Sabtu, 07 Juli 2012

TAWAKKAL DAN PERCAYA DIRI


Firman Allah di dalam Al-Qur’an: “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS Al-Maaidah 5: 23). Di dalam surat lain Allah berfirman: ”...maka karena itu hendaklah orang-orang mu’min bertawakkal kepada Allah saja.” (QS At-Taghaabun 64: 13).
Bagi seorang Muslim, tawakkal tidak hanya dianggap sebagai kewajiban moral semata, melainkan juga suatu kewajiban agama dan dianggap sebagai aqidah Islam. Hal tersebut didasarkan pada perintah Allah dalam firman-Nya seperti tercantum dalam ayat Al-Qur’an di atas.
Atas dasar ini, tawakkal secara mutlak kepada Allah merupakan bagian dari aqidah orang yang beriman kepada Allah. Seorang Muslim memahami  tawakkal sebagai bagian dari pada Iman dan aqidahnya, bahwa tawakal adalah taat kepada Allah dengan kewajiban memenuhi segala apa yang dituntut sebagai penyebab bagi setiap upaya yang ingin diperoleh buah atau hasilnya. Dengan demikian, ia tidak berobsesi ingin memperoleh sesuatu apapun tanpa melakukan upaya sebagai faktor penyebab untuk memperolehnya. Sesudah itu, barulah ia menyerahkan hasil yang ingin diperolehnya kepada Allah Swt, sebab hanya Dia lah yang berkuasa atas segala sesuatu, sedangkan selain Dia tidak kuasa.
Tawakkal, menurut pandangan orang Islam adalah amal dan pengharapan  yang disertai dengan ketenteraman hati dan ketenangan jiwa, serta berkeyakinan bahwa apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak mungkin terjadi. Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala bagi orang yang berbuat kebajikan.
Tawakkal secara mutlak kepada Allah, menurut pemahaman orang Islam tidak sama dengan yang dipahami oleh orang-orang yang tidak mengerti atau di luar Islam, serta tidak sama dengan yang dipahami oleh mereka yang memusuhi  aqidah kaum Muslimin. Sebab, tawakkal yang dipahami oleh orang-orang di luar Islam serta memusuhi aqidah kaum Muslimin adalah semata-mata hanya berupa kata-kata yang terucap oleh lidah tanpa disadari oleh hati dan dimengerti oleh akal tanpa dicerna oleh pikiran, atau merupakan sikap yang meniadakan sebab, atau meninggalkan usaha sehingga akhirnya menyerah dan mau menerima kehinaan dengan berlindung  pada semboyan ‘tawakkal kepada Allah’ dan ‘ikhlas menerima takdir’.
Seorang Muslim percaya bahwa alam semesta mengikuti sunnatullah. Atas dasar itu ia harus mengikutinya, sehingga untuk meraih apa yang diinginkan iapun dituntut agar mengikuti dan memenuhi persyaratan sebagaimana lazimnya  sebagai ‘faktor penyebab’. Namun demikian, ia tidak menganggap bahwa faktor penyebab merupkan jaminan bagi keberhasilan dalam meraih apa yang diinginkan. Orang Islam tidaklah beranggapan demikian, melainkan beranggapan bahwa faktor penyebab hanya sebagai ‘perintah’ dari Allah agar diikuti dan dipenuhi seperti halnya keharusan menaati  apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang Allah dalam urusan-urusan yang lain.
Adapun tentang keberhasilan mewujudkan apa yang diinginkan, hal ini sepenuhnya diserahkan kepada Allah, mengingat hanya Dia sendiri ‘tanpa yang lain’  yang kuasa terhadap apa yang ia inginkan. Sebab, segala yang Allah kehendaki pasti terjadi dan segala yang tidak Allah kehendaki pasti tidak akan terjadi. Betapa banyak orang yang bekerja keras, tetapi tidak menikmati hasil kerjanya, dan betapa banyak orang yang menanam tetapi tidak memanen apa yang ditanamnya.  Padahal berbagai upaya ‘sebagai faktor penyebab’ telah ditempuh dan dipenuhi sebagaimana lazimnya agar kerja keras dan apa yang ditanamnya itu berbuah.
Dengan demikian menurut pandangan hidup orang Islam, menggantungkan nasib hanya kepada sebab saja dan menganggapnya sebagai satu-satunya yang mengakibatkan tercapainya keberhasilan adalah kufur dan syirik. Demikian pula sebaliknya, meninggalkan sebab dan mengabaikan usaha padahal ia mampu adalah fasik dan durhaka, karena bersikap demikian itu dilarang dan dianggap sebagai perbuatan maksiat.   
Pandangan orang Islam berkenaan dengan faktor penyebab berdasarkan ajaran Rasulullah Saw dan filsafat yang berasal dari jiwa keIslamannya. Beliau dalam berbagai perang yang dilakukannya tidak pernah melalaikan faktor penyebab yang harus dipenuhi agar perang tersebut dimenangkannya. Beliau tidak pernah melakukan perang sebelum mempersiapkan senjata dan faktor-faktor penyebab untuk memenangkan perang tersebut.  Diriwayakan, bahwa beliau tidak pernah melakukan serangan pada saat terik matahari.
Dalam kondisi demikian beliau selalu menunggu sampai udara  menjadi sejuk (dingin) pada sore hari. Bilamana segala sarana pendukung sudah dipersiapkan, barulah beliau bergerak seraya memohon kepada Allah: “Ya Allah yang menurunkan kitab, yang menggerakkan awan, dan yang mengalahkan musuh, kiranya Engkau berkenan mengalahkan mereka, dan tolonglah kami untuk mengalahkan mereka.”(Muttafaq ‘alaih).
Demikianlah petunjuk beliau dalam memadukan faktor penyebab yang bersifat material dengan yang bersifat spiritual. Kemudian keberhasilan apa yang diupayakannya diserahkan kepada Allah.
Sebagai contoh dikemukakan di sini melalui kisah Rasulullah Saw pada saat-saat menjelang hijrah ke Madinah. Beliau terlebih dulu menunggu perintah dari Allah untuk hijrah ke Madinah. Peristiwa ini terjadi sesudah sebagian besar para sahabatnya hijrah ke sana. Apa yang beliau lakukan untuk hijrah ke Madinah sesudah mendapat ijin dari Allah? Ternyata langkah-langkah yang ditempuh beliau adalah melakukan persiapan dengan cermat dan matang sebagai berikut: 1. Mengajak Abu Bakar sebagai sehabat pilihannya untuk menjadi teman hijrah ke Madinah. 2. Menyiapkan perbekalan berupa makanan dan minuman yang diantarkan oleh Asma’ binti Abu Bakar. Dikisahkan bahwa makanan dan minuman tersebut diantar oleh Asma’ dengan diikatkan pada ikat pinggangnya, sehingga ia dijuluki sebagai si empunya dua ikat pinggang (Zaitun-Nitaqain). 3. Menyiapkan unta yang istimewa  sebagai kendaraan, karena perjalanan yang akan ditempuh jauh dan berat. 4. Menyertakan seorang penunjuk jalan yang mengenal betul seluk beluk perjalanan menuju Madinah yang penuh rintangan. 5. Ketika hendak keluar dari rumah yang yang telah dikepung musuh, beliau menyuruh puteranya Ali bin  Abi Thalib agar tidur di tempat tidur beliau. Ini sebagai taktik mengelabui musuh yang sedang menunggu di luar untuk membunuhnya. 6. Kemudian beliaupun  keluar meninggalkan rumah dengan membiarkan musuh-musuhnya yang sedang menunggu beliau bangun dari tempat tidur, karena mereka menduga bahwa beliau masih berada di tempat tidur.
Dikisahkan, bahwa mereka dapat melihat dari celah pintu, bagian dalam dari kamar Rasululah. Dikisahkan pula bahwa mereka telah sepakat hendak membunuh Rasulullah serentak saat beliau keluar rumah.
Tatkala kaum musyrikin mengejar Rasulullah beserta sahabatnya Abu Bakar yang telah meninggalkan mereka, maka Nabi pun berlindung dan masuk ke dalam gua Saur agar terhindar dari mata-mata mereka yang mencarinya. Abu Bakar berkata kepada Rasulullah: “Jika salah seorang dari mereka  melihat ke bawah, tentu dia akan melihat kita ya Rasulullah”. Maka Rasulullah berkata kepada Abu Bakar menghibur, bahwa dalam kesendirian mereka hanya berdua, namun Allah beserta mereka sebagai yang ketiganya.
Dari peristiwa di atas yang menunjukkan dengan jelas perpaduan antara iman dengan tawakkal dapat ditegaskan di sini, bahwa Rasulullah tidak mengingkari faktor penyebab dan tidak pula menggantungkan diri terhadap-Nya. Namun sebagai seorang Mukmin beliau menyerahkan buah segala upaya yang telah ditempuhnya kepada Allah. Beliau dengan penuh keyakian yang mantap menyerahkan segala urusannya kepada Allah Yang Maha Kuasa. Rasulullah setelah berusaha secara maksimal dalam upaya mencari keselamatan, sampai beliau pun berlindung dalam gua yang gelap, sebagai tempat yang biasa dihuni oleh kalajengking dan ular, lalu sebagai orang yang beriman dan bertawakkal kepada Allah beliau berkata kepada sahabatnya Abu Bakar, tatkala ia dicekam rasa takut: “Jangan bersedih. Karena Allah beserta kita. Bagaimana dugaanmu kepada dua orang ini sampai seperti itu, wahai Abu Bakar, padahal Allah sebagai yang ketiganya?” (HR Al-Bukhari).
Demikianlah pandangan orang Islam terhadap peran usaha manusia, yang semuanya berpedoman kepada wahyu Allah dan sunnah Rasullullah, dengan tidak dikurangi dan tidak ditambah.
Tawakkal secara mutlak kepada Allah, mengantarkan seorang Muslim pada rasa ‘percaya diri’ karena ia merasa tidak sendiri kecuali berada di bawah lindungan dan ridho Allah.
Seorang Muslim harus percaya diri dan bertumpu pada kemampuan diri sendiri dalam beramal dan mencari rizki, artinya tidak bergantung kepada siapapun dan hanya menyampaikan kebutuhannya serta memohon pertolongan hanya kepada Allah. Apabila suatu pekerjaan dapat dilaksanakan oleh dirinya sendiri dan suatu kebutuhan dapat dipenuhi tanpa bantuan orang lain, maka ia tidak akan minta pertolongan kepada siapapun selain hanya kepada Allah. Sebab bila dalam kondisi ini masih saja ia meminta pertolongan kepada mahluk lain, maka berarti ia menggantungkan diri kepada selain Allah. Saat Rasulullah Saw mengambil sumpah setia dari orang Islam, beliau menyuruhnya agar menegakkan shalat, membayar zakat, dan tidak meminta bantuan kepada orang lain dalam memenuhi kebutuhannya selain hanya kepada Allah.
Seorang Islam hidup dengan aqidah (filsafat) tawakkal kepada Allah dan bertumpu pada diri sendiri seperti dikemukakan diatas, hal ini berdasarkan petunjuk dari Al-Qur’an dan sunnah Rasul, antara lain, firman Allah: “Dan bertawakllah kepada Allah yang hidup (kekal) tidak mati .....” (QS Al-Furqaan 25: 58). Dan firman Allah dalam ayat yang lain: “ .... cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS Ali ‘Imraan 3: 173). Sabda Nabi Saw: “Seandainya kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, maka pasti kamu akan diberi rizki seperti halnya burung, ia pergi dengan perut kosong dan pulang dengan perut kenyang.” (HR At-Tirmidzi).
Dalam sebuah Hadits dikemukakan, bahwa Nabi Saw bila keluar dari rumahnya mengucapkan: “Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tiada daya upaya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah.” (HR At-Tirmidzi).
(Disarikan dari Kitab Pedoman Hidup Muslim, karangan Abu Bakr Jabir al-Jaza’iri)
Mohammad Kamal
No. 153

1 komentar:

  1. Sekedar menggaris-bawahi: "Tawakkal secara mutlak kepada Allah, mengantarkan seorang Muslim pada rasa ‘percaya diri’ karena ia merasa tidak sendiri kecuali berada di bawah lindungan dan ridha Allah."

    BalasHapus