Rabu, 25 Juli 2012

PUASA, MEKANISME PEMBANGKIT KEBERHASILAN MENJADI MUTTAQIN


Banyak orang mengartikan kata takwa (taqwa) dalam Al-Qur’an dengan terjemahan satu kata ’takut’. Padahal yang sebenarnya, takwa adalah merupakan sikap atau perilaku sehari-hari dari seseorang yang mempunyai batas akan terkena azab Allah bila dia melanggar batas tersebut. Begitu pentingnya takwa ini dalam ajaran Islam ditunjukkan dengan banyaknya kata takwa yang terdapat dalam ayat-ayat Al- Qur’an. 

Diriwayatkan bahwa Nabi Dawud As berkata kepada putranya Nabi Sulaiman As: ”Anakku, tanda ketakwaan seseorang itu ada tiga, bertawakkal atas apa yang belum didapatkannya, rela dengan apa yang telah dimilikinya, dan sabar atas apa yang telah hilang darinya.” 

Menurut hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairrah Ra, Rasulullah Saw bersabda: ”Janganlah kalian saling dengki, saling membenci, dan saling memusuhi. Janganlah melakukan jual beli barang yang   masih dalam proses jual beli dengan orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Maka jangan ada kezhaliman, kebohongan, ketidak pedulian dan penghinaan. Takwa itu ada di sini (sambil menunjuk kedada beliau 3 kali). Menghina sesama muslim itu haram darahnya, hartanya dan kehormatannya.”
Dalam riwayat lain, yakni riwayat Muslim, Rasulullah bersabda: ”Barang siapa berjanji dengan mengucapkan sumpah, tapi kemudian dia melihat hal yang lebih sesuai dengan ketakwaan kepada Allah, maka hendaklah ia melakukan hal yang sesuai dengan ketakwaan itu.”
Begitu pentingnya perilaku takwa itu bagi pemimpin, menjelang wafatnya  Khalifah Abubakar, minta dipanggilkan Umar bin Khatab, orang yang telah diakui keimanannya oleh para sahabat. Kepada Umar beliau memberikan pesan dan kalimat pertama yang diucapkannya adalah: ”Bertakwalah kepada Allah wahai Umar.” Menurut Ali bin Abi Thalib, takwa adalah takut kepada Yang Maha Mulia (al-Jalil), mengamalkan Al-Qur’an (al-Tanzil), rela dengan yang sedikit (al-Qalil) dan bersiap menghadapi kematian (ar-Rahil).
Ibnu Abbas Ra mengartikan orang yang bertakwa adalah orang yang berusaha menghindarkan diri dari hukuman Allah atas ketidak-taatannya mengikuti petunjuk yang telah ia ketahui, dan mengharapkan rahmat Allah atas keyakinannya terhadap kebenaran ajaran Allah. Jadi takwa itu bukan saja berpuasa di siang hari dan shalat di malam hari, melainkan dengan meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah dan menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah, demikian menurut Umar bin Abdul Aziz.

Bagaimana takwa menurut Al-Quran? Paling tidak ada lima ayat yang menjelaskan bagaimana perilaku orang yang bertakwa, yakni QS Al Baqarah 2: 177, QS 17 Ali-’Imraan 3: 17 dan QS Al-An’aam 6: 151 – 153, yang berisi larangan dan anjuran.
Allah berfirman dalam surat yang mendahului sebelum perintah menjalankan puasa (QS Al-Baqarah 2: 183), yaitu QS Al Baqarah 2: 177:
لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّآئِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُواْ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاء والضَّرَّاء وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَـئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ .
Bukanlah kebaikan itu mengarahkan mukamu ke timur dan barat, tapi kebaikan ialah:
1. Amana billahi wal yaumil akhiri wal malaikati wal kittabi, wan nabiyyin(a), wa ’atal mala’alaa hubbihi  - beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab-kitab, kepada nabi (lima rukun iman).
2. zawil qurba wal yatama wal masakina wabnas sabil  was sailina wa firriqab - Mereka menafkahkan hartanya kepada anak yatim, kaum miskin, musafir dan kepada orang yang meminta-minta karena kesulitan hidup.

Perilaku lainnya bagi orang mutaqin adalah:
3. wa aqamash shalata - mendirikan shalat, 4. wa atazzakahta - membayar zakat 5  wal  mufuna bi ’ahdihim - memerdekakan hamba sahaya,  6. iza ’ahaduu - menepati janji, 7. wash shabirina fil ba’sa’i wadh dharraa’i, wahiinal ba’si - sabar  pada waktu dalam kesulitan, penderitaan dan peperangan, ulaa’ikal ladzina shadaqu wa uula’ika humul muttaqun(a) - Orang-orang demikianlah itulah yang benar dan merekalah orang yang bertakwa. Bukanlah kebaikan itu mengarahkan mukamu ke timur dan barat, tapi kebaikan ialah: (1) beriman  kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab-kitab, kepada nabi (lima rukun iman). Mereka (2) menafkahkan hartanya kepada anak yatim, kaum miskin, musafir dan kepada orang yang meminta-minta karena kesulitan hidup.

(3) mendirikan shalat, (4) membayar zakat (5) memerdekakan hamba sahaya (6)  menepati janji, (7) dan sabar pada   pada waktu dalam kesulitan, penderitaan dan peperangan, orang-orang demikianlah itulah yang benar dan merekalah orang yang bertakwa.
Pada intinya, yang disebut sebagai orang yang bertakwa menurut ayat ini adalah yang mereka yang mengamalkan 7 perintah Allah tersebut.
Dalam  QS Ali’Imraan 3: 7 Allah berfirman dan menjelaskan bahwa orang  muttaqin adalah orang-orang yang sabar, (8) lurus, (9) benar, (10) tetap taat, (11) menafkahkan hartanya dijalan Allah, dan (12) memohon ampunan di waktu sahur.
Sedangkan dalam QS Al-An’aam: 151-153, firman Allah menyatakan ada lima larangan dan lima anjuran bagi orang yang bertakwa. Lima larangan tersebut adalah, (13) jangan mempersekutukan Allah dengan apapun jua, (14) jangan kamu bunuh anak-anakmu karena takut miskin, (15) jangan melakukan perbuatan yang keji baik yang nampak maupun yang tersembunyi, (16) jangan membunuh jiwa / orang lain yang dilarang Allah kecuali karena menjalankan hukum yang adil, dan (17) jangan sekali-kali mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang baik. Lima anjuran Allah adalah, (18) berbuat baiklah kepada ibu dan bapak, (19) berkatalah dengan jujur walaupun akan memberati keluargamu, (20) cukupkan timbangan dengan betul, penuhi janji karena Allah dan turuti jalan yang lurus jangan menuruti jalan yang lain.
Untuk menjalankan 15 anjuran dan 5 larangan di atas (belum termasuk hadist Nabi) tidaklah mudah, karena Allah juga menciptakan syeitan yang selalu menggoda dari arah kiri, kanan, atas maupun dari bawah. Syeitan mengubah larangan menjadi anjuran dan anjuran menjadi larangan, serta mematikan gairah, sehingga manusia menjadi malas.
Syeitan juga menggoda melalui harta, tahta / jabatan, anak-anak dan wanita. Kebanyakan bangsa kita yang mengaku ummat Muhammad bahkan mereka yang memakai titel haji-pun tidak dapat mengamalkan perilaku persyaratan muttaqin di atas secara kaffah. Mereka beriman, mereka menafkahkan hartanya kepada anak yatim, namun mereka mendapatkan hartanya dengan jalan yang tidak baik. Banyak pemimpin dan pejabat pemerintah dan negara tidak amanah terhadap jabatan yang diembannya. Mereka solat, membayar zakat tetapi ada yang hatinya tidak lurus, tidak adil/ tidak mencukupkan timbangan. Bahkan ada, dan banyak yang  berperilaku: Keuangan yang kuasa. Dengan uang ia bisa menjadi pejabat: pegawai pemda, polisi, jaksa , bahkan hakim, bupati, walikota, gubernur, anggota DPR / D. Dengan uang ia dapat bebas dari jeratan hukum yang ada di dunia. Dengan uang dan kemewahan ia akan dihormati masyarakat yang sedang sakit materialisme.
Alhamdulillah, Allah Swt menciptakan qalbu dan akal yang terdapat pada manusia. Dengan qalbu, nafs dan akal kaum mu’minin diwajibkan menjalankan ibadah shaum di bulan Ramadhan. Di bulan yang agung ini jasad kita dilemahkan dengan menahan lapar dan dahaga, sehingga yang kuat dan muncul seharusnya adalah jiwa atau ruh kita. Insya Allah dengan menjalankan puasa selama satu bulan penuh dan puasa sunnah di bulan atau harhari lainnya dengan sungguh-sungguh,  akan menjadi  dasar mekanisme pembangkit keberhasilan  untuk menjadi manusia yang bertakwa (muttaqin).
Karena itu sebaiknya dalam menjalankan ibadah saum  tidak hanya jasad saja yang dilemahkan, tetapi ruh atau jiwa kita harus diperkuat, yakni  diisi dengan hal-hal yang mendekatkan diri kita kepada Allah Sang Pencipta manusia dan alam semesta, Rabbal’alamien, sehingga qalbu menjadi bersih. Untuk berkomunikasi dengan Allah, diperlukan jiwa yang bersih dan raga memerlukan ketenangan. Energi yang dipancarkan oleh ruh / jiwa ini sering lebih dahsyat dari energi yang dihasilkan raga. Apabila menjalankan ibadah di bulan Ramadhan dianggap sebagai latihan untuk memperkuat jiwa, maka latihan ini akan menjadi lebih ringan, karena Allah memerintahkan syeitan untuk dibelenggu .
Mengapa kita harus menjadi orang yang bertakwa / muttaqin, karena  kita tahu bahwa ada empat tingkatan bagi pemeluk agama Islam, yakni: muslim, mu’min, mukhsin dan yang paling tinggi adalah muttaqin. Tingkatan yang teringgi inilah yang akan kita capai, yang menjadi cita-cita setiap muslim.
Mudah-mudan Allah memberikan kekuatan lahir dan batin agar kita dapat melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini dengan sungguh-sungguh, secara kaffah - menyeluruh, sehingga kita dijadikanNya menjadi orang-orang yang bertakwa, sesuai dengan perintah Allah tentang takwa, yakni orang mu’min yang dapat  menjalankan 15 anjuran  dan 5 larangan-Nya seperti yang dijelaskan di atas.       
La haula walla quwwata illa billah. Rabbana hablanna min aswajinnaa waduryattinaa qurrota’ayun waja’alna lil muttaqinna immamah. Rabbana attinna fidunya khasanah, wa fil akhirati khasanah, waqinna adzabbannaar. Subhanakaa Rabbiizatti ama yasysyifun wassalamun allal mursalin walhamdulillahi robbil’alamien. Amien, amien ya Rabbal alamien. 

Djoeffan Nawawi
No. 155
BIODATA RINGKAS
H. Djoeffan Nawawi, Ir.
Lahir: Malang, Nopember 1947
Pendidikan: Jurusan Sipil, ITB, Bandung (1975) setelah 3 tahun bekerja di PT Propelat.
Aktivis Masjid Salman ITB 1965-an
Aktivis Angkatan 66 Bandung,
Anggota Majelis Permusyawaratan Mahasiswa  ITB
Pemimpin Redaksi Berita-Berita ITB
Anggota HMI Bandung
Bendahara Yayasan Pendidikan Islam UNISBA  (Ketua Umum: Prof. Dr. Bagir Manan).
Ketua Yayasan Al Mukaromah
Ketika Partai Amanat Nasional (PAN) didirikan, menjabat Ketua I DPW PAN Jawa Barat.



Minggu, 15 Juli 2012

HAKIKAT MERAIH SUKSES



Semua orang tentu mengnginkan hidup sukses. Meraih sukses adalah fitrah manusia. Oleh karena itu setiap orang mempunyai cita-cita dan harapan, kesibukan dan beragam kegiatan. Setiap anak diberi motivasi untuk rajin belajar,  setiap remaja diarahkan untuk menjadi cerdas dalam bergaul, dan setiap pemuda dibimbing untuk memiliki jiwa kepemimpinan. Semua ini terjadi karena fitrah manusia ingin meraih sukses.

Sayangnya di era modern ini, sukses selalu identik dengan kekayaan, kedudukan dan kekuasaan. Tidak begitu banyak lagi orang yang beranggapan terpeliharanya iman, akhlak, dan ketekunan dalam hal beramal ibadah sebagai suatu prestasi. Mengapa tidak banyak orang yang benar-benar serius memelihara imannya? Karena mereka menjadikan agama tidak lebih dari ritual dan seremonial belaka.
Kondisi tersebut mengantarkan sebagian besar ummat Islam pada cara berpikir pragmatis atau instan. Akibatnya mereka tidak mampu memahami hakikat kebahagiaan. Hanya kesenangan berupa materi-jasadiah saja yang mampu membuat mereka tersenyum. Padahal hakikat kesuksesan itu terletak pada kuatnya iman, kokohnya aqidah, dan tegaknya amal ibadah setiap Muslim.
Untuk itu diperlukan mujahadah - kesungguhan dengan mengerahkan energi spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt (taqarrub) dalam memelihara iman, memurnikan aqidah, dan menegakkan amal ibadah. Apabila iman terpelihara, akidah terjaga, dan amal ibadah terlaksana dengan baik, maka akan tumbuh mental kerja yang kuat dibanding mereka yang tidak terpelihara imannya. Orang beriman siap bekerja lebih hebat tanpa imbalan apapun dari manusia. Ia yakin benar dengan firman Allah: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.” (QS Al-Israa’ 17: 7).
Itulah keyakinan para Nabi dan Rasul, yang karenanya, mereka dikenang dan dijadikan tauladan oleh Allah Swt bagi kita semua. Nabi dan Rasul itu diteladani bukan karena atribut, kekayaan, kedudukan, kekuasaan atau apapun, melainkan karena keimanannya yang teguh kepada Allah Swt, serta mujahadah mereka yang sangat luar biasa untuk meraih keridhaan Allah Swt.
Jika dilihat dari sudut pandang keduniawian (materi), hampir semua Nabi dan Rasul hidup serba kekurangan bahkan sengsara. Kesabaran mereka benar-benar ditempa hingga sampai derajat sempurna. Dengan demikian tidak ada prototype manusia paling sempurna bagi seorang Muslim selain para Nabi dan Rasul.
Sukses Hakiki
Apa yang dimaksud sukses hakiki bagi seorang Muslim? Tentu tidak lain adalah keridhaan Allah Swt. Dengan ridha-Nya kita akan menerima balasan terbaik dari-Nya berupa surga, sebuah tempat penuh kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan yang dihadiahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang diridhai. Keridhaan Allah itu akan diberikan kepada siapa saja yang ber-mujahadah mendapatkannya. Tidak peduli orang miskin, kaya, tampan, cantik, besar, kecil, putih, hitam, tinggi, pendek, pejabat atau rakyat biasa sekalipun, semua orang berpeluang sama untuk mendapat keridhaan Allah Swt, sebagaimana janji-Nya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”  (QS Al-Ankabuut 29:  69).
Ridha Allah adalah dambaan setiap Muslim yang menyadari bahwa itulah harta termahal yang pantas diperebutkan oleh manusia. Tanpa ridha Allah, hidup kita akan hampa, kering, tidak dapat merasakan nikmat atas segala apa yang telah ada di genggaman kita. Bermacam masalah silih berganti menyertai hidup kita, harta berlimpah, makanan berlebih namun ketika tidak ada ridha-Nya, semua menjadi hambar. Tidak tahu ke mana tujuan hidup, merasa bosan dengan keadaan, seolah-olah hari berlalu begitu saja, begitu cepat namun tanpa disertai dengan perubahan kebaikan hari demi hari. Sehingga merasa “mengapa hidup hanya begini-begini saja?”
Apa sebenarnya ridha Allah itu? Allah Swt berfirman: “Maka berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalananan. Itulah yang lebih baik bagi orang yang mencari keridhaan Allah. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Ar-Rum 30: 38).
Seperti dijelaskan pada ayat di atas, itu adalah sebagian cara yang ditunjukkan Allah pada kita untuk mendapatkan ridha-Nya di samping kita wajib selalu bertakwa pada-Nya, istiqamah dalam ibadah,dan masih banyak lagi yang bisa mengundang rahmat-Nya bukan justru mendatangkan murka-Nya. Memberikan hak orang yang dimaksud Allah bukan hanya bisa dilakukan oleh orang yang kelebihan harta namun bisa dilakukan oleh orang yang sadar dan ikhlas bahwa letak ketentraman hidup itu ada pada restu, ridha dan rahmat Allah. Boleh jadi rezeki yang Allah berikan pada kita hanya pas-pasan untuk makan sehari hari dan biaya hidup keluarga, namun ketika Allah telah berkenan memberi ridha-Nya, rezeki yang pas itu menjadi berkah berupa keluarga sakinah - tenteram, keluarga sehat wal afiat tidak diberikan penyakit yang menguras rezeki kita, diberi keringanan beribadah, baik shalat, zakat, sedekah, sehingga hari hari yang dilalui dalam hidup penuh dengan rasa syukur.
Sekarang marilah kita melakukan muhasabah – introspeksi diri. Sudahkah kita memberikan haknya kerabat dekat, orang miskin, orang yang dalam perjalanan, sudahkan kita bertakwa berada di jalan lurus-Nya, sudahkah kita istiqamah dalam ibadah mewujudkan rukun Islam dalam kehidupan sehari-hari, sudahkah kita meniatkan setiap yang kita lakukan untuk mencari ridha-Nya? Atau apakah kita justru serakah, menggenggam erat harta yang Allah titipkan sehingga harta yang seharusnya bisa kita gunakan untuk ibadah, justru menghantarkan akan kita ke pintu neraka?
Setelah kita mendapat jawabannya. tentu kitapun tahu, sudahkah kita dapatkan ridha-Nya dalam hidup kita? Kita memang tidak dapat melihat wujud ridha itu dengan mata, akan tetapi insya Allah kita akan bisa merasakan dengan hati, ketika kita berjuang untuk mendapatkannya dengan senantiasa menjauhi larangan-Nya, dan mengamalkan serta mengajarkan perintah-Nya.
Belajar dari Sahabat Mush’ab Ibn Umair
Dunia dan segala kenikmatan di dalamnya, pada haklikatnya hanyalah ujian. Siapa yang menjadikannya sebagai tujuan, maka binasalah ia untuk selama-lamanya. Hal ini bisa kita buktikan melalui sunatullah kehidupan, bahwa apapun yang ada di dunia ini  akan mengalami perubahan bahkan hilang. Wanita yang hari ini cantik, esok akan tua dan keriput, dan hilanglah kecantikannya. Manusia yang hari ini menjabat, esok akan berhenti, lalu tua renta, dan selesailah riwayatnya. Demikian pula kekayaan, pada akhirnya semua akan hilang dengan sendirinya dan mau tak mau pasti ditinggalkan.
Kesadaran tersebut rupanya tertanam kuat pada sahabat Rasullullah Saw bernama Mushab ibn Umair bin Hashim bin Abd Munaf yang dikenal sebagai Duta Islam Pertama. Pemuda yang dari lahir hingga dewasa selalu hidup dalam kemewahan, wajahnya yang tampan, telah menjadikan dirinya sangat mempesona. Setiap gadis di Makkah mendambakan menjadi isterinya Termasuk juga para janda, bahkan wanita yang bersuami sangat mendambakan Mush’ab ibn Umair.
Mungkin dalam pandangan kaum pragmatis di abad modern ini, Mush’ab adalah laki-laki yang sangat beruntung. Ia punya kesempurnaan seperti itu. Ibunya, Khannas adalah saudagar terkaya di Makkah. Namun Mush’ab tak pernah bersikap congkak dan menyombongkan diri. Ia justru dikenal sebagai pemuda yang santun dan rendah hati, lengkap dengan akhlak yang baik, serta kepribadian yang terpuji. Bahkan Mash’ab dikenal memiliki pemikiran yang cerdas lagi bijaksana.
Mush’ab yang masih muda mendengar tentang munculnya seorang Nabi terpilih di kalangan kaum Quraisy. Seorang Nabi yang membaca ajaran tauhid. Didorong oleh rasa ingin tahunya yang besar, maka Mus'ab pun pergi menemui Nabi Muhammad Saw untuk mendengar sendiri ajaran yang dibawa oleh beliau. Suatu malam, Mus'ab memutuskan untuk pergi ke rumah Al-Arqaam Ibn Al-Arqaam - yang kemudian dikenal dengan Daar al-Arqaam di kalangan Muslim, meninggalkan teman-temannya yang sedang berkumpul. Di sinilah Mus'ab bertemu dengan Nabi Saw ketika itu, tanpa diketahui oleh orang-orang Quraisy. Di sinilah Mush'ab mendengar Rasulullah berbicara tentang masa depan Islam, mendengar ayat-ayat Al-Qur’an dan shalat di belakang Rasulullah Saw. Malam itu, Mush'ab duduk bersama Muslim lainnya, mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang dikumandangkan oleh Rasulullah Saw. Ketika itulah, Mush'ab lupa akan kesenangan hidup di dunia, menemukan kunci kebahagiaan abadi.
Ketika ia memutuskan diri untuk menganut ajaran Islam, seketika kehidupan Mush’ab berubah. Sang ibu yang semula sangat menyayangi anaknya, berubah menjadi ganas dan beringas, ketika Mush’ab mengikuti ajaran Rasulullah Saw. Berkali-kali Mush’ab dipenjara oleh keluarganya. Namun ia tetap teguh dengan keIslamannya.
Akhirnya, ketika penduduk Yastrib (Madinah) banyak yang ingin mempelajari Islam, Rasulullah Saw pun mengutus Mush’ab ibn Umair untuk mengajari mereka. Setiap hari Mush’ab menghabiskan waktunya untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada penduduk Yastrib. Sampai akhirnya tiba panggilan jihad di gunung Uhud.
Karena kelalaian pasukan pemanah di atas bukit, pasukan Islam yang tidak lama lagi akan memenangkan peperangan justru di serang balik dan terus menerus terdesak. Akhirnya banyak pasukan Muslim yang terbunuh dalam serangan balik itu. Bahkan Rasulullah Saw sendiri menderita luka-luka yang cukup parah.
Di tengah kepanikan seperti itu, Mush’ab dan beberapa sahabat lain menjadikan diri sebagai benteng hidup untuk melindungi Rasulullah Saw dari serangan musuh. Sambil memegang panji Islam, Mush’ab berteriak lantang membangkitkan semangat tempur ummat Islam. Ibn Qami’ah, seorang kavaleri Qurays, berusaha menerobos benteng hidup yang melindungi Rasulullah Saw dan mengayunkan pedangnya ke tubuh Mush’ab. Malang tak terhindarkan, pedang Qami’ah membabat putus tangan Mush’ab. Panji Islam terjatuh, namun Mush’ab segera meraihnya dengan tangan kiri. Melihat hal itu Qami’ah segera membabat tangan kiri sahabat Rasulullah itu. Sekali lagi panji Islam terjatuh. Namun Mush’ab masih berusaha meraih panji itu dengan kedua lengan yang tersisa. Namun apa boleh buat, dua penunggang kuda Qurays datang membantu Qami’ah. Mereka mengepung Mush’ab hingga ia gugur sebagai syuhada. Bahagialah Mush’ab ibn Umair.
Atas peristiwa itu turunlah firman Allah Swt kepada ummat Islam: “Janganlah kamu menduga bahwa orang-orang yang gugur  di jalan Allah itu mati, tetapi mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS Ali-‘Imraan 3: 169-170). Mush’ab sungguh beruntung, ia meninggal dalam keadaan membela agama Islam. Hari-harinya ia habiskan  untuk berdakwah mengajarkan Islam, membaca Al-Qur’an. Sungguh luar biasa Mush’ab ibn Umair. Kejadian yang menimpanya mengundang ayat suci Al-Qur’an turun untuk mejelaskan perihal Musha’ab yang sesungguhnya.
Oleh karena itu, marilah kita mengisi hari dan waktu kita untuk agama Allah secara mujahadah. Jangan mudah tergoda bujuk rayu nafsu atau janji-janji syeitan. Kese-nangan dunia hanyalah sementara, pergunakanlah hidup ini untuk akhirat. Hendaknya kita semua senantiasa mengisi waktu kita dengan amal shaleh, hingga saatnya kelak kita dipanggil oleh Allah dalam keadaan mulia lagi dirihai-Nya. Sungguh tiada jalan lain untuk sukses hakiki, seperti yang Mush’ab ibn Umair telah raih, selain ber-mujahadah dalam menjalankan perintah Allah Swt dan Rasul-Nya.

Beberapa hari lagi kita akan bertemu kembali dengan bulan suci Ramadhan, yang merupakan momentum yang tepat untuk melakukan muhasabah secara mujahadah untuk meraih sukses yang hakiki. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan.
Hermanto Harsolumakso
No. 154

Sabtu, 07 Juli 2012

TAWAKKAL DAN PERCAYA DIRI


Firman Allah di dalam Al-Qur’an: “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS Al-Maaidah 5: 23). Di dalam surat lain Allah berfirman: ”...maka karena itu hendaklah orang-orang mu’min bertawakkal kepada Allah saja.” (QS At-Taghaabun 64: 13).
Bagi seorang Muslim, tawakkal tidak hanya dianggap sebagai kewajiban moral semata, melainkan juga suatu kewajiban agama dan dianggap sebagai aqidah Islam. Hal tersebut didasarkan pada perintah Allah dalam firman-Nya seperti tercantum dalam ayat Al-Qur’an di atas.
Atas dasar ini, tawakkal secara mutlak kepada Allah merupakan bagian dari aqidah orang yang beriman kepada Allah. Seorang Muslim memahami  tawakkal sebagai bagian dari pada Iman dan aqidahnya, bahwa tawakal adalah taat kepada Allah dengan kewajiban memenuhi segala apa yang dituntut sebagai penyebab bagi setiap upaya yang ingin diperoleh buah atau hasilnya. Dengan demikian, ia tidak berobsesi ingin memperoleh sesuatu apapun tanpa melakukan upaya sebagai faktor penyebab untuk memperolehnya. Sesudah itu, barulah ia menyerahkan hasil yang ingin diperolehnya kepada Allah Swt, sebab hanya Dia lah yang berkuasa atas segala sesuatu, sedangkan selain Dia tidak kuasa.
Tawakkal, menurut pandangan orang Islam adalah amal dan pengharapan  yang disertai dengan ketenteraman hati dan ketenangan jiwa, serta berkeyakinan bahwa apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak mungkin terjadi. Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala bagi orang yang berbuat kebajikan.
Tawakkal secara mutlak kepada Allah, menurut pemahaman orang Islam tidak sama dengan yang dipahami oleh orang-orang yang tidak mengerti atau di luar Islam, serta tidak sama dengan yang dipahami oleh mereka yang memusuhi  aqidah kaum Muslimin. Sebab, tawakkal yang dipahami oleh orang-orang di luar Islam serta memusuhi aqidah kaum Muslimin adalah semata-mata hanya berupa kata-kata yang terucap oleh lidah tanpa disadari oleh hati dan dimengerti oleh akal tanpa dicerna oleh pikiran, atau merupakan sikap yang meniadakan sebab, atau meninggalkan usaha sehingga akhirnya menyerah dan mau menerima kehinaan dengan berlindung  pada semboyan ‘tawakkal kepada Allah’ dan ‘ikhlas menerima takdir’.
Seorang Muslim percaya bahwa alam semesta mengikuti sunnatullah. Atas dasar itu ia harus mengikutinya, sehingga untuk meraih apa yang diinginkan iapun dituntut agar mengikuti dan memenuhi persyaratan sebagaimana lazimnya  sebagai ‘faktor penyebab’. Namun demikian, ia tidak menganggap bahwa faktor penyebab merupkan jaminan bagi keberhasilan dalam meraih apa yang diinginkan. Orang Islam tidaklah beranggapan demikian, melainkan beranggapan bahwa faktor penyebab hanya sebagai ‘perintah’ dari Allah agar diikuti dan dipenuhi seperti halnya keharusan menaati  apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang Allah dalam urusan-urusan yang lain.
Adapun tentang keberhasilan mewujudkan apa yang diinginkan, hal ini sepenuhnya diserahkan kepada Allah, mengingat hanya Dia sendiri ‘tanpa yang lain’  yang kuasa terhadap apa yang ia inginkan. Sebab, segala yang Allah kehendaki pasti terjadi dan segala yang tidak Allah kehendaki pasti tidak akan terjadi. Betapa banyak orang yang bekerja keras, tetapi tidak menikmati hasil kerjanya, dan betapa banyak orang yang menanam tetapi tidak memanen apa yang ditanamnya.  Padahal berbagai upaya ‘sebagai faktor penyebab’ telah ditempuh dan dipenuhi sebagaimana lazimnya agar kerja keras dan apa yang ditanamnya itu berbuah.
Dengan demikian menurut pandangan hidup orang Islam, menggantungkan nasib hanya kepada sebab saja dan menganggapnya sebagai satu-satunya yang mengakibatkan tercapainya keberhasilan adalah kufur dan syirik. Demikian pula sebaliknya, meninggalkan sebab dan mengabaikan usaha padahal ia mampu adalah fasik dan durhaka, karena bersikap demikian itu dilarang dan dianggap sebagai perbuatan maksiat.   
Pandangan orang Islam berkenaan dengan faktor penyebab berdasarkan ajaran Rasulullah Saw dan filsafat yang berasal dari jiwa keIslamannya. Beliau dalam berbagai perang yang dilakukannya tidak pernah melalaikan faktor penyebab yang harus dipenuhi agar perang tersebut dimenangkannya. Beliau tidak pernah melakukan perang sebelum mempersiapkan senjata dan faktor-faktor penyebab untuk memenangkan perang tersebut.  Diriwayakan, bahwa beliau tidak pernah melakukan serangan pada saat terik matahari.
Dalam kondisi demikian beliau selalu menunggu sampai udara  menjadi sejuk (dingin) pada sore hari. Bilamana segala sarana pendukung sudah dipersiapkan, barulah beliau bergerak seraya memohon kepada Allah: “Ya Allah yang menurunkan kitab, yang menggerakkan awan, dan yang mengalahkan musuh, kiranya Engkau berkenan mengalahkan mereka, dan tolonglah kami untuk mengalahkan mereka.”(Muttafaq ‘alaih).
Demikianlah petunjuk beliau dalam memadukan faktor penyebab yang bersifat material dengan yang bersifat spiritual. Kemudian keberhasilan apa yang diupayakannya diserahkan kepada Allah.
Sebagai contoh dikemukakan di sini melalui kisah Rasulullah Saw pada saat-saat menjelang hijrah ke Madinah. Beliau terlebih dulu menunggu perintah dari Allah untuk hijrah ke Madinah. Peristiwa ini terjadi sesudah sebagian besar para sahabatnya hijrah ke sana. Apa yang beliau lakukan untuk hijrah ke Madinah sesudah mendapat ijin dari Allah? Ternyata langkah-langkah yang ditempuh beliau adalah melakukan persiapan dengan cermat dan matang sebagai berikut: 1. Mengajak Abu Bakar sebagai sehabat pilihannya untuk menjadi teman hijrah ke Madinah. 2. Menyiapkan perbekalan berupa makanan dan minuman yang diantarkan oleh Asma’ binti Abu Bakar. Dikisahkan bahwa makanan dan minuman tersebut diantar oleh Asma’ dengan diikatkan pada ikat pinggangnya, sehingga ia dijuluki sebagai si empunya dua ikat pinggang (Zaitun-Nitaqain). 3. Menyiapkan unta yang istimewa  sebagai kendaraan, karena perjalanan yang akan ditempuh jauh dan berat. 4. Menyertakan seorang penunjuk jalan yang mengenal betul seluk beluk perjalanan menuju Madinah yang penuh rintangan. 5. Ketika hendak keluar dari rumah yang yang telah dikepung musuh, beliau menyuruh puteranya Ali bin  Abi Thalib agar tidur di tempat tidur beliau. Ini sebagai taktik mengelabui musuh yang sedang menunggu di luar untuk membunuhnya. 6. Kemudian beliaupun  keluar meninggalkan rumah dengan membiarkan musuh-musuhnya yang sedang menunggu beliau bangun dari tempat tidur, karena mereka menduga bahwa beliau masih berada di tempat tidur.
Dikisahkan, bahwa mereka dapat melihat dari celah pintu, bagian dalam dari kamar Rasululah. Dikisahkan pula bahwa mereka telah sepakat hendak membunuh Rasulullah serentak saat beliau keluar rumah.
Tatkala kaum musyrikin mengejar Rasulullah beserta sahabatnya Abu Bakar yang telah meninggalkan mereka, maka Nabi pun berlindung dan masuk ke dalam gua Saur agar terhindar dari mata-mata mereka yang mencarinya. Abu Bakar berkata kepada Rasulullah: “Jika salah seorang dari mereka  melihat ke bawah, tentu dia akan melihat kita ya Rasulullah”. Maka Rasulullah berkata kepada Abu Bakar menghibur, bahwa dalam kesendirian mereka hanya berdua, namun Allah beserta mereka sebagai yang ketiganya.
Dari peristiwa di atas yang menunjukkan dengan jelas perpaduan antara iman dengan tawakkal dapat ditegaskan di sini, bahwa Rasulullah tidak mengingkari faktor penyebab dan tidak pula menggantungkan diri terhadap-Nya. Namun sebagai seorang Mukmin beliau menyerahkan buah segala upaya yang telah ditempuhnya kepada Allah. Beliau dengan penuh keyakian yang mantap menyerahkan segala urusannya kepada Allah Yang Maha Kuasa. Rasulullah setelah berusaha secara maksimal dalam upaya mencari keselamatan, sampai beliau pun berlindung dalam gua yang gelap, sebagai tempat yang biasa dihuni oleh kalajengking dan ular, lalu sebagai orang yang beriman dan bertawakkal kepada Allah beliau berkata kepada sahabatnya Abu Bakar, tatkala ia dicekam rasa takut: “Jangan bersedih. Karena Allah beserta kita. Bagaimana dugaanmu kepada dua orang ini sampai seperti itu, wahai Abu Bakar, padahal Allah sebagai yang ketiganya?” (HR Al-Bukhari).
Demikianlah pandangan orang Islam terhadap peran usaha manusia, yang semuanya berpedoman kepada wahyu Allah dan sunnah Rasullullah, dengan tidak dikurangi dan tidak ditambah.
Tawakkal secara mutlak kepada Allah, mengantarkan seorang Muslim pada rasa ‘percaya diri’ karena ia merasa tidak sendiri kecuali berada di bawah lindungan dan ridho Allah.
Seorang Muslim harus percaya diri dan bertumpu pada kemampuan diri sendiri dalam beramal dan mencari rizki, artinya tidak bergantung kepada siapapun dan hanya menyampaikan kebutuhannya serta memohon pertolongan hanya kepada Allah. Apabila suatu pekerjaan dapat dilaksanakan oleh dirinya sendiri dan suatu kebutuhan dapat dipenuhi tanpa bantuan orang lain, maka ia tidak akan minta pertolongan kepada siapapun selain hanya kepada Allah. Sebab bila dalam kondisi ini masih saja ia meminta pertolongan kepada mahluk lain, maka berarti ia menggantungkan diri kepada selain Allah. Saat Rasulullah Saw mengambil sumpah setia dari orang Islam, beliau menyuruhnya agar menegakkan shalat, membayar zakat, dan tidak meminta bantuan kepada orang lain dalam memenuhi kebutuhannya selain hanya kepada Allah.
Seorang Islam hidup dengan aqidah (filsafat) tawakkal kepada Allah dan bertumpu pada diri sendiri seperti dikemukakan diatas, hal ini berdasarkan petunjuk dari Al-Qur’an dan sunnah Rasul, antara lain, firman Allah: “Dan bertawakllah kepada Allah yang hidup (kekal) tidak mati .....” (QS Al-Furqaan 25: 58). Dan firman Allah dalam ayat yang lain: “ .... cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS Ali ‘Imraan 3: 173). Sabda Nabi Saw: “Seandainya kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, maka pasti kamu akan diberi rizki seperti halnya burung, ia pergi dengan perut kosong dan pulang dengan perut kenyang.” (HR At-Tirmidzi).
Dalam sebuah Hadits dikemukakan, bahwa Nabi Saw bila keluar dari rumahnya mengucapkan: “Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tiada daya upaya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah.” (HR At-Tirmidzi).
(Disarikan dari Kitab Pedoman Hidup Muslim, karangan Abu Bakr Jabir al-Jaza’iri)
Mohammad Kamal
No. 153