Orang yang takwa (muttaqiin), akan selalu ingat kematian yang bisa terjadi setiap saat. karena kematian
merupakan jalan kembali kepada Allah yang menciptakan kita. Dahulu kita berada di sisi Allah. kemudian kita diturunkan atau dilahirkan
di muka bumi ini untuk menjalani kehidupan sementara, kemudian kita
mengakhirinya dengan kematian, yang artinya kita kembali ke sisi Allah lagi
dalam keadaan Islam.
Pada umumnya proses tercabutnya
nyawa ini akan diawali dengan saat-saat yang menegangkan dan kadang-kadang menyakitkan,
yang disebut ‘sakaratul maut’. Tentang
sakaratul naut ini Allah Swt berfirman: ▪ “Dan datanglah sakaratul
maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya”. (QS Qaaf 50:
19). ▪ “Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai
kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan”.
Dan sesungguhnya itulah waktu perpisahan. Dan bertaut betis (kiri) dengan
betis (kanan). Dan kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau”. (QS Al-Qiyaamah
75: 26-30).
Kabar Gembira Untuk Orang-Orang Mukmin
Orang yang beriman (mukmin),
ruhnya akan lepas dengan mudah dan ringan. Malaikat akan mendatangi orang yang
beriman untuk mengambil nyawanya dengan kesan yang baik dan menggembirakan. Rasulullah
Saw bersabda tentang proses kematian seorang Mukmin: “Seorang hamba mukmin,
jika telah berpisah dengan dunia, menyongsong akhirat, maka malaikat akan
mendatanginya dari langit, dengan wajah yang putih. Rona muka mereka layaknya
sinar matahari. Mereka membawa kafan dari surga, serta hanuth (wewangian) dari
surga. Mereka duduk di sampingnya sejauh mata memandang. Berikutnya, malaikat
maut hadir dan duduk di dekat kepalanya sembari berkata: “Wahai jiwa yang baik,
jiwa yang tenang keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya.” Ruhnya
keluar bagaikan aliran cucuran air dari mulut kantong kulit. Setelah keluar
ruhnya, maka setiap malaikat maut mengambilnya. Jika telah diambil, para
malaikat lainnya tidak membiarkannya di tangannya (malaikat maut) sejenak saja,
untuk mereka ambil dan diletakkan di kafan dan hanuth tadi. Dari jenazah,
semerbak aroma misk terwangi yang ada di bumi.” (HR Ahmad).
Malaikat memberi kabar gembira
kepada orang Mukmin dengan ampunan dengan ridha Allah untuknya. Secara tegas
dalam kitab-Nya, Allah menyatakan bahwa para malaikat menghampiri orang-orang
yang beriman, dengan mengatakan janganlah takut dan sedih serta membawa berita
gembira tentang surga, sebagaimana firman Allah Swt “Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka
meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan
mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih;
dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.
Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya
kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa
yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Rabb kami adalah Allah
kemudian mereka beristiqamah, maka para malaikat turun kepada mereka (sembari
berkata):” Janganlah kamu bersedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga
yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu di dunia
dan akhirat di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh
(pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Rabb
Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Fushshilat 41: 30-32)
Ismail bin Katsir mengatakan:
“Sesungguhnya orang-orang yang ikhlas dalam amalannya untuk Allah semata dan
mengamalkan ketaatan-Nya berdasarkan syariat Allah niscaya para malaikat akan
menghampiri mereka tatkala kematian menyongsong mereka dengan berkata
“janganlah kalian takut atas amalan yang kalian persembahkan untuk akhirat dan
jangan bersedih atas perkara dunia yang akan kalian tinggalkan, baik itu anak,
istri, harta atau agama sebab kami akan mewakili kalian dalam perkara itu. Mereka
(para malaikat) memberi kabar gembira berupa sirnanya kejelekan dan turunnya
kebaikan.”
Allah Swt menjelaskan kondisi
kematian orang Mukmin dalam keadaan baik dengan firman-Nya: “(Yaitu)
orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan
mengatakan (kepada mereka): “Salamun ‘alaikum (keselamatan sejahtera bagimu)”,
masuklah ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (QS An-Nahl
16: 32)
Syaikh Asy Syinqithi mengatakan:
“Dalam ayat ini, Allah menyebutkan bahwa orang yang bertakwa, yang melaksanakan
perintah Tuhan mereka dan menjauhi larangan-Nya akan diwafatkan para malaikat
yaitu dengan mencabut nyawa-nyawa mereka dalam keadaan thayyibin –baik,
yakni bersih dari syirik dan maksiat, ini menurut tafsiran yang paling shahih,
juga memberi kabar gembira berupa surga dan menyambut mereka dengan salam…
Mengapa Rasulullah Menderita Saat
Sakaratul Maut?
Kondisi umum proses pencabutan nyawa
seorang Mukmin mudah lagi ringan. Namun kadang-kadang derita sakarul maut juga
mendera sebagian orang shaleh. Tujuannya adalah untuk menghapus dosa-dosa dan
juga mengangkat kedudukannya. Ini pertanda baik bagi mereka yang dosa-dosanya
dihapuskan sebelum wafat. Hal ini dialami Rasulullah Saw, beliau merasakan
pedihnya sakaratul maut.
Beberapa hadits tentang fenomena
sakaratul maut: ▪ ‘Aisyah Ra, bercerita (menjelang ajal menjemput Nabi Saw).
“Di hadapan Rasulullah ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air.
Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya
berkata: “Laa Ilaaha Illa Allah. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul
maut.” Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata: “Menuju Rafiqil A’la”.
Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas.” (HR Al-Bukhari). ▪
Dari Anas Ra berkata: “Tatkala kondisi Nabi makin memburuk, Fatimah
berkata: “Alangkah berat penderitaanmu ayahku”. Beliau menjawab: “Tidak ada
penderitaan atas ayahmu setelah hari ini..” (HR Al-Bukhari). ▪ Dalam
riwayat dengan ‘Aisyah Ra menceritakan: “Aku tidak iri kepada siapapun atas
kemudahan kematian(nya), sesudah aku melihat kepedihan kematian pada
Rasulullah.” (HR At-Tirmidzi)
Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan:
“Dalam hadits tersebut, kesengsaran (dalam) sakaratul maut bukan petunjuk atas
kehinaan martabat (seseorang). Dalam konteks orang yang beriman bisa untuk
menambah kebaikannya atau menghapus kesalahan-kesalahannya.” Sedangkan Abu
Abdillah Muhammad Al-Qurthubi mengatakan dahsyatnya kematian dan sakaratul maut
yang menimpa para nabi, mengandung manfaat:
Pertama, supaya orang-orang mengetahui kadar sakitnya
kematian dan ia (sakaratul maut) tidak kasat mata. Kadang ada seseorang melihat
orang lain yang akan meninggal. Tidak ada gerakan atau keguncangan. Terlihat
ruh keluar dengan mudah. Sehingga ia berfikir, sakaratul maut ini ringan. Ia
tidak mengetahui apa yang terjadi pada mayat sebenarnya. Ketika para nabi
mengabarkan tentang dahsyatnya penderitaan dalam kematian - meskipun mereka
mulia di sisi Allah, dan kemudahannya untuk sebagian mereka, maka orang akan
yakin dengan kepedihan kematian yang akan ia rasakan dan dihadapi mayit secara
mutlak.
Kedua, mungkin akan terbetik di benak sebagian orang, mengapa
mereka adalah para kekasih Allah dan para nabi dan rasul-Nya, mengalami
kesengsaraan yang berat ini? Padahal Allah mampu meringankannya bagi mereka.
Jawabanya, adalah orang yang paling berat ujiannya di dunia adalah para nabi,
kemudian orang yang menyerupai mereka, dan orang yang semakin mirip dengan
mereka seperti dikatakan disebutkan dalam hadits. Allah ingin menguji mereka
untuk melengkapi keutamaan dan peningkatan derajat mereka di sisi-Nya. Ini
bukan sebuah aib bagi mereka juga bukan bentuk siksaan. Allah menginginkan
menutup hidup mereka dengan penderitaan ini meski mampu meringankan dan
mengurangi (kadar penderitaan) mereka dengan tujuan mengangkat kedudukan mereka
dan memperbesar pahala-pahala mereka sebelum meninggal. Tetapi bukan berarti
Allah mempersulit proses kematian mereka melebihi kepedihan orang-orang yang
bermaksiat. Sebab (kepedihan) ini adalah hukuman bagi mereka dan sanksi untuk
kejahatan mereka. Maka tidak bisa disamakan”. (HR Al-Bukhari dan lainnya).
Kabar Buruk Untuk Orang-Orang Kafir
Di sisi lain orang kafir, ruhnya
akan keluar dengan susah payah, ia tersiksa dengannya. Rasulullah Saw
menceritakan kondisi sakaratul maut orang kafir atau orang yang jahat dengan
sabdanya: “Sesungguhnya hamba yang kafir, yang jahat jika akan telah
berpisah dengan dunia, menyongsong akhirat, maka malaikat-malaikat yang kasar
akan dari langit dengan wajah yang buruk dengan membawa dari neraka. Mereka
duduk sepanjang mata memandang. Kemudian malaikat maut hadir dan duduk di atas
kepalanya dan berkata: “Wahai jiwa yang keji keluarlah engkau menuju kemurkaan
Allah dan kemarahan-Nya”. Maka ia mencabut (ruhnya) layaknya mencabut saffud
(penggerek) yang banyak mata besinya dari bulu wol yang basah.” (HR
Ahmad dan Abu Dawud).
Secara ekspilisit, Al-Quran telah
menjelaskan bahwa para malaikat akan memberi kabar buruk kepada orang kafir dengan
siksa. Allah berfirman: “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu
orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang
para malaikat mumukul dengan tangannya, (Sambil berkata): “Keluarkan nyawamu”.
Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu
selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu
selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatnya.” (Al-An'am 6: 93)
Para malaikat memukulimya supaya
nyawanya keluar dari tubuhnya. Seketika itu, malaikat mengatakan: “Di hari
ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu
mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu
menyombongkan diri terhadap ayat-ayatnya, artinya pada hari ini, kalian akan
dihinakan dengan penghinaan yang tidak terukur karena mendustakan Allah dan (karena)
kecongkakan kalian dalam mengikuti ayat-ayat-Nya dan tunduk kepada para
rasul-Nya.”
Saat detik-detik kematian datang,
orang kafir minta dikembalikan agar bisa masuk Islam. Sedangkan orang yang
jahat mohon dikembalikan ke dunia untuk bertaubat, dan beramal shaleh. Namun
sudah tentu, permintaan mereka tidak akan terkabulkan. Allah Swt berfirman: “(Demikianlah
keadaan orang-orang kafir), hingga apabila datang kematian kepada seseorang
dari mereka, dia berkata: “Ya Rabbi kembalikan aku ke dunia. Agar aku berbuat
amal sholeh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya
itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding
sampai hari mereka dibangkitkan”. (QS Al Mu’minuun 23: 99-100)
Setiap orang yang teledor di dunia
ini, baik dengan kekufuran maupun perbuatan maksiat lainnya akan dilanda penyesalan,
dan akan meminta dikembalikan ke dunia meski sejenak saja, untuk menjadi orang
yang insan muslim yang shaleh. Namun kesempatan untuk itu sudah hilang, tidak
mungkin disusul lagi. Jadi, persiapan harus dilakukan sejak dini dengan tetap
memohon agar kita semua diwafatkan dalam keadaan memeluk agama Allah.
Hermanto Harsolumakso
No. 175
Paham, Rasulullah Saw yang ma'shum saja menderta waktu sakaratul maut, kita yang tidak dijamin bebas dosa harus siap menderita.... semoga tidak...
BalasHapus