KEBERSAMAAN DALAM PENANGANAN MUSIBAH
Awan
kelabu belum hilang menyelimuti dunia penerbangan di tanah air kita dengan
terjadinya musibah jatuhnya pesawat SUKHOI SSJ 100, pada hari Rabu tanggal 9
Mei 2012, jam 15.00 WIB di sekitar Cijeruk, kawasan Bogor, setelah menabrak
dinding tebing di kaki gunung Salak. Pesawat tersebut sedang dalam suatu
penerbangan joy flight dalam rangka
promosi memasarkan pesawat komersial tersebut ke beberapa negara Asia termasuk
Indonesia. Pesawat Sukhoi SSJ 100 adalah sebuah pesawat angkut komersial paling
modern buatan Rusia dengan peralatan super canggih, yang memadukan teknologi
Rusia yang piawai dalam pembuatan pesawat tempur Sukhoi, dengan teknologi Barat
yaitu pabrik pesawat Boeing dari Amerika Serikat, dan dari Eropa antara lain peralatan
Avionic dari Thales Perancis, sistem kendali oleh Liebherr, roda pendarat oleh
Messier Dowty, roda dan rem oleh Goodrich, dan sistem listrik oleh Hamilton
Sundstrand, semuanya adalah pemasok yang ternama dalam dunia penerbangan.
Dengan dukungan
sistem dan peralatan teknologi yang cukup terkenal di tingkat dunia, maka para perancang
Sukhoi SSJ 100 mengklaim pesawat ini sebagai pesawat komersial paling mutakhir yang
paling canggih, dan sangat bisa diandalkan, baik dari segi kenyamanan maupun
dari keselamatan penerbangan. Namun peristiwa yang terjadi di kaki gunung Salak
itu menimbulkan tanda tanya besar tidak hanya oleh para perancang pesawat itu,
namun juga kita semua khususnya yang memahami hal ihwal pesawat terbang. Yang
jelas hal tersebut menunjukkan kepada kita bahwa musibah bisa terjadi di mana
saja dan kapan saja.
Terlepas dari apa
penyebab kecelakaan tersebut mengakibatkan pesawat hancur dan menewaskan
sebanyak 45 penumpang di antaranya 8 orang warga negara Rusia, dan sebagian
besar korban lainnya adalah warga negara Indonesia yang diundang mengikuti joy flight mewakili pimpinan organisasi
maupun perusahaan di lingkungan penerbangan, temasuk wartawan dari media, yang tentunya
berpotensi dalam mengembangkan dunia penerbangan di Indonesia.
Sebaik-baik sikap
dalam menghadapi musibah itu tidak lain adalah istighfar dan berserah diri dengan mengucapkan “Inna lillahi
wa inna ilaihi raji’uun - Sesungguhnya
kita ini milik Allah dan kepada-Nya lah kita kembali.”, sambil mengintrospeksi diri adakah peringatan Allah yang
diberikan kepada kita, karena Allah Maha Kuasa dan Maha Mengerahui. Bukankah
Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an: “Mahasuci
Allah Yang di dalam genggaman kekuasaan-Nya seluruh kerajaan, dan Dia Mahakuasa
atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu
siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya, dan sesungguhnya Dia Maha Mulia
lagi Maha Pengampun.” (QS Al-Mulk 67:
1 - 2).
Di balik musibah ini
kita coba menggali hikmah dan petunjuk yang dapat dipetik dari kejadian di atas,
karena pada hakikatnya semua ketentuan
yang ditetapkan Allah kepada kita, termasuk musibah, tidak ada yang buruk. Semoga
kita dapat mengambil hikmah dan petunjuk yang dapat dapat diperoleh dari ketentuan
yang ditetapkan Allah Swt.
Sekilas peristiwa di atas
mengingatkan kita pada peristiwa musibah serupa yang terjadi persis satu abad
yang lalu menimpa kapal pesiar mewah ‘Titanic’,
sebuah kapal pesiar terbesar dan termodern pada waktu itu, yang diklaim oleh
perancangya sangat aman dan tak mungkin mengalami kecelakaan di laut. Namun
musibah fatal telah terjadi hanya beberapa jam setelah kapal lepas jangkar dari
pelabuhan keberangkatan, setelah lambung kapal sobek karena menabrak gunung es.
Allah berkuasa atas
segala yang di langit dan di bumi, seperti difirmankan-Nya dalam Al-Qur’an: “Allah manciptakan kamu dan apa yang kamu
lakukan.” (QS Al-Shaffaat 37: 96).
Dari ayat ini seakan
mengingatkan bahwa Tuhan menciptakan apa yang kita lakukan, demikian juga Allah
menegaskan bahwa: “Apa yang kamu
kehendaki, (tidak dapat terlaksana) kecuali dengan kehendak Allah jua.” (QS Al-‘Insaan 76: 30).
Apakah kedua
peristiwa di atas juga diciptakan oleh Allah, sekalian memberi peringatan bahwa
manusia hanya memiliki sebagian kecil ilmu Allah. Manusia punya kehendak, tapi
ingatlah bahwa Allah juga punya kehendak, dan kita tahu yang terjadi adalah
kehendak-Nya. Adapun bila keinginan kita terwujud menjadi kenyataan, itu
hanyalah karena pada saat itu kehendak kita telah sejalan dengan kehendak
Allah, atau berarti kehendak kita diridhai Allah. Karenanya manusia
diperintahkan selain untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya, berusaha keras dan
berupaya menciptakan hal-hal yang baru dan lebih baik, namun juga agar selalu
ingat kebesaran Allah dan memohon ridha-Nya. Mungkin itulah salah satu sebab
mengapa Al-Qur’an mengajarkan kepada kita, “Segala
puji bagi Allah semata.”
Peringatan Allah,
untuk tidak menyombongkan diri atau merasa paling baik lagi sempurna. “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari
manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan
angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri.” (QS Luqman 31: 18).
Begitu diketahui
hilangnya kontak antara pilot pesawat
Rusia tersebut dengan Air Traffic Control (ATC), pesawat diduga kuat
telah mengalami kecelakaan dan jatuh di kawasan gunung Salak. Pihak-pihak yang
berwenang segera mengambil langkah menurunkan jajarannya mulai dari pencarian
lokasi musibah dan para korban, sampai dengan evakuasinya, dilanjutkan dengan proses
identifikasi para korban serta penyelesaian masalah selanjutnya.
Dalam pencarian
lokasi dikoordinasikan oleh Badan Search and Rescue Nasional (BASARNAS) yang
dengan segera diikuti satuan-satuan lain, sebagai potensi yang memperkuat upaya
pencarian yaitu dari TNI antara lain Paskhas Angkatan Udara, Marinir, Brimob
dan Kostrad, juga dari Palang Merah Indonesia (PMI) dan Tagana. Sedang dari
masyarkat antara lain Wanadri, Mapala Universitas Indonesia, Univeritas Pajajaran,
Pramuka dan masih banyak lagi kelompok masyarakat pecinta alam dan relawan yang
sangat peduli ingin membantu segera menolong sesama yang mengalami musibah. Jumlah
pasukan dan masyarakat yang berperan dalam kegiatan evakuasi korban pesawat Sukhoi
mencapai lebih dari 1500 orang, belum lagi tim dari Rusia yang dengan cepat
mengirimkan 80 orang personil untuk membantu proses pencarian dan pertolongan, ditambah
tim Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), sampai tim Disaster
Victim Identification (DVI). Setelah 10 hari pencarian korban dalam medan
yang sangat berat pada kondisi jurang yang nyaris tegak lurus 80 sampai 90
derajat, telah berhasil ditemukan 45 korban yang dievakuasi tidak semua dalam
keadaan utuh dengan menggunakan 35 kantung jenazah, pencarian dinyatakan dihentikan
oleh Kepala BASARNAS, karena sudah tidak ada tanda-tanda ditemukan lagi adanya
korban. Namun beberapa hari kemudian ditemukan lagi 2 kantung jenazah.
Kerjasama yang sangat
baik dalam proses pencarian lokasi sampai evakuasi korban terlaksana sesuai
tugas dan kompetensi masing-masing satuan, tanpa terlihat upaya penonjolan diri
kelompoknya yang merasa paling berjasa. Semua satuan yang tangguh dan terlatih baik
dari Basarnas, Paskhas, Marinir, Brimob, maupun kelompok Mapala dan relawan
lainnya telah mencurahkan kemampuan maksimalnya dengan tetap berada di bawah komando BASARNAS.
Penanganan
selanjutnya adalah identifikasi korban oleh tim DVI Polri, dan penyelidikan
kecelakaan pesawat oleh KNKT, termasuk tim yang sama dari pihak Rusia yang
dalam hal ini tetap membantu dan bekerja di bawah koordinasi tim dari
Indonesia.
Barangkali tidak
berkelebihan kalau bisa disimpulkan bahwa penanganan kecelakaan Sukhoi ini
merupakan proses penanganan musibah di medan sulit di darat yang paling besar
melibatkan jumlah personil dengan koordinasi yang paling baik selama ini. Kiranya
dengan jujur orang percaya bahwa hal itu dilakukan karena adanya empati yang
sangat dalam terhadap para korban tanpa memandang kelompok, golongan maupun
kebangsaan, yang hanya mengedepankan rasa kebersamaan
mengemban misi kemanusiaan.
Misi kemanusiaan
telah menyatukan langkah mencapai satu
tujuan yaitu menolong sesama, didasari sistem kerja yang terorganisir rapi,
disiplin, tanpa tumpang tindih tanggung jawab. Setiap satuan melaksanakan
fungsinya dengan kompetensi yang melekat pada masing-msing personilnya.
Alangkah baiknya apabila
semangat ini menjadi inspirasi seluruh warga pencinta negeri ini, menjalankan
misi kemanusiaan dalam masyarakat, untuk mencapai satu tujuan yaitu menciptakan
kesejahteraan rakyat. Sebuah contoh koordinasi yang sangat baik untuk
diterapkan dalam seluruh aspek kegiatan dalam kehidupan masyarakat.
Dengan korban tewas
sebanyak 45 orang yang merupakan seluruh penumpang pesawat, kita patut
menyatakan turut berduka cita kepada keluarga para korban, serta mendoakan agar
para korban diampuni dosa-dosanya dan diterima Allah untuk ditempatkan pada
tempat yang sebaik-baiknya di sisi-Nya. Dari beberapa ulama yang menanggapi
musibah ini kita mengetahui bahwa para korban yang meninggal dalam kecelakaan
pesawat ini dikategorikan mati syahid dan dijamin masuk surga, mengingat
kecelakaan terjadi di saat mereka menjalankan tugas dan pekerjaannya.
“Janganlah kamu menduga bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, tetapi mereka itu
hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS Ali-‘Imraan 3: 169).
Dari ayat yang lain: “Janganah kamu mengatakan terhadap
orang-orang yang meninggal di jalan Allah bahwa mereka itu telah mati,
sebenarnya mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”(QS Al-Baqarah 2:
154).
Kematian adalah hal
yang tidak dapat dihindari sebagai mahluk yang berasal dari Allah, dan
kepadaNya kita akan kembali, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Mulk 67: 1-2 yang tersebut di bagian depan tulisan
ini. Kematian, dalam pandangan Islam bukanlah sesuatu yang buruk,
karena di samping mendorong manusia untuk meningkatkan pengabdiannya dalam
kehidupan di dunia ini, kematian juga merupakan pintu gerbang untuk memasuki
kebahagiaan yang abadi, serta mendapatkan keadilan sejati.
Mohammad
Kamal
No. 150
Tidak ada komentar:
Posting Komentar