Realitas
menyadarkan kita bahwa pembangunan ekonomi Indonesia yang dibanggakan sebagai
wujud keberhasilan pemerintahan Orde Baru, ternyata hanya berdiri di atas
pondasi yang rapuh, karena digerogoti rayap-rayap korupsi, kolusi, dan
nepotisme (KKN). Bukan
itu saja, bangunan kebangaan
tersebut
akhirnya
dibakar api konflik bernuansa komunal-primordial yang terus dikipasi isu-isu
kejahatan trans-nasional dan terorisme.
Kondisi sosial selalu memperlihatkan perbedaan, baik pada tingkat individu
maupun pada tingkat komunitas masyarakat. Perbedaan arau keragaman itu adalah
suatu kewajaran atau keniscayaan atau hukum alam, yang dalam terminologi Islam
disebut Sunnatullah. Baik setiap individu maupun komunitas masing-masing
memiliki spesifikasi sejarah kehidupan, mempunyai karakter kejiwaan, dan
meyakini nilai-nilai sosial-budaya dan keragaman tertentu pula. Semua fakor kolektif tadi akhirnya
memandu pemikiran dan perilaku individu dan komunitas yang bersangkutan. Status
kekayaan, usia, peran sosial menurut gender, keanggotaan individu dalam sebuah
kelompok tertentu, ikut pula menggali jurang perbedaan antar individu maupun
antar komunitas.
Berbagai
perbedaan tersebut seringkali menjadi penyebab munculnya konflik, termasuk
kejahatan yang semakin hari
semakin marak. Kejahatan itu sendiri adalah perbuatan anti sosial yang
melanggar hukum atau undang-undang yang dilakukan dengan sengaja, merugikan
ketertiban umum dan yang
dapat dihukum oleh negara.
KEJAHATAN DAN MORAL BANGSA
Realitas juga menunjukkan makin merosotnya ekonomi Indonesia berbanding
lurus dengan merosotnya moral bangsa yang sekarang hangat diperbincangkan. Bahkan
sebagian orang mengatakan bahwa bangsa ini sudah tidak memiliki moral. Merosotnya moral bangsa ini tercermin
dari kejahatan di Indonesia yang semakin meningkat. Setiap hari kita mendengar berita
kejahatan seperti korupsi, terorisme, perdagangan narkoba, pembunuhan,
perampokan, dan sebagainya, dan sebagian besar media massa menyajikan peristiwa
kejahatan tersebut sebagai menu utamanya. Beberapa di antaranya bahkan sudah menjadi tontonan sehari-hari bagi sebagian pemirsa televisi
di negeri ini.
Ada
beberapa sebab rusaknya
moral bangsa Indonesia. Pertama, pengaruh buruk budaya
luar yang tidak dapat
dipungkiri telah merusak moral bangsa ini. Misalnya saja pergaulan asusila yang
bebas.
Kedua, kurangnya nilai-nilai agama di Indonesia yang penduduknya mengaku beragama, terutama agama Islam
yang dipeluk mayoritas bangsa ini. Kegiatan keagamaan memang sangat marak, tetapi
nilai-nilai agama sebagian besar bangsa ini sudah tidak dominan lagi. Jika
agama yang kita miliki kuat, maka tentu saja orang akan takut berbuat dosa
sehingga paling tidak kejahatan akan sangat minim di negeri ini. Jika para penguasa
negeri ini memiliki landasan agama yang baik (takwa), tentu mereka tidak berani
melakukan korupsi uang rakyat. Hal yang sama juga berlaku untuk masyarakat pada
umumnya.
Ketiga, kesalahan sistem pendidikan
Indonesia. Seperti kita ketahui anak-anak menghabiskan
banyak waktunya di dalam sekolah. Sayangnya sekolah sekarang hanya identik
untuk mencari ilmu duniawi saja, memang ada sekolah yang juga
mengajarkan aspek moral, tetapi porsinya
hanya sedikit.
Kenyataan
yang tampak dengan kasat mata, betapa para pelajar dan mahasiswa sering tawuran
hingga jatuh korban, merusak dan membakar fasiilitas belajar, yang menimbulkan
kecemasaan dan ketakutan, melakukan tindak kriminal, terjerat kejahatan narkoba,
hubungan seks bebas, dan penyakit sosial lainnya
Prof. Thomas Lickona, pakar pendidikan dari Universitas New York, Amerika
Serikat, menyebutkan 10 (sepuluh) indikator yang menunjukkan kualitas moral
kehidupan masyarakat, dilihat dari perilaku manusia yang mengarah kepada kehancuran
suatu bangsa, yaitu: 1. Meningkatnya kekerasan di kalangan muda (remaja dan
pemuda). 2. Ketidakjujuran makin meluas, 3. Menurunnya penghormatan hormat
kepada orangtua, guru, dan figur pemimpin. 4. Pengaruh peer group - kesamaan
berdasarkan umur, latar belakang, status sosial lingkungan yang menentukan kesamaan
sikap - terhadap tindak kekerasan. 5. Meningkatnya kecurigaan dan kebencian. 6.
Penggunaan bahasa yang memburuk. 7. Penurunan kualitas etika kerja. 8. Penurunan
rasa tanggungjawab individu dan warga negara, 9. Meningkatnya perilaku merusak.
10. Semakin kaburnya pedoman moral.
Kebetulan kesepuluh indikator tentang ciri-ciri penurunan kualitas moral tersebut
kini sudah terjadi di Indonesia, yang sangat berpotensi menghancurkan bangsa.
Hal ini jelas sudah tergambar melalui wajah media massa kita. Di negara maju seperti Jepang
misalnya, dikenal istilah ‘media massa adalah cermin kehidupan masyarakat’,
termasuk kalangan media massa sendiri - di mana mereka sangat obyektif dan adil
dalam pemberitaan dan analisis berita. Tetapi hal ini tidak berlaku umum secara
global, karena di beberapa negara termasuk Indonedia, tidak sedikit media massa
yang dikuasai dan dikendalikan oleh kekuatan politik / ekonomi tertentu, dan
secara global termasuk kekuatan kaum Yahudi dan Nasrani.
Lalu
bagaimana agar bangsa ini mampu bertahan dari kehancuran dan kemudian bangkit berkembang? Jawaban yang
relevan adalah dengan menghadapi dan mengatasi tiga hal yang berpotensi
menghancurkan bangsa ini yaitu:
Pertama. Pembangunan ekonomi agar kesejahteraan dicapai oleh rakyat secara
luas. Kekayaan
alam Indonesia sangat potensial untuk dikelola dan dimanfaatkan secara optimal agar tak ada lagi rakyat
yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Kedua. Kebodohan
yang
harus diperangi
dengan program pendidikan bagi semua kalangan baik secara formal maupun
informal.
Ketiga. Kebobrokan
moral harus diberantas agar individu-individu terhindar dari perilaku yang
merugikan diri, orang lain, dan masyarakat. Moralitas berkaitan dengan
aktivitas manusia yang dipandang baik atau tindakan yang benar, adil, dan
wajar. Karena itu masyarakat atau bangsa yang bermoral akan senantiasa mengutamakan
dan menjunjung tinggi dan
nilai-nilai moral.
Ketiga
musuh tersebut harus secara simultan dan serius diperangi, tidak bisa
setengah hati. Kita memaklumi bahwa pemerintah telah membuat berbagai
program dan rencana untuk membuat bangsa ini pulih dari krisis. Berbagai
strategi dan pendekatan pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan
rakyat banyak dilakukan. Hal tersebut bahkan menjadi agenda utama. Demikian pula upaya meningkatkan taraf
pendidikan banyak program yang disusun. Wajib belajar adalah salah satu upaya
untuk membuat bangsa ini terbebas dari belenggu kebodohan. Untuk mencapai kemajuan dan peningkatan
kesejahteraan suatu bangsa dibutuhkan sumber daya alam (SDA). Indonesia memiliki SDA yang sangat kaya baik di
luar maupun di perut bumi, di daratan dan di lautan.
Namun
SDA saja tidak cukup, diperlukan pula
sumber daya
manusia (SDM) yang baik.
Hutan di negara kita terkenal sangat luas dan kaya keragamannya namun dengan
adanya pembalakan hutan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, maka hutan kita rusak dan tidak
termanfaatkan untuk kesejahteraan bersama. Demikian pula dengan korupsi yang di berbagai instansi yang ujungnya akan menghancurkan sendi
kehidupan bangsa, dan karenanya harus diberantas tuntas.
KEKEJAMAN DAN EGOISME
Sesungguhnya kejahatan yang terjadi di Indonesia bukanlah kejahatan biasa, tetapi sudah tergolong kekejaman, sadis dan sebutan lain yang paling buruk dalam ‘peringkat’ kekejaman, karena kejahatan itu telah mencapai sasaran terhadap orang yang tidak bersalah dalam hal pembunuhan, mutilasi, penculikan, pembuangan bayi, pemerkosaan, dan sebagainya. Menghadapi kekejaman itu hukum apakah yang setimpal kita terapkan?
KEKEJAMAN DAN EGOISME
Sesungguhnya kejahatan yang terjadi di Indonesia bukanlah kejahatan biasa, tetapi sudah tergolong kekejaman, sadis dan sebutan lain yang paling buruk dalam ‘peringkat’ kekejaman, karena kejahatan itu telah mencapai sasaran terhadap orang yang tidak bersalah dalam hal pembunuhan, mutilasi, penculikan, pembuangan bayi, pemerkosaan, dan sebagainya. Menghadapi kekejaman itu hukum apakah yang setimpal kita terapkan?
Allah Swt berfirman: “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan ia telah membunuh manusia seluruhnya. dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (QS Al-Maaidah 5: 32). Sesungguhnya hukum ini bukanlah hanya mengenai Bani Israil saja, tetapi juga mengenai manusia seluruhnya. Allah memandang bahwa membunuh seorang yang tidak bersalah itu sebagai membunuh manusia seluruhnya, karena orang seorang itu adalah anggota masyarakat dan karena membunuh seseorang berarti juga membunuh keturunannya. Demikian kadar berat hukuman bagi tindak kekejaman.
Di samping itu Allah juga akan mengazab pembunuh Mukmin dengan sengaja
sebagaimana fitman-Nya: “Dan Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan
sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka
kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS An-Nisaa’: 93). Apakah masih menganggap bahwa
kekejaman pembunuhan itu masalah biasa saja? Karena itulah Rasulullah Saw menegaskan kekejaman pembunuhan yang direncanakan.
pelakunya diancam siksa di neraka yang sangat dahsyat dan tidak mendapatkan
baunya surga. Percaya atau
tidak, ancaman neraka itu adalah kebenaran mutlak, yang kelak pasti akan
terjadi. Ketahuilah
bahwa harga satu nyawa Muslim yang tidak bersalah tetapi dibunuh itu
masih lebih berat nilainya dibanding hilangnya dunia dan seisinya.
Seperti kita ketahui, dalam
diri manusia terdapat dua unsur, yaitu jasmani dan ruhani. Kita perlu mengenal diri sendiri agar kita bisa mensyukuri apa saja yang telah dianugerahkan
Allah Swt, supaya kita bisa mendapatkan
kebahagiaan di akhirat tanpa melupakan mencari bagian
dari kenikmatan duniawi di saat kita sekarang hidup. Dengan demikian kita bisa
memadukan jasmani dan ruhani itu secara harmonis, agar sepanjang hidup kita,
keduanya dapat berinteraksi dan berfungsi dengan baik dalam menjalani kehidupan
di dunia menuju kehidupan akhirat sesuai tuntunan agama.
Dalam mengenal diri sendiri, kita juga perlu mengenal kekuatan
dahsyat yang menguasai diri kita yaitu nafsu. Kekuatan itu harus kita kenali,
agar kita bisa mengendalikan
dan memanfaatkannya untuk kepentingan pengabdian kita kepada Allah Swt. Pada umumnya nafsu diartikan
sebagai emosi yang menyuruh manusia melakukan keburukan. Tetapi, dengan memanfaatkan kecerdasan
emosionalnya, manusia mampu mengendalikan
nafsunya, untuk maksud kebaikan. Jika tidak dikendalikan maka nafsu
itu akan merugikan dan merusak manusia itu sendiri dan orang lain.
Salah satu nafsu yang tidak mudah dikendalikan adalah
egoisme. Egoisme
adalah kejahatan dan dipandang sebagai pelanggaran moral karena mengabaikan
kepentingan orang lain. Egoisme membuat manusia jauh dari kebenaran dan
menyimpang dari petunjuk Allah Swt. Karena itu, manusia disuruh mengendalikan
egoismenya.
Usaha
manusia dalam perjuangan melawan egoisme ini bertingkat-tingkat, tergantung kemampuan
dan kekuatan imannya. Imam Al-Ghazali menyebutkan ada tiga tingkatan manusia
yang berkaitan dengan nafsu dan egoisme.
Pertama, orang yang sepenuhnya dikuasai oleh nafsunya dan sama sekali tidak
dapat melawannya. Hal ini adalah keadaan manusia pada umumnya karena ia telah
mempertuhankan hawa nafsunya sebagaimana dimaksud firman Allah Swt: ''Maka,
pernahkah kamu melihat orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai
tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.'' (QS Al-Jaatsiyah 45: 23).
Kedua,
orang yang senantiasa dalam pertarungan melawan hawa nafsu. Pada suatu kali ia
menang dan pada kali yang lain ia kalah. Kalau maut merenggutnya dalam
pertarungan ini, maka ia tergolong mati syahid. Dikatakan demikian, karena ia
sedang dalam perjuangan melawan hawa nafsu sesuai perintah Rasulullah Saw: ''Berjuanglah
kamu melawan hawa nafsumu sebagaimana kamu berjuang melawan musuh-musuhmu.''
Ini adalah tingkatan manusia yang tinggi di bawah para nabi dan wali-wali
Allah.
Ketiga,
orang yang sepenuhnya dapat menguasai dan mengendalikan nafsunya. Inilah orang
yang mendapat rahmat Allah, sehingga terjaga dan terpelihara dari dosa-dosa dan
maksiat. Ini merupakan tingkatan para nabi dan wali-wali Allah. Dalam
perjuangan melawan nafsu, manusia dituntut ekstra hati-hati dan waspada secara
terus-menerus, supaya ia jangan tertipu (ghuruur).
Dalam
kaitan ini, diperlukan sikap waspada karena sering timbul kerancuan antara
perintah akal (kebaikan) dan nafsu (keburukan). Berbeda dengan nafsu, akal
secara umum menyuruh manusia kepada kebaikan. Namun, suatu saat kita bisa
ragu-ragu dan tidak mampu mengidentifikasi dan menetapkan pilihan. Dalam
situasi demikian, Imam Al-Ghazali menganjurkan agar kita berpihak dan memilih
sesuatu yang menyusahkan daripada yang menyenangkan. Alasannya, kebaikan pada
umumnya menuntut kerja keras dan pengorbanan, sehingga terkesan menyusahkan. Maka Rasulullah Saw bersabda: ''Surga
dipagari oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka diliputi oleh
hal-hal yang menyenangkan.' Waspadalah!
Hermanto
Harsolumakso
No.169
Kejahatan dan kekejaman seperti sekarang ini tidak tampak di zaman orde baru, tapi sekarang kok jadi banyak. Kenapa yah?
BalasHapus@Priyono. Itulah efek samping gerakan reformasi yang tak bisa dikendalikan aparat kamtib yang tidak tegas kewenangannya. Bangsa ini harus diawasi ketat seperti di zaman orde baru. Masakah polisi, tentara ditembaki otk tak bisa mengatasi, apalagi buruh di Papua.
BalasHapusJSM sudah meyediakan resep SPMMI untuk melawan kehancuran bangsa, yang berlaku sepanjang zanan, baik di zaman orde baru maupn zaman reformasi. Tinggal dibeli obatnya dengan niat dan gratis. Kemudian diminum sebanyak mungkin - diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik di bidang ubudiah maupun muamalah. Resep ini manjur untuk mencegah kehancuran moral bangsa sekaligus untuk membangun moral bangsa.
BalasHapusSetuju Al-Mustaqiim.
BalasHapus