Jumat, 25 Mei 2012

MENJADI MUSLIM YANG BERPENDIRIAN


Muhammad Qutb, dalam salah satu karya spektakulernya ‘Manhajut Tarbiyah Al-Islamiyah Nadhariyah wa Tathbiqan’  menyebutkan ada tiga komponen yang sangat menentukan keberhasilan sebuah pendidikan, yaitu; masukan (input), proses dan keluaran (output). Jika salah satu dari ketiga unsur itu kurang ideal, maka mustahil melahirkan keluaran yang baik sebagaimana diharapkan.
Karenanya bagi seorang Muslim, iman seharusnya menjadi masukan yang paling penting agar bisa melahirkan sikap dan kepribadian yang baik. Iman adalah sumber energi jiwa yang senantiasa memberikan kekuatan yang tidak ada habis-habisnya untuk bergerak memberi, menyemai kebaikan, kebenaran dan keindahan dalam taman kehidupan, atau bergerak mencegah kejahatan, kebathilan dan  kerusakan di muka bumi ini.
Iman juga merupakan gelora yang mengalirkan inspirasi kepada akal pikiran, yang kelak melahirkan bashirah - mata hati, yakni sebuah pandangan yang dilandasi kesempurnaan ilmu dan keutuhan keyakinan. Iman juga sebuah cahaya yang menerangi dan melapangkan jiwa kita yang kelak melahirkan takwa, sikap mental tawadhu - rendah hati, wara - membatasi konsumsi dari yang halal, qana’ah - puas terhadap karunia Allah, yaqin - kepercayaan penuh atas kehidupan abadi.
Iman adalah bekal yang menjalar di seluruh bagian tubuh kita, hingga lahirlah harakah - gerakan; sebuah gerakan yang terpimpin untuk memenangkan kebenaran atas kebathilan, keadilan atas kezhaliman, dan kekuatan jiwa atas kelemahan. Iman juga menenteramkan perasaan, mempertajam emosi, menguatkan tekad, dan menggerakkan raga.
Intinya, iman mengubah individu menjadi baik. Iman mampu mengubah yang kaya menjadi dermawan, dan yang miskin menjadi ‘iffah - menjaga kehormatan dan harga diri. Iman  juga bisa membuat orang yang berkuasa menjadi adil, dan yang kuat menjadi penyayang, yang pintar menjadi rendah hati, dan yang bodoh menjadi pembelajar. Itulah iman.
Orang Mukmin  adalah sosok manusia yang memiliki prinsip hidup yang dipegangnya dengan erat. Ia bekerjasama dengan siapapun dalam kebaikan dan ketakwaan. Jika lingkungan sosialnya mengajak kepada kemungkaran, ia mengambil jalan sendiri. Rasulullah Saw bersabda: “Janganlah ada di antara kamu menjadi orang yang tidak mempunai pendirian, ia berkata: Saya ikut bersama-sama orang, kalau orang-orang berbuat baik, saya juga berbuat baik, dan kalau orang-orang berbuat jahat, sayapun berbuat jahat. Akan tetapi teguhkanlah pendirianmu. Apabila orang-orang berbuat kebajikan, hendaknya engkau juga berbuat kebajikan, dan kalau mereka melakukan kejahatan, hendaknya engkau menjauhi perbuatan jahat itu (HR At-Tirmidzi).
Orang Mukmin yang sejati mempunyai harga diri, tidak melakukan perbuatan yang hina. Apabila ia terpaksa melakukan perbuatan yang tidak pantas, perbuatan itu hendaknya ia sembunyikan dan tidak dipertontonkan di hadapan orang banyak. Ia seharusnya rasa malu jika aibnya diketahui - apalagi ditiru orang lain. Karena itu sungguh aneh, apabila ada seorang terdakwa kasus pornografi yang melakukan maksiat dan terbukti bersalah karena mengunggah videonya, masih bisa tersenyum di depan publik, dan tak merasa bersalah .
Seorang Mukmin yang baik, dia harus berani menegakkan  kebenaran meskipun rasanya pahit untuk mematuhi perintah Allah Swt, tidak untuk memperoleh maksud duniawi yang rendah untuk tujuan jangka pendek dan kenikmatan sesaat. Jika ia membiarkan kebathilan mendominasi kehidupannya, maka imannya seolah-olah terjangkiti virus kelemahan. Seorang Mukmin haruslah teguh pendiriannya, bagaikan karang di tengah lautan, tegar dari amukan badai dan hempasan ombak, serta pasang surut lautan.
Kekuatan jiwa seorang Muslim terletak pada kuat atau tidaknya keyakinan yang dipegangnya, jika aqidahnya teguh, maka kuat pula jiwanya, tetapi jika aqidahnya lemah, maka lemah pula jiwanya. Ia tinggi karena menghubungkan dirinya kepada Allah Yang Maha Agung dan Maha Tinggi.
Orang Mukmin, dalam beramal dan mengabdi hanyalah mengharapkan ridha Allah Swt semata. Ia merupakan manusia yang menakjubkan, karena dianggap sebagai inti (jauhar) dari unsur-unsur yang ada di alam semesta. Tak peduli julukan, stigma atau sebutan negatif oleh pihak lain.
Iman akan selalu memberikan ketegaran jiwa kepada pemiliknya, meskipun berhadapan dengan kezhaliman raja, ia berani melawannya. Allah Swt berfirman: “Mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mu`jizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja.(QS Thaha 20: 72).
Imanlah yang memberikan ketenangan jiwa Nabi Musa As, ketika dihadapkan dengan kenyataan pahit, sebagaimana diterangkan di dalam firman Allah Swt: “Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul. Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (QS Asy-Syu’araa’ 26: 61-63).
Iman jugalah yang menjadikan Nabiyullah Muhammad Saw tertidur dengan pulas di saat bersembunyi di sebuah gua dalam perjalanan hijrah ke Madinah. Padahal waktu itu nyawanya sedang terancam. “Jikalau kamu menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkan (dari Makkah) sedang  dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya di dalam gua, di wakru dia berkata kepada kepada temannya: Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS At-Taubah 9: 40).
Karenanya, kedudukan, kekayaan, kepandaian yang tidak didampingi oleh iman, ia hanya akan membuat pemburunya kecewa, seolah-olah disangka berupa air yang bisa membahasi kerongkongan yang kering karena kehausan. Padahal setelah didatanginya hanya berupa fatamorgana. Allah Swt berfirman “Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” QS An-Nuur 24: 39)
Karenanya, kata Allah Swt, orang-orang kafir, karena amal-amal mereka tidak didasarkasn atas iman, maka tidaklah mendapatkan balasan dari Tuhan di akhirat, walaupun di dunia, mereka mengira akan mendapat balasan atas amalan mereka itu.
Sholih Hasyim
No. 149
Dikutip dari buletin Jum’at Al-Qalam No. 12 / 1433 H
Penerbit Media Hidayatullah, Surabaya

4 komentar:

  1. Amiin ya Rabbal 'alamiin. Dan terima kasih. Sy akan kirim tulisan saya apa bisa?? (Via e-mail)

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah, itu yang kami tunggu, kami terbit tiap tanggal 5, 15 dan 25 tiap bulan. Silakan dikirim via e-mail ke kami. Terimakasih.

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah konser Lady Gaga dibatalkan. Pembatalan tentu bukan hanya karena masalah keamanan saja, tetapi yang lebih mendasar adalah pertimbangan akhlak dan kesetiakawanan sosial dari pada mengumbar hedonisme. Sebaiknya pertunjukan yang tidak layak oleh penyanyi dan musisi Indonesia sendiri juga dihentikan. Salut buat Al Mustaqiim yang konsisten dengan pendiriannya sejak lebih dari 2 tahun yang lalu melalui tulisan tentang seni yang menyimpang. Go ahead Al Mustaqiim.

    BalasHapus
  4. Memang, kita harus menjadi muslim yang berpendirian.

    BalasHapus