Selasa, 10 Januari 2012

HIDUP SEHAT SECARA ISLAMI (2)

Makanan Sehat Menurut Al-Qur’an



Al-Qur’an dan Hadits menggariskan rumusan umum ’halal’ dan ‘thayyib’ sebagai syarat utama dalam memilih makanan: “Hai manusia, makanlah (makanan) yang halal lagi baik (thayyib) yang ada di bumi,” (QS Al-Baqarah 2: 168). “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu,” (QS Al-Baqarah 2: 172).



Secara etimologi kata halalan berarti hal-hal yang boleh dan dapat dilakukan karena bebas atau tidak terikat dengan ketentuan-ketentuan yang melarangnya, atau diartikan sebagai segala sesuatu yang bebas dari bahaya duniawi dan ukhrawi. Sedang kata thayyib berarti lezat, baik, sehat, menenteramkan dan ‘paling utama. Dalam konteks makanan, kata thayyib berarti makanan yang tidak kotor dari segi zatnya atau rusak (kedaluwarsa), atau bercampur benda najis. Ada yang mengartikan makanan yang mengundang selera, namun sehat, proporsional dan aman. Sehingga secara bebas barangkali dapat dikatakan, pengertian ‘halal’ adalah sah secara hukum (fiqih Islam), dan ‘thayyib’ sesuai dengan persyaratan kebutuhan gizi dan hygienis.

Tubuh manusia membutuhkan makanan yang proporsional sesuai jumlah kalori yang masuk dengan energi yang dikeluarkan, karena pola konsumsi yang berlebihan akan dideposit tubuh dalam bentuk lemak yang pada tingkat tertentu menyebabkan kegemukan (obesitas). Firman Allah: “Makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhya Allah tidak senang terhadap orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al-A’raaf 7: 31)



Dalam Hadits Rasulullah Saw mengingatkan: “Tidak ada yang dipenuhkan manusia lebih buruk dari perut, cukuplah bagi putra Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Kalaupun harus (memenuhkan perut), maka hendaklah sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk pernapasan.” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, dan At-Tirmidzi melalui sahabat Nabi Miqdam bin Ma’di Karib).



Puasa Itu Menyehatkan



Puasa di bulan Ramadhan selama 29 atau 30 hari, di samping berfungsi ibadah untuk mencapai takwa, adalah sebuah momen untuk mengatur diri (self regulation) maupun melatih diri (self training) dan relevansi utama terhadap kesehatan adalah sebagai suatu momen untuk mengistirahatkan saluran pencernaan. Proses regenerasi sel-sel epitel lambung sebetulnya terjadi setiap hari, namun karena beban yang disangga oleh lambung membuat proses ini bisa tidak berjalan maksimal. Puasa memberi kesempatan untuk melakukan regenerasi sel-sel saluran pencernaan secara optimal, dengan catatan puasa dilakukan secara baik sesuai Sunnah Rasul dengan penekanan, saat berbuka puasa tidak terjadi “budaya balas dendam” yaitu dengan melampiaskan makan secara melampaui batas.



Disamping puasa Ramadhan, masih ada puasa sunnah yang juga dianjurkan untuk diamalkan, seperti puasa Senin dan Kamis, puasa Daud, serta puasa-puasa sunnah lainnya.



Hikmah Medis Gerakan-Gerakan Shalat



Seorang muslim melakukan gerakan-gerakan di dalam shalat wajib dalam sehari terdiri dari 17 rakaat. Gerakan shalat sebanayk 17 rakaat ini memberikan format 119 postur fisik setiap harinya, atau 3570 postur setiap bulan atau 43.435 postur setiap tahunnya. Belum lagi apabila ditambah dengan shalat sunnah seperti tahajjud, dhuha, rawatib, tahiyyatul masjid dan shalat sunnah lainnya, yang bisa mencapai 280 postur fisik setiap harinya. Interval dan gerakan shalat yang dilakukan secara rutin akan memelihara tubuh kita tetap aktif dengan gerakan-gerakan yang teratur, ringan, dan proporsional. Gerakan-gerakan tersebut menjadi ‘olah raga rutin berintensitas rendah’, yang kini sangat direkomendasikan oleh pakar aerobik, karena sangat bermanfaat, khususnya untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah (cardiovaskuler).



Gerakan shalat mempengaruhi sistem-sistem organ tubuh kita, terutama sistem muskuloskeletal (otot, tulang rangka, dan persendian), manuver perubahan-perubahan posisi yang dilakukan memanipulasi secara fisiologis keadaan banyak organ internal; sistem peredaran darah, jantung, sistem pernapasan, gerak saluran cerna, dan kandung kemis dsb. Performa shalat mengaktifkan otot-otot tubuh yang berbeda, dan juga mengaktifkan sendi-sendi dan tulang rangka. Terdapat kurang lebih 656 otot di dalam tubuh kita, yang beberapa bagian otot dalam gerakan shalat mengalami peregangan (stretching), pergerakan (kontraksi isometrik maupun isotonik) dan relaksasi. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang merawat kelenturan dan kekuatan otot dan tulang secara intensif.



Efek Kesehatan Membaca Al-Qur’an



Menurut Syaikh Mahmoud Christy, lafaz-lafaz dalam shalat berpengaruh terhadap kesehatan. Bacaan-bacaan shalat yang sebagian besar merupakan lafaz-lafaz pujian atau bacaan-bacaan Al-Qur’an menjadikan seseorang memiliki gelombang resonansi yang sama dengan alam di sekelilingnya. Kitab suci Al-Qur’an bukanlah suatu buku pengobatan, tetapi lebih tepatnya merupakan buku panduan menuju keselamatan hidup; yang di dalam kandungannya juga terdapat beberapa petunjuk yang mengarahkan upaya promosi kesehatan untuk menjalani hidup yang sehat. Oleh karena itu Al-Qur’an juga disebut Asy-syifa (Penyembuh). Allah menegaskan: “Wahai manusia, telah datang kepada kalian pelajaran berharga dari Tuhan kalian, penyembuh bagi penyakit-penyakit yang ada dalam dada, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS Yunus 10: 57). “Dan kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang beriman.”(QS Al-Israa’ 17: 82).



Efek psikologis Al-Qur’an; berupa keyakinan yang menenteramkan yang diperoleh dari membaca dan menyelami maknanya. Kemampuan internal Al-Quran terhadap penyembuhan salah satunya diyakini para ulama dalam bentuk ketika kita membacanya (meski tidak mengerti artinya). Rasulullah mengatakan setiap huruf yang diucapkan dalam membaca Al-Qur’an akan diganjar pahala kebaikan.



Lembaga Ilmu Kedokteran Islam di Negara bagian Florida, Amerika Serikat, telah mengadakan penelitian tentang pengaruh bacaan Al-Qur’an pada para pasien, dengan obyek penelitian pasien dari kaum muslimin Arab maupun non Arab, yang berbahasa Arab maupun bukan, atau yang non muslim sekalipun. Hasilnya sangat cemerlang, sekitar 97 % pasien menjadi mengendor jaringan dan organ sarafnya yang sebelumnya sangat tegang. Para pasien menjadi lebih tenang akibat pengaruh bacaan Al-Qur’an.



Penyembuhan Dengan Tuntunan Al-Qur’an



Ilmu kedokteran yang semakin maju menjadi harapan setiap orang untuk melawan berbagai penyakit dan upaya-upaya penyembuhannya. Bagi orang-orang yang mampu tidak segan mengeluarkan biaya berapapun untuk sehat terutama pada saat menderita suatu penyakit, setelah orang menyadari bahwa kesehatan itu mahal harganya. Namun segala upaya penyembuhan belumlah cukup kecuali diikuti dengan doa dan tawakal mohon keridhoan Allah.



Sesungguhnya Allah adalah Sang Pencipta segala sesuatu, Dialah Yang Mahakuasa dan Maha Pengasih atas segala sesuatu, tidak ada yang mampu memberi kasih sayang bila Dia tidak berkenan mengasihi. Dialah yang dengan kasih sayang-Nya, dan keagungan kekuasaan-Nya, Ia singkirkan segala bahaya. Allah berfirman: “(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku. Dan Tuhanku, yang Dia memberi makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” (QS Asy-Syu’araa’) 26: 78 – 82).



Karena itu, tidak ada obat melainkan dengan obat-Nya. Tidak ada kesehatan, melainkan dengan kesehatan-Nya. Demikian juga tidak ada kekuatan, melainkan dengan kekuatan-Nya. Allah berfirman: “Jika Allah menimpakan sesuatu bahaya padamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara para hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Yunus 10: 107).



Rasulullah Teladan Yang Sempurna



Banyak petunjuk dan teladan yang dapat digali dari biografi kehidupan Rasululah Saw, khususnya yang mempunyai kaitan dengan manfaat kesehatan. Dr Ade Hashman, penulis buku ‘Rasulullah Saw Tidak Pernah Sakit’, menyatakan bahwa banyak rumusan-rumusan baik dari Al-Qur’an maupun Hadits, yang telah dicoba digali dari biografi kehidupan Rasulullah Saw, khususnya yang mempunyai kaitan dengan manfaat kesehatan. Rasulullah memang tidak mengajarkan ilmu kedokteran kepada ummatnya, namun dalam perilaku kehidupan beliau, kita dapat menemukan aspek-aspek gaya hidup sehat. Dengan kata lain, dari sunnah-sunnahnya kita bisa belajar bagaimana seni mengelola hidup untuk memelihara kesehatan, bahkan meningkatkan status kesehatan (kebugaran), bukan untuk mempelajari penyembuhan penyakit atau pengobatan (kuratif).



Sebagai contoh, biasanya Nabi tidur di awal malam dan bangun pada 2/3 malam. Rasulullah bersabda: “Hendaklah kalian melaksanakan ‘qiyaamullail’ (shalat malam), karena qiyaamullail adalah tradisi orang-orang shalih sebelum kalian, mengusir penyakit dan mencegah dari dosa”. Dari interpretasi-interpretasi para pengamat, Rasulullah Saw tidak pernah tidur lebih dari 8 jam, yang pasti Nabi tidak pernah tidur melebihi kebutuhan, namun tidak pula menahan diri untuk tidak tidur.



Rasulullah biasa berjalan kaki ke masjid, pasar, medan jihad, mengunjungi rumah para sahabat dan sebagainya. Cara berjalan Nabi Saw diriwayatkan melangkah dengan cepat, di mana gaya berjalan demikian merupakan bentuk olah raga aerobik. Olah raga jalan cepat meningkatkan kemampuan detak jantung dan melatih pernapasan serta melatih sejumlah indra visual, peraba, propioseptik dan reseptor syaraf pada organ-organ.



Dari literatur-literatur kehidupan beliau, disebutkan bahwa sepanjang hidupnya Nabi Saw hanya sakit 2 kali saja. Menurut Haekal dalam ‘Sejarah Hidup Muhammad’, penyakit yang pernah dideritanya tidak lebih dari kehilangan nafsu makan pada tahun keenam Hijriyah, hingga tersiar rumor beliau disihir orang Yahudi. Satu penyakit lagi karena Nabi terrmakan daging beracun pada tahun ketujuh Hijrah.



Mengutip janji Allah dalam firman-Nya: “Sungguh! Telah ada dalam diri Rasulullah itu, contoh teladan yang baik bagimu ....” (QS Al-Ahzaab 33: 21). Setiap muslim yang menginginkan kebaikan pasti memiliki kemauan yang kuat untuk berproses lebih baik dengan meneladani sunnah-sunnah Rasul-Nya.



Sebagai penutup tulisan ini penulis ingin menyimpulkan dan sekaligus ikut mengkampanyekan motto: “Beribadahlah yang baik dan benar, karena di antara manfaat yang akan kita petik adalah kondisi kesehatan jasmani dan ruhani kita yang terpeliharanya bugar”.



Moh. Kamal Hs

No 135

3 komentar:

  1. Kalau baca tulisan No. 135, kita bangga bahwa Islam itu sehat , bersih, dan segala yang terbaik dari agama yang ada di dunia. Tapi kalau baca lajur kanan tulisan No. 2, negeri yang mayoritas muslim ini, ternyata kotor, jorok, bukan hanya sampah di mana-mana, manusianya juga kotor, makan dari sumber yang haram…… dst. Tak ada yang bisa kita banggakan dari keIslaman kita. Pripun niki? Apa yang salah? Tentu bukan Islamnya yang salah. Lalu Siapa yang salah. Umatnya atau ulamanya? Terserah pendapat pembaca yang lain.

    BalasHapus
  2. @Sumaryanto. Kalau kita simak tulisan No. 133 (Ulama Dalam Perspektif Imam Al Ghazali), maka dapat kita simpulkan bahwa kesalahan ada pada ulama. Pada umumnya ulama (muslim) lebih piawai menunjukkan ilmu agamanya daripada piawai mendidik umat.

    BalasHapus
  3. Kita harus memiliki ulama yang mampu berijtihad seperti Ari Ginanjar dan Mario Teguh yang bisa menjadi motivator, pendidik umat, yang menurut saya lebih baik dari pada ulama muslim seperti yang dikhawatirkan Imam Al Ghazali. Ada pula Yohanes Surya, guru besar Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Meskipun non muslim, beliau adalah anggota Dewan Wali Amanah Sekolah Tinggi Islam Assalamiyah Banten, di Serpong, Tangerang, dan telah mendorong generasi muda Indonesia menjurai berbagai olimpiade sains dan matematika internasional.

    BalasHapus