Rabu, 25 September 2013

QURBAN dan AQIQAH

Sejak menjelang memasuki bulan Dzulhijah 1343 H kesibukan pemerintah khususnya Kementerian Agama maupun panitia dalam pemberangkatan Jemaah Haji mulai meningkat. Lebih lagi para jemaah yang akan menunaikan ibadah haji, sementara sampai saat ini sudah berlangsung kegiatan pemberangkatan para jemaah dari Indonesia sebanyak lebih dari 200 ribu orang. Kegiatan ibadah haji ini akan mencapai puncaknya pada tanggal 10 Dzulhijjah di Arafah 1434 H atau tanggal 15 Oktober 2013 M.

Sementara itu pada bulan ini juga ummat Islam di seluruh penjuru dunia bersiap melakukan ‘qurban’ bagi yang mampu, yang merupakan bagian dari melaksanakan perintah Allah untuk melaksanakan Ibadah. 

Berikut ini penulis menyandingkan; ‘Qurban’ dan ‘Aqiqah’, dua jenis amalan dalam ajaran agama Islam yang masing-masing hukumnya sunah muakkad atau sangat dianjurkan. Kedua amalan ini berupa penyembelihan hewan dari seorang Muslim yang mampu, dengan maksud sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah. Daging dari hewan yang disembelih selanjutnya diberikan sebagian untuk diri sendiri, sebagian diberikan kepada orang yang membutuhkan (fakir / miskin), dan sebagian diberikan merupakan sedekah kepada keluarga atau sahabat. 

Baik qurban maupun aqiqah adalah suatu bentuk penyerahan  untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang intinya adalah ‘ikhlas’. Namun disisi lain hasil dari penyerahan ini juga bermanfaat dalam  hubungan antar manusia yaitu sedekah.
Bedanya, dari kedua amalan di atas adalah; ‘qurban’ dilakukan  hanya setahun sekali pada hari raya Idul Adha, yaitu tanggal 10 Dzulhijjah. Sedangkan ‘aqiqah’ dilaksanakan oleh orang tua muslim setelah kelahiran bayinya.  
Setiap perintah dari Allah dan Rasulnya selalu mempunyai makna baik dari segi ibadah maupun muamalah. Firman Allah: “Kamu sekali-kali tidak sampai pada kebaktian (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS Ali-Imran 3: 92).
Sebagaimana diketahui, bahwa materi atau harta adalah hanya sarana untuk kelancaran pelaksanaan takwa. Makin banyak harta yang dimiliki, maka tingkat ketakwaanpun harus menjadi semakin lebih tinggi. Kebahagiaan itu tidak semata-mata terletak pada harta, tetapi terletak pada keikhlasan hati.   
Rasulullah Saw bersabda: “Setiap muslim harus bersedekah,” Mereka bertanya; Kalau ia tidak punya?” Beliau bersabda: “Hendaklah ia bekerja dengan kedua tangannya, lalu ia biayai dirinya dan bersedekah.” Mereka bertanya: “Kalau ia tidak sanggup, atau tidak dilakukannya?” Rasulullah menjawab: “Hendaklah ia menolong orang yang sangat memerlukan bantuan.” Mereka bertanya lagi: “Kalau ia tidak melakukan?” Beliau menjawab: “Hendaklah ia menyuruh (berbuat) baik, atau berkata dengan pantas.” Seseorang bertanya: “Kalau ia tidak melakukannya?” (Terakhir) Nabi Saw menjawab: “Hendaklah ia menahan diri dari kejahatan, sesungguhnya hal itu sedekah.” (HR Abu Musa Al-asy’ari).

Qurban

Qurban, adalah menyembelih hewan (kambing, domba, sapi) pada hari raya Idul Adha atas dasar taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala. Hukum Qurban adalah sunah wajibah (muakkad) bagi  setiap muslim yang mampu melakukannya.
Dari Al-Qur’an: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS Al-Kautsar 108: 2). Dari hadits: “Pada masa Rasulullah Saw seseorang menyembelih seekor kambing (sebagai kuban) untuk dirinya dan keluarganya.” (HR At-Tirmizi).

Qurban adalah suatu amal yang sangat besar pahalanya. Dalam hadits dikemukakan, bahwasanya Nabi Saw bersabda: “Tidak ada amal yang dikerjakan oleh anak Adam pada hari raya Qurban yang lebih aku sukai selain dari menumpahkan darah (berkurban). Sungguh hewan qurban yang dijadikan qurban itu pada hari kiamat nanti akan datang dengan tanduk-tanduk, kuku-kuku, dan bulu-bulunya. Sungguh darah hewan qurban itu sudah ditempatkan di atas tanah (dan akan menjadi minyak wangi), sehingga badan mereka yang berkurban akan semerbak mewangi.” (HR Ibnu Majah dan At-Tirmidzi).

Dalam hadits Hasan, dikemukakan bahwa Rasulullah  Saw pernah ditanya oleh para sahabatnya: ‘Apa sesungguhnya  qurban itu? Beliau menjawab: “Qurban adalah sunah ayah kalian, Ibrahim. Mereka bertanya lagi: “Apa yang kita peroleh dari padanya? Beliau menjawab: Dengan setiap bulu akan dibalas kebaikan. Mereka bertanya: Bagaimana kalau itu bulu biri-biri? Beliau menjawab: Dengan setiap rambut  dari bulu biri-biri iuga akan dibalas kebaikan.” (HR Ibnu Majah dan At-Tirmizi). Hikmah qurban antara lain;

Pertama. Sebagai bentuk taqarrub (mendekatkan diri)  kepada Allah Ta’ala sesuai dengan perintahNya: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dqn berkurbanlah.” (QS Al-Kautsar 108: 2). “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah. Tuhan semesta alam.” (QS Al-An’am 16: 162). Makna yang dimaksud ‘ibadah’ (an-nusuki) dalam ayat di atas adalah menyembelih hewan kurban sebagai bentuk taqarrub  kepada Allah.

Kedua. Untuk menghidupkan bapak Muwahhidin (bapak orang-orang yang meng-Esakan Allah), yakni Nabi Ibrahim As, karena beliaulah orang pertama yang diperintah oleh Allah Ta’ala agar melakukan kurban dengan menyembelih puteranya, Nabi Ismail As. Kemudian Allah Ta’ala menebusnya dengan seekor biri-biri besar sebagai pengganti. Firman Allah: “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan  yang besar.” (QS As-Saffaat 37: 107).

Ketiga.Sebagai media untuk membahagiakan keluarga di hari raya dan memupuk kasih sayang kepada fakir miskin yang ada di sekitar kita.

Keempat .Sebagai tanda syukur kita kepada Allah Swt yang telah menjadikan hewan ternak tunduk kepada kita. Allah berfirman: ‘”...maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kalian, mudah-mudahan kalian bersykur. Dagin-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya ...” (QS Al-Haj 22: 36-37).

Ketentuan mengenai hewan qurban, umur, untuk biri-biri harus telah genap berumur satu tahun atau hampir genap satu tahun. Untuk kambing harus genap umur satu tahun dan memasuki tahun kedua. Untuk unta harus telah genap berumur empat tahun dan memasuki tahun ke lima, dan untuk sapi harus telah genap berumur dua tahun memasuki tahun ketiga. Sabda Nabi Saw: “Janganlah kalian menyembelih hewan kurban, kecuali yang telah berumur. Bila kesulitan untuk mendapatkannya, sembelihlah oleh kalian domba yang telah genap berusia satu tahun atau hampir satu tahun. Hewan ternak yang tua adalah yang telah tanggal giginya.”

Hewan qurban harus tidak cacat secara fisik dan harus mulus. Dengan demikian tidaklah sah bila hewan kurban hanya bermata satu misalnya, pincang, atau tanduknya patah, telinganya robek, atau hewan yang sakit, kurus dan sebagainya. Sabda Nabi Saw: “Empat jenis hewan yang tidak sah dijadikan hewan kurban adalah; Hewan-hewan yang bermata sebelah (atau yang satu mata buta), hewan yang sakit, hewan yang pincang,  dan hewan yang kurus kering karena di bagian dalam tulang-tulangnya tidak bersumsum.” (HR At-Tirmidzi).

Hewan qurban yang paling afdhal adalah; biri-biri, bertanduk, jantan, berbulu putih bercampur hitam di sekitar mata dan kakinya. Inilah gambaran hewan kurban yang disukai Nabi Saw dan dijadikan hewan qurban beliau, sebagaimana dikemukakan dalam hadits sahih: “Sesungguhnya Nabi Saw berkurban dengan biri-biri bertanduk, kuku kakinya berwarna hitam, bulu kakinya berwarna hitam, dan bulu di sekitar matanya juga berwarna hitam.” (HR At-Tirmidzi).

Waktu menyembelih hewan qurban baru sah apabila dilakukan setelah shalat Idul Adha, sehingga bila disembelih sebelumnya tidak sah. Sedangkan hukum menyembelih hewan qurban di luar sesudah shalat ini dan selama Hari Raya Qurban / Idul Adha masih diperbolehkan, yakni selama hari kedua dan ketiga sesudahnya.

Sunah saat menyembelih kurban, yaitu menghadapkan hewan qurban ke kiblat dan membaca: “Inni wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samaawaati wal ardha hanii fammusliman wamaa anaa minal musyrikiin inna shalaati wanusukii wamahyaa ya wamamaati lillaahi rabbil ‘alamiin laa syarii kalahuu wabidzaa lika  umirtu wa anaa awwalul muslimiin.” - “Sesungguhna aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan berserah diri (kepada-Nya), dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (kepada Allah).”  

Bilamana penyembelihan dilakukan langsung oleh yang berqurban, maka ia wajib menyebut: “Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar. Ya Allah, ini adalah dari-Mu dan untuk-Mu.”   
Yang lebih afdhal dalam berkurban adalah hewan kurban disembelih langsung oleh yang berkurban, meskipun tidak mengapa bila diwakilkan kepada orang lain. Demikian kesepakatan para ulama dalam hal ini.

Cara membagikan daging hewan kurban yang dianjurkan, sebaiknya hewan kurban dibagi menjadi tiga bagian. Satu bagian untuk keluarga, satu bagian untuk disedekahkan, dan satu bagian lagi dihadiahkan kepada sahabat-sahabat. Nabi bersabda: “Makanlah, hadiahkanlah, dan sedekahkanlah.” (Muttafaq‘alaih). Namun demikian, seluruh daging hewan kurban ini boleh disedekahkan, dan dihadiahkan.

Mengenai upah bagi penyembelih hewan qurban (jagal), kita kutip riiwayat berikut ini: “Rasulullah Saw menyuruhku untuk mengurus unta (yang akan dijadikan hewan qurbannya). (Ketika itu) aku disuruh agar mensedekahkan seluruh daging, kulit, dan isi perutnya. Begitu juga aku disuruh agar tidak memberi jagalnya dengan apapun dari hewan kurban tersebut. Beliau bersabda: Kita akan memberinya dari apa yang ada pada kita.” (Muttafaq‘alaih)    

Mengenai jumlah, seekor kambing dianggap memadai sebagai qurban untuk satu keluarga, walaupun anggotanya banyak. “Pada masa Rasulullah Saw, seseorang menyembelih seekor kambing (sebagai qurban) untuk dirinya dan anggota keluarganya,”(HR At-Tirmidzi).

Apa yang harus dijauhi oleh orang berketapan hendak berqurban. Sejak awal masuk buan Dzulhijah orang yang akan berqurban makruh memotong rambut, bulu, atau kukunya. Ketentuan  ini berlaku sampai hewan qurbannya disembelih. Nabi Saw berdabda: “Bilamana kalian telah melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian ada yang hendak berqurban, hendaklah menahan diri untuk tidak memotong rambut (cukur) dan tidak memotong kukunya sampai dengan ia berqurban (hewan qurbannya disembelih).” (HR Muslim).

Rasulullah telah berkurban atas nama seluruh ummatnya; orang yang tidak mampu berkorban tetap memperoleh pahala kurban seperti orang yang berqurban, karena Rasulullah Saw ketika menyembelih salah satu dari dua biri-birinya yang dijadikan hewan kurban, Beiau bersabda: “Ya Allah, kurban ini atas namaku dan atas nama ummatku yang tidak mampu (berqurban).” (HR Ahmad, Abu Daud, dan At-Tirmidzi).

AQIQAH

Aqiqah adalah kambing yang dipotong (disembelih) untuk anak yang baru lahir yang penyembelihannya dilakukan pada hari ketujuh dari kelahirannya. Adapun maknanya secara syari’at adalah menyembelih hewan dengan meneladani Nabi Ibrahim As tatkala Allah Swt menebus putra Ibrahim As yang tercinta Ismail As. Dalam aqiqah ini mengandung unsur perlindungan dari syeitan yang dapat mengganggu anak yang terlahir itu. dengan aqiqahnya. Sehingga anak yang telah ditunaikan aqiqahnya insya Allah lebih terlindung dari gangguan syeitan yang sering mengganggu anak-anak.

Hukum aqiqah adalah sunnah muakkad bagi orang tua atau wali sang bayi yang mampu. Nabi bersabda: “Setiap anak (yang lahir) tergadai pada aqiqah yang disembelih atas namanya pada hari ketujuh dari kelahirannya untuk diberi nama dan dicukur rambutnya.” (HR Abu Daud dan An-Nasa’).

Hikmah Aqiqah, dari sejumlah hikmah disyariakan aqiqah antara lain; Sebagai ungkapan syukur kepada Allah Swt atas niat diberi keturunan dan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan memelihara dan merawat anak yang dikaruniakannya.

Ketentuan hewan yang akan dijadikan Aqiqah, hewan  harus mulus dan mencapai umur seperti yang telah ditentukan untuk sahnya dijadikan hewan qurban, sehingga hewan yang tidak memenuhi ketentuan untuk sahnya dijadikan hewan qurban juga tidak sah untuk dijadikan aqiqah.  

Aqiqah diberikan dan dibagikan kepada orang-orang seperti yang disebutkan dalam pembagian hewan qurban. Disunahkan aqiqah dengan dua ekor kambing bagi anak laki-laki. “Rasulullah telah menyembelih (masing-masing) dua ekor biri-biri (sebagai aqiqah) atas nama Hasan dan Husain.” (HR At-Tirmidzi).

Disunahkan pula bayi yang baru lahir ini pada hari ke tujuh dari kelahirannya untuk diberi nama yang baik dan rambutnya dicukur. Kemudian rambutnya ini digram dan bersedekah emas atau perak seberat rambutnya, atau uang senilai emas/perak tersebut. 

Nabi bersabda: “Setiap anak (yang lahir) tergadai pada aqiqah yang disembelih atas namanya pada hari ketujuh dari kelahirannya untuk diberi nama dan  dicukur rambutnya.” (HR Abu Daud dan An-Nasa’i)

Jika setelah hari ketujuh dari kelahiran bayi belum dilaksanakan aqiqah, tidak mengapa aqiqah dilaksanakan pada hari ke empat belas atau hari ke duapuluh satu dari kelahirannya. Namun menurut beberapa ulama kalau tidak sempat aqiqah dalam waktu di atas, setidak-tidaknya sekali dalam hidupnya anak dilakukan aqiqah. Jika bayi meninggal dunia sebelum genap berusia tujuh hari, baginya tidak perlu dilaksanakan aqiqah.   

Demikian, catatan singkat tentang qurban dan aqiqah, semoga menjadi tambahan pemahaman tentang hal tersebut, dan semoga tambah upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah.

(Disarikan dari buku ‘Pedoman Hidup Muslim’ disusun oleh Abu Bakr Jabir al-Jaza’iri)

Mohammad Kamal
No. 198

Minggu, 15 September 2013

KEMANUSIAAN DAN ILMU PENGETAHUAN

Manusia yang memenuhi jati dirinya ialah yang beriman tauhid, percaya sepenuhnya bahwa tidak ada yang mencipta, mengatur, menguasai dan memiliki segala sesuatu kecuali Allah. Dia menetapkan aturan-aturan bagi alam dzahir dan alam batin, bagi benda-benda mati, seluruh tetumbuhan, hewan, malaikat, jin dan manusia. Keyakinan demikian itu menumbuhkan kesadaran dan semangat untuk bekerja keras bagi kebaikan manusia sendiri dan alam raya. Kerja seperti itu dinamai amal shaleh; amal artinya perbuatan yang disengaja sedangkan sahleh bermakna selaras - dalam hal ini selaras dengan aturan-aturan Allah. Amal shaleh merupakan realisasi iman yang sejati. Al-Qur’an berulang kali menegaskan hubungan tak terpisahkan antara keduanya, antara lain bahwa manusia akan menderita kerugian yang sangat dalam mengarungi masa hidup di dunia yang amat singkat ini, kecuali yang beriman dan beramal saleh (QS Al-'Ashr 104: 1-3).

Dengan uraian tadi maka menjadi sangat jelas bahwa untuk beramal shaleh, manusia perlu mengetahui secara mendalam aturan-aturan Allah yang telah Dia gariskan untuk alam raya dan manusia sendiri. Al-Qur’an menyebut ketetapan-ketetapan Allah tersebut sebagai ‘ayat’, dan Dia memberi kemampuan kepada manusia memahami ayat-ayat-Nya, baik yang kauniyah - aturan yang dipelajari manusia sendiri di dalam alam, maupun yang tanziliah - diturunkan dalam bentuk wahyu kepada Rasul-rasul-Allah (QS Fushshilat 41: 53). Aturan-aturan Allah yang pasti dan tidak berubah itu (QS Al-Ahzaab 33: 62) menggerakkan dinamika alam yang terus menerus tetapi dari waktu ke waktu membentuk harmoni. Ayat kauniyah dan ayat tanziliah berasal dari Allah yang Esa, maka tidak mungkin ada pertentangan di antara keduanya. Bila seseorang merasa ada konflik antara pengetahuan dari alam dan dari wahyu, itu hanya dapat terjadi karena pemahamannya terhadap alam yang keliru, atau penafsirannya atas wahyu yang salah, atau kedua-duanya tidak benar.

Manusia mendapatkan pengetahuan dari segala fakta berupa benda atau proses, yang ditangkap dengan panca-inderanya. Fakta tersebut diperhatikan dan diteliti dengan seksama dengan mempertanyakan: apa itu, mengapa ada, bagaimana terjadinya, bagaimana perkembangannya, dan sebagainya. Maka penelitian itu menghasilkan kesimpulan yang merupakan pengetahuan baru. Dari waktu ke waktu manusia yang berada di berbagai tempat dan zaman menemukan pengetahuan demi pengetahuan, menghim-punnya dengan rapih, lalu mensistematisasikan dengan metoda tertentu; maka terbentuklah ilmu.

Orang beriman menyadari benar bahwa semua fakta dan peristiwa itu terjadi karena Kehendak Allah dan berlangsung berdasarkan hukum Allah (Sunnatullah). Maka bagi Mukmin, ilmu pada dasarnya adalah pemahaman manusia terhadap Sunnatullah atau Takdir. Hal ini telah kita bahas ketika membicarakan Takdir.

Sesungguhnya ilmu bukan hanya merupakan himpunan pengetahuan (the body of knowledge) tetapi juga cara berpikir (the way of thinking). Maka dengan ilmu orang menjelajahi dunia yang sangat luas, mendorong diri sendiri dan masyarakatnya untuk senantiasa bergerak maju di dalam proses yang tidak pernah berhenti. Tetapi proses yang tidak dikendalikan dengan semestinya, akan menjadikan orang kebingungan dalam menjalani hidupnya. Karena itu mempelajari ilmu harus mencakup dua bidang yang saling mendukung yaitu ilmu kauniyah dan ilmu tanziliah. Orang yang sukses memahami keduanya disebut Ulul Albab, yaitu orang yang senantiasa mengingat Allah, seraya memikirkan karya-karya agung Allah, sehingga ia mengartikulasikan suara hatinya: "Wahai Tuhanku, sungguh tidak Engkau jadikan segala sesuatu ini sia-sia. Semua serba indah, tiap-tiap unsur berinteraksi satu sama lain membentuk harmoni, yang benar-benar memberi manfaat kepadaku. Maka lindungi aku dari pikiran-pikiran sesat yang menjadikan aku ditimpa siksa neraka". (QS Ali 'Imraan 3: 191). 

Ilmu mencakup himpunan pengetahuan manusia yang sistematik tentang bumi dan langit beserta segala isinya, tentang malaikat dan jin, serta tentang jasmani dan rohani manusia sendiri. Fakta tentang kecenderungan serta sikap dan perbuatan manusia selama keberadaannya di alam dunia, direkam di dalam sejarah. Maka sejarah merupakan salah satu ilmu yang sangat penting untuk dipahami. Di dalam sejarah dicatat bukan hanya rentetan perbuatan berbagai golongan dan kelompok manusia, tetapi juga akibat-akibatnya bagi golongan itu sendiri dan bagi orang-orang yang bersangkutan dengan perbuatan tersebut. Allah mengingatkan semua orang: قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُروا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ - "Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah (hukum-hukum Allah tentang sejarah manusia); karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (Rasul-rasul).

Al-Qur’an memaparkan sejarah kehidupan manusia dalam kurun waktu yang panjang, sejak manusia pertama ada di bumi ini sampai dengan yang terjadi ketika Kitab Allah ini diturunkan, bahkan juga disertai dengan paparan tentang apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Kebanyakan dari catatan tersebut berkenaan dengan reaksi berbagai masyarakat yang didatangi oleh para Rasul - positif maupun negatif - beserta akibat-akibatnya bagi mereka. Al-Qur’an kemudian mengemukakan tujuan pemaparan sejarah tersebut yaitu:

Pertama. Mengukuhkan iman kepada Rasulullah Saw, seorang yang tuna aksara dan tidak pernah berguru kepada siapapun tetapi mampu menceriterakan peristiwa masa dahulu dengan sangat baik.

Kedua. meluruskan kembali catatan sejarah, yang sering kali melenceng dari kebenaran, baik karena kelalaian maupun kesengajaan.

Ketiga: Menjadi pelajaran serta peringatan bagi orang-orang yang beriman. Sebagaimana dikemukakan tadi, dengan mempelajari sejarah orang akan memahami Sunnatulah yang tetap mengenai manusia, sehingga dengan pemahaman tersebut dia dapat mengoreksi diri bila berada di jalan yang salah, dan meneguhkan hati tatkala berada di dalam kebenaran (QS Huud 11: 120). 

Dari uraian yang kita paparkan di sini, kita mencatat beberapa hal yang benar-benar harus kita perhatikan.

Pertama. Hidup yang benar diawali dengan iman yang kukuh kepada Allah Swt, Pencipta, Pemelihara, dan Pembina segala sesuatu. Iman itu merupakan karunia Allah, yang Dia tanamkan kepada manusia sehingga mempunyai sifat dasar fitrah: suci dan cenderung kepada kesucian. Maka tugas manusia setelah dapat berikhtiar mandiri adalah meneguhkan imannya itu dengan fikir dan dzikir, menggunakan rasio dan rasa secara optimal. Tata cara yang utama dalam mengukuhkan iman ialah dengan menunaikan ibadah mahdhah - pengabdian ritual kepada Allah Swt. Pelaksanaan ibadah mahdhah yang dihayati sepenuhnya akan mendekatkan orang kepada Allah, semakin mencintai Dia, dan semakin bersemangat dalam melaksanakan segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya dengan mengerahkan segala daya dan kemampuannya. Orang-orang yang sampai pada tingkatan keimanan tertinggi disebut muttaqin - orang-orang bertakwa.

Kedua. Penghayatan akan keagungan dan kebaikan Allah menjadikan orang menyayangi makhluk-makhluk lainnya, terutama sesama manusia. Kasih sayang tulus kepada sesama manusia, yang didasarkan atas pengabdian kepada Allah itu, mewujudkan amal shaleh. Salah satu bentuk amal saleh yang sangat esensial adalah menegakkan keadilan di dalam masyarakat. Bila keadilan ditegakkan maka setiap orang akan memperoleh hak-haknya secara optimal, dan pada saat yang sama melaksanakan kewajiban-kewajibannya dengan suka rela dan gembira. Sebaliknya bila keadilan diabaikan, manusia akan bertarung satu sama lain memperjuangkan keinginan-keinginan yang didorong melewati batas oleh hawa nafsunya. Jelas bahwa usaha menegakkan keadilan di antara sesama manusia itu dari waktu ke waktu senantiasa menghadapi tantangan dan rintangan. Maka orang yang bertakwa harus siap untuk jihad fi sabilillah - berjuang di jalan Allah, dengan mengorbankan apa saja yang ada padanya, yang diyakini sebagai pemberian Allah Swt.

Ketiga. Dalam usaha mewujudkan amal shaleh yang efektif dan menghasilkan kebaikan bagi masyarakat secara optimal, orang memerlukan ilmu, baik yang kauniyah maupun yang tanziliah. Paduan dari kemampuan di dua bidang ilmu tersebut akan mengantar manusia kepada kebahagiaan dunia, sedangkan kerja keras dan pengorbanan ikhlasnya akan diganjar Allah dengan kebahagaian akhirat yang tak ternilai harganya,

Setiap Rasul, sejak yang pertama sampai yang penghabisan, selalu berhadapan dengan orang-orang kafir, yaitu yang menolak mengakui Allah sebagai satu-satunya Pencipta, Pengatur, Pembina, dan Pemilik alam semesta. Ulama mencatat beberapa golongan orang kafir.

Pertama adalah kafir musyrik - yang menganggap ada tuhan-tuhan di samping Allah. Orang Arab pada masa Rasulullah Saw mengaku percaya kepada adanya tuhan, dan mereka juga menyebut tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu itu Allah (QS Luqman 31: 25). Tetapi mereka beranggapan, Allah tidak berkomunikasi langsung kepada manusia. Orang memerlukan mediator untuk menyembah, memohon dan berserah diri kepada Allah. Perantara itu adalah berhala-berhala yang mereka buat dengan tangannya dan mereka namai Al-Lata, Uzza, Manat, dan sebagainya. Musyrik di tempat-tempat lain menyembah gunung, lautan, matahari, ruh kakek moyang, dan sebagainya.

Kedua ialah kafir inkar (atheis) yang sama sekali tidak memercayai adanya tuhan.

Ketiga kafir Ahli Kitab - orang-orang yang mengaku ummat Rasul terdahulu dan tidak mau mempercayai Muhammad Saw sebagai Rasul setelah Utusan Allah yang datang kepada kakek moyang mereka.

Keempat adalah kafir munafik - orang yang sesungguhnya kafir tetapi mengakui beriman kepada Allah dan Rasul terakhir Muhammad Saw. Pengakuan itu hanya sebagai kedok untuk mendapatkan legalisasi di dalam masyarakat Muslimin, sehingga dia dapat memperoleh informasi sebanyak mungkin tentang rahasia-rahasia kaum Muslimin.

Sebagian dari kaum Muslimin mendapatkan keyakinan agamanya sebagai hasil didikan orang-tua atau keluarga lainnya. Sebagian yang lain memperoleh agama Allah ini melalui perjuangan keras untuk mendapatkan kebenaran yang benar-benar memuaskan hatinya. Umar bin Khattab memperoleh kebenaran itu justru di puncak kebenciannya kepada Nabi Muhammad Saw. Khalid bin Walid (584-642 M) mendapatkan kebenaran sejati setelah bertempur melawan kaum Muslimin dalam pertempuran Uhud. Leopold Weiss atau Muhammad Asad (1900-1992) menjadi Muslim yang konsisten setelah berkelana ke berbagai negeri selama bertahun-tahun untuk mencari kebenaran. Riwayat perjuangannya itu ia rekam dalam bukunya ‘The Road to Mecca’.

Karena hidup yang benar adalah yang didasari iman kepada Allah, maka setiap orang harus berusaha memantapkan iman di hatinya. Dari mana dan dengan prosedur apa iman itu diperoleh? Sebagian orang menerima pendidikan iman itu dari orangtua atau lingkungan yang terdekat. Sebagian orang berjuang sendiri sampai berhasil memasukkan keyakinan yang mantap ke dalam jiwanya. Sebagian lagi memperoleh keyakinan tersebut setelah mengalami peristiwa yang mengguncang jiwanya. Al-Qur’an menerangkan, Allah telah memasukkan iman itu ke dalam hati setiap orang sebagai karunia dasar kepada manusia. Secara metaforik dikemukakan, ketika janin-janin tebentuk Allah bertanya kepadanya: "Bukankah aku ini Tuhanmu?". Mereka menjawab: "Benar, kami menjadi saksi mengenai hal itu." (QS Al-A'raaf 7: 172). Sebagian orang setelah dewasa dibawa oleh hawa nafsunya kepada sikap dan perilaku yang menyimpang dari fitrahnya. Maka dengan berbagai pendekatan yang sudah kita bicarakan, orang berusaha ‘me-recall’ sifat asasinya itu.

Usaha memantapkan iman adalah keniscayaan yang tidak dapat ditunda, karena hidup manusia dibatasi oleh jatah umur yang tidak dapat diketahui oleh siapapun selain Allah. Karena itu dalam hal ini orang tidak bisa coba-coba. Setiap langkah yang dilakukan harus diyakini sebagai langkah ke depan, ke arah iman yang lebih kukuh. Kalaupun dirasa ada kekurangan di dalam iman yang sudah ada, tidak boleh dilakukan usaha mendekonstruksi iman untuk diganti dengan iman yang benar. Al-Qur’an tidak pernah menerangkan hal itu, dan tidak kita dapati pula sunnah Rasul yang menyatakan demikian. Yang harus dihancurkan hanyalah sikap memertuhankan sesuatu yang bukan Allah. Orang yang telah menghancurkan kemusyrikan itu kemudian menyatakan suara jiwa yang mantap: "Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang mencipta langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan." (QS Al-An'aam 6: 79).

Iman tidak diperoleh hanya dengan mengandalkan rasio. Maka selain tafakur - berpikir, orang perlu dzikir - mengingat Allah dan menghayati keberadaan-Nya dengan merasakan karya-karya agung-Nya di alam raya. Selain itu orang meningkatkan imannya dengan merealisasikan iman itu dalam kehidupan sehari. Ketika seseorang melaksanakan perintah Allah, menikmati kepatuhan tersebut, maka iman meningkat. Tatkala orang menjauhi larangan Allah, dan menikmati sikap tersebut, iman semakin mantap. Iman yang makin kukuh juga makin meningkatkan mutu amal saleh. Terjadilah proses bagaikan spiral, yang makin lama makin tinggi. Ketika proses itu berakhir karena usia habis, orang mati dalam keadaan husnul khatimah - akhir hidup yang baik.

Sakib Machmud
No. 197
 

Kamis, 05 September 2013

BAHAYA SOMBONG

Suatu hari mungkin seseorang di antara kita menemui suatu kemudahan dalam suatu urusan. Ketika orang lain bertanya kepadamya bagaimana cara memperoleh kemudahan tersebut, dengan lantang dan bangga ia menjawab; “Semua itu karena berkat usaha keras saya." Itu hanyalah. salah satu contoh dari kita yang sering membanggakan diri dan merendahkan orang lain yang dianggap kedudukan atau kemampuannya lebih rendah daripada seseorang itu. Atau mungkin ia merasa memiliki sesuatu kelebihan dibanding orang lain, sehingga merendahkan martabat orang lain, bahkan mengejeknya. Na'udzubillah.

Kita pernah mendengar bahwa Iblis yang dulu begitu mulia dan rajin bertasbih dan beribadah kepada Allah di surga dengan para Malaikat, akhirnya diusir Allah dari surga dan dikutuk selama-lamanya. Karena Iblis itu sombong. Ketika “Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?’ Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah. Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk.” (QS Shaad 38: 75-77) .

Sebagai Mukmin, tentu kita tidak ingin dimasukkan ke neraka di akhirat nanti. Apabila kita mau merenungkan lebih dalam tentang bahaya sikap sombong seperti yang diperingatkan Allah Swt di dalam Al-Qur’an dan Hadits, maka tanpa berbuat kezhaliman atau kemaksiatan apapun, kita bisa tergelincir masuk neraka hanya karena satu sikap yang sangat mudah dilakukan manusia, tetapi sikap itu paling dibenci oleh Allah Swt, yaitu sikap sombong (takabur).

Beberapa peringatan Allah Swt terhadap kesombungan manusia antara lain: ▪ ”Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS Al-Israa’ 7: 37). ▪ ”Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman 31: 18). ▪ “Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong.” (QS Al-Mu’min 40: 76).

Dan Rasulullah Saw juga bersabda: ▪ “Tidak akan masuk surga, seseorang yang di dalam hatinya ada sebijih atom dari sifat sombong”. Seorang sahabat bertanya kepada Nabi Saw: “Sesungguhnya seseorang menyukai kalau pakainnya itu indah atau sandalnya juga baik”. ▪ “Sesungguhnya Allah Swt adalah Maha Indah dan menyukai keindahan. Sifat sombong adalah mengabaikan kebenaran dan memandang rendah manusia yang lain.” (HR Muslim).

Dari beberapa peringatan tersebut, jelas bahwa orang-orang Mukmin seyogyanya tidak bersikap sombong. Ancaman neraka bagi orang yang sombong meski hanya sekecil atom hendaknya membuat kita menjadi orang yang rendah hati (tawadhu).

Pernahkah kita merenung bahwa manusia itu mudah menjadi sombong (takabur), padahal ketika dilahirkan, ia dalam keadaan lemah tak berdaya, tak memiliki apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa, selain naluri minta bantuan kepada ibu yang merawat dan mengasuhnya. Namun setelah seseorang tumbuh menjadi balita dan dewasa, sedikit demi sedikit muncullah kesombongan pada dirinya. Bukan itu saja, beberapa di antaranya ada yang menganggap paling hebat (ujub) karena kelebihan yang ada pada dirinya. Sifat ujub ini sebenarnya merupakan kesombongan yang belum ditampakkan, artinya masih di dalam hati seseorang. Sedangkan sikap sombong adalah sikap membanggakan dan menganggap dirinya lebih dari orang lain yang ditunjukkan melalui ucapan, sikap dan perilakunya.

Tanda-tanda kesombongan seseorang dapat dilihat dari caranya berbicara dan berperilaku yang dengan perasaan bahwa dirinya lebih baik dan lebih tinggi daripada orang lain, sehingga dalam berintegrasi dengan orang lain disertai dengan penghinaan dan celaan, menolak kebenaran ketika orang lain memberitahukan kesalahannya, memaksakan kehendaknya, pantang diremehkan, sukar menerima nasihat, dan suka menerima sanjungan dari orang lain.

Pernahkan kita merenungi mengapa orang menjadi sombong? Marilah kita menyimak kehidupan sehari-hari kita dan masyarakat di sekeliling kita.

Pertama. Kalau Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa kekuasaan adalah sesuatu yang sangat diminati manusia, maka itulah penyebab utama timbulnya kesombongan. Jabatan dengan kekuasaan seseorang bisa mendorong untuk berbuat apa saja, termasuk mendapatkan kekayaan, menjadi lebih populer dan banyak orang yang loyal kepadanya. Hal ini memudahkan orang menjadi sombong, melecehkan orang-orang yang tidak memiliki kekuasaan apa-apa. Maka janganlah kita berlaku sombong karena kekuasaan, sebab kekuasaan tidak akan kekal, ketika kita mati maka kekuasaan pun akan kita tinggalkan, tidak terbawa mati.

Kedua. Harta kekayaan adalah rizki Allah yang dititipkan kepada seseorang disertai amanah dalam menggunakannya. Apabila Allah memberi kita rizki berupa harta kekayaan janganlah seseorang besikap sombong, karena dunia dan seisinya adalah kenikmatan yang tidak abadi. Di sisi lain, dibalik kesombongan karena harta kekayaan yang dimilikinya, janganlah seseorang menjadi kikir terhadap orang lain yang kurang mampu, sehingga ia mencoba mengindar bergaul dengan orang yang kurang mampu itu. Ingatlah bahwa memutuskan silaturahim adalah kejahatan. Rasulullah Saw bersabda: “Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan adalah balasan (pahala) orang yang berbuat kebajikan dan menghubungkan silaturahim. Sedangkan yang paling cepat mendatangkan kejahatan ialah balasan (siksaan) orang yang berbuat jahat dan memutuskan hubungan kekerabatan.” (HR Ibnu Majah). Ingatlah, ketika kita mati, tidak membawa apa-apa kecuali kain yang membungkus tubuh, tak ada sedikitpun harta kekayaan yang bisa menyelamatkan kita, selain ketakwaan.

Ketiga. Ada pula orang yang sombong karena menganggap keturunannya lebih baik daripada yang lain, sehingga dia tidak mau berteman dan bergaul dengannya, serta mencela dan mencaci bila terjadi pertengkaran di antara mereka. Bagi orang yang berasal dari keturunan yang ‘mulia’ karena orang tuanya ulama, pejabat, orang kaya, bangsawan, dan sebagainya, berhati-hatilah, karena ia bisa terjebak ke dalam sikap dan perilaku sombong. Jika seseorang terlahir dari keluarga yang bernasab mulia, janganlah membanggakannya, sebab nasab mulia yang hakiki adalah takwa. Kelak pada hari kiamat semua nasab itu terputus tiada guna, kecuali amal shaleh yang bermanfaat. “Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.” (QS Al-Mukminun 23: 101)

Keempat. Sombong karena penampilan, kecantikan maupun ketampanan fisik kita merupakan anugerah Allah yang patut disyukuri, bagaimanapun adanya. Jika Allah menganugerahkan kepada kita wajah dan tubuh yang bagus, janganlah kita berlaku sombong terhadap orang-orang di sekitar kita, sebab wajah dan tubuh itu ada masanya akan sirna.

Kelima. Sombong karena merasa beramal ibadah dengan baik. Memandang diri kita sebagai orang yang lebih pantas untuk masuk surga dibandingkan dengan orang lain, menganggap diri kita lebih sempurna amalnya dibandingkan orang lain, sehingga, menganggap diri kita adalah orang yang pantas untuk dihormati, diminta nasihatnya, dipenuhi segala kebutuhannnya, atau didahulukan kepentingannya dibanding orang lain, menjadikan kita tidak mau mendengarkan nasihat dari orang lain, walaupun berisi kebenaran, dan kita pun akhirnya menganggap orang lain derajatnya lebih rendah dibanding kita.

Keenam. Sombong karena banyaknya pendukung; pengkut, murid, pembantu, keluarga, kerabat dan anak, bisa menjadikan seseorang menjadi sombong. Sehingga tidak mau menerima kebenaran, dan melecehkannya jika kebenaran tersebut datang dari orang yang sedikit pengikutnya. Dan janganlah kita merasa bangga dan sombong menjadi pengikut atau murid seseorang, misalnya menjadi murid dari ulama atau habib tertentu. Sebab Allah takkan menanyakan hal tersebut di hari perhitungan (yaumul hisab) nanti.

Ketujuh. Kita bisa menjadi sombong karena ilmu pengetahuan yang kita miliki. Dengan ilmu pengetahuan itu, kita menjadi merasa sebagai orang yang pintar, sedangkan yang lainnya adalah orang-orang bodoh. Menganggap memiliki ilmu yang luas dan dalam, sehingga semua orang seharusnya menghormati kita, semua orang seharusnya menjadikan kita sebagai rujukan. Merasa dirinya menjadi yang paling benar, sedangkan yang lainnya salah. Hanya kitalah yang pantas untuk mengisi kajian-kajian, menjadi pembicara, sebagai narasumber. Orang lain hanya berhak untuk mendengarkan dan mengikutinya. Parahnya lagi, kita menjadi tidak mau untuk mendengarkan nasihat dari orang lain, walaupun nasihat itu benar adanya. Kita hanya mau menerima nasihat yang diberikan oleh orang yang dianggap memiliki ilmu pengetahuan yang lebih tinggi lagi. Akibatnya, kita benar-benar terjerumus, menjadi orang sombong.

Imam Al-Ghazali berkata; “Jika seorang hamba tidak menyibukkan dirinya pertama kali untuk membersihkan jiwa dan menyucikan hatinya dengan besungguh-sungguh (mujahadah), niscaya ia akan menjadi sosok yang busuk di dalamnya. Jika ia mendapatkan ilmu, niscaya ilmu tersebut mendapatkan tempat yang busuk dalam hatinya dan tidak memberi buah yang baik. Bahkan pengaruhnya dalam kebaikan tidak tampak. Karena ilmu yang dihafal oleh manusia, akan ia ubah sesuai dengan kemauan dan kehendak hatinya, sehingga seorang yang takabur semakin takabur dan seorang tawadhu semakin tawadhu.”

Ilmu yang kita miliki seyogyanya tidak menjadikan kita sombong. Tetapi sebaliknya, semakin luas ilmu yang kita miliki, semakin sadar bahwa ilmu yang kita miliki masih sangat sedikit dan masih memerlukan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh orang lain. Apalagi jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sungguh tak ada apa-apanya. Allah Swt berirman: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS Asy-Syu’araa’ 26: 215).

Demikian beberapa hal-hal yang diperingatkan Allah Swt dan Rasul-Nya terhadap sikap dan tindakan orang-orang yang sombongi. Allah Swt berfirman: ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. (QS Al-Hujuraat 49: 11). Rasulullah Saw bersabda: ▪ “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya ada rasa sombong, meski hanya seberat biji sawi.” (HR Muslim). ▪ “Cukup menjadi kejahatan seseorang jika ia meremehkan saudaranya seIslam.” (HR Muslim). ▪  “Barangsiapa senang jika orang-orang berdiri menghormatinya, hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka.” (HR Ahmad)

Oleh karena itu, marilah kita benar-benar merenung, apakah di hati kita terdapat berhala yang dapat merusak amal ibadah kita? Mengapa Allah tidak memasukkan kita kedalam surga karena sifat dan sikap ujub dan sombong ini? Yaitu karena ujub dan sombong adalah salah satu jenis syirik kecil tetapi sangat berbahaya. Meskipun kecil, syirik, tetaplah syirik. Karena itu janganlah kita mengabaikan hal-hal yang kelihatannya sepele. Dengan bersikap sombong, mungkin kita merasa tidak melukai hati orang lain dan orang yang bijak tentu tidak akan peduli dengan kesombongan kita. Justru kita sendirilah yang akan merugi, karena kesomongan, kita bisa tergelincir ke dalam neraka.     

Dr. Muhammad Said Al-Buthi (84), ulama Suriah yang belum lama ini wafat, berkata: “Syirik tidak terbatas pada makna luarnya yang tidak mendalam, yang tercerminkan dalam menyembah berhala dan yang selain Allah, atau tecerminkan dalam tindakan seseorang dari kita yang meminta kepada selain Allah. Tetapi, ia mempunyai makna tersembunyi yang menyelusup karena ketersembunyiannya di dalam hati dan jiwa kaum Muslimin tanpa diketahui dan dirasakan. Itulah sumber bahayanya. Karena setiap kita melakukan amal ibadah, atau sesuatu semacam jihad, niscaya syirik yang tersembunyi itu akan menghancurkan pahala dan menghilangkan nilainya, serta mengubahnya dari ketaatan yang diterima Allah Swt menjadi kemaksiatan dan syirik kepada-Nya. Waspasalah!

Hermanto Harsolumakso
No. 196