Minggu, 15 Juli 2012

HAKIKAT MERAIH SUKSES



Semua orang tentu mengnginkan hidup sukses. Meraih sukses adalah fitrah manusia. Oleh karena itu setiap orang mempunyai cita-cita dan harapan, kesibukan dan beragam kegiatan. Setiap anak diberi motivasi untuk rajin belajar,  setiap remaja diarahkan untuk menjadi cerdas dalam bergaul, dan setiap pemuda dibimbing untuk memiliki jiwa kepemimpinan. Semua ini terjadi karena fitrah manusia ingin meraih sukses.

Sayangnya di era modern ini, sukses selalu identik dengan kekayaan, kedudukan dan kekuasaan. Tidak begitu banyak lagi orang yang beranggapan terpeliharanya iman, akhlak, dan ketekunan dalam hal beramal ibadah sebagai suatu prestasi. Mengapa tidak banyak orang yang benar-benar serius memelihara imannya? Karena mereka menjadikan agama tidak lebih dari ritual dan seremonial belaka.
Kondisi tersebut mengantarkan sebagian besar ummat Islam pada cara berpikir pragmatis atau instan. Akibatnya mereka tidak mampu memahami hakikat kebahagiaan. Hanya kesenangan berupa materi-jasadiah saja yang mampu membuat mereka tersenyum. Padahal hakikat kesuksesan itu terletak pada kuatnya iman, kokohnya aqidah, dan tegaknya amal ibadah setiap Muslim.
Untuk itu diperlukan mujahadah - kesungguhan dengan mengerahkan energi spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt (taqarrub) dalam memelihara iman, memurnikan aqidah, dan menegakkan amal ibadah. Apabila iman terpelihara, akidah terjaga, dan amal ibadah terlaksana dengan baik, maka akan tumbuh mental kerja yang kuat dibanding mereka yang tidak terpelihara imannya. Orang beriman siap bekerja lebih hebat tanpa imbalan apapun dari manusia. Ia yakin benar dengan firman Allah: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.” (QS Al-Israa’ 17: 7).
Itulah keyakinan para Nabi dan Rasul, yang karenanya, mereka dikenang dan dijadikan tauladan oleh Allah Swt bagi kita semua. Nabi dan Rasul itu diteladani bukan karena atribut, kekayaan, kedudukan, kekuasaan atau apapun, melainkan karena keimanannya yang teguh kepada Allah Swt, serta mujahadah mereka yang sangat luar biasa untuk meraih keridhaan Allah Swt.
Jika dilihat dari sudut pandang keduniawian (materi), hampir semua Nabi dan Rasul hidup serba kekurangan bahkan sengsara. Kesabaran mereka benar-benar ditempa hingga sampai derajat sempurna. Dengan demikian tidak ada prototype manusia paling sempurna bagi seorang Muslim selain para Nabi dan Rasul.
Sukses Hakiki
Apa yang dimaksud sukses hakiki bagi seorang Muslim? Tentu tidak lain adalah keridhaan Allah Swt. Dengan ridha-Nya kita akan menerima balasan terbaik dari-Nya berupa surga, sebuah tempat penuh kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan yang dihadiahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang diridhai. Keridhaan Allah itu akan diberikan kepada siapa saja yang ber-mujahadah mendapatkannya. Tidak peduli orang miskin, kaya, tampan, cantik, besar, kecil, putih, hitam, tinggi, pendek, pejabat atau rakyat biasa sekalipun, semua orang berpeluang sama untuk mendapat keridhaan Allah Swt, sebagaimana janji-Nya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”  (QS Al-Ankabuut 29:  69).
Ridha Allah adalah dambaan setiap Muslim yang menyadari bahwa itulah harta termahal yang pantas diperebutkan oleh manusia. Tanpa ridha Allah, hidup kita akan hampa, kering, tidak dapat merasakan nikmat atas segala apa yang telah ada di genggaman kita. Bermacam masalah silih berganti menyertai hidup kita, harta berlimpah, makanan berlebih namun ketika tidak ada ridha-Nya, semua menjadi hambar. Tidak tahu ke mana tujuan hidup, merasa bosan dengan keadaan, seolah-olah hari berlalu begitu saja, begitu cepat namun tanpa disertai dengan perubahan kebaikan hari demi hari. Sehingga merasa “mengapa hidup hanya begini-begini saja?”
Apa sebenarnya ridha Allah itu? Allah Swt berfirman: “Maka berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalananan. Itulah yang lebih baik bagi orang yang mencari keridhaan Allah. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Ar-Rum 30: 38).
Seperti dijelaskan pada ayat di atas, itu adalah sebagian cara yang ditunjukkan Allah pada kita untuk mendapatkan ridha-Nya di samping kita wajib selalu bertakwa pada-Nya, istiqamah dalam ibadah,dan masih banyak lagi yang bisa mengundang rahmat-Nya bukan justru mendatangkan murka-Nya. Memberikan hak orang yang dimaksud Allah bukan hanya bisa dilakukan oleh orang yang kelebihan harta namun bisa dilakukan oleh orang yang sadar dan ikhlas bahwa letak ketentraman hidup itu ada pada restu, ridha dan rahmat Allah. Boleh jadi rezeki yang Allah berikan pada kita hanya pas-pasan untuk makan sehari hari dan biaya hidup keluarga, namun ketika Allah telah berkenan memberi ridha-Nya, rezeki yang pas itu menjadi berkah berupa keluarga sakinah - tenteram, keluarga sehat wal afiat tidak diberikan penyakit yang menguras rezeki kita, diberi keringanan beribadah, baik shalat, zakat, sedekah, sehingga hari hari yang dilalui dalam hidup penuh dengan rasa syukur.
Sekarang marilah kita melakukan muhasabah – introspeksi diri. Sudahkah kita memberikan haknya kerabat dekat, orang miskin, orang yang dalam perjalanan, sudahkan kita bertakwa berada di jalan lurus-Nya, sudahkah kita istiqamah dalam ibadah mewujudkan rukun Islam dalam kehidupan sehari-hari, sudahkah kita meniatkan setiap yang kita lakukan untuk mencari ridha-Nya? Atau apakah kita justru serakah, menggenggam erat harta yang Allah titipkan sehingga harta yang seharusnya bisa kita gunakan untuk ibadah, justru menghantarkan akan kita ke pintu neraka?
Setelah kita mendapat jawabannya. tentu kitapun tahu, sudahkah kita dapatkan ridha-Nya dalam hidup kita? Kita memang tidak dapat melihat wujud ridha itu dengan mata, akan tetapi insya Allah kita akan bisa merasakan dengan hati, ketika kita berjuang untuk mendapatkannya dengan senantiasa menjauhi larangan-Nya, dan mengamalkan serta mengajarkan perintah-Nya.
Belajar dari Sahabat Mush’ab Ibn Umair
Dunia dan segala kenikmatan di dalamnya, pada haklikatnya hanyalah ujian. Siapa yang menjadikannya sebagai tujuan, maka binasalah ia untuk selama-lamanya. Hal ini bisa kita buktikan melalui sunatullah kehidupan, bahwa apapun yang ada di dunia ini  akan mengalami perubahan bahkan hilang. Wanita yang hari ini cantik, esok akan tua dan keriput, dan hilanglah kecantikannya. Manusia yang hari ini menjabat, esok akan berhenti, lalu tua renta, dan selesailah riwayatnya. Demikian pula kekayaan, pada akhirnya semua akan hilang dengan sendirinya dan mau tak mau pasti ditinggalkan.
Kesadaran tersebut rupanya tertanam kuat pada sahabat Rasullullah Saw bernama Mushab ibn Umair bin Hashim bin Abd Munaf yang dikenal sebagai Duta Islam Pertama. Pemuda yang dari lahir hingga dewasa selalu hidup dalam kemewahan, wajahnya yang tampan, telah menjadikan dirinya sangat mempesona. Setiap gadis di Makkah mendambakan menjadi isterinya Termasuk juga para janda, bahkan wanita yang bersuami sangat mendambakan Mush’ab ibn Umair.
Mungkin dalam pandangan kaum pragmatis di abad modern ini, Mush’ab adalah laki-laki yang sangat beruntung. Ia punya kesempurnaan seperti itu. Ibunya, Khannas adalah saudagar terkaya di Makkah. Namun Mush’ab tak pernah bersikap congkak dan menyombongkan diri. Ia justru dikenal sebagai pemuda yang santun dan rendah hati, lengkap dengan akhlak yang baik, serta kepribadian yang terpuji. Bahkan Mash’ab dikenal memiliki pemikiran yang cerdas lagi bijaksana.
Mush’ab yang masih muda mendengar tentang munculnya seorang Nabi terpilih di kalangan kaum Quraisy. Seorang Nabi yang membaca ajaran tauhid. Didorong oleh rasa ingin tahunya yang besar, maka Mus'ab pun pergi menemui Nabi Muhammad Saw untuk mendengar sendiri ajaran yang dibawa oleh beliau. Suatu malam, Mus'ab memutuskan untuk pergi ke rumah Al-Arqaam Ibn Al-Arqaam - yang kemudian dikenal dengan Daar al-Arqaam di kalangan Muslim, meninggalkan teman-temannya yang sedang berkumpul. Di sinilah Mus'ab bertemu dengan Nabi Saw ketika itu, tanpa diketahui oleh orang-orang Quraisy. Di sinilah Mush'ab mendengar Rasulullah berbicara tentang masa depan Islam, mendengar ayat-ayat Al-Qur’an dan shalat di belakang Rasulullah Saw. Malam itu, Mush'ab duduk bersama Muslim lainnya, mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang dikumandangkan oleh Rasulullah Saw. Ketika itulah, Mush'ab lupa akan kesenangan hidup di dunia, menemukan kunci kebahagiaan abadi.
Ketika ia memutuskan diri untuk menganut ajaran Islam, seketika kehidupan Mush’ab berubah. Sang ibu yang semula sangat menyayangi anaknya, berubah menjadi ganas dan beringas, ketika Mush’ab mengikuti ajaran Rasulullah Saw. Berkali-kali Mush’ab dipenjara oleh keluarganya. Namun ia tetap teguh dengan keIslamannya.
Akhirnya, ketika penduduk Yastrib (Madinah) banyak yang ingin mempelajari Islam, Rasulullah Saw pun mengutus Mush’ab ibn Umair untuk mengajari mereka. Setiap hari Mush’ab menghabiskan waktunya untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada penduduk Yastrib. Sampai akhirnya tiba panggilan jihad di gunung Uhud.
Karena kelalaian pasukan pemanah di atas bukit, pasukan Islam yang tidak lama lagi akan memenangkan peperangan justru di serang balik dan terus menerus terdesak. Akhirnya banyak pasukan Muslim yang terbunuh dalam serangan balik itu. Bahkan Rasulullah Saw sendiri menderita luka-luka yang cukup parah.
Di tengah kepanikan seperti itu, Mush’ab dan beberapa sahabat lain menjadikan diri sebagai benteng hidup untuk melindungi Rasulullah Saw dari serangan musuh. Sambil memegang panji Islam, Mush’ab berteriak lantang membangkitkan semangat tempur ummat Islam. Ibn Qami’ah, seorang kavaleri Qurays, berusaha menerobos benteng hidup yang melindungi Rasulullah Saw dan mengayunkan pedangnya ke tubuh Mush’ab. Malang tak terhindarkan, pedang Qami’ah membabat putus tangan Mush’ab. Panji Islam terjatuh, namun Mush’ab segera meraihnya dengan tangan kiri. Melihat hal itu Qami’ah segera membabat tangan kiri sahabat Rasulullah itu. Sekali lagi panji Islam terjatuh. Namun Mush’ab masih berusaha meraih panji itu dengan kedua lengan yang tersisa. Namun apa boleh buat, dua penunggang kuda Qurays datang membantu Qami’ah. Mereka mengepung Mush’ab hingga ia gugur sebagai syuhada. Bahagialah Mush’ab ibn Umair.
Atas peristiwa itu turunlah firman Allah Swt kepada ummat Islam: “Janganlah kamu menduga bahwa orang-orang yang gugur  di jalan Allah itu mati, tetapi mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS Ali-‘Imraan 3: 169-170). Mush’ab sungguh beruntung, ia meninggal dalam keadaan membela agama Islam. Hari-harinya ia habiskan  untuk berdakwah mengajarkan Islam, membaca Al-Qur’an. Sungguh luar biasa Mush’ab ibn Umair. Kejadian yang menimpanya mengundang ayat suci Al-Qur’an turun untuk mejelaskan perihal Musha’ab yang sesungguhnya.
Oleh karena itu, marilah kita mengisi hari dan waktu kita untuk agama Allah secara mujahadah. Jangan mudah tergoda bujuk rayu nafsu atau janji-janji syeitan. Kese-nangan dunia hanyalah sementara, pergunakanlah hidup ini untuk akhirat. Hendaknya kita semua senantiasa mengisi waktu kita dengan amal shaleh, hingga saatnya kelak kita dipanggil oleh Allah dalam keadaan mulia lagi dirihai-Nya. Sungguh tiada jalan lain untuk sukses hakiki, seperti yang Mush’ab ibn Umair telah raih, selain ber-mujahadah dalam menjalankan perintah Allah Swt dan Rasul-Nya.

Beberapa hari lagi kita akan bertemu kembali dengan bulan suci Ramadhan, yang merupakan momentum yang tepat untuk melakukan muhasabah secara mujahadah untuk meraih sukses yang hakiki. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan.
Hermanto Harsolumakso
No. 154

1 komentar: