Rabu, 25 Juli 2012

PUASA, MEKANISME PEMBANGKIT KEBERHASILAN MENJADI MUTTAQIN


Banyak orang mengartikan kata takwa (taqwa) dalam Al-Qur’an dengan terjemahan satu kata ’takut’. Padahal yang sebenarnya, takwa adalah merupakan sikap atau perilaku sehari-hari dari seseorang yang mempunyai batas akan terkena azab Allah bila dia melanggar batas tersebut. Begitu pentingnya takwa ini dalam ajaran Islam ditunjukkan dengan banyaknya kata takwa yang terdapat dalam ayat-ayat Al- Qur’an. 

Diriwayatkan bahwa Nabi Dawud As berkata kepada putranya Nabi Sulaiman As: ”Anakku, tanda ketakwaan seseorang itu ada tiga, bertawakkal atas apa yang belum didapatkannya, rela dengan apa yang telah dimilikinya, dan sabar atas apa yang telah hilang darinya.” 

Menurut hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairrah Ra, Rasulullah Saw bersabda: ”Janganlah kalian saling dengki, saling membenci, dan saling memusuhi. Janganlah melakukan jual beli barang yang   masih dalam proses jual beli dengan orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Maka jangan ada kezhaliman, kebohongan, ketidak pedulian dan penghinaan. Takwa itu ada di sini (sambil menunjuk kedada beliau 3 kali). Menghina sesama muslim itu haram darahnya, hartanya dan kehormatannya.”
Dalam riwayat lain, yakni riwayat Muslim, Rasulullah bersabda: ”Barang siapa berjanji dengan mengucapkan sumpah, tapi kemudian dia melihat hal yang lebih sesuai dengan ketakwaan kepada Allah, maka hendaklah ia melakukan hal yang sesuai dengan ketakwaan itu.”
Begitu pentingnya perilaku takwa itu bagi pemimpin, menjelang wafatnya  Khalifah Abubakar, minta dipanggilkan Umar bin Khatab, orang yang telah diakui keimanannya oleh para sahabat. Kepada Umar beliau memberikan pesan dan kalimat pertama yang diucapkannya adalah: ”Bertakwalah kepada Allah wahai Umar.” Menurut Ali bin Abi Thalib, takwa adalah takut kepada Yang Maha Mulia (al-Jalil), mengamalkan Al-Qur’an (al-Tanzil), rela dengan yang sedikit (al-Qalil) dan bersiap menghadapi kematian (ar-Rahil).
Ibnu Abbas Ra mengartikan orang yang bertakwa adalah orang yang berusaha menghindarkan diri dari hukuman Allah atas ketidak-taatannya mengikuti petunjuk yang telah ia ketahui, dan mengharapkan rahmat Allah atas keyakinannya terhadap kebenaran ajaran Allah. Jadi takwa itu bukan saja berpuasa di siang hari dan shalat di malam hari, melainkan dengan meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah dan menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah, demikian menurut Umar bin Abdul Aziz.

Bagaimana takwa menurut Al-Quran? Paling tidak ada lima ayat yang menjelaskan bagaimana perilaku orang yang bertakwa, yakni QS Al Baqarah 2: 177, QS 17 Ali-’Imraan 3: 17 dan QS Al-An’aam 6: 151 – 153, yang berisi larangan dan anjuran.
Allah berfirman dalam surat yang mendahului sebelum perintah menjalankan puasa (QS Al-Baqarah 2: 183), yaitu QS Al Baqarah 2: 177:
لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّآئِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُواْ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاء والضَّرَّاء وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَـئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ .
Bukanlah kebaikan itu mengarahkan mukamu ke timur dan barat, tapi kebaikan ialah:
1. Amana billahi wal yaumil akhiri wal malaikati wal kittabi, wan nabiyyin(a), wa ’atal mala’alaa hubbihi  - beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab-kitab, kepada nabi (lima rukun iman).
2. zawil qurba wal yatama wal masakina wabnas sabil  was sailina wa firriqab - Mereka menafkahkan hartanya kepada anak yatim, kaum miskin, musafir dan kepada orang yang meminta-minta karena kesulitan hidup.

Perilaku lainnya bagi orang mutaqin adalah:
3. wa aqamash shalata - mendirikan shalat, 4. wa atazzakahta - membayar zakat 5  wal  mufuna bi ’ahdihim - memerdekakan hamba sahaya,  6. iza ’ahaduu - menepati janji, 7. wash shabirina fil ba’sa’i wadh dharraa’i, wahiinal ba’si - sabar  pada waktu dalam kesulitan, penderitaan dan peperangan, ulaa’ikal ladzina shadaqu wa uula’ika humul muttaqun(a) - Orang-orang demikianlah itulah yang benar dan merekalah orang yang bertakwa. Bukanlah kebaikan itu mengarahkan mukamu ke timur dan barat, tapi kebaikan ialah: (1) beriman  kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab-kitab, kepada nabi (lima rukun iman). Mereka (2) menafkahkan hartanya kepada anak yatim, kaum miskin, musafir dan kepada orang yang meminta-minta karena kesulitan hidup.

(3) mendirikan shalat, (4) membayar zakat (5) memerdekakan hamba sahaya (6)  menepati janji, (7) dan sabar pada   pada waktu dalam kesulitan, penderitaan dan peperangan, orang-orang demikianlah itulah yang benar dan merekalah orang yang bertakwa.
Pada intinya, yang disebut sebagai orang yang bertakwa menurut ayat ini adalah yang mereka yang mengamalkan 7 perintah Allah tersebut.
Dalam  QS Ali’Imraan 3: 7 Allah berfirman dan menjelaskan bahwa orang  muttaqin adalah orang-orang yang sabar, (8) lurus, (9) benar, (10) tetap taat, (11) menafkahkan hartanya dijalan Allah, dan (12) memohon ampunan di waktu sahur.
Sedangkan dalam QS Al-An’aam: 151-153, firman Allah menyatakan ada lima larangan dan lima anjuran bagi orang yang bertakwa. Lima larangan tersebut adalah, (13) jangan mempersekutukan Allah dengan apapun jua, (14) jangan kamu bunuh anak-anakmu karena takut miskin, (15) jangan melakukan perbuatan yang keji baik yang nampak maupun yang tersembunyi, (16) jangan membunuh jiwa / orang lain yang dilarang Allah kecuali karena menjalankan hukum yang adil, dan (17) jangan sekali-kali mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang baik. Lima anjuran Allah adalah, (18) berbuat baiklah kepada ibu dan bapak, (19) berkatalah dengan jujur walaupun akan memberati keluargamu, (20) cukupkan timbangan dengan betul, penuhi janji karena Allah dan turuti jalan yang lurus jangan menuruti jalan yang lain.
Untuk menjalankan 15 anjuran dan 5 larangan di atas (belum termasuk hadist Nabi) tidaklah mudah, karena Allah juga menciptakan syeitan yang selalu menggoda dari arah kiri, kanan, atas maupun dari bawah. Syeitan mengubah larangan menjadi anjuran dan anjuran menjadi larangan, serta mematikan gairah, sehingga manusia menjadi malas.
Syeitan juga menggoda melalui harta, tahta / jabatan, anak-anak dan wanita. Kebanyakan bangsa kita yang mengaku ummat Muhammad bahkan mereka yang memakai titel haji-pun tidak dapat mengamalkan perilaku persyaratan muttaqin di atas secara kaffah. Mereka beriman, mereka menafkahkan hartanya kepada anak yatim, namun mereka mendapatkan hartanya dengan jalan yang tidak baik. Banyak pemimpin dan pejabat pemerintah dan negara tidak amanah terhadap jabatan yang diembannya. Mereka solat, membayar zakat tetapi ada yang hatinya tidak lurus, tidak adil/ tidak mencukupkan timbangan. Bahkan ada, dan banyak yang  berperilaku: Keuangan yang kuasa. Dengan uang ia bisa menjadi pejabat: pegawai pemda, polisi, jaksa , bahkan hakim, bupati, walikota, gubernur, anggota DPR / D. Dengan uang ia dapat bebas dari jeratan hukum yang ada di dunia. Dengan uang dan kemewahan ia akan dihormati masyarakat yang sedang sakit materialisme.
Alhamdulillah, Allah Swt menciptakan qalbu dan akal yang terdapat pada manusia. Dengan qalbu, nafs dan akal kaum mu’minin diwajibkan menjalankan ibadah shaum di bulan Ramadhan. Di bulan yang agung ini jasad kita dilemahkan dengan menahan lapar dan dahaga, sehingga yang kuat dan muncul seharusnya adalah jiwa atau ruh kita. Insya Allah dengan menjalankan puasa selama satu bulan penuh dan puasa sunnah di bulan atau harhari lainnya dengan sungguh-sungguh,  akan menjadi  dasar mekanisme pembangkit keberhasilan  untuk menjadi manusia yang bertakwa (muttaqin).
Karena itu sebaiknya dalam menjalankan ibadah saum  tidak hanya jasad saja yang dilemahkan, tetapi ruh atau jiwa kita harus diperkuat, yakni  diisi dengan hal-hal yang mendekatkan diri kita kepada Allah Sang Pencipta manusia dan alam semesta, Rabbal’alamien, sehingga qalbu menjadi bersih. Untuk berkomunikasi dengan Allah, diperlukan jiwa yang bersih dan raga memerlukan ketenangan. Energi yang dipancarkan oleh ruh / jiwa ini sering lebih dahsyat dari energi yang dihasilkan raga. Apabila menjalankan ibadah di bulan Ramadhan dianggap sebagai latihan untuk memperkuat jiwa, maka latihan ini akan menjadi lebih ringan, karena Allah memerintahkan syeitan untuk dibelenggu .
Mengapa kita harus menjadi orang yang bertakwa / muttaqin, karena  kita tahu bahwa ada empat tingkatan bagi pemeluk agama Islam, yakni: muslim, mu’min, mukhsin dan yang paling tinggi adalah muttaqin. Tingkatan yang teringgi inilah yang akan kita capai, yang menjadi cita-cita setiap muslim.
Mudah-mudan Allah memberikan kekuatan lahir dan batin agar kita dapat melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini dengan sungguh-sungguh, secara kaffah - menyeluruh, sehingga kita dijadikanNya menjadi orang-orang yang bertakwa, sesuai dengan perintah Allah tentang takwa, yakni orang mu’min yang dapat  menjalankan 15 anjuran  dan 5 larangan-Nya seperti yang dijelaskan di atas.       
La haula walla quwwata illa billah. Rabbana hablanna min aswajinnaa waduryattinaa qurrota’ayun waja’alna lil muttaqinna immamah. Rabbana attinna fidunya khasanah, wa fil akhirati khasanah, waqinna adzabbannaar. Subhanakaa Rabbiizatti ama yasysyifun wassalamun allal mursalin walhamdulillahi robbil’alamien. Amien, amien ya Rabbal alamien. 

Djoeffan Nawawi
No. 155
BIODATA RINGKAS
H. Djoeffan Nawawi, Ir.
Lahir: Malang, Nopember 1947
Pendidikan: Jurusan Sipil, ITB, Bandung (1975) setelah 3 tahun bekerja di PT Propelat.
Aktivis Masjid Salman ITB 1965-an
Aktivis Angkatan 66 Bandung,
Anggota Majelis Permusyawaratan Mahasiswa  ITB
Pemimpin Redaksi Berita-Berita ITB
Anggota HMI Bandung
Bendahara Yayasan Pendidikan Islam UNISBA  (Ketua Umum: Prof. Dr. Bagir Manan).
Ketua Yayasan Al Mukaromah
Ketika Partai Amanat Nasional (PAN) didirikan, menjabat Ketua I DPW PAN Jawa Barat.



2 komentar:

  1. Yth al-Ustadz Djuffan Nawawie,
    Salam lekom, hehe saya tidak bermaksud untuk memberi komentar kok. Hanya say halo ke anda, juga ke Arifi. Selamat berpuasa.

    BalasHapus
  2. Semoga kita menjadi orang-orang yang takwa, sebenar-benarnya takwa, dan mati dalam keadaan Islam

    BalasHapus