menyuruh
orang beriman untuk mengatur saat kematian sehingga terjadi ketika sedang
Islam; hal itu tidak mungkin dapat dilakukan. Kalimat itu merupakan perintah
kepada kaum mukminin untuk mempersiapkan diri dengan segera dan
bersungguh-sungguh, sehingga kapanpun kematian datang, dia berada dalam keadaan
Islam. Persiapan yang dilakukan adalah memperbanyak pahala dan mengurangi dosa.
Memperbanyak pahala dengan melakukan kesalehan yang sebanyak dan sebaik
mungkin, sedangkan mengurangi dosa dengan tidak melakukan perbuatan buruk dan
dengan sesering mungkin bertobat memohon ampunan kepada Allah. Sedangkan
kondisi Islam, adalah kondisi sebagaimana yang digambarkan oleh Konsul Republik
Federal Jerman di Bandung pada akhir tahun 1960-an Dr. Muhammad Hobohm: submission
to the Will of God with love and joy - tunduk patuh kepada Kehendak Allah
dengan cinta dan gairah.
Kematian adalah pasti. Mau atau tidak
mau, suka atau tidak suka, setiap orang akan mati. Tetapi toh banyak orang yang
justru berusaha melupakan kenyataan yang pasti akan terjadi itu. Maka walaupun
semua orang sudah tahu, toh Al-Qur’an menandaskan pada QS Ali ‘Imraan 3: 185: "Tiap-tiap yang berjiwa akan mengalami mati."
Tidak ada seorangpun, yang dapat lari menghindar dari kematian, betapa
tinggipun kedudukannya, betapa besarpun kekuasaannya, betapa luaspun ilmu yang
dimilikinya. QS An-Nisaa’ 4: 78 menegaskan: "Di manapun kamu berada,
maut akan mendatangi kamu, walaupun kamu berlindung di dalam benteng yang kokoh
kuat." Rasulullah Saw sendiri, penutup semua Nabi, tidak dapat
melepaskan diri dari mati. Sebuah riwayat menceriterakan, ketika beliau sedang
sakit keras, dan puteri beliau Fatimah Al-Zahra menunggui dengan wajah sangat
sedih, Rasul bersabda dengan pelan tetapi jelas "Wahai puteriku,
sungguh akan datang kepada ayahmu sesuatu yang tidak akan ada seorangpun dapat
menghindar darinya sampai hari Kiamat, yaitu maut".
Maka jelas bahwa tiap-tiap kita adalah
calon mayit, yang tidak tahu kapan waktunya menjadi mayit. Sebagian dari kita
mungkin masih memperoleh jatah umur beberapa puluh tahun lagi, tetapi sebagian
dari kita, termasuk yang menyusun tulisan ini, barangkali tinggal menunggu
waktu sebentar sekali. Tidak ada aturan bahwa yang tua pasti mendahului yang
muda; semua bergantung kepada ketetapan Allah yang Dia rahasiakan kepada siapapun.
Ada berbagai penyebab bagi datangnya kematian: sakit, kecelakaan, bunuh diri,
dan sebagainya.
Ada dua proses datangnya kematian:
menyengsarakan, atau mendatangkan kenikmatan. QS Al-An’aam 6: 93 menggambarkan
proses kematian bagi orang-orang yang banyak berdosa: Alangkah ngerinya
perasaanmu sekiranya kamu melihat tatkala orang yang zhalim
berada dalam tekanan sakaratul maut; malaikat memukul-mukulnya dia
dengan tangannya sambil membentak: "Keluarkan nyawamu!".
Demikianlah perlakuan malaikat ‘Izrail ketika mencabut nyawa orang yang dosanya
bertumpuk-tumpuk. Sedangkan mengenai orang yang benar-benar beriman, Rasulullah
Saw menceriterakan: malaikat akan datang dengan senyum ramah, kemudian mencabut
nyawanya dengan lembut, seperti orang yang mencabut benang di dalam tepung
tanpa mengusik tepung itu sedikitpun. Orang yang dicabut nyawanya itu seperti
tertidur pulas di dalam kenikmatan hakiki, dan masuk ke alam barzakh dengan
penuh suka cita.
Kalau proses kematian sudah merupakan
masalah besar, maka sudah tentu keadaan pasca mati lebih dahsyat lagi. Allah
Swt Pemilik semesta alam beserta segala isinya menerangkan dengan
sejelas-jelasnya, bahwa kematian bukanlah akhir dari riwayat manusia. Akan ada
baginya kehidupan yang kedua, yang jauh lebih lama dari kehidupan dunia. Pada
suatu saat yang hanya diketahui oleh Allah, berlangsung hari Kiamat, hari yang
menutup kehidupan dunia dan mengawali kehidupan akhirat. Ketika saat tersebut
tiba, malaikat Israfil membunyikan sangkakala, maka berlakukah apa yang
digambarkan pada QS Al-Zalzalah 99: Bumi diguncang dengan guncangan yang
dahsyat. Dan bumi mengeluarkan segala isinya. Orang-orang bertanya-tanya: Apa
yang sedang terjadi? Peristiwa Kiamat tersebut sedemikian mengerikan sehingga
diceriterakan pada QS Al-Qaari’ah
101: Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran. Dan gunung-gunung
bagaikan bulu yang dihambur-hamburkan. Bukan hanya planet bumi yang
dihancurkan, tetapi seluruh alam. Al-Qur’an menggambarkan secara mataforik
bahwa pada saat itu langit terbelah (QS Al-Infithaar 82:1),
bintang-bintang berjatuhan (QS Al-Infithaar 82: 2),
matahari mendadak mati tak berfungsi (QS At-Takwir 81: 1).
Sesudah itu terjadilah apa yang dinyatakan dalam QS Ibrahim 14: 48: Pada hari
itu bumi diganti dengan bumi yang lain, dan langit demikian pula.
Lalu Israfil, atas perintah Allah,
membunyikan sangkakala lagi, maka semua orang bangkit dari alam kuburnya, hidup
kembali sebagaimana dia hidup di dunia dahulu. Namun pada waktu itu kondisi
masing-masing orang berbalik seratus delapan puluh derajat. Mereka yang dahulu
bersikap congkak, menolak berita kebenaran yang disampaikan Rasul, menggunakan
waktu dan segala yang dimilikinya untuk berfoya-foya belaka, digambarkan pada
QS Al-Ghaasyiyah 88: 2-3.
banyak wajah pada hari itu yang tertunduk
hina, berusaha keras untuk berjalan ke padang Mahsyar dalam keadaan
kepayahan. Sedangkan orang-orang yang beriman dan banyak beramal kebajikan
selama hidup di dunia, dinyatakan pada QS Al-Ghaasyiyah 88: 8-9: “Banyak
wajah pada hari itu yang berseri-seri, mereka merasa puas karena usahanya di
dunia.” Kemudian berlangsunglah prosedur baku yang ditetapkan Allah bagi
manusia yaitu: pemeriksaan dan pertanggungjawaban amal, penimbangan pahala dan
dosa, dan penetapan vonis. QS Al-Zalzalah 99: 7-8 menyatakan: Barangsiapa
berbuat kebajikan, sekecil apapun perbuatan baik itu dia akan menyaksikan
hasilnya. Dan barangsiapa
mengerjakan keburukan, sekecil apapun perbuatan buruk itu, dia juga akan
menyaksikan hasilnya.” Pada akhirnya hanya
akan ada dua tempat bagi manusia, yaitu surga dan neraka.
Orang yang ditetapkan masuk surga akan
berada di tempat yang penuh kenikmatan itu untuk selama-lamanya. Tidak akan dia
dikeluarkan dari tempat yang sangat indah serta memenuhi segala kebutuhan dan
keinginan penghuninya itu. Berapa lama mereka berada di sana? Tidak ada
batasnya. Pasti lebih dari jutaan, miliaran bahkan triliunan tahun. Sedangkan
yang berada di neraka akan terdiri atas penghuni tetap dan penghuni sementara.
Mereka yang sama sekali tidak beriman akan menjadi penghuni tetap, sedangkan
orang-orang yang beriman tetapi sering tidak tahan menghadapi godaan setan,
akan menjadi penghuni sementara. Berapa lama orang itu berada sementara di
neraka? Tergantung nilai keburukannya. Bisa jadi hanya beberapa puluh tahun,
tetapi mungkin juga beberapa juta atau beberapa miliar tahun.
Al-Qur’an bertanya kepada kita:
“Maka ke mana kamu akan pergi?” (QS At-Takwir 81: 26). Hanya ada dua jurusan
keberangkatan seseorang: menuju ke jannatun na’im - surga yang penuh
kenikmatan, atau ke Naru jahannam - neraka yang sarat kesengsaraan.
Surga adalah sebuah tempat, yang digambarkan oleh Rasul: belum pernah
dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah dapat
dibayangkan oleh seorangpun. Sedangkan neraka adalah kancah siksaan yang tidak
ada tolok bandingnya. Rasulullah Saw menggambarkan: "Seringan-ringan
siksaan di dalam neraka adalah dipakaikan kepada penghuninya dua borgol dari
api neraka, yang mengikat tangan dan kakinya. Dari borgol itu keluarlah panas
yang dahsyat, sedemikian sehingga mendidihlah otaknya seperti mendidihnya air
di dalam kuali". Bagi yang memilih jurusan pertama, silakan
meningkatkan takwa kepada Allah Swt dan beramal kebajikan sebagaimana yang
diperintahkan Allah. Bagi yang memilih jurusan kedua, silakan bergabung dengan
orang-orang yang berkata, seperti yang dituturkan pada QS Al-Jaatsiyah 45: 24: “Kehidupan
ini tidak lain kecuali kehidupan dunia saja. Di sini kita mati dan di sini kita
hidup. Tidak ada yang membinasakan kita kecuali waktu”.
Pembicaraan tentang maut meresahkan
segolongan orang, dan mengganggu keasyikan mereka tatkala sedang menikmati
kesenangan-kesenangan hidup. Tetapi Rasulullah Saw justru menyatakan:
Perbanyaklah ingatan tentang maut, karena ingatan itu akan mengurangi kelezatan
duniawi. Maka orang yang ingat mati tidak akan dijangkiti penyakit hubbud
dunya - penyakit yang akan menjauhkan dia dari kebahagiaan akhirat. Orang
yang banyak mengingat mati juga tidak akan dijangkiti kesombongan, kedengkian,
keresahan, kesedihan berlebihan - hal-hal yang mengganggu kesenangan di dunia
ini sendiri. Mudah-mudahan kita termasuk golongan orang yang tenteram di bumi
dan bahagia kelak di akhirat.
Sakib
Machmud
No. 180
Tidak ada komentar:
Posting Komentar