Selasa, 05 Februari 2013

SAKARATUL MAUT


Orang yang takwa (muttaqiin), akan selalu ingat kematian yang bisa terjadi setiap saat. karena kematian merupakan jalan kembali kepada Allah yang menciptakan kita. Dahulu kita berada di sisi Allah. kemudian kita diturunkan atau dilahirkan di muka bumi ini untuk menjalani kehidupan sementara, kemudian kita mengakhirinya dengan kematian, yang artinya kita kembali ke sisi Allah lagi dalam keadaan Islam.
Pada umumnya proses tercabutnya nyawa ini akan diawali dengan saat-saat yang menegangkan dan kadang-kadang menyakitkan, yang disebut ‘sakaratul maut’. Tentang sakaratul naut ini Allah Swt berfirman: ▪ “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya”. (QS Qaaf 50: 19). ▪ “Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan”. Dan sesungguhnya itulah waktu perpisahan. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). Dan kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau”. (QS Al-Qiyaamah 75: 26-30).
Kabar Gembira Untuk Orang-Orang Mukmin
Orang yang beriman (mukmin), ruhnya akan lepas dengan mudah dan ringan. Malaikat akan mendatangi orang yang beriman untuk mengambil nyawanya dengan kesan yang baik dan menggembirakan. Rasulullah Saw bersabda tentang proses kematian seorang Mukmin: “Seorang hamba mukmin, jika telah berpisah dengan dunia, menyongsong akhirat, maka malaikat akan mendatanginya dari langit, dengan wajah yang putih. Rona muka mereka layaknya sinar matahari. Mereka membawa kafan dari surga, serta hanuth (wewangian) dari surga. Mereka duduk di sampingnya sejauh mata memandang. Berikutnya, malaikat maut hadir dan duduk di dekat kepalanya sembari berkata: “Wahai jiwa yang baik, jiwa yang tenang keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya.” Ruhnya keluar bagaikan aliran cucuran air dari mulut kantong kulit. Setelah keluar ruhnya, maka setiap malaikat maut mengambilnya. Jika telah diambil, para malaikat lainnya tidak membiarkannya di tangannya (malaikat maut) sejenak saja, untuk mereka ambil dan diletakkan di kafan dan hanuth tadi. Dari jenazah, semerbak aroma misk terwangi yang ada di bumi.” (HR Ahmad).
Malaikat memberi kabar gembira kepada orang Mukmin dengan ampunan dengan ridha Allah untuknya. Secara tegas dalam kitab-Nya, Allah menyatakan bahwa para malaikat menghampiri orang-orang yang beriman, dengan mengatakan janganlah takut dan sedih serta membawa berita gembira tentang surga, sebagaimana firman Allah Swt “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Rabb kami adalah Allah kemudian mereka beristiqamah, maka para malaikat turun kepada mereka (sembari berkata):” Janganlah kamu bersedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu di dunia dan akhirat di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Rabb Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Fushshilat 41: 30-32)
Ismail bin Katsir mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang yang ikhlas dalam amalannya untuk Allah semata dan mengamalkan ketaatan-Nya berdasarkan syariat Allah niscaya para malaikat akan menghampiri mereka tatkala kematian menyongsong mereka dengan berkata “janganlah kalian takut atas amalan yang kalian persembahkan untuk akhirat dan jangan bersedih atas perkara dunia yang akan kalian tinggalkan, baik itu anak, istri, harta atau agama sebab kami akan mewakili kalian dalam perkara itu. Mereka (para malaikat) memberi kabar gembira berupa sirnanya kejelekan dan turunnya kebaikan.”
Allah Swt menjelaskan kondisi kematian orang Mukmin dalam keadaan baik dengan firman-Nya: “(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salamun ‘alaikum (keselamatan sejahtera bagimu)”, masuklah ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (QS An-Nahl 16: 32)
Syaikh Asy Syinqithi mengatakan: “Dalam ayat ini, Allah menyebutkan bahwa orang yang bertakwa, yang melaksanakan perintah Tuhan mereka dan menjauhi larangan-Nya akan diwafatkan para malaikat yaitu dengan mencabut nyawa-nyawa mereka dalam keadaan thayyibin –baik, yakni bersih dari syirik dan maksiat, ini menurut tafsiran yang paling shahih, juga memberi kabar gembira berupa surga dan menyambut mereka dengan salam…
Mengapa Rasulullah Menderita Saat Sakaratul Maut?
Kondisi umum proses pencabutan nyawa seorang Mukmin mudah lagi ringan. Namun kadang-kadang derita sakarul maut juga mendera sebagian orang shaleh. Tujuannya adalah untuk menghapus dosa-dosa dan juga mengangkat kedudukannya. Ini pertanda baik bagi mereka yang dosa-dosanya dihapuskan sebelum wafat. Hal ini dialami Rasulullah Saw, beliau merasakan pedihnya sakaratul maut.
Beberapa hadits tentang fenomena sakaratul maut: ‘Aisyah Ra, bercerita (menjelang ajal menjemput Nabi Saw). “Di hadapan Rasulullah ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata: “Laa Ilaaha Illa Allah. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul maut.” Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata: “Menuju Rafiqil A’la”. Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas.” (HR Al-Bukhari). ▪ Dari Anas Ra berkata: “Tatkala kondisi Nabi makin memburuk, Fatimah berkata: “Alangkah berat penderitaanmu ayahku”. Beliau menjawab: “Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini..” (HR Al-Bukhari). Dalam riwayat dengan ‘Aisyah Ra menceritakan: “Aku tidak iri kepada siapapun atas kemudahan kematian(nya), sesudah aku melihat kepedihan kematian pada Rasulullah.”  (HR At-Tirmidzi)
Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan: “Dalam hadits tersebut, kesengsaran (dalam) sakaratul maut bukan petunjuk atas kehinaan martabat (seseorang). Dalam konteks orang yang beriman bisa untuk menambah kebaikannya atau menghapus kesalahan-kesalahannya.” Sedangkan Abu Abdillah Muhammad Al-Qurthubi mengatakan dahsyatnya kematian dan sakaratul maut yang menimpa para nabi, mengandung manfaat:
Pertama, supaya orang-orang mengetahui kadar sakitnya kematian dan ia (sakaratul maut) tidak kasat mata. Kadang ada seseorang melihat orang lain yang akan meninggal. Tidak ada gerakan atau keguncangan. Terlihat ruh keluar dengan mudah. Sehingga ia berfikir, sakaratul maut ini ringan. Ia tidak mengetahui apa yang terjadi pada mayat sebenarnya. Ketika para nabi mengabarkan tentang dahsyatnya penderitaan dalam kematian - meskipun mereka mulia di sisi Allah, dan kemudahannya untuk sebagian mereka, maka orang akan yakin dengan kepedihan kematian yang akan ia rasakan dan dihadapi mayit secara mutlak.
Kedua, mungkin akan terbetik di benak sebagian orang, mengapa mereka adalah para kekasih Allah dan para nabi dan rasul-Nya, mengalami kesengsaraan yang berat ini? Padahal Allah mampu meringankannya bagi mereka. Jawabanya, adalah orang yang paling berat ujiannya di dunia adalah para nabi, kemudian orang yang menyerupai mereka, dan orang yang semakin mirip dengan mereka seperti dikatakan disebutkan dalam hadits. Allah ingin menguji mereka untuk melengkapi keutamaan dan peningkatan derajat mereka di sisi-Nya. Ini bukan sebuah aib bagi mereka juga bukan bentuk siksaan. Allah menginginkan menutup hidup mereka dengan penderitaan ini meski mampu meringankan dan mengurangi (kadar penderitaan) mereka dengan tujuan mengangkat kedudukan mereka dan memperbesar pahala-pahala mereka sebelum meninggal. Tetapi bukan berarti Allah mempersulit proses kematian mereka melebihi kepedihan orang-orang yang bermaksiat. Sebab (kepedihan) ini adalah hukuman bagi mereka dan sanksi untuk kejahatan mereka. Maka tidak bisa disamakan”. (HR Al-Bukhari dan lainnya).
Kabar Buruk Untuk Orang-Orang Kafir
Di sisi lain orang kafir, ruhnya akan keluar dengan susah payah, ia tersiksa dengannya. Rasulullah Saw menceritakan kondisi sakaratul maut orang kafir atau orang yang jahat dengan sabdanya: “Sesungguhnya hamba yang kafir, yang jahat jika akan telah berpisah dengan dunia, menyongsong akhirat, maka malaikat-malaikat yang kasar akan dari langit dengan wajah yang buruk dengan membawa dari neraka. Mereka duduk sepanjang mata memandang. Kemudian malaikat maut hadir dan duduk di atas kepalanya dan berkata: “Wahai jiwa yang keji keluarlah engkau menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya”. Maka ia mencabut (ruhnya) layaknya mencabut saffud (penggerek) yang banyak mata besinya dari bulu wol yang basah.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).
Secara ekspilisit, Al-Quran telah menjelaskan bahwa para malaikat akan memberi kabar buruk kepada orang kafir dengan siksa. Allah berfirman: “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat mumukul dengan tangannya, (Sambil berkata): “Keluarkan nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatnya.” (Al-An'am 6: 93)
Para malaikat memukulimya supaya nyawanya keluar dari tubuhnya. Seketika itu, malaikat mengatakan: “Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatnya, artinya pada hari ini, kalian akan dihinakan dengan penghinaan yang tidak terukur karena mendustakan Allah dan (karena) kecongkakan kalian dalam mengikuti ayat-ayat-Nya dan tunduk kepada para rasul-Nya.”
Saat detik-detik kematian datang, orang kafir minta dikembalikan agar bisa masuk Islam. Sedangkan orang yang jahat mohon dikembalikan ke dunia untuk bertaubat, dan beramal shaleh. Namun sudah tentu, permintaan mereka tidak akan terkabulkan. Allah Swt berfirman: “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Rabbi kembalikan aku ke dunia. Agar aku berbuat amal sholeh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”. (QS Al Mu’minuun 23: 99-100)
Setiap orang yang teledor di dunia ini, baik dengan kekufuran maupun perbuatan maksiat lainnya akan dilanda penyesalan, dan akan meminta dikembalikan ke dunia meski sejenak saja, untuk menjadi orang yang insan muslim yang shaleh. Namun kesempatan untuk itu sudah hilang, tidak mungkin disusul lagi. Jadi, persiapan harus dilakukan sejak dini dengan tetap memohon agar kita semua diwafatkan dalam keadaan memeluk agama Allah.

Hermanto Harsolumakso
No. 175

1 komentar:

  1. Paham, Rasulullah Saw yang ma'shum saja menderta waktu sakaratul maut, kita yang tidak dijamin bebas dosa harus siap menderita.... semoga tidak...

    BalasHapus