Al Qur'an menerangkan, Allah bukan deus otiusus – Tuhan yang mencipta kemudian tidak peduli lagi terhadap ciptaannya. Dia bertindak sebagai Rabb al-‘alamin, yang memelihara, menjaga, melindungi, dan mengembangkan alam semesta dengan sempurna. [QS Al Faatihah (1): 2]. Allah mengerjakan semua itu secara terus menerus, tidak pernah istirahat, tidak merasa berat, tidak pernah lelah, tidak mengantuk apa lagi tidur. [QS Al Baqarah (2): 255].
Pengaturan Allah yang tuntas atas alam beserta seluruh bagian dan unsur-unsurnya merupakan realisasi dari penetapan Dia atas diri-Nya sendiri sebagai Pemberi Rahmah. [QS Al An'aam (6): 12]. Maka ketika Allah mencipta sesuatu, Dia tetapkan pula bentuk, sifat, dan apa yang terjadi bila ciptaan-Nya itu berinteraksi dengan ciptaan lainnya. [QS Al Furqaan (25): 2]. Ayat surah Al Furqaan ini menyebut aturan-aturan Allah atas semesta alam sebagai Taqdir, sedangkan ayat 23 surah 48 Al Fath menamainya Sunnatullah.
Allah mencipta matahari sebagai salah satu dari bermiliar-miliar bintang di angkasa raya. Meskipun ukuran maupun potensi matahari relatif kecil dibandingkan dengan bintang-bintang lainnya sehingga para ahli Astronomi menyebutnya bintang kerdil, toh diameter matahari tidak kurang dari 1,4 juta kilometer. Inti matahari luar biasa panasnya, kira-kira 15 juta derajat Kelvin. Energi yang dipancarkan matahari setiap detiknya mencapai 289 juta trilyun watt.
Allah mencipta bumi dan menjadikannya salah satu dari delapan planet matahari. Bumi ditempatkan sebagai planet ketiga dilihat dari urutan dekatnya dari matahari, diletakkan pada jarak 149 juta kilometer dari sumber energi tersebut. Maka suhu bumi menjadi moderat dalam arti tidak terlalu panas dan juga tidak terlampau dingin. Apa lagi Allah memutar bumi pada porosnya dengan kecepatan 1650 kilometer setiap jam; maka hampir seluruh bagian bumi mengalami pergantian siang dan malam, dihangatkan di waktu siang dan didinginkan pada saat malam. Pada waktu yang sama bumi juga diperjalankan Allah mengitari matahari dengan kecepatan yang fantastis: lebih dari 107 ribu kilometer sejam.
Allah menetapkan bumi memiliki gaya gravitasi sehingga setiap benda yang berada di sekitarnya akan ditarik dengan kekuatan tertentu, dan yang menempel padanya, tidak mudah goyah. Taqdir-taqdir Allah mengenai kondisi bumi ini sangat bersesuaian dengan takdir Allah yang lain yaitu menjadikan planet ini sebagai tempat kehidupan bagi berbagai jenis flora, fauna dan manusia.
Allah mengadakan di bumi, tanah dan menebarkan padanya berbagai unsur hara yang diperlukan oleh makhluk-makhluk hidup. Allah mencipta batu dan menetapkan titik leburnya. Allah mencipta air dan menentukan sifat-sifatnya, antara lain bahwa benda cair itu akan menguap pada suhu 100 derajat Celcius tekanan 1 atmosphere, dan membeku pada suhu 0 derajat Celcius di bawah tekanan yang sama.
Allah mencipta udara dan menggariskan ketetapan-Nya bahwa benda itu mengisi setiap ruang yang kosong; maka dari waktu ke waktu terjadilah angin, yang bergerak dari tempat yang lebih rapat udara ke tempat yang kurang rapat. Allah menjadikan oksigen sebagai suatu bagian penting dari udara. Oksigen merupakan kebutuhan pokok segala makhluk hidup yang tinggal di bumi, maka Allah menjadikan “pabrik” oksigen di mana-mana, berupa chlorophyl yang berada di bagian-bagian pohon berwarna hijau, bekerja sama dengan sinar matahari.
Allah mencipta api dan menjadikan benda itu membakar atau memanasi segala sesuatu yang dikenainya. Api menghancurkan banyak benda tetapi juga menjadikan bahan-bahan makanan steril dan hangat. Semua yang kita bicarakan tadi merupakan sebagian kecil dari taqdir-taqdir Allah, yang menjadikan unsur-unsur alam semesta ini berinteraksi secara harmonis, saling mendukung dan saling memberi manfaat.
Allah mencipta manusia sebagai salah satu jenis makhluk-Nya yang hidup di alam. Maka taqdir Allah untuk alam berlaku pula bagi makhluk ini. Manusia tunduk pada hukum gravitasi bumi, air yang berada di tubuhnya menguap pada kondisi tertentu, daging dan kulitnya dapat terbakar oleh api, dan sebagainya. Akan tetapi Allah menetapkan manusia sebagai ahsanu taqwim [QS At Tiin (95): 4], dan Allah mengaruniai makhluk ini akal, yang mampu memahami banyak hal.
Maka dengan kekhususannya itu manusia diberi kebebasan untuk berkehendak dan berusaha dengan sadar untuk mewujudkan kehendaknya itu. Dengan akalnya manusia dapat memahami berbagai kejadian dan proses yang ditangkap oleh inderanya. Maka manusia bukan hanya tahu bahwa daun berwarna hijau, tetapi juga mengapa berwarna hijau, bahkan kemudian merekaciptanya supaya memberi manfaat yang lebih banyak.
Manusia bukan hanya tahu adanya air tetapi juga memahami sifat-sifat air, kemudian mengelola air itu untuk mengusahakan pertanian yang lebih efektif, untuk proses pendinginan mesin, dan sebagainya. Dengan akalnya manusia dapat mengumpulkan energi, mengubah bentuk-bentuk energi, dan memanfaatkan energi itu untuk berbagai keperluan hidupnya. Dengan mengerahkan akal manusia mengembangkan budayanya.
Dalam rangka mengembangkan budaya itu manusia mengumpulkan berbagai macam pengetahuan yang didapat dari waktu ke waktu, kemudian menatanya dengan sistematika tertentu menjadi ilmu. Dari masa ke masa pengetahuan manusia selalu bertambah, maka ilmunyapun berkembang semakin luas dan semakin dalam. Manusia kemudian memanfaatkan ilmunya itu untuk meningkatkan kenyamanan hidup; pemanfaatan ilmu yang demikian itu disebut teknologi. Penguasaan ilmu dan teknologi memberi manusia tiga hikmah yang sangat penting.
Pertana: memuaskan curiosity – keinginan tahu, yang merupakan naluri manusia. Kepuasan yang didapat ketika memahami kebenaran, akan mendorong curiosity yang baru, demikian seterusnya. Maka ilmu dan teknologi yang dikuasai manusia semakin tinggi dan semakin dalam.
Kedua: teknologi yang semakin maju akan semakin meningkatkan taraf hidup manusia, Teknologi informasi menjadikan orang mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia lain dengan cepat dan lengkap. Teknologi komputasi menyebabkan orang mudah memproses setiap pengetahuannya menjadi lebih berdaya guna.
Ketiga: dengan memahami kebaikan dan harmoni alam beserta unsur-unsurnya, manusia semakin menghayati eksistensi Allah Swt. Maka iman semakin kukuh dan hati semakin tenang,
Upaya manusia yang bersungguh-sungguh menghasilkan teknologi yang semakin canggih. Tetapi bagaimanapun, manusia tidak dapat meniadakan atau melemahkan takdir-takdir Allah. Maka sadar mengenai hal itu manusia justru memanfaatkan berbagai takdir yang ada di sekitarnya, untuk memperoleh hasil yang seakan-akan berlawanan dengan takdir itu.
Manusia tidak dapat meniadakan gaya friksi pada permukaan tanah, yang menahan setiap benda ketika digerakkan dari suatu tempat ke tempat yang lain. Maka dia memanfaatkan friksi itu dengan membuat roda berbentuk bulat dan di atasnya diletakkan kendaraan untuk mengangkut orang dan barang-barang. Roda tidak dapat berputar menggerakkan kendaraan bila berada di permukaan yang licin, tetapi menjadi berguna karena adanya friksi.
Manusia tidak dapat menghilangkan gaya gravitasi, maka dia tidak dapat terbang. Tetapi kemudian dia membuat baling-baling, atau roket, atau jet, yang mengangkat pesawat terbang dengan memanfaatkan gaya gravitasi bumi itu. Manusia membuat perahu dengan memanfaatkan takdir Allah untuk air, yang menekan ke atas setiap benda yang dimasukkan ke dalamnya dengan tekanan seberat air yang dipindahkan.
Manusia memanfaatkan bibit penyakit yang biasa menyerang dirinya dengan membuat vaksin dari bibit penyakit itu sendiri yang dilemahkan. Vaksin dijadikan sparring partner untuk melatih ketahanan tubuh manusia terhadap penyakit tersebut.
Banyak sekali yang dapat dan telah diperbuat manusia dengan menggunakan akalnya. Tetapi bagaimanapun, kemampuan rekacipta manusia itu tetap terbatas dan rentan terhadap kesalahan. Peluncuran satelit yang telah diperhitungkan dengan matang, pada suatu ketika toh gagal juga karena roket pembawanya meledak.
Seorang profesor bidang Farmasi yang sedang melakukan penelitian laboratorium untuk menemukan obat bagi suatu jenis penyakit, meninggal karena terserang penyakit yang ditelitinya, padahal dia telah melakukan upaya perlindungan diri yang sangat cermat. Kenyataan menunjukkan bahwa ikhtiar manusia tidak selalu berhasil, karena orang tidak senantiasa berhasil memahami taqdir-taqdir Allah; maka takdir itu menghalangi pewujudan keinginannya.
Ikhtiar manusia dapat kita pandang sebagai salah satu vektor – kekuatan yang memiliki besaran dan arah – di antara berbagai vektor lain. Apa yang terjadi merupakan resultante dari semua vektor tersebut. Ketika seseorang melakukan ikhtiar, dia harus memperhitungkan semua vektor yang ada. Tetapi selain yang dia ketahui dan dapat dia kuasai, selalu ada vektor-vektor lain yang meskipun dia ketahui tetapi tidak dia kuasai, bahkan ada pula yang tidak dia ketahui apa lagi dia kuasai. Yang mengetahui dan menguasai segala sesuatu hanyalah Allah, maka sikap yang benar dari orang yang berikhtiar adalah tawakkal, berserah diri kepada Allah.
Lebih dari itu, karena Allah sudah menyatakan berkenan untuk mengabulkan permohonan siapa saja yang berdoa kepada-Nya dengan tulus dan dengan cara yang patut [QS Al Mu'min (40): 60]. Orang juga mesti mengiringi ikhtiarnya itu dengan berdo’a kepada Allah. Ikhtiar, tawakkal dan do’a merupakan tiga aktivitas yang harus dilakukan sekaligus. Dengan itu dia membuka peluang yang lebih lebar untuk mencapai sukses tetapi hatinya tenteram dan semakin dekat kepada Allah sehingga terhindar dari penyakit-penyakit hati seperti sombong ketika sukses dan putus asa tatkala gagal. [Sakib Machmud].
Pengaturan Allah yang tuntas atas alam beserta seluruh bagian dan unsur-unsurnya merupakan realisasi dari penetapan Dia atas diri-Nya sendiri sebagai Pemberi Rahmah. [QS Al An'aam (6): 12]. Maka ketika Allah mencipta sesuatu, Dia tetapkan pula bentuk, sifat, dan apa yang terjadi bila ciptaan-Nya itu berinteraksi dengan ciptaan lainnya. [QS Al Furqaan (25): 2]. Ayat surah Al Furqaan ini menyebut aturan-aturan Allah atas semesta alam sebagai Taqdir, sedangkan ayat 23 surah 48 Al Fath menamainya Sunnatullah.
Allah mencipta matahari sebagai salah satu dari bermiliar-miliar bintang di angkasa raya. Meskipun ukuran maupun potensi matahari relatif kecil dibandingkan dengan bintang-bintang lainnya sehingga para ahli Astronomi menyebutnya bintang kerdil, toh diameter matahari tidak kurang dari 1,4 juta kilometer. Inti matahari luar biasa panasnya, kira-kira 15 juta derajat Kelvin. Energi yang dipancarkan matahari setiap detiknya mencapai 289 juta trilyun watt.
Allah mencipta bumi dan menjadikannya salah satu dari delapan planet matahari. Bumi ditempatkan sebagai planet ketiga dilihat dari urutan dekatnya dari matahari, diletakkan pada jarak 149 juta kilometer dari sumber energi tersebut. Maka suhu bumi menjadi moderat dalam arti tidak terlalu panas dan juga tidak terlampau dingin. Apa lagi Allah memutar bumi pada porosnya dengan kecepatan 1650 kilometer setiap jam; maka hampir seluruh bagian bumi mengalami pergantian siang dan malam, dihangatkan di waktu siang dan didinginkan pada saat malam. Pada waktu yang sama bumi juga diperjalankan Allah mengitari matahari dengan kecepatan yang fantastis: lebih dari 107 ribu kilometer sejam.
Allah menetapkan bumi memiliki gaya gravitasi sehingga setiap benda yang berada di sekitarnya akan ditarik dengan kekuatan tertentu, dan yang menempel padanya, tidak mudah goyah. Taqdir-taqdir Allah mengenai kondisi bumi ini sangat bersesuaian dengan takdir Allah yang lain yaitu menjadikan planet ini sebagai tempat kehidupan bagi berbagai jenis flora, fauna dan manusia.
Allah mengadakan di bumi, tanah dan menebarkan padanya berbagai unsur hara yang diperlukan oleh makhluk-makhluk hidup. Allah mencipta batu dan menetapkan titik leburnya. Allah mencipta air dan menentukan sifat-sifatnya, antara lain bahwa benda cair itu akan menguap pada suhu 100 derajat Celcius tekanan 1 atmosphere, dan membeku pada suhu 0 derajat Celcius di bawah tekanan yang sama.
Allah mencipta udara dan menggariskan ketetapan-Nya bahwa benda itu mengisi setiap ruang yang kosong; maka dari waktu ke waktu terjadilah angin, yang bergerak dari tempat yang lebih rapat udara ke tempat yang kurang rapat. Allah menjadikan oksigen sebagai suatu bagian penting dari udara. Oksigen merupakan kebutuhan pokok segala makhluk hidup yang tinggal di bumi, maka Allah menjadikan “pabrik” oksigen di mana-mana, berupa chlorophyl yang berada di bagian-bagian pohon berwarna hijau, bekerja sama dengan sinar matahari.
Allah mencipta api dan menjadikan benda itu membakar atau memanasi segala sesuatu yang dikenainya. Api menghancurkan banyak benda tetapi juga menjadikan bahan-bahan makanan steril dan hangat. Semua yang kita bicarakan tadi merupakan sebagian kecil dari taqdir-taqdir Allah, yang menjadikan unsur-unsur alam semesta ini berinteraksi secara harmonis, saling mendukung dan saling memberi manfaat.
Allah mencipta manusia sebagai salah satu jenis makhluk-Nya yang hidup di alam. Maka taqdir Allah untuk alam berlaku pula bagi makhluk ini. Manusia tunduk pada hukum gravitasi bumi, air yang berada di tubuhnya menguap pada kondisi tertentu, daging dan kulitnya dapat terbakar oleh api, dan sebagainya. Akan tetapi Allah menetapkan manusia sebagai ahsanu taqwim [QS At Tiin (95): 4], dan Allah mengaruniai makhluk ini akal, yang mampu memahami banyak hal.
Maka dengan kekhususannya itu manusia diberi kebebasan untuk berkehendak dan berusaha dengan sadar untuk mewujudkan kehendaknya itu. Dengan akalnya manusia dapat memahami berbagai kejadian dan proses yang ditangkap oleh inderanya. Maka manusia bukan hanya tahu bahwa daun berwarna hijau, tetapi juga mengapa berwarna hijau, bahkan kemudian merekaciptanya supaya memberi manfaat yang lebih banyak.
Manusia bukan hanya tahu adanya air tetapi juga memahami sifat-sifat air, kemudian mengelola air itu untuk mengusahakan pertanian yang lebih efektif, untuk proses pendinginan mesin, dan sebagainya. Dengan akalnya manusia dapat mengumpulkan energi, mengubah bentuk-bentuk energi, dan memanfaatkan energi itu untuk berbagai keperluan hidupnya. Dengan mengerahkan akal manusia mengembangkan budayanya.
Dalam rangka mengembangkan budaya itu manusia mengumpulkan berbagai macam pengetahuan yang didapat dari waktu ke waktu, kemudian menatanya dengan sistematika tertentu menjadi ilmu. Dari masa ke masa pengetahuan manusia selalu bertambah, maka ilmunyapun berkembang semakin luas dan semakin dalam. Manusia kemudian memanfaatkan ilmunya itu untuk meningkatkan kenyamanan hidup; pemanfaatan ilmu yang demikian itu disebut teknologi. Penguasaan ilmu dan teknologi memberi manusia tiga hikmah yang sangat penting.
Pertana: memuaskan curiosity – keinginan tahu, yang merupakan naluri manusia. Kepuasan yang didapat ketika memahami kebenaran, akan mendorong curiosity yang baru, demikian seterusnya. Maka ilmu dan teknologi yang dikuasai manusia semakin tinggi dan semakin dalam.
Kedua: teknologi yang semakin maju akan semakin meningkatkan taraf hidup manusia, Teknologi informasi menjadikan orang mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia lain dengan cepat dan lengkap. Teknologi komputasi menyebabkan orang mudah memproses setiap pengetahuannya menjadi lebih berdaya guna.
Ketiga: dengan memahami kebaikan dan harmoni alam beserta unsur-unsurnya, manusia semakin menghayati eksistensi Allah Swt. Maka iman semakin kukuh dan hati semakin tenang,
Upaya manusia yang bersungguh-sungguh menghasilkan teknologi yang semakin canggih. Tetapi bagaimanapun, manusia tidak dapat meniadakan atau melemahkan takdir-takdir Allah. Maka sadar mengenai hal itu manusia justru memanfaatkan berbagai takdir yang ada di sekitarnya, untuk memperoleh hasil yang seakan-akan berlawanan dengan takdir itu.
Manusia tidak dapat meniadakan gaya friksi pada permukaan tanah, yang menahan setiap benda ketika digerakkan dari suatu tempat ke tempat yang lain. Maka dia memanfaatkan friksi itu dengan membuat roda berbentuk bulat dan di atasnya diletakkan kendaraan untuk mengangkut orang dan barang-barang. Roda tidak dapat berputar menggerakkan kendaraan bila berada di permukaan yang licin, tetapi menjadi berguna karena adanya friksi.
Manusia tidak dapat menghilangkan gaya gravitasi, maka dia tidak dapat terbang. Tetapi kemudian dia membuat baling-baling, atau roket, atau jet, yang mengangkat pesawat terbang dengan memanfaatkan gaya gravitasi bumi itu. Manusia membuat perahu dengan memanfaatkan takdir Allah untuk air, yang menekan ke atas setiap benda yang dimasukkan ke dalamnya dengan tekanan seberat air yang dipindahkan.
Manusia memanfaatkan bibit penyakit yang biasa menyerang dirinya dengan membuat vaksin dari bibit penyakit itu sendiri yang dilemahkan. Vaksin dijadikan sparring partner untuk melatih ketahanan tubuh manusia terhadap penyakit tersebut.
Banyak sekali yang dapat dan telah diperbuat manusia dengan menggunakan akalnya. Tetapi bagaimanapun, kemampuan rekacipta manusia itu tetap terbatas dan rentan terhadap kesalahan. Peluncuran satelit yang telah diperhitungkan dengan matang, pada suatu ketika toh gagal juga karena roket pembawanya meledak.
Seorang profesor bidang Farmasi yang sedang melakukan penelitian laboratorium untuk menemukan obat bagi suatu jenis penyakit, meninggal karena terserang penyakit yang ditelitinya, padahal dia telah melakukan upaya perlindungan diri yang sangat cermat. Kenyataan menunjukkan bahwa ikhtiar manusia tidak selalu berhasil, karena orang tidak senantiasa berhasil memahami taqdir-taqdir Allah; maka takdir itu menghalangi pewujudan keinginannya.
Ikhtiar manusia dapat kita pandang sebagai salah satu vektor – kekuatan yang memiliki besaran dan arah – di antara berbagai vektor lain. Apa yang terjadi merupakan resultante dari semua vektor tersebut. Ketika seseorang melakukan ikhtiar, dia harus memperhitungkan semua vektor yang ada. Tetapi selain yang dia ketahui dan dapat dia kuasai, selalu ada vektor-vektor lain yang meskipun dia ketahui tetapi tidak dia kuasai, bahkan ada pula yang tidak dia ketahui apa lagi dia kuasai. Yang mengetahui dan menguasai segala sesuatu hanyalah Allah, maka sikap yang benar dari orang yang berikhtiar adalah tawakkal, berserah diri kepada Allah.
Lebih dari itu, karena Allah sudah menyatakan berkenan untuk mengabulkan permohonan siapa saja yang berdoa kepada-Nya dengan tulus dan dengan cara yang patut [QS Al Mu'min (40): 60]. Orang juga mesti mengiringi ikhtiarnya itu dengan berdo’a kepada Allah. Ikhtiar, tawakkal dan do’a merupakan tiga aktivitas yang harus dilakukan sekaligus. Dengan itu dia membuka peluang yang lebih lebar untuk mencapai sukses tetapi hatinya tenteram dan semakin dekat kepada Allah sehingga terhindar dari penyakit-penyakit hati seperti sombong ketika sukses dan putus asa tatkala gagal. [Sakib Machmud].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar