Selasa, 15 Januari 2013

TAFAKUR

SARANA UNTUK MEMPEROLEH HIKMAH ILAHI
“Allah menganugerahkan al-hikmah - kepahaman -  yang dalam tentang Al-Qur’an dan Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.” (QS Al-Baqarah 2: 269).
Mengetahui kebenaran sebagaimana yang dimaksud di atas, itulah yang disebut ‘hikmah’. Dengan hikmah, manusia akan lebih mudah menjalani hidup sesuai dengan kehendak Ilahi,karena hikmah akan berfungsi sebagai kendalinya.
Seperti halnya dengan rezeki, maka al-hikmah inipun hanya diberikan Allah kepada orang-orang yang berusaha untuk mendapatkannya, yaitu orang-orang yang menggunakan kemampuan akal dan rasa yang dimilikinya untuk ‘berfikir’ (bertafakur). Semakin sungguh-sungguh usaha yang dilakukannya, maka semakin tinggi pula kualitas al-hikmah yang diperoleh dari-Nya. Sayidina Ali bin Abi Thalib Ra berkata: “Tiada ilmu yang lebih baik dari pada hasil tafakur’”.
Di dalam Al-Qur’an ditemukan tidak kurang dari 130 kali perintah Allah untuk berfikir (antara lain terdapat pada QS  Shaad 29, QS Adz-Dzariyaat 20-21, QS Yunus 24), dan kehinaan akan menimpa orang yang tidak mau berfikir (QS Al-Furqaan 44, QS Al-A’araf 179, QS Al-Mulk 10).
Berfikir, terbukti merupakan pelita hati, karena itu apabila ia tidak dihidupkan, maka hati akan gelap gulita. Orang yang serius berfikir tentang apa-apa yang telah Allah ciptakan, ataupun tentang sakaratul maut, siksa kubur, maupun kesulitan-kesulitan yang akan dijumpai di hari kiamat kelak, niscaya akan mendapatkan pencerahan jiwa.
Demikian besar keutamaan bertafakur, sehingga Rasulullah Saw pernah bersabda: “Bertafakur sejenak lebih baik dari ibadah satu tahun”. Mengapa Rasulullah berwasiat demikian, hal ini semata-mata karena beliau ingin menyelamatkan ummatnya agar kelak tidak dijadikan untuk isi neraka, sebagaimana peringatan Allah dalam Al-Qur’an: “Dan sesungguhnya Kami ciptakan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), mempunyai mata tidak digunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), mempunyai telinga tapi tidak digunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS Al-A’raaf 7: 179). 
Keutamaan bertafakur sudah amat jelas, begitupun ancaman bagi yang tidak mau melakukannya, namun mengapa sedikit orang yang mau bertafakur? Hal ini tidak lain karena mereka membiarkan pikiran dan hatinya terbelenggu oleh kentalnya masalah keduniawian. Ketika hati seseorang dipenuhi oleh khayalan, impian-impian mustahil, sendau-gurau yang tidak berguna, serta pengetahuan yang tidak bermanfaat, maka hidayah akan menjauh darinya. Dengan demikian selama orang tidak mau memangkas hal-hal yang dapat merusak keseimbangan antara urusan  dunia dan akhirat di hatinya, maka  selama itu pula ia akan lalai untuk bertafakur. Karena itulah Lukman Hakim memberikan nasihat kepada anaknya: “Janganlah engkau memasuki dunia yang dapat membahayakan akhirat.”
Obyek Yang Dapat Ditafakuri
Sesungguhnya buah dari tafakur adalah keyakinan-keyakinan Ilahiyyah yang akan memudahkan kita dalam pengendalian diri agar dapat selalu taat pada keinginan Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu banyak obyek yang dapat ditafakuri, antara lain; 1. Bertafakur mengenai tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah, akan lahir darinya rasa tawadhu’ - rendah hati - dan rasa takzim - sikap hormat - akan keagungan Allah. 2. Bertafakur mengenai kenikmatan-kenikmatan yang telah Allah berikan, akan lahir darinya rasa cinta dan syukur kepada Allah. 3. Bertafakur tentang janji-janji Allah, akan lahir darinya rasa cinta kepada akhirat. 4. Bertafakur tentang ancaman Allah. akan lahir darinya rasa takut kepada Allah. 5. Bertafakur tentang sejauh mana ketaatan kita kepada Allah sementara Dia selalu mencurahkan karunia-Nya kepada kita, akan lahir darinya kegairahan dalam beribadah.
Contoh Tafakur
Bila kita renungkan, sedetik dari hidup ini pun sudah mukjizat. Bagaimana kita bisa bernapas, punya jantung yang berdetak, mata berkedip, telinga yang dapat mendengar, lidah yang dapat merasakan kenikmatan makanan, dan seterusnya. Semuanya sungguh menakjubkan, kalau kita mau berfikir.
Ketika gigi kita tanggal satu, kita menjadi susah makan. Ya Allah, karena gigi satu hilang begitu susahnya. Sekian tahun engkau berikan gigi itu, baru sekali disadari artinya ketika gigi itu copot. Satu gigi yang begitu bernilainya. Dan bagaimana dengan anggota badan yang lain seperti tangan, hidung, mata, telinga dan otak?
Dengan bertafakur seperti ini  akan timbul rasa malu. Betapa Allah telah  memberikan karunia yang sangat banyak, tetapi kita tidak mengabdi kepada-Nya dengan sungguh-sungguh.
Tafakur Adalah Berfikir Dipadukan Dengan Dzikir
Bila kita berfikir hanya dengan akal, maka yang akan kita temukan adalah; 1. Musibah merupakan suatu hal yang buruk. 2. Tak seorang pun yang mau menerima musibah. 3 Musibah identik dengan apes atau sial. 4. Musibah merupakan hasil perbuatan jahat orang lain pada diri kita. 5. Musibah terjadi semata-mata karena kecerobohan kita saja.
Dari proses berfikir yang demikian, akan menghasilkan keluaran (output), antara lain; 1. Wajar orang mengalami stress ketika tertimpa musibah. 2. Orang yang ditimpa musibah  adalah orang yang malang, yaitu orang yang sedang ‘apes’ atau ‘sial’. 3. Berbuatlah dengan perhitungan yang matang supaya tidak tertimpa musibah.
Hal tersebut akan berbeda bila  berfikir dengan disertai dzikir (menghadirkan nuansa Ilahiyyah dalam hati kita); maka yang akan kita peroleh adalah; 1. Allah selamanya Maha Pengasih dan Penyayang, Allah tidak zalim, namun Ia Maha Adil. 2. Allah Maha Pandai, Maha Pengatur lagi Maha Suci. 3. Allah mendengar doa manusia.
Perpaduan antara ‘fikir’ dan ‘dzikir’ sebagaimana yang dimaksud di atas akan menghasilkan keyakinan-keyakinan sebagai berikut; 1. Tidak wajar bila kita stress pada waktu kita mengalami musibah, bukankah hal ini merupakan realsasi dari permintaan kita “ihdinash-shiraathal-mustaqiim” – tunjukilah kami jalan yang lurus”? 2. Bila Allah memberikan musibah, sebenarnya yang ingin Dia berikan pada kita adalah hikmah. Banyak hikmah yang dapat dilihat di antara taring-taring bencana. 3. Musibah adalah tanda cinta Allah kepada kita, yaitu Dia memberikan peluang bagi kita untuk meningkatkan ketakwaan, bukankah manusia yang paling hebat itu adalah orang yang paling bertakwa?
Ilmu Sebagai Bahan Dasar Untuk Bertafakur
Ilmu diperoleh melalui kesungguhan belajar. Seseorang sekalipun dianugerahi otak yang prima, tetap saja selamanya akan bodoh bila ia tidak mau belajar. Orang yang mempunyai banyak ilmu, tidak disangsikan lagi akan dapat menghasilkan ‘tafakur’ yang berbobot. Karena itulah Islam meletakkan ilmu di atas segala-galanya.
Seorang ahli hikmah mengatakan, bahwa ilmu itu ibarat baterai (accu) mobil. Semakin mobil itu digunakan, maka semakin besar pula muatan listrik baterai tersebut. Sebaliknya, bila mobil itu jarang sekali digunakan, apalagi bila sama sekali  tidak digunakan, maka baterainya akan menjadi lemah dan akhirnya rusak. Rasulullah Saw menegaskan pentingnya mengamalkan ilmu yang telah kita miliki sebagaimana sabdanya: “Barangsiapa yang mengamalkan apa-apa yang ia ketahui, maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya, dan Allah akan menolong dia dalam amalannya sehingga ia mendapatkan surga. Dan barangsiapa yang tidak mengamalkan ilmunya, maka ia tersesat oleh ilmunya itu, dan Allah tidak menolong dia dalam amalannya. Sehingga ia akan mendapatkan neraka.”
Disamping ilmu akan menjadi rusak bila tidak diamalkan, ia juga akan rusak bila pemiliknya merasa tinggi (sombong) dengan ilmunya itu, seperti halnya banjir yang menghancurkan / melongsorkan tempat yang tinggi sekalipun.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman bahwasanya Dia meninggikan derajat orang yang berilmu beberapa derajat lebih tinggi dari orang awam: Allah akan meninggikan orang-orang  yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS Al-Mujaadilah 58: 11).
Memiliki banyak ilmu tapi tidak terwujud dalam sikap dan perbuatan juga tidak ada gunanya. “Wahai manusia! Ilmu yang tak membuahkan perbuatan, laksana petir dan guntur yang tidak membawa  hujan. (Hadits Qudsi).
Sayidina Ali bin Abi Thalib yang oleh Rasulullah Saw dijuluki sebagai pintu gerbangnya ilmu, mengatakan: “Tiada kekayaan lebih utama  daripada akal. Tiada kepapaan lebih menyedihkan daripada kebodohan. Tiada warisan lebih baik daripada pendidikan.”
Ketika Sayidina Abi Thalib ditanya tentang mana yang lebih utama antara ilmu dengan harta, maka jawabnya; ▪ “Ilmu lebih utama daripada harta, karena ilmu adalah pusaka para Nabi, sedang harta adalah pusaka Karun, Firaun dan para pengumbar nafsu”. ▪ “Ilmu lebih utama daripada harta, karena ilmu itu menjagamu, sedangkan harta, malah engkau yang harus menjaganya”. ▪ “Harta itu jika engkau berikan menjadi berkurang, sebaliknya ilmu jika engkau berikan, malah kian bertambah”. ▪ “Pemilik harta disebut dengan nama ‘bakhil’ - kikir - dan buruk, tetapi pemilik ilmu disebut dengan nama keagungan dan kemuliaan.” ▪ “Pemilik harta itu musuhnya banyak, sedangkan pemilik ilmu itu temannya banyak”. ▪ “Ilmu lebih utama daripada harta, karena di akhirat nanti pemilik harta akan dihisab, sedang orang yang berilmu akan memperoleh syafa’at”. ▪ “Harta akan hancur berantakan karena lama ditimbun zaman,  tetapi ilmu tidak akan rusak dan musnah walau ditimbun zaman.” ▪ “Harta membuat hati seseorang menjadi keras, sedang ilmu malah membuat hati menjadi bercahaya.” ▪ “Ilmu lebih utama daripada harta, karena pemilik harta bisa mengaku menjadi Tuhan akibat harta yang dimilikinya, sedang orang yang berilmu justru mengaku sebagai hamba Allah karena imunya.”
Indikator Keberhasilan Bertafakur
Keberhasilan tafakur dapat dilihat dari timbulnya motivasi-motivasi yang dapat memudahkan untuk taat melaksanakan aturan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Pengalaman telah membuktikan bahwa pekerjaan sesulit apapun akan terasa menjadi ringan bila dilandasi dengan motivasi yang kuat.
Motivasi yang tercipta lewat tafakur ini sifatnya sangat individual, artinya belum tentu cocok dan sesuai digunakan orang lain.
Semoga tulisan ini dapat menimbulkan gairah dan kekhusu’an untuk bertafakur pada kita karena dilandasi oleh kesadaran dan keikhlasan.
(Disarikan dari buku   ‘Bahan Renungan Kalbu’, penulis Permadi Alibasyah)
Mohammad Kamal
No. 173

Tidak ada komentar:

Posting Komentar