Firman
Allah di dalam Al-Qur’an: “Dan hanya
kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang
beriman.” (QS Al-Maaidah 5: 23). Di
dalam surat lain Allah
berfirman: ”...maka karena itu hendaklah
orang-orang mu’min bertawakkal kepada Allah saja.” (QS At-Taghaabun 64: 13).
Bagi
seorang Muslim, tawakkal tidak hanya dianggap sebagai kewajiban moral semata,
melainkan juga suatu kewajiban agama dan dianggap sebagai aqidah Islam. Hal
tersebut didasarkan pada perintah Allah dalam firman-Nya seperti tercantum
dalam ayat Al-Qur’an di atas.
Atas
dasar ini, tawakkal secara mutlak kepada Allah merupakan bagian dari aqidah
orang yang beriman kepada Allah. Seorang Muslim memahami tawakkal sebagai bagian dari pada Iman dan aqidahnya,
bahwa tawakal adalah taat kepada Allah dengan kewajiban memenuhi segala apa yang
dituntut sebagai penyebab bagi setiap upaya yang ingin diperoleh buah atau
hasilnya. Dengan demikian, ia tidak berobsesi ingin memperoleh sesuatu apapun
tanpa melakukan upaya sebagai faktor penyebab untuk memperolehnya. Sesudah itu,
barulah ia menyerahkan hasil yang ingin diperolehnya kepada Allah Swt, sebab
hanya Dia lah yang berkuasa atas segala sesuatu, sedangkan selain Dia tidak
kuasa.
Tawakkal,
menurut pandangan orang Islam adalah amal dan pengharapan yang disertai dengan ketenteraman hati dan
ketenangan jiwa, serta berkeyakinan bahwa apa yang dikehendaki Allah pasti
terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak mungkin terjadi. Sesungguhnya
Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala bagi orang yang berbuat kebajikan.
Tawakkal
secara mutlak kepada Allah, menurut pemahaman orang Islam tidak sama dengan
yang dipahami oleh orang-orang yang tidak mengerti atau di luar Islam, serta
tidak sama dengan yang dipahami oleh mereka yang memusuhi aqidah kaum Muslimin. Sebab, tawakkal yang
dipahami oleh orang-orang di luar Islam serta memusuhi aqidah kaum Muslimin
adalah semata-mata hanya berupa kata-kata yang terucap oleh lidah tanpa
disadari oleh hati dan dimengerti oleh akal tanpa dicerna oleh pikiran, atau
merupakan sikap yang meniadakan sebab, atau meninggalkan usaha sehingga
akhirnya menyerah dan mau menerima kehinaan dengan berlindung pada semboyan ‘tawakkal kepada Allah’ dan
‘ikhlas menerima takdir’.
Seorang
Muslim percaya bahwa alam semesta mengikuti sunnatullah.
Atas dasar itu ia harus mengikutinya, sehingga untuk meraih apa yang diinginkan
iapun dituntut agar mengikuti dan memenuhi persyaratan sebagaimana
lazimnya sebagai ‘faktor penyebab’.
Namun demikian, ia tidak menganggap bahwa faktor penyebab merupkan jaminan bagi
keberhasilan dalam meraih apa yang diinginkan. Orang Islam tidaklah beranggapan
demikian, melainkan beranggapan bahwa faktor penyebab hanya sebagai ‘perintah’
dari Allah agar diikuti dan dipenuhi seperti halnya keharusan menaati apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang Allah
dalam urusan-urusan yang lain.
Adapun
tentang keberhasilan mewujudkan apa yang diinginkan, hal ini sepenuhnya
diserahkan kepada Allah, mengingat hanya Dia sendiri ‘tanpa yang lain’ yang kuasa terhadap apa yang ia inginkan.
Sebab, segala yang Allah kehendaki pasti terjadi dan segala yang tidak Allah
kehendaki pasti tidak akan terjadi. Betapa banyak orang yang bekerja keras,
tetapi tidak menikmati hasil kerjanya, dan betapa banyak orang yang menanam
tetapi tidak memanen apa yang ditanamnya.
Padahal berbagai upaya ‘sebagai faktor penyebab’ telah ditempuh dan
dipenuhi sebagaimana lazimnya agar kerja keras dan apa yang ditanamnya itu
berbuah.
Dengan
demikian menurut pandangan hidup orang Islam, menggantungkan nasib hanya kepada
sebab saja dan menganggapnya sebagai satu-satunya yang mengakibatkan
tercapainya keberhasilan adalah kufur dan syirik. Demikian pula sebaliknya,
meninggalkan sebab dan mengabaikan usaha padahal ia mampu adalah fasik dan
durhaka, karena bersikap demikian itu dilarang dan dianggap sebagai perbuatan
maksiat.
Pandangan
orang Islam berkenaan dengan faktor penyebab berdasarkan ajaran Rasulullah Saw
dan filsafat yang berasal dari jiwa keIslamannya. Beliau dalam berbagai perang
yang dilakukannya tidak pernah melalaikan faktor penyebab yang harus dipenuhi
agar perang tersebut dimenangkannya. Beliau tidak pernah melakukan perang
sebelum mempersiapkan senjata dan faktor-faktor penyebab untuk memenangkan
perang tersebut. Diriwayakan, bahwa
beliau tidak pernah melakukan serangan pada saat terik matahari.
Dalam
kondisi demikian beliau selalu menunggu sampai udara menjadi sejuk (dingin) pada sore hari.
Bilamana segala sarana pendukung sudah dipersiapkan, barulah beliau bergerak
seraya memohon kepada Allah: “Ya Allah
yang menurunkan kitab, yang menggerakkan awan, dan yang mengalahkan musuh,
kiranya Engkau berkenan mengalahkan mereka, dan tolonglah kami untuk
mengalahkan mereka.”(Muttafaq ‘alaih).
Demikianlah
petunjuk beliau dalam memadukan faktor penyebab yang bersifat material dengan
yang bersifat spiritual. Kemudian keberhasilan apa yang diupayakannya
diserahkan kepada Allah.
Sebagai
contoh dikemukakan di sini melalui kisah Rasulullah Saw pada saat-saat
menjelang hijrah ke Madinah. Beliau terlebih dulu menunggu perintah dari Allah
untuk hijrah ke Madinah. Peristiwa ini terjadi sesudah sebagian besar para
sahabatnya hijrah ke sana. Apa yang beliau lakukan untuk hijrah ke Madinah
sesudah mendapat ijin dari Allah? Ternyata langkah-langkah yang ditempuh beliau
adalah melakukan persiapan dengan cermat dan matang sebagai berikut: 1. Mengajak
Abu Bakar sebagai sehabat pilihannya untuk menjadi teman hijrah ke Madinah. 2. Menyiapkan
perbekalan berupa makanan dan minuman yang diantarkan oleh Asma’ binti Abu
Bakar. Dikisahkan bahwa makanan dan minuman tersebut diantar oleh Asma’ dengan
diikatkan pada ikat pinggangnya, sehingga ia dijuluki sebagai si empunya dua
ikat pinggang (Zaitun-Nitaqain). 3. Menyiapkan unta yang istimewa sebagai kendaraan, karena perjalanan yang akan
ditempuh jauh dan berat. 4. Menyertakan seorang penunjuk jalan yang mengenal
betul seluk beluk perjalanan menuju Madinah yang penuh rintangan. 5. Ketika
hendak keluar dari rumah yang yang telah dikepung musuh, beliau menyuruh
puteranya Ali bin Abi Thalib agar tidur
di tempat tidur beliau. Ini sebagai taktik mengelabui musuh yang sedang menunggu
di luar untuk membunuhnya. 6. Kemudian beliaupun keluar meninggalkan rumah dengan membiarkan
musuh-musuhnya yang sedang menunggu beliau bangun dari tempat tidur, karena
mereka menduga bahwa beliau masih berada di tempat tidur.
Dikisahkan,
bahwa mereka dapat melihat dari celah pintu, bagian dalam dari kamar Rasululah.
Dikisahkan pula bahwa mereka telah sepakat hendak membunuh Rasulullah serentak
saat beliau keluar rumah.
Tatkala
kaum musyrikin mengejar Rasulullah beserta sahabatnya Abu Bakar yang telah
meninggalkan mereka, maka Nabi pun berlindung dan masuk ke dalam gua Saur agar
terhindar dari mata-mata mereka yang mencarinya. Abu Bakar berkata kepada
Rasulullah: “Jika salah seorang dari mereka
melihat ke bawah, tentu dia akan melihat kita ya Rasulullah”. Maka Rasulullah
berkata kepada Abu Bakar menghibur, bahwa dalam kesendirian mereka hanya
berdua, namun Allah beserta mereka sebagai yang ketiganya.
Dari
peristiwa di atas yang menunjukkan dengan jelas perpaduan antara iman dengan
tawakkal dapat ditegaskan di sini, bahwa Rasulullah tidak mengingkari faktor
penyebab dan tidak pula menggantungkan diri terhadap-Nya. Namun sebagai seorang
Mukmin beliau menyerahkan buah segala upaya yang telah ditempuhnya kepada
Allah. Beliau dengan penuh keyakian yang mantap menyerahkan segala urusannya
kepada Allah Yang Maha Kuasa. Rasulullah setelah berusaha secara maksimal dalam
upaya mencari keselamatan, sampai beliau pun berlindung dalam gua yang gelap,
sebagai tempat yang biasa dihuni oleh kalajengking dan ular, lalu sebagai orang
yang beriman dan bertawakkal kepada Allah beliau berkata kepada sahabatnya Abu
Bakar, tatkala ia dicekam rasa takut: “Jangan
bersedih. Karena Allah beserta kita. Bagaimana dugaanmu kepada dua orang ini
sampai seperti itu, wahai Abu Bakar, padahal Allah sebagai yang ketiganya?” (HR
Al-Bukhari).
Demikianlah
pandangan orang Islam terhadap peran usaha manusia, yang semuanya berpedoman
kepada wahyu Allah dan sunnah Rasullullah, dengan tidak dikurangi dan tidak
ditambah.
Tawakkal
secara mutlak kepada Allah, mengantarkan seorang Muslim pada rasa ‘percaya diri’
karena ia merasa tidak sendiri kecuali berada di bawah lindungan dan ridho
Allah.
Seorang
Muslim harus percaya diri dan bertumpu pada kemampuan diri sendiri dalam
beramal dan mencari rizki, artinya tidak bergantung kepada siapapun dan hanya
menyampaikan kebutuhannya serta memohon pertolongan hanya kepada Allah. Apabila
suatu pekerjaan dapat dilaksanakan oleh dirinya sendiri dan suatu kebutuhan
dapat dipenuhi tanpa bantuan orang lain, maka ia tidak akan minta pertolongan
kepada siapapun selain hanya kepada Allah. Sebab bila dalam kondisi ini masih
saja ia meminta pertolongan kepada mahluk lain, maka berarti ia menggantungkan
diri kepada selain Allah. Saat Rasulullah Saw mengambil sumpah setia dari orang
Islam, beliau menyuruhnya agar menegakkan shalat, membayar zakat, dan tidak
meminta bantuan kepada orang lain dalam memenuhi kebutuhannya selain hanya
kepada Allah.
Seorang
Islam hidup dengan aqidah (filsafat) tawakkal kepada Allah dan bertumpu pada
diri sendiri seperti dikemukakan diatas, hal ini berdasarkan petunjuk dari
Al-Qur’an dan sunnah Rasul, antara lain, firman Allah: “Dan bertawakllah kepada Allah yang hidup (kekal) tidak mati .....” (QS
Al-Furqaan 25: 58). Dan firman Allah dalam ayat yang lain: “ .... cukuplah Allah menjadi Penolong kami
dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS Ali ‘Imraan 3: 173). Sabda
Nabi Saw: “Seandainya kamu bertawakkal
kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, maka pasti kamu akan diberi
rizki seperti halnya burung, ia pergi dengan perut kosong dan pulang dengan
perut kenyang.” (HR At-Tirmidzi).
Dalam
sebuah Hadits dikemukakan, bahwa Nabi Saw bila keluar dari rumahnya
mengucapkan: “Dengan nama Allah, aku
bertawakkal kepada Allah, tiada daya upaya dan kekuatan kecuali atas
pertolongan Allah.” (HR At-Tirmidzi).
(Disarikan
dari Kitab Pedoman Hidup Muslim, karangan Abu Bakr Jabir al-Jaza’iri)
Mohammad
Kamal
No. 153
Sekedar menggaris-bawahi: "Tawakkal secara mutlak kepada Allah, mengantarkan seorang Muslim pada rasa ‘percaya diri’ karena ia merasa tidak sendiri kecuali berada di bawah lindungan dan ridha Allah."
BalasHapus