MEMAGARI DIRI DARI PERILAKU SOMBONG
“Dan janganlah memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan angkuh, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman 31: 18).
Melalui ayat Al-Qur’an di atas, diperingatkan kepada siapapun (manusia) bahwa Allah Swt tidak menyukai perilaku sombong. Sombong adalah sifat perilaku Iblis yang telah ditunjukkannya semenjak Allah menciptakan manusia pertama Adam, karena menganggap dirinya ‘lebih baik’ dari manusia, sehingga Allah telah memutuskan tempat bagi iblis adalah neraka. Kutipan dari ayat Al-Quran: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) diwaktu aku menyuruhmu?. Iblis menjawab: “Saya lebih baik dari padanya, Engkau ciptakan aku dari api sedangkan dia (Adam) Engkau ciptakan dari tanah” (QS Al-A’raaf 7: 12).
Perilaku sombong, dapat juga hinggap pada diri manusia yang ‘merasa lebih’ dalam hal yang diyakininya. Ada dua jenis kesombongan pada diri manusia.
Pertama, sombong terhadap kebenaran, yaitu merasa dirinya paling benar. Orang menjadi sombong karena menganggap dirinya sempurna, sehingga memandang rendah orang lain, meremehkan, bahkan tidak menerima kebenaran jika itu datang dari orang lain. Dalam Al-Qur’an Allah Swt mencontohkan Fira’un sebagai orang yang sombong terhadap kebenaran. Fira’un tidak pernah mau mendengarkan apa yang disampaikan oleh Nabi Musa As dan Nabi Harun As. Fira’un yang berkuasa sebagai raja, berbadan perkasa dan konon tidak pernah mengalami sakit, bahkan menganggap dirinya sebagai Tuhan.
Kedua, sombong karena ‘merasa sempurna’, dan meremehkan orang lain ketika kebetulan dianugerahi oleh Allah berbagai kelebihan, secara fisik, prestasi yang dicapai, harta, dan kekuasaan. Bahkan ‘merasa sempurna’ dapat timbul pada orang yang pandai ilmu dunia atau agama. Segala kesombongan itu berujung pada keinginan dan kesenangan untuk mendapat pujian dan acungan jempol, yang semakin lama tidak ingin mendapatkan celaan, karena celaan amat memalukan dan menyakitkan hatinya.
Kesombongan jenis kedua ini banyak terjadi di sekitar kita, bahkan mungkin kita juga mengalami secara tidak sadar. Memang kesombongan jenis ini derajatnya tidak terlalu tinggi dibandingkan jenis yang pertama, namun lama kelamaan kalau berlanjut dan tidak ada rem atau pagar yang membatasi, bisa menjurus pada kesombongan kebenaran yang sangat dibenci Allah. Rasulullah Saw mengingatkan keburukan orang yang sombong: “Barang siapa dalam hatinya ada sifat kesombongan, walaupun sekecil biji sawi, dia tidak bisa masuk surga.” (HR Muslim).
Marilah kita sejenak melihat contoh dalam kehidupan sehari-hari; pernahkah kita menyadari pada suatu ketika kita hadir di majelis, di mana di sana diumumkan daftar penyumbang santunan anak yatim-piatu, nama kita tercantum paling atas karena jumlah sumbangan kebetulan terbesar, kita merasa bersyukur sekaligus ada rasa bangga hati. Pada pertemuan majelis berikutnya, kita berusaha memberikan sumbangan lebih besar lagi dengan harapan ingin dicantumkan lagi di tempat yang teratas. Sudah barang tentu para anggota majelis akan memberikan pujian berkat sumbangan yang kita berikan, yang berarti turut lebih memperhatikan dan kepedulian kepada yatim-piatu. Namun pada saat yang bersamaan kita tanyakan pada hati kita sendiri, apakah sumbangan yang kita berikan kali ini adalah ‘murni’ karena peduli yatim-piatu, atau karena ingin dipuji? Bukankah ini bibit dari sikap sombong? Hanya kita sendiri dan Allah yang tahu.
Di sisi lain, sifat dasar manusia memang selalu ingin dipuji, ingin diakui kelebihannya dan selalu merasa bangga akan prestasi atau ‘kelebihan’ yang dimilikinya. Karena itu salah satu strategi dalam bisnis untuk mensukseskan pemasaran suatu produk, tak segan-segan penjual menarik perhatian pelanggan dengan menyanjung calon pembeli dengan berbagai cara dan mengeksploitasi sifat dasar ini untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Metode ini sangat ampuh dan efektif, bahkan pembeli yang fanatik pada merk terkenal kadang-kadang tak berpikir panjang membelinya biarpun harga lebih mahal, asal orang lain melihat ia memakai produk yang ‘top’.
Fenomena ini sah-sah saja dalam hubungan antar manusia di mana masing-masing terpenuhi kebutuhannya dan memperoleh kepuasan. Sehingga terciptalah suatu rangkaian mekanisme transaksional berdasarkan kesepakatan ‘take and give’ dalam sistem pemasaran bisnis. Hal serupa juga terjadi dalam semua aspek hubungan antar manusia.
Contoh lain, dengan semangat fastabiqul khoirot (berlomba dalam kebajikan), setiap muslim akan selalu meningkatkan amal perbuatannya menjadi lebih baik, bahkan penggalan ayat ini dapat memberikan inspirasi bagi seluruh ummat Muslim untuk meraih kemajuan dan meningkatkan kualitas di segala bidang, baik amal dunia maupun akhirat. Namun apabila di balik keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan, timbul rasa paling pintar atau menganggap prestasi yang diperoleh semata-mata dari kerja kerasnya sendiri, sehingga lupa bahwa semua adalah atas karunia Allah, maka niat baik yang semula ikhlas telah dihinggapi perilaku sombong.
Dari beberapa contoh di atas, terlihat bahwa batas antara ‘ikhlas dan ‘sombong’ adalah sangat tipis, dan pada batas yang tipis ini amal kita dinilai apakah diterima atau tidak dihadapan Allah. Setiap amal perbuatan yang dilakukan dengan niat ibadah dan ikhlas karena Allah, akan memperoleh dua manfaat yaitu ‘manfaat dunia’ dan ‘manfaat akhirat’. Karena manusia selalu menjadi target godaan oleh iblis, maka sebaik apapun maksud dan semulia niat seseorang dalam melaksanakan amal perbuatan, selalu saja iblis mencoba untuk membelokkan kepada perilaku yang sesat, bahkan dengan cara yang sangat halus sekalipun. Karena itu jagalah dan pagari diri kita jangan sampai amal perbuatan selama di dunia yang sukses, tapi sia-sia di hadapan Allah.
Untuk menjaga agar amal perbuatan tidak terkontaminasi oleh perilaku iblis, baik itu berupa riya’, dengki, iri, atau penyakit hati lainnya yang berujung pada perilaku sombong, maka kita perlu memagari diri dengan selalu ingat pada Allah yaitu dengan Doa dan Dzikir. Dalam setiap melakukan amal perbuatan harus berpegang hal-hal sebagai berikut: 1. Niat yang tulus, 2. Ikhlas karena Allah, 3. Serius, tidak setengah-setengah, dan 4. Fokus pada tujuan. Dengan doa dan dzikir, bagi seorang mukmin merupakan senjata yang sangat ampuh dalam mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi, di samping sebagai sarana untuk mencapai ketenangan dan ketenteraman hati.
Keutamaan Doa. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt menyebut orang-orang yang tidak mau berdoa kepada-Nya sebagai orang yang sombong: *“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuabulkan kamu, sesungguhnya orang-orang yang sombong (tidak mau) beribadah kepada-Ku itu nanti mereka akan masuk jahanam dengan hina dina.” (QS Al Mukmin 40: 60). * “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat, Aku akan mengabulkan doanya orang yang berdoa, apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS Al-Baqarah 2: 186). Dari sabda Rasulullah Saw: “Siapa saja yang tidak mau minta kepada Allah, maka Allah akan marah kepadanya.” (HR At-Tirmidzi)
Keutamaan Dzikrullah. Di dalam Al-Qur;an banyak sekali ayat-ayat yang menganjurkan berdzikir untuk mengingat Allah (dzikrullah), begitu pula dalam hadits-hadits Nabi Muhammad Saw. Firman Allah: * “Ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan mengingat kamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan jangan kufur kepada-Ku.” (QS Al-Baqarah 2: 152). * “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya, dan sucikanlah Dia di waktu pagi dan sore”. (QS Al-Ahzab 33: 41-42). * “Dan ingatlah kepada Tuhanmu di dalam hatimu dengan merendahkan diri dan tersembunyi serta tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan sore, dan janganlah kamu tergolong orang-orang yang lalai.” (QS Al-A’raaf 7: 205). * ”Laki-laki dan perempuan yang banyak ingat kepada Allah itu, Allah sediakan buat mereka keampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Ahzab : 30). * “Dan bertasbihlah kamu dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari, dan sebelum tenggelamnya matahari.” (QS Thaahaa 20: 130). * “Bertasbihlah kamu dengan memuji Tuhanmu di waktu sore dan pagi.” (QS Ghaafir 40: 55).
Demikian juga sabda Rasulullah Saw: * “Perumpamaan orang yang mau ingat kepada Tuhannya dengan orang yang tidak mau ingat Tuhannya, itu bagaikan orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.” (HR Al-Bukhari). * “Ada empat kalimat yang amat dicintai Allah, yang boleh saja engkau memulai dari mana saja, yaitu: Subhanallah Walhamdudlillah Wa laa ilaaha illallah Wallahu Akbar.” (HR Muslim). Dari Yasirah, ia berkata: * “Rasulullah Saw bersabda: “Bacalah Tahlil (laa ilaa ha illallah), Tasbih (subhanallah), dan Taqdis (Alhamdulillah), dan janganlah kamu lalai, maka kamu akan melalaikan rahmat, dan hitunglah dengan jari-jari karena jari-jari itu kelak akan ditanya dan mereka bisa berbicara.” (HR Ahmad, At-Tirmidzi, dan Abu Daud).
Banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi memberikan petunjuk dan pedoman pada kita untuk tetap berpegang pada tali Allah dalam aktifitas duniawi (mu’amalah) dan amal perbuatan untuk akhirat (‘ubudiyah).
Dalam memajukan dan meningkatkan kesejahteraan manusia diperlukan ilmu yang menggali potensi seluruh alam ciptaan Allah, dan cara dan strategi yang makin efektif dalam melaksanakannya. Seorang mukmin memiliki ‘nilai lebih’ dalam menyikapi dan melaksankannya yaitu menempatkan segala amal pebuatan sebagai bagian dari ibadah karena Allah, setiap amal perbuatan yang dilakukan dengan niat ibadah dan ikhlas karena Allah, akan memperoleh dua manfaat yaitu ‘manfaat dunia’ dan ‘manfaat akhirat’. Bagi setiap mukmin pegangan yang yang teguh itu telah jelas diikrarkan: Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,“ (QS Al-An’aam 6: 162)
Apabila kita berdiri di suatu pantai menghadap laut lepas pada malam hari di bawah naungan bintang-bintang yang gemerlapan di langit, kita baru merasa bahwa diri kita sangat kecil dan tidak berarti dibandingkan dengan alam ciptaan Allah yang sangat luas tidak terbatas. Kita akan menyadari bahwa apa yang kita miliki, tidak ada apa-apanya di hadapan Allah Swt. Mengapa kita merasa sombong? Oleh karena itu apabila ada bibit kesombongan pada diri kita walaupun sekecil debu, segeralah dihilangkan. Segera ingat kembali kepada Allah dan beristighfar, jangan biarkan bibit kesombongan itu berkembang dalam hati karena hanya iblis yang akan senang. Semoga dengan selalu mengingat Allah melalui doa dan berdzikir kita selalu dijaga dari sifat dan perilaku sombong.
Mohamad Kamal Hs
No. 113
Tidak ada komentar:
Posting Komentar