Allah Swt berfirman:
الرَّحْمَنُ .عَلَّمَ
الْقُرْآنَ.
خَلَقَ الْإِنسَانَ.
عَلَّمَهُ الْبَيَانَ.
“Tuhan
Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya
pandai berbicara.
(QS Ar-Rahmaan 55: 1-4).
(QS Ar-Rahmaan 55: 1-4).
Sebagaimana
firman Allah di atas, kemampuan berbicara adalah fitrah manusia. Berbicara adalah salah satu sarana komunikasi dalam
kehidupan bermasyarakat. Bagi
sebagian orang, berbicara merupakan sesuatu yang mengasyikkan, bahkan menjadi
sebuah hobi tersendiri. Namun, tidak setiap orang tahu etika
dalam menyampaikan pesannya melalui pembicaraan. Ada kalanya orang suka banyak bicara dalam
mengemukakan suatu persoalan, dan ada pula orang yang sedikit bicara. Namun orang yang sedikit bicara belum tentu tidak tahu hal
yang dibicarakan itu. Bisa jadi orang yang sedikit bicara lebih memahami persoalan
yang dibicarakan tersebut.
Suatu ketika Imam Al-Ghazali
memberikan pertanyaan kepada murid-muridnya: "Apakah yang paling tajam di
dunia ini? Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang. Benar, kata Imam
Al-Ghazali, tapi yang paling tajam adalah ‘lidah manusia’. Karena melalui
lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya
sendiri. Secara umum Imam Al-Ghazali menasihatkan agar berbicara hanya hal-hal yang bermanfaat dan tidak mengandung bahaya, sedangkan pembicaraan
yang banyak mengandung bahaya dan tidak memiliki manfaat, haruslah kita
hindari.
Jika kita perhatikan kondisi
bangsa Indonesia
akhir-akhir ini, maka kita lihat betapa banyak orang yang mengobral
pembicaraan, baik yang dilakukan para pakar dan politisi, pejabat negara, maupun
masyarakat umum. Para pakar dan politisi
pandai berkomentar mengenai suatu persoalan yang dihadapi masyarakat, namun hanya
sedikit yang dapat memberikan solusi
atas persoalan tersebut. Mereka sering bertukar pendapat dan berdebat beradu
argumentasi di televisi dan berbagai forum, namun hanya sedikit di antara
mereka yang dapat membuktikan pendapatnya dengan perbuatan. Begitu pula para pejabat
negara, mereka mengemukakan berbagai macam janji kepada masyarakat, namun
janji-janji itu hanya sedikit yang direalisasikan.
Demikian pula masyarakat umum,
banyak di antara mereka mereka sudah pandai berdebat dengan sesama temannya. Di
rumah makan, café, warung, pangkalan ojek, dan di mana saja tempat mereka nongkrong,
sering kita jumpai mereka sedang berbincang tentang berbagai macam tema, mulai
dari masalah ekonomi, pendidikan, kesehatan, bagaikan para pakar dan politisi.
Terhadap
orang-orang yang banyak berbicara Rasulullah Saw bersabda: “Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci
dan yang paling jauh dariku di hari kiamat kelak adalah orang yang banyak
bicara, orang-orang yang berpura-pura fasih, dan orang-orang yang mutafaihiqun.
Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah
itu mutafaihiqun?” Rasulullah menjawab: “Orang-orang yang sombong.” (HR
At-Tirmidzi). Begitulah kalau orang-orang yang sombong suka berbicara.
Berani Berbicara Berani
Berbuat
Islam mengajarkan kepada
ummatnya untuk tidak menjadi orang yang banyak bicara, tetapi sedikit berbuat
(beramal), karena sikap banyak bicara sedikit
berbuat itu, sangat dibenci oleh Allah Swt sebagaimana firman-Nya: “Hai
orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada
kamu kerjakan.” (QS Ash-Shaaf 61: 2-3).
Ayat ini diturunkan Allah Swt ketika
ada sekelompok orang meminta kepada Rasulullah Saw agar diberitahukan tentang
amal perbuatan yang paling dicintai Allah Swt. Kemudian Allah menurunkan ayat
berisi tentang perintah untuk berjihad. Namun kenyataannya orang yang
menawarkan diri untuk melakukan perbuatan yang paling afdhal, justru tidak mau
berangkat berjihad untuk membela agama Allah. Mereka enggan berjihad dan banyak beralasan untuk lari dari
jihad. Padahal mereka sendiri yang
meminta untuk ditunjukkan amal yang paling baik, namun tidak mau
mengerjakannya. Sehingga hal itu sangat dibenci oleh Allah Swt.
Orang Islam diserukan agar setiap
kata yang diucapkan sesuai dengan perbuatannya. Tidak patut seorang Muslim jika
hanya bisa menyuruh, tetapi tidak bisa memberikan contohnya. Jika kita
bercermin pada pribadi Rasulullah Saw, maka kita akan menemukan pada diri beliau sebuah teladan yang amat
sempurna. Setiap kali beliau memerintahkan suatu amal atau ibadah, beliaulah
yang memulai pekerjaan tersebut, sehingga tidak ada suatu amal apapun yang
dilakukan para sahabat kecuali hal itu telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw.
Pernah pada suatu ketika, setelah
melakukan ibadah lempar jumrah di Mina Rasulullah Saw memerintahkan kepada para
sahabat, untuk mencukur rambut dan diteruskan memotong kambing, Namun para
sahabat tidak kunjung melakukan perintah tersebut, sehingga Rasulullah Saw agak
kurang senang, karena perintahnya tidak segera dilaksanakan oleh para
sahabatnya. Kemudian salah seorang isteri Rasul mengusulkan agar beliau
memberikan contoh terlebih dahulu. Beliau menuruti usulan tersebut, kemudian beliau
mencukur rambut dan memotong kambing. Segera setelah itu para sahabat menirukan
yang telah dicontohkan oleh Rasul.
Dari kejadian tersebut, maka
kita harus membuktikan segala ucapan kita dengan perbuatan yang nyata, jangan
sampai kita hanya bisa bicara tetapi tidak bisa berbuat. Biasanya orang yang
pandai bicara dan senang ngrumpi tidak bisa berbuat banyak. Seorang
Muslim harus selaras antara ucapan dan perbuatan.
Sedikit Bicara
Setiap kita, hendaknya
mengetahui situasi dan kondisi, kapan saat harus bicara dan kapan harus diam.
Sebelum berbicara, seseorang sebaiknya memahami atau paling tidak mengetahui
persoalan yang akan dibicarakan itu suatu kebaikan atau keburukan. Jika sesuatu
itu baik dan dirasa perlu untuk dikomunikasikan, maka sampaikanlah dengan penuh
kebaikan. Tetapi sebaliknya, jika sesuatu ingin disampaikan itu suatu keburukan
dan bisa menimbulkan fitnah, maka sebaiknya tidak perlu disampaikan, atau jika
harus disampaikan, sebaiknya tidak lebih dari apa adanya, tidak perlu
diperjelas lebih rinci.
Berbicara yang baik atau diam
adalah suatu kebaikan, yang untuk saat ini sedikit sekali orang yang
melakukannya. Tentang hal itu Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang
beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah dia berkata yang baik atau
diam.” (HR Al-Bukhari).
Lidah secara fisik hanya
pendek dan lunak dibatasi oleh barisan gigi yang kokoh dan kuat. Namun
demikian, masih saja lidah itu sewaktu-waktu menjadi bahaya laten. Ternyata dia
bisa menjadi lebih panjang dari jalanan yang ada. Setiap kata dan ucapan yang
keluar dari mulut, diterbangkan ke mana-mana. Bahkan, terkadang masih bisa
terus diabadikan, hingga pemilik lidah itu tiada. Ketajamannya juga bisa
melebihi mata pisau. Hanya karena ucapan, maka korban bisa berjatuhan,
meninggalkan luka berkepanjangan. Bahkan melahirkan pendendam dan menjadikan orang
sakit hati. Lidah juga bisa lebih berbisa daripada ular yang lebih berbisa
sekalipun.
Betapa banyak orang tidak
menyadari alangkah banyak dosa yang telah dikumpulkan melalui lisannya. Lebih
dari itu, tidak jarang kehancuran seseorang terjadi karena kurang hati-hatinya
dalam menyusun kata-kata di atas lidah, karena terlalu banyak bicara akan
mengakibatkan kemampuan otak menurun,
membuatnya lemah, sehingga kata-kata yang keluar tanpa kontrol dari pembicaranya.
Padahal, ucapan apapun yang kita ucapkan, baik yang diucapkan itu baik ataupun
buruk, semuanya terekam oleh Malaikat pencatat, sebagaimana peringatan Allah
Swt: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi
(pekerjanmu), yang mulia di sisi Allah dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu
itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Infithar 82: 10-12).
Di antara tanda-tanda kebaikan
Islam seseorang adalah meninggalkan ucapan atau perbuatan yang tidak bermanfaat,
sebagaimana sabda Rasulsullah Saw: “Termasuk dari kebaikan Islam seseorang
adalah meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya.” (HR At-Tirmidzi).
Imam Ibnu Rajab (736-795 H) -
cucu Imam Mazhab Hambali mengatakan: “Hadits ini merupakan landasan yang sangat
agung di antara landasan-landasan adab. Sesungguhnya siapa yang baik
keIslamannya pasti dia meninggalkan ucapan dan perbuatannya yang tidak penting
baginya; ucapan dan perbuatanmya terbatas dalam hal yang penting baginya.”
Ukuran penting di sini bukan
menurut rasa atau rasio / akal kita yang tidak lepas dari pengaruh hawa nafsu, melainkan
berdasarkan tuntunan syariat Islam, termasuk meninggalkan ucapan dan perbuatan
yang haram, atau hal lain yang masih samar, atau sesuatu yang makruh - perbuatan
yang sebaiknya tidak dilakukan, bahkan dalam perkara yang mubah - apabila
dikerjakan ataupun ditinggalkan tidak berpahala dan tidak berdosa.
Imam Ibnu Rajab menambahkan:
“Kebanyakan pendapat yang ada tentang maksud meninggalkan apa-apa yang tidak
penting adalah menjaga lisan dari ucapan yang tidak berguna sebagaimana peringatan
Allah Swt: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di
dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS Qaaf 50: 18).
Pembicaraan Yang Tidak Bermanfaat
Karena itu hendaknya kita berbicara hanya tentang hal-hal yang penting dan memberikan manfaat. Menanggapi hiruk pikuk tentang kontroversi konser Lady Gaga, jauh hari sebelum ditolaknya rencana konser tersebut oleh pihak yang berwenang, Al-Mustaqiim dengan tegas menolak rencana konser itu diadakan di Indonesia, karena pentas lagu dan musik hingar bingar seperti itu sangat jelas menyimpang dari ajaran Islam, agama yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia, karena Lady Gaga adalah sosok yang mengagungkan kebebasan tanpa batas, yang hanya akan mengumbar hedonisme, dan mematikan rasa kesetia-kawanan sosial. Sebagai Mukmin, kita harus senantiasa memegang teguh pendirian (tulisan No. 149 / Menjadi Muslim Yang Berpendirian / 25-05-12), tidak terpengaruh oleh pembicaraan yang tidak bermanfaat.
Memperdengarkan atau mendengarkan lagu dan musik sebagai hiburan yang mengasyikkan itu tidak dilarang dalam Islam, namun tidak semua yang mengasyikkan itu halal, seperti halnya makan makanan yang enak itu dibolehkan, namun tidak semua yang enak itu halal. Seni dalam Islam, apapun jenisnya harus bisa meningkatkan kualitas interaksi seseorang dengan Allah Swt. Interaksi itu adalah iman dan takwa.
Menanggapi acara ‘Serasehan Anak Negeri’ - konon diikuti 100 tokoh bangsa - yang sering ditayangkan di televisi, apa manfaat sersehan itu yang hanya menyindir kepemimpinan nasional karena dianggap tidak mampu mengatasi masalah bangsa? Dikemukakan tentangIndonesia negara yang kekayaan
alamnya melimpah ruah, namun kenyataannya hingga saat ini masih saja ada
persoalan di bidang pangan dan energi. Di bidang energi, tarik ulur mengenai
kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sedangkan di bidang pangan
ada persoalan ketergantungan pada pangan impor yang semakin hari semakin
membesar. Belum lagi masalah investasi asing, dan sebagainya.
Pembicaraan Yang Tidak Bermanfaat
Karena itu hendaknya kita berbicara hanya tentang hal-hal yang penting dan memberikan manfaat. Menanggapi hiruk pikuk tentang kontroversi konser Lady Gaga, jauh hari sebelum ditolaknya rencana konser tersebut oleh pihak yang berwenang, Al-Mustaqiim dengan tegas menolak rencana konser itu diadakan di Indonesia, karena pentas lagu dan musik hingar bingar seperti itu sangat jelas menyimpang dari ajaran Islam, agama yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia, karena Lady Gaga adalah sosok yang mengagungkan kebebasan tanpa batas, yang hanya akan mengumbar hedonisme, dan mematikan rasa kesetia-kawanan sosial. Sebagai Mukmin, kita harus senantiasa memegang teguh pendirian (tulisan No. 149 / Menjadi Muslim Yang Berpendirian / 25-05-12), tidak terpengaruh oleh pembicaraan yang tidak bermanfaat.
Memperdengarkan atau mendengarkan lagu dan musik sebagai hiburan yang mengasyikkan itu tidak dilarang dalam Islam, namun tidak semua yang mengasyikkan itu halal, seperti halnya makan makanan yang enak itu dibolehkan, namun tidak semua yang enak itu halal. Seni dalam Islam, apapun jenisnya harus bisa meningkatkan kualitas interaksi seseorang dengan Allah Swt. Interaksi itu adalah iman dan takwa.
Menanggapi acara ‘Serasehan Anak Negeri’ - konon diikuti 100 tokoh bangsa - yang sering ditayangkan di televisi, apa manfaat sersehan itu yang hanya menyindir kepemimpinan nasional karena dianggap tidak mampu mengatasi masalah bangsa? Dikemukakan tentang
Kebanyakan orang berdebat
bukan untuk mencari solusi masalah yang dibicarakan, melainkan cenderung fusuq
- untuk menjatuhkan dan menyakiti orang lain, dan banyak orang yang jidal
- merasa pendapatnya paling benar, sehingga perdebatan itu - seperti yang
dilakukan di acara televisi misalnya - tidak memberikan manfaat apapun, selain
keuntungan bisnis bagi penyelenggara acara debat di televisi itu, sebaliknya perdebatan
hanya menimbulkan mudharat, yakni kekacauan pikiran masyarakat dalam mencari
kebenaran.
Sesungguhnya kebenaran itu hanya pada Allah Swt, dan orang-orang yang
iman dan takwanya benar, bukan pada mereka yang dikuasai kekuatan ghadab
- kekuatan untuk mengalahkan orang lain, karena kekuatan itu mengandung kesombongan,
kedengkian, rasa benci, rasa iri dan rasa dendam, dan kekuatan wahmiyah - kekuatan
yang datang dari syeitan, yakni kekuatan yang membenarkan ucapan buruk.
Demikian telah kita pelajari
tentang pentingnya berbicara hanya hal-hal yang penting dan memberikan manfaat.
Karena itu hendaknya kita segera melakukan muhasabah - introspeksi - dalam
berbicara, supaya dosa tidak terkumpul melalui ucapan kita.
Hermanto Harsolumakso
No. 151
Bagus, setuju agar masyarakat Indonesia tidak terlalu banyak bicara. Tetapi jangan pula sedikit bicara terlalu banyak berbuat yang berlebihan. Jangan suka konflik fisik, dan berbuat anarki, itu memalukan. Dahulukan musyawarah untuk mupakat. Mari kita bersama-sama membagun kerukunan bangsa.
BalasHapusDalam demokrasi diskusi dan debat itu bebas dilakukan siapa saja, dari situ kan ada juga hikmah yang didapat. Memang jangan berlebihan, banyak setan yang akan menjerumuskan kita. Yaitu, konflik fisik di mana-mana.
BalasHapusDengan fusuq dan jidal elite politik saling menjatuhkan berebut kekuasaan dan kekayaan.
BalasHapus