Sudah pernahkah Anda memanjakan
pikiran dan perasaan dengan membaca dan meresapi keterangan Allah Swt QS An-Nahl 16: 68 dan 69? Rangkaian
dua ayat tersebut menyatakan sebagai berikut:
وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ
الْجِبَالِ بُيُوتاً وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ ﴿٦٨﴾ ثُمَّ كُلِي مِن
كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلاً يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا
شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاء لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً
لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ﴿٦٩﴾
Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah:
"Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di
tempat-tempat yang dibikin manusia. kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam)
buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)". Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya,
di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada
yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang
yang memikirkan.
Surah yang diletakkan oleh Rasulullah Saw pada urutan 16 ini dinamai
An-Nahl yang bermakna lebah. Tentu tidak berarti bahwa surah ini secara khusus
membicarakan lebah atau banyak sekali berbicara tentang jenis hewan tersebut.
Pembicaraan tentang lebah hanya dikemukakan dalam dua ayat di antara 128 ayat
yang terdapat di dalamnya. Hal ini serupa dengan surah kedua yang dinamai
Al-Baqarah - sapi betina. Surah itu bahkan sama sekali tidak membicarakan sapi,
tetapi hanya menceriterakan sekelompok orang Yahudi yang terlalu banyak
bertanya ketika Nabi Musa As menyuruh mereka menyembelih seekor sapi betina. Para
ulama menyatakan bahwa nama sebuah surah di dalam Al-Quran ditetapkan hanya
agar mudah diingat saja, tidak selalu menunjuk bagian inti atau yang paling
banyak dikupas di dalam surah itu.
Apakah isi QS An-Nahl? Sebagai himpunan ayat-ayat Makkiyah - ayat-ayat yang
diturunkan ketika Rasulullah Saw belum hijrah ke Madinah dan masih bermukim di
Makkah, isi utama An-Nahl adalah pengajaran yang lugas mengenai tauhidullah
- keyakinan akan keMahaesaan Allah Swt. Tauhid merupakan aqidah - inti sekaligus pondasi ajaran Islam, sehingga layak
dan semestinya diturunkan pada masa awal kenabian Muhammad Saw.
Dalam menyampaikan tauhidullah - keyakinan kepada Allah yang Maha Esa, Al-Qur’an menggunakan banyak
cara dan pendekatan. Ada kalanya keterangan disampaikan secara lugas
sebagaimanya dinyatakan dalam surah 112 Al-Ikhlas: Katakanlah (wahai Rasul): "Dia-lah
Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala
sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada siapa pun
yang setara dengan Dia." Tetapi ada kalanya pula
pengajaran pokok tersebut dikemukakan secara tidak langsung, yaitu dengan
menggambarkan betapa sempurna Allah mencipta dan mengatur berbagai macam dan jenis
makhluk-Nya.
Digambarkan kepada kita, bagaimana unsur-unsur alam itu berinteraksi
satu sama lain membentuk harmoni, dan keselarasan yang sempurna di alam raya
ini benar-benar bermanfaat bagi manusia. Kita jumpai di dalam Kitabullah gambaran
mengenai hal tersebut, antara lain dalam surah-surah As-Syams - matahari, Al-Qomar - bulan, Al-Lail - malam, An-Nuur - cahaya, An-Naml - semut, QS An-Nahl 16 - lebah.
QS
An-Nahl 16: 68 yang kita pampangkan di atas mengantar
orang memerhatikan sifat dan perilaku salah satu makhluk Allah yang kecil dan
nampak bersahaja yaitu lebah. Berbeda halnya dengan manusia, lebah tidak dapat
memahami sesuatu dengan akal pikirannya. Lebah tidak dapat menganalisis
berbagai keadaan untuk mengambil kesimpulan. Lebah tidak pula merencanakan apa
yang hendak dikerjakannya, bahkan tidak menyadari apa yang sedang dia perbuat.
Meskipun demikian toh lebah dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang hasilnya dikagumi
kebanyakan orang, bahkan para ahli sekalipun. Ayat tadi
menyatakan bahwa Allah mengilhamkan kepada lebah, menanamkan naluri (instinct)
pada lebah, petunjuk yang sempurna sehingga mampu membuat sarangnya di
bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan juga di rumah-rumah orang. Keadaan
sarang lebah itu sungguh indah dan berfungsi baik. Kalau kita perhatikan dengan
saksama, sarang lebah berbentuk kumpulan segi enam yang menempel satu dengan
lainnya.
Para ahli struktur menyatakan
bahwa bentuk bangunan segi enam adalah bentuk yang menyediakan ruang paling
luas untuk menjadi hunian, dan pemakaian bahan-bahan untuk itu paling efisien.
Apakah lebah membuat rumahnya berbentuk demikian karena telah mengetahui kenyataan
itu? Sama sekali tidak. Apakah sebelum membangun rumahnya lebah menghitung
terlebih dahulu kekuatan bangunan yang akan dibuatnya itu? Apakah ketika rumah
tersebut digantungkannya pada sebuah dahan, dia telah menghitung kekuatan
ikatannya? Sama sekali tidak. Apakah lebah melakukan studi mendalam untuk
memperoleh bahan-bahan yang sesuai bagi pembangunan rumahnya itu? Tidak juga.
Dia bekerja semata-mata karena mengikuti naluri nya.
Maka sepantasnya
orang berpikir: Siapakah yang memberikan kepada lebah itu naluri,
sedemikian sehingga dapat membangun rumahnya dengan tingkat efisiensi tinggi dan
hasilnya mengagumkan manusia? Jawabannya sudah pasti: Allah. Dengan naluri anugerah
Allah itu lebah terbang ke berbagai penjuru, mendatangi berbagai species
tetumbuhan, mengisap bagian-bagian dari tanaman itu, dan memprosesnya menjadi
bahan bangunan yang sesuai dengan bentuk yang dikerjakannya. Bahan dari tanaman
itu dipadunya dengan lilin lebah menjadi sesuatu yang orang menyebutnya propolis.
Kemudian bahan itu dibawanya ke suatu tempat yang sesuai berdasarkan nalurinya
pula, lalu disusunnya sedemikian rupa hingga benar-benar sesuai untuk menjadi tempat
tinggalnya.
Sarang lebah sangat
ringan tetapi toh mampu menahan bobot induk lebah dan lebah-lebah jantan,
berikut telur-telurnya dan embrio-embrio anaknya sekaligus. Allah Swt yang
mengatur semua itu, kemudian aturan Allah tersebut ditanamkan ke dalam benak
lebah. Tatkala petunjuk dari Allah itu dilaksanakan dengan semestinya,
terbentuklah koloni-koloni lebah yang menjamin eksistensi species hewan
tersebut dari masa ke masa. Maka mestinya kita yang merenungkan karya agung
Allah itu menyatakan suara hati kita: Subhanallah -
Maha Suci Allah, bebas sepenuhnya dari kelemahan dan kekurangan!
QS An-Nahl 16: 69
kemudian mendorong manusia agar memerhatikan lebih jauh lagi,
untuk memahami kenyataan bahwa zat-zat dari tanaman yang dikonsumsi lebah itu ketika masuk ke dalam perutnya berproses
sedemikian rupa sehingga menjadi madu, cairan kental yang manis serta
mengandung berbagai zat yang baik. Madu itu bermacam-macam warnanya,
bermacam-macam aromanya, dan bermacam-macam pula cita rasanya, bergantung
kepada jenis lebahnya dan juga jenis bunga-bungaan yang diisap oleh lebah itu.
Ada madu yang putih, ada yang kekuning-kuningan dan ada pula yang berwarna
merah kehitaman. Ayat tadi menyatakan bahwa madu mengandung khasiat yang amat
baik untuk manusia. Madu menguatkan tubuh, menyegarkan badan dan memperkuat
daya tahan terhadap rupa-rupa penyakit. Bahkan di dalam madu terdapat obat yang
menyembuhkan beberapa jenis penyakit. Karena itu Rasulullah menganjurkan umat
beliau supaya minum madu, baik ketika sakit maupun ketika sehat.
Dari kenyataan itu
jelas bahwa perjuangan lebah ternyata bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan
mereka sendiri, tetapi juga besar manfaatnya bagi manusia. Kita telah
membicarakan proses pembuatan propolis oleh lebah. Manfaat propolis untuk lebah
adalah sebagai zat penting yang sangat fundamental untuk sterilisasi sarang
dari serangan bakteri, jamur dan penyakit.
Para ahli
menerangkan, propolis berfungsi melindungi seluruh sarang dan tempat lebah ratu
menyimpan telur-telurnya dari hama bacillus larvae yang menyebabkan
terjadinya pembusukan telur-telur. Sedang bagi manusia, propolis digunakan
sebagai bahan terapi untuk melindungi tubuh dari serangan bakteri, virus,
jamur, dan radikal bebas.
Selain itu karena
kandungannya yang kompleks, propolis secara simultan meningkatkan fungsi sistem
imun atau kekebalan terhadap berbagai penyakit, dan secara langsung menghambat
mikroorganisme patogen. Demikianlah Allah Swt menjadikan lebah sebagai contoh
dari kekuasaan-Nya yang tidak berbatas, dan kekuasaan itu Dia gunakan untuk
memberi kemudahan kepada manusia melalui hewan yang sederhanya yaitu lebah.
Maka orang sepantasnya bersyukur, bukan kepada lebah tetapi kepada Pencipta dan
Pembina lebah yaitu Allah yang Maha
Agung.
Al-Quran berulang
kali mengemukakan keindahan dan kegunaan berbagai makhuk di alam ini bagi
manusia. Allah mengadakan matahari yang memancarkan energi berupa cahaya dan
panas dalam kadar yang sesuai dengan kebutuhan manusia di bumi. Allah mengatur
posisi berbagai kawasan bumi terhadap matahari yang berubah dari waktu ke waktu
sehingga terjadi pergantian siang dengan malam secara teratur. Masa siang yang
benderang sesuai dengan kebutuhan manusia untuk bekerja keras, sedang masa
malam yang gelap dan senyap memenuhi kebutuhan beristirahat.
Allah Mahatahu, di
waktu malam yang gelap sebagian orang perlu melakukan perjalanan; maka Dia atur
miliaran bintang untuk memancarkan cahaya redup, dan Dia atur pula posisi
bintang-bintang itu agar dapat menjadi pemandu arah bagi orang yang bepergian.
Allah menjadikan bermacam species hewan, di antaranya ada yang menjadi bahan
makanan bagi manusia, ada yang dimanfaatkan tenaganya, dan ada pula yang
dinikmati keindahan tubuh maupun ulah geraknya. Ujung
dari rangkaian ayat 68 dan 69 surah An-Nahl menyebut semua gejala itu sebagai
ayat-ayat Allah, tanda-tanda keagungan Allah, yang hanya dapat dipahami oleh
orang-orang yang berpikir.
Tanda kebesaran Allah
yang dikemukakan dalam dua ayat tersebut hanya bagian yang sangat kecil dari
keagungan Allah. Masih banyak lagi yang dinyatakan pada ayat-ayat lain, dan
jauh lebih banyak lagi yang tidak disebut di dalam Al-Qur’an.
QS Fushshilat 41: 53 menegaskan: “Kami akan
memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan
pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Quran itu
adalah benar. Allah menurunkan ayat-ayat-Nya dalam dua
bentuk yaitu ayat yang terhampar dalam alam (ayat kauniyah) dan ayat yang Dia
turunkan melalui Rasul-rasul-Nya (ayat tanziliah).”
Keduanya berasal dari
Allah, maka pastilah dua macam ayat tersebut tidak bertentangan satu sama lain,
kecuali dalam tiga hal: Pertama: pemahaman orang terhadap ayat kauniyah
salah. Kedua: pemahamannya atas ayat tanziliah keliru. Ketiga:
pemahamannya terhadap dua-duanya tidak benar. Bila pemahaman orang terhadap
kedua macam ayat benar, ayat-ayat tersebut akan saling menunjang dan
mengokohkan iman di dalam hatinya. Orang-orang yang mempunyai sifat seperti itu
disebut Al-Quran sebagai Ulul Albab – Cendekiawan (QS
Ali Imran 3: 190-191). Ayat 68
dan 69 surah An-Nahl mendorong manusia untuk mencapai derajat yang sangat
tinggi tersebut.
Sakib Machmud
No. 174
Bagus sekali, terima kasih ustadz. Wassalam.
BalasHapusMas HH, sdh sy baca, bagus n sy senang...... Akan sy jadikan bacaan rutin kami........ Saya beritakan ke teman2 yg lagi butuh. Insya Allah sangat bermanfaat. (Dari Facebook)
BalasHapusSyukron, semoga bermanfaat ....
BalasHapus