Minggu, 25 Desember 2011

ACARA MENYAMBUT PERGANTIAN TAHUN, UNTUK APA?


Tujuh hari lagi, sekiranya Allah menghendaki, penduduk dunia akan mengalami pergantian tahun Masehi, dari 2011 ke 2012. Sebenarnya yang disebut tahun Masehi itu tidak lain dari penggalan waktu, yang pangkal, ujung, dan bagian-bagian di dalamnya ditetapkan manusia berdasar pengamatannya terhadap kedudukan matahari. Maka sistem kalender yang didasarkan kepada kedudukan matahari itu disebut kalender surya atau kelender syamsiah. Di pihak lain ada sistem kalender yang didasarkan kepada pengamatan atas kedudukan bulan; ini dikenal sebagai kalender qomariyah, yang digunakan untuk tahun Hijriyah.

Buku tipis “Perjalanan Mengenal Astronomi” yang diterbitkan oleh Observatorium Bosscha ITB menerangkan, sistem kalender surya telah digunakan oleh bangsa Arab sejak 4241 tahun sebelum Masehi. Pada tahun 45 sebelum Masehi penguasa Romawi Julius Caesar dengan bantuan matematikawan Alexandria bernama Sosigenes mereformasi kalender surya temuan orang Arab tersebut dengan melakukan sejumlah perubahan. Kemudian pada abad ke 16 Masehi, Paus Gregorius XIII melakukan perubahan lagi untuk menyesuaikan hitungan sebelumnya agar lebih cocok dengan kenyataan di alam. Para astronom menyatakan bahwa pada waktunya orang harus melakukan penyesuaian lagi
.
Uraian di atas menunjukkan bahwa saat pergantian tahun itu sebenarnya hanya sebuah titik dalam perjalanan waktu, yang didasarkan kepada kesepakatan manusia. Titik tersebut tidak menunjukkan adanya sebuah peristiwa khusus atau sebuah kejadian besar di alam raya. Namun ternyata orang di berbagai kawasan di muka bumi ini membuat tradisi untuk menyambutnya dengan gegap gempita. Orang-orang di banyak negara pada saat pergantian tahun itu meniup terompet, sejak dari terompet kertas sampai terompet yang digunakan dalam orkestra. Selain itu orang juga menyulut kembang api dan petasan. Penyalaan petasan ini mengikuti dan mengembangkan tradisi Cina, yang menganggap bunyi-bunyi nyaring sebagai sarana mengusir roh jahat dan menolak bencana. Banyak pula orang yang menyelenggarakan pesta-pesta meriah yang menghabiskan dana sangat besar. Tahun lalu misalnya publik Amerika Serikat mengadakan pesta di Time Square New York dengan menyalakan 32.000 buah lampu besar. Mudah dipahami bila perayaan besar yang diikuti banyak sekali orang itu menimbulkan bencana. Di Filipina tahun lalu 546 orang luka, berat maupun ringan.

Masyarakat Indonesia seakan tidak mau kalah dengan bangsa-bangsa lain, juga melaksanakan berbagai acara pergantian tahun. Di berbagai kota anak-anak muda berkeliling menjelajahi jalan besar dan kecil, dengan kendaraan masing-masing, terutama sepeda motor yang gasnya digerung-gerungkan dan klaksonnya dibunyikan keras-keras. Di kampung-kampung anak-anak bermain petasan; semakin keras bunyinya semakin senang mereka. Semua stasion televisi mengadakan siaran khusus, dengan ragam acara khusus, yang berpuncak pada ritus count downIndonesia terlanjur kagum kepada mereka sebagai negara dan bangsa yang dianggap modern, kaya dan bergaya. Sayang, yang ditiru dari mereka bukan hal-hal baik seperti disiplin, berpikir dan bekerja keras, taat aturan; sikap-sikap yang menjadikan mereka mampu mencapai kemajuan ilmu dan teknologi pada taraf yang tinggi. tepat di tengah malam. Apa tujuan orang mengadakan perayaan demikian itu? Sungguh tidak jelas. Yang paling banyak tentunya ikut-ikutan belaka, terutama ikut-ikutan masyarakat Barat tanpa tahu maknanya.
Kesenangan meniru orang lain secara membuta ini telah terjadi sejak dahulu, pada masa Rasulullah Saw. Orang-orang Yahudi Madinah yang kreatif tetapi juga licik, banyak memperoleh keuntungan harta dengan memanfaatkan kondisi orang-orang Arab yang masih bodoh dan miskin. Berbekal banyak kekayaan itu mereka hidup dengan aneka lagak. Maka banyak orang-orang Muslim yang ingin sekali menjalani kehidupan seperti mereka. Karena itu Allah Swt menurunkan peringatan kepada mereka: “Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir”. (QS At-Taubah 9: 55).

Rasulullah Saw menandaskan peringatan Allah tersebut dengan sabdanya: “Sungguh kamu sekalian akan mengikuti orang-orang yang kamu kagumi itu, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga tatkala orang itu masuk liang landak, kamu tetap mengikutinya juga.” Sabda Rasul tersebut pada intinya menegaskan bahwa meniru orang lain tanpa memahami apa yang ditirunya, mengapa dan untuk apa, pasti mendatangkan bencana, baik di dunia maupun di akhirat.


Ada
yang menjustifikasi pesta-pesta tak jelas itu dengan menyatakannya sebagai ekspressi kegembiraan, yang lumrah dan manusiawi. Kita patut bertanya: Kegembiraan karena apa dan untuk apa? Apakah bergembira karena baru saja mencapai kesuksesan dalam satu atau beberapa usaha yang telah dilakukan dengan tekun dan bersungguh-sungguh? Sukses dalam pencapaian ilmu, pengembangan budaya luhur, kemakmuran yang adil, atau apa? Kita telah membicarakan di atas bahwa pergantian tahun hanyalah sebuah ttik yang kita mau tidak mau harus melewatinya karena titik itu berada di garis waktu yang tidak akan berhenti sampai Kiamat tiba. Letak titik itu bisa saja diubah, karena hanya didasarkan kepada perjanjian atau penetapan manusia belaka.


Julius Caesar pernah mengubahnya dan kemudian Paus Gregorius XIII mengubahnya pula. Bahkan pada pergantian tahap kedua itu ada sepuluh tanggal yang ditiadakan yaitu tanggal 5 sampai dengan 14 Oktober 1582. Pada saat itu Kamis tanggal 4 Oktober langsung disambung dengan Jum’at 15 Oktober. Lalu apa artinya tanggal 1 Januari sehingga dirayakan secara besar-besaran?


Seandainyapun pergantian tahun itu dianggap sebagai sebuah momentum untuk mengenang sesuatu, maka bagi orang beriman ada dua hal yang semestinya dilakukan, yaitu tasyakkur bin ni’mah dan muhasabah. Yang dimaksud dengan tasyakkur bin ni’mah adalah menyadari dan berterima kasih kepada Allah atas karuniaNya yang tak terkira. Al-Qur’an menerangkan: “Jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya.” (QS An-Nahl 16: 18). Setiap orang memang patut menyadari segala karunia Allah Swt yang telah dikucurkan kepada dirinya, sejak masih berada di rahim ibu sampai dengan saat yang dianggap momentum itu. Kehendak Allah Swt untuk memberikan perlindungan diawali ketika sekitar 250 juta flagella yang berada dalam 3 cc cairan kental berenang-renang memperebutkan posisi untuk bertemu dan berpadu dengan ovum. Kemudian paduan dua zat hidup itu berproses di dalam rahim dengan cara yang unik, sampai menjadi janin dan akhirnya ke luar sebagai bayi (QS Al-Mukminun 23: 12-14). Selanjutnya Allah mengembangkan pada bayi yang lahir dalam keadaan tak berdaya itu, kemampuan indera dan akal secara bertahap sehingga mencapai tingkatan yang optimal (QS An-Nahl 16: 78). Sejalan dengan itu fisik berkembang pula sampai menjadi manusia dewasa.


Setiap orang pasti mengalami keadaan yang berubah-ubah, ada yang sesuai dengan keinginan dan ada yang berbeda dengan harapan. Orang yang sering tasyakkur bin ni’mah merasakan bahwa keadaan baik itu jauh lebih banyak dia peroleh dibanding yang sebaliknya. Bahkan kondisi yang tidak sesuai dengan keinginanpun memberi pelajaran, peringatan, dan manfaat-manfaat lainnya. Sebaliknya dia sadar pula bahwa keadaan-keadaan baikpun merupakan ujian baginya, apakah bersyukur atau justru menjadi manusia tak tahu diri. (QS An-Naml 27: 40).


Hal kedua yang mestinya dilakukan seorang Mukmin pada momentum tertentu adalah muhasabahaqidah - ajaran dasar agama telah dihayatinya dengan sangat baik, atau masih sering melupakan Allah? Apakah ibadah mahdhoh - aktivitas ritual telah ditunaikannya dengan penghayatan yang baik ataukah hanya sekedar melakukannya tanpa pengertian yang mendalam? Atau bahkan penunaiannya secara fisik pun masih berlubang di sana sini? Lalu apakah aqidahibadah mahdhoh-nya itu telah mampu menghiasi nuraninya sehingga selalu cenderung untuk berbuat kebaikan (amal saleh) kepada sesama manusia sebagaimana yang diperintahkan dan dicontohkan Rasul? Muhasabah ini diperlukan karena orang seringkali lupa. Pepatah Arab menyatakan: Al-Insanu mahallul khotho’ wan nisyan - manusia itu tempatnya salah dan alpa. Manusia, siapapun termasuk Rasul, tidak akan tahu kapan saatnya dipanggil Allah. Bila saat pemanggilan itu tiba, dia tidak siap, maka kesengsaraan yang luar biasa akan dia jalani dalam masa yang tidak ada ujungnya. - introspeksi, mengingat-ingat apa yang telah diperbuatnya di dalam mengisi hidupnya sampai saat itu. Apakah dan


Suasana pergantian tahun, bisa tetapi tidak harus diperingati. Namun peringatan itu hanya sebagai momentum untuk memantapkan tasyakkur bin ni’mah dan melakukan muhasabah yang bersungguh-sungguh. Kalau orang merayakan tanpa makna dan tanpa pengertian, dia hanya akan merugi dengan kerugian besar. Tradisi penyambutan yang membudaya di mana-mana hanya akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang menangguk keuntungan besar dengan memberi pelayanan maksimal kepada siapa saja yang senang berpesta pora. Kesenangan berpesta pora jelas tidak sejalan dengan kehendak Allah agar orang beriman berkehidupan sederhana, produktif, dan bermanfaat bagi lingkungan masyarakatnya. Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik orang di antara kamu adalah yang memberi manfaat paling banyak kepada masyarakatmu.”


Sakib Machmud
No. 134

Kamis, 15 Desember 2011

ULAMA DALAM PERSPEKTIF IMAM AL-GHAZALI

Ulama adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing ummat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupum masalah sehari hari yang diperlukan dari sisi keagamaan maupun kemasyarakatan. Ulama adalah penerus para Nabi. Rasulullah Saw bersabda, ”Ulama adalah ahli waris misi dan fungsi kenabian.” (HR Ahmad).

Para Nabi sejatinya membawa misi transformasi sosial yang dijiwai oleh nilai-nilai tauhid, sebagaimana firman Allah Swt, "Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: `Bahwasanya tidak ada Tuhan yang hak melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku'." (QS Al-Anbiya 21: 25).

Maka, dalam rangka mengemban misi para rasul, sudah selayaknya seorang Ulama harus betul-betul mengamalkan fungsi kenabian bagi ummat manusia seperti termaktub dalam firman Allah Swt: "Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya, dan untuk menjadi cahaya yang menerangi." (QS Al-Ahzab 33: 45-46).

Dalam perspektif Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Ath-Thusi Asy-Syafi'i atau lebih dikenal sebagai Syeikh Imam Al-Ghazali (1058 M – 1111 M), dalam kitabnya yang sangat termasyhur Ihya Ulumuddin menyebutkan beberapa kriteria dan golongan ulama-ulama yang berada di sekitar Islam. Meski dirumuskan beratus tahun yang silam, nampaknya rumusan-rumusan tersebut masih tetap relevan, bahkan semakin relevan di zaman sekarang. Zaman ketika yang buruk berwajah baik dan kebaikan semakin tertindas oleh gegap gempita kezhaliman.

Golongan pertama yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali adalah yang menonjol penguasaannya terhadap ilmu-ilmu syariah dan juga ilmu umum lainnya. Tapi dia memiliki satu kelalaian besar, yaitu lupa mengamalkan. Golongan ini mengalami kegersangan jiwa yang hebat, sebab ilmunya tak dialiri keberkahan dari Allah yang Maha Memiliki ilmu.

Mereka memiliki ilmu, tapi lupa mengamalkan. Mereka mengetahui, namun tidak memahami. Meski bersurban besar dan berjubah panjang, ulama seperti ini jauh dari ketakwaan dan sedikit sekali memiliki keterikatan dengan akhirat yang besar.

Golongan kedua, adalah ulama-ulama yang memiliki ilmu dan melaksanakan ketaatan. Tapi sayang, ketaatan tersebut hanya sebatas permukaan, tak mendalam dan tak sampai pada hakikat penghambaan. Mereka rajin mengamalkan, menjauhi kemaksiatan, namun ada satu hal yang lebih dia kejar: popularitas dan pengaruh yang lebih besar. Ilmu dan amal yang dilakukannya, hanya sebagai batu loncatan untuk meraih nama besar.

Golongan ketiga, ada ulama-ulama di antara ummat yang menguasai ilmu, tidak lalai mengamalkan ilmunya, tidak lupa mengetahui amalan-amalan utama dalam agama. Namun hidup mereka penuh kemewahan, harta bertumpuk dan bergelimang kemakmuran. Mereka menjadikan ilmu agama sebagai pakaian yang indah dan mewah, tapi lupa pada perintah zuhud dan hidup sederhana. Umar bin Khattab pernah berkata pada penguasa kota Syam yang berkomentar tentang pakaiannya yang sederhana. “Sesungguhnya Allah telah memuliakan Muslim dengan Islam. Maka kita tidak mencari kemuliaan dari selain Islam.” Kemuliaan tidak datang dari baju, tidak datang dari kendaraan, tidak datang dari kemewahan yang disandang. Tapi kemuliaan akan muncul ketika kita bersama Islam.

Golongan keempat. ada di antara ulama-ulama itu orang-orang yang senantiasa menjaga ilmunya, menghiasi dengan ketaatan, dan menyemarakkan amal kebaikan. Tapi mereka lupa dan lalai sehingga menjadi ulama-ulama yang tunduk pada kekuasaan. Macam-macam alasannya. Mulai dari ketakutan sampai dengan menginginkan pengaruh dan jabatan yang lebih besar. Mereka menikmati puja-puji. Mereka menginginkan dikelilingi orang-orang yang selalu mengagumi. Tapi ulama yang seperti ini akan bersedih hati ketika satu persatu pengagumnya meninggalkan dan pergi. Dia akan dirundung rasa perih ketika tak ada yang bertepuk tangan dan memuji.

Selain keempat golongan di atas, menurut Imam Al-Ghazali, ada kelompok lain yaitu Ulama yang menyesatkan ummatnya, yaitu Ulama yang sibuk dalam mengejar ilmu-ilmu kalam, logika dan melalaikan ilmu-ilmu dasar dalam agama yang mulia ini.

Kelompok pertama, ada sebagian dari orang-orang alim yang disibukkan dengan ilmu-ilmu fatwa, menggeluti hukum dan masalah yang diperselisihkan dalam muamalah duniawi yang sangat lebar. Mereka membatasi ilmu dengan sebutan fiqih dan mazhabiyah. Mereka sibuk mempermasalahkan cabang, tapi lalai pada pokok yang besar. Mereka terlibat menjatuhkan orang dan lawan sesama Muslim. Mereka menolak kebenaran, demi kemenangan dan persaingan. Dengan mudah kelompok ini akan menjatuhkan fatwa sesat dan bid’ah. Bahkan tak segan-segan mereka mengkafirkan saudara seiman. Mereka memiliki watak dasar suka menyakiti dan memiliki hasrat besar untuk mengalahkan. Mereka tidak mendalami dan menggeluti satu ilmu, kecuali untuk mengalahkan.

Kelompok kedua, yang memiliki ciri menonjol suka berdebat dan berbantahan. Sibuk mencari cara dan metode yang canggih untuk mengalahkan lawan argumentasi. Mereka meyakini bahwa perdebatan memiliki nilai ibadah dan mulia. Tapi mereka lupa, perdebatan itu juga bisa menghasilkan kebingungan yang luar biasa pada ummat yang ada di bawah. Seringkali mereka yang berada dalam kelompok ini bergerak dengan motivasi popularitas, pengaruh dan pengakuan yang lebih besar. Mereka tak pernah puas dengan puji dan sanjungan. Mereka merasa sangat bangga jika dikutip dan menjadi rujukan.

Kelompok ketiga, adalah orang-orang yang berdakwah, memberikan ceramah, menyeru dan mengingatkan, namun selalui diwarnai dengan rasa ujub dan riya’ yang mematikan. Orang-orang seperti ini berciri, senang melihat orang susah dan susah melihat orang lain senang. Mereka akan sakit hati jika mengetahui rival atau pesaing-pesaing dalam pemikiran lain yang mendapat pengakuan dari ummat. Namun, kerap kali kelompok ini sangat sering lebih diakui. Karena mereka yang berada dalam kelompok ini memiliki retorika yang indah dan logika yang tinggi. Mereka mampu mengubah yang syubhat - tidak jelas - menjadi halal dan memiliki keahlian dengan dalil-dalil yang meyakinkan untuk mengubah haram menjadi remang-remang.

Kelompok keempat menurut Al-Ghazali adalah para alim dan ulama yang menggeluti ilmu hadits, mengajarkannya, mengejar dan mencari riwayat-riwayat dalam jumlah yang luar biasa banyaknya. Mereka tak peduli dengan jarak jauh yang ditempuh. Tak menghitung berapa syuyukh - pemuka masyarakat - yang didatangi. Mereka menghabiskan waktu, umur, kekuatan, dana dan segala macam untuk tujuan mulia itu. Tapi ulama golongan ini melupakan tujuan mulia lainnya, bahwa hadits dan riwayat diketahui untuk dipahami, untuk diamalkan, dan menjadi tersebar. Esensi hadits yang demikian terlupakan karena kenikmatan yang didapatkan dalam mengejar ilmu pengetahuan.

Kelompok kelima, Beberapa ulama yang menghabiskan waktu dan umurnya untuk mempelajari sastra dan nahwu - tata bahasa, syair dan puisi, linguistik yang rumit dan pelik. Mereka lupa bahwa bahasa hanyalah pengantar untuk tujuan yang lebih besar. Mempelajari bahasa perlu batasan-batasan yang disepakati jaraknya. Jangan lupa, bahasa adalah jembatan untuk memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits. Tapi golongan ini terlalu sibuk membangun jembatan dan lupa menyeberang dan lalai pada tujuan utama perjalanan.

Hari ini, pengamatan kita yang cermat diperlukan untuk memilih Ulama yang menjadi panutan kita, karena memang tidak semua Ulama layak menjadi panutan. Boleh jadi ilmunya tinggi, tapi akhlaknya masih banyak yang harus diperbaiki. Hari ini pula kita saksikan para ulama jauh dari permasalahan penting dan krusial, tapi sibuk dengan hal-hal yang remeh dan di luar kepentingan besar ummat Islam. Soal-soal besar dikecilkan dan masalah kecil malah dibesarkan. Banyak Ulama yang hebat dalam berdebat, tapi lemah dalam membangkitkan semangat ummat. Mereka hanya fokus pada permasalahan yang dangkal, tapi tak pernah mau menerjuni persoalan yang dalam dan sangat vital tentang bagaimana membangkitkan ummat Islam.

Selanjutnya Imam Al-Ghazali pernah berkata, “Para sahabat Rasulullah Saw hanya bermusyawarah ketika mereka mendapat permasalahan yang baru atau jika menemui masalah yang mungkin akan menjadi masalah besar. Namun hari ini kita mendapat manusia suka berdebat tentang hal-hal kecil yang tidak penting, tapi tak pernah mengeluarkan fatwa tentang masalah-masalah besar yang dibutuhkan. Semua Ulama dalam setiap forum ingin menjadi orang yang paling dominan dan pendapatnya saja yang paling benar.”

Imam Al-Ghazali sangat terpukul dengan kondisi ulama yang seperti ini. Jika pada masa itu saja sudah seperti ini kegelisahan Imam Al-Ghazali, bagaimana pula jika beliau hidup di zaman kita ini? Wallahu’alam bisshawab.

Imam Puji Hartono
No. 133

Senin, 05 Desember 2011

JANGAN BERLEBIHAN

Allah Swt berfirman: * “Dia (Allah) menciptakan untuk kamu apa yang ada di bumi seluruhnya.” (QS Al-Baqarah 2: 29). * “Dan Dia (Allah) yang telah menundukkan untuk kamu segala yang ada di langit dan di bumi semua bersumber dari-Nya.” (QS Al-Jaatsiyah 45: 13).


Dua ayat tersebut menandaskan bahwa Allah menciptakan apa yang di langit dan di bumi semata-mata untuk kepentingan manusia beribadah kepadaNya. Namun janganlah manusia menggunakan dan memakan rezeki Allah dengan secara berlebihan, karena Allah tidak menyukai hal-hal yang berlebihan. Segala sesuatu memiliki takaran dan ukuran sesuai dengan kebutuhannya. Ibarat mesin kendaraan bermotor memerlukan bahan bakar dan oli dengan jenis dan ukuran tertentu sesuai besaran tangki dan kapasitas tenaga yang dihasilkannya. Pemberian bahan bakar dan oli yang melebihi batas ukurannya selain tidak berguna juga mengakibatkan terganggunya sistem kerja mesin, bahkan menyebabkan kerusakan. Untuk keperluan pemeliharaan diperlukan persediaan bahan bakar dan sukucadang dengan jumlah dan prosentase tertentu sesuai kebutuhan dan jangka waktu penggunaannya. Penyediaan bahan bakar cadangan maupun sukucadang yang berlebihan juga tidak bermanfaat, selain memenuhi volume ruang penyimpanan, juga memakan biaya tidak sesuai, sehingga tidak effisien.


Demikian juga dalam kehidupan manusia sebagai mahluk di muka bumi ini, memerlukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang terdiri dari makan, pakaian, tempat tinggal dan kebutuhan untuk berhubungan satu sama lain atau bermasyarakat.


Allah mengingatkan manusia untuk tidak berlebih-lebihan atau melampaui batas, mengingat sifat manusia yang cenderung selalu ingin tambah dan selalu tambah banyak lagi. “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-Maaidah 5: 87).


Perilaku berlebihan atau melampaui batas ada bermacam-macam. Kita ambil contoh misalnya tiga hal, yaitu; bicara berlebihan, makan berlebihan dan berlebihan dalam berpakaian atau menghias diri.


Bicara Berlebihan


Bicara berlebihan tidak sama dengan bicara banyak, namun apabila seseorang yang banyak bicara melebihi batas keperluannya bisa dikatagorikan bicara berlebihan. Hal ini biasanya didorong oleh keinginan untuk menonjolkan diri, memperlihatkan kelebihan dan keistimewaan yang dimilikinya, atau menarik perhatian agar medapat pujian. Bicara berlebihan yang tanpa pengendalian akan mendorong seseorang berlaku sombong karena selalu ingin lebih dari orang lain dan ingin dipuji. Untuk memenuhi maksud ini kadang-kadang ditambah bumbu-bumbu dan kata-kata yang muluk-muluk agar menarik perhatian, hingga akhirnya melebihi maksud dan isi dari materi pembicaraan itu sendiri.


Bicara berlebihan juga mendorong seseorang berlaku bohong karena selain ingin mengharapkan pujian, juga untuk menutupi kekurangannya. Bagi seorang bawahan bicara berlebihan akan mendorong membuat laporan ABS (asal bapak senang). Pada tataran yang lebih tinggi laporan ABS dapat pula dilakukan oleh kelompok atau organisasi, berupa manipulasi data agar kinerja perusahaan atau unit kerja mendapat nilai tinggi, meskipun kenyataannya jauh dari fakta sebenarnya, atau bahkan sebaliknya.


Bicara berlebihan dapat juga menyeret seseorang berbuat fitnah, karena seseorang yang ingin bicaranya menarik perhatian dan didengarkan banyak orang, maka dengan tidak sadar dapat menyebarkan kabar bohong atau membuka aib orang lain. Bahkan dengan makin canggihnya media komunikasi dan publikasi massa membuat kabar-kabar gosip yang tidak bermutu ini sangat cepat menyebar keseluruh lapisan masyarakat tanpa saringan.


Makan Berlebihan


“Makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhya Allah tidak senang terhadap orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al-A’raaf 7: 31)

Makan adalah suatu kebutuhan hidup manusia, bahkan Al-Quran menjadikan kecukupan pangan serta terciptanya stabilitas keamanan sebagai dua sebab utama kewajaran beribadah kepada Allah. Begitu antara lain kandungan firman-Nya: “Hendaklah mereka menyembah Allah, yang memberi mereka makan sehingga terhindar dari lapar dan memberi keamanan dari segala macam ketakutan.” (QS Quraisy 106: 3-4).


Makanan terbaik adalah yang memenuhi kedua sifat yang dikehendaki Allah yaitu halal dan baik (thayyibah). Firman Allah: “Wahai seluruh manusia, makanlah yang halal dan baik, dan apa saja yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”(QS Al-Baqarah 2: 168).


Dalam Hadits Rasulullah Saw mengingatkan: “Tidak ada yang dipenuhkan manusia lebih buruk dari perut, cukuplah bagi putra Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Kalaupun harus (memenuhkan perut), maka hendaklah sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk pernapasan.” (HR Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban, dan At-Tirmidzi melalui sahabat Nabi Miqdam bin Ma’di Karib).


Makanan yang sehat adalah makanan yang memiliki zat gizi yang cukup dan seimbang. Makan berlebihan atau melebihi batas, dapat dikategorikan sebagai langkah setan yang dilarang oleh Allah, bahkan dapat menimbulkan penyakit karena memberi bahan makan kedalam tubuh secara tidak proporsional. Dari pengalaman dan catatan medis diketahui bahwa banyak penyakit disebabkan oleh makanan atau cara makan yang tidak teratur. Penimbunan lemak yang berlebihan dan peningkatan kolesterol dalam darah yang disebabkan olehnya, dapat mengakibatkan penyakit jantung. Demikian juga di dalam makanan yang lezat-lezat banyak tersimpan zat gula, yang dalam porsi yang terlalu banyak akan mengganggu keseimbangan gula darah, karenanya dapat mengakibatkan diabetes.


Makan berlebihan dapat pula berarti mengumpulkan bahan makanan dan bahan kebutuhan hidup lainnya atau menimbun secara melebihi batas. Hal ini menunjukkan perilaku tamak dan menutup kepedulian terhadap sesama. Diluar sana masih banyak saudara-saudara kita yang masih kekurangan pangan sementara bahan makanan yang ada ditimbun secara berlebihan.


Larangan melakukan penimbunan dan pemborosan tercermin dalam firman Allah yang memberikan ancaman yang keras kepada para penimbun harta: “Kelak pada hari segala-galanya itu dibakar dalam neraka jahanam, lalu dahi mereka dan lambung mereka diseterika, (ketika itu terdengar suara): “inilah harta benda yang kamu timbun untuk dirimu, maka rasakanlah (balasan) dari barang yang kamu timbun dahulu.” (QS At-Taubah 9: 35).


Menimbun bahan makanan dan harta benda juga merupakan bibit ketidak-adilan, karena menyebabkan terganggunya keseimbangan distribusi. Prinsip keseimbangan mengantar kepada pencegahan segala bentuk monopoli dan pemusatan kekuatan ekonomi pada satu tangan atau satu kelompok. Atas dasar itu pula Al-Quran menolak dengan tegas lingkaran sempit yang menjadikan kekayaan hanya berkisar pada orang-orang atau kelompok tertentu. “Supaya harta itu tidak hanya beredar pada orang-orang kaya saja di antara kamu.......”(QS Al-Hasyr 59: 7). Padahal Allah telah mengingatkan manusia bahwa harta benda yang berada dalam genggamannya adalah milik Allah, dan diperintahkan oleh Pemiliknya agar diberikan (sebagian) kepada yang membutuhkan: “Dan berilah kepada mereka (yang membutuhkan) harta yang diberikan-Nya kepada kamu.” (QS An-Nuur 24: 33).


Berpakaian dan Berhias Secara Berlebihan


Al-Quran menjelaskan fungsi pakaian: “Wahai putra-putri Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu pakaian yang menutupi auratmu dan juga (pakaian) bulu (untuk menjadi perhiasan), dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS Al-A’raaf 7: 26). Ayat ini setidaknya menjelaskan dua fungsi yang penting dari pakaian, yaitu ‘penutup aurat’ dan ‘perhiasan’.


Berpakaian selain untuk menutup aurat, sekaligus berfungsi sebagai perhiasan agar seseorang tampak lebih menarik, cantik dan sedap dipandang. Berpakaian dan berhias secara berlebihan, berarti melakukan hal-hal jauh melebihi kedua fungsi berpakaian tersebut. Perlu digaris bawahi bahwa salah satu yang harus dihindari dalam berhias adalah timbulnya rangsangan birahi dari yang melihatnya (kecuali suami atau isteri) dan atau sikap tak sopan dari siapapun yang melihanya. Hal tersebut dapat muncul dari cara berpakaian, berhias, berjalan, berucap dan sebagainya. Berhias tidak dilarang dalam Islam, karena ia adalah naluri manusiawi. Yang dilarang adalah tabarruj al-jahiliyyah, satu istilah yang digunakan dalam Al-Qur'an (QS Al-Ahzaab 33: 33) mencakup segala macam cara yang dapat menimbulkan rangsangan birahi kepada lain jenis kecuali suami isteri. Termasuk dalam cakupan maksud kata tabarruj, yaitu menggunakan wangi-wangian (yang menusuk hidung), dan cara berpakaian atau berjalan yang mengundang perhatian. Dalam Al-Qur’an disebutkan: “..... dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan (QS Al-Nuur 24: 31).


Berhias secara berlebihan juga berarti memuja kemewahan atas pakaian, segala hak milik, rumah dan property, yang apabila tidak ada pengendalian akan mendorong seseorang menggunakan segala macam cara untuk memperolehnya. Kurangnya iman seseorang akan menggodanya mengambil hak milik orang lain, curang dalam berdagang, persaingan tidak sehat, atau korupsi.


Nilai Keseimbangan


Salah satu nilai-nilai Islam adalah ‘keseimbangan’, yang mengantarkan manusia Muslim meyakini bahwa segala sesuatu diciptakan Allah dalam keadaan seimbang dan serasi. “Engkau tidak menemukan sedikitpun ketidak seimbangan dalam ciptaan Yang Maha Pengasih. Ulang-ulanglah mengamati! Apakah engkau melihat sedikit ketimpangan?” (QS Al-Mulk 67: 3). Prinsip ini menuntut manusia bukan saja hidup seimbang, serasi dan selaras dengan dirinya sendiri, tetapi juga menuntunnya hal tersebut dalam masyarakatnya. Menggunakan dan memanfaatkan rezeki dari Allah secara proporsional berarti juga menjaga keseimbangan dalam masyarakat.


Dalam pandangan agama Islam, harta kekayaan bahkan segala sesuatu adalah milik Allah. Di sisi lain, keberhasilan para pengusaha bukan hanya disebabkan hasil usahanya sendiri, melainkan terdapat pula hasil partisipasi orang lain atau masyarakat. Wajar jika Allah memerintahkan manusia untuk ‘menyisihkan’ apa yang ada dalam genggamannya (miliknya) demi kepentingan masyarakat umum. Dari sini agama menetapkan keharusan adanya fungsi sosial bagi harta kekayaan.


Semoga kita terhindar dari periaku berlebihan yang tidak disukai Allah, dan sebelum menutup tulisan ini, kami menyampaikan ucapan ‘Selamat Tahun Baru 1433 H’.

Moh Kamal Hs

No. 132