Jumat, 15 Februari 2013

TAFAKUR (2)

SARANA UNTUK MEMPEROLEH HIKMAH ILAHI

(Tulisan ini adalah lanjutan dari terbitan No 173 dengan judul yang sama).

"Al-Qur’an dari waktu ke waktu menggugat manusia untuk berpikir, merenung dan menggunakan akalnya. Berpikir adalah sebagian dari petunjuk Allah ke arah iman kepada-Nya. Allah memuji mereka yang berjiwa terbuka, suka mendengarkan pendapat orang lain, kemudian mengikuti mana yang terbaik dari pendapat itu, yaitu setelah melalui kegiatan berpikir  dan pemeriksaan serta pemahaman yang kritis dan teliti.” (Dr Nurcholish Majid dalam buku ‘Pintu-pintu menuju Tuhan)
Bertafakur Memahami Kehidupan Setelah Kematian
Untuk tafakur yang agak berat, marilah kita ikuti renungan kekhwatiran seorang manusia yang sadar akan adanya kehidupan setelah kematian:
Sesaat setelah ruhku berpisah dengan jasad, yaitu ketika aku mulai memasuki alam kehidupan yang baru, apakah aku dapat tersenyum menjumpai malaikat yang memberikan salam kepadaku: 1. Wahai anak Adam, engkaukah yang meninggalkan dunia, atau dunia yang meninggalkanmu?. 2. Wahai anak Adam, engkaukah yang merengkuh dunia, atau dunia yang merengkuhmu?. 3. Wahai anak Adam, engkaukah yang mematikan dunia, atau dunia yang mematikanmu?
Ketika jasadku digeletakkan menunggu untuk dimandikan, mampukah aku tegar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan malaikat kepadaku: 1. Wahai anak Adam, dimanakah tubuhmu yang kuat itu, mengapa kini engkau tidak berdaya? 2. Wahai anak Adam, dimanakah lisanmu yang lantang dulu, mengapa kini engkau terdiam?. 3. Wahai anak Adam, di manakah orang-orang yang mengasihimu, mengapa kini mereka membiarkanmu tergeletak tanpa daya?
Sewaktu mayatku dibaringkan di atas kain kafan, siap dibungkus, mampukah aku manuruti apa yang dikatakan malaikat: 1. Wahai anak Adam, bersiaplah engkau pergi jauh tanpa membawa bekal!. 2. Wahai anak Adam, pergilah dari rumahmu dan jangan kembali!. 3. Wahai anak Adam, naikilah tandu yang tidak akan pernah engkau nikmati lagi setelah itu !.
Tatkala jenazahku dipikul di atas keranda, sanggupkah aku bersikap anggun seperti seorang raja yang ditandu prajurit, ketika malaikat berseru kepadaku: 1. Wahai anak Adam, bahagialah engkau apabila engkau termasuk orang-orang yang bertaubat. 2. Wahai anak Adam, berbahagialah engkau apabila selama di dunia engkau selalu taat pada perintah Allah dan Rasul-Nya. 3. Wahai anak Adam, berbahagialah engkau apabila yang menjadi teman abadimu di alam kubur adalah ridha Allah, celakalah engkau apabila teman abadimu murka Allah!
Ketika aku dibaringkan untuk dishalati, akankah diriku mampu bersikap ‘manis’ tatkala malaikat berbisik di telingaku: 1. Wahai anak Adam, semua perbuatan yang telah engkau lakukan akan engkau lihat kembali, 2. Wahai anak Adam, apabila selama ini engkau tenggelam dalam amal shaleh maka bergembiralah. 3. Wahai anak Adam, apabila selama ini engkau tenggelam dalam kemaksiatan menuruti nafsu, maka sambutlah penderitaan akibat keenggananmu mengabdi kepada-Nya !
Sewaktu jasadku berada di tepi kubur siap untuk diturunkan ke liang lahat, akankah lidahku kelu menjawab pertanyaan malaikat yang berbisik lirih: 1. Wahai anak Adam, kedamaian apakah yang engkau bawa untuk menempati rumah cacing ini? 2. Wahai anak Adam, cahaya apakah yang engkau bawa untuk menempati rumah yang gelap ini? 3. Wahai anak Adam, siapakah temanmu yang kau ajak menemanimu dalam penantian panjang ini?
Tatkala aku sudah diletakkan di liang kubur, masih mampukah aku tersenyum menjawab ucapan selamat datang yang disampaikan bumi kepadaku: 1. Wahai anak Adam, ketika berada di punggungku engkau bergelak tawa, kini setelah berada di perutku apakah engkau akan tertawa juga, ataukah engkau akan menangis menyesali diri? 2. Wahai anak Adam, ketika berada di punggungku engkau bergembira ria, kini setelah berada di perutku apakah kegembiraan itu masih tersisa, ataukah engkau akan tenggelam  dalam duka nestapa? 3. Wahai anak Adam, ketika berada di punggungku engkau bersilat lidah, masihkah kini engkau ‘bernyanyi’ ataukah engkau akan diam membisu seribu bahasa bergelut dengan penyesalan?
Setelah aku sendiri terbujur kaku dihimpit bumi tanpa daya dalam liang lahat, sementara sanak keluargaku beserta teman-teman karibku pulang ke rumahnya masing-masing, akankah kecemasan menguasai diriku ketika Allah Swt berfirman: “Wahai hamba Ku, sekarang engkau terasingkan sendirian. Mereka telah pergi meninggalkan engkau dalam kesempitan dan kegelapan. Padahal dulu engkau membangkang tidak mau taat kepada-Ku semata-mata untuk kepentingan mereka. Balasan apa yang engkau peroleh dari mereka? Masih pantaskah engkau mengharapkan surga-Ku?         
Bertafakur Dengan Syair
Dari syair pun kita dapat bertafakur, sebagaimana contoh di bawah ini, marilah kita renungkan ‘dua syair’ berikut:
Waktu nafas yang tak kembali .................
     Manusia hanyalah pengendara di atas punggung usianya.
     Digulung hari demi hari, bulan, dan tahun tanpa terasa
     Nafasku terus berjalan, setia  menuntunku ke pintu kematian.
     Sebenarnya dunialah yang kujauhi dan liang kuburlah yang kudekati.
     Satu hari berlalu, berarti satu hari berkurang umurku.
     Umurku yang tersisa di hari ini sungguh tidak ternilai harganya, sebab esok hari belum tentu jadi bagian dari diriku.
     Karena itu, jika satu hari berlalu tapi tiada pahala dan keyaknanku yang bertambah, apalah arti hidupku di mata Allah.

Ketika Allah berkata tidak .........
     Ya Allah, ambillah kesombonganku dariku...
     “Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya!”
     Ya Allah, berilah aku kesabaran ...
     “Tidak. Kesabaran diperoleh dari ketabahan dalam menghadapi cobaan. Aku tidak memberikan kesabaran, engkau harus meraihnya sendiri!”
     Ya Allah, berilah aku kebahagiaan...
     “Tidak. Aku memberi keberkahan dan hikmah, sedangkan kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri!”
     Ya Allah, jauhkanlah aku dari kesusahan .....
     “Tidak. Penderitaan akan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada-Ku!”
     Ya Allah, beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat .....
     “Tidak. Aku beri kau akal dan kalbu serta Al-Qur’an, supaya kau dapat menikmati kehidupan!”
Bertafakur Setelah Mengalami Peristiwa Yang Dahsyat
Laura Lorenza, seorang pramugari dari suatu maskapai penerbangan yang mengalami musibah, karena pesawatnya jatuh dan terbakar sesaat setelah mendarat di bandara Adi Sumarmo Solo beberapa tahun  yang lalu.
Dalam peristiwa itu, pramugari ini sempat dinyatakan meninggal dunia oleh regu penolong, badannya yang sebagian besar hangus terbakar dan tidak menunjukkan tanda-tanda masih hidup, diangkat dan diletakkan bersama-sama dengan jenazah para korban lainnya yang telah meninggal dunia.   
Dalam kondisi yang tidak berdaya sama sekali, dia merintih dengan lemah dan hampir tidak dapat didengar oleh orang-orang di lokasi musibah itu. Yang dapat diucapkan hanyalah kata-kata lirih: “Tolong aku, tolong aku..........”.
Untunglah ada seorang paramedis yang kebetulan memeriksa jenazah-jenazah yang rencananya akan diangkut dari lokasi musibah ke rumah sakit, mendengar rintihan itu dan mencari asal suara tersebut, yang akhirnya mengetahui bahwa salah satu tubuh yang setengah rusak itu masih mempunyai harapan untuk hidup.
Dalam proses perawatan dan pemulihan kondisi tubuhnya, Laura mengalami sebanyak belasan kali operasi yang terdiri atas penyembuhan luka-luka, perbaikan wajah, permukaan kulit, maupun operasi pada tulang-tulang yang memerlukan pemasangan pin dan logam untuk memullihkan kondisi maupun fungsi tubuhnya.
Kondisi Laura saat ini yang kembali kelihatan cantik dan ceria, tidak seorang pun mengira bahwa di dalam tubuhnya banyak benda-benda yang mendukung kehidupan barunya sekarang, mulai dari plat di tulang pipinya, logam dan pin-pin pada tulang-tulang rusuk dan bahunya, dan bagian tubuh yang baru setelah ditambal dari bagian tubuh yang lain, berkat suatu operasi yang berhasil dengan baik.
Menurut pengakuannya, pada waktu kejadian itu, ia merintih minta tolong dengan hampir putus asa, yang diingatnya adalah memohon kepada Tuhan untuk diberikan kesempatan hidup lagi untuk memperbaiki kesalahan dan kelakuan selama ini.
Selama proses penyembuhan yang lama dan melalui serangkaian operasi dijalaninya dengan sabar, dan pada saat-saat itu ia mengaku ‘berpikir’ tentang kelakuannya yang selama ini tidak terpuji dan sering berani dan menyakitkan hati orang tuanya, bahkan ada rasa tinggi hati dalam  perilakunya, sementara biaya perawatan dan operasi yang mencapai ratusan juta didukung oleh orang tuanya yang mengasihinya. Ia berpikir apakah ini merupakan teguran dari Tuhan atas semua itu, namun Dia telah mendengarkan dan mengabulkan doanya dengan memberi kesempatan untuk hidup dan memperbaiki kelakuannya.
Nasihat Para Bijak Dan Kata-Kata Mutiara
Dari nasihat para bijak dapat pula kita tafakuri, seperti contoh sebagai berikut: Imam Ali bin Abi Thalib Ra berkata: “Tiada kekayaan lebih utama daripada akal. Tiada kepapaan lebih menyedihkan daripada kebodohan. Tiada warisan lebih baik daripada penidikan.”
Prof. Jalaluddin Rahmat dalam bukunya ‘Islam Aktual’ berpendapat, seorang Muslim dituntut harus bertindak secara sadar, yaitu dengan menggunakan seluruh kemampuan / potensi intelektualnya. Menurutnya, karena itulah Al-Qur’an bertanya: “Katakan, apakah sama orang yang buta dan orang yang melihat? Tidakkah mereka berpikir?” (QS Al-An’aam 6: 50).
Dr. M. Imaduddin Abdulrahim, dalam bukunya ‘Kuliah Tauhid’ menafsirkan QS Al-A’raaf 7: 178 dengan menjelaskan: “hikmah atau hidayah Allah tidak akan diberikan Allah secara cuma-cuma (gratis), tetapi ini hanya diberikan kepada orang-orang yang dengan sungguh-sungguh menggunakan akal dan rasa yang dimilikinya. ‘Akal’ untuk menganalisa lalu memahami, dan ‘rasa’ untuk meresapkan atau menghayatinya.”   
Kata-Kata Mutiara Yang Patut Kita Tafakuri
Perbuatan dosa adalah penghantar pada kekufuran, sebagaimana halnya demam penghantar menuju kematian.
Keinginan agar keistimewaanmu diketahui orang adalah bukti tidak adanya kejujuran dalam kehambaannmu.
Orang yang sebenarnya gila adalah orang yang pikirannya justru masih waras, ia mengaku hamba Tuhan dan mengharapkan surga-Nya, sementara ia malas mematuhi perintah-perintah-Nya.
Maksiat yang anda lakukan pada hakikatnya adalah secara sadar menanda tangani kontrak untuk tinggal di neraka.
Demikian, beberapa telaahan mengenai tafakur dengan beberapa contohnya, semoga memberikan tambahan nuansa bagi kita agar secara sadar dan aktif bertafakur untuk memperoleh hikmah dan hidayah dari Allah Swt.
Seseorang tidak perlu menunggu ‘dipaksa’ oleh Allah untuk berpikir tentang kekuasaan-Nya dengan mengalami peristiwa yang dahsyat, namun apabila hal itu terjadi maka dari sanalah Allah menunjukkan kasih sayang kepada hamba-Nya dengan memberi peringatan dan kesempatan untuk bertobat, kembali menyadari sebagai hamba dan mentaati perintah-Nya.
Mengerti atau mengenal ‘kebenaran’ saja tidaklah cukup. Karena di dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa, orang yang terhindar dari ‘kerugian’ adalah mereka yang memenuhi 4 kriteria: 1) yang mengenal kebenaran, 2) yang mengamalkan kebenaran, 3) yang saling nasihat menasihati mengenai kebenaran; dan 4) yang sabar dan tabah dalam mengamalkan serta mengajarkan kebenaran.
(Tulisan utama disadur dari buku ‘Bahan Renungan Kalbu’, penulis Permadi Alibasyah, kisah Laura Lorenza disadur dari Talk Show ‘Kick Andy’, Metro TV)
Mohammad Kamal
No. 176


1 komentar:

  1. Tulisan pertama dan kedua ini memang menarik dan mencerahkan bagi saya. Syukron ustadz. Wassalam.

    BalasHapus