Salah satu informasi yang wajib dipercayai oleh setiap orang yang mengaku Muslim adalah keterangan tentang Hari Kiamat, hari yang mengakhiri kehidupan dunia sekaligus mengawali kehidupan akhirat. Kepercayaan mengenai Hari Kiamat merupakan salah satu dari Rukun Iman; maka orang yang tidak memercayai hari Kiamat tidak termasuk orang yang beriman.
Dari berbagai keterangan yang dinyatakan dalam Al Qur'an, kita dapat menyimpulkan bahwa manusia menjalani dua bentuk kehidupan yaitu kehidupan dunia dan akhirat. Kehidupan dunia memberi kesempatan seluas-luasnya kepada manusia untuk berusaha meraih segala yang terbaik bagi dirinya, sekaligus memperoleh sebagian hasil dari usahanya itu. Orang yang berpikir kreatif dan bekerja keras, umumnya akan mendapatkan rizki yang memadai, dan jika ia orang yang taat kepada ajaran agama, ia akan bersikap ramah dan ringan hati membantu orang lain [QS Al Qashash (28): 77], dan karenanya akan memperoleh penghormatan yang tulus dari masyarakat sekelilingnya.
Dalam kehidupan akhirat, orang tidak lagi mempunyai peluang untuk berbuat sesuatu yang memberi akibat kepadanya. Orang hanya memetik hasil dari usahanya selama masa kehidupan di dunianya relatif sangat singkat, dibandingkan dengan masa kehidupan di akhirat yang abadi tanpa ujung. Maka hendaknya orang menata hidup dengan sebaik-baiknya di dunia, karena sikap dan perbuatannya pada waktu yang pendek itu menentukan apa yang akan dialaminya selama-lamanya di akhirat.
Allah yang Maha Penyayang menghendaki manusia menikmati kebahagiaan yang sebesar mungkin selama waktu yang sangat panjang itu. Maka Dia berulang kali mengingatkan dan memperingatkan manusia akan peristiwa yang amat penting yaitu hari yang di dalam Al Qur'an Allah menyebutnya dengan berbagai istilah, antara lain Yaum al Qiyamah (Hari Kiamat) – QS (Az Zumar (39): 60, Al Sa’ah (Waktu yang pasti tiba) – QS Al Qamar (54): 1, Yaum al Ba’ts (Hari kebangkitan) – QS Ar Ruum (30): 56, Yaum al Din (Hari pembalasan) – QS Al Faatihah (1): 4, Yaum al Hisab (Hari perhitungan) QS Ghafir (40): 27 Al Ghaasiyah (Keadaan yang menyelubungi) – QS Al Ghaasiyah (88): 1, Al-Waqi’ah (Peristiwa dahsyat – QS (56): 1, dan lainnya.
Kiamat pasti terjadi, tetapi kapan datangnya, hanya Allah yang mengetahuinya. Dia merahasiakan informasi mengenai hal itu kepada siapapun, termasuk Rasul, Malaikat Jibril, bahkan Malaikat ‘Israfil yang bertugas memberi tanda dimulainya hari agung tersebut. [QS Al A’raaf (7): 187] menyatakan: " Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat; Bilakah terjadinya? Katakanlah; Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia".
Ketika didesak umat supaya menerangkan tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Kiamat segera tiba, Rasul dengan petunjuk Allah menyampaikan beberapa keterangan yang intinya menyatakan tiga hal: Bahwa Kiamat pasti terjadi, bahwa Kiamat sudah dekat, dan bahwa Kiamat akan datang dengan mendadak.
Apa yang terjadi bila saat Kiamat sudah tiba? Al Qur'an menerangkan, mula-mula Malaikat ‘Israfil atas perintah Allah meniup sangkakala khas, maka pada waktu itu semesta alam sontak berubah. Interaksi unsur-unsur alam yang harmonis, gerakan benda-benda langit yang serba teratur, kedudukan bagian-bagian bumi yang kokoh mantap, berganti dengan suasana serba tak menentu.
Secara metaforik digambarkan bahwa langit terbelah [QS Al Infithaar (82): 1], matahari digulung [QS At Takwiir (81): 1], bintang-bintang berjatuhan [QS An Taqwiir(81): 2], bumi bergucang dahsyat [QS Az Zalzalah (99): 1], dan karena guncangan itu segala isi bumi keluar [QS Az Zalzalah (99): 2], manusia seperti anai-anai yang bertebaran [QS Al Qaari'ah (101): 4], gunung-gunung bagaikan bulu-bulu yang dihambur-hamburkan [QS Al Qaari'ah (101): 5], lautan meluap menelan pulau-pulau [QS Al Infithaar (82): 3). Seluruh alam hancur bagaikan debu, maka Allah mencipta alam yang baru dengan langit dan bumi yang baru; itulah alam akhirat [QS Ibrahim(14): 48]. Maka Israfil meniup lagi sangkakala; pada saat itu setiap orang yang pernah hidup di bumi dibangkitkan kembali dari alam kubur, untuk mempertanggungjawabkan amalnya selama hidup di dunia [QS Al Zalzalah (99): 6].
Al Qur'an menceriterakan lebih lanjut bahwa segera setelah dibangunkan dari kematian, setiap orang segera dibawa malaikat menuju padang sangat luas yang disebut Mahsyar, Di tempat itu semua orang berdiri dalam banjar-banjar yang rapih di hadapan Allah SWT, yang bertindak sebagai Maliki yaum al-Din – Penguasa hari pembalasan [QS Al Faatihah (1): 4].
Dia-lah Hakim Agung yang tunggal, yang memeriksa dan mengadili semua orang dengan keadilan yang sempurna. Mula-mula petugas menyodorkan buku catatan amal, yang ditulis rapih dan cermat oleh Raqib dan ‘Atid, dua malaikat yang selalu mengikutinya di dunia [QS Al Israa' (17): 13-14].
Maka orang-orang yang isi bukunya baik akan tersenyum riang penuh rasa syukur. Sedangkan mereka yang bukunya penuh dengan catatan buruk akan ternganga heran, bagaimana bisa keburukan-keburukan kecil dan remeh tertulis semua tanpa ada yang tertinggal [QS Al Kahfi (18): 49].
Sesudah itu Allah SWT memerintahkan setiap orang mempertanggungjawabkan peri lakunya. Di antara mereka ada yang menyanggah catatan malaikat itu; maka diajukanlah saksi-saksi yang tak terbantahkan yaitu anggota tubuh orang itu sendiri; masing-masing mengatakan apa yang diperbuatnya atas perintah ruh [QS An Nuur (24): 24]. Di antara mereka ada yang menyalahkan orang-orang lain yang membujuk dan mengajak dia melakukan keburukan; tetapi akhirnya mereka masing-masing sadar bahwa tidak ada yang memaksa atau mengancam.
Mereka berbuat salah karena hawa nafsunya menerima baik bujukan setan-setan. Di antara mereka ada yang menangis mengiba-iba, memohon diberi kesempatan sekali lagi untuk kembali ke alam dunia. Mereka berjanji akan menggunakan seluruh waktu, jiwa serta raganya untuk hanya mengabdi Allah. Tetapi dikatakan kepadanya bahwa kesempatan untuk beramal saleh sudah cukup diberikan kepadanya, dan tidak akan diperpanjang lagi.
Sesudah prosedur pemeriksaan amal selesai, amal baik dan amal buruk dipisahkan dan ditimbang. Maka barangsiapa yang timbangan amal kebaikannya lebih berat dari bobot keburukannya, dia akan berada di tempat yang sangat memuaskan yaitu surga [QS 101: 6-7]. Sebaliknya, barangsiapa yang bobot kebaikannya lebih ringan dari keburukannya, dia akan dimasukkan ke dalam neraka, dibakar dengan api yang sangat panas [QS Al Qaari'ah (101): 8-11].
Surga adalah istana akhirat yang memberikan kenikmatan maksimal. Di dalamnya ada taman yang mencakup empat macam sungai, yaitu sungai berisi air jernih yang tidak berubah rasa maupun baunya, sungai susu yang rasanya tetap lezat sepanjang masa, sungai berisi anggur yang sangat lezat cita rasanya, dan sungai madu yang bening jernih. [QS Muhammad (47): 15].
Para penghuni surga bebas memilih buah-buahan manapun yang memenuhi seleranya, dan daging burung jenis apapun yang mereka sukai [QS Al Waaqi'ah (56): 20-21]. Mereka dilayani para pramusaji yang muda, cekatan, sopan dan indah dipandang [QS Al Insaan (76): 19-21 dan [QS Ash Shaffaat (37): 48-49] Di dalam surga tidak terdengar perkataan kosong, apa lagi yang menyebabkan dosa [QS Al Waaqi'ah (56): 25-26].
Rasulullah SAW kemudian menyimpulkan bahwa surga adalah sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati siapapun [HR Bukhari]. Kenikmatan surga bersifat abadi; sekali orang masuk ke dalamnya, tidak akan dia dikeluarkan kembali dari tempat penuh kebahagiaan itu. [QS Al Baqarah (2): 82].
Adapun neraka adalah tempat tinggal di akhirat yang keadaannya berlawanan dengan surga, yaitu serba buruk dan serba menyengsarakan. Al Qur'an melukiskan neraka sebagai tempat yang dipanaskan oleh api yang berkobar-kobar, yang bahan bakarnya manusia dan jin [QS At Tahriim (66): 6]. Para penghuni neraka dipanggang di antara api yang berkobar dari bawah dan api lain yang menyembur dari atas [QS Az Zumar (39): 16].
Orang yang dibakar api tentu hangus kulitnya. Tetapi setiap kali kulitnya hangus, Allah menggantinya dengan kulit yang baru, sehingga pedih perihnya sengatan api terus menerus terasa menyakitkan. [QS An Nisaa' (4): 56]. Rasul menerangkan bahwa siksaan yang paling ringan di neraka adalah yang dipakaikan ke tangan dan kakinya, belenggu dari api neraka. Karena panas yang berasal dari belenggu itu mendidihlah otaknya seperti mendidihnya air di kuali. [HR Bukhari dan Muslim].
Berbeda dengan orang-orang di surga yang semuanya penghuni tetap, di neraka ada penghuni tetap dan penghuni sementara. Penghuni tetap adalah orang-orang yang sepanjang hidupnya di dunia tidak beriman, sehingga tidak ada kebaikan yang tercatat. Meskipun mereka dahulu juga berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, tetapi tidak diniatkan 'karena Allah', maka amal tersebut menjadi seperti fatamorgana yang semu belaka. [QS An Nuur (24): 39]. Sedangkan penghuni sementara adalah orang-orang yang beriman tetapi keimanannya lemah sehingga setan sering kali berhasil menggelincirkan mereka kepada keburukan. Rasulullah SAW menyatakan bahwa selagi ada iman di dalam dada, akhirnya orang akan masuk surga.
Mestinya tidak ada orang yang senang menjadi penghuni neraka – walaupun sementara – dan tidak ada yang mau kehilangan surga. Maka informasi tentang hari Kiamat dan kehidupan akhirat ini disampaikan, untuk mendorong manusia melakukan dua hal sekalligus, Pertama: berbuat amal kebaikan sebanyak-banyaknya. Kedua: sesegera mungkin dan sesering mungkin bertobat kepada Allah, mohon ampunan atas dosa-dosanya. Ia yakin bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dia pasti berkenan menghapuskan dosa-dosa manusia, betapa besar dan banyaknya dosa-dosa itu. Pada saat yang sama orang beriman juga sangat menjaga diri agar tidak melakukan dosa-dosa baru yang akan menjadikan mereka sengsara, dalam waktu yang luar biasa panjangnya itu. [Sakib Machmud]
Dari berbagai keterangan yang dinyatakan dalam Al Qur'an, kita dapat menyimpulkan bahwa manusia menjalani dua bentuk kehidupan yaitu kehidupan dunia dan akhirat. Kehidupan dunia memberi kesempatan seluas-luasnya kepada manusia untuk berusaha meraih segala yang terbaik bagi dirinya, sekaligus memperoleh sebagian hasil dari usahanya itu. Orang yang berpikir kreatif dan bekerja keras, umumnya akan mendapatkan rizki yang memadai, dan jika ia orang yang taat kepada ajaran agama, ia akan bersikap ramah dan ringan hati membantu orang lain [QS Al Qashash (28): 77], dan karenanya akan memperoleh penghormatan yang tulus dari masyarakat sekelilingnya.
Dalam kehidupan akhirat, orang tidak lagi mempunyai peluang untuk berbuat sesuatu yang memberi akibat kepadanya. Orang hanya memetik hasil dari usahanya selama masa kehidupan di dunianya relatif sangat singkat, dibandingkan dengan masa kehidupan di akhirat yang abadi tanpa ujung. Maka hendaknya orang menata hidup dengan sebaik-baiknya di dunia, karena sikap dan perbuatannya pada waktu yang pendek itu menentukan apa yang akan dialaminya selama-lamanya di akhirat.
Allah yang Maha Penyayang menghendaki manusia menikmati kebahagiaan yang sebesar mungkin selama waktu yang sangat panjang itu. Maka Dia berulang kali mengingatkan dan memperingatkan manusia akan peristiwa yang amat penting yaitu hari yang di dalam Al Qur'an Allah menyebutnya dengan berbagai istilah, antara lain Yaum al Qiyamah (Hari Kiamat) – QS (Az Zumar (39): 60, Al Sa’ah (Waktu yang pasti tiba) – QS Al Qamar (54): 1, Yaum al Ba’ts (Hari kebangkitan) – QS Ar Ruum (30): 56, Yaum al Din (Hari pembalasan) – QS Al Faatihah (1): 4, Yaum al Hisab (Hari perhitungan) QS Ghafir (40): 27 Al Ghaasiyah (Keadaan yang menyelubungi) – QS Al Ghaasiyah (88): 1, Al-Waqi’ah (Peristiwa dahsyat – QS (56): 1, dan lainnya.
Kiamat pasti terjadi, tetapi kapan datangnya, hanya Allah yang mengetahuinya. Dia merahasiakan informasi mengenai hal itu kepada siapapun, termasuk Rasul, Malaikat Jibril, bahkan Malaikat ‘Israfil yang bertugas memberi tanda dimulainya hari agung tersebut. [QS Al A’raaf (7): 187] menyatakan: " Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat; Bilakah terjadinya? Katakanlah; Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia".
Ketika didesak umat supaya menerangkan tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Kiamat segera tiba, Rasul dengan petunjuk Allah menyampaikan beberapa keterangan yang intinya menyatakan tiga hal: Bahwa Kiamat pasti terjadi, bahwa Kiamat sudah dekat, dan bahwa Kiamat akan datang dengan mendadak.
Apa yang terjadi bila saat Kiamat sudah tiba? Al Qur'an menerangkan, mula-mula Malaikat ‘Israfil atas perintah Allah meniup sangkakala khas, maka pada waktu itu semesta alam sontak berubah. Interaksi unsur-unsur alam yang harmonis, gerakan benda-benda langit yang serba teratur, kedudukan bagian-bagian bumi yang kokoh mantap, berganti dengan suasana serba tak menentu.
Secara metaforik digambarkan bahwa langit terbelah [QS Al Infithaar (82): 1], matahari digulung [QS At Takwiir (81): 1], bintang-bintang berjatuhan [QS An Taqwiir(81): 2], bumi bergucang dahsyat [QS Az Zalzalah (99): 1], dan karena guncangan itu segala isi bumi keluar [QS Az Zalzalah (99): 2], manusia seperti anai-anai yang bertebaran [QS Al Qaari'ah (101): 4], gunung-gunung bagaikan bulu-bulu yang dihambur-hamburkan [QS Al Qaari'ah (101): 5], lautan meluap menelan pulau-pulau [QS Al Infithaar (82): 3). Seluruh alam hancur bagaikan debu, maka Allah mencipta alam yang baru dengan langit dan bumi yang baru; itulah alam akhirat [QS Ibrahim(14): 48]. Maka Israfil meniup lagi sangkakala; pada saat itu setiap orang yang pernah hidup di bumi dibangkitkan kembali dari alam kubur, untuk mempertanggungjawabkan amalnya selama hidup di dunia [QS Al Zalzalah (99): 6].
Al Qur'an menceriterakan lebih lanjut bahwa segera setelah dibangunkan dari kematian, setiap orang segera dibawa malaikat menuju padang sangat luas yang disebut Mahsyar, Di tempat itu semua orang berdiri dalam banjar-banjar yang rapih di hadapan Allah SWT, yang bertindak sebagai Maliki yaum al-Din – Penguasa hari pembalasan [QS Al Faatihah (1): 4].
Dia-lah Hakim Agung yang tunggal, yang memeriksa dan mengadili semua orang dengan keadilan yang sempurna. Mula-mula petugas menyodorkan buku catatan amal, yang ditulis rapih dan cermat oleh Raqib dan ‘Atid, dua malaikat yang selalu mengikutinya di dunia [QS Al Israa' (17): 13-14].
Maka orang-orang yang isi bukunya baik akan tersenyum riang penuh rasa syukur. Sedangkan mereka yang bukunya penuh dengan catatan buruk akan ternganga heran, bagaimana bisa keburukan-keburukan kecil dan remeh tertulis semua tanpa ada yang tertinggal [QS Al Kahfi (18): 49].
Sesudah itu Allah SWT memerintahkan setiap orang mempertanggungjawabkan peri lakunya. Di antara mereka ada yang menyanggah catatan malaikat itu; maka diajukanlah saksi-saksi yang tak terbantahkan yaitu anggota tubuh orang itu sendiri; masing-masing mengatakan apa yang diperbuatnya atas perintah ruh [QS An Nuur (24): 24]. Di antara mereka ada yang menyalahkan orang-orang lain yang membujuk dan mengajak dia melakukan keburukan; tetapi akhirnya mereka masing-masing sadar bahwa tidak ada yang memaksa atau mengancam.
Mereka berbuat salah karena hawa nafsunya menerima baik bujukan setan-setan. Di antara mereka ada yang menangis mengiba-iba, memohon diberi kesempatan sekali lagi untuk kembali ke alam dunia. Mereka berjanji akan menggunakan seluruh waktu, jiwa serta raganya untuk hanya mengabdi Allah. Tetapi dikatakan kepadanya bahwa kesempatan untuk beramal saleh sudah cukup diberikan kepadanya, dan tidak akan diperpanjang lagi.
Sesudah prosedur pemeriksaan amal selesai, amal baik dan amal buruk dipisahkan dan ditimbang. Maka barangsiapa yang timbangan amal kebaikannya lebih berat dari bobot keburukannya, dia akan berada di tempat yang sangat memuaskan yaitu surga [QS 101: 6-7]. Sebaliknya, barangsiapa yang bobot kebaikannya lebih ringan dari keburukannya, dia akan dimasukkan ke dalam neraka, dibakar dengan api yang sangat panas [QS Al Qaari'ah (101): 8-11].
Surga adalah istana akhirat yang memberikan kenikmatan maksimal. Di dalamnya ada taman yang mencakup empat macam sungai, yaitu sungai berisi air jernih yang tidak berubah rasa maupun baunya, sungai susu yang rasanya tetap lezat sepanjang masa, sungai berisi anggur yang sangat lezat cita rasanya, dan sungai madu yang bening jernih. [QS Muhammad (47): 15].
Para penghuni surga bebas memilih buah-buahan manapun yang memenuhi seleranya, dan daging burung jenis apapun yang mereka sukai [QS Al Waaqi'ah (56): 20-21]. Mereka dilayani para pramusaji yang muda, cekatan, sopan dan indah dipandang [QS Al Insaan (76): 19-21 dan [QS Ash Shaffaat (37): 48-49] Di dalam surga tidak terdengar perkataan kosong, apa lagi yang menyebabkan dosa [QS Al Waaqi'ah (56): 25-26].
Rasulullah SAW kemudian menyimpulkan bahwa surga adalah sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati siapapun [HR Bukhari]. Kenikmatan surga bersifat abadi; sekali orang masuk ke dalamnya, tidak akan dia dikeluarkan kembali dari tempat penuh kebahagiaan itu. [QS Al Baqarah (2): 82].
Adapun neraka adalah tempat tinggal di akhirat yang keadaannya berlawanan dengan surga, yaitu serba buruk dan serba menyengsarakan. Al Qur'an melukiskan neraka sebagai tempat yang dipanaskan oleh api yang berkobar-kobar, yang bahan bakarnya manusia dan jin [QS At Tahriim (66): 6]. Para penghuni neraka dipanggang di antara api yang berkobar dari bawah dan api lain yang menyembur dari atas [QS Az Zumar (39): 16].
Orang yang dibakar api tentu hangus kulitnya. Tetapi setiap kali kulitnya hangus, Allah menggantinya dengan kulit yang baru, sehingga pedih perihnya sengatan api terus menerus terasa menyakitkan. [QS An Nisaa' (4): 56]. Rasul menerangkan bahwa siksaan yang paling ringan di neraka adalah yang dipakaikan ke tangan dan kakinya, belenggu dari api neraka. Karena panas yang berasal dari belenggu itu mendidihlah otaknya seperti mendidihnya air di kuali. [HR Bukhari dan Muslim].
Berbeda dengan orang-orang di surga yang semuanya penghuni tetap, di neraka ada penghuni tetap dan penghuni sementara. Penghuni tetap adalah orang-orang yang sepanjang hidupnya di dunia tidak beriman, sehingga tidak ada kebaikan yang tercatat. Meskipun mereka dahulu juga berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, tetapi tidak diniatkan 'karena Allah', maka amal tersebut menjadi seperti fatamorgana yang semu belaka. [QS An Nuur (24): 39]. Sedangkan penghuni sementara adalah orang-orang yang beriman tetapi keimanannya lemah sehingga setan sering kali berhasil menggelincirkan mereka kepada keburukan. Rasulullah SAW menyatakan bahwa selagi ada iman di dalam dada, akhirnya orang akan masuk surga.
Mestinya tidak ada orang yang senang menjadi penghuni neraka – walaupun sementara – dan tidak ada yang mau kehilangan surga. Maka informasi tentang hari Kiamat dan kehidupan akhirat ini disampaikan, untuk mendorong manusia melakukan dua hal sekalligus, Pertama: berbuat amal kebaikan sebanyak-banyaknya. Kedua: sesegera mungkin dan sesering mungkin bertobat kepada Allah, mohon ampunan atas dosa-dosanya. Ia yakin bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dia pasti berkenan menghapuskan dosa-dosa manusia, betapa besar dan banyaknya dosa-dosa itu. Pada saat yang sama orang beriman juga sangat menjaga diri agar tidak melakukan dosa-dosa baru yang akan menjadikan mereka sengsara, dalam waktu yang luar biasa panjangnya itu. [Sakib Machmud]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar