Minggu, 02 Agustus 2009

43. AL QUR’AN, PETUNJUK ALLAH UNTUK MANUSIA

Allah SWT mencipta miliaran jenis makhluk, dan menetapkan ukuran dan sifat setiap makhluk-Nya dengan sempurna [QS Al Furqaan (25): 2]. Untuk matahari Dia tentukan bentuk dan volumenya, zat-zat yang menyusunnya, energi yang dipancarkannya setiap detik. Bagi planet-planet Dia tetapkan garis edarnya dan kecepatan masing-masing dalam mengelilingi matahari melalui lintasannya itu. Bagi bumi Dia tetapkan porsi zat padat, zat cair, dan gas di dalamnya, suhu dan gravitasinya. Bagi benda-benda yang ada di bumi Dia tetapkan titik leburnya, titiik didih dan titik bekunya. Bagi aneka jenis flora Dia tetapkan cara memasukkan zat-zat yang diperlukan untuk pertumbuhannya, dan cara pembiakannya, yang vegetatif dan yang generatif.

Demikian pulalah Allah menetapkan aturan-aturan yang tetap dan pasti bagi manusia. Tetapi manusia adalah makhluk yang khusus sebagai sebaik-baik ciptaan [QS At Tin (95): 4]. Manusia dicipta Allah sebagai mahluk berakal, sadar diri, berkehendak dan diberi kebebasan untuk mewujudkan kehendaknya itu. Manusia adalah makhluk budaya, yang mampu mengembangkan cara dan sarana hidupnya.

Allah Pencipta manusia Maha Tahu bahwa seandainya makhluk ini dibiarkan beraktivitas dengan mengandalkan naluri dan akalnya semata, dia berpotensi menghancurkan dirinya sendiri dan alam lingkungannya. Maka selaku yang Maha Bijaksana, Dia menurunkan ketetapan-ketetapan khusus yang serasi dengan penerimanya, yaitu yang ditawarkan untuk dipilih, dan disertai argumen untuk dianalisis dan dipertimbangkan.

Ketetapan tersebut dikemas dalam bentuk wahyu; maka Allah menunjuk orang-orang tertentu dari tiap-tiap masyarakat di tiap-tiap kurun waktu, untuk menjadi Nabi – penerima Naba (wahyu), kemudian menugasinya sebagai Rasul – utusan, untuk menyampaikan wahyu itu kepada masyarakat lingkungannya. [QS Yunus (10): 47] dan [QS An Nahl (16): 63]. Nabi dan Rasul terakhir yang diturunkan Allah adalah Muhammad SAW; beliau dibekali Al Qur’an, petunjuk bagi manusia, penjelasan atas petunjuk-petunjuk itu, dan pemisah antara yang benar dengan yang salah. [QS Al Baqarah (2): 185].

Al Qur’an bukan sekedar shuhuf – ketetapan untuk menyelesaikan masalah tertentu, tetapi sebuah Kitab – himpunan wahyu yang lengkap sebagai sebuah sistem. Al Qur’an menyatakan tentang dirinya sendiri sebagai acuan untuk menjelaskan segala sesuatu, menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri [QS An Nahl (16): 89].

Subsistem pokok yang terdapat di dalam Al Qur'an adalah Aqidah – dasar-dasar keyakinan, Syari’ah – ketetapan hukum, dan Akhlak – pedoman berperilaku. Semua itu dikemukakan langsung oleh Allah SWT, satu-satunya yang mempunyai pengetahuan sempurna tentang manusia, baik individunya maumpun masyarakatnya.

Karena itu hendaknya orang tidak ragu-ragu untuk melaksanakan semua ketetapan Allah di dalam Al Qur’an. [QS Al Baqarah (2): 147], jangan memilah kemudian memilih untuk hanya menunaikan ketetapan yang disenanginya; mengambil sebagian Al Qur’an dan mencampakkan sebagian yang lain. Yang berbuat demikian adalah orang-orang yang mengikuti perbuatan syeitan [QS Al Baqarah (2): 208].

Al Qur’an adalah wahana komunikasi Allah kepada manusia. Karena itu supaya in tune dengan penerimanya, Kitab ini bukan hanya menggunakan perkataan dan kalimat yang biasa digunakan manusia di dalam berbahasa, tetapi juga mengikuti kebiasaan-kebiasaan manusia ketika berkomunikasi. Di dalam menyampaikan informasi, biasanya Kitab Allah ini menggunakan pendekatan lugas sehingga cepat dan mudah dipahami. Marilah kita perhatikan ayat-ayat berikut: > [Q.S. Al Ikhlas (112): 1]: “Katakanlah: ‘Dialah Allah yang Maha Esa'” > [QS Al Jatsiyah (45): 16]: “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian; dan Kami berikan kepada mereka rezeki-rezeki yang baik, dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya)”.

Tetapi tidak jarang pula Allah memakai matsal – metaphora atau perumpamaan. Pendekatan ini digunakan terutama ketika membicarakan masalah yang abstrak atau rumit agar mudah dipahami, seperti dalam [QS An Nuur (24): 35]: “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Al Qur’an menyatakan bahwa keyakinan yang tidak berlandaskan tauhid adalah keyakinan yang rapuh, tetapi orang yang meyakininya tidak menyadari hal tersebut. Menggambarkan keadaan demikian itu tidak mudah, terutama terhadap orang awam. Maka Al Qur’an mengumpakannya seperti sarang laba-laba, yang segera hancur bila ditiup angin yang agak besar, atau tertimpa sesuatu yang agak berat. [QS Al ‘Ankabut (29): 41].

Al Qur’an menyatakan, membaca Kitab Allah tetapi tidak mengamalkannya, adalah perbuatan yang sia-sia, bahkan menjadi beban belaka. Hal itu digambarkan seperti seekor keledai yang memikul banyak kitab di punggungnya. [QS Al Jumu’ah (62): 5]. Penggunaan metafora mewujudkan komunikasi yang efektif, tetapi orang-orang bodoh tidak memahami tujuan itu; mereka bahkan mengolok-oloknya. [QS Al ‘Ankabut (29): 43].

Pendekatan lain yang digunakan Al Qur’an untuk memudahkan orang mengerti adalah dengan menceriteriterakan kisah-kisah masa lalu, terutama mengenai sikap dan perbuatan para Rasul. Pemaparan kisah-kisah tersebut bukan sekedar menerangkan sebuah kejadian. Kitab ini dengan jelas mengemukakan empat tujuan. [QS Huud (11):120].

>> Tujuan pertama: meneguhkan kepercayaan umat, bahwa Al Qur’an benar-benar wahyu Allah, karena meskipun penyampainya (Nabi Muhammad SAW) seorang yang tuna aksara dan tidak pernah bergaul dengan sejarawan, tetapi Kitab yang dibacakannya memaparkan dengan rinci riwayat Nabi Adam. Nuh, Ibrahim, Musa, Dawud, sampai dengan Maryam dan ‘Isa AS.

>> Tujuan yang kedua adalah meluruskan kekeliruan dan pemalsuan sejarah. Kenyataan menunjukkan bahwa telah terjadi penyimpangan sejarah, baik disengaja maupun tidak. Ketika Nabi Musa AS meninggalkan ummat beliau selama 40 malam untuk menerima Kitab Taurat, Bani Israil menyembah patung anak sapi. Orang-orang Yahudi pada masa Rasulullah SAW menduga bahwa yang menjadi provokatornya adalah Nabi Harun. Padahal penganjur perilaku syirik itu adalah Samiri, penduduk asli Mesir yang karena sesuatu hal turut serta dalam rombongan besar Bani Israil. [QS Thaahaa (20): 85-97]. Banyak orang memahami bahwa ‘Isa AS menyatakan dirinya sebagai Tuhan. Maka Al Qur’an mengutip pernyataan beliau: “Sesungguhnya Allah-lah Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang benar”. [QS Ali ‘Imran (3):51].

>> Tujuan ketiga dari pemaparan sejarah adalah menjadikan kisah-kisah yang diriwayatkannya sebagai pengajaran bagi para pembaca Al Qur’an. Sejarah manusia mempunyai pola yang berulang, karena itu generasi yang kemudian seharusnya mengikuti pola yang benar dan meninggalkan pola yang salah. Kaum Nabi Nuh AS adalah orang-orang yang cerdas, kreatif dan pekerja keras. Karena itu mereka mampu mengembangkan budayanya, jauh lebih tinggi dan maju dibanding bangsa-bangsa lain pada masanya. Tetapi mereka kemudian menjadi sombong dan menutup pintu hatinya dari suara kebenaran yang belum mereka kenal, yaitu yang disampaikan oleh Rasul Allah. Mereka bukan hanya menolak tetapi juga mengejek, mencerca dan menghalangi dakwah Nabi Nuh. Akhirnya bangsa yang pernah sangat berjaya itu punah ditelan banjir besar yang melanda seluruh negeri.

Mestinya generasi sesudah Nuh belajar dari sejarah sehingga tidak mengulang kesalahannya. Tetapi kaum ‘Ad, ummat Nabi Hud AS tidak berbuat demikian. Mereka justru melakukan kesalahan generasi pendahulunya itu; maka merekapun merasakan azab serupa. Demikian pula kaum Tsamud, ummat Nabi Shalih AS. Karena itu ummat Muhammad SAW harus berusaha keras untuk membina diri menjadi orang yang beriman, tawaddhu’ – rendah hati, dan qona’ah – merasa puas dengan segala karunia Allah.

>> Tujuan ke empat adalah menyampaikan peringatan kepada ummat penerima Al Qur’an agar menjauhi dan menangkis godaan syeitan, yang selalu membujuk dan merayu untuk melakukan kesalahan dan kedurhakaan. Kitab Allah yang terakhir ini menampilkan tokoh-tokoh pelaku keburukan, seperti Azar ayah Ibrahim AS yang mengusir anak kesayangannya sendiri karena menyampaikan kebenaran kepadanya.
Begitu pula Fir’aun penguasa Mesir yang sangat sombong dan kejam sehingga dengan menganggap dirinya sebagai Tuhan yang maha tinggi dia bermaksud hendak menghabisi seluruh Bani Israil. Demikian pula Abu Lahab yang menentang keras dakwah keponakannya, Muhammad SAW. Sejarah orang-orang tersebut dipaparkan dalam Al Qur’an sebagai peringatan agar orang-orang yang telah membacanya tidak merasakan azab Allah seperti yang telah dan akan ditimpakan Allah kepada mereka.

Demikianlah beberapa pendekatan Al Qur’an dalam menyampaikan berbagai informasi yang diperlukan manusia. Tetapi tidak semua masalah diterangkan oleh Kitab Allah ini. Banyak hal yang diserahkan kepada manusia sendiri untuk memperolehnya. Akal yang merupakan salah satu anugerah besar dari Allah ini tidak hanya menghasilkan berbagai pengetahuan, tetapi juga sistem berpikir untuk menata pengetahuan-pengetahuan tersebut sehingga menjadi ilmu. Pada saat yang sama akal juga mampu menemukan dan mengembangkan teknologi, yaitu pemanfaatan ilmu untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Al Qur’an tidak membicarakan isi ilmu maupun teknologi, karena hal itu masuk ke ranah akal. Tetapi Al Qur’an mendorong manusia untuk mengusahakan ilmu dan teknologi yang setinggi-tingginya sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT.

Dalam beberapa hal Kitab Allah ini juga memberikan isyarat-isyarat yang mengarahkan akal untuk menyelidiknya secara intensif. Ada pula hal-hal yang orang ingin mengetahuinya sedangkan akal tidak dapat memperolehnya sendiri, tetapi toh Al Qur’an juga tidak menerangkannya. Ada beberpa informasi yang Allah SWT tidak berkenan membagi pengetahuan-Nya dengan manusia, misalnya tentang ruh dan tentang saat terjadinya Kiamat.

Tentang ruh Al Qur’an menyatakan: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan mengenai ruh kecuali sedikit saja". [QS Al Isra (17): 85]. Sedangkan tentang Kiamat ditegaskan: “Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia”. [QS Al A’raf (7):187].

Uraian tadi membawa kita kepada kesimpulan bahwa Al Qur’an benar-benar petunjuk Allah untuk manusia. Maka supaya petunjuk tersebut bermanfaat, orang yang mengimani Al Qur’an harus melakukan empat hal.
>> Pertama: membaca Kitab Allah ini dengan bacaan yang sebaik-baiknya. Al Qur’an adalah himpunan firman Allah, maka membacanya berarti memasukkan firman Allah ke dalam hati. Maka ulama sepakat bahwa membaca Al Qur’an walaupun tidak mengetahui maknanya, merupakan ibadah kepada Allah.
>>Kedua: mempelajari maknanya agar orang dapat memahami segala keterangan, petunjuk, dan hukum-hukum Allah.
>> Ketiga: melaksanakan setiap ayat Al Qur’an dengan sebaik-baiknya.
>> Keempat: menyampaikan pengetahuan mengenai Al Qur’an kepada orang-orang lain, terutama kepada anggota keluarga sendiri. Itulah empat langkah yang benar di dalam menghormati Al Qur’an, firman Allah SWT yang merupakan petunjuk bagi akal dan hati manusia. [Sakib Machmud].

1 komentar:

  1. saya belum baca tulisan ini, tapi saya sudah kebelet untuk mengutarakan bahwa bapak hermanto bersama rekan2 ini memang orang2 istimewa. selamat beramal ibadah ya pak kyai.

    BalasHapus