Minggu, 16 Agustus 2009

45. AL QUR’AN DAN MODERNISASI

Sebagai petunjuk Allah untuk manusia, Islam bukanlah agama universal dan mutakhir jika tidak bisa menjawab pertanyaan seberapa jauh ajaran Al Qur’an tetap relevan di zaman modern ini. Baik Al Qur’an maupun modernisasi, keduanya sangat mengutamakan akal pikiran atau dimensi rasionalitas. Perbedaannya, modernisasi mengutamakan akal pikiran secara absolut, sedangkan dalam Al Qur’an akal pikiran memperoleh bimbingan wahyu.

Dari tulisan-tulisan Ustadz Sakib Machmud di Al Mustaqiim yang membahas tentang agama Islam, kita dapat membaca pemaparannya yang rasional sehingga mudah memahami materi yang terkandung dalam tulisan-tulisan tersebut. Ini berarti agama Islam sangat erat hubungannya dengan ilmu pengetahuan. Modernisasi adalah sebuah era tercapainya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat penting untuk diapresiasi oleh seluruh ummat manusia, khususnya ummat Islam. Dalam modernisasi, yang sangat penting adalah bagaimana melakukan transformasi ilmu pengetahuan modern guna menalar Al Qur’an secara historis.

Al Qur’an memiliki dimensi historis, ruang, dan waktu yang berbeda. Oleh karena itu, bacaan kita terhadap Al Qur’an membutuhkan pengetahuan yang bersifat interdispliner, terutama jika kita berupaya mencari korelasi antara Al Qur’an dengan modernisasi, maka mencari pertautan antara keduanya tidaklah mudah.

Al Qur’an merupakan kalam Ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Salah satu fungsinya adalah sebagai petunjuk bagi ummat manusia dan orang-orang yang bertakwa terutama untuk mengetahui dan membedakan antara yang baik dan yang buruk. Hal ini disebutkan dalam [QS Al Baqarah (2): 2]: “Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.”

Namun, sebagai petunjuk, Al Qur’an hanya bersifat global, sehingga, jika ada persoalan kehidupan yang penjelasannya tidak ditemukan di dalam Al Qur’an, maka tugas manusia itu sendiri untuk mencari jawabannya. Dengan lain perkataan, Al Qur’an hanya memberi landasan-landasan moral atau petunjuk yang bersifat global.

Secara historis Al Qur’an turun untuk merespons berbagai masalah sosial kehidupan yang terjadi di dalam masyarakat Arab saat itu, untuk memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau memberi ketetapan hukum sebagai doktrin teologis yang harus ditaati. Proses turunnya Al Qur’an, melalui dua tahapan, yaitu; turun secara serentak dan secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun.

Di antara hikmah turunnya Al Qur’an secara bertahap ini agar materi hukum Tuhan itu dapat diterapkan secara evolutif sesuai dengan kondisi objektif sosio-kultural masyarakat. Pada sisi yang lain, secara teknis materi Al Qur’an akan lebih mudah dipahami, dihafalkan, maupun proses penerapan hukum-hukumnya akan lebih mudah untuk diterima. Inilah argumen logis bahwa Tuhan, dalam konsep Islam, tidak menghendaki sesuatu yang menyulitkan kehidupan ummat manusia sebagaimana disebutkan dalam [QS Al Baqarah (2): 185]: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu… “

Meskipun Al Qur’an tidak menjelaskan secara rinci tentang sistem-sistem sosial kehidupan, seperti mekanisme politik, ekonomi, sosial budaya, dan lain sebagainya, tidak berarti sistem-sistem sosial kemasyarakatan itu tidak ada di dalam Al Qur’an. Al Qur’an memberi rangsangan berkembangnya kecerdasan intelektualitas atau terciptanya dinamika sosial kehidupan. Dengan terbatasnya ayat-ayat yang mengatur mekanisme sosial berarti Tuhan memberi peluang kepada akal pikiran manusia untuk mengatur dan menentukan model-model relasi sosial kehidupannya yang lebih luas sesuai dengan perkembangan sosio-kultural dan peradabannya.

Al Qur’an bukanlah dokumen yang sarat dengan rincian-rincian hukum sosial melainkan sebuah buku yang mengandung prinsip-prinsip dasar dan moralitas kemanusiaan universal. Penting kita ketahui bahwa semakin banyak hukum absolut yang mengatur pola kehidupan, maka ritme peradaban manusia akan menjadi sangat kaku dan statis.

Dalam perspektif ini, sesungguhnya Al Qur’an bukan sumber segalanya, sarat dengan teori-teori ilmu pengetahuan. Menurut penelitian para ahli, ayat Al Qur’an yang menyebut tentang ilmu pengetahuan hanya sekitar 150 ayat. Menurut pandangan ini, ayat-ayat tersebut secara paradigmatik tidak cukup untuk dijadikan dasar pemikiran bahwa Al Qur’an merupakan kitab yang sarat dengan teori ilmu pengetahuan, apalagi teknologi modern yang di dalamnya sarat dengan rincian-rincian. Lebih tepat, jika dikatakan bahwa Al Qur’an itu mengandung motivasi atau prinsip-prinsip moral yang bersifat normatif untuk melakukan aktivitas ilmu pengetahuan dan teknologi.

Misalnya, mengenai perhitungan tahun, Al Qur’an menjelaskan: “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas. [QS Al Israa’ (17): 12]. Demikian pula tentang matahari dan bulan Al Qur’an menjelaskan: "Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. [QS Al An’aam (6): 96]

Manusia dapat dikategorikan sebagai modern, jika bersedia menerima dan terbuka terhadap pembaharuan atau perubahan, mampu bersikap terbuka dan bersedia menerima bentuk keragaman realitas sosial yang niscaya. Pandangan hidup masyarakat modern senantiasa difokuskan pada masa kini dan masa depan, memiliki perencanaan hidup, menjunjung tinggi kemampuan manusia, dan dapat memperhitungkan waktu bahwa proses kehidupan ini ditentukan bukan karena nasib. Islam modernis mencoba melihat kembali persoalan-persoalan yang dihadapi ummat dan bersikap apresiatif terhadap kemajuan yang dicapai dunia Barat, seperti semangat untuk mengembangkan rasionalitas, kerja keras, cinta terhadap ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya yang merupakan kata kunci kemajuan masyarakat Barat selama ini.

Pertanyaannya, mengapa ummat Islam terkesan tidak akomodatif dan bahkan antipati terhadap pola hidup dan pemikiran-pemikiran Barat? Padahal, semangat inilah yang pernah mengantarkan kemajuan dunia Islam pada abad pertengahan, ketika masyarakat Barat masih terbelakang.

Kita harus tetap optimistis untuk masa mendatang, karena kaum Islam modernis tampak semakin apresiatif terhadap perkembangan modernisasi dan masyarakat secara umum mulai banyak yang berpendidikan. Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka akan semakin terbuka lebar kemungkinan negaranya menjadi maju di masa depan. Pendidikan bagi generasi penerus merupakan salah satu elemen faktor yang memberi angin segar bagi proses perubahan dan perkembangan menuju terciptanya masyarakat yang beradab.

Sesungguhnya ayat-ayat ilmiah dalam Al Qur’an dimaksudkan untuk menunjukkan kebesaran Allah SWT, dan mendorong manusia seluruhnya untuk mengadakan observasi dan penelitian agar lebih menguatkan iman dan kepercayaan kepada-Nya. Mengenai hal ini, Syaikh Mahmud Syaltut mengatakan dalam tafsirnya: "Sesungguhnya Tuhan tidak menurunkan Al Qur’an untuk menjadi satu kitab yang menerangkan kepada manusia mengenai teori-teori ilmiah, masalah-masalah seni maupun aneka pengetahuan." Namun setiap fenomena di bumi dan langit dijelaskan di dalam Al Qur’an.

Diriwayatkan bahwa pada suatu hari datang seseorang kepada Rasulullah SAW dan bertanya: "Mengapakah bulan kelihatan kecil bagaikan benang, kemudian membesar sampai menjadi sempurna purmama?" Rasulullah SAW mengembalikan, jawaban pertanyaan tersebut kepada Allah SWT yang berfirman: “Mereka bertanya kepadamu perihal bulan. Katakanlah bulan itu untuk menentukan waktu bagi manusia dan mengerjakan haji [QS Al Baqarah (2): 189]. Mengenai ruh Al Qur’an menjelaskan: “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakan: "Ruh adalah urusan Tuhanku, kamu sekalian hanya diberi sedikit ilmu pengetahuan." [QS Al Israa’ (17):85].

Penjelasan ayat-ayat ilmiah tersebut, bukanlah jawaban ilmiah, tetapi sesuai dengan tujuan-tujuan pokoknya, yaitu menguatkan iman dan kepercayaan kita kepada Allah SWT, karena tujan pokok Al Qur’an bukan menerangkan persoalan-persoalan ilmiah, tetapi tujuannya adalah memberikan petunjuk kepada manusia demi kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat kelak.

Sejak pertengahan abad ke-19, ummat Islam menghadapi tantangan hebat, bukan hanya terbatas dalam bidang politik atau militer, tetapi meluas hingga meliputi bidang sosial dan budaya. Tantangan ini memberikan pengaruh yang sangat besar dalam pandangan hidup serta pemikiran golongan besar ummat Islam. Di sana-sini mereka melihat kekuatan Barat dan kemajuan ilmu pengetahuan, dan di lain pihak mereka merasakan kelemahan ummat serta kemunduran dalam lapangan kehidupan dan ilmu pengetahuan. Keadaan yang serupa ini menimbulkan perasaan rendah diri atau inferiority complex pada sebagian besar kaum Muslimin.

Sebagian ummat Islam sejak pertengahan abad ke-19 diliputi oleh perasaan rendah diri dan berusaha mengadakan kompensasi atau melarikan diri dengan bermacam-macam cara. Salah satu cara adalah dengan mengingat kejayaan-kejayaan Islam dan peninggalan nenek moyang. Pengaruhnya terhadap perkembangan pemikiran masyarakat Islam sangat besar dalam menafsirkan Al Qur’an.

Setiap ada penemuan baru, para cendekiawan Islam cepat-cepat berkatan bahwa Al Qur’an sejak lama, sejak sekian abad, telah menyatakan hal itu, Al Qur’an mendahului ilmu pengetahuan dalam penemuannya, dan sebagainya, yang semua itu tiada lain adalah kompensasi perasaan rendah diri tadi.

Tidak dapat diingkari bahwa mengingat kejayaan lama merupakan obat bius yang dapat meredakan rasa sakit, meredakan untuk sementara, tetapi bukan menyembuhkannya. Ia hanya sekadar memberikan jawaban sementara terhadap tantangan Barat. Di balik itu ia menunjukkan kelemahan ummat. Memang, mengingat kejayaan lama kadang-kadang dapat merupakan pendorong untuk maju ke depan, atau setidak-tidaknya dapat menjaga kepribadian masyarakat.

Tetapi kita juga harus waspada dan berhati-hati terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari cara demikian yang bila berlarut-larut dapat membekukan pemikiran. Membanggakan kejayaan lama dapat membangkitkan emosi dan memberikan kepuasan, tetapi ia juga dapat menimbulkan negatifisme dan konservatifisme. Sementara itu kedua sifat ini tidak sejalan dengan ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis dan progresif.

Al Qur’an di zaman modern ini, tidak meninggalkan sedikit pun dan atau lengah dalam memberikan keterangan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan tujuan-tujuan pokok Al Qur’an, yaitu masalah-masalah akidah, syari'ah dan akhlak, Seperti diuraikan di atas, tujuan pokok Al Qur’an bukan menerangkan persoalan-persoalan ilmiah, melainkan memberikan petunjuk kepada manusia demi kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat kelak. [Hermanto]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar