Senin, 25 Juni 2012

BELAJAR DARI SEJARAH


RIWAYAT NABI YUSUF AS

Al-Qur’an adalah hudan linnas - petunjuk bagi manusia (QS Al-Baqarah 2: 185). Di dalam menyampaikan petunjuk tersebut, Kitab Allah yang terakhir ini menggunakan berbagai pendekatan, antara lain menceriterakan peristiwa-peristiwa sejarah, terutama yang berkenaan dengan perjuangan para Rasul Allah. Pemaparan sejarah itu pasti bukan dongeng pengantar tidur, tetapi mempunyai tujuan yang mulia bagi yang membacanya, manusia.
Surah Hud (11) ayat 120 menyatakan: “Dan semua kisah dari Rasul-rasul yang Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” Ayat ini menerangkan tiga tujuan pemaparan sejarah di dalam Al-Qur’an. Pertama: memantapkan iman manusia terhadap Al-Qur’an. Yang menyampaikan Kitab ini adalah Muhammad Saw yang ummiy - tuna aksara, dan masyarakat tahu benar bahwa beliau tidak pernah berguru kepada siapapun. Maka sejarah yang dinyatakan secara runtut dan cermat menunjukkan Al-Qur’an sebagai himpunan wahyu Allah kepada Rasul-Nya. Kedua: meluruskan fakta sejarah, yang banyak yang melenceng karena kelalaian maupun kesengajaan orang. Ketiga: menjadi pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang mau mengimaninya.
Al-Qur’an memang bukan buku sejarah, dalam arti menceriterakan perjalanan hidup seseorang atau sebuah peristiwa secara berurutan. Tetapi sebagaimana dinyatakan oleh Al-Qur’an sendiri, penuturan sejarah di dalam Kitab ini benar-benar memberikan pengajaran yang amat berharga bagi generasi kemudian. Di dalam sejarah kita mendapati pola pikir dan pola tindak, yang baik dan yang buruk, untuk menjadi referensi yang amat bermanfaat bagi orang-orang yang menjlani kehidupan dunia yang penuh ujian dan cobaan. Sebagai contoh, kita akan menyimak riwayat Nabi Yusuf As, yang diceriterakan di dalam Al-Qur’an dengan berurutan dan lengkap di dalam satu surah, yaitu surah 12, Yusuf, mulai dari ayat 3 sampai dengan 101. Ada beberapa episode di dalam kisah Rasul Allah tersebut.
Masa Kecil Yusuf As
Yusuf adalah putera Nabi Ya'kub As, sedangkan Ya'kub itu putera Nabi Ishaq As, dan Ishaq putera Nabi Ibrahim As yang lahir dari rahim Sarah. Putera Nabi Ya'kub 12 orang, yang lahir dari empat isteri. Salah seorang dari mereka, yang menurut riwayat bernama Rahil, mempunyai dua orang putera yakni Yusuf dan Bunyamin. Sepuluh orang yang lain adalah saudara tiri Yusuf. Sebagai seorang ayah yang berusaha adil kepada semua puteranya, Ya'kub memberi santunan dan pendidikan yang sama kepada 12 puteranya itu.
Tetapi Yusuf adalah yang paling rajin menuntut ilmu, dan sigap melaksanakan tugas-tugas dari ayahandanya. Bunyamin begitu pula tetapi tidak banyak diceriterakan karena masih kecil. Sedangkan putera-putera Nabi Ya'kub yang lain lebih senang bermain dan bermalas-malasan. Maka dengan sendirinya Ya'kub lebih sering bersama Yusuf, terutama di dalam kegiatan belajar-mengajar. Mestinya keadaan demikian mendorong para putera lainnya untuk muhasabah - introspeksi, dan memperbaiki sikap serta kelakuannya. Tetapi sayang, mereka justru memanjakan nafsu, dengan memendam rasa iri yang kemudian berkembang menjadi dengki. Dalam pembicaraan di antara mereka seseorang berkata: "Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita berada dalam kekeliruan yang nyata". (QS Yusuf  12: 8).
Kedengkian yang sama-sama dipendam oleh sepuluh putera Ya'kub As menghasilkan kesepakatan untuk menyingkirkan Yusuf dari lingkungan keluarga. Mereka berharap bahwa dengan tidak adanya Yusuf kasih sayang Ya'kub akan tercurah kepada mereka saja (QS Yusuf 12: 9). Tentang caranya, mereka berbeda pendapat, tetapi akhirnya semua setuju untuk meninggalkan dia di sebuah oasis di tengah padang pasir.
Di situ Yusuf tidak akan mati tetapi dipungut oleh salah satu di antara kafilah yang pasti akan menemukannya. Harapan mereka benar terwujud. Yusuf yang masih belia itu dibawa oleh serombongan pedagang yang singgah di oasis tersebut untuk minum dan mengambil air sebagai bekal di perjalanan. Di ibu kota Mesir masa itu, Yusuf dijual sebagai budak, meskipun dihargai murah sekali.
Orang membeli budak karena akan dipekerjakan di kebun-kebun atau tempat lain yang memerlukan tenaga kuat; karena itu yang diinginkan adalah yang bertubuh dan berotot besar, sedangkan Yusuf jauh dari memenuhi kriteria itu. Yang membelinya adalah seorang yang digelari al-'Aziz; dia menduduki jabatan cukup tinggi di Mesir. Dengan pengalamannya dia melihat anak belia itu berwajah polos tetapi menyimpan potensi kecendekiaan. Maka Yusufpun dibawanya pulang, lalu kepada isterinya dia berkata: "Beri dia tempat dan santunan yang baik. Boleh jadi kelak dia bermanfaat bagi kita, atau kita pungut dia sebagai anak". (QS Yusuf 12: 21).
Masa Muda yang Penuh Ujian
Semenjak berada di rumah al-'Aziz, Yusuf As. tumbuh di lingkungan yang sangat baik. Dia diajari ayah angkatnya ilmu, yang diserap dengan cepat. Dia bahkan sering diajak berbicara dan berdiskusi tentang berbagai masalah, termasuk hal-hal yang berkenaan dengan pemerintahan. Karena itu Yusuf mempunyai pengetahuan dan wawasan yang luas. Beberapa tahun berlalu, maka anak itu berkembang menjadi pemuda yang menyenangkan hati al-‘Aziz. Dia sudah mulai mampu memberikan saran-saran yang baik tentang apa yang harus dilakukan pembesar itu di dalam memecahkan permasalahan pemerintahan. Maka benarlah harapan yang dikatakan al-‘Aziz dahulu yang disampaikan kepada isterinya, bahwa anak itu akan memberi manfaat. Yusuf juga bergaul baik dengan semua orang di rumah besar itu, bahkan dengan tetangga-tetangga di sekitarnya. Dari setiap pembicaraan yang dilakukannya dia memungut pengetahuan demi pengetahuan. Dia sangat cerdas untuk memperoleh pengetahuan itu bukan hanya dari orang-orang yang berpangkat dan berilmu, tetapi juga dari orang kebanyakan, bahkan dari sahaya dan pelayan. Yusuf tahu, setiap orang memiliki kelebihan, maka dia menyerap kebijaksanaan yang ada di mana-mana.
Tetapi kemudian datang ujian tahap kedua yang amat berat kepadanya. Dahulu pada masa kecil, ujian Yusuf adalah menghadapi kebencian sepuluh kakaknya. Ujian yang sekarang berupa rayuan seorang wanita cantik, yang tidak lain adalah isteri al-‘Aziz, orang yang menyantuninya. Dia adalah seorang perempuan yang sangat cantik, bernama Zulaikha. Dia sebenarnya mempunyai akhlak yang baik: maka kawannya banyak dan akrab kepadanya. Dahulu ketika Yusuf baru masuk ke rumahnya, dan al-‘Aziz berpesan untuk memberi layanan yang baik, pesan itu dilaksanakannya dengan tulus. Dia memberi makan seperti yang dia makan bersama suaminya, dia menyiapkan kamar tidur yang layak, pakaian yang baik dan sebagainya. Begitulah dia mengikuti perkembangan anak itu sejak dari belia sehingga tumbuh menjadi dewasa.
Pada saat Yusuf beranjak dewasa itulah Zulaikha sadar bahwa anak itu tegap, tampan dan menyenangkan. Maka tumbuhlah di hatinya rasa tertarik kepada pesona Yusuf, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Pada waktu itu setan masuk menyelinap ke relung-relung hati, membisikkan pikiran-pikiran buruk dan mendorong Zulaikha untuk melakukan perbuatan terlarang dengan Yusuf.
Pada suatu hari Zulaikha berada dalam suatu ruangan dengan Yusuf, sedangkan suaminya sedang pergi. Setan tidak menyia-nyiakan kesempatan baik itu untuk menjerumuskan mereka berdua. Maka Zulaikha menutup pintu ruangan, kemudian melancarkan berbagai rayuan kepada Yusuf. Saat itu Yusuf terperangah karena tidak menduga bakal mengalami peristiwa demikian. Dia sedang tumbuh menjadi dewasa, maka sebagaimana laki-laki lainnya, sedang berada pada masa pubertasnya.  Adalah wajar bila laki-laki seperti Yusuf tertarik kepada wanita; apa lagi terhadap Zulaikha, yang meskipun jauh lebih tua dari dia, masih sangat menarik.
Tetapi bagaimanapun besarnya pesona Zulaikha, Yusuf masih mampu menahan diri. Dia sadar bahwa menyambut ajakan perempuan itu adalah dosa yang besar. Maka diapun dengan sopan menolak ajakan perempuan itu. Ada dua hal yang terucap oleh lisan Yusuf sebagai alasan penolakannya. Yang pertama dan terpenting adalah takut kepada Allah. Dia berkata: "Aku berlindung kepada Allah”. Alasan kedua: dia tidak patut mengkhianati al-‘Aziz suami Zulaikha. Dia berkata: "Sesungguhnya tuanku telah memperlakukan aku dengan sangat baik". (QS Yusuf 12:23). Bagaimana mungkin Yusuf berkhianat kepada orang yang sangat baik terhadap dirinya?
Tetapi Zulaikha yang terbuai bujukan setan tidak mampu lagi membedakan baik dengan buruk. Dia mengejar Yusuf sedangkan Yusuf lari menghindar. Baju Yusuf terkoyak di bagian belakang, tepat pada saat al-Aziz sampai di rumah. Yusuf yang masih polos menjadi bingung tidak tahu hendak berkata apa, sedangkan Zulaikha yang berpengalaman segera mengadu kepada suaminya, bahwa Yusuf hendak menodai dirinya. Tetapi fakta bahwa baju Yusuf koyak di belakang membuktikan, bukan Yusuf yang bersalah tetapi Zulaikha. Peristiwa itu diselesaikan secara ‘kekeluargaan’.
Al-'Aziz memaafkan isterinya, dan semua orang yang mengetahui hal itu harus merahasiakannya kepada siapapun. Namun menjaga rahasia sungguh tidak mudah. Salah seorang di antara para bujang membicarakan hal ini, yang kemudian tersebar luas. Maka para wanita teman-teman Zulaikha mencemooh dia, dan mengatakannya sebagai perempuan elit yang memalukan karena tidak menghargai kedudukannya. Zulaikha amat sakit hati, sehingga membuat rencana membalas memperlakukan teman-temannya itu.
Dalam sebuah pesta di rumah al-Aziz, Zulaikha menampilkan Yusuf pada saat yang tepat dan dengan cara yang diatur matang. Maka perempuan-perempuan itu terpesona sampai lupa sedang mengiris buah-buahan. Banyak yang tak sadar mengiris jarinya sendiri. Kini Zulaikha dapat menunjukkan bahwa perempuan manapun akan menjadi tak tahu diri ketika menghadapi pesona Yusuf yang luar biasa. Peristiwa itu juga digunakan Zulaikha sebagai penyandera, agar kawan-kawannya itu bersedia membantunya dengan merekayasa delik hukum palsu yang akan menjebloskan Yusuf ke dalam penjara.
Demikianlah Yusuf masuk penjara melalui pengadilan penuh rekayasa. Tetapi dia rela mengalami penderitaan itu. Kepada Allah Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai dari pada memenuhi ajakan wanita itu". (QS Yusuf 12: 33). Nyatanya keberadaan di penjara memberi banyak manfaat bagi Yusuf. Beliau banyak tafakur dan dzikir, mendekatkan diri kepada Allah Swt. Beliau juga berdakwah mengajarkan tauhidullah, keyakinan akan keMahaesaan Allah. Sangat boleh jadi bahwa di dalam penjara itu beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul Allah. Sebagai pengantar dakwah, Yusuf menerangkan makna mimpi, salah satu keahlian beliau yang sudah diberitakan jauh sebelumnya oleh ayah beliau Nabi Ya'kub As (QS Yusuf 12: 6). Ilmu tentang arti mimpi merupakan ilmu ladunni, yaitu ilmu yang tidak diperoleh dengan belajar tetapi diilhamkan langsung oleh Allah kepadanya. Di antara murid-murid Yusuf ada dua orang pegawai istana Raja, yang sama-sama bermimpi ganjil. Kepada keduanya Yusuf menerangkan, seorang akan divonis bebas dan dikembalikan ke profesi semula, tetapi seorang lagi akan dihukum mati. Ramalan itu sangat tepat sehingga orang-orang menjadi sangat kagum kepada beliau.
 Kesabaran yang Mengantarkan Kebahagiaan
Bersamaan waktunya dengan itu, Raja Mesir bermimpi yang sangat ganjil: tujuh ekor sapi gemuk dimakan tujuh ekor sapi kurus, dan tujuh bulir gandum segar berisi berdampingan dengan tujuh bulir yang kering hampa. Tidak ada siapapun yang dapat menerangkan arti mimpi tersebut. Maka pegawai istana yang mantan narapidana menceriterakan keahlian Yusuf yang luar biasa. Raja tertarik akan informasi tersebut, maka beliau mengutus dia untuk menanyakan makna mimpinya kepada orang yang dikagumi seluruh penghuni penjara tersebut. Ketika pegawai istana tersebut datang, Yusuf menerangkan, selama tujuh tahun ke depan Mesir akan mengalami musim yang baik, hasil panen berlimpah dan rakyat sejahtera.
Tetapi sesudah itu akan datang masa paceklik selama tujuh tahun pula. Hujan hampir tidak pernah turun, panen gagal dan penduduk sulit mendapatkan makanan. Kesengsaraan dapat dicegah bila orang-orang Mesir sangat berhemat selama musim baik. Mereka harus menyimpan hasil pertanian sebanyak-banyaknya untuk menghadapi masa susah. Demikian saran Yusuf. Rupanya sang Raja sangat puas dengan keterangan itu. Maka beliau memberikan grasi kepada Yusuf dan memerintahkan para pejabat untuk menjemputnya menghadap Raja. Yusuf menyambut undangan tersebut dengan penuh hormat, tetapi mengajukan permohonan agar sebelumnya Raja berkenan memeriksa kembali perkara yang menjadikan beliau dipenjara.
Yusuf ingin ke luar dari penjara bukan sebagai orang yang dikasihani Raja tetapi sebagai orang yang tidak bersalah. Raja Mesir memenuhi permohonan itu. Beliau memeriksa kembali perkaranya secara pribadi. Maka ditemukan dengan sangat jelas bahwa Yusuf bersih dari segala tuduhan, sehingga beliaupun keluar dari penjara sebagai orang yang tidak tercela. Dalam kondisi itu Yusuf beraudiensi dengan sang Raja. Maka setelah berdialog yang cermat, Raja mengangkat Yusuf sebagai pemegang perbendaharaan Negara.
Dari kisah Nabi Yusuf As, kita mendapat banyak pelajaran. Bahwa dunia dipenuhi orang-orang yang tidak mampu mengendalikan nafsu sehingga berbuat hal-hal yang merusak fitrahnya yang suci, dan merugikan orang-orang lain. Bahwa kesabaran dan ketegaran dalam menghadapi ujian-ujian hidup akan mengantarkan orang kepada ridha Allah dan kebahagiaan. Bahwa Allah Swt berkuasa atas segala sesuatu; maka orang yang beriman harus berserah diri kepada-Nya, dengan keyakinan bahwa Allah pasti memberi pahala dunia dan akhirat yang terbaik, bagi hamba-hamba yang shaleh. 

Sakib Machmud
No.152

Tidak ada komentar:

Posting Komentar