Rabu, 05 Desember 2012

KEJAHATAN DAN MORAL BANGSA, KEKEJAMAN DAN EGOISME


Realitas menyadarkan kita bahwa pembangunan ekonomi Indonesia yang dibanggakan sebagai wujud keberhasilan pemerintahan Orde Baru, ternyata hanya berdiri di atas pondasi yang rapuh, karena digerogoti rayap-rayap korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Bukan itu saja, bangunan kebangaan tersebut akhirnya dibakar api konflik bernuansa komunal-primordial yang terus dikipasi isu-isu kejahatan trans-nasional dan terorisme.
Kondisi sosial selalu memperlihatkan perbedaan, baik pada tingkat individu maupun pada tingkat komunitas masyarakat. Perbedaan arau keragaman itu adalah suatu kewajaran atau keniscayaan atau hukum alam, yang dalam terminologi Islam disebut Sunnatullah. Baik setiap individu maupun komunitas masing-masing memiliki spesifikasi sejarah kehidupan, mempunyai karakter kejiwaan, dan meyakini nilai-nilai sosial-budaya dan keragaman tertentu pula. Semua fakor kolektif tadi akhirnya memandu pemikiran dan perilaku individu dan komunitas yang bersangkutan. Status kekayaan, usia, peran sosial menurut gender, keanggotaan individu dalam sebuah kelompok tertentu, ikut pula menggali jurang perbedaan antar individu maupun antar komunitas.
Berbagai perbedaan tersebut seringkali menjadi penyebab munculnya konflik, termasuk kejahatan yang semakin hari semakin marak. Kejahatan itu sendiri adalah perbuatan anti sosial yang melanggar hukum atau undang-undang yang dilakukan dengan sengaja, merugikan ketertiban umum dan yang dapat dihukum oleh negara.
KEJAHATAN DAN MORAL BANGSA
Realitas juga menunjukkan makin merosotnya ekonomi Indonesia berbanding lurus dengan merosotnya moral bangsa yang sekarang hangat diperbincangkan. Bahkan sebagian orang mengatakan bahwa bangsa ini sudah tidak memiliki moral. Merosotnya moral bangsa ini tercermin dari kejahatan di Indonesia yang semakin meningkat. Setiap hari kita mendengar berita kejahatan seperti korupsi, terorisme, perdagangan narkoba, pembunuhan, perampokan, dan sebagainya, dan sebagian besar media massa menyajikan peristiwa kejahatan tersebut sebagai menu utamanya. Beberapa di antaranya bahkan sudah menjadi tontonan sehari-hari bagi sebagian pemirsa televisi di negeri ini.
Ada beberapa sebab rusaknya moral bangsa Indonesia. Pertama, pengaruh buruk budaya luar yang tidak dapat dipungkiri telah merusak moral bangsa ini. Misalnya saja pergaulan asusila yang bebas.
Kedua, kurangnya nilai-nilai agama di Indonesia yang penduduknya mengaku beragama, terutama agama Islam yang dipeluk mayoritas bangsa ini. Kegiatan keagamaan memang sangat marak, tetapi nilai-nilai agama sebagian besar bangsa ini sudah tidak dominan lagi. Jika agama yang kita miliki kuat, maka tentu saja orang akan takut berbuat dosa sehingga paling tidak kejahatan akan sangat minim di negeri ini. Jika para penguasa negeri ini memiliki landasan agama yang baik (takwa), tentu mereka tidak berani melakukan korupsi uang rakyat. Hal yang sama juga berlaku untuk masyarakat pada umumnya.
Ketiga, kesalahan sistem pendidikan Indonesia. Seperti kita ketahui anak-anak menghabiskan banyak waktunya di dalam sekolah. Sayangnya sekolah sekarang hanya identik untuk mencari ilmu duniawi saja, memang ada sekolah yang juga mengajarkan aspek moral, tetapi porsinya hanya sedikit. Kenyataan yang tampak dengan kasat mata, betapa para pelajar dan mahasiswa sering tawuran hingga jatuh korban, merusak dan membakar fasiilitas belajar, yang menimbulkan kecemasaan dan ketakutan, melakukan tindak kriminal, terjerat kejahatan narkoba, hubungan seks bebas, dan penyakit sosial lainnya  
Prof. Thomas Lickona, pakar pendidikan dari Universitas New York, Amerika Serikat, menyebutkan 10 (sepuluh) indikator yang menunjukkan kualitas moral kehidupan masyarakat, dilihat dari perilaku manusia yang mengarah kepada kehancuran suatu bangsa, yaitu: 1. Meningkatnya kekerasan di kalangan muda (remaja dan pemuda). 2. Ketidakjujuran makin meluas, 3. Menurunnya penghormatan hormat kepada orangtua, guru, dan figur pemimpin. 4. Pengaruh peer group - kesamaan berdasarkan umur, latar belakang, status sosial lingkungan yang menentukan kesamaan sikap - terhadap tindak kekerasan. 5. Meningkatnya kecurigaan dan kebencian. 6. Penggunaan bahasa yang memburuk. 7. Penurunan kualitas etika kerja. 8. Penurunan rasa tanggungjawab individu dan warga negara, 9. Meningkatnya perilaku merusak. 10. Semakin kaburnya pedoman moral.
Kebetulan kesepuluh indikator tentang ciri-ciri penurunan kualitas moral tersebut kini sudah terjadi di Indonesia, yang sangat berpotensi menghancurkan bangsa. Hal ini jelas sudah tergambar melalui wajah media massa kita. Di negara maju seperti Jepang misalnya, dikenal istilah ‘media massa adalah cermin kehidupan masyarakat’, termasuk kalangan media massa sendiri - di mana mereka sangat obyektif dan adil dalam pemberitaan dan analisis berita. Tetapi hal ini tidak berlaku umum secara global, karena di beberapa negara termasuk Indonedia, tidak sedikit media massa yang dikuasai dan dikendalikan oleh kekuatan politik / ekonomi tertentu, dan secara global termasuk kekuatan kaum Yahudi dan Nasrani.
Lalu bagaimana agar bangsa ini mampu bertahan dari kehancuran dan kemudian bangkit berkembang? Jawaban yang relevan adalah dengan menghadapi dan mengatasi tiga hal yang berpotensi menghancurkan bangsa ini yaitu:
Pertama. Pembangunan ekonomi agar kesejahteraan dicapai oleh rakyat secara luas. Kekayaan alam Indonesia sangat potensial untuk dikelola dan dimanfaatkan secara optimal agar tak ada lagi rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Kedua. Kebodohan yang harus diperangi dengan program pendidikan bagi semua kalangan baik secara formal maupun informal.
Ketiga. Kebobrokan moral harus diberantas agar individu-individu terhindar dari perilaku yang merugikan diri, orang lain, dan masyarakat. Moralitas berkaitan dengan aktivitas manusia yang dipandang baik atau tindakan yang benar, adil, dan wajar. Karena itu masyarakat atau bangsa yang bermoral akan senantiasa mengutamakan dan menjunjung tinggi dan nilai-nilai moral.
Ketiga musuh tersebut harus secara simultan dan serius diperangi, tidak bisa setengah hati.  Kita memaklumi bahwa pemerintah telah membuat berbagai program dan rencana untuk membuat bangsa ini pulih dari krisis. Berbagai strategi dan pendekatan pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat banyak dilakukan. Hal tersebut bahkan menjadi agenda utama. Demikian pula upaya meningkatkan taraf pendidikan banyak program yang disusun. Wajib belajar adalah salah satu upaya untuk membuat bangsa ini terbebas dari belenggu kebodohan. Untuk mencapai kemajuan dan peningkatan kesejahteraan suatu bangsa dibutuhkan sumber daya alam (SDA). Indonesia memiliki SDA yang sangat kaya baik di luar maupun di perut bumi, di daratan dan di lautan.
Namun SDA saja tidak cukup, diperlukan pula sumber daya manusia (SDM) yang baik. Hutan di negara kita terkenal sangat luas dan kaya keragamannya namun dengan adanya pembalakan hutan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, maka hutan kita rusak dan tidak termanfaatkan untuk kesejahteraan bersama. Demikian pula dengan korupsi yang di berbagai instansi yang ujungnya akan menghancurkan sendi kehidupan bangsa, dan karenanya harus diberantas tuntas.  

KEKEJAMAN DAN EGOISME

Sesungguhnya kejahatan yang terjadi di Indonesia bukanlah kejahatan biasa, tetapi sudah tergolong kekejaman, sadis dan sebutan lain yang paling buruk dalam ‘peringkat’ kekejaman, karena kejahatan itu telah mencapai sasaran terhadap orang yang tidak bersalah dalam hal pembunuhan, mutilasi, penculikan, pembuangan bayi, pemerkosaan, dan sebagainya. Menghadapi kekejaman itu hukum apakah yang setimpal kita terapkan?

Allah Swt berfirman: “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan ia telah membunuh manusia seluruhnya. dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (QS Al-Maaidah 5: 32).  Sesungguhnya hukum ini bukanlah hanya mengenai Bani Israil saja, tetapi juga mengenai manusia seluruhnya. Allah memandang bahwa membunuh seorang yang tidak bersalah itu sebagai membunuh manusia seluruhnya, karena orang seorang itu adalah anggota masyarakat dan karena membunuh seseorang berarti juga membunuh keturunannya. Demikian kadar berat hukuman bagi tindak kekejaman.

Di samping itu Allah juga akan mengazab pembunuh Mukmin dengan sengaja sebagaimana fitman-Nya: “Dan Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS An-Nisaa’: 93). Apakah masih menganggap bahwa kekejaman pembunuhan itu masalah biasa saja? Karena itulah Rasulullah Saw menegaskan kekejaman pembunuhan yang direncanakan. pelakunya diancam siksa di neraka yang sangat dahsyat dan tidak mendapatkan baunya surga. Percaya atau tidak, ancaman neraka itu adalah kebenaran mutlak, yang kelak pasti akan terjadi. Ketahuilah bahwa harga satu nyawa Muslim yang tidak bersalah tetapi dibunuh itu masih lebih berat nilainya dibanding hilangnya dunia dan seisinya. 

Seperti kita ketahui, dalam diri manusia terdapat dua unsur, yaitu jasmani dan ruhani. Kita perlu mengenal diri sendiri agar kita bisa mensyukuri apa saja yang telah dianugerahkan Allah Swt, supaya kita bisa mendapatkan kebahagiaan di akhirat tanpa melupakan mencari bagian dari kenikmatan duniawi di saat kita sekarang hidup. Dengan demikian kita bisa memadukan jasmani dan ruhani itu secara harmonis, agar sepanjang hidup kita, keduanya dapat berinteraksi dan berfungsi dengan baik dalam menjalani kehidupan di dunia menuju kehidupan akhirat sesuai tuntunan agama.
Dalam mengenal diri sendiri, kita juga perlu mengenal kekuatan dahsyat yang menguasai diri kita yaitu nafsu. Kekuatan itu harus kita kenali, agar kita bisa mengendalikan dan memanfaatkannya untuk kepentingan pengabdian kita kepada Allah Swt. Pada umumnya nafsu diartikan sebagai emosi yang menyuruh manusia melakukan keburukan. Tetapi, dengan memanfaatkan kecerdasan emosionalnya, manusia mampu mengendalikan nafsunya, untuk maksud kebaikan. Jika tidak dikendalikan maka nafsu itu akan merugikan dan  merusak manusia itu sendiri dan orang lain.
Salah satu nafsu yang tidak mudah dikendalikan adalah egoisme. Egoisme adalah kejahatan dan dipandang sebagai pelanggaran moral karena mengabaikan kepentingan orang lain. Egoisme membuat manusia jauh dari kebenaran dan menyimpang dari petunjuk Allah Swt. Karena itu, manusia disuruh mengendalikan egoismenya.
Usaha manusia dalam perjuangan melawan egoisme ini bertingkat-tingkat, tergantung kemampuan dan kekuatan imannya. Imam Al-Ghazali menyebutkan ada tiga tingkatan manusia yang berkaitan dengan nafsu dan egoisme.
Pertama, orang yang sepenuhnya dikuasai oleh nafsunya dan sama sekali tidak dapat melawannya. Hal ini adalah keadaan manusia pada umumnya karena ia telah mempertuhankan hawa nafsunya sebagaimana dimaksud firman Allah Swt: ''Maka, pernahkah kamu melihat orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.'' (QS Al-Jaatsiyah 45: 23).
Kedua, orang yang senantiasa dalam pertarungan melawan hawa nafsu. Pada suatu kali ia menang dan pada kali yang lain ia kalah. Kalau maut merenggutnya dalam pertarungan ini, maka ia tergolong mati syahid. Dikatakan demikian, karena ia sedang dalam perjuangan melawan hawa nafsu sesuai perintah Rasulullah Saw: ''Berjuanglah kamu melawan hawa nafsumu sebagaimana kamu berjuang melawan musuh-musuhmu.'' Ini adalah tingkatan manusia yang tinggi di bawah para nabi dan wali-wali Allah.
Ketiga, orang yang sepenuhnya dapat menguasai dan mengendalikan nafsunya. Inilah orang yang mendapat rahmat Allah, sehingga terjaga dan terpelihara dari dosa-dosa dan maksiat. Ini merupakan tingkatan para nabi dan wali-wali Allah. Dalam perjuangan melawan nafsu, manusia dituntut ekstra hati-hati dan waspada secara terus-menerus, supaya ia jangan tertipu (ghuruur).
Dalam kaitan ini, diperlukan sikap waspada karena sering timbul kerancuan antara perintah akal (kebaikan) dan nafsu (keburukan). Berbeda dengan nafsu, akal secara umum menyuruh manusia kepada kebaikan. Namun, suatu saat kita bisa ragu-ragu dan tidak mampu mengidentifikasi dan menetapkan pilihan. Dalam situasi demikian, Imam Al-Ghazali menganjurkan agar kita berpihak dan memilih sesuatu yang menyusahkan daripada yang menyenangkan. Alasannya, kebaikan pada umumnya menuntut kerja keras dan pengorbanan, sehingga terkesan menyusahkan. Maka Rasulullah Saw bersabda: ''Surga dipagari oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka diliputi oleh hal-hal yang menyenangkan.' Waspadalah!
Hermanto Harsolumakso
No.169

4 komentar:

  1. Kejahatan dan kekejaman seperti sekarang ini tidak tampak di zaman orde baru, tapi sekarang kok jadi banyak. Kenapa yah?

    BalasHapus
  2. @Priyono. Itulah efek samping gerakan reformasi yang tak bisa dikendalikan aparat kamtib yang tidak tegas kewenangannya. Bangsa ini harus diawasi ketat seperti di zaman orde baru. Masakah polisi, tentara ditembaki otk tak bisa mengatasi, apalagi buruh di Papua.

    BalasHapus
  3. JSM sudah meyediakan resep SPMMI untuk melawan kehancuran bangsa, yang berlaku sepanjang zanan, baik di zaman orde baru maupn zaman reformasi. Tinggal dibeli obatnya dengan niat dan gratis. Kemudian diminum sebanyak mungkin - diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik di bidang ubudiah maupun muamalah. Resep ini manjur untuk mencegah kehancuran moral bangsa sekaligus untuk membangun moral bangsa.

    BalasHapus