Jumat, 15 Juni 2012

BICARA YANG BAIK ATAU DIAM


Allah Swt berfirman:
الرَّحْمَنُ .عَلَّمَ الْقُرْآنَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ. عَلَّمَهُ الْبَيَانَ.
“Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara. 
(QS Ar-Rahmaan 55: 1-4).
Sebagaimana firman Allah di atas, kemampuan berbicara adalah fitrah manusia. Berbicara adalah salah satu sarana komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat. Bagi sebagian orang, berbicara merupakan sesuatu yang mengasyikkan, bahkan menjadi sebuah hobi tersendiri. Namun, tidak setiap orang  tahu etika dalam menyampaikan pesannya melalui pembicaraan. Ada kalanya orang suka banyak bicara dalam mengemukakan suatu persoalan, dan ada pula orang yang sedikit bicara. Namun orang yang sedikit bicara belum tentu tidak tahu hal yang dibicarakan itu. Bisa jadi orang yang sedikit bicara lebih memahami persoalan yang dibicarakan tersebut.
Suatu ketika Imam Al-Ghazali memberikan pertanyaan kepada murid-muridnya: "Apakah yang paling tajam di dunia ini? Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang. Benar, kata Imam Al-Ghazali, tapi yang paling tajam adalah ‘lidah manusia’. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.  Secara umum Imam Al-Ghazali menasihatkan agar berbicara hanya hal-hal yang bermanfaat dan tidak mengandung bahaya, sedangkan pembicaraan yang banyak mengandung bahaya dan tidak memiliki manfaat, haruslah kita hindari.
Jika kita perhatikan kondisi bangsa Indonesia akhir-akhir ini, maka kita lihat betapa banyak orang yang mengobral pembicaraan, baik yang dilakukan para pakar dan politisi, pejabat negara, maupun masyarakat umum. Para pakar dan politisi pandai berkomentar mengenai suatu persoalan yang dihadapi masyarakat, namun hanya sedikit yang dapat  memberikan solusi atas persoalan tersebut. Mereka sering bertukar pendapat dan berdebat beradu argumentasi di televisi dan berbagai forum, namun hanya sedikit di antara mereka yang dapat membuktikan pendapatnya dengan perbuatan. Begitu pula para pejabat negara, mereka mengemukakan berbagai macam janji kepada masyarakat, namun janji-janji itu hanya sedikit yang direalisasikan.
Demikian pula masyarakat umum, banyak di antara mereka mereka sudah pandai berdebat dengan sesama temannya. Di rumah makan, café, warung, pangkalan ojek, dan di mana saja tempat mereka nongkrong, sering kita jumpai mereka sedang berbincang tentang berbagai macam tema, mulai dari masalah ekonomi, pendidikan, kesehatan, bagaikan para pakar dan politisi.
Terhadap orang-orang yang banyak berbicara Rasulullah Saw bersabda: “Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang-orang yang berpura-pura fasih, dan orang-orang yang mutafaihiqun. Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah itu mutafaihiqun?” Rasulullah menjawab: “Orang-orang yang sombong.” (HR At-Tirmidzi). Begitulah kalau orang-orang yang sombong suka berbicara.
Berani Berbicara Berani Berbuat
Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk tidak menjadi orang yang banyak bicara, tetapi sedikit berbuat (beramal),  karena sikap banyak bicara sedikit berbuat itu, sangat dibenci oleh Allah Swt sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS Ash-Shaaf 61: 2-3).
Ayat ini diturunkan Allah Swt ketika ada sekelompok orang meminta kepada Rasulullah Saw agar diberitahukan tentang amal perbuatan yang paling dicintai Allah Swt. Kemudian Allah menurunkan ayat berisi tentang perintah untuk berjihad. Namun kenyataannya orang yang menawarkan diri untuk melakukan perbuatan yang paling afdhal, justru tidak mau berangkat berjihad untuk membela agama Allah. Mereka enggan  berjihad dan banyak beralasan untuk lari dari jihad.  Padahal mereka sendiri yang meminta untuk ditunjukkan amal yang paling baik, namun tidak mau mengerjakannya. Sehingga hal itu sangat dibenci oleh Allah Swt.
Orang Islam diserukan agar setiap kata yang diucapkan sesuai dengan perbuatannya. Tidak patut seorang Muslim jika hanya bisa menyuruh, tetapi tidak bisa memberikan contohnya. Jika kita bercermin pada pribadi Rasulullah Saw, maka kita akan menemukan  pada diri beliau sebuah teladan yang amat sempurna. Setiap kali beliau memerintahkan suatu amal atau ibadah, beliaulah yang memulai pekerjaan tersebut, sehingga tidak ada suatu amal apapun yang dilakukan para sahabat kecuali hal itu telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw.
Pernah pada suatu ketika, setelah melakukan ibadah lempar jumrah di Mina Rasulullah Saw memerintahkan kepada para sahabat, untuk mencukur rambut dan diteruskan memotong kambing, Namun para sahabat tidak kunjung melakukan perintah tersebut, sehingga Rasulullah Saw agak kurang senang, karena perintahnya tidak segera dilaksanakan oleh para sahabatnya. Kemudian salah seorang isteri Rasul mengusulkan agar beliau memberikan contoh terlebih dahulu. Beliau menuruti usulan tersebut, kemudian beliau mencukur rambut dan memotong kambing. Segera setelah itu para sahabat menirukan yang telah dicontohkan oleh Rasul.
Dari kejadian tersebut, maka kita harus membuktikan segala ucapan kita dengan perbuatan yang nyata, jangan sampai kita hanya bisa bicara tetapi tidak bisa berbuat. Biasanya orang yang pandai bicara dan senang ngrumpi tidak bisa berbuat banyak. Seorang Muslim harus selaras antara ucapan dan perbuatan.
Sedikit Bicara
Setiap kita, hendaknya mengetahui situasi dan kondisi, kapan saat harus bicara dan kapan harus diam. Sebelum berbicara, seseorang sebaiknya memahami atau paling tidak mengetahui persoalan yang akan dibicarakan itu suatu kebaikan atau keburukan. Jika sesuatu itu baik dan dirasa perlu untuk dikomunikasikan, maka sampaikanlah dengan penuh kebaikan. Tetapi sebaliknya, jika sesuatu ingin disampaikan itu suatu keburukan dan bisa menimbulkan fitnah, maka sebaiknya tidak perlu disampaikan, atau jika harus disampaikan, sebaiknya tidak lebih dari apa adanya, tidak perlu diperjelas lebih rinci.
Berbicara yang baik atau diam adalah suatu kebaikan, yang untuk saat ini sedikit sekali orang yang melakukannya. Tentang hal itu Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR Al-Bukhari).
Lidah secara fisik hanya pendek dan lunak dibatasi oleh barisan gigi yang kokoh dan kuat. Namun demikian, masih saja lidah itu sewaktu-waktu menjadi bahaya laten. Ternyata dia bisa menjadi lebih panjang dari jalanan yang ada. Setiap kata dan ucapan yang keluar dari mulut, diterbangkan ke mana-mana. Bahkan, terkadang masih bisa terus diabadikan, hingga pemilik lidah itu tiada. Ketajamannya juga bisa melebihi mata pisau. Hanya karena ucapan, maka korban bisa berjatuhan, meninggalkan luka berkepanjangan. Bahkan melahirkan pendendam dan menjadikan orang sakit hati. Lidah juga bisa lebih berbisa daripada ular yang lebih berbisa sekalipun.
Betapa banyak orang tidak menyadari alangkah banyak dosa yang telah dikumpulkan melalui lisannya. Lebih dari itu, tidak jarang kehancuran seseorang terjadi karena kurang hati-hatinya dalam menyusun kata-kata di atas lidah, karena terlalu banyak bicara akan mengakibatkan  kemampuan otak menurun, membuatnya lemah, sehingga kata-kata yang keluar tanpa kontrol dari pembicaranya. Padahal, ucapan apapun yang kita ucapkan, baik yang diucapkan itu baik ataupun buruk, semuanya terekam oleh Malaikat pencatat, sebagaimana peringatan Allah Swt: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjanmu), yang mulia di sisi Allah dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Infithar 82: 10-12). 
Di antara tanda-tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan ucapan atau perbuatan yang tidak bermanfaat, sebagaimana sabda Rasulsullah Saw: “Termasuk dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya.” (HR At-Tirmidzi). 
Imam Ibnu Rajab (736-795 H) - cucu Imam Mazhab Hambali mengatakan: “Hadits ini merupakan landasan yang sangat agung di antara landasan-landasan adab. Sesungguhnya siapa yang baik keIslamannya pasti dia meninggalkan ucapan dan perbuatannya yang tidak penting baginya; ucapan dan perbuatanmya terbatas dalam hal yang penting baginya.”
Ukuran penting di sini bukan menurut rasa atau rasio / akal kita yang tidak lepas dari pengaruh hawa nafsu, melainkan berdasarkan tuntunan syariat Islam, termasuk meninggalkan ucapan dan perbuatan yang haram, atau hal lain yang masih samar, atau sesuatu yang makruh - perbuatan yang sebaiknya tidak dilakukan, bahkan dalam perkara yang mubah - apabila dikerjakan ataupun ditinggalkan tidak berpahala dan tidak berdosa.
Imam Ibnu Rajab menambahkan: “Kebanyakan pendapat yang ada tentang maksud meninggalkan apa-apa yang tidak penting adalah menjaga lisan dari ucapan yang tidak berguna sebagaimana peringatan Allah Swt: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS Qaaf 50: 18).  

Pembicaraan Yang Tidak Bermanfaat

Karena itu hendaknya kita berbicara hanya tentang hal-hal yang penting dan memberikan manfaat. Menanggapi hiruk pikuk tentang kontroversi konser Lady Gaga, jauh hari sebelum ditolaknya rencana konser tersebut oleh pihak yang berwenang, Al-Mustaqiim dengan tegas menolak rencana konser itu diadakan di Indonesia, karena pentas lagu dan musik hingar bingar seperti itu sangat jelas menyimpang dari ajaran Islam, agama yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia, karena Lady Gaga adalah sosok yang mengagungkan kebebasan tanpa batas, yang hanya akan mengumbar hedonisme, dan mematikan rasa kesetia-kawanan sosial. Sebagai Mukmin, kita harus senantiasa memegang teguh pendirian (tulisan No. 149 / Menjadi Muslim Yang Berpendirian / 25-05-12), tidak terpengaruh oleh pembicaraan yang tidak bermanfaat.  

Memperdengarkan atau mendengarkan lagu dan musik sebagai hiburan yang mengasyikkan itu tidak dilarang dalam Islam, namun tidak semua yang mengasyikkan itu halal, seperti halnya makan makanan yang enak itu dibolehkan, namun tidak semua yang enak itu halal. Seni dalam Islam, apapun jenisnya harus bisa meningkatkan kualitas interaksi seseorang dengan Allah Swt. Interaksi itu adalah iman dan takwa.

Menanggapi acara ‘Serasehan Anak Negeri’ - konon diikuti 100 tokoh bangsa - yang sering ditayangkan di televisi, apa manfaat sersehan itu yang hanya menyindir kepemimpinan nasional karena dianggap tidak mampu mengatasi masalah bangsa? Dikemukakan tentang Indonesia negara yang kekayaan alamnya melimpah ruah, namun kenyataannya hingga saat ini masih saja ada persoalan di bidang pangan dan energi. Di bidang energi, tarik ulur mengenai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sedangkan di bidang pangan ada persoalan ketergantungan pada pangan impor yang semakin hari semakin membesar. Belum lagi masalah investasi asing, dan sebagainya. 
Kebanyakan orang berdebat bukan untuk mencari solusi masalah yang dibicarakan, melainkan cenderung fusuq - untuk menjatuhkan dan menyakiti orang lain, dan banyak orang yang jidal - merasa pendapatnya paling benar, sehingga perdebatan itu - seperti yang dilakukan di acara televisi misalnya - tidak memberikan manfaat apapun, selain keuntungan bisnis bagi penyelenggara acara debat di televisi itu, sebaliknya perdebatan hanya menimbulkan mudharat, yakni kekacauan pikiran masyarakat dalam mencari kebenaran.
Sesungguhnya kebenaran itu hanya pada Allah Swt, dan orang-orang yang iman dan takwanya benar, bukan pada mereka yang dikuasai kekuatan ghadab - kekuatan untuk mengalahkan orang lain, karena kekuatan itu mengandung kesombongan, kedengkian, rasa benci, rasa iri dan rasa dendam, dan kekuatan wahmiyah - kekuatan yang datang dari syeitan, yakni kekuatan yang membenarkan ucapan buruk.
Demikian telah kita pelajari tentang pentingnya berbicara hanya hal-hal yang penting dan memberikan manfaat. Karena itu hendaknya kita segera melakukan muhasabah - introspeksi - dalam berbicara, supaya dosa tidak terkumpul melalui ucapan kita.
Hermanto Harsolumakso
No. 151

3 komentar:

  1. Bagus, setuju agar masyarakat Indonesia tidak terlalu banyak bicara. Tetapi jangan pula sedikit bicara terlalu banyak berbuat yang berlebihan. Jangan suka konflik fisik, dan berbuat anarki, itu memalukan. Dahulukan musyawarah untuk mupakat. Mari kita bersama-sama membagun kerukunan bangsa.

    BalasHapus
  2. Dalam demokrasi diskusi dan debat itu bebas dilakukan siapa saja, dari situ kan ada juga hikmah yang didapat. Memang jangan berlebihan, banyak setan yang akan menjerumuskan kita. Yaitu, konflik fisik di mana-mana.

    BalasHapus
  3. Dengan fusuq dan jidal elite politik saling menjatuhkan berebut kekuasaan dan kekayaan.

    BalasHapus