“Allah
menganugerahkan al-hikmah - kepahaman - yang dalam tentang Al-Qur’an dan Sunnah)
kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi al-hikmah
itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan tak ada yang
dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.” (QS Al-Baqarah 2:
269).
Mengetahui kebenaran sebagaimana yang dimaksud di atas, itulah yang
disebut ‘hikmah’. Dengan hikmah, manusia akan lebih mudah menjalani hidup
sesuai dengan kehendak Ilahi,karena hikmah akan berfungsi sebagai kendalinya.
Seperti halnya dengan
rezeki, maka al-hikmah inipun hanya
diberikan Allah kepada orang-orang yang berusaha untuk mendapatkannya, yaitu
orang-orang yang menggunakan kemampuan akal dan rasa yang dimilikinya untuk ‘berfikir’
(bertafakur). Semakin sungguh-sungguh usaha yang dilakukannya, maka semakin
tinggi pula kualitas al-hikmah yang
diperoleh dari-Nya. Sayidina Ali bin Abi Thalib Ra berkata: “Tiada ilmu yang lebih baik dari pada hasil
tafakur’”.
Di
dalam Al-Qur’an ditemukan tidak kurang dari 130 kali perintah Allah untuk
berfikir (antara lain terdapat pada QS
Shaad 29, QS Adz-Dzariyaat 20-21, QS Yunus 24), dan kehinaan akan
menimpa orang yang tidak mau berfikir (QS Al-Furqaan 44, QS Al-A’araf 179, QS Al-Mulk
10).
Berfikir, terbukti
merupakan pelita hati, karena itu apabila ia tidak dihidupkan, maka hati akan
gelap gulita. Orang yang serius berfikir tentang apa-apa yang telah Allah
ciptakan, ataupun tentang sakaratul maut, siksa kubur, maupun
kesulitan-kesulitan yang akan dijumpai di hari kiamat kelak, niscaya akan
mendapatkan pencerahan jiwa.
Demikian besar
keutamaan bertafakur, sehingga Rasulullah Saw pernah bersabda: “Bertafakur sejenak lebih baik dari ibadah
satu tahun”. Mengapa Rasulullah berwasiat demikian, hal ini semata-mata
karena beliau ingin menyelamatkan ummatnya agar kelak tidak dijadikan untuk isi
neraka, sebagaimana peringatan Allah dalam Al-Qur’an: “Dan sesungguhnya Kami ciptakan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan
dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tapi tidak dipergunakan untuk
memahami (ayat-ayat Allah), mempunyai mata tidak digunakan untuk melihat
(tanda-tanda kekuasaan Allah), mempunyai telinga tapi tidak digunakan untuk
mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih
sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS Al-A’raaf 7: 179).
Keutamaan bertafakur
sudah amat jelas, begitupun ancaman bagi yang tidak mau melakukannya, namun
mengapa sedikit orang yang mau bertafakur? Hal ini tidak lain karena mereka membiarkan
pikiran dan hatinya terbelenggu oleh kentalnya masalah keduniawian. Ketika hati
seseorang dipenuhi oleh khayalan, impian-impian mustahil, sendau-gurau yang
tidak berguna, serta pengetahuan yang tidak bermanfaat, maka hidayah akan
menjauh darinya. Dengan demikian selama orang tidak mau memangkas hal-hal yang
dapat merusak keseimbangan antara urusan
dunia dan akhirat di hatinya, maka
selama itu pula ia akan lalai untuk bertafakur. Karena itulah Lukman
Hakim memberikan nasihat kepada anaknya: “Janganlah
engkau memasuki dunia yang dapat membahayakan akhirat.”
Obyek Yang Dapat Ditafakuri
Sesungguhnya buah
dari tafakur adalah keyakinan-keyakinan Ilahiyyah yang akan memudahkan kita
dalam pengendalian diri agar dapat selalu taat pada keinginan Allah dan
Rasul-Nya. Oleh karena itu banyak obyek yang dapat ditafakuri, antara lain; 1.
Bertafakur mengenai tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah, akan lahir
darinya rasa tawadhu’ - rendah hati -
dan rasa takzim - sikap hormat - akan
keagungan Allah. 2. Bertafakur mengenai kenikmatan-kenikmatan yang telah Allah
berikan, akan lahir darinya rasa cinta dan syukur kepada Allah. 3. Bertafakur
tentang janji-janji Allah, akan lahir darinya rasa cinta kepada akhirat. 4.
Bertafakur tentang ancaman Allah. akan lahir darinya rasa takut kepada Allah. 5.
Bertafakur tentang sejauh mana ketaatan kita kepada Allah sementara Dia selalu
mencurahkan karunia-Nya kepada kita, akan lahir darinya kegairahan dalam
beribadah.
Contoh Tafakur
Bila kita renungkan,
sedetik dari hidup ini pun sudah mukjizat. Bagaimana kita bisa bernapas, punya
jantung yang berdetak, mata berkedip, telinga yang dapat mendengar, lidah yang
dapat merasakan kenikmatan makanan, dan seterusnya. Semuanya sungguh
menakjubkan, kalau kita mau berfikir.
Ketika gigi kita
tanggal satu, kita menjadi susah makan. Ya Allah, karena gigi satu hilang
begitu susahnya. Sekian tahun engkau berikan gigi itu, baru sekali disadari
artinya ketika gigi itu copot. Satu gigi yang begitu bernilainya. Dan bagaimana
dengan anggota badan yang lain seperti tangan, hidung, mata, telinga dan otak?
Dengan bertafakur
seperti ini akan timbul rasa malu.
Betapa Allah telah memberikan karunia
yang sangat banyak, tetapi kita tidak mengabdi kepada-Nya dengan sungguh-sungguh.
Tafakur Adalah
Berfikir Dipadukan Dengan Dzikir
Bila kita berfikir
hanya dengan akal, maka yang akan kita temukan adalah; 1. Musibah merupakan
suatu hal yang buruk. 2. Tak seorang pun yang mau menerima musibah. 3 Musibah
identik dengan apes atau sial. 4. Musibah merupakan hasil perbuatan
jahat orang lain pada diri kita. 5. Musibah terjadi semata-mata karena
kecerobohan kita saja.
Dari proses berfikir
yang demikian, akan menghasilkan keluaran (output),
antara lain; 1. Wajar orang mengalami stress
ketika tertimpa musibah. 2. Orang yang ditimpa musibah adalah orang yang malang, yaitu orang yang
sedang ‘apes’ atau ‘sial’. 3. Berbuatlah dengan perhitungan yang matang supaya
tidak tertimpa musibah.
Hal tersebut akan
berbeda bila berfikir dengan disertai dzikir
(menghadirkan nuansa Ilahiyyah dalam hati kita); maka yang akan kita peroleh
adalah; 1. Allah selamanya Maha Pengasih dan Penyayang, Allah tidak zalim,
namun Ia Maha Adil. 2. Allah Maha Pandai, Maha Pengatur lagi Maha Suci. 3. Allah
mendengar doa manusia.
Perpaduan antara ‘fikir’
dan ‘dzikir’ sebagaimana yang dimaksud di atas akan menghasilkan
keyakinan-keyakinan sebagai berikut; 1. Tidak wajar bila kita stress pada waktu kita mengalami
musibah, bukankah hal ini merupakan realsasi dari permintaan kita “ihdinash-shiraathal-mustaqiim” – tunjukilah kami jalan yang lurus”? 2. Bila Allah memberikan musibah, sebenarnya
yang ingin Dia berikan pada kita adalah hikmah. Banyak hikmah yang dapat
dilihat di antara taring-taring bencana. 3. Musibah adalah tanda cinta Allah
kepada kita, yaitu Dia memberikan peluang bagi kita untuk meningkatkan
ketakwaan, bukankah manusia yang paling hebat itu adalah orang yang paling
bertakwa?
Ilmu Sebagai Bahan Dasar Untuk Bertafakur
Ilmu diperoleh
melalui kesungguhan belajar. Seseorang sekalipun dianugerahi otak yang prima,
tetap saja selamanya akan bodoh bila ia tidak mau belajar. Orang yang mempunyai
banyak ilmu, tidak disangsikan lagi akan dapat menghasilkan ‘tafakur’ yang
berbobot. Karena itulah Islam meletakkan ilmu di atas segala-galanya.
Seorang ahli hikmah
mengatakan, bahwa ilmu itu ibarat baterai (accu)
mobil. Semakin mobil itu digunakan, maka semakin besar pula muatan listrik
baterai tersebut. Sebaliknya, bila mobil itu jarang sekali digunakan, apalagi
bila sama sekali tidak digunakan, maka
baterainya akan menjadi lemah dan akhirnya rusak. Rasulullah Saw menegaskan
pentingnya mengamalkan ilmu yang telah kita miliki sebagaimana sabdanya: “Barangsiapa yang mengamalkan apa-apa yang
ia ketahui, maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya,
dan Allah akan menolong dia dalam amalannya sehingga ia mendapatkan surga. Dan barangsiapa
yang tidak mengamalkan ilmunya, maka ia tersesat oleh ilmunya itu, dan Allah
tidak menolong dia dalam amalannya. Sehingga ia akan mendapatkan neraka.”
Disamping ilmu akan
menjadi rusak bila tidak diamalkan, ia juga akan rusak bila pemiliknya merasa
tinggi (sombong) dengan ilmunya itu, seperti halnya banjir yang menghancurkan /
melongsorkan tempat yang tinggi sekalipun.
Dalam Al-Qur’an,
Allah berfirman bahwasanya Dia meninggikan derajat orang yang berilmu beberapa
derajat lebih tinggi dari orang awam: “Allah
akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat.” (QS Al-Mujaadilah 58: 11).
Memiliki banyak ilmu
tapi tidak terwujud dalam sikap dan perbuatan juga tidak ada gunanya. “Wahai manusia! Ilmu yang tak membuahkan
perbuatan, laksana petir dan guntur yang tidak membawa hujan. (Hadits Qudsi).
Sayidina Ali bin Abi
Thalib yang oleh Rasulullah Saw dijuluki sebagai pintu gerbangnya ilmu,
mengatakan: “Tiada kekayaan lebih
utama daripada akal. Tiada kepapaan lebih
menyedihkan daripada kebodohan. Tiada warisan lebih baik daripada pendidikan.”
Ketika Sayidina Abi
Thalib ditanya tentang mana yang lebih utama antara ilmu dengan harta, maka
jawabnya; ▪ “Ilmu lebih utama daripada
harta, karena ilmu adalah pusaka para Nabi, sedang harta adalah pusaka Karun,
Firaun dan para pengumbar nafsu”. ▪ “Ilmu lebih utama daripada harta, karena
ilmu itu menjagamu, sedangkan harta, malah engkau yang harus menjaganya”. ▪ “Harta
itu jika engkau berikan menjadi berkurang, sebaliknya ilmu jika engkau berikan,
malah kian bertambah”. ▪ “Pemilik harta disebut dengan nama ‘bakhil’ - kikir -
dan buruk, tetapi pemilik ilmu disebut dengan nama keagungan dan kemuliaan.” ▪ “Pemilik
harta itu musuhnya banyak, sedangkan pemilik ilmu itu temannya banyak”. ▪ “Ilmu
lebih utama daripada harta, karena di akhirat nanti pemilik harta akan dihisab,
sedang orang yang berilmu akan memperoleh syafa’at”. ▪ “Harta akan hancur
berantakan karena lama ditimbun zaman,
tetapi ilmu tidak akan rusak dan musnah walau ditimbun zaman.” ▪ “Harta
membuat hati seseorang menjadi keras, sedang ilmu malah membuat hati menjadi
bercahaya.” ▪ “Ilmu lebih utama daripada harta, karena pemilik harta bisa
mengaku menjadi Tuhan akibat harta yang dimilikinya, sedang orang yang berilmu
justru mengaku sebagai hamba Allah karena imunya.”
Indikator Keberhasilan Bertafakur
Keberhasilan tafakur
dapat dilihat dari timbulnya motivasi-motivasi yang dapat memudahkan untuk taat
melaksanakan aturan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Pengalaman telah
membuktikan bahwa pekerjaan sesulit apapun akan terasa menjadi ringan bila
dilandasi dengan motivasi yang kuat.
Motivasi yang
tercipta lewat tafakur ini sifatnya sangat individual, artinya belum tentu
cocok dan sesuai digunakan orang lain.
Semoga tulisan ini
dapat menimbulkan gairah dan kekhusu’an untuk bertafakur pada kita karena
dilandasi oleh kesadaran dan keikhlasan.
(Disarikan dari buku ‘Bahan
Renungan Kalbu’, penulis Permadi Alibasyah)
Mohammad
Kamal
No. 173
Tidak ada komentar:
Posting Komentar