Selasa, 15 Mei 2012

BEKERJA DAN ETIKA KERJA

Pada tahun 1997, Samuel Huntington dalam bukunya ‘Culture Matters’ menyebutkan bahwa pada awal dekade 1960-an data-data ekonomi Korea Selatan dan Ghana nyaris sama, GNP kedua negara itu relatif tidak berbeda dan tingkat kesejahteraan rakyatnya juga hampir sama. Tetapi 30 tahun kemudian keadaan tersebut berubah drastis. Kondisi kedua negara itu sangat jauh berbeda. Korea Selatan berkembang menjadi raksasa industri, dan termasuk 14 negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia, yang memiliki banyak perusahaan multinasional, eksportir, otomotif, elektronik, produk-produk manufaktur lainnya. Sedangkan Ghana tetap di tempat sebagai negara miskin.  

Mengapa hal ini bisa terjadi? Perbedaannya adalah karena ciri-ciri khas suatu kelompok masyaraskat, termasuk cara hidup, gaya hidup, kebiasaan, dan nilai-nilainya, yang lazim juga di sebut perbedaan etika kerja yang muaranya adalah karena perbedaan kemampuan sumber daya manusia (SDM). Dan hal ini berpengaruh besar pada produktivitas kerja suatu masyarakat.
World Competitiveness Book (2007), yang diterbitkan Institute for Management of Development, Swiss, menyebutkan bahwa pada tahun 2005, peringkat produktivitas kerja Indonesia yang sebagian besar ummat Islam, berada pada peringkati 59 dari 60 negara yang disurvei. Peringkat ini menurun dibanding tahun 2001 yang berada pada peringkat 46. Sementara itu negara-negara Asia lainnya berada di atas Indonesia seperti Singapura (peringkat 1), Thailand (27), Malaysia (28), Korea Selatan (29), Cina (31), dan Filipina (49). Sedangkan data International Labour Organization (ILO) 2009, menempatkan Indonesia berada di posisi 83 dari 124 negara yang disurvei.
Hal ini diduga kuat bahwa semuanya itu karena mutu SDM Indonesia yang tidak mampu bersaing di dunia internasional. Dan juga mungkin karena faktor budaya kerja yang juga masih lemah dan tidak merata. Pada kesempatan ini kita akan membahas tentang hakikat bekerja dan etika kerja yang perlu kita cermati untuk mengetahui sejauh mana kita telah lalai terhadap apa yang diajarkan Islam tentang hal ini. 

Hakikat Bekerja 

Bekerja adalah melakukan aktivitas karena dorongan untuk mewujudkan sesuatu sehingga tumbuh rasa tanggungjawab yang besar untuk menghasilkan karya atau produk yang berkualitas. Dalam Islam pengertian kerja secara umum adalah semua bentuk usaha yang dilakukan manusia baik dalam hal materi atau non materi, intelektual atau fisik maupun hal-hal yang berkaitan dengan masalah duniawi dan ukhrawi. Sedangkan secara sempit adalah bekerja untuk memenuhi tuntutan hidup manusia meliputi sandang, pangan dan papan yang merupakan kebutuhan bagi setiap orang dan muaranya adalah ibadah.
Di dalam Al-Qur’an banyak tuntunan tentang perlunya orang bekerja, di antaranya adalah: “Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS At-Taubah 9: 105).
Islam sangat menganjurkan orang bekerja, bukan orang yang malas dan bergantung pada orang lain. Dalam kaitan ini Rasulullah Saw bersabda: "Barang siapa yang keadaan amalnya hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia terlaknat. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung." (HR Al-Bukhari). Hadits ini menegaskan bahwa seseorang hendaknya dari hari ke hari makin meningkatkan amalnya agar supaya beruntung. Sayidina Umar bin Khattab ketika mendapati seorang sahabat yang selalu berdoa tetapi tidak mau bekerja. Beliau mengatakan: “Janganlah seorang dari kamu duduk dan malas mencari rizki kemudian ia mengetahui langit tidak akan menghujankan mas dan perak.”
Istilah yang dipakai di dalam Al-Qur’an dan Hadits untuk bekerja adalah amal. Kata amal mengandung pengertian segala apa yang diperbuat atau dikerjakan seseorang, apakah itu khairan atau shalihan - baik - maupun syarran atau suan - buruk. Dari sini juga dapat dipahami bahwa kata shaleh adalah predikat dari amal atau kualitas kerja yaitu kerja, usaha yang berkualitas. Maka setiap kerja adalah amal, dan Islam mengarahkan setiap orang untuk berbuat atau melakukan amal (kerja) yang berkualitas (shaleh).
Secara normatif, kaum Muslimin seharusnya memiliki etika kerja tinggi, karena Islam mengajarkan agar ummatnya memiliki etika kerja yang sangat kuat dengan senantiasa menciptaan produktivitas dan progresivitas di berbagai bidang dalam kehidupan.
Tujuan  Bekerja
Ada beberapa tujuan orang bekerja, antara lain untuk memenuhi kebutuhan hidup; sandang, pangan dan papan dan juga juga untuk membiayai pemeliharaan kesehatan. Dalam pandangan Islam, kebutuhan bisa diartikan sebagai hasrat manusia yang perlu dipenuhi. Kebutuhan itu ada bermacam-macam dan bertingkat-tingkat, namun secara umum dapat dibagi dalam tiga jenis sesuai dengan tingkat kepentingannya, yaitu primer (dharury), sekunder (hajiyat), dan tertier (kamaliyat). Ketiga jenis kebutuhan itulah yang mendorong manusia untuk berikhtiar dan bekerja.
Pandangan Islam terhadap pekerjaan amatlah positif. Manusia diperintahkan Allah untuk mencari rizki bukan hanya untuk mencukupi kebutuhannya, tetapi untuk mencari apa yang diistilahkan fadhl Allah, yang secara harfiah berarti kelebihan yang bersumber dari Allah. Salah satu ayat yang menunjuk pada hal ini adalah: “Apabila kamu telah selesai shalat (Jum’at) maka bertebaranlah di bumi dan carilah fadhl (kelebihan rezki) Allah banyak-banyaklah mengingat Allah supaya kamu beruntung.” (QS Al-Jumu’ah 62: 10) Dalam ayat tersebut dapat kita pahami bahwa terdapat hubungan antara iman sebagai sistem nilai serta ide dengan amal shaleh yang merupakan realisasinya.
Etika Kerja Menurut Islam
Rasulullah Saw bersabda: "Bahwa tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid-masjid dan yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar-pasar." (HR Al-Bazzar). Sepintas lalu hadits di atas seolah-olah menjelaskan adanya dikotomi atau pertentangan yang ekstrem antara kedua tempat tersebut yakni pasar dengan masjid, apabila ‘kerja’ dibatasi maknanya pada pengertian ekonomi dan sosial saja, seakan-akan mengesankan adanya dikotomi antara urusan duniawi - pasar dan kerja - dengan urusan ukhrawi - masjid dan belajar. Kesan seperti itu tampak begitu kuat di kalangan Muslim sendiri. Dan dalam kenyataan, kehidupan ummat Islam terbagai dalam dua kelompok.
Kelompok pertama, adalah kelompok yang lebih terfokus pada urusan pekerjaan. Mereka menampilkan kinerja yang profesional, tapi motivasi bekerjanya sangat rapuh, yakni sekadar demi mencari uang semata. Akibatnya, dari motivasi yang kurang lurus tersebut, keinginannya untuk berzakat, berinfak dan bersedekah di jalan Allah amat minim. Mereka merasa tidak perlu untuk mengeluarkan zakat, infak, sedekah, karena yang bekerja adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. Mereka merasa bahwa kekayaan yang diraih bukanlah anugerah dari Allah, namun dari jerih payahnya sendiri. Sehingga dalam mencari nafkah, mereka begitu punya semangat yang tinggi dan etika yang kuat. Akan tetapi, untuk urusan ilmu atau belajar mereka mencukupkan diri dengan pengetahuan apa adanya selama ini.
Kelompok kedua adalah mereka yang memfokuskan diri pada urusan ibadah. Kelompok ini amat gandrung pada urusan yang sifatnya ‘intelektual-ritual’, namun kurang bisa menampilkan sikap yang profesional dalam bekerja. Artinya, pekerjaan yang mereka tunaikan kualitasnya amat rendah, tidak tepat waktu, dan kurang cita rasa seni. ‘Pokoknya selesai’ adalah motto mereka. Dalam mengejar ilmu atau melakukan ibadah ritual, mereka memang ahli, tetapi dalam urusan pekerjaan, mereka tidak punya sikap yang sama.
Tafsir sosiologis tentang ‘pasar’ dan ‘masjid’ tampaknya mendekati kenyataan yang bagi kaum Muslimin saat ini. Ideologi ‘kaum pasar’ semakin diperkuat dengan pandangan materialisme yang sangat memuja benda atau materi. Materi menjadi standar apakah orang ini pantas atau tidak untuk dihormati, dihargai, atau diakrabi. Sedangkan ‘kaum masjid’ seolah-olah muncul di atas ketidak-berdayaan menghadapi arus zaman. Sehingga ‘sufisme’ menjadi lahan pelarian bagi mereka untuk menghindari kenyataan. Mereka kemudian berlindung di bawah istilah-istilah ‘sabar’, ‘zuhud’ ‘doa’, dzikir, dan sebagainya.
Sesungguhnya dikotomi antara ‘kerja’ dengan ‘belajar’ tidak perlu terjadi, karena, jika kita menghayati secara mendalam ayat: "Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in - Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan." (QS Al-Faatihah 1: 5), maka kehidupan kaum Muslimin akan bernuansa ibadah yang sangat kental. Dalam ayat yang lain, Allah berfirman: "Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah," (QS Adz-Dzaariyaat 51: 56).  Sehingga, tidak ada pemisahan antara yang duniawi dan ukhrawi. 

Di samping itu kepada kita juga diajarkan ayat: "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu" (QS Al-Maaidah, 5: 1), yang harus kita pahami bahwa aqad-aqad (perjanjian-perjanjian) itu meliputi perjanjian antara manusia dengan Tuhan, yakni kewajiban-kewajiban manusia kepada Tuhan yang mencakup perjanjian antara seseorang dengan  dirinya sendiri dan perjanjian antara seseorang dengan dengan orang lain. Dengan demikian, perjanjian yang dirujuk pada ayat tersebut berkisar dari pelaksanaan shalat sehari-hari sampai menjual barang dagangan di pasar, dari sembah sujud sampai kerja mencari penghidupan.
Berdasarkan pandangan tersebut, kita tidak mendikotomikan antara yang duniawi dan ukhrawi, maka etika kerja kaum Muslimin selayaknya memperhatikan kualitas pekerjaannya. Artinya, dalam bekerja karakteristik spiritual tetap terjaga dan terpelihara, yakni pekerjaan itu harus dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab. Tanggungjawab terhadap pekerjaan itu berarti kesiapan untuk bertanggungjawab di hadapan Allah Swt, karena pekerjaan adalah saksi bagi semua tindakan manusia.
Perspektif Islam yang padu, tidak membedakan antara yang duniawi dan ukhrawi, yang sekular dan religius, atau secara lebih spesifik, antara shalat dan kerja. Implikasi praktisnya adalah bahwa sebagaimana kita mencoba khusyu’ dalam shalat, maka begitu pula dalam bekerja kita mencoba untuk meng-khusyu'-kan diri. Dalam bahasa bisnisnya, berusaha bersikap lebih profesional.
Lebih jauh lagi, sebagaimana tanggungjawab kepada Allah Swt dalam ekspresi shalat kita, maka demikian pula kita dalam pekerjaan kita, sebagaimana firman-Nya: “Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS At-Taubah 9: 105). Penghayatan yang mendalam terhadap profesionalisme dalam pekerjaan akan berdampak positif dan konstruktif dalam perkembangan kepribadian kaum Muslimin. Dengan menghayati ayat tersebut, maka seharusnya kaum Muslimin tidak mengenal istilah malas atau menganggur.
Dalam tulisan 111 / Moral dan Etika Masyarakat / 25-04-11, kita pernah membahas mengenai etika kerja bangsa Jepang yang dikenal sebagai ‘bersaing dan bekerjasama dalam satu semangat’. Jika kita pelajari dengan seksama, etika kerja tersebut sejalan dengan ajaran Islam. Amal apapun, baik dalam kaitan pekerjaan mencari nafkah hidup maupun melakukan pekerjaan lainnya, hendaknya dilakukan dengan semangat bersaing sebagaimana perintah  Allah: fastabiqul khairat - berlomba-lombalah berbuat kebajikan,” (QS Al-Maaidah 5: 48). Bersaing di sini bukan berarti dibolehkan  menggunakan segala cara untuk mengalahkan saingannya, tetapi berlomba-lomba yang dilandasi kejujuran, karena semangat bersaing tersebut terkait erat dengan dengan semangat bekerjasama, sebagaimana firman Allah: wata’awanu alal birri wattaqwa - tolong menolonglah dalam kebaikan dan takwa.” (QS Al-Maaidah 5: 2).
Maka tidak ada salahnya jika ummat Islam menjadikan kedua unsur tersebut dalam satu semangat dari waktu ke waktu dalam kegiatan kerja sehari-hari, karena kedua unsur itu sangat terkait dengan tanggungjawab dan profesionalisme dalam melakukan pekerjaan. Kita harus muhasabah atas kekurangan kita. Jika kita melakukan studi banding dengan negara lain, maka hasil studi banding harus bisa menyerap sesuatu yang lebih baik untuk kepentingan pembangunan, termasuk pembangunan SDM. 
Seperti terlihat pada data World Competitiveness Book (2007) di atas, Singapura yang produktivitas kerjanya tertinggi di Asia telah banyak belajar dari Jepang, sehingga Jepang menyebut Singapura itu sebagai the best student of Japan  - mengalahkan gurunya sendiri, sedangkan. mantan PM Malaysia Mahathir Muhammad juga gencar menyerukan kepada pemuda Malaysia untuk look to the East - yang mengisyaratkan ’belajarlah dari Jepang’. Tetapi mengapa dari puluhan ribu trainees Indonesia yang mengikuti training program yang disponsori Association for Overseas Technical Scholarship (AOTS) sejak tahun 1959, bersama-sama para pemuda Asia lainnya, kurang berdampak positif pada produktivitas kerja masyarakat dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya? AOTS ini dikelola oleh pemerintah Jepang (Kementerian Luar Negeri, Kementerian Keuangan, Kementerian Kehakiman, Kementerian Perburuhan, dan Kementerian Ekonomi-Perdagangan-Industri).
Penulis yang pernah mengikuti training pada tahun 1971 selama satu tahun  dengan  beasiswa AOTS, berpendapat bahwa pada umumnya orang Indonesia kurang memiliki rasa kepedulian dan tanggungjawab kepada sesama. Mereka lebih menjadikan ilmu dan pengalaman yang dimiliki untuk kepentingan pribadi daripada untuk kepentingan umum. Egoisme orang Indonesia ini juga terlihat pada kurangnya pengamalan ilmu dan pengetahuan agama yang mereka miliki, sehingga keIslaman kita di bidang muamalah pun berada di tingkat rendah. (Baca tulisan terkait berjudul 'Tinjauan Tentang KeIslaman Indonesia' tgl. 21 Maret 2012 atau tulisan No. 4 di lajur kanan media ini).   
Hermanto Harsolumakso
No. 148

11 komentar:

  1. Terima kasih buku anda yang saya terima, berguna khususnya bagi saya dalam memberikan kultum subuhan. Matur nuwun mas, semoga Allah swt memberikan ganjaran yang Berlimpah. Wassalamu'alaikum w.w. Djoeffan Nawawi. (Via e-mail).

    Selasa, 15 M

    BalasHapus
  2. @ Djoeffan Nawawi. Alhamdulillahhi rabbil 'alamiin. Semoga Allah Swt senantiasa memberikan petunjuk dan bimbingan kepada hamba-Nya yang berjuang di jalan yang lurus. Amiin.

    BalasHapus
  3. Yth. Pengasuh.
    Alhamdulillah, kirimannya sudah kami terima.
    Semoga seluruh pengawal Al-Mustaqiim selalu diberikan kesehatan dan lindungan Allah Swt. (Via e-mail)
    Amin
    Salam
    Dadi A.R.

    BalasHapus
  4. @ Dadi A.R. Alhamdulillah. Terimakasih do'a Anda, Semoga Anda juga selalu dalam kesehatan, lindungan dan keberkahan-Nya. Amiin

    BalasHapus
  5. Saya mau berbagi cerita sedikit, boleh?
    Di sebuah perusahaan, pada suatu ketika salah seorang manajernya (yang bukan muslim) berkata sinis:"Karyawan/wati muslim ini gimana sih? masak baru duduk sebentar setelah mengisi absensi, eh trus pergi trus sembahyang trus lama berdoa. Kerja sebentar, tengah hari istirahat makan siang lalu sembahyang lagi. Lalu bekerja lagi, eh tidak lama kemudian pergi lagi, trus sembahyang lagi berdoa lagi. Kalau demikian itu kapan dia kerja? Apalagi kalau bulan puasa, wah makin sedikit waktu yg digunakan untuk kerja lantaran istiahat siang makin panjang, dipakai untuk tidur berjamaah di mushola". Meski cerita itu menyakitkan, tapi itulah yang orang luar lihat apa dan bagaimana umat Islam dalam bekerja. Ibadah mahdoh itu perlu dan harua, tapi itu tidak cukup. Wa Allahu a'lam bissawab

    BalasHapus
  6. Yth al-Ustad K.H.Hermanto, mohon titip salam untuk Djuffan Nawawi. Matur kesuwun.

    BalasHapus
  7. @ Anonim. Menanggapi komentar anonim (penulis mengetahui siapa anonim, sahabat saya yang tak mau menyebutkan namanya itu, karena dia …malu-malu kucing..) tentang karyawan/wati yang selalu beribadah sehingga wajtu bekerja tinggal sedikit, kita bisa mengacu ucapan Sayidina Umar bin Khattab ketika mendapati seorang sahabat yang selalu berdoa tetapi tidak mau bekerja. Seperti diuraikan dalam tulisan di atas, Sayidina Umar bin Khattab mengatakan: “Janganlah seorang dari kamu duduk dan malas mencari rizki kemudian ia mengetahui langit tidak akan menghujankan mas dan perak.” Hakikat melakukan shalat adalah berdoa, maka jelas bahwa Islam tidak menganjurkan orang berdoa terus menerus, sehingga seseorang meninggalkan kewajiban dalam pekerjaannya. Dari tulisan itu pula kita dapat menyimpulkan bahwa keterpaduan antara shalat dan kerja harus tercermin dalam kegiatan dalam pekerjaan. Dengan menghayati QS At-Taubah 9: 105, maka karyawan Muslim harus mensinergikan antara shalat dan bekerja secara profesional, bukan shalat saja tetapi malas bekerja.

    BalasHapus
  8. @ Anonim. Amanah dari Anda sudah saya sampaikan kepada Ustadz Djoeffan Nawawi melalui e-mail. Perlu saya sampaikan bahwa dari info yang saya terima, sebagian materi tulisan Al-Mustaqiim telah dijadikan bahan ceramah selain oleh Ustadz Djoeffan Nawawi, juga oleh Ustadz Ahmad Djuhair Hasan, Ustadz Suheimi Nurusman, dan Ustadz Dadi A. Ruswandi yang memimpin pengajian di lingkungannya. Alhamdulillahi rabbil 'alamiin.

    BalasHapus
  9. Alhamdulillah syukur. Hehe al-Ustad HH memang joss, lha wong sajian materinya dimanfaatkan oleh para Ustad yang kondang .... hehehe bercanda, do not count on it please. KUTGW okay?

    BalasHapus
  10. Agak kurang jelas mengenai egoisme orang Indonesia dalam pekerjaan dan kegiatan muamalah. Mohon sedikit tambahan penjelasan. Matur Nuwun.

    BalasHapus
  11. @ azhari danu. Dalam produktivitas kerja, misalnya hasil training hanya dimanfaatkan untuk kenaikan pangkat bagi dirinya sendiri, tidak disosialisasikan kepada rekan sekerja adan bawahannya yang terkait dengan produktivas kerja, sehingga tidak berdampak pada peningkatan produktivitas kerja. Di bidang dakwah, misalnya ilmu yang dimiliki hanya untuk kepentingana dirinya sendiri, atau jika didakwahkan kepada orang lain, motivasinya adalah untuk mendapatkan uang, tidak memberikan contoh kebaikan dari ilmu agamanya, dan tidak peduli lagi bagaimana kelanjutannya bagi penerima dakwah (mad’u). Demikian tambahan penjelasan, mudah-mudahan menjadi lebih jelas. Wassalamu’alaikum wr.wb.

    BalasHapus