Selasa, 05 Juni 2012

TRAGEDI SUKHOI


KEBERSAMAAN DALAM PENANGANAN MUSIBAH

Awan kelabu belum hilang menyelimuti dunia penerbangan di tanah air kita dengan terjadinya musibah jatuhnya pesawat SUKHOI SSJ 100, pada hari Rabu tanggal 9 Mei 2012, jam 15.00 WIB di sekitar Cijeruk, kawasan Bogor, setelah menabrak dinding tebing di kaki gunung Salak. Pesawat tersebut sedang dalam suatu penerbangan joy flight dalam rangka promosi memasarkan pesawat komersial tersebut ke beberapa negara Asia termasuk Indonesia. Pesawat Sukhoi SSJ 100 adalah sebuah pesawat angkut komersial paling modern buatan Rusia dengan peralatan super canggih, yang memadukan teknologi Rusia yang piawai dalam pembuatan pesawat tempur Sukhoi, dengan teknologi Barat yaitu pabrik pesawat Boeing dari Amerika Serikat, dan dari Eropa antara lain peralatan Avionic dari Thales Perancis, sistem kendali oleh Liebherr, roda pendarat oleh Messier Dowty, roda dan rem oleh Goodrich, dan sistem listrik oleh Hamilton Sundstrand, semuanya adalah pemasok yang ternama dalam dunia penerbangan.
Dengan dukungan sistem dan peralatan teknologi yang cukup terkenal di tingkat dunia, maka para perancang Sukhoi SSJ 100 mengklaim pesawat ini sebagai pesawat komersial paling mutakhir yang paling canggih, dan sangat bisa diandalkan, baik dari segi kenyamanan maupun dari keselamatan penerbangan. Namun peristiwa yang terjadi di kaki gunung Salak itu menimbulkan tanda tanya besar tidak hanya oleh para perancang pesawat itu, namun juga kita semua khususnya yang memahami hal ihwal pesawat terbang. Yang jelas hal tersebut menunjukkan kepada kita bahwa musibah bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.
Terlepas dari apa penyebab kecelakaan tersebut mengakibatkan pesawat hancur dan menewaskan sebanyak 45 penumpang di antaranya 8 orang warga negara Rusia, dan sebagian besar korban lainnya adalah warga negara Indonesia yang diundang mengikuti joy flight mewakili pimpinan organisasi maupun perusahaan di lingkungan penerbangan, temasuk wartawan dari media, yang tentunya berpotensi dalam mengembangkan dunia penerbangan di Indonesia.
Sebaik-baik sikap dalam menghadapi musibah itu tidak lain adalah istighfar dan berserah diri dengan mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun - Sesungguhnya kita ini milik Allah dan kepada-Nya lah kita kembali.”, sambil mengintrospeksi diri adakah peringatan Allah yang diberikan kepada kita, karena Allah Maha Kuasa dan Maha Mengerahui. Bukankah Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an: “Mahasuci Allah Yang di dalam genggaman kekuasaan-Nya seluruh kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya, dan sesungguhnya Dia Maha Mulia lagi Maha Pengampun.” (QS Al-Mulk 67: 1 - 2).
Di balik musibah ini kita coba menggali hikmah dan petunjuk yang dapat dipetik dari kejadian di atas, karena pada hakikatnya  semua ketentuan yang ditetapkan Allah kepada kita, termasuk musibah, tidak ada yang buruk. Semoga kita dapat mengambil hikmah dan petunjuk yang dapat dapat diperoleh dari ketentuan yang ditetapkan Allah Swt.
Sekilas peristiwa di atas mengingatkan kita pada peristiwa musibah serupa yang terjadi persis satu abad yang lalu menimpa kapal pesiar mewah ‘Titanic’, sebuah kapal pesiar terbesar dan termodern pada waktu itu, yang diklaim oleh perancangya sangat aman dan tak mungkin mengalami kecelakaan di laut. Namun musibah fatal telah terjadi hanya beberapa jam setelah kapal lepas jangkar dari pelabuhan keberangkatan, setelah lambung kapal sobek karena menabrak gunung es.
Allah berkuasa atas segala yang di langit dan di bumi, seperti difirmankan-Nya dalam Al-Qur’an: “Allah manciptakan kamu dan apa yang kamu lakukan.” (QS Al-Shaffaat 37: 96).
Dari ayat ini seakan mengingatkan bahwa Tuhan menciptakan apa yang kita lakukan, demikian juga Allah menegaskan bahwa: “Apa yang kamu kehendaki, (tidak dapat terlaksana) kecuali dengan kehendak Allah jua.” (QS Al-‘Insaan 76: 30).
Apakah kedua peristiwa di atas juga diciptakan oleh Allah, sekalian memberi peringatan bahwa manusia hanya memiliki sebagian kecil ilmu Allah. Manusia punya kehendak, tapi ingatlah bahwa Allah juga punya kehendak, dan kita tahu yang terjadi adalah kehendak-Nya. Adapun bila keinginan kita terwujud menjadi kenyataan, itu hanyalah karena pada saat itu kehendak kita telah sejalan dengan kehendak Allah, atau berarti kehendak kita diridhai Allah. Karenanya manusia diperintahkan selain untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya, berusaha keras dan berupaya menciptakan hal-hal yang baru dan lebih baik, namun juga agar selalu ingat kebesaran Allah dan memohon ridha-Nya. Mungkin itulah salah satu sebab mengapa Al-Qur’an mengajarkan kepada kita, “Segala puji bagi Allah semata.”
Peringatan Allah, untuk tidak menyombongkan diri atau merasa paling baik lagi sempurna. “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman 31: 18).
Begitu diketahui hilangnya kontak antara pilot  pesawat Rusia tersebut dengan Air Traffic Control (ATC), pesawat diduga kuat telah mengalami kecelakaan dan jatuh di kawasan gunung Salak. Pihak-pihak yang berwenang segera mengambil langkah menurunkan jajarannya mulai dari pencarian lokasi musibah dan para korban, sampai dengan evakuasinya, dilanjutkan dengan proses identifikasi para korban serta penyelesaian masalah selanjutnya.
Dalam pencarian lokasi dikoordinasikan oleh Badan Search and Rescue Nasional (BASARNAS) yang dengan segera diikuti satuan-satuan lain, sebagai potensi yang memperkuat upaya pencarian yaitu dari TNI antara lain Paskhas Angkatan Udara, Marinir, Brimob dan Kostrad, juga dari Palang Merah Indonesia (PMI) dan Tagana. Sedang dari masyarkat antara lain Wanadri, Mapala Universitas Indonesia, Univeritas Pajajaran, Pramuka dan masih banyak lagi kelompok masyarakat pecinta alam dan relawan yang sangat peduli ingin membantu segera menolong sesama yang mengalami musibah. Jumlah pasukan dan masyarakat yang berperan dalam kegiatan evakuasi korban pesawat Sukhoi mencapai lebih dari 1500 orang, belum lagi tim dari Rusia yang dengan cepat mengirimkan 80 orang personil untuk membantu proses pencarian dan pertolongan, ditambah tim Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), sampai tim Disaster Victim Identification (DVI). Setelah 10 hari pencarian korban dalam medan yang sangat berat pada kondisi jurang yang nyaris tegak lurus 80 sampai 90 derajat, telah berhasil ditemukan 45 korban yang dievakuasi tidak semua dalam keadaan utuh dengan menggunakan 35 kantung jenazah, pencarian dinyatakan dihentikan oleh Kepala BASARNAS, karena sudah tidak ada tanda-tanda ditemukan lagi adanya korban. Namun beberapa hari kemudian ditemukan lagi 2 kantung jenazah.
Kerjasama yang sangat baik dalam proses pencarian lokasi sampai evakuasi korban terlaksana sesuai tugas dan kompetensi masing-masing satuan, tanpa terlihat upaya penonjolan diri kelompoknya yang merasa paling berjasa. Semua satuan yang tangguh dan terlatih baik dari Basarnas, Paskhas, Marinir, Brimob, maupun kelompok Mapala dan relawan lainnya telah mencurahkan kemampuan maksimalnya dengan tetap berada  di bawah komando BASARNAS.
Penanganan selanjutnya adalah identifikasi korban oleh tim DVI Polri, dan penyelidikan kecelakaan pesawat oleh KNKT, termasuk tim yang sama dari pihak Rusia yang dalam hal ini tetap membantu dan bekerja di bawah koordinasi tim dari Indonesia.
Barangkali tidak berkelebihan kalau bisa disimpulkan bahwa penanganan kecelakaan Sukhoi ini merupakan proses penanganan musibah di medan sulit di darat yang paling besar melibatkan jumlah personil dengan koordinasi yang paling baik selama ini. Kiranya dengan jujur orang percaya bahwa hal itu dilakukan karena adanya empati yang sangat dalam terhadap para korban tanpa memandang kelompok, golongan maupun kebangsaan, yang hanya mengedepankan rasa kebersamaan mengemban misi kemanusiaan.
Misi kemanusiaan telah  menyatukan langkah mencapai satu tujuan yaitu menolong sesama, didasari sistem kerja yang terorganisir rapi, disiplin, tanpa tumpang tindih tanggung jawab. Setiap satuan melaksanakan fungsinya dengan kompetensi yang melekat pada masing-msing personilnya.
Alangkah baiknya apabila semangat ini menjadi inspirasi seluruh warga pencinta negeri ini, menjalankan misi kemanusiaan dalam masyarakat, untuk mencapai satu tujuan yaitu menciptakan kesejahteraan rakyat. Sebuah contoh koordinasi yang sangat baik untuk diterapkan dalam seluruh aspek kegiatan dalam kehidupan masyarakat.
Dengan korban tewas sebanyak 45 orang yang merupakan seluruh penumpang pesawat, kita patut menyatakan turut berduka cita kepada keluarga para korban, serta mendoakan agar para korban diampuni dosa-dosanya dan diterima Allah untuk ditempatkan pada tempat yang sebaik-baiknya di sisi-Nya. Dari beberapa ulama yang menanggapi musibah ini kita mengetahui bahwa para korban yang meninggal dalam kecelakaan pesawat ini dikategorikan mati syahid dan dijamin masuk surga, mengingat kecelakaan terjadi di saat mereka menjalankan tugas dan pekerjaannya.
“Janganlah kamu menduga bahwa orang-orang yang gugur  di jalan Allah itu mati, tetapi mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS Ali-‘Imraan 3: 169).
Dari ayat yang lain: “Janganah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang meninggal di jalan Allah bahwa mereka itu telah mati, sebenarnya mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”(QS Al-Baqarah 2: 154).
Kematian adalah hal yang tidak dapat dihindari sebagai mahluk yang berasal dari Allah, dan kepadaNya kita akan kembali, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Mulk  67: 1-2 yang tersebut di bagian depan tulisan ini. Kematian, dalam pandangan Islam bukanlah sesuatu yang buruk, karena di samping mendorong manusia untuk meningkatkan pengabdiannya dalam kehidupan di dunia ini, kematian juga merupakan pintu gerbang untuk memasuki kebahagiaan yang abadi, serta mendapatkan keadilan sejati.
Mohammad Kamal
No. 150

Tidak ada komentar:

Posting Komentar