MENJAGA DARI SIKAP YANG DIBENCI ALLAH
Setiap Muslim seharusnya selalu melangkah dalam kehidupan di dunia ini dengan
didasari niat beribadah karena Allah, karena dalam dirinya dibimbing dengan
tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Namun sebagai manusia pada zaman ‘modern’
seperti sekarang ini, banyak orang mengalami godaan atau kilauan dunia yang
kadang-kadang menyebabkan suatu cobaan atas keimanannya.
Dalam beberapa keadaan sangat tipis perbedaan antara ‘amal baik’ dengan
‘pamrih’, antara ‘bangga’ dengan ‘sombong’, bahkan perbuatan yang dilakukan
atas nama ‘amar ma’ruf nahyi munkar’ dapat tergeser oleh ‘kepentingan pribadi’. Namun masih ada upaya untuk
menjaga diri dari bermacam penyakit akhlak tercela seperti; zhalim, dengki, bohong,
ria’, ujub dan sombong.
Zhalim
Orang Islam tidak boleh menganiaya dan jangan mau dianiaya. Maka kezhaliman
tidak boleh muncul dari orang Islam dan jangan pula dirinya mau dianiaya oleh siapapun.
Sebab kezhaliman itu dengan ketiga macamnya diharamkan dalam Al-Qur’an dan Hadits.
Allah Swt berfirman: “Dan barang siapa di antara kamu orang berbuat zhalim,
niscaya Kami rasakan kepadanya azab yang besar” (QS Al-Furqaan
25: 19). Firman Allah yang diriwayatkan oleh Nabi: “Hai
hamba-hamba-Ku. Sesungguhnya Aku haramkan zhalim itu atas diri-Ku dan Aku
haramkan zhalim itu di antara sesamamu. Maka janganlah saling zhalim.” (HR Muslim). Dari sabda Rasulullah
Saw: 1. “Takutlah
berbuat zhalim, karena zhalim itu adalah kegelapan di hari kiamat” (HR Muslim). 2. ”Takutlah kamu dengan doa orang yang teraniaya, karena antara doanya
dengan Allah tidak ada penghalang.” (Muttafaq ‘alaih).
Zhalim itu ada tiga macam:
- Zhalim terhadap Tuhan, yaitu kufur kepada-Nya. Allah Swt berfirman: 1.“Dan orang-orang kafir itulah orang yang zhalim (QS Al Baqarah 2: 254). Kemudian perbuatan syirik dalam ibadah Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah nyata-nyata kezhaliman yang besar” (QS Lukman 31: 13).
- Zhalim kepada sesama manusia dan sesama makhluk. Zhalim di sini adalah berlaku aniaya atas kehormatan, fisik, dan harta tanpa hak. Rasulullah Saw bersabda: 1. “Barangsiapa berbuat zhalim kepada saudaranya terhadap kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia minta dihalalkan dari padanya sekarang, sebelum datangnya hari di mana tak ada dinar dan dirham. Jika dia punya amal shaleh, akan diambil dari padanya seharga kezhalimannya. Jika kebaikannya tak ada lagi, maka keburukan orang yang dianiaya akan dipikulkan kepadanya.” (HR Al-Bukhari). 2: “Barangsiapa yang merampas hak orang Islam dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan dia masuk neraka dan mengharamkan masuk surga. Seorang laki-laki bertanya: “Walaupun sedikit ya Rasulullah? Nabi menjawab: “Walaupun sebatang kayu sugi.” (HR Muslim).
- Zhalim terhadap diri sendiri. Hal ini dilakukan dengan jalan mengotorinya dengan bermacam dosa, kejahatan dan keburukan yang berupa perbuatan maksiat kepada Allah dan Rasulya. Allah berfirman: “Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang menganiaya dirinya sendiri.” (QS Al-A’raaf 7: 160). Orang yang berbuat dosa besar berarti telah berbuat aniaya terhada dirinya sendiri, karena ia telah menjerumuskan dirinya ke dalam kekotoran dan kezhaliman sehingga ia termasuk orang yang berhak mendapatkan kutukan Allah dan jauh dari rahmatnya.
Dengki
Orang Islam tidak boleh dengki atau hasad, dan tidak menjadikannya akhlak dan sifat dalam dirinya, selagi ia
mencintai kebaikan bagi semua orang dan mementingkan kebaikan itu buat mereka
dari pada dirinya. Karena dengki itu bertentangan dengan kedua sifat mulia
yaitu ‘cinta kebaikan’ dan ‘mementingkannya’. Orang Islam sangat membenci sifat
dengki karena dengki menentang pembagian yang ditetapkan Allah dari karunia
yang diberikan kepada makhuk-Nya. Allah berfirman: “Ataukah mereka dengki
kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah berikan kepada manusia
itu.” (QS An-Nisaa’ 4: 54). Allah berfirman: “Mengapa mereka yang
membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan
mereka dalam kehidupan dunia. Dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas
sebagian yang lain beberapa derajat agar sebagian mereka dapat mempergunakan
sebagian yang lain...” (QS
Az-Zukhruf 43: 32).
Dengki itu ada dua
macam. Pertama, mengharapkan hilangnya nikmat berupa harta, ilmu, pangkat atau
kekuasaan dari orang lain, agar pindah kepada dirinya. Kedua, mengharapkan agar
nikmat itu hilang dari orang lain walaupun ia tidak mengharap untuk
memperolehnya. Macam dengki yang kedua adalah yang lebih buruk. Kedua macam dengki
di atas diharamkan dengan pasti, maka seseorang tidak boleh berlaku hasad
terhadap yang lainnya.
Tidak termasuk dalam dengki
adalah igtibat, karena igtibat berharap memperoleh nikmat seperti
yang didapatkan orang lain, baik berupa ilmu, kekayaan dan kebaikan lainnya
tanpa menginginkan agar nikmat itu lenyap dari orang lain. Rsulullah Saw bersabda:
“Bukanlah hasad dalam dua hal; Pertama, seseorang yang diberi Allah kekayaan
dan digunakannya untuk menegakkan yang hak. Kedua, orang yang diberi Allah ilmu
pengetahuan, lalu memutuskan perkara dengan hikmah dan mengajarkannya.”
Yang dimaksud dengan hikmah ialah Qur’an dan Sunnah Nabi.
Allah Swt berfirman: ”Dan
dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” (QS Al Falaq 113: 5). Celaan
Allah terhadap sikap dengki di sini berarti mengharamkan dan melarangnya. Rasulullah
Saw bersabda: 1. “Janganlah kamu saling membenci, mendengki, membelakangi,
dan saling memutuskan hubungan. Dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang
bersaudara. Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari
tiga hari.” (Muttafaq ‘alaih). 2. “Jauhilah olehmu dengki. Karena dengki itu
merusak kebaikan, seperti halnya api membakar kayu atau rumput.” (HR Abu Daud).
Jika dalam pikiran
orang Islam terlintas rasa dengki, mengingat dia sebagai manusia yang tidak
lepas dari kesalahan, hendaklah ia segera memerangi dan membencinya, hingga
tidak sempat menjadi satu cita-cita dan keinginan. Jika ia kagum atas sesuatu,
hendaklah ia berkata: “Masya Allah, la haula wala quwwata illa billah (Apa
yang Allah kehendaki pasti terjadi. Tidak ada daya dan upaya melainkan berkat
pertolongan Allah).” Dengan ini diharapkan ia tidak terpengaruh oleh sikap
hasad, sehingga ia selamat.
Menipu
Orang Islam mengabdikan dirinya kepada Allah dengan memberi
nasihat kepada setiap Muslim dan ia
hidup di atas landasan itu. Maka seorang Muslim tidak boleh menipu orang lain
atau berkhianat; karena menipu dan berkhianat itu adalah sifat tercela yang buruk dalam diri
seseorang.
Keburukan bukan perangai dan sifat orang Islam dalam segala tingkah
lakunya. Karena, kesucian dirinya sebagai buah dari iman dan amal saleh,
bertentangan dengan perangai buruk tersebut. Suka menipu dan khianat adalah
sifat yang benar-benar buruk , sedikitpun tidak mengandung kebaikan. Sedangkan
orang Islam itu dekat dengan kebaikan dan jauh dari keburukan.
Bentuk-bentuk perbuatan menipu yang tercela tergambar dalam:
- Pernyataan seseorang kepada sesamanya tentang sesuatu yang buruk atau rusak, padahal itu adalah baik, dengan maksud agar orang yang ditipu terjerumus di dalamnya.
- Hanya memperlihatkan sesuatu kepada sesamanya yang baiknya saja, sedang yang buruknya disembunyikan.
- Apa yang diperlihatkan lain dengan hakikat yang sebenarnya. Tindakan itu dilakukan dengan maksud memperdaya orang lain.
- .Perbuatan seseorang yang dengan sengaja ingin merusak harta orang lain, menodai isteri, anak, dan kawannya. Hal ini dilakukan dengan cara memecah belah atau mengadu domba.
- Janji seseorang bahwa ia akan menjaga jiwa, harta atau menyimpan rahasia sesamanya, tetapi kemudian mngkhianati atau menipunya.
Orang Islam dalam menjauhi penipuan dan penghianatan adalah semata-mata
atas dasar taat kepada Allah dan Rasul-Nya, karena ketiga macam bentuk kezhaliman
itu diharamkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Firman Allah Swt: “Sesungguhnya
orang-orang yang menyakiti orang-orang yang Mukmin dan Mukminat tanpa kesalahan
yang mereka perbuat, maka sesungguhhnya mereka telah memikul kebohongan dan
dosa yang nyata.”(QS Al-Ahzab 33: 58).
Firman Allah Swt: 1. “Maka barang siapa yang melanggar janjinya, niscaya akibat ia
melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri.” (QS Al-Fath 148: 10). 2. “Rencana jahat itu tidak akan menimpa selain kepada yang empunya
sendiri.” (QS Fatir 35: 43).
Ria’
Orang Islam tidak akan berbuat ria’, karena ria’ itu
munafik dan syirik. Orang Islam beriman dan bertauhid, sedang ria’ itu
bertentangan dengan iman dan tauhidnya. Maka dengan keadaan apapun ia tidak
akan bersikap munafik dan ria’. Dia membanci sifat tersebut dan menjauhinya,
karena Allah dan Rasul-Nya sangat membencinya. Allah mengancam orang-orang yang
ria’ dengan siksa dan hukuman. Firman Allah: “Maka celakalah bagi
orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
orang-orang yang berbuat ria’ dan enggan (menolong dengan) barang berguna.”
(QS Al-Maun 107: 4-7).
Firman Allah yang diriwayakan Rasul-Nya: “Barang siapa mengerjakan
suatu amal perbuatan di mana ia persekutukan dengan selain Aku, maka seluruh
perbuatan itu baginya, sedang Aku bebas dari padanya. Aku adalah Dzat yang
paling tidak membutuhkan sekutu.” (HR Musllim).
Hakikat ria’ yaitu perbuatan taat yang dilakukan seseorang kepada Allah
yang dilatar belakangi maksud agar ia mendapat tempat di hati sesama manusia. Ria’
itu tampak dalam hal-hal sebagai berikut:
- Seseorang semakin taat bila dipuji, dan akan berkurang bahkan ditinggalkan bila dicela atau diejek.
- Seseoarang mau bersedekah bila dilihat orang lain. Sedang bila tidak, ia tidak akan bersedekah.
- Seseorang rajin beribadah bila bersama orang lain, dan malas bila sendirian.
- Seseorang mengatakan yang hak dan kebaikan atau beramal dan berbuat kebajikan tetapi bukan karena Allah, melainkan karena menginginkan sesatu dari manusia.
Ujub dan Sombong
Orang Islam harus waspada terhadap sikap ujub - membanggakan diri - dan sombong. Dengan sekuat tenaga dia harus melepaskan
diri dari kedua sifat tersebut dalam berbagai hal, karena kedua sifat tersebut
merupakan penghalang terbesar untuk mencapai kesempurnaan. Sering terjadi
nikmat berubah menjadi azab karena ujub dan sombong. Sungguh banyak orang mulia
menjadi hina dan yang kuat menjadi lemah karena dua perangai tersebut. Kedua
sifat itu memang merupakan penyakit yang berbahaya dan dapat menyebabkan
bencana bagi pemiliknya. Oleh karena itu, orang Islam harus waspada dan berusaha
menghindarinya. Atas dasar itu, Al-Qur’an dan sunnah mengharamkannya dan
menyuruh agar dijauhi.
Allah berfirman: 1. “Dan kamu
ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong, sehingga datanglah ketetapan
Allah. Dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syeitan) yang amat penipu.” (QS
Al-Hadid 57: 14). 2. “Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu
(berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah.” (QS Al-Infithar 82: 6).
3. “Tetapi di peperangan Hunain di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya
jumlahmu, maka yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun.” (QS
At-Taubah 19: 25).
Rasulullah bersabda: 1. “Jika kamu melihat
kekikiran diikuti, hawa nafsu diperturutkan, dan tiap orang kagum dengan
pendapatnya, maka jagalah dirimu.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi - Hadits Hasan).
2. “Orang pintar ialah orang yang merendahkan dirinya dan beramal untuk bekal sesudah
mati. Dan orang bodoh ialah orang yang memperturutkan hawa nafsunyua dan
mengharapkan kepada Allah dengan
berbagai harapan dan angan-angan kosong.” (HR. Al-Bukhari).
Beberapa contoh akibat ujub dan sombong.
- Iblis menyombongkan dirinya karena hal ikhwal dan awal kejadian dirinya. Ia berkata: “Engkau jadikan aku dari api dan manusia dari tanah.” Maka Allah mengusir iblis dari rahmat-Nya.
- Kaum ‘Ad menyombongkan diri karena kekuatan dan kekuasaannya. Mereka berkata: “Siapa yang lebih kuat daripada kami?” Maka Allah mengazab mereka dengan kehinaan di dunia dan di akhirat.
- Para sahabat Rasulullah Saw merasa bangga dengan banyaknya pasukan di waktu perang Hunain. Mereka berkata: “Hari ini kami tidak akan kalah oleh musuh yang sedikit.” Lalu mereka ditimpa kekalahan yang pahit, hingga bumi yang luas itu terasa sempit oleh mereka, dan mereka lari tunggang langgang.
Di antara bentuk-bentuk kesombongan, sebagai berikut:
- Dalam ilmu, Orang yang bangga dan sombong karena banyak ilmunya menyebabkan dirinya tidak mau menambah ilmu, dan menganggap rendah atau meremehkan keilmuan orang lain. Sikap demikian jelas merupakan bencana yang membinasakan.
- Dalam harta, Kadang-kadang orang menjadi sombong karena banyak harta dan kekayaan, lalu ia menghambur-hamburkan kekayaannya dan melecehkan kebenaran hingga ia menjadi binasa karenanya.
- Dalam kekuatan. Kadang-kadang orang kagum dengan kekuatan dan sombong dengan kekuasaannya, sehingga ia berlaku aniaya dan zalim. Maka pada akhirnya ia binasa karenanya.
- Dalam kemuliaan. Kadang-kadang orang kagum dengan kemuliaan dan bangga dengan keturunan dan asal-usulnya. Lalu ia berpangku tangan tidak berusaha mencari ketinggian, malas dalam mencapai kesempurnaan, dan enggan bekerja, sehingga turunlah pamornya. Akhirnya iapun menjadi kecil dan hina.
- Dalam beribadah. Kadang-kadang orang kagum dengan amal dan menjadi sombong karena banyak ibadahnya. Hal ini menyebabkan ia meremehkan Tuhannya dan mengecilkan arti pemberian-Nya. Dengan demikian jauhlah amal dan celakalah karena kesombongannya.
Cara mengobatinya
Mengobati penyakit ini adalah dengan mengingat dan menyadari bahwa apa
yang diberikan Allah sekarang berupa ilmu, harta, kekuatan, atau kemuliaan
kadang-kadang besok diambil-Nya kembali jika Allah menghendaki. Sesungguhnya
amal ibadah seseorang kepada Tuhannya meskipun banyak tidaklah dapat
mengimbangi walau sebagian nikmat yang diberikan Allah kepadanya. Sesungguhnya
nikmat Allah tidak bisa diukur dengan sesuatu, karena Allah adalah sumber
segala karunia dan yang memberi segala kebaikan.
Rasulullah Saw bersabda: “Amal seseorang di antara kamu tidak akan
menjadikannya selamat. Mereka berkata: Termasuk engkau, ya Rasulullah? Beliau
menjawab: Ya, termasuk aku juga, bila bukan karena berkat rahmat Allah yang
dilimpahkan kepadaku.” (HR Al-Bukhari)
Demikian kiranya semoga kita selalu terjaga dari perbuatan yang tidak
terpuji dan menjaga diri agar setiap langkah selalu dibimbing di jalan yang
benar dan diridhai Allah Swt.
(Disarikan dari buku ‘Minhaj al-Muslim’, penulis Abu Bakr
Jabir al-Jaza’iri).
Mohammad
Kamal
No. 171
Sepertinya yang dibenci Allah lebih banyak daripada yang disukaiNya, sebab yang dibenci Allah itu kebanyakan disukai manusia......
BalasHapus