Selasa, 25 Desember 2012

MENJAUHKAN DIRI DARI AKHLAK TERCELA


MENJAGA DARI SIKAP YANG DIBENCI ALLAH
Setiap Muslim seharusnya selalu melangkah dalam kehidupan di dunia ini dengan didasari niat beribadah karena Allah, karena dalam dirinya dibimbing dengan tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Namun sebagai manusia pada zaman ‘modern’ seperti sekarang ini, banyak orang  mengalami godaan atau kilauan dunia yang kadang-kadang menyebabkan suatu cobaan atas keimanannya.
Dalam beberapa keadaan sangat tipis perbedaan antara ‘amal baik’ dengan ‘pamrih’, antara ‘bangga’ dengan ‘sombong’, bahkan perbuatan yang dilakukan atas nama ‘amar ma’ruf nahyi munkar’ dapat tergeser oleh ‘kepentingan pribadi’. Namun masih ada upaya untuk menjaga diri dari bermacam penyakit akhlak tercela seperti; zhalim, dengki, bohong, ria’, ujub dan sombong.
Zhalim
Orang Islam tidak boleh menganiaya dan jangan mau dianiaya. Maka kezhaliman tidak boleh muncul dari orang Islam dan jangan pula dirinya mau dianiaya oleh siapapun. Sebab kezhaliman itu dengan ketiga macamnya diharamkan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Allah Swt berfirman: “Dan barang siapa di antara kamu orang berbuat zhalim, niscaya Kami rasakan kepadanya azab yang besar” (QS Al-Furqaan 25: 19). Firman Allah yang diriwayatkan oleh Nabi: “Hai hamba-hamba-Ku. Sesungguhnya Aku haramkan zhalim itu atas diri-Ku dan Aku haramkan zhalim itu di antara sesamamu. Maka janganlah saling zhalim.” (HR Muslim). Dari sabda Rasulullah Saw: 1. “Takutlah berbuat zhalim, karena zhalim itu adalah kegelapan di hari kiamat”  (HR Muslim). 2. ”Takutlah kamu dengan doa orang yang teraniaya, karena antara doanya dengan Allah tidak ada penghalang.” (Muttafaq ‘alaih).
Zhalim itu ada tiga macam:
  1. Zhalim terhadap Tuhan, yaitu kufur kepada-Nya. Allah Swt berfirman: 1.“Dan orang-orang kafir itulah orang yang zhalim (QS Al Baqarah 2: 254). Kemudian perbuatan syirik dalam ibadah Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah nyata-nyata kezhaliman yang besar” (QS Lukman 31: 13).
  2. Zhalim kepada sesama manusia dan sesama makhluk. Zhalim di sini adalah berlaku aniaya atas kehormatan, fisik, dan harta tanpa hak. Rasulullah Saw bersabda: 1. “Barangsiapa berbuat zhalim kepada saudaranya terhadap kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia minta dihalalkan dari padanya sekarang, sebelum datangnya hari di mana tak ada dinar dan dirham. Jika dia punya amal shaleh, akan diambil dari padanya seharga kezhalimannya. Jika kebaikannya tak ada lagi, maka keburukan orang yang dianiaya akan dipikulkan kepadanya.(HR Al-Bukhari). 2: “Barangsiapa yang merampas hak orang Islam dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan dia masuk neraka dan mengharamkan masuk surga. Seorang laki-laki bertanya: “Walaupun sedikit ya Rasulullah? Nabi menjawab: “Walaupun sebatang kayu sugi.” (HR Muslim). 
  3. Zhalim terhadap diri sendiri. Hal ini dilakukan dengan jalan mengotorinya dengan bermacam dosa, kejahatan dan keburukan yang berupa perbuatan maksiat kepada Allah dan Rasulya. Allah berfirman: “Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang menganiaya dirinya sendiri.” (QS Al-A’raaf 7: 160). Orang yang berbuat dosa besar berarti telah berbuat aniaya terhada dirinya sendiri, karena ia telah menjerumuskan dirinya ke dalam kekotoran dan kezhaliman sehingga ia termasuk orang yang berhak mendapatkan kutukan Allah dan jauh dari rahmatnya.
Dengki
Orang Islam tidak boleh dengki atau hasad, dan tidak menjadikannya akhlak dan sifat dalam dirinya, selagi ia mencintai kebaikan bagi semua orang dan mementingkan kebaikan itu buat mereka dari pada dirinya. Karena dengki itu bertentangan dengan kedua sifat mulia yaitu ‘cinta kebaikan’ dan ‘mementingkannya’. Orang Islam sangat membenci sifat dengki karena dengki menentang pembagian yang ditetapkan Allah dari karunia yang diberikan kepada makhuk-Nya. Allah berfirman: “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah berikan kepada manusia itu.” (QS An-Nisaa’ 4: 54). Allah berfirman: “Mengapa mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. Dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain...” (QS Az-Zukhruf 43: 32).
Dengki itu ada dua macam. Pertama, mengharapkan hilangnya nikmat berupa harta, ilmu, pangkat atau kekuasaan dari orang lain, agar pindah kepada dirinya. Kedua, mengharapkan agar nikmat itu hilang dari orang lain walaupun ia tidak mengharap untuk memperolehnya. Macam dengki yang kedua adalah yang lebih buruk. Kedua macam dengki di atas diharamkan dengan pasti, maka seseorang tidak boleh berlaku hasad terhadap yang lainnya.
Tidak termasuk dalam dengki adalah igtibat, karena igtibat berharap memperoleh nikmat seperti yang didapatkan orang lain, baik berupa ilmu, kekayaan dan kebaikan lainnya tanpa menginginkan agar nikmat itu lenyap dari orang lain. Rsulullah Saw bersabda: “Bukanlah hasad dalam dua hal; Pertama, seseorang yang diberi Allah kekayaan dan digunakannya untuk menegakkan yang hak. Kedua, orang yang diberi Allah ilmu pengetahuan, lalu memutuskan perkara dengan hikmah dan mengajarkannya.” Yang dimaksud dengan hikmah ialah Qur’an dan Sunnah Nabi.
Allah Swt berfirman: ”Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” (QS Al Falaq 113: 5). Celaan Allah terhadap sikap dengki di sini berarti mengharamkan dan melarangnya. Rasulullah Saw bersabda: 1. “Janganlah kamu saling membenci, mendengki, membelakangi, dan saling memutuskan hubungan. Dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (Muttafaq ‘alaih). 2. “Jauhilah olehmu dengki. Karena dengki itu merusak kebaikan, seperti halnya api membakar kayu atau rumput.” (HR Abu Daud).
Jika dalam pikiran orang Islam terlintas rasa dengki, mengingat dia sebagai manusia yang tidak lepas dari kesalahan, hendaklah ia segera memerangi dan membencinya, hingga tidak sempat menjadi satu cita-cita dan keinginan. Jika ia kagum atas sesuatu, hendaklah ia berkata: “Masya Allah, la haula wala quwwata illa billah (Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi. Tidak ada daya dan upaya melainkan berkat pertolongan Allah).” Dengan ini diharapkan ia tidak terpengaruh oleh sikap hasad, sehingga ia selamat.
Menipu
Orang Islam mengabdikan dirinya kepada Allah dengan memberi nasihat  kepada setiap Muslim dan ia hidup di atas landasan itu. Maka seorang Muslim tidak boleh menipu orang lain atau berkhianat; karena menipu dan berkhianat itu  adalah sifat tercela yang buruk dalam diri seseorang.
Keburukan bukan perangai dan sifat orang Islam dalam segala tingkah lakunya. Karena, kesucian dirinya sebagai buah dari iman dan amal saleh, bertentangan dengan perangai buruk tersebut. Suka menipu dan khianat adalah sifat yang benar-benar buruk , sedikitpun tidak mengandung kebaikan. Sedangkan orang Islam itu dekat dengan kebaikan dan jauh dari keburukan.
Bentuk-bentuk perbuatan menipu yang tercela tergambar dalam:
  1. Pernyataan seseorang kepada sesamanya tentang sesuatu yang buruk atau rusak, padahal itu adalah baik, dengan maksud agar orang yang ditipu terjerumus di dalamnya.
  2. Hanya memperlihatkan sesuatu kepada sesamanya yang baiknya saja, sedang yang buruknya disembunyikan.
  3. Apa yang diperlihatkan lain dengan hakikat yang sebenarnya. Tindakan itu dilakukan dengan maksud memperdaya orang lain.
  4. .Perbuatan seseorang yang dengan sengaja ingin merusak harta orang lain, menodai isteri, anak, dan kawannya. Hal ini dilakukan dengan cara memecah belah atau mengadu domba.
  5. Janji seseorang bahwa ia akan menjaga jiwa, harta atau menyimpan rahasia sesamanya, tetapi kemudian mngkhianati atau menipunya.
Orang Islam dalam menjauhi penipuan dan penghianatan adalah semata-mata atas dasar taat kepada Allah dan Rasul-Nya, karena ketiga macam bentuk kezhaliman itu diharamkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Firman Allah Swt: “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti orang-orang yang Mukmin dan Mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”(QS Al-Ahzab 33: 58).
Firman Allah Swt: 1. Maka barang siapa yang melanggar janjinya, niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri. (QS Al-Fath 148: 10). 2.Rencana jahat itu tidak akan menimpa selain kepada yang empunya sendiri.(QS Fatir 35: 43).
Ria’
Orang Islam tidak akan berbuat ria’, karena ria’ itu munafik dan syirik. Orang Islam beriman dan bertauhid, sedang ria’ itu bertentangan dengan iman dan tauhidnya. Maka dengan keadaan apapun ia tidak akan bersikap munafik dan ria’. Dia membanci sifat tersebut dan menjauhinya, karena Allah dan Rasul-Nya sangat membencinya. Allah mengancam orang-orang yang ria’ dengan siksa dan hukuman. Firman Allah: “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria’ dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS Al-Maun 107: 4-7).
Firman Allah yang diriwayakan Rasul-Nya: “Barang siapa mengerjakan suatu amal perbuatan di mana ia persekutukan dengan selain Aku, maka seluruh perbuatan itu baginya, sedang Aku bebas dari padanya. Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu.” (HR Musllim).
Hakikat ria’ yaitu perbuatan taat yang dilakukan seseorang kepada Allah yang dilatar belakangi maksud agar ia mendapat tempat di hati sesama manusia. Ria’ itu tampak dalam hal-hal sebagai berikut:
  1. Seseorang semakin taat bila dipuji, dan akan berkurang bahkan ditinggalkan bila dicela atau diejek.
  2. Seseoarang mau bersedekah bila dilihat orang lain. Sedang bila tidak, ia tidak akan bersedekah.
  3. Seseorang rajin beribadah bila bersama orang lain, dan malas bila sendirian.
  4. Seseorang mengatakan yang hak dan kebaikan atau beramal dan berbuat kebajikan tetapi bukan karena Allah, melainkan karena menginginkan sesatu dari manusia.
Ujub dan Sombong
Orang Islam harus waspada terhadap sikap ujub - membanggakan diri - dan sombong. Dengan sekuat tenaga dia harus melepaskan diri dari kedua sifat tersebut dalam berbagai hal, karena kedua sifat tersebut merupakan penghalang terbesar untuk mencapai kesempurnaan. Sering terjadi nikmat berubah menjadi azab karena ujub dan sombong. Sungguh banyak orang mulia menjadi hina dan yang kuat menjadi lemah karena dua perangai tersebut. Kedua sifat itu memang merupakan penyakit yang berbahaya dan dapat menyebabkan bencana bagi pemiliknya. Oleh karena itu, orang Islam harus waspada dan berusaha menghindarinya. Atas dasar itu, Al-Qur’an dan sunnah mengharamkannya dan menyuruh agar dijauhi.
Allah berfirman: 1. “Dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong, sehingga datanglah ketetapan Allah. Dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syeitan) yang amat penipu.” (QS Al-Hadid 57: 14). 2. “Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah.” (QS Al-Infithar 82: 6). 3. “Tetapi di peperangan Hunain di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun.” (QS At-Taubah 19: 25).
Rasulullah bersabda: 1. “Jika kamu melihat kekikiran diikuti, hawa nafsu diperturutkan, dan tiap orang kagum dengan pendapatnya, maka jagalah dirimu.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi - Hadits Hasan). 2. “Orang pintar ialah orang yang merendahkan dirinya dan beramal untuk bekal sesudah mati. Dan orang bodoh ialah orang yang memperturutkan hawa nafsunyua dan mengharapkan kepada Allah  dengan berbagai harapan dan angan-angan kosong.” (HR. Al-Bukhari).
Beberapa contoh akibat ujub dan sombong. 
  1. Iblis menyombongkan dirinya karena hal ikhwal dan awal kejadian dirinya. Ia berkata: “Engkau jadikan aku dari api dan manusia dari tanah.” Maka Allah mengusir iblis dari rahmat-Nya.
  2. Kaum ‘Ad menyombongkan diri karena kekuatan dan kekuasaannya. Mereka berkata: “Siapa yang lebih kuat daripada kami?” Maka Allah mengazab mereka dengan kehinaan di dunia dan di akhirat.
  3. Para sahabat Rasulullah Saw merasa bangga dengan banyaknya pasukan di waktu perang Hunain. Mereka berkata: “Hari ini kami tidak akan kalah oleh musuh yang sedikit.” Lalu mereka ditimpa kekalahan yang pahit, hingga bumi yang luas itu terasa sempit oleh mereka, dan mereka lari tunggang langgang.
Di antara bentuk-bentuk kesombongan, sebagai berikut:
  1. Dalam ilmu, Orang yang bangga dan sombong karena banyak ilmunya menyebabkan dirinya tidak mau menambah ilmu, dan menganggap rendah atau meremehkan  keilmuan orang lain. Sikap demikian jelas merupakan bencana yang membinasakan.
  2. Dalam harta, Kadang-kadang orang menjadi sombong karena  banyak harta dan kekayaan, lalu ia menghambur-hamburkan kekayaannya dan melecehkan kebenaran hingga ia menjadi binasa karenanya.
  3. Dalam kekuatan. Kadang-kadang  orang kagum dengan kekuatan dan sombong dengan kekuasaannya, sehingga ia berlaku aniaya dan zalim. Maka pada akhirnya ia binasa karenanya.
  4. Dalam kemuliaan. Kadang-kadang orang kagum dengan kemuliaan dan bangga dengan keturunan dan asal-usulnya. Lalu ia berpangku tangan tidak berusaha mencari ketinggian, malas dalam mencapai kesempurnaan, dan enggan bekerja, sehingga turunlah pamornya. Akhirnya iapun menjadi kecil dan hina.
  5. Dalam beribadah. Kadang-kadang orang kagum dengan amal dan menjadi sombong karena banyak ibadahnya. Hal ini menyebabkan ia meremehkan Tuhannya dan mengecilkan arti pemberian-Nya. Dengan demikian jauhlah amal dan celakalah karena kesombongannya.
Cara mengobatinya
Mengobati penyakit ini adalah dengan mengingat dan menyadari bahwa apa yang diberikan Allah sekarang berupa ilmu, harta, kekuatan, atau kemuliaan kadang-kadang besok diambil-Nya kembali jika Allah menghendaki. Sesungguhnya amal ibadah seseorang kepada Tuhannya meskipun banyak tidaklah dapat mengimbangi walau sebagian nikmat yang diberikan Allah kepadanya. Sesungguhnya nikmat Allah tidak bisa diukur dengan sesuatu, karena Allah adalah sumber segala karunia dan yang memberi segala kebaikan.
Rasulullah Saw bersabda: “Amal seseorang di antara kamu tidak akan menjadikannya selamat. Mereka berkata: Termasuk engkau, ya Rasulullah? Beliau menjawab: Ya, termasuk aku juga, bila bukan karena berkat rahmat Allah yang dilimpahkan kepadaku.” (HR Al-Bukhari)
Demikian kiranya semoga kita selalu terjaga dari perbuatan yang tidak terpuji dan menjaga diri agar setiap langkah selalu dibimbing di jalan yang benar dan diridhai Allah Swt.
(Disarikan dari buku ‘Minhaj al-Muslim’, penulis Abu Bakr Jabir al-Jaza’iri).
Mohammad Kamal
No. 171

1 komentar:

  1. Sepertinya yang dibenci Allah lebih banyak daripada yang disukaiNya, sebab yang dibenci Allah itu kebanyakan disukai manusia......

    BalasHapus