RIWAYAT NABI YUSUF AS
Al-Qur’an adalah hudan linnas - petunjuk bagi
manusia (QS Al-Baqarah 2: 185). Di dalam menyampaikan petunjuk tersebut, Kitab
Allah yang terakhir ini menggunakan berbagai pendekatan, antara lain
menceriterakan peristiwa-peristiwa sejarah, terutama yang berkenaan dengan
perjuangan para Rasul Allah. Pemaparan sejarah itu pasti bukan dongeng
pengantar tidur, tetapi mempunyai tujuan yang mulia bagi yang membacanya,
manusia.
Surah Hud (11) ayat 120
menyatakan: “Dan semua kisah dari Rasul-rasul yang Kami ceritakan kepadamu,
ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang
kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang
beriman.” Ayat ini menerangkan tiga tujuan pemaparan sejarah di dalam
Al-Qur’an. Pertama: memantapkan iman manusia terhadap Al-Qur’an. Yang
menyampaikan Kitab ini adalah Muhammad Saw yang ummiy - tuna aksara, dan
masyarakat tahu benar bahwa beliau tidak pernah berguru kepada siapapun. Maka
sejarah yang dinyatakan secara runtut dan cermat menunjukkan Al-Qur’an sebagai
himpunan wahyu Allah kepada Rasul-Nya. Kedua: meluruskan fakta sejarah, yang
banyak yang melenceng karena kelalaian maupun kesengajaan orang. Ketiga:
menjadi pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang mau mengimaninya.
Al-Qur’an memang bukan buku
sejarah, dalam arti menceriterakan perjalanan hidup seseorang atau sebuah
peristiwa secara berurutan. Tetapi sebagaimana dinyatakan oleh Al-Qur’an
sendiri, penuturan sejarah di dalam Kitab ini benar-benar memberikan pengajaran
yang amat berharga bagi generasi kemudian. Di dalam sejarah kita mendapati pola
pikir dan pola tindak, yang baik dan yang buruk, untuk menjadi referensi yang
amat bermanfaat bagi orang-orang yang menjlani kehidupan dunia yang penuh ujian
dan cobaan. Sebagai contoh, kita akan menyimak riwayat Nabi Yusuf As, yang
diceriterakan di dalam Al-Qur’an dengan berurutan dan lengkap di dalam satu
surah, yaitu surah 12, Yusuf, mulai dari ayat 3 sampai dengan 101. Ada beberapa episode di
dalam kisah Rasul Allah tersebut.
Masa Kecil Yusuf As
Yusuf adalah putera Nabi
Ya'kub As, sedangkan Ya'kub itu putera Nabi Ishaq As, dan Ishaq putera Nabi
Ibrahim As yang lahir dari rahim Sarah. Putera Nabi Ya'kub 12 orang, yang lahir
dari empat isteri. Salah seorang dari mereka, yang menurut riwayat bernama
Rahil, mempunyai dua orang putera yakni Yusuf dan Bunyamin. Sepuluh orang yang
lain adalah saudara tiri Yusuf. Sebagai seorang ayah yang berusaha adil kepada
semua puteranya, Ya'kub memberi santunan dan pendidikan yang sama kepada 12
puteranya itu.
Tetapi Yusuf adalah yang
paling rajin menuntut ilmu, dan sigap melaksanakan tugas-tugas dari
ayahandanya. Bunyamin begitu pula tetapi tidak banyak diceriterakan karena
masih kecil. Sedangkan putera-putera Nabi Ya'kub yang lain lebih senang bermain
dan bermalas-malasan. Maka dengan sendirinya Ya'kub lebih sering bersama Yusuf,
terutama di dalam kegiatan belajar-mengajar. Mestinya keadaan demikian
mendorong para putera lainnya untuk muhasabah - introspeksi, dan
memperbaiki sikap serta kelakuannya. Tetapi sayang, mereka justru memanjakan
nafsu, dengan memendam rasa iri yang kemudian berkembang menjadi dengki. Dalam
pembicaraan di antara mereka seseorang berkata: "Sesungguhnya Yusuf dan
saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita
sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah
kita berada dalam kekeliruan yang nyata". (QS Yusuf 12: 8).
Kedengkian yang sama-sama
dipendam oleh sepuluh putera Ya'kub As menghasilkan kesepakatan untuk
menyingkirkan Yusuf dari lingkungan keluarga. Mereka berharap bahwa dengan
tidak adanya Yusuf kasih sayang Ya'kub akan tercurah kepada mereka saja (QS
Yusuf 12: 9). Tentang caranya, mereka berbeda pendapat, tetapi akhirnya semua
setuju untuk meninggalkan dia di sebuah oasis di tengah padang pasir.
Di situ Yusuf tidak akan mati
tetapi dipungut oleh salah satu di antara kafilah yang pasti akan menemukannya.
Harapan mereka benar terwujud. Yusuf yang masih belia itu dibawa oleh
serombongan pedagang yang singgah di oasis tersebut untuk minum dan mengambil
air sebagai bekal di perjalanan. Di ibu kota
Mesir masa itu, Yusuf dijual sebagai budak, meskipun dihargai murah sekali.
Orang membeli budak karena
akan dipekerjakan di kebun-kebun atau tempat lain yang memerlukan tenaga kuat;
karena itu yang diinginkan adalah yang bertubuh dan berotot besar, sedangkan
Yusuf jauh dari memenuhi kriteria itu. Yang membelinya adalah seorang yang
digelari al-'Aziz; dia menduduki jabatan cukup tinggi di Mesir. Dengan
pengalamannya dia melihat anak belia itu berwajah polos tetapi menyimpan
potensi kecendekiaan. Maka Yusufpun dibawanya pulang, lalu kepada isterinya dia
berkata: "Beri dia tempat dan santunan yang baik. Boleh jadi kelak dia
bermanfaat bagi kita, atau kita pungut dia sebagai anak". (QS Yusuf 12: 21).
Masa Muda yang Penuh Ujian
Semenjak berada di rumah
al-'Aziz, Yusuf As. tumbuh di lingkungan yang sangat baik. Dia diajari ayah
angkatnya ilmu, yang diserap dengan cepat. Dia bahkan sering diajak berbicara
dan berdiskusi tentang berbagai masalah, termasuk hal-hal yang berkenaan dengan
pemerintahan. Karena itu Yusuf mempunyai pengetahuan dan wawasan yang luas. Beberapa
tahun berlalu, maka anak itu berkembang menjadi pemuda yang menyenangkan hati
al-‘Aziz. Dia sudah mulai mampu memberikan saran-saran yang baik tentang apa
yang harus dilakukan pembesar itu di dalam memecahkan permasalahan
pemerintahan. Maka benarlah harapan yang dikatakan al-‘Aziz dahulu yang
disampaikan kepada isterinya, bahwa anak itu akan memberi manfaat. Yusuf juga
bergaul baik dengan semua orang di rumah besar itu, bahkan dengan
tetangga-tetangga di sekitarnya. Dari setiap pembicaraan yang dilakukannya dia
memungut pengetahuan demi pengetahuan. Dia sangat cerdas untuk memperoleh
pengetahuan itu bukan hanya dari orang-orang yang berpangkat dan berilmu,
tetapi juga dari orang kebanyakan, bahkan dari sahaya dan pelayan. Yusuf tahu,
setiap orang memiliki kelebihan, maka dia menyerap kebijaksanaan yang ada di
mana-mana.
Tetapi
kemudian datang ujian tahap kedua yang amat berat kepadanya. Dahulu pada masa
kecil, ujian Yusuf adalah menghadapi kebencian sepuluh kakaknya. Ujian yang
sekarang berupa rayuan seorang wanita cantik, yang tidak lain adalah isteri
al-‘Aziz, orang yang menyantuninya. Dia adalah seorang perempuan yang sangat
cantik, bernama Zulaikha. Dia sebenarnya mempunyai akhlak yang baik: maka
kawannya banyak dan akrab kepadanya. Dahulu
ketika Yusuf baru masuk ke rumahnya, dan al-‘Aziz berpesan untuk memberi
layanan yang baik, pesan itu dilaksanakannya dengan tulus. Dia memberi makan
seperti yang dia makan bersama suaminya, dia menyiapkan kamar tidur yang layak,
pakaian yang baik dan sebagainya. Begitulah dia mengikuti perkembangan anak itu
sejak dari belia sehingga tumbuh menjadi dewasa.
Pada saat Yusuf beranjak
dewasa itulah Zulaikha sadar bahwa anak itu tegap, tampan dan menyenangkan.
Maka tumbuhlah di hatinya rasa tertarik kepada pesona Yusuf, baik yang bersifat
lahiriah maupun batiniah. Pada waktu itu setan masuk menyelinap ke
relung-relung hati, membisikkan pikiran-pikiran buruk dan mendorong Zulaikha
untuk melakukan perbuatan terlarang dengan Yusuf.
Pada suatu hari Zulaikha
berada dalam suatu ruangan dengan Yusuf, sedangkan suaminya sedang pergi. Setan
tidak menyia-nyiakan kesempatan baik itu untuk menjerumuskan mereka berdua.
Maka Zulaikha menutup pintu ruangan, kemudian melancarkan berbagai rayuan
kepada Yusuf. Saat itu Yusuf terperangah karena tidak menduga bakal mengalami
peristiwa demikian. Dia sedang tumbuh menjadi dewasa, maka sebagaimana
laki-laki lainnya, sedang berada pada masa pubertasnya. Adalah wajar bila
laki-laki seperti Yusuf tertarik kepada wanita; apa lagi terhadap Zulaikha,
yang meskipun jauh lebih tua dari dia, masih sangat menarik.
Tetapi bagaimanapun besarnya
pesona Zulaikha, Yusuf masih mampu menahan diri. Dia sadar bahwa menyambut
ajakan perempuan itu adalah dosa yang besar. Maka diapun dengan sopan menolak
ajakan perempuan itu. Ada
dua hal yang terucap oleh lisan Yusuf sebagai alasan penolakannya. Yang pertama
dan terpenting adalah takut kepada Allah. Dia berkata: "Aku berlindung
kepada Allah”. Alasan kedua: dia tidak patut mengkhianati al-‘Aziz suami Zulaikha. Dia
berkata: "Sesungguhnya tuanku telah memperlakukan aku dengan sangat
baik". (QS Yusuf 12:23). Bagaimana mungkin Yusuf berkhianat kepada
orang yang sangat baik terhadap dirinya?
Tetapi
Zulaikha yang terbuai bujukan setan tidak mampu lagi membedakan baik dengan
buruk. Dia mengejar Yusuf sedangkan Yusuf lari menghindar. Baju Yusuf terkoyak
di bagian belakang, tepat pada saat al-Aziz sampai di rumah. Yusuf yang masih
polos menjadi bingung tidak tahu hendak berkata apa, sedangkan Zulaikha yang
berpengalaman segera mengadu kepada suaminya, bahwa Yusuf hendak menodai
dirinya. Tetapi fakta bahwa baju Yusuf koyak di belakang membuktikan, bukan
Yusuf yang bersalah tetapi Zulaikha. Peristiwa itu diselesaikan secara
‘kekeluargaan’.
Al-'Aziz
memaafkan isterinya, dan semua orang yang mengetahui hal itu harus
merahasiakannya kepada siapapun. Namun menjaga rahasia sungguh tidak mudah.
Salah seorang di antara para bujang membicarakan hal ini, yang kemudian
tersebar luas. Maka para wanita teman-teman Zulaikha mencemooh dia, dan
mengatakannya sebagai perempuan elit yang memalukan karena tidak menghargai
kedudukannya. Zulaikha amat sakit hati, sehingga membuat rencana membalas
memperlakukan teman-temannya itu.
Dalam
sebuah pesta di rumah al-Aziz, Zulaikha menampilkan Yusuf pada saat yang tepat
dan dengan cara yang diatur matang. Maka perempuan-perempuan itu terpesona
sampai lupa sedang mengiris buah-buahan. Banyak yang tak sadar mengiris jarinya
sendiri. Kini Zulaikha dapat menunjukkan bahwa perempuan manapun akan menjadi
tak tahu diri ketika menghadapi pesona Yusuf yang luar biasa. Peristiwa itu
juga digunakan Zulaikha sebagai penyandera, agar kawan-kawannya itu bersedia
membantunya dengan merekayasa delik hukum palsu yang akan menjebloskan Yusuf ke
dalam penjara.
Demikianlah
Yusuf masuk penjara melalui pengadilan penuh rekayasa. Tetapi dia rela mengalami
penderitaan itu. Kepada Allah Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara
lebih aku sukai dari pada memenuhi ajakan wanita itu". (QS Yusuf 12: 33).
Nyatanya keberadaan di penjara memberi banyak manfaat bagi Yusuf. Beliau banyak
tafakur dan dzikir, mendekatkan diri kepada Allah Swt. Beliau juga berdakwah
mengajarkan tauhidullah, keyakinan akan keMahaesaan Allah. Sangat boleh
jadi bahwa di dalam penjara itu beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul Allah.
Sebagai pengantar dakwah, Yusuf menerangkan makna mimpi, salah satu keahlian
beliau yang sudah diberitakan jauh sebelumnya oleh ayah beliau Nabi Ya'kub As
(QS Yusuf 12: 6). Ilmu tentang arti mimpi merupakan ilmu ladunni, yaitu
ilmu yang tidak diperoleh dengan belajar tetapi diilhamkan langsung oleh Allah
kepadanya. Di antara murid-murid Yusuf ada dua orang pegawai istana Raja, yang
sama-sama bermimpi ganjil. Kepada keduanya Yusuf menerangkan, seorang akan
divonis bebas dan dikembalikan ke profesi semula, tetapi seorang lagi akan
dihukum mati. Ramalan itu sangat tepat sehingga orang-orang menjadi sangat
kagum kepada beliau.
Kesabaran
yang Mengantarkan Kebahagiaan
Bersamaan
waktunya dengan itu, Raja Mesir bermimpi yang sangat ganjil: tujuh ekor sapi
gemuk dimakan tujuh ekor sapi kurus, dan tujuh bulir gandum segar berisi
berdampingan dengan tujuh bulir yang kering hampa. Tidak ada siapapun yang
dapat menerangkan arti mimpi tersebut. Maka pegawai istana yang mantan
narapidana menceriterakan keahlian Yusuf yang luar biasa. Raja tertarik akan
informasi tersebut, maka beliau mengutus dia untuk menanyakan makna mimpinya
kepada orang yang dikagumi seluruh penghuni penjara tersebut. Ketika pegawai
istana tersebut datang, Yusuf menerangkan, selama tujuh tahun ke depan Mesir
akan mengalami musim yang baik, hasil panen berlimpah dan rakyat sejahtera.
Tetapi
sesudah itu akan datang masa paceklik selama tujuh tahun pula. Hujan hampir
tidak pernah turun, panen gagal dan penduduk sulit mendapatkan makanan.
Kesengsaraan dapat dicegah bila orang-orang Mesir sangat berhemat selama musim
baik. Mereka harus menyimpan hasil pertanian sebanyak-banyaknya untuk
menghadapi masa susah. Demikian saran Yusuf. Rupanya sang Raja sangat puas
dengan keterangan itu. Maka beliau memberikan grasi kepada Yusuf dan
memerintahkan para pejabat untuk menjemputnya menghadap Raja. Yusuf menyambut
undangan tersebut dengan penuh hormat, tetapi mengajukan permohonan agar
sebelumnya Raja berkenan memeriksa kembali perkara yang menjadikan beliau
dipenjara.
Yusuf
ingin ke luar dari penjara bukan sebagai orang yang dikasihani Raja tetapi
sebagai orang yang tidak bersalah. Raja Mesir memenuhi permohonan itu. Beliau
memeriksa kembali perkaranya secara pribadi. Maka ditemukan dengan sangat jelas
bahwa Yusuf bersih dari segala tuduhan, sehingga beliaupun keluar dari penjara
sebagai orang yang tidak tercela. Dalam kondisi itu Yusuf beraudiensi dengan
sang Raja. Maka setelah berdialog yang cermat, Raja mengangkat Yusuf sebagai
pemegang perbendaharaan Negara.
Dari
kisah Nabi Yusuf As, kita mendapat banyak pelajaran. Bahwa dunia dipenuhi
orang-orang yang tidak mampu mengendalikan nafsu sehingga berbuat hal-hal yang
merusak fitrahnya yang suci, dan merugikan orang-orang lain. Bahwa kesabaran
dan ketegaran dalam menghadapi ujian-ujian hidup akan mengantarkan orang kepada
ridha Allah dan kebahagiaan. Bahwa Allah Swt berkuasa atas segala sesuatu; maka
orang yang beriman harus berserah diri kepada-Nya, dengan keyakinan bahwa Allah
pasti memberi pahala dunia dan akhirat yang terbaik, bagi hamba-hamba yang shaleh.
Sakib Machmud
No.152
No.152
Tidak ada komentar:
Posting Komentar