Banyak orang mengartikan kata takwa
(taqwa) dalam Al-Qur’an dengan terjemahan satu kata ’takut’. Padahal
yang sebenarnya, takwa adalah merupakan sikap atau perilaku sehari-hari
dari seseorang yang mempunyai batas akan terkena azab Allah bila dia melanggar
batas tersebut. Begitu pentingnya takwa ini dalam ajaran Islam ditunjukkan
dengan banyaknya kata takwa yang terdapat dalam ayat-ayat Al- Qur’an.
Diriwayatkan bahwa Nabi Dawud As berkata kepada putranya
Nabi Sulaiman As: ”Anakku, tanda ketakwaan seseorang itu ada tiga, bertawakkal
atas apa yang belum didapatkannya, rela dengan apa yang telah dimilikinya, dan
sabar atas apa yang telah hilang darinya.”
Menurut
hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairrah Ra, Rasulullah Saw bersabda: ”Janganlah
kalian saling dengki, saling membenci, dan saling memusuhi. Janganlah melakukan
jual beli barang yang masih dalam proses jual beli dengan orang
lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah
saudara bagi muslim lainnya. Maka jangan ada kezhaliman, kebohongan, ketidak
pedulian dan penghinaan. Takwa itu ada di sini (sambil menunjuk kedada beliau 3
kali). Menghina sesama muslim itu haram darahnya, hartanya dan kehormatannya.”
Dalam
riwayat lain, yakni riwayat Muslim, Rasulullah bersabda: ”Barang siapa
berjanji dengan mengucapkan sumpah, tapi kemudian dia melihat hal yang lebih
sesuai dengan ketakwaan kepada Allah, maka hendaklah ia melakukan hal yang
sesuai dengan ketakwaan itu.”
Begitu
pentingnya perilaku takwa itu bagi pemimpin, menjelang wafatnya Khalifah
Abubakar, minta dipanggilkan Umar bin Khatab, orang yang telah diakui
keimanannya oleh para sahabat. Kepada Umar beliau memberikan pesan dan kalimat
pertama yang diucapkannya adalah: ”Bertakwalah kepada Allah wahai Umar.”
Menurut Ali bin Abi Thalib, takwa adalah takut kepada Yang Maha Mulia (al-Jalil),
mengamalkan Al-Qur’an (al-Tanzil), rela dengan yang sedikit (al-Qalil)
dan bersiap menghadapi kematian (ar-Rahil).
Ibnu
Abbas Ra mengartikan orang yang bertakwa adalah orang yang berusaha
menghindarkan diri dari hukuman Allah atas ketidak-taatannya mengikuti petunjuk
yang telah ia ketahui, dan mengharapkan rahmat Allah atas keyakinannya terhadap
kebenaran ajaran Allah. Jadi takwa itu bukan saja berpuasa di siang hari
dan shalat di malam hari, melainkan dengan meninggalkan apa-apa yang dilarang
oleh Allah dan menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah, demikian
menurut Umar bin Abdul Aziz.
Bagaimana takwa menurut Al-Quran? Paling tidak ada lima ayat yang menjelaskan bagaimana perilaku orang yang bertakwa, yakni QS Al Baqarah 2: 177, QS 17 Ali-’Imraan 3: 17 dan QS Al-An’aam 6: 151 – 153, yang berisi larangan dan anjuran.
Bagaimana takwa menurut Al-Quran? Paling tidak ada lima ayat yang menjelaskan bagaimana perilaku orang yang bertakwa, yakni QS Al Baqarah 2: 177, QS 17 Ali-’Imraan 3: 17 dan QS Al-An’aam 6: 151 – 153, yang berisi larangan dan anjuran.
Allah
berfirman dalam surat yang mendahului sebelum perintah menjalankan puasa (QS
Al-Baqarah 2: 183), yaitu QS Al Baqarah 2: 177:
لَّيْسَ الْبِرَّ أَن
تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـكِنَّ الْبِرَّ
مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ
وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى
وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّآئِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ
الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُواْ
وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاء والضَّرَّاء وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَـئِكَ
الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ .
Bukanlah kebaikan itu
mengarahkan mukamu ke timur dan barat, tapi kebaikan ialah:
1. Amana billahi wal
yaumil akhiri wal malaikati wal kittabi, wan nabiyyin(a), wa ’atal mala’alaa
hubbihi - beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab-kitab, kepada nabi (lima
rukun iman).
2. zawil qurba wal
yatama wal masakina wabnas sabil was sailina wa firriqab - Mereka menafkahkan
hartanya kepada anak yatim, kaum miskin, musafir dan kepada orang yang
meminta-minta karena kesulitan hidup.
Perilaku lainnya bagi orang mutaqin adalah:
(3) mendirikan shalat, (4) membayar zakat (5) memerdekakan hamba sahaya (6) menepati janji, (7) dan sabar pada pada waktu dalam kesulitan, penderitaan dan peperangan, orang-orang demikianlah itulah yang benar dan merekalah orang yang bertakwa.
Pada
intinya, yang disebut sebagai orang yang bertakwa menurut ayat ini adalah yang
mereka yang mengamalkan 7 perintah Allah tersebut.
Dalam
QS Ali’Imraan 3: 7 Allah berfirman dan
menjelaskan bahwa orang muttaqin adalah orang-orang yang
sabar, (8) lurus, (9) benar, (10) tetap taat, (11) menafkahkan hartanya dijalan
Allah, dan (12) memohon ampunan di waktu sahur.
Sedangkan
dalam QS Al-An’aam: 151-153, firman Allah menyatakan ada lima larangan
dan lima anjuran bagi orang yang bertakwa. Lima larangan tersebut adalah, (13)
jangan mempersekutukan Allah dengan apapun jua, (14) jangan kamu bunuh anak-anakmu
karena takut miskin, (15) jangan melakukan perbuatan yang keji baik yang
nampak maupun yang tersembunyi, (16) jangan membunuh jiwa / orang lain yang
dilarang Allah kecuali karena menjalankan hukum yang adil, dan (17) jangan
sekali-kali mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang baik. Lima anjuran
Allah adalah, (18) berbuat baiklah kepada ibu dan bapak, (19) berkatalah dengan
jujur walaupun akan memberati keluargamu, (20) cukupkan timbangan dengan betul,
penuhi janji karena Allah dan turuti jalan yang lurus jangan menuruti jalan
yang lain.
Untuk
menjalankan 15 anjuran dan 5 larangan di atas (belum termasuk hadist Nabi)
tidaklah mudah, karena Allah juga menciptakan syeitan yang selalu menggoda dari
arah kiri, kanan, atas maupun dari bawah. Syeitan mengubah larangan menjadi anjuran
dan anjuran menjadi larangan, serta mematikan gairah, sehingga manusia menjadi
malas.
Syeitan
juga menggoda melalui harta, tahta / jabatan, anak-anak dan wanita. Kebanyakan
bangsa kita yang mengaku ummat Muhammad bahkan mereka yang memakai titel
haji-pun tidak dapat mengamalkan perilaku persyaratan muttaqin di atas
secara kaffah. Mereka beriman, mereka menafkahkan hartanya kepada anak yatim,
namun mereka mendapatkan hartanya dengan jalan yang tidak baik. Banyak pemimpin
dan pejabat pemerintah dan negara tidak amanah terhadap jabatan yang
diembannya. Mereka solat, membayar zakat tetapi ada yang hatinya tidak lurus,
tidak adil/ tidak mencukupkan timbangan. Bahkan ada, dan banyak yang
berperilaku: Keuangan yang kuasa. Dengan uang ia bisa menjadi pejabat:
pegawai pemda, polisi, jaksa , bahkan hakim, bupati, walikota, gubernur,
anggota DPR / D. Dengan uang ia dapat bebas dari jeratan hukum yang ada di dunia.
Dengan uang
dan kemewahan ia akan dihormati masyarakat yang sedang sakit materialisme.
Alhamdulillah,
Allah Swt menciptakan qalbu dan akal yang terdapat pada manusia. Dengan qalbu,
nafs dan akal kaum mu’minin diwajibkan menjalankan ibadah shaum di bulan
Ramadhan. Di bulan yang agung ini jasad kita dilemahkan dengan menahan lapar
dan dahaga, sehingga yang kuat dan muncul seharusnya adalah jiwa atau ruh kita.
Insya Allah
dengan menjalankan puasa selama satu bulan penuh dan puasa sunnah di bulan atau
harhari lainnya dengan sungguh-sungguh, akan menjadi dasar
mekanisme pembangkit keberhasilan untuk menjadi manusia yang bertakwa (muttaqin).
Karena
itu sebaiknya dalam menjalankan ibadah saum tidak hanya jasad saja yang
dilemahkan, tetapi ruh atau jiwa kita harus diperkuat, yakni diisi dengan
hal-hal yang mendekatkan diri kita kepada Allah Sang Pencipta manusia dan alam
semesta, Rabbal’alamien, sehingga qalbu menjadi bersih. Untuk berkomunikasi
dengan Allah, diperlukan jiwa yang bersih dan raga memerlukan ketenangan.
Energi yang dipancarkan oleh ruh / jiwa ini sering lebih dahsyat dari energi
yang dihasilkan raga. Apabila menjalankan ibadah di bulan Ramadhan dianggap
sebagai latihan untuk memperkuat jiwa, maka latihan ini akan menjadi lebih
ringan, karena Allah memerintahkan syeitan untuk dibelenggu .
Mengapa
kita harus menjadi orang yang bertakwa / muttaqin, karena kita tahu bahwa
ada empat tingkatan bagi pemeluk agama Islam, yakni: muslim, mu’min, mukhsin
dan yang paling tinggi adalah muttaqin. Tingkatan yang teringgi inilah yang
akan kita capai, yang menjadi cita-cita setiap muslim.
Mudah-mudan
Allah memberikan kekuatan lahir dan batin agar kita dapat melaksanakan ibadah
puasa di bulan Ramadhan ini dengan sungguh-sungguh, secara kaffah -
menyeluruh, sehingga kita dijadikanNya menjadi orang-orang yang bertakwa,
sesuai dengan perintah Allah tentang takwa, yakni orang mu’min yang dapat
menjalankan 15 anjuran dan 5 larangan-Nya seperti yang dijelaskan di atas.
La haula walla quwwata illa billah. Rabbana hablanna min aswajinnaa
waduryattinaa qurrota’ayun waja’alna lil muttaqinna immamah. Rabbana attinna fidunya
khasanah, wa fil akhirati khasanah, waqinna adzabbannaar. Subhanakaa Rabbiizatti
ama yasysyifun wassalamun allal mursalin walhamdulillahi robbil’alamien. Amien,
amien ya Rabbal alamien.
Djoeffan Nawawi
No. 155
BIODATA RINGKAS
H. Djoeffan Nawawi, Ir.
Lahir: Malang, Nopember 1947
H. Djoeffan Nawawi, Ir.
Lahir: Malang, Nopember 1947
Pendidikan: Jurusan Sipil, ITB, Bandung (1975) setelah 3 tahun bekerja di PT Propelat.
Aktivis Masjid Salman ITB 1965-an
Aktivis Angkatan 66 Bandung,
Anggota Majelis Permusyawaratan Mahasiswa ITB
Pemimpin Redaksi Berita-Berita ITB
Anggota HMI Bandung
Bendahara Yayasan Pendidikan Islam UNISBA (Ketua Umum: Prof. Dr. Bagir Manan).
Ketua Yayasan Al Mukaromah
Ketika Partai Amanat Nasional (PAN) didirikan, menjabat Ketua I DPW PAN Jawa Barat.

Yth al-Ustadz Djuffan Nawawie,
BalasHapusSalam lekom, hehe saya tidak bermaksud untuk memberi komentar kok. Hanya say halo ke anda, juga ke Arifi. Selamat berpuasa.
Semoga kita menjadi orang-orang yang takwa, sebenar-benarnya takwa, dan mati dalam keadaan Islam
BalasHapus