Minggu, 26 Juli 2009

42. TAQDIR ALLAH DAN IKHTIAR MANUSIA

Al Qur'an menerangkan, Allah bukan deus otiusus – Tuhan yang mencipta kemudian tidak peduli lagi terhadap ciptaannya. Dia bertindak sebagai Rabb al-‘alamin, yang memelihara, menjaga, melindungi, dan mengembangkan alam semesta dengan sempurna. [QS Al Faatihah (1): 2]. Allah mengerjakan semua itu secara terus menerus, tidak pernah istirahat, tidak merasa berat, tidak pernah lelah, tidak mengantuk apa lagi tidur. [QS Al Baqarah (2): 255].

Pengaturan Allah yang tuntas atas alam beserta seluruh bagian dan unsur-unsurnya merupakan realisasi dari penetapan Dia atas diri-Nya sendiri sebagai Pemberi Rahmah. [QS Al An'aam (6): 12]. Maka ketika Allah mencipta sesuatu, Dia tetapkan pula bentuk, sifat, dan apa yang terjadi bila ciptaan-Nya itu berinteraksi dengan ciptaan lainnya. [QS Al Furqaan (25): 2]. Ayat surah Al Furqaan ini menyebut aturan-aturan Allah atas semesta alam sebagai Taqdir, sedangkan ayat 23 surah 48 Al Fath menamainya Sunnatullah.

Allah mencipta matahari sebagai salah satu dari bermiliar-miliar bintang di angkasa raya. Meskipun ukuran maupun potensi matahari relatif kecil dibandingkan dengan bintang-bintang lainnya sehingga para ahli Astronomi menyebutnya bintang kerdil, toh diameter matahari tidak kurang dari 1,4 juta kilometer. Inti matahari luar biasa panasnya, kira-kira 15 juta derajat Kelvin. Energi yang dipancarkan matahari setiap detiknya mencapai 289 juta trilyun watt.

Allah mencipta bumi dan menjadikannya salah satu dari delapan planet matahari. Bumi ditempatkan sebagai planet ketiga dilihat dari urutan dekatnya dari matahari, diletakkan pada jarak 149 juta kilometer dari sumber energi tersebut. Maka suhu bumi menjadi moderat dalam arti tidak terlalu panas dan juga tidak terlampau dingin. Apa lagi Allah memutar bumi pada porosnya dengan kecepatan 1650 kilometer setiap jam; maka hampir seluruh bagian bumi mengalami pergantian siang dan malam, dihangatkan di waktu siang dan didinginkan pada saat malam. Pada waktu yang sama bumi juga diperjalankan Allah mengitari matahari dengan kecepatan yang fantastis: lebih dari 107 ribu kilometer sejam.

Allah menetapkan bumi memiliki gaya gravitasi sehingga setiap benda yang berada di sekitarnya akan ditarik dengan kekuatan tertentu, dan yang menempel padanya, tidak mudah goyah. Taqdir-taqdir Allah mengenai kondisi bumi ini sangat bersesuaian dengan takdir Allah yang lain yaitu menjadikan planet ini sebagai tempat kehidupan bagi berbagai jenis flora, fauna dan manusia.

Allah mengadakan di bumi, tanah dan menebarkan padanya berbagai unsur hara yang diperlukan oleh makhluk-makhluk hidup. Allah mencipta batu dan menetapkan titik leburnya. Allah mencipta air dan menentukan sifat-sifatnya, antara lain bahwa benda cair itu akan menguap pada suhu 100 derajat Celcius tekanan 1 atmosphere, dan membeku pada suhu 0 derajat Celcius di bawah tekanan yang sama.

Allah mencipta udara dan menggariskan ketetapan-Nya bahwa benda itu mengisi setiap ruang yang kosong; maka dari waktu ke waktu terjadilah angin, yang bergerak dari tempat yang lebih rapat udara ke tempat yang kurang rapat. Allah menjadikan oksigen sebagai suatu bagian penting dari udara. Oksigen merupakan kebutuhan pokok segala makhluk hidup yang tinggal di bumi, maka Allah menjadikan “pabrik” oksigen di mana-mana, berupa chlorophyl yang berada di bagian-bagian pohon berwarna hijau, bekerja sama dengan sinar matahari.

Allah mencipta api dan menjadikan benda itu membakar atau memanasi segala sesuatu yang dikenainya. Api menghancurkan banyak benda tetapi juga menjadikan bahan-bahan makanan steril dan hangat. Semua yang kita bicarakan tadi merupakan sebagian kecil dari taqdir-taqdir Allah, yang menjadikan unsur-unsur alam semesta ini berinteraksi secara harmonis, saling mendukung dan saling memberi manfaat.

Allah mencipta manusia sebagai salah satu jenis makhluk-Nya yang hidup di alam. Maka taqdir Allah untuk alam berlaku pula bagi makhluk ini. Manusia tunduk pada hukum gravitasi bumi, air yang berada di tubuhnya menguap pada kondisi tertentu, daging dan kulitnya dapat terbakar oleh api, dan sebagainya. Akan tetapi Allah menetapkan manusia sebagai ahsanu taqwim [QS At Tiin (95): 4], dan Allah mengaruniai makhluk ini akal, yang mampu memahami banyak hal.

Maka dengan kekhususannya itu manusia diberi kebebasan untuk berkehendak dan berusaha dengan sadar untuk mewujudkan kehendaknya itu. Dengan akalnya manusia dapat memahami berbagai kejadian dan proses yang ditangkap oleh inderanya. Maka manusia bukan hanya tahu bahwa daun berwarna hijau, tetapi juga mengapa berwarna hijau, bahkan kemudian merekaciptanya supaya memberi manfaat yang lebih banyak.

Manusia bukan hanya tahu adanya air tetapi juga memahami sifat-sifat air, kemudian mengelola air itu untuk mengusahakan pertanian yang lebih efektif, untuk proses pendinginan mesin, dan sebagainya. Dengan akalnya manusia dapat mengumpulkan energi, mengubah bentuk-bentuk energi, dan memanfaatkan energi itu untuk berbagai keperluan hidupnya. Dengan mengerahkan akal manusia mengembangkan budayanya.

Dalam rangka mengembangkan budaya itu manusia mengumpulkan berbagai macam pengetahuan yang didapat dari waktu ke waktu, kemudian menatanya dengan sistematika tertentu menjadi ilmu. Dari masa ke masa pengetahuan manusia selalu bertambah, maka ilmunyapun berkembang semakin luas dan semakin dalam. Manusia kemudian memanfaatkan ilmunya itu untuk meningkatkan kenyamanan hidup; pemanfaatan ilmu yang demikian itu disebut teknologi. Penguasaan ilmu dan teknologi memberi manusia tiga hikmah yang sangat penting.

Pertana: memuaskan curiosity – keinginan tahu, yang merupakan naluri manusia. Kepuasan yang didapat ketika memahami kebenaran, akan mendorong curiosity yang baru, demikian seterusnya. Maka ilmu dan teknologi yang dikuasai manusia semakin tinggi dan semakin dalam.

Kedua: teknologi yang semakin maju akan semakin meningkatkan taraf hidup manusia, Teknologi informasi menjadikan orang mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia lain dengan cepat dan lengkap. Teknologi komputasi menyebabkan orang mudah memproses setiap pengetahuannya menjadi lebih berdaya guna.

Ketiga: dengan memahami kebaikan dan harmoni alam beserta unsur-unsurnya, manusia semakin menghayati eksistensi Allah Swt. Maka iman semakin kukuh dan hati semakin tenang,

Upaya manusia yang bersungguh-sungguh menghasilkan teknologi yang semakin canggih. Tetapi bagaimanapun, manusia tidak dapat meniadakan atau melemahkan takdir-takdir Allah. Maka sadar mengenai hal itu manusia justru memanfaatkan berbagai takdir yang ada di sekitarnya, untuk memperoleh hasil yang seakan-akan berlawanan dengan takdir itu.

Manusia tidak dapat meniadakan gaya friksi pada permukaan tanah, yang menahan setiap benda ketika digerakkan dari suatu tempat ke tempat yang lain. Maka dia memanfaatkan friksi itu dengan membuat roda berbentuk bulat dan di atasnya diletakkan kendaraan untuk mengangkut orang dan barang-barang. Roda tidak dapat berputar menggerakkan kendaraan bila berada di permukaan yang licin, tetapi menjadi berguna karena adanya friksi.

Manusia tidak dapat menghilangkan gaya gravitasi, maka dia tidak dapat terbang. Tetapi kemudian dia membuat baling-baling, atau roket, atau jet, yang mengangkat pesawat terbang dengan memanfaatkan gaya gravitasi bumi itu. Manusia membuat perahu dengan memanfaatkan takdir Allah untuk air, yang menekan ke atas setiap benda yang dimasukkan ke dalamnya dengan tekanan seberat air yang dipindahkan.

Manusia memanfaatkan bibit penyakit yang biasa menyerang dirinya dengan membuat vaksin dari bibit penyakit itu sendiri yang dilemahkan. Vaksin dijadikan sparring partner untuk melatih ketahanan tubuh manusia terhadap penyakit tersebut.
Banyak sekali yang dapat dan telah diperbuat manusia dengan menggunakan akalnya. Tetapi bagaimanapun, kemampuan rekacipta manusia itu tetap terbatas dan rentan terhadap kesalahan. Peluncuran satelit yang telah diperhitungkan dengan matang, pada suatu ketika toh gagal juga karena roket pembawanya meledak.

Seorang profesor bidang Farmasi yang sedang melakukan penelitian laboratorium untuk menemukan obat bagi suatu jenis penyakit, meninggal karena terserang penyakit yang ditelitinya, padahal dia telah melakukan upaya perlindungan diri yang sangat cermat. Kenyataan menunjukkan bahwa ikhtiar manusia tidak selalu berhasil, karena orang tidak senantiasa berhasil memahami taqdir-taqdir Allah; maka takdir itu menghalangi pewujudan keinginannya.

Ikhtiar manusia dapat kita pandang sebagai salah satu vektor – kekuatan yang memiliki besaran dan arah – di antara berbagai vektor lain. Apa yang terjadi merupakan resultante dari semua vektor tersebut. Ketika seseorang melakukan ikhtiar, dia harus memperhitungkan semua vektor yang ada. Tetapi selain yang dia ketahui dan dapat dia kuasai, selalu ada vektor-vektor lain yang meskipun dia ketahui tetapi tidak dia kuasai, bahkan ada pula yang tidak dia ketahui apa lagi dia kuasai. Yang mengetahui dan menguasai segala sesuatu hanyalah Allah, maka sikap yang benar dari orang yang berikhtiar adalah tawakkal, berserah diri kepada Allah.

Lebih dari itu, karena Allah sudah menyatakan berkenan untuk mengabulkan permohonan siapa saja yang berdoa kepada-Nya dengan tulus dan dengan cara yang patut [QS Al Mu'min (40): 60]. Orang juga mesti mengiringi ikhtiarnya itu dengan berdo’a kepada Allah. Ikhtiar, tawakkal dan do’a merupakan tiga aktivitas yang harus dilakukan sekaligus. Dengan itu dia membuka peluang yang lebih lebar untuk mencapai sukses tetapi hatinya tenteram dan semakin dekat kepada Allah sehingga terhindar dari penyakit-penyakit hati seperti sombong ketika sukses dan putus asa tatkala gagal. [Sakib Machmud].

Minggu, 19 Juli 2009

41. HARI KIAMAT

Salah satu informasi yang wajib dipercayai oleh setiap orang yang mengaku Muslim adalah keterangan tentang Hari Kiamat, hari yang mengakhiri kehidupan dunia sekaligus mengawali kehidupan akhirat. Kepercayaan mengenai Hari Kiamat merupakan salah satu dari Rukun Iman; maka orang yang tidak memercayai hari Kiamat tidak termasuk orang yang beriman.

Dari berbagai keterangan yang dinyatakan dalam Al Qur'an, kita dapat menyimpulkan bahwa manusia menjalani dua bentuk kehidupan yaitu kehidupan dunia dan akhirat. Kehidupan dunia memberi kesempatan seluas-luasnya kepada manusia untuk berusaha meraih segala yang terbaik bagi dirinya, sekaligus memperoleh sebagian hasil dari usahanya itu. Orang yang berpikir kreatif dan bekerja keras, umumnya akan mendapatkan rizki yang memadai, dan jika ia orang yang taat kepada ajaran agama, ia akan bersikap ramah dan ringan hati membantu orang lain [QS Al Qashash (28): 77], dan karenanya akan memperoleh penghormatan yang tulus dari masyarakat sekelilingnya.

Dalam kehidupan akhirat, orang tidak lagi mempunyai peluang untuk berbuat sesuatu yang memberi akibat kepadanya. Orang hanya memetik hasil dari usahanya selama masa kehidupan di dunianya relatif sangat singkat, dibandingkan dengan masa kehidupan di akhirat yang abadi tanpa ujung. Maka hendaknya orang menata hidup dengan sebaik-baiknya di dunia, karena sikap dan perbuatannya pada waktu yang pendek itu menentukan apa yang akan dialaminya selama-lamanya di akhirat.

Allah yang Maha Penyayang menghendaki manusia menikmati kebahagiaan yang sebesar mungkin selama waktu yang sangat panjang itu. Maka Dia berulang kali mengingatkan dan memperingatkan manusia akan peristiwa yang amat penting yaitu hari yang di dalam Al Qur'an Allah menyebutnya dengan berbagai istilah, antara lain Yaum al Qiyamah (Hari Kiamat) – QS (Az Zumar (39): 60, Al Sa’ah (Waktu yang pasti tiba) – QS Al Qamar (54): 1, Yaum al Ba’ts (Hari kebangkitan) – QS Ar Ruum (30): 56, Yaum al Din (Hari pembalasan) – QS Al Faatihah (1): 4, Yaum al Hisab (Hari perhitungan) QS Ghafir (40): 27 Al Ghaasiyah (Keadaan yang menyelubungi) – QS Al Ghaasiyah (88): 1, Al-Waqi’ah (Peristiwa dahsyat – QS (56): 1, dan lainnya.

Kiamat pasti terjadi, tetapi kapan datangnya, hanya Allah yang mengetahuinya. Dia merahasiakan informasi mengenai hal itu kepada siapapun, termasuk Rasul, Malaikat Jibril, bahkan Malaikat ‘Israfil yang bertugas memberi tanda dimulainya hari agung tersebut. [QS Al A’raaf (7): 187] menyatakan: " Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat; Bilakah terjadinya? Katakanlah; Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia".

Ketika didesak umat supaya menerangkan tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Kiamat segera tiba, Rasul dengan petunjuk Allah menyampaikan beberapa keterangan yang intinya menyatakan tiga hal: Bahwa Kiamat pasti terjadi, bahwa Kiamat sudah dekat, dan bahwa Kiamat akan datang dengan mendadak.

Apa yang terjadi bila saat Kiamat sudah tiba? Al Qur'an menerangkan, mula-mula Malaikat ‘Israfil atas perintah Allah meniup sangkakala khas, maka pada waktu itu semesta alam sontak berubah. Interaksi unsur-unsur alam yang harmonis, gerakan benda-benda langit yang serba teratur, kedudukan bagian-bagian bumi yang kokoh mantap, berganti dengan suasana serba tak menentu.

Secara metaforik digambarkan bahwa langit terbelah [QS Al Infithaar (82): 1], matahari digulung [QS At Takwiir (81): 1], bintang-bintang berjatuhan [QS An Taqwiir(81): 2], bumi bergucang dahsyat [QS Az Zalzalah (99): 1], dan karena guncangan itu segala isi bumi keluar [QS Az Zalzalah (99): 2], manusia seperti anai-anai yang bertebaran [QS Al Qaari'ah (101): 4], gunung-gunung bagaikan bulu-bulu yang dihambur-hamburkan [QS Al Qaari'ah (101): 5], lautan meluap menelan pulau-pulau [QS Al Infithaar (82): 3). Seluruh alam hancur bagaikan debu, maka Allah mencipta alam yang baru dengan langit dan bumi yang baru; itulah alam akhirat [QS Ibrahim(14): 48]. Maka Israfil meniup lagi sangkakala; pada saat itu setiap orang yang pernah hidup di bumi dibangkitkan kembali dari alam kubur, untuk mempertanggungjawabkan amalnya selama hidup di dunia [QS Al Zalzalah (99): 6].

Al Qur'an menceriterakan lebih lanjut bahwa segera setelah dibangunkan dari kematian, setiap orang segera dibawa malaikat menuju padang sangat luas yang disebut Mahsyar, Di tempat itu semua orang berdiri dalam banjar-banjar yang rapih di hadapan Allah SWT, yang bertindak sebagai Maliki yaum al-Din – Penguasa hari pembalasan [QS Al Faatihah (1): 4].

Dia-lah Hakim Agung yang tunggal, yang memeriksa dan mengadili semua orang dengan keadilan yang sempurna. Mula-mula petugas menyodorkan buku catatan amal, yang ditulis rapih dan cermat oleh Raqib dan ‘Atid, dua malaikat yang selalu mengikutinya di dunia [QS Al Israa' (17): 13-14].

Maka orang-orang yang isi bukunya baik akan tersenyum riang penuh rasa syukur. Sedangkan mereka yang bukunya penuh dengan catatan buruk akan ternganga heran, bagaimana bisa keburukan-keburukan kecil dan remeh tertulis semua tanpa ada yang tertinggal [QS Al Kahfi (18): 49].

Sesudah itu Allah SWT memerintahkan setiap orang mempertanggungjawabkan peri lakunya. Di antara mereka ada yang menyanggah catatan malaikat itu; maka diajukanlah saksi-saksi yang tak terbantahkan yaitu anggota tubuh orang itu sendiri; masing-masing mengatakan apa yang diperbuatnya atas perintah ruh [QS An Nuur (24): 24]. Di antara mereka ada yang menyalahkan orang-orang lain yang membujuk dan mengajak dia melakukan keburukan; tetapi akhirnya mereka masing-masing sadar bahwa tidak ada yang memaksa atau mengancam.

Mereka berbuat salah karena hawa nafsunya menerima baik bujukan setan-setan. Di antara mereka ada yang menangis mengiba-iba, memohon diberi kesempatan sekali lagi untuk kembali ke alam dunia. Mereka berjanji akan menggunakan seluruh waktu, jiwa serta raganya untuk hanya mengabdi Allah. Tetapi dikatakan kepadanya bahwa kesempatan untuk beramal saleh sudah cukup diberikan kepadanya, dan tidak akan diperpanjang lagi.

Sesudah prosedur pemeriksaan amal selesai, amal baik dan amal buruk dipisahkan dan ditimbang. Maka barangsiapa yang timbangan amal kebaikannya lebih berat dari bobot keburukannya, dia akan berada di tempat yang sangat memuaskan yaitu surga [QS 101: 6-7]. Sebaliknya, barangsiapa yang bobot kebaikannya lebih ringan dari keburukannya, dia akan dimasukkan ke dalam neraka, dibakar dengan api yang sangat panas [QS Al Qaari'ah (101): 8-11].

Surga adalah istana akhirat yang memberikan kenikmatan maksimal. Di dalamnya ada taman yang mencakup empat macam sungai, yaitu sungai berisi air jernih yang tidak berubah rasa maupun baunya, sungai susu yang rasanya tetap lezat sepanjang masa, sungai berisi anggur yang sangat lezat cita rasanya, dan sungai madu yang bening jernih. [QS Muhammad (47): 15].

Para penghuni surga bebas memilih buah-buahan manapun yang memenuhi seleranya, dan daging burung jenis apapun yang mereka sukai [QS Al Waaqi'ah (56): 20-21]. Mereka dilayani para pramusaji yang muda, cekatan, sopan dan indah dipandang [QS Al Insaan (76): 19-21 dan [QS Ash Shaffaat (37): 48-49] Di dalam surga tidak terdengar perkataan kosong, apa lagi yang menyebabkan dosa [QS Al Waaqi'ah (56): 25-26].

Rasulullah SAW kemudian menyimpulkan bahwa surga adalah sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati siapapun [HR Bukhari]. Kenikmatan surga bersifat abadi; sekali orang masuk ke dalamnya, tidak akan dia dikeluarkan kembali dari tempat penuh kebahagiaan itu. [QS Al Baqarah (2): 82].

Adapun neraka adalah tempat tinggal di akhirat yang keadaannya berlawanan dengan surga, yaitu serba buruk dan serba menyengsarakan. Al Qur'an melukiskan neraka sebagai tempat yang dipanaskan oleh api yang berkobar-kobar, yang bahan bakarnya manusia dan jin [QS At Tahriim (66): 6]. Para penghuni neraka dipanggang di antara api yang berkobar dari bawah dan api lain yang menyembur dari atas [QS Az Zumar (39): 16].

Orang yang dibakar api tentu hangus kulitnya. Tetapi setiap kali kulitnya hangus, Allah menggantinya dengan kulit yang baru, sehingga pedih perihnya sengatan api terus menerus terasa menyakitkan. [QS An Nisaa' (4): 56]. Rasul menerangkan bahwa siksaan yang paling ringan di neraka adalah yang dipakaikan ke tangan dan kakinya, belenggu dari api neraka. Karena panas yang berasal dari belenggu itu mendidihlah otaknya seperti mendidihnya air di kuali. [HR Bukhari dan Muslim].

Berbeda dengan orang-orang di surga yang semuanya penghuni tetap, di neraka ada penghuni tetap dan penghuni sementara. Penghuni tetap adalah orang-orang yang sepanjang hidupnya di dunia tidak beriman, sehingga tidak ada kebaikan yang tercatat. Meskipun mereka dahulu juga berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, tetapi tidak diniatkan 'karena Allah', maka amal tersebut menjadi seperti fatamorgana yang semu belaka. [QS An Nuur (24): 39]. Sedangkan penghuni sementara adalah orang-orang yang beriman tetapi keimanannya lemah sehingga setan sering kali berhasil menggelincirkan mereka kepada keburukan. Rasulullah SAW menyatakan bahwa selagi ada iman di dalam dada, akhirnya orang akan masuk surga.

Mestinya tidak ada orang yang senang menjadi penghuni neraka – walaupun sementara – dan tidak ada yang mau kehilangan surga. Maka informasi tentang hari Kiamat dan kehidupan akhirat ini disampaikan, untuk mendorong manusia melakukan dua hal sekalligus, Pertama: berbuat amal kebaikan sebanyak-banyaknya. Kedua: sesegera mungkin dan sesering mungkin bertobat kepada Allah, mohon ampunan atas dosa-dosanya. Ia yakin bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dia pasti berkenan menghapuskan dosa-dosa manusia, betapa besar dan banyaknya dosa-dosa itu. Pada saat yang sama orang beriman juga sangat menjaga diri agar tidak melakukan dosa-dosa baru yang akan menjadikan mereka sengsara, dalam waktu yang luar biasa panjangnya itu. [Sakib Machmud]

Minggu, 12 Juli 2009

40. MAKHLUK GHAIB

Allah yang Maha Kuasa telah mencipta segala sesuatu dan manusia mengenali banyak dari ciptaan Allah itu. Mula-mula orang berusaha memahami makhluk dengan inderanya; maka dia mengetahui adanya matahari, bulan, bintang-bintang, gunung, sungai, laut, batu, pohon. Kemudian dengan telaah akalnya manusia memahami kedudukan matahari sebagai sumber energi, yang memancarkan cahaya dan “mengendalikan” planet-planet termasuk bumi, berputar mengelilinginya dengan kecepatan tetap yang sangat tinggi.

Manusia mengerti tahapan proses pertumbuhan pohon, caranya membesar, prosedur berkembangnya bunga dan buah. Manusia mengetahui siklus pergerakan air dari laut ke darat pulang balik. Air yang berkumpul di laut karena ditimpa panas matahari menguap, menjadi awan; angin membawanya ke darat. Maka ketika angin melintasi kawasan tinggi, awan yang dibawanya naik ke tempat dingin, lalu mencair kembali dan turun sebagai hujan. Air masuk ke tanah melewati pori-porinya, disaring sehingga hilang sifat sadahnya, dilaruti mineral-mineral, kemudian ke luar lagi ke permukaan tanah, dimanfaatkan oleh tanaman, hewan dan manusia. Sesudah itu air mengalir melalui parit, sungai kecil sampai besar, sampai akhirnya kembali ke laut.

Pengetahuan manusia mengenai berbagai hal tersebut mengantar dia kepada kesadaran akan keteraturan dan harmoni alam, karena diatur dengan sempurna cermat oleh Allah SWT. Kesadaran tersebut menggetarkan hatinya untuk menyatakan: "Wahai Tuhan kami, sungguh tidak Engkau jadikan segala sesuatu ini dengan sia-sia. Maha Hebat Engkau, suci dari kesalahan dan kelemahan. Maka peliharalah kami dari pikiran yang sesat, yang akan memasukkan kami ke dalam neraka." [QS Ali ‘Imran ayat (3): 191].

Kemudian Allah menerangkan bahwa Dia telah “menundukkan” unsur-unsur alam itu untuk manusia, sehingga memberi banyak manfaat kepadanya. [QS Ibrahim (14): 32] menyatakan bahwa Allah menundukkan sungai-sungai untuk dilalui perahu yang mengantarkan orang ke berbagai tempat. Ayat 33 surah tersebut menyatakan bahwa Allah menundukkan matahari dan bulan sehingga keduanya memancarkan sinar yang menerangi bumi pada waktu siang dan malam secara bergiliran; dengan penerangan itu orang dapat menempuh perjalanan di muka bumi dengan mudah. Allah juga menundukkan bagi manusia, malam dan siang; malam sesuai untuk istirahat sedangkan siang cocok untuk bekerja keras.

[QS Luqman (31): 20] kemudian bertanya retorik; "Tidakkah kamu perhatikan, sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu manfaat makhluk-makhluk itu, yang lahir dan yang batin, (yang segera nampak dan dapat dimanfaatkan serta yang memerlukan ilmu dan teknologi untuk memperolehnya?).

Pengetahuan manusia tentang berbagai jenis makhluk menjadikan dia mengagumi Sang Pencipta yang Maha sempurna. Semakin banyak orang menguasai ilmu tentang alam semesta, mestinya semakin kukuh pula keyakinannya kepada Allah Swt. Semakin luas hal-hal yang tersingkap oleh ilmunya, semakin sadar pula dia betapa banyak yang belum diketahuinya.

Allah menerangkan kepada manusia, bahwa selain dari makhluk-makhluk yang telah dan akan dia temukan pada suatu ketika, ada lagi ciptaan-Nya yang ghaib baginya. Orang tidak akan pernah dapat mengenali makhluk tersebut dengan inderanya dan tidak pula dapat menganalisis dengan akal pikirannya. Bakteri, bagian belakang bulan, arus listrik, tidak ghaib, karena orang dapat mengetahui makhluk-makhluk tersebut dengan menggunakan alat dan teknologi tertentu.

Makhluk ghaib (mughayyabat) adalah makhluk yang orang hanya dapat mengetahuinya dari informasi yang diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya. Makhluk tersebut ada dan manusia wajib mempercayai adanya. [QS Al-Baqarah (2): 3] menandaskan bahwa ciri pertama dari orang yang taqwa adalah: beriman kepada yang ghaib. Mengimani hal-hal yang ghaib berarti meyakini keterangan Allah, dan dengan mempercayai seluruh informasi Allah orang akan mencapai tingkatan iman yang kaffah – utuh dan sempurna.

Melalui Al Qur'an Allah SWT menerangkan dua makhluk-Nya yang ghaib bagi manusia, yaitu malaikat dan jin. Keduanya adalah makhluk ruhiyah yang tidak mempunyai raga sebagaimana dipahami manusia, dan keduanya sama-sama berakal. Rasulullah menerangkan bahwa malaikat dicipta Allah dari cahaya sedangkan jin dijadikan dari api. [HR Muslim]. Penciptaan kedua makhluk itu berlangsung sebelum Allah mengadakan manusia.

Malaikat mempunyai naluri yang tunggal yaitu senantiasa patuh melaksanakan perintah Allah dan tidak pernah membantah Dia. Surah 66 [QS At Tahrim (66): 6] menjelaskan tentang malaikat; "Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Penegasan serupa dinyatakan pula dalam [QS An Nahl (16): 50]. Malaikat adalah para petugas Allah yang bekerja dalam sistem organisasi yang baik. Mereka berkelompok berdasarkan tugasnya masing-masing. Sebagian dari kelompok malaikat itu diberitakan kepada manusia, seperti Mikail, ‘Izrail, Raqib dan ‘Atid, karena tugas mereka berkenaan dengan manusia.

Dalam organisasi malaikat ada pangkat dan kedudukan tertentu. [QS Faathir (35): 1] menggambarkan organisasi malaikat itu secara metaforik: mereka mempunyai sayap-sayap, dua, tiga atau empat pasang; jumlah sayap menggambarkan kedudukan penyandangnya. Jibril adalah panglima seluruh malaikat; karena iawtu Rasulullah SAW menggambarkan bahwa beliau memiliki 600 pasang sayap [HR Muslim]. Sebagai pemimpin tertinggi malaikat, beliau mendapat kehormatan untuk menyampaikan wahyu Allah kepada Rasul-rasul-Nya.

Makhluk ghaib yang lain adalah jin. Tidak seperti malaikat, mereka mempunyai nafsu, sehingga ada yang baik dan ada yang buruk. [QS Al Jin (72): 11] menceriterakan pengakuan makhluk tersebut: "Dan sesungguhnya di antara kami ada yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda".

Karena bukan makhluk ragawi, jin tidak ingin menyantap makanan yang lezat, tidak hendak mengenakan pakaian yang mewah, tidak pula senang tinggal di rumah megah. Tetapi jin ingin dihormati, senang diikuti, baik oleh jin lain maupun oleh manusia. Sebagaimana manusia, jin diberi kebebasan oleh Allah untuk berkehendak dan melaksanakan kehendaknya itu. Maka seperti manusia pula, jin harus mempertanggungjawabkan sikap dan perbuatannya dalam kehidupan dunia, langsung kepada Allah. Akhirnya di antara golongan jin itu ada yang menghuni sorga dan ada pula yang menjadi penghuni neraka. Mengenai kelompok kedua ini [QS Al A’raaf (7): 179] menyatakan: "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Malaikat, sebagaimana yang telah kita bicarakan tadi, adalah petugas Allah. Kedudukan itu akan tetap mereka sandang, kelak di alam akhirat. Mereka bukan penghuni surga maupun neraka. Sebagian mereka akan berada di tempat-tempat tersebut sebagai operatornya.

Jin yang sangat buruk perangainya adalah iblis. Golongan ini sedemikian sombongnya sehingga berani menolak perintah Allah untuk memberikan pernghormatan kepada cikal bakal manusia yang telah ditetapkan sebagai Khalifah fil ardhi yaitu Adam AS. Bahkan ketika Allah bertanya mengapa dia bersikap demikian, iblis menjawab terus terang dan tanpa ragu: "Aku lebih baik dari dia. Engkau cipta aku dari api sedangkan dia Engkau jadikan dia dari tanah." [QS Al A’raaf (7): 12]. Maka Allah menetapkan iblis sebagai penghuni neraka dan akan kekal di kancah siksaan tersebut.

Adapun syeitan adalah jin dan manusia yang bersikap buruk dan membujuk makhluk-makhluk lain mengikutinya. [QS An Naas (114): 5-6 menerangkan bahwa setan itu; "yang membisik-bisikkan keburukan ke dalam hati manusia. Mereka berasal dari golongan jin dan manusia." Kemampuan setan hanyalah membujuk, merayu, menipu, untuk memengaruhi makhluk lain berbuat keburukan. Setan tidak dapat memaksa siapapun untuk memenuhi kehendaknya. [QS An Nahl (16): 99-100] menandaskan: "Sesungguhnya setan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan berserah diri kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya hanyalah atas orang-orang yang mengangkatnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukan dia dengan Allah." [Sakib Machmud]