Minggu, 25 November 2012

MENCINTAI RASULULLAH SAW DENGAN SEMANGAT AMAR MA’RUF NAHYI MUNKAR

Beberapa bulan yang lalu kita dikejutkan oleh berita beredarnya film ‘Innocence of Muslim’, yang menghina Islam dan Nabi Muhammad Saw. Seperti diberitakan, cuplikan film itu telah menyulut aksi unjuk rasa di berbagai negara di Timur Tengah dan negara-negara Muslim lainnya termasuk Indonesia. Bahkan aksi protes di Libya telah memakan korban tewasnya Duta Besar Amerika Serikat dan beberapa staf kedutaan. Film yang berdurasi dua jam tersebut dibuat oleh seorang warga negara Amerika Serikat keturunan Israel - yang sekarang menjalani hukuman satu tahun penjara, di mana menurutnya disebutkan, “Islam adalah suatu kanker,” seperti yang disampaikan kepada ‘Associated Press’ dan ‘The Wall Street Journal’. Dalam film ini dikisahkan Nabi Muhammad Saw yang dijunjung tinggi ummat Islam, digambarkan sebagai sosok yang nista. Ummat Islam yang sangat mempercayai kesucian Nabi Muhammad Saw, tentu saja perilaku Nabi tidak dapat digambarkan dalam setiap keadaan apapun atau dibandingkan dengan siapapun.

Film yang beredar di ‘Youtube’ itu akhirnya ditutup di Indonesia atas permintaan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo). Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta ummat Islam di Indonesia tidak terprovokasi dengan adanya peredaran film “Innocence of Muslims’. Meskipun dinilai menghina Nabi Muhammad dan Islam, MUI meminta ummat Islam merespon film ini dengan kepala dingin. "Jangan reaksioner," kata Ketua MUI,

Semangat Mencintai Rasul

Semangat cinta Rasulullah oleh setiap Muslim menunjukkan kesetiaan terhadap ajaran Islam dan menjaga kehormatan Nabi Muhammad Saw. Namun kita harus tetap tenang tidak terbawa emosi. Dalam suatu unjuk rasa yang dilakukan dengan pengerahan massa akan memicu suasana yang rawan, kalau tidak dikendalikan dengan ketat baik oleh pengunjuk rasa mapun oleh parat keamanan. Apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan menjurus pada tindakan anarkis dan akibat kerusakan yang merugikan masyarakat, maka ummat Islam malah dianggap sebagai penyebab atau biang anarki yang akhirnya merugikan ummat Islam sendiri. Maka sebaiknya kita betindak dengan kepala dingin sambil kembali meninjau perintah Allah Swt dan mengikuti contoh-contoh Rasulullah Saw.

Muhammad Rasulullah Sebagai Suri Tauladan

Ummat Muslim dibekali dengan Al-Qur’an dan Hadits, di mana Al-Qur’an merupakan kumpulan firman-firman Allah yang terjaga keasilannya sampai akhir zaman nanti, sedangkan Hadits adalah rekaman ucapan dan perilaku Nabi Muhammad Saw, yang kebenarannya dijamin Allah Swt.

Allah Swt berfirman: 1. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzaab 33: 21). 2. “Dan taatilah perintah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS Ali Imran 3: 132). 3. *Barang siapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatannya itu), maka kami tidak mengutus Rasul untuk menjadi ‘penjaga’ mereka.” (QS An-Nisaa’ 4: 80). 4. “Ikutlah dia (Rasulullah) supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS Al-A’raaf 7: 158).

Agar dapat mengikuti perilaku Rasulullah Saw, maka di samping memiiki bekal keyakinan ilahiyah yang memadai, kita harus mengenal dengan baik siapa Rasulullah. Tidak mungkin kita dapat mengikuti perilaku seseorang yang tidak kita kenal dan tidak kita kagumi. Ibarat pepatah, ‘tidak kenal maka tak sayang’. Maka di sinilah tempatnya kita mencintai Rasul, karena itu sering-seringlah kita ‘mengucapkan shalawat’, dan mempelajari kehidupan beliau, serta melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar.

Shalawat Nabi

Mengapa kita harus mengucapkan shalawat bagi Nabi Muhammad Saw dalam setiap shalat dan doa kita, padahal beliau sudah pasti dijamin masuk surga oleh Allah? Shalawat tidak hanya dilakukan oleh manusia, namun Allah dan malaikat-malaikatnya pun mengucap shalawat untuk Nabi Muhammad Saw. Shalawat dari Allah bermakna memberi rakhmat, shalawat dari malaikat berarti memintakan ampunan (maghfirah), sedangkan shalawat dari orang Mukmin mempunyai makna doa agar ia diberi rakhmat.

Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS Al-Ahzaab 33: 56).

Sesuai perintah Allah tersebut, maka kita wajib bershalawat. “Allahumma shalli ‘alaa Muhammad” dan mengucapkan salam; “Assalamu’alaika ayyuhannabi ...” Bershalawat adalah salah satu cara untuk menanamkan ‘rasa cinta’ terhadap Nabi Muhammad Saw. Tidak diragukan lagi rasa cinta akan membuat seseorang rela berkorban dan mengikuti permintaan orang yang dicintainya. Allah Swt berfirman: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah dan bertaqwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukum-Nya.” (QS Al-Hasyr 59: 7).

Bershalawat akan menyebabkan para malaikat mendoakan kita. Rasulullah bersabda: “Siapa yang berdoa untuk orang lain, maka para malaikat akan mendoakannya dengan doa yang serupa.” Bershalawat merupakan ungkapan rasa terima kasih kepada Nabi Muhammad Saw. Bukankah kita patut berterima kasih kepade beiau yang telah berjuang dengan penuh penderitan dan kegigihan untuk menyampaikan risalah Allah kepada kita, yaitu agar kita dapat berbahagia di dunia dan ‘akhirat.

Amar ma’ruf nahyi munkar

Amar ma’ruf nahyi munkar, menganjurkan manusia berbuat baik dan mencegah berbuat kemungkaran. Hal ini secara tersurat menjadi kewajiban individu setiap ummat Islam. Perintah Rasulullah Saw: “Bila engkau melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tanganmu. Bila engkau tidak sanggup, maka ubahlah dengan perkataanmu. Bila engkau tidak sanggup juga, maka ubahlah dengan hatimu, itulah serendah-trendahnya iman.” Tentu saja hadits ini bukan dimaksudkan untuk menganjurkan kekerasan. Kata ‘mengubah dengan tanganmu’ berarti menggunakan kekuasaan dan kewenangan yang ada dengan cara-cara yang bijaksana dan berbudaya.

Kita ketahui Rasulullah tidak pernah berlaku kasar kepada paman-pamannya yang dengan nyata berbuat kemungkaran di depan matanya. Beliau juga tidak berlaku kasar terhadap orang-orang Quraisy yang memusuhinya. Ini bukan berarti iman beliau rendah. Mengapa mesti berlaku emosional dalam menegakkan ajaran Islam ini, bukankah Islam sendiri secara tegas melarang adanya pemaksaan untuk memeluk agama ini? Petunjuk Allah dalam Al-Qur’an sudah jelas, yaitu: “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang paling baik dan ramah. Sungguh Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui,” (QS An-Nahl 16:125).

Ada 4 (empat) pedoman yang harus dihayati dalam melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar, agar terhindar dari jebakan nafsu yang berjubah agama. Sejarah mencatat, banyak permusuhan timbul di kalangan ummat Islam yang diakibatkan oleh pemuasan ego yang berdalih amar ma’ruf nahyi munkar.

1. Pengamalan Hadits Jangan Mengabaikan Al-Qur’an 

Bila kita mempertahankan suatu pendapat yang berasal dari Hadits, maka berhati-hatilah jangan sampai akhirnya terjadi permusuhan. Al-Qur’an mengatakan bahwa sesama Muslim itu bersaudara (QS Al Hujuraat 49: 10) dan Allah murka kepada orang yang memutuskan tali persaudaraan.

Sebagai contoh seorang anak muda yang mengeluarkan kata-kata kasar atau tindakan yang tidak sepatutnya kepada orang-tuanya, hanya demi mempertahankan suatu hadits Padahal Al-Qur’an jelas menyatakan: 1. “Dan Kami wajibkan manusia berbuat kebaikan kepada kedua orang ibu bapaknya.” (QS Al-Ankabuut 29: 8). 2 “Dan rendahkanlah dirimu tehadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS Al-Israa’ 17: 24).

2. Tidak Perlu Memaksakan Pengertian 

Kita tidak perlu memaksakan ‘pengertian’ kepada seseorang, karena ayat Allah itu tidak akan dapat diterima oleh orang yang sedang buta mata hatinya. Allah Swt berfirman 1 “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al-Qashash 28: 56). 2 “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta mata hatinya dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan petunjuk Tuhan melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat Kami, mereka itulah orang yang berserah diri kepada Kami.” (QS Ar-Ruum 30: 53).* 3. “Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan ijin Allah, dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” (QS Yunus 10: 100). 4 “Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman sama saja untuk mereka baik engkau beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tetap tidak akan beriman.”(QS Al-Baqarah 2: 6).

3. Tidak Terbawa Emosi Dalam Berdebat 

Janganlah terbawa emosi dalam berdebat mengenai masalah agama, karena tidak ada kerugian sedikitpun bagi kita bila orang menolak kebenaran. Jika setelah diberi penjelasan dengan sungguh-sungguh ternyata orang itu masih juga tetap ingkar, tidak usah gusar atau kecewa. Tugas kita hanya sebatas menyampaikan, Allah yang menentukan hasilnya. Allah Swt berfirman: 1. “Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini kebenaran ayat-ayat Allah itu menggelisahkan kamu.” (QS Ar-Ruum 30: 60).“ 2. “Padahal tidak ada cela atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).” (QS ‘Abasa 80: 7). 3. “Barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (QS An-Nissa’ 4: 14).

4. Semua Amal Berdasarkan Ilmu 

Semua pekerjaan itu ada ilmunya, oleh karena itu janganlah menangani suatu pekerjaan hanya berdasarkan ‘kira-kira’ saja. Rasulullah Saw bersabda: “Apabila amanat disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya.” Berkata seseorang: “Bagaimana caranya menyia-nyiakan amanat ya Rasulullah?” Berkata Nabi: “Apabila dikerjakan sesuatu pekerjaan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR Al-Bukhari).

Demikian pula untuk mengoreksi atau meluruskan kesalahan pandangan seseorang perlu ilmu khusus yang dapat dipelajari, seperti dari teknik komunikasi yang telah banyak ditulis oleh para pakar komunikasi.

Dari beberapa pembahasan di atas dapat kita ambil sari kesimpulan, yaitu untuk ‘mencintai Rasulullah Saw’, yang harus kita bayangkan bukan gambaran fisiknya, tetapi keagungan pribadinya. Kita harus dapat mengembangkan diri sedemikian rupa sehingga tidak terpukau oleh keindahan lahiriah. Kita harus berusaha menembus rasa cinta yang hanya didasarkan hal-hal yang nyata. Keindahan yang bukan berada pada platform material, melainkan pada platform immaterial. Kalau kita senang suatu buku, jangan karena keindahan cover-nya, atau kemewahan kertasnya, tetapi karena kearifan dan kesejukan tulisannya.

Pelaksanaan amar ma’ruf nahyi munkar harus selalu diiringi nuansa bagaimana Rasulullah melakukannya. Bila tidak, amal yang suci seringkai tergelincir menjadi pemuasan nafsu belaka yang berdalih ibadah. Beberapa pengalaman sejarah menunjukkan, citra Islam sebagai agama yang membawa kesejahteraan seringkali ternoda karena ulah dari penganutnya sendiri yang kebablasan dihanyutkan emosi dalam melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar.

Dalam berdakwah terkait keimanan dan ketakwaan, tugas kita hanya sebatas menyampaikan saja, tidak memaksa orang untuk menerima apa yang kita ucapkan, Allah Swt berfirman: 1. “Dan tidak ada pertanggunganjawab sedikitpun atas orang-orang yang bertakwa terhadap dosa mereka; akan tetapi (kewajiban mereka ialah) mengingatkan agar mereka bertakwa.” (QS Al-An’aam 6: 69). 2. “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya.“ (QS Al-Baqarah 2: 272).

Terkait dengan provokasi melalui film ‘Innocence of Moslems’, hendaknya ummat Islam tidak terpancing dengan aksi-aksi kekerasan. Perasaan tersinggung sebagai ummat yang mencintai Nabi Muhammad Saw hendaklah diekspresikan dengan cara-cara berbudaya. Kejahatan yang dibalas dengan kejahatan hanya akan menjadikan Islam dipandang sebagai agama kekerasan.

Langkah yang tepat telah dilakukan pemerintah melalui Kemkominfo dengan memblok penayangan film tersebut di internet. Namun yang penting adalah ‘tindak lanjut pengawasannya’, jangan sampai kebobolan yang hanya akan memberi kesan tidak berwibawanya pemerintah. Kalau perlu sanksi yang tegas dengan menutup provider yang membandel. Demikian juga melalui jalur diplomasi harus secara intens dilakukan yang meliputi diplomasi kebudayaan, hak azasi manusia (HAM) dan keagamaan.

Demikian kiranya semoga kita selalu terjaga dari tindakan yang tidak terpuji dan menjaga diri agar setiap langkah amar ma’ruf nahyi munkar selalu dibimbing di jalan yang benar dan diridhai Allah Swt.
Mohammad Kamal 
No. 168

Tidak ada komentar:

Posting Komentar