Rabu, 25 Mei 2011

AKHLAK DALAM AKTIVITAS EKONOMI

Manusia adalah makhluk Allah yang diberi-Nya nafsu dan akal. Karena itu dia mempunyai kebutuhan lahir maupun batin yang tidak berbatas, tetapi juga kemampuan untuk mengusahakan berbagai ragam kebu-uhannya itu. Manusia bukan hanya perlu makan tetapi makanan yang lezat, yang ditata apik di tempat yang bagus. Manusia bukan hanya perlu tempat berteduh tetapi rumah yang indah, nyaman dan aman dari gangguan luar, bahkan bagi sebagian orang, yang prestigious.

Allah Swt menempatkan manusia di bumi; maka Dia menyediakan baginya di planet ini, bahan-bahan untuk memenuhi segala keperluannya, Allah menundukkan setiap unsur alam ini kepada manusia, dan menyempurnakan nikmat-nikmat alam ini baik yang lahir – yang segera dapat digunakan, maupun yang batin – yang memerlukan usaha keras untuk memperolehnya. (QS Luqman 31: 20).

Maka sesuai dengan posisinya sebagai makhluk budaya, manusia memanfaatkan secara optimal segala sesuatu yang dapat diraih dari alam, dengan mengambil, mengumpulkan, mengolah, memadukan, dan membentuknya, sehingga dapat berfungsi dengan sebaik-baiknya. Orang melakukan aktivitas ekonomi, tetapi berlawanan dengan kebutuhan manusia yang tak berbatas, hampir semua sumber dan sarana untuk itu ada batasnya; sebagian di antara bahan-bahan itu bahkan tidak dapat diperbaharui.

Maka Allah Swt memerintahkan setiap orang untuk mengendalikan keinginannya di dalam bingkai kewajaran (QS Al-A’raaf 7: 31), dan pada saat yang sama bekerja sama dalam aktivitas produksi, distribusi, dan pemanfaatkan sarana-sarana pemenuh kebutuhan-nya itu bagi kebaikan semua orang (QS Al-Maaidah 5: 2). Apabila nafsu tidak dikendalikan, kegiatan ekonomi berada dalam kondisi persaingan, perseteruan, dan permusuhan. Sebagian orang bersekutu dengan sebagian lainnya, tetapi hanya untuk memenangkan permusuhan atas kelompok-kelompok yang lain. Allah Swt memperingatkan manusia bahwa nafsu itu mendorong kepada keburukan kecuali yang dikaruniai Rahmat-Nya. (QS Yusuf 12: 53).

Nafsu yang menerima kucuran Rahmah Allah adalah yang dikendalikan di bawah petunjuk-Nya. Masyarakat yang beranggotakan orang-orang demikian ini menjadi ummatan wasathan – ummat pertengahan (QS Al-Baqarah 2: 143). Mereka mengikuti arahan Allah, tidak pelit tetapi juga tidak boros (QS Al-Israa’ 17: 29). Sebaliknya orang-orang yang tidak menggunakan petunjuk Allah sebagai acuan hidupnya, mereka selalu ingin memiliki yang lebih dan enggan mengeluarkan sekecil apapun dari yang dimilikinya. Rasulullah Saw menyindir mereka dengan mengatakan, kalau orang-orang itu telah mempunyai dua lembah penuh emas permata, dia masih menginginkan lembah yang ketiga. Padahal yang dia perlukan ketika mati hanyalah sepetak kecil tanah untuk mengubur tubuhnya (HR Muslim).

Untuk memperoleh apa yang didambakannya itu mereka melaksanakan dan mengembangkan ekonomi keserakahan. Mereka mengeksploitasi orang-orang lain untuk kepentingan sendiri, dengan tidak memberikan hak-hak orang-orang tersebut dengan sewajarnya. Jadilah mereka orang yang zhalim, yang kelak pasti merasakan adzab Allah yang luar biasa berat; maka tanpa sadar mereka berada dalam proses menzhalimi dirinya sendiri. (QS Ath-Thalaaq 65: 1). Aqidah atau ajaran dasar agama yaitu tauhidullah – keyakinan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, diimplementasikan antara lain berupa kesadaran bahwa segala harta dunia ini milik mutlak Allah Swt. (QS Thaahaa’ 20: 6).

Tetapi Dia menyediakan semua itu untuk manusia (QS Al-Baqarah 2: 29). Perkataan ‘semua’ pada ayat ini bermakna, bahwa semua harta dunia diperuntukkan bagi manusia, dan bahwa yang menjadi pemilik nisbi harta dunia adalah semua orang, bukan segolongan atau suatu generasi saja. Anggapan ini sudah tentu bertentangan dengan pendapat sebagian orang bahwa harta adalah milik mutlak individu yang mengusahakannya, dan berlawanan pula dengan pendapat sebagian yang lain bahwa harta adalah kepunyaan masyarakat. Anggapan dasar bahwa harta kekayaan itu milik Allah menempatkan kepemilikan manusia, baik individu maupun masyarakat itu relatif. Orang berhak mengusahakan dan menggunakan harta itu sepanjang tujuan maupun caranya sesuai dengan ketetapan Allah. Selain itu tatkala seseorang yang menjadi pemilik nisbinya mati, harta kembali kepada Allah dalam arti diserahkan kepada orang-orang yang ditunjuk dengan ketetapan Allah. (QS An-Nisaa’ 4: 11-12). Kepemilikan individu dan masyarakat tidak dipertentangkan karena semuanya relatif. Dalam banyak hal individu diberi porsi besar; dia berkewajiban membayar zakatnya, maka dialah yang memilikinya. Tetapi dalam hal lain, misalnya orang bersekutu dalam kepemilikan api, air dan rumput. (HR Ahmad dan Abu Daud).

Selanjutnya sejalan dengan pernyataan bahwa Allah menyedi-akan harta ini bagi manusia, maka Allah memerintahkan manusia untuk mengusahakannya dengan bekerja, memanfaatkan tenaga dan akalnya secara optimal (QS Al-Jumu’ah 62: 10). Maka mengusahakan harta dengan tujuan dan tatacara yang sesuai dengan hukum Allah meru-pakan ibadah, yang memberikan kepada orang yang bekerja, apa yang dia usahakan beserta pahala Allah. Tentang hal ini Rasulullah Saw bersabda: “Tidak seorang Muslimpun yang bercocok tanam lalu dengan bulir atau buah yang tumbuh dari tanaman itu seokor burung mem-peroleh rizkinya, kecuali dia mendapat pahala shodaqoh”. (HR Muslim). Pada kesempatan lain beliau menyatakan: Mencari yang halal adalah wajib sesudah yang wajib. (HR Bukhari-Muslim). Kerja keras untuk mengusahakan rizki juga menghasilkan ampunan Allah. (HR Bukhari-Muslim).

Telah kita bicarakan, usaha ekonomi yang benar dan diridhai Allah adalah yang dilakukan dengan mengacu ketetapan-ketetapan Allah. Tetapi banyak orang yang mengabaikan hal itu, karena tidak memercayai eksistensi Allah atau tidak percaya bahwa Allah menetapkan aturan-aturan mengenai tatacara produksi dan distribusi kebutuhan sehari-hari manusia. Mereka beranggapan, hal-hal yang berkenaan dengan kehidupan dunia adalah urusan manusia sendiri. Padahal kenyataan menunjukkan bahwa apabila manusia diberi kele-luasaan untuk mengatur dirinya sendiri tanpa dibatasi oleh aturan yang berasal dari Allah, tiap-tiap orang akan mengikuti nafsunya yang berkembang melampaui takaran. Telah nyata terjadinya kerusakan di daratan dan lautan, yang diakibatkan oleh tangan-tangan manusia. (QS Ar-Ruum 30: 41). Di antara kerusakan yang nampak dengan jelas akibat keserakahan manusia adalah polusi udara dan air, tanah longsor, banjir, erosi, aberasi, pemanasan global, dan sebagainya. Berbagai sumber energi tak terbarukan telah habis dalam waktu singkat, padahal generasi-generasi manusia yang lahir kelak, memiliki hak sama untuk menikmatinya. Maka nyata sekali bahwa mematuhi aturan Allah yang menyediakan alam ini bagi manusia, merupakan keharusan. Allah menandaskan, barangsiapa menetapkan sesuatu tidak mengikuti aturan-Nya, dia kafir, dia zhalim, dia fasik. (QS Al-Maidah 5: 44, 45, 47).

Kondisi buruk yang terjadi di muka bumi karena penghuninya tidak mengikuti ketetapan Allah, bukan hanya dalam hal-hal fisik tetapi juga menyerang jiwa manusia sendiri. Keserakahan menimbulkan pertikaian di antara orang-orang yang sama-sama menginginkan sesuatu, sejak dari kekayaan sampai dengan kedudukan, kekuasaan, pengaruh, dan sebagainya. Kecenderungan pada akhir-akhir ini adalah bahwa upaya memperoleh kedudukan dan lain-lain itu berpangkal pada nafsu memperoleh kekayaan yang sebesar-besarnya. Kita menyaksikan dengan jelas bahwa usaha keras seseorang, kelompok, partai, golongan, bahkan negara, untuk memantapkan posisi kepemimpinan lokal, regional, nasional sampai global, didorong oleh keinginan elit untuk meraup kekayaan yang maksimal bagi dirinya sendiri. Masing-masing orang mengaku bahwa pikiran atau tindakannya adalah untuk membela rakyat dan untuk menegakkan kebenaran, tetapi sebenarnya untuk memperlancar jalannya di dalam memperoleh kekayaan.

Karena itu berkali-kali Allah Swt mengingatkan manusia bahwa betapapun banyaknya kekayaan yang dapat diraih dalam kehidupan dunia, di sisi Allah ada tempat kembali yang terbaik yaitu surga. (QS Ali ‘Imran 3: 14). Karena itu jangan terbetik di hati untuk mencampakkan petunjuk Allah yang membawa orang ke surga, dengan kesenangan duniawi yang rendah nilainya. (QS Al-Baqarah 2: 41). Pada ayat lain Allah menegaskan: * “Janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan bathil”. (QS Al-Baqarah 2: 188). * “Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan jangan kamu merajalela di muka bumi dengan berbuat kerusakan”. (QS As-Syu’araa’ 26: 183). Rasulullah Saw menambahkan: “Hati-hati, jangan sampai kamu menzhalimi, karena kezaliman menimbulkan kegelapan demi kegelapan pada hari Kiamat.” (Al-Hadits).

Di antara kezaliman dalam perniagaan adalah berbuat curang: memalsukan tmbangan, takaran, dan mutu barang atau jasa yang diperdagangkan. Dalam hal ini Allah berfirman: “celaka besar orang-orang yang curang. Yaitu yang ketika menerima takaran dari orang lain minta dipenuhi. Tetapi tatkala menakar atau menimbang untuk orang lain mereka mengurangi. (QS Al-Muthaffifin 83: 1-3). Perkataan wailun yang diterjemahkan sebagai celaka besar, adalah kondisi orang yang akan masuk neraka. Bahkan sebagian ulama memaknai perkataan tersebut sebagai salah satu sebutan neraka. Kezaliman lain di bidang ini adalah riba yang terdiri atas riba nasi-ah yaitu pembayaran pinjaman lebih dari pinjamannya karena dipersyaratkan oleh yang meminjami, dan riba fadhl yakni penukaran suatu barang dengan barang lain yang berbeda nilainya karena dipersyaratkan seperti itu. Larangan riba ini begitu keras sehingga Allah berfirman: Orang-orang yang makan riba itu tidak dapat berdiri kecuali seperti berdirinya orang yang kemasukan syeitan karena penyakit gila. (QS Al-Baqarah 2: 275).

Kezhaliman lain lagi adalah monopoli. Rasulullah Saw melarang penduduk kota menjemput pedagang yang datang dari luar kemudian memborong barang dagangannya dan menjualnya di kota dengan harga yang ditetapkannya sendiri. Beliau menyuruh membiarkan pedagang dari luar itu sampai di pasar sehingga harga dibentuk bersama. Kezhaliman berikutnya adalah menimbun barang agar menjadi langka dan orang yang memiliki barang itu dapat menjualnya dengan harga tinggi. Yang menderita kerugian tentu saja konsumen. Maka Rasulullah Saw menyatakan: “Barangsiapa menimbun barang, dia bukan golongan kami”. Yang dimaksud “golongan kami” adalah kaum Muslimin.

Dari uraian tadi jelas bagi kita bahwa perniagaan yang baik adalah yang dilakukan atas dasar suka sama suka (QS An-Nisaa’ 4: 29), karena perniagaan merupakan salah satu wujud dari kerja sama manusia dalam memperoleh kebutuhan-kebutuhannya secara optimal. Hasil dari perniagaan demikian itu diberkati Allah sehingga bermanfaat untuk dunia dan akhirat. Tetapi meskipun keadilan sudah ditegakkan, toh masih tetap ada orang-orang yang kaya dan yang miskin. Hal itu karena orang mempunyai kemampuan yang berbeda dan juga kesempatan yang berlainan dalam mengusahakan rizki. Maka untuk mengatasi hal itu Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk menunai-kan zakat sebagai kewajiban, dan shadaqah tathowwu’ sebagai kebaikan tambahan. Setiap pengeluaran untuk kedua hal tadi akan dibalas Allah dengan pahala yang berlipat ganda. Namun harus diingat bahwa zakat dan shadaqah itu dikeluarkan hanya dari harta yang halal. Harta haram tidak dapat dibersihkan dengan zakat, shadaqah sunnat, umrah dan haji, tetapi harus dikembalikan kepada yang berhak.

Kalau kita simak berbagai keterangan Al-Qur’an dan Hadits Rasul, kita dapat menyimpulkan bahwa orang-orang yang memiliki kelebihan rizki diseru agar memberi dan memberi, sedangkan yang kekurangan dihimbau agar menjadi muta’affif – orang yang menjaga kehormatan diri dengan tidak meminta-minta. Rasulullah Saw bersabda: “Tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah. Mulailah memberi kepada orang-orang yang menjadi tanggunganmu”. (HR Bukhari-Muslim).

Sakib Machmud

No. 114

Minggu, 15 Mei 2011

DOA DAN DZIKIR


MEMAGARI DIRI DARI PERILAKU SOMBONG
“Dan janganlah memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan angkuh, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman 31: 18).
Melalui ayat Al-Qur’an di atas, diperingatkan kepada siapapun (manusia) bahwa Allah Swt tidak menyukai perilaku sombong. Sombong adalah sifat perilaku Iblis yang telah ditunjukkannya semenjak Allah menciptakan manusia pertama Adam, karena menganggap dirinya ‘lebih baik’ dari manusia, sehingga Allah telah memutuskan tempat bagi iblis adalah neraka. Kutipan dari ayat Al-Quran: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) diwaktu aku menyuruhmu?. Iblis menjawab: “Saya lebih baik dari padanya, Engkau ciptakan aku dari api sedangkan dia (Adam) Engkau ciptakan dari tanah” (QS Al-A’raaf 7: 12).
Perilaku sombong, dapat juga hinggap pada diri manusia yang ‘merasa lebih’ dalam hal yang diyakininya. Ada dua jenis kesombongan pada diri manusia.
Pertama, sombong terhadap kebenaran, yaitu merasa dirinya paling benar. Orang menjadi sombong karena menganggap dirinya sempurna, sehingga memandang rendah orang lain, meremehkan, bahkan tidak menerima kebenaran jika itu datang dari orang lain. Dalam Al-Qur’an Allah Swt mencontohkan Fira’un sebagai orang yang sombong terhadap kebenaran. Fira’un tidak pernah mau mendengarkan apa yang disampaikan oleh Nabi Musa As dan Nabi Harun As. Fira’un yang berkuasa sebagai raja, berbadan perkasa dan konon tidak pernah mengalami sakit, bahkan menganggap dirinya sebagai Tuhan.
Kedua, sombong karena ‘merasa sempurna’, dan meremehkan orang lain ketika kebetulan dianugerahi oleh Allah berbagai kelebihan, secara fisik, prestasi yang dicapai, harta, dan kekuasaan. Bahkan ‘merasa sempurna’ dapat timbul pada orang yang pandai ilmu dunia atau agama. Segala kesombongan itu berujung pada keinginan dan kesenangan untuk mendapat pujian dan acungan jempol, yang semakin lama tidak ingin mendapatkan celaan, karena celaan amat memalukan dan menyakitkan hatinya.
Kesombongan jenis kedua ini banyak terjadi di sekitar kita, bahkan mungkin kita juga mengalami secara tidak sadar. Memang kesombongan jenis ini derajatnya tidak terlalu tinggi dibandingkan jenis yang pertama, namun lama kelamaan kalau berlanjut dan tidak ada rem atau pagar yang membatasi, bisa menjurus pada kesombongan kebenaran yang sangat dibenci Allah. Rasulullah Saw mengingatkan keburukan orang yang sombong: “Barang siapa dalam hatinya ada sifat kesombongan, walaupun sekecil biji sawi, dia tidak bisa masuk surga.” (HR Muslim).
Marilah kita sejenak melihat contoh dalam kehidupan sehari-hari; pernahkah kita menyadari pada suatu ketika kita hadir di majelis, di mana di sana diumumkan daftar penyumbang santunan anak yatim-piatu, nama kita tercantum paling atas karena jumlah sumbangan kebetulan terbesar, kita merasa bersyukur sekaligus ada rasa bangga hati. Pada pertemuan majelis berikutnya, kita berusaha memberikan sumbangan lebih besar lagi dengan harapan ingin dicantumkan lagi di tempat yang teratas. Sudah barang tentu para anggota majelis akan memberikan pujian berkat sumbangan yang kita berikan, yang berarti turut lebih memperhatikan dan kepedulian kepada yatim-piatu. Namun pada saat yang bersamaan kita tanyakan pada hati kita sendiri, apakah sumbangan yang kita berikan kali ini adalah ‘murni’ karena peduli yatim-piatu, atau karena ingin dipuji? Bukankah ini bibit dari sikap sombong? Hanya kita sendiri dan Allah yang tahu.
Di sisi lain, sifat dasar manusia memang selalu ingin dipuji, ingin diakui kelebihannya dan selalu merasa bangga akan prestasi atau ‘kelebihan’ yang dimilikinya. Karena itu salah satu strategi dalam bisnis untuk mensukseskan pemasaran suatu produk, tak segan-segan penjual menarik perhatian pelanggan dengan menyanjung calon pembeli dengan berbagai cara dan mengeksploitasi sifat dasar ini untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Metode ini sangat ampuh dan efektif, bahkan pembeli yang fanatik pada merk terkenal kadang-kadang tak berpikir panjang membelinya biarpun harga lebih mahal, asal orang lain melihat ia memakai produk yang ‘top’.
Fenomena ini sah-sah saja dalam hubungan antar manusia di mana masing-masing terpenuhi kebutuhannya dan memperoleh kepuasan. Sehingga terciptalah suatu rangkaian mekanisme transaksional berdasarkan kesepakatan ‘take and give’ dalam sistem pemasaran bisnis. Hal serupa juga terjadi dalam semua aspek hubungan antar manusia.
Contoh lain, dengan semangat fastabiqul khoirot (berlomba dalam kebajikan), setiap muslim akan selalu meningkatkan amal perbuatannya menjadi lebih baik, bahkan penggalan ayat ini dapat memberikan inspirasi bagi seluruh ummat Muslim untuk meraih kemajuan dan meningkatkan kualitas di segala bidang, baik amal dunia maupun akhirat. Namun apabila di balik keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan, timbul rasa paling pintar atau menganggap prestasi yang diperoleh semata-mata dari kerja kerasnya sendiri, sehingga lupa bahwa semua adalah atas karunia Allah, maka niat baik yang semula ikhlas telah dihinggapi perilaku sombong.
Dari beberapa contoh di atas, terlihat bahwa batas antara ‘ikhlas dan ‘sombong’ adalah sangat tipis, dan pada batas yang tipis ini amal kita dinilai apakah diterima atau tidak dihadapan Allah. Setiap amal perbuatan yang dilakukan dengan niat ibadah dan ikhlas karena Allah, akan memperoleh dua manfaat yaitu ‘manfaat dunia’ dan ‘manfaat akhirat’. Karena manusia selalu menjadi target godaan oleh iblis, maka sebaik apapun maksud dan semulia niat seseorang dalam melaksanakan amal perbuatan, selalu saja iblis mencoba untuk membelokkan kepada perilaku yang sesat, bahkan dengan cara yang sangat halus sekalipun. Karena itu jagalah dan pagari diri kita jangan sampai amal perbuatan selama di dunia yang sukses, tapi sia-sia di hadapan Allah.
Untuk menjaga agar amal perbuatan tidak terkontaminasi oleh perilaku iblis, baik itu berupa riya’, dengki, iri, atau penyakit hati lainnya yang berujung pada perilaku sombong, maka kita perlu memagari diri dengan selalu ingat pada Allah yaitu dengan Doa dan Dzikir. Dalam setiap melakukan amal perbuatan harus berpegang hal-hal sebagai berikut: 1. Niat yang tulus, 2. Ikhlas karena Allah, 3. Serius, tidak setengah-setengah, dan 4. Fokus pada tujuan. Dengan doa dan dzikir, bagi seorang mukmin merupakan senjata yang sangat ampuh dalam mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi, di samping sebagai sarana untuk mencapai ketenangan dan ketenteraman hati.
Keutamaan Doa. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt menyebut orang-orang yang tidak mau berdoa kepada-Nya sebagai orang yang sombong: *“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuabulkan kamu, sesungguhnya orang-orang yang sombong (tidak mau) beribadah kepada-Ku itu nanti mereka akan masuk jahanam dengan hina dina.” (QS Al Mukmin 40: 60). * “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat, Aku akan mengabulkan doanya orang yang berdoa, apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS Al-Baqarah 2: 186). Dari sabda Rasulullah Saw: “Siapa saja yang tidak mau minta kepada Allah, maka Allah akan marah kepadanya.” (HR At-Tirmidzi)
Keutamaan Dzikrullah. Di dalam Al-Qur;an banyak sekali ayat-ayat yang menganjurkan berdzikir untuk mengingat Allah (dzikrullah), begitu pula dalam hadits-hadits Nabi Muhammad Saw. Firman Allah: * “Ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan mengingat kamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan jangan kufur kepada-Ku.” (QS Al-Baqarah 2: 152). * “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya, dan sucikanlah Dia di waktu pagi dan sore”. (QS Al-Ahzab 33: 41-42). * “Dan ingatlah kepada Tuhanmu di dalam hatimu dengan merendahkan diri dan tersembunyi serta tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan sore, dan janganlah kamu tergolong orang-orang yang lalai.” (QS Al-A’raaf 7: 205). * ”Laki-laki dan perempuan yang banyak ingat kepada Allah itu, Allah sediakan buat mereka keampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Ahzab : 30). * “Dan bertasbihlah kamu dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari, dan sebelum tenggelamnya matahari.” (QS Thaahaa 20: 130). * “Bertasbihlah kamu dengan memuji Tuhanmu di waktu sore dan pagi.” (QS Ghaafir 40: 55).
Demikian juga sabda Rasulullah Saw: * “Perumpamaan orang yang mau ingat kepada Tuhannya dengan orang yang tidak mau ingat Tuhannya, itu bagaikan orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.” (HR Al-Bukhari). * “Ada empat kalimat yang amat dicintai Allah, yang boleh saja engkau memulai dari mana saja, yaitu: Subhanallah Walhamdudlillah Wa laa ilaaha illallah Wallahu Akbar.” (HR Muslim). Dari Yasirah, ia berkata: * “Rasulullah Saw bersabda: “Bacalah Tahlil (laa ilaa ha illallah), Tasbih (subhanallah), dan Taqdis (Alhamdulillah), dan janganlah kamu lalai, maka kamu akan melalaikan rahmat, dan hitunglah dengan jari-jari karena jari-jari itu kelak akan ditanya dan mereka bisa berbicara.” (HR Ahmad, At-Tirmidzi, dan Abu Daud).
Banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi memberikan petunjuk dan pedoman pada kita untuk tetap berpegang pada tali Allah dalam aktifitas duniawi (mu’amalah) dan amal perbuatan untuk akhirat (‘ubudiyah).
Dalam memajukan dan meningkatkan kesejahteraan manusia diperlukan ilmu yang menggali potensi seluruh alam ciptaan Allah, dan cara dan strategi yang makin efektif dalam melaksanakannya. Seorang mukmin memiliki ‘nilai lebih’ dalam menyikapi dan melaksankannya yaitu menempatkan segala amal pebuatan sebagai bagian dari ibadah karena Allah, setiap amal perbuatan yang dilakukan dengan niat ibadah dan ikhlas karena Allah, akan memperoleh dua manfaat yaitu ‘manfaat dunia’ dan ‘manfaat akhirat’. Bagi setiap mukmin pegangan yang yang teguh itu telah jelas diikrarkan: Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,“ (QS Al-An’aam 6: 162)
Apabila kita berdiri di suatu pantai menghadap laut lepas pada malam hari di bawah naungan bintang-bintang yang gemerlapan di langit, kita baru merasa bahwa diri kita sangat kecil dan tidak berarti dibandingkan dengan alam ciptaan Allah yang sangat luas tidak terbatas. Kita akan menyadari bahwa apa yang kita miliki, tidak ada apa-apanya di hadapan Allah Swt. Mengapa kita merasa sombong? Oleh karena itu apabila ada bibit kesombongan pada diri kita walaupun sekecil debu, segeralah dihilangkan. Segera ingat kembali kepada Allah dan beristighfar, jangan biarkan bibit kesombongan itu berkembang dalam hati karena hanya iblis yang akan senang. Semoga dengan selalu mengingat Allah melalui doa dan berdzikir kita selalu dijaga dari sifat dan perilaku sombong.
Mohamad Kamal Hs
No. 113