Suatu hari mungkin seseorang di
antara kita menemui suatu kemudahan dalam suatu urusan. Ketika orang lain
bertanya kepadamya bagaimana cara memperoleh kemudahan tersebut, dengan lantang
dan bangga ia menjawab; “Semua itu karena berkat usaha keras saya." Itu
hanyalah. salah satu contoh dari kita yang sering
membanggakan diri dan merendahkan orang lain yang dianggap kedudukan atau
kemampuannya lebih rendah daripada seseorang itu. Atau mungkin ia merasa memiliki sesuatu kelebihan
dibanding orang lain, sehingga merendahkan martabat orang lain, bahkan
mengejeknya. Na'udzubillah.
Kita pernah mendengar bahwa Iblis yang dulu begitu mulia dan
rajin bertasbih dan beribadah kepada Allah di surga dengan para Malaikat,
akhirnya diusir Allah dari surga dan dikutuk selama-lamanya. Karena Iblis itu
sombong. Ketika “Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu
sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu
menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih)
tinggi?’ Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku
dari api, sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah. Allah berfirman: “Maka
keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk.” (QS
Shaad 38: 75-77) .
Sebagai Mukmin, tentu kita tidak ingin dimasukkan ke neraka
di akhirat nanti. Apabila kita mau merenungkan lebih dalam tentang bahaya sikap
sombong seperti yang diperingatkan Allah Swt di dalam Al-Qur’an dan Hadits,
maka tanpa berbuat kezhaliman atau kemaksiatan apapun, kita bisa tergelincir
masuk neraka hanya karena satu sikap yang sangat mudah dilakukan manusia,
tetapi sikap itu paling dibenci oleh Allah Swt, yaitu sikap sombong (takabur).
Beberapa peringatan Allah Swt terhadap kesombungan manusia antara lain: ▪ ”Dan
janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya
kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan
sampai setinggi gunung.” (QS Al-Israa’ 7: 37). ▪ ”Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena
sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman 31: 18). ▪ “Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka
Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi
orang-orang yang sombong.” (QS Al-Mu’min
40: 76).
Dan Rasulullah Saw juga bersabda: ▪ “Tidak
akan masuk surga,
seseorang yang di dalam hatinya ada sebijih atom dari sifat sombong”. Seorang
sahabat bertanya kepada Nabi Saw: “Sesungguhnya seseorang menyukai kalau
pakainnya itu indah atau sandalnya juga baik”. ▪ “Sesungguhnya Allah Swt adalah Maha Indah dan menyukai
keindahan. Sifat sombong adalah mengabaikan kebenaran dan memandang rendah
manusia yang lain.”
(HR
Muslim).
Dari beberapa
peringatan tersebut, jelas bahwa orang-orang
Mukmin seyogyanya tidak bersikap
sombong. Ancaman neraka bagi orang yang sombong meski hanya sekecil atom
hendaknya membuat kita menjadi
orang yang rendah hati (tawadhu).
Pernahkah kita merenung
bahwa manusia itu mudah menjadi sombong (takabur), padahal ketika
dilahirkan, ia dalam keadaan lemah tak berdaya, tak memiliki apa-apa dan tidak
bisa berbuat apa-apa, selain naluri minta bantuan kepada ibu yang merawat dan
mengasuhnya. Namun setelah seseorang tumbuh menjadi balita dan dewasa, sedikit
demi sedikit muncullah kesombongan pada dirinya. Bukan itu saja, beberapa di
antaranya ada yang menganggap paling hebat (ujub) karena kelebihan yang
ada pada dirinya. Sifat ujub ini sebenarnya merupakan kesombongan yang
belum ditampakkan, artinya masih di dalam hati seseorang. Sedangkan sikap sombong
adalah sikap membanggakan dan menganggap dirinya lebih dari orang lain yang
ditunjukkan melalui ucapan, sikap dan perilakunya.
Tanda-tanda
kesombongan seseorang dapat dilihat dari caranya berbicara dan berperilaku yang
dengan perasaan bahwa dirinya lebih baik dan lebih tinggi daripada orang lain,
sehingga dalam berintegrasi dengan orang lain disertai dengan penghinaan dan
celaan, menolak kebenaran ketika orang lain memberitahukan kesalahannya,
memaksakan kehendaknya, pantang diremehkan, sukar menerima nasihat, dan suka menerima
sanjungan dari orang lain.
Pernahkan kita
merenungi mengapa orang menjadi sombong? Marilah kita menyimak kehidupan
sehari-hari kita dan masyarakat di sekeliling kita.
Pertama. Kalau Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa kekuasaan
adalah sesuatu yang sangat diminati manusia, maka itulah penyebab utama timbulnya
kesombongan. Jabatan dengan kekuasaan seseorang bisa mendorong untuk berbuat apa
saja, termasuk mendapatkan kekayaan, menjadi lebih populer dan banyak orang
yang loyal kepadanya. Hal ini memudahkan orang menjadi sombong, melecehkan
orang-orang yang tidak memiliki kekuasaan apa-apa. Maka janganlah kita berlaku
sombong karena kekuasaan, sebab kekuasaan tidak akan kekal, ketika kita mati
maka kekuasaan pun akan kita tinggalkan, tidak terbawa mati.
Kedua. Harta kekayaan adalah rizki Allah yang
dititipkan kepada seseorang disertai amanah dalam menggunakannya. Apabila Allah
memberi kita rizki berupa harta kekayaan janganlah seseorang besikap sombong,
karena dunia dan seisinya adalah kenikmatan yang tidak abadi. Di sisi lain,
dibalik kesombongan karena harta kekayaan yang dimilikinya, janganlah seseorang
menjadi kikir terhadap orang lain yang kurang mampu, sehingga ia mencoba
mengindar bergaul dengan orang yang kurang mampu itu. Ingatlah bahwa memutuskan
silaturahim adalah kejahatan. Rasulullah Saw bersabda: “Sesuatu yang paling cepat mendatangkan
kebaikan adalah balasan (pahala) orang yang berbuat kebajikan dan menghubungkan
silaturahim. Sedangkan yang paling cepat mendatangkan kejahatan ialah balasan
(siksaan) orang yang berbuat jahat dan memutuskan hubungan kekerabatan.” (HR
Ibnu Majah). Ingatlah, ketika kita
mati, tidak membawa apa-apa kecuali kain yang membungkus tubuh, tak ada
sedikitpun harta kekayaan yang bisa menyelamatkan kita, selain ketakwaan.
Ketiga. Ada pula orang yang sombong karena menganggap
keturunannya lebih baik daripada yang lain, sehingga dia tidak mau
berteman dan bergaul dengannya, serta mencela dan mencaci bila terjadi
pertengkaran di antara mereka. Bagi orang yang berasal dari keturunan yang ‘mulia’
karena orang tuanya ulama, pejabat, orang kaya, bangsawan, dan sebagainya,
berhati-hatilah, karena ia bisa terjebak ke dalam sikap dan perilaku sombong. Jika
seseorang terlahir dari keluarga yang bernasab mulia, janganlah
membanggakannya, sebab nasab mulia yang hakiki adalah takwa. Kelak pada hari
kiamat semua nasab itu terputus tiada guna, kecuali amal shaleh yang bermanfaat.
“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara
mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.” (QS
Al-Mukminun 23: 101)
Keempat. Sombong karena penampilan, kecantikan maupun ketampanan fisik kita merupakan anugerah Allah yang patut disyukuri, bagaimanapun adanya. Jika Allah menganugerahkan kepada kita wajah dan tubuh yang bagus, janganlah kita berlaku sombong terhadap orang-orang di sekitar kita, sebab wajah dan tubuh itu ada masanya akan sirna.
Kelima. Sombong karena merasa beramal ibadah
dengan baik. Memandang diri kita
sebagai orang yang lebih pantas untuk masuk surga dibandingkan dengan orang
lain, menganggap diri kita lebih sempurna amalnya dibandingkan orang lain, sehingga,
menganggap diri kita adalah orang yang pantas untuk dihormati, diminta
nasihatnya, dipenuhi segala kebutuhannnya, atau didahulukan kepentingannya
dibanding orang lain, menjadikan kita tidak mau mendengarkan nasihat dari orang
lain, walaupun berisi kebenaran, dan kita pun akhirnya menganggap orang lain
derajatnya lebih rendah dibanding kita.
Keenam. Sombong karena banyaknya pendukung; pengkut, murid, pembantu, keluarga, kerabat dan anak, bisa menjadikan seseorang menjadi sombong. Sehingga tidak mau menerima kebenaran, dan melecehkannya jika kebenaran tersebut datang dari orang yang sedikit pengikutnya. Dan janganlah kita merasa bangga dan sombong menjadi pengikut atau murid seseorang, misalnya menjadi murid dari ulama atau habib tertentu. Sebab Allah takkan menanyakan hal tersebut di hari perhitungan (yaumul hisab) nanti.
Ketujuh. Kita bisa menjadi sombong karena ilmu pengetahuan yang kita miliki. Dengan ilmu pengetahuan itu, kita menjadi merasa sebagai orang yang pintar, sedangkan yang lainnya adalah orang-orang bodoh. Menganggap memiliki ilmu yang luas dan dalam, sehingga semua orang seharusnya menghormati kita, semua orang seharusnya menjadikan kita sebagai rujukan. Merasa dirinya menjadi yang paling benar, sedangkan yang lainnya salah. Hanya kitalah yang pantas untuk mengisi kajian-kajian, menjadi pembicara, sebagai narasumber. Orang lain hanya berhak untuk mendengarkan dan mengikutinya. Parahnya lagi, kita menjadi tidak mau untuk mendengarkan nasihat dari orang lain, walaupun nasihat itu benar adanya. Kita hanya mau menerima nasihat yang diberikan oleh orang yang dianggap memiliki ilmu pengetahuan yang lebih tinggi lagi. Akibatnya, kita benar-benar terjerumus, menjadi orang sombong.
Imam Al-Ghazali berkata; “Jika seorang hamba tidak menyibukkan dirinya pertama kali untuk membersihkan jiwa dan menyucikan hatinya dengan besungguh-sungguh (mujahadah), niscaya ia akan menjadi sosok yang busuk di dalamnya. Jika ia mendapatkan ilmu, niscaya ilmu tersebut mendapatkan tempat yang busuk dalam hatinya dan tidak memberi buah yang baik. Bahkan pengaruhnya dalam kebaikan tidak tampak. Karena ilmu yang dihafal oleh manusia, akan ia ubah sesuai dengan kemauan dan kehendak hatinya, sehingga seorang yang takabur semakin takabur dan seorang tawadhu semakin tawadhu.”
Ilmu yang kita miliki seyogyanya tidak menjadikan kita sombong. Tetapi sebaliknya, semakin luas ilmu yang kita miliki, semakin sadar bahwa ilmu yang kita miliki masih sangat sedikit dan masih memerlukan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh orang lain. Apalagi jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sungguh tak ada apa-apanya. Allah Swt berirman: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS Asy-Syu’araa’ 26: 215).
Demikian beberapa hal-hal
yang diperingatkan Allah Swt dan Rasul-Nya terhadap sikap dan tindakan
orang-orang yang sombongi. Allah Swt berfirman: ”Hai orang-orang yang
beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain,
boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula
sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan
itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil
dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah
(panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka
mereka itulah orang-orang yang zhalim. (QS Al-Hujuraat 49: 11). Rasulullah
Saw bersabda: ▪ “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam
hatinya ada rasa sombong, meski hanya seberat biji sawi.” (HR Muslim). ▪ “Cukup
menjadi kejahatan seseorang jika ia meremehkan saudaranya seIslam.” (HR Muslim).
▪ “Barangsiapa senang jika orang-orang
berdiri menghormatinya, hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya dari api
neraka.” (HR Ahmad)
Oleh karena itu, marilah kita benar-benar merenung, apakah di hati kita terdapat berhala yang dapat merusak amal ibadah kita? Mengapa Allah tidak memasukkan kita kedalam surga karena sifat dan sikap ujub dan sombong ini? Yaitu karena ujub dan sombong adalah salah satu jenis syirik kecil tetapi sangat berbahaya. Meskipun kecil, syirik, tetaplah syirik. Karena itu janganlah kita mengabaikan hal-hal yang kelihatannya sepele. Dengan bersikap sombong, mungkin kita merasa tidak melukai hati orang lain dan orang yang bijak tentu tidak akan peduli dengan kesombongan kita. Justru kita sendirilah yang akan merugi, karena kesomongan, kita bisa tergelincir ke dalam neraka.
Dr. Muhammad Said Al-Buthi (84), ulama Suriah yang belum lama ini wafat, berkata: “Syirik tidak terbatas pada makna luarnya yang tidak mendalam, yang tercerminkan dalam menyembah berhala dan yang selain Allah, atau tecerminkan dalam tindakan seseorang dari kita yang meminta kepada selain Allah. Tetapi, ia mempunyai makna tersembunyi yang menyelusup karena ketersembunyiannya di dalam hati dan jiwa kaum Muslimin tanpa diketahui dan dirasakan. Itulah sumber bahayanya. Karena setiap kita melakukan amal ibadah, atau sesuatu semacam jihad, niscaya syirik yang tersembunyi itu akan menghancurkan pahala dan menghilangkan nilainya, serta mengubahnya dari ketaatan yang diterima Allah Swt menjadi kemaksiatan dan syirik kepada-Nya. Waspasalah!
Hermanto Harsolumakso
No. 196
Hati-hatilah dalam bersikap, berbicara dan berperilaku yang menjurus ke arah kesombongan karena semua itu bisa menceburkan kita ke sungai neraka....
BalasHapus