Semua orang tentu mengnginkan hidup sukses. Meraih sukses adalah fitrah manusia. Oleh karena itu setiap orang mempunyai cita-cita dan harapan, kesibukan dan beragam kegiatan. Setiap anak diberi motivasi untuk rajin belajar, setiap remaja diarahkan untuk menjadi cerdas dalam bergaul, dan setiap pemuda dibimbing untuk memiliki jiwa kepemimpinan. Semua ini terjadi karena fitrah manusia ingin meraih sukses.
Sayangnya di era modern ini, sukses selalu identik dengan kekayaan, kedudukan dan kekuasaan. Tidak begitu banyak lagi orang yang beranggapan terpeliharanya iman, akhlak, dan ketekunan dalam hal beramal ibadah sebagai suatu prestasi. Mengapa tidak banyak orang yang benar-benar serius memelihara imannya? Karena mereka menjadikan agama tidak lebih dari ritual dan seremonial belaka.
Kondisi tersebut mengantarkan
sebagian besar ummat Islam pada cara berpikir pragmatis atau instan. Akibatnya
mereka tidak mampu memahami hakikat kebahagiaan. Hanya kesenangan berupa
materi-jasadiah saja yang mampu membuat mereka tersenyum. Padahal hakikat
kesuksesan itu terletak pada kuatnya iman, kokohnya aqidah, dan tegaknya amal
ibadah setiap Muslim.
Untuk itu diperlukan mujahadah
- kesungguhan dengan mengerahkan energi spiritual untuk mendekatkan diri kepada
Allah Swt (taqarrub) dalam memelihara iman, memurnikan aqidah, dan
menegakkan amal ibadah. Apabila iman terpelihara, akidah terjaga, dan amal
ibadah terlaksana dengan baik, maka akan tumbuh mental kerja yang kuat
dibanding mereka yang tidak terpelihara imannya. Orang beriman siap bekerja
lebih hebat tanpa imbalan apapun dari manusia. Ia yakin benar dengan firman
Allah: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu
sendiri, jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.”
(QS Al-Israa’ 17: 7).
Itulah keyakinan para Nabi dan
Rasul, yang karenanya, mereka dikenang dan dijadikan tauladan oleh Allah Swt bagi
kita semua. Nabi dan Rasul itu diteladani bukan karena atribut, kekayaan,
kedudukan, kekuasaan atau apapun, melainkan karena keimanannya yang teguh
kepada Allah Swt, serta mujahadah mereka yang sangat luar biasa untuk
meraih keridhaan Allah Swt.
Jika dilihat dari sudut
pandang keduniawian (materi), hampir semua Nabi dan Rasul hidup serba
kekurangan bahkan sengsara. Kesabaran mereka benar-benar ditempa hingga sampai
derajat sempurna. Dengan demikian tidak ada prototype manusia paling
sempurna bagi seorang Muslim selain para Nabi dan Rasul.
Sukses Hakiki
Apa yang dimaksud sukses
hakiki bagi seorang Muslim? Tentu tidak lain adalah keridhaan Allah Swt. Dengan
ridha-Nya kita akan menerima balasan terbaik dari-Nya berupa surga, sebuah
tempat penuh kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan yang dihadiahkan Allah
kepada hamba-hamba-Nya yang diridhai. Keridhaan Allah itu akan diberikan kepada
siapa saja yang ber-mujahadah mendapatkannya. Tidak peduli orang miskin,
kaya, tampan, cantik, besar, kecil, putih, hitam, tinggi, pendek, pejabat atau
rakyat biasa sekalipun, semua orang berpeluang sama untuk mendapat keridhaan
Allah Swt, sebagaimana janji-Nya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk
(mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka
jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang
berbuat baik.” (QS Al-Ankabuut 29: 69).
Ridha Allah adalah dambaan
setiap Muslim yang menyadari bahwa itulah harta termahal yang pantas
diperebutkan oleh manusia. Tanpa ridha Allah, hidup kita akan hampa, kering, tidak
dapat merasakan nikmat atas segala apa yang telah ada di genggaman kita. Bermacam
masalah silih berganti menyertai hidup kita, harta berlimpah, makanan berlebih
namun ketika tidak ada ridha-Nya, semua menjadi hambar. Tidak tahu ke mana
tujuan hidup, merasa bosan dengan keadaan, seolah-olah hari berlalu begitu
saja, begitu cepat namun tanpa disertai dengan perubahan kebaikan hari demi
hari. Sehingga merasa “mengapa hidup hanya begini-begini saja?”
Apa sebenarnya ridha Allah itu?
Allah Swt berfirman: “Maka berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga
kepada orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalananan. Itulah yang lebih
baik bagi orang yang mencari keridhaan Allah. Dan mereka itulah orang-orang
yang beruntung.” (Ar-Rum 30: 38).
Seperti dijelaskan pada ayat
di atas, itu adalah sebagian cara yang ditunjukkan Allah pada kita untuk
mendapatkan ridha-Nya di samping kita wajib selalu bertakwa pada-Nya, istiqamah
dalam ibadah,dan masih banyak lagi yang bisa mengundang rahmat-Nya bukan justru
mendatangkan murka-Nya. Memberikan hak orang yang dimaksud Allah bukan hanya
bisa dilakukan oleh orang yang kelebihan harta namun bisa dilakukan oleh orang
yang sadar dan ikhlas bahwa letak ketentraman hidup itu ada pada restu, ridha
dan rahmat Allah. Boleh jadi rezeki yang Allah berikan pada kita hanya pas-pasan
untuk makan sehari hari dan biaya hidup keluarga, namun ketika Allah telah
berkenan memberi ridha-Nya, rezeki yang pas itu menjadi berkah berupa keluarga sakinah
- tenteram, keluarga sehat wal afiat tidak diberikan penyakit yang menguras
rezeki kita, diberi keringanan beribadah, baik shalat, zakat, sedekah, sehingga
hari hari yang dilalui dalam hidup penuh dengan rasa syukur.
Sekarang marilah kita melakukan
muhasabah – introspeksi diri. Sudahkah kita memberikan haknya kerabat
dekat, orang miskin, orang yang dalam perjalanan, sudahkan kita bertakwa berada
di jalan lurus-Nya, sudahkah kita istiqamah dalam ibadah mewujudkan rukun Islam
dalam kehidupan sehari-hari, sudahkah kita meniatkan setiap yang kita lakukan
untuk mencari ridha-Nya? Atau apakah kita justru serakah, menggenggam erat
harta yang Allah titipkan sehingga harta yang seharusnya bisa kita gunakan
untuk ibadah, justru menghantarkan akan kita ke pintu neraka?
Setelah kita mendapat
jawabannya. tentu kitapun tahu, sudahkah kita dapatkan ridha-Nya dalam hidup
kita? Kita memang tidak dapat melihat wujud ridha itu dengan mata, akan tetapi
insya Allah kita akan bisa merasakan dengan hati, ketika kita berjuang untuk
mendapatkannya dengan senantiasa menjauhi larangan-Nya, dan mengamalkan serta mengajarkan
perintah-Nya.
Belajar dari Sahabat
Mush’ab Ibn Umair
Dunia dan segala kenikmatan di
dalamnya, pada haklikatnya hanyalah ujian. Siapa yang menjadikannya sebagai
tujuan, maka binasalah ia untuk selama-lamanya. Hal ini bisa kita buktikan
melalui sunatullah kehidupan, bahwa apapun yang ada di dunia ini akan mengalami perubahan bahkan hilang.
Wanita yang hari ini cantik, esok akan tua dan keriput, dan hilanglah
kecantikannya. Manusia yang hari ini menjabat, esok akan berhenti, lalu tua
renta, dan selesailah riwayatnya. Demikian pula kekayaan, pada akhirnya semua
akan hilang dengan sendirinya dan mau tak mau pasti ditinggalkan.
Kesadaran tersebut rupanya
tertanam kuat pada sahabat Rasullullah Saw bernama Mushab ibn Umair bin
Hashim bin Abd Munaf yang dikenal sebagai Duta Islam Pertama. Pemuda
yang dari lahir hingga dewasa selalu hidup dalam kemewahan, wajahnya yang
tampan, telah menjadikan dirinya sangat mempesona. Setiap gadis di Makkah
mendambakan menjadi isterinya Termasuk juga para janda, bahkan wanita yang bersuami
sangat mendambakan Mush’ab ibn Umair.
Mungkin dalam pandangan kaum
pragmatis di abad modern ini, Mush’ab adalah laki-laki yang sangat beruntung.
Ia punya kesempurnaan seperti itu. Ibunya, Khannas adalah saudagar terkaya di
Makkah. Namun Mush’ab tak pernah bersikap congkak dan menyombongkan diri. Ia
justru dikenal sebagai pemuda yang santun dan rendah hati, lengkap dengan
akhlak yang baik, serta kepribadian yang terpuji. Bahkan Mash’ab dikenal
memiliki pemikiran yang cerdas lagi bijaksana.
Mush’ab yang masih muda mendengar
tentang munculnya seorang Nabi terpilih di kalangan kaum Quraisy. Seorang Nabi
yang membaca ajaran tauhid. Didorong oleh rasa ingin tahunya yang besar, maka
Mus'ab pun pergi menemui Nabi Muhammad Saw untuk mendengar sendiri ajaran yang
dibawa oleh beliau. Suatu malam, Mus'ab memutuskan untuk pergi ke rumah
Al-Arqaam Ibn Al-Arqaam - yang kemudian dikenal dengan Daar al-Arqaam di
kalangan Muslim, meninggalkan teman-temannya yang sedang berkumpul. Di sinilah
Mus'ab bertemu dengan Nabi Saw ketika itu, tanpa diketahui oleh orang-orang Quraisy.
Di sinilah Mush'ab mendengar Rasulullah berbicara tentang masa depan Islam,
mendengar ayat-ayat Al-Qur’an dan shalat di belakang Rasulullah Saw. Malam itu,
Mush'ab duduk bersama Muslim lainnya, mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang
dikumandangkan oleh Rasulullah Saw. Ketika itulah, Mush'ab lupa akan kesenangan
hidup di dunia, menemukan kunci kebahagiaan abadi.
Ketika ia memutuskan diri untuk
menganut ajaran Islam, seketika kehidupan Mush’ab berubah. Sang ibu yang semula
sangat menyayangi anaknya, berubah menjadi ganas dan beringas, ketika Mush’ab mengikuti
ajaran Rasulullah Saw. Berkali-kali Mush’ab dipenjara oleh keluarganya. Namun
ia tetap teguh dengan keIslamannya.
Akhirnya, ketika penduduk
Yastrib (Madinah) banyak yang ingin mempelajari Islam, Rasulullah Saw pun
mengutus Mush’ab ibn Umair untuk mengajari mereka. Setiap hari Mush’ab
menghabiskan waktunya untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada penduduk Yastrib.
Sampai akhirnya tiba panggilan jihad di gunung Uhud.
Karena kelalaian pasukan
pemanah di atas bukit, pasukan Islam yang tidak lama lagi akan memenangkan
peperangan justru di serang balik dan terus menerus terdesak. Akhirnya banyak
pasukan Muslim yang terbunuh dalam serangan balik itu. Bahkan Rasulullah Saw
sendiri menderita luka-luka yang cukup parah.
Di tengah kepanikan seperti
itu, Mush’ab dan beberapa sahabat lain menjadikan diri sebagai benteng hidup
untuk melindungi Rasulullah Saw dari serangan musuh. Sambil memegang panji
Islam, Mush’ab berteriak lantang membangkitkan semangat tempur ummat Islam. Ibn
Qami’ah, seorang kavaleri Qurays, berusaha menerobos benteng hidup yang
melindungi Rasulullah Saw dan mengayunkan pedangnya ke tubuh Mush’ab. Malang tak terhindarkan,
pedang Qami’ah membabat putus tangan Mush’ab. Panji Islam terjatuh, namun
Mush’ab segera meraihnya dengan tangan kiri. Melihat hal itu Qami’ah segera
membabat tangan kiri sahabat Rasulullah itu. Sekali lagi panji Islam terjatuh.
Namun Mush’ab masih berusaha meraih panji itu dengan kedua lengan yang tersisa.
Namun apa boleh buat, dua penunggang kuda Qurays datang membantu Qami’ah.
Mereka mengepung Mush’ab hingga ia gugur sebagai syuhada. Bahagialah Mush’ab
ibn Umair.
Atas peristiwa itu turunlah
firman Allah Swt kepada ummat Islam: “Janganlah
kamu menduga bahwa orang-orang yang gugur
di jalan Allah itu mati, tetapi mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan
mendapat rezeki.” (QS Ali-‘Imraan 3: 169-170). Mush’ab sungguh beruntung, ia meninggal dalam keadaan membela agama
Islam. Hari-harinya ia habiskan untuk
berdakwah mengajarkan Islam, membaca Al-Qur’an. Sungguh luar biasa Mush’ab ibn
Umair. Kejadian yang menimpanya mengundang ayat suci Al-Qur’an turun untuk
mejelaskan perihal Musha’ab yang sesungguhnya.
Oleh
karena itu, marilah kita mengisi hari dan waktu kita untuk agama Allah secara mujahadah. Jangan mudah tergoda
bujuk rayu nafsu atau janji-janji syeitan. Kese-nangan dunia hanyalah
sementara, pergunakanlah hidup ini untuk akhirat. Hendaknya kita semua
senantiasa mengisi waktu kita dengan amal shaleh, hingga saatnya kelak kita
dipanggil oleh Allah dalam keadaan mulia lagi dirihai-Nya. Sungguh tiada jalan
lain untuk sukses hakiki, seperti yang Mush’ab ibn Umair telah raih, selain ber-mujahadah dalam menjalankan
perintah Allah Swt dan Rasul-Nya.
Beberapa hari lagi kita akan bertemu kembali dengan bulan suci Ramadhan, yang merupakan momentum yang tepat untuk melakukan muhasabah secara mujahadah untuk meraih sukses yang hakiki. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan.
Beberapa hari lagi kita akan bertemu kembali dengan bulan suci Ramadhan, yang merupakan momentum yang tepat untuk melakukan muhasabah secara mujahadah untuk meraih sukses yang hakiki. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan.
Hermanto Harsolumakso
No. 154
Hakikat hidup sukses adalah hidup dengan ridha Allah Swt
BalasHapus