(Tulisan ini adalah lanjutan dari terbitan No 173 dengan judul yang sama).
"Al-Qur’an dari waktu ke waktu menggugat manusia untuk berpikir, merenung dan menggunakan akalnya. Berpikir adalah sebagian dari petunjuk Allah ke arah iman kepada-Nya. Allah memuji mereka yang berjiwa terbuka, suka mendengarkan pendapat orang lain, kemudian mengikuti mana yang terbaik dari pendapat itu, yaitu setelah melalui kegiatan berpikir dan pemeriksaan serta pemahaman yang kritis dan teliti.” (Dr Nurcholish Majid dalam buku ‘Pintu-pintu menuju Tuhan)
Bertafakur Memahami Kehidupan Setelah Kematian
Untuk tafakur yang
agak berat, marilah kita ikuti renungan kekhwatiran seorang manusia yang sadar
akan adanya kehidupan setelah kematian:
Sesaat setelah ruhku
berpisah dengan jasad, yaitu ketika aku mulai memasuki alam kehidupan yang
baru, apakah aku dapat tersenyum menjumpai malaikat yang memberikan salam
kepadaku: 1. Wahai anak Adam, engkaukah yang meninggalkan dunia, atau dunia
yang meninggalkanmu?. 2. Wahai anak Adam, engkaukah yang merengkuh dunia, atau
dunia yang merengkuhmu?. 3. Wahai anak Adam, engkaukah yang mematikan dunia,
atau dunia yang mematikanmu?
Ketika jasadku
digeletakkan menunggu untuk dimandikan, mampukah aku tegar menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang diajukan malaikat kepadaku: 1. Wahai anak Adam, dimanakah tubuhmu yang
kuat itu, mengapa kini engkau tidak berdaya? 2. Wahai anak Adam, dimanakah
lisanmu yang lantang dulu, mengapa kini engkau terdiam?. 3. Wahai anak Adam, di
manakah orang-orang yang mengasihimu, mengapa kini mereka membiarkanmu
tergeletak tanpa daya?
Sewaktu mayatku
dibaringkan di atas kain kafan, siap dibungkus, mampukah aku manuruti apa yang
dikatakan malaikat: 1. Wahai anak Adam, bersiaplah engkau pergi jauh tanpa
membawa bekal!. 2. Wahai anak Adam, pergilah dari rumahmu dan jangan kembali!.
3. Wahai anak Adam, naikilah tandu yang tidak akan pernah engkau nikmati lagi
setelah itu !.
Tatkala jenazahku
dipikul di atas keranda, sanggupkah aku bersikap anggun seperti seorang raja
yang ditandu prajurit, ketika malaikat berseru kepadaku: 1. Wahai anak Adam,
bahagialah engkau apabila engkau termasuk orang-orang yang bertaubat. 2. Wahai
anak Adam, berbahagialah engkau apabila selama di dunia engkau selalu taat pada
perintah Allah dan Rasul-Nya. 3. Wahai anak Adam, berbahagialah engkau apabila
yang menjadi teman abadimu di alam kubur adalah ridha Allah, celakalah engkau
apabila teman abadimu murka Allah!
Ketika aku
dibaringkan untuk dishalati, akankah diriku mampu bersikap ‘manis’ tatkala
malaikat berbisik di telingaku: 1. Wahai anak Adam, semua perbuatan yang telah
engkau lakukan akan engkau lihat kembali, 2. Wahai anak Adam, apabila selama
ini engkau tenggelam dalam amal shaleh maka bergembiralah. 3. Wahai anak Adam,
apabila selama ini engkau tenggelam dalam kemaksiatan menuruti nafsu, maka
sambutlah penderitaan akibat keenggananmu mengabdi kepada-Nya !
Sewaktu jasadku
berada di tepi kubur siap untuk diturunkan ke liang lahat, akankah lidahku kelu
menjawab pertanyaan malaikat yang berbisik lirih: 1. Wahai anak Adam, kedamaian
apakah yang engkau bawa untuk menempati rumah cacing ini? 2. Wahai anak Adam,
cahaya apakah yang engkau bawa untuk menempati rumah yang gelap ini? 3. Wahai
anak Adam, siapakah temanmu yang kau ajak menemanimu dalam penantian panjang
ini?
Tatkala aku sudah
diletakkan di liang kubur, masih mampukah aku tersenyum menjawab ucapan selamat
datang yang disampaikan bumi kepadaku: 1. Wahai anak Adam, ketika berada di
punggungku engkau bergelak tawa, kini setelah berada di perutku apakah engkau
akan tertawa juga, ataukah engkau akan menangis menyesali diri? 2. Wahai anak
Adam, ketika berada di punggungku engkau bergembira ria, kini setelah berada di
perutku apakah kegembiraan itu masih tersisa, ataukah engkau akan tenggelam dalam duka nestapa? 3. Wahai anak Adam, ketika
berada di punggungku engkau bersilat lidah, masihkah kini engkau ‘bernyanyi’
ataukah engkau akan diam membisu seribu bahasa bergelut dengan penyesalan?
Setelah aku sendiri
terbujur kaku dihimpit bumi tanpa daya dalam liang lahat, sementara sanak
keluargaku beserta teman-teman karibku pulang ke rumahnya masing-masing,
akankah kecemasan menguasai diriku ketika Allah Swt berfirman: “Wahai hamba Ku,
sekarang engkau terasingkan sendirian. Mereka telah pergi meninggalkan engkau
dalam kesempitan dan kegelapan. Padahal dulu engkau membangkang tidak mau taat
kepada-Ku semata-mata untuk kepentingan mereka. Balasan apa yang engkau peroleh
dari mereka? Masih pantaskah engkau mengharapkan surga-Ku?
Bertafakur Dengan Syair
Dari syair pun kita
dapat bertafakur, sebagaimana contoh di bawah ini, marilah kita renungkan ‘dua
syair’ berikut:
Waktu nafas yang tak
kembali .................
▪
Manusia
hanyalah pengendara di atas punggung usianya.
▪
Digulung
hari demi hari, bulan, dan tahun tanpa terasa
▪
Nafasku
terus berjalan, setia menuntunku ke
pintu kematian.
▪
Sebenarnya
dunialah yang kujauhi dan liang kuburlah yang kudekati.
▪
Satu
hari berlalu, berarti satu hari berkurang umurku.
▪
Umurku
yang tersisa di hari ini sungguh tidak ternilai harganya, sebab esok hari belum
tentu jadi bagian dari diriku.
▪
Karena
itu, jika satu hari berlalu tapi tiada pahala dan keyaknanku yang bertambah,
apalah arti hidupku di mata Allah.
Ketika
Allah berkata tidak .........
▪
Ya
Allah, ambillah kesombonganku dariku...
▪
“Tidak. Bukan Aku
yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya!”
▪
Ya
Allah, berilah aku kesabaran ...
▪
“Tidak. Kesabaran
diperoleh dari ketabahan dalam menghadapi cobaan. Aku tidak memberikan
kesabaran, engkau harus meraihnya sendiri!”
▪
Ya
Allah, berilah aku kebahagiaan...
▪
“Tidak. Aku memberi
keberkahan dan hikmah, sedangkan kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri!”
▪
Ya
Allah, jauhkanlah aku dari kesusahan .....
▪
“Tidak. Penderitaan
akan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada-Ku!”
▪
Ya
Allah, beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat .....
▪
“Tidak. Aku beri kau
akal dan kalbu serta Al-Qur’an, supaya kau dapat menikmati kehidupan!”
Bertafakur Setelah Mengalami Peristiwa Yang Dahsyat
Laura Lorenza, seorang
pramugari dari suatu maskapai penerbangan yang mengalami musibah, karena
pesawatnya jatuh dan terbakar sesaat setelah mendarat di bandara Adi Sumarmo
Solo beberapa tahun yang lalu.
Dalam peristiwa itu,
pramugari ini sempat dinyatakan meninggal dunia oleh regu penolong, badannya
yang sebagian besar hangus terbakar dan tidak menunjukkan tanda-tanda masih
hidup, diangkat dan diletakkan bersama-sama dengan jenazah para korban lainnya
yang telah meninggal dunia.
Dalam kondisi yang
tidak berdaya sama sekali, dia merintih dengan lemah dan hampir tidak dapat
didengar oleh orang-orang di lokasi musibah itu. Yang dapat diucapkan hanyalah
kata-kata lirih: “Tolong aku, tolong aku..........”.
Untunglah ada seorang
paramedis yang kebetulan memeriksa jenazah-jenazah yang rencananya akan
diangkut dari lokasi musibah ke rumah sakit, mendengar rintihan itu dan mencari
asal suara tersebut, yang akhirnya mengetahui bahwa salah satu tubuh yang
setengah rusak itu masih mempunyai harapan untuk hidup.
Dalam proses perawatan
dan pemulihan kondisi tubuhnya, Laura mengalami sebanyak belasan kali operasi yang
terdiri atas penyembuhan luka-luka, perbaikan wajah, permukaan kulit, maupun operasi
pada tulang-tulang yang memerlukan pemasangan pin dan logam untuk memullihkan
kondisi maupun fungsi tubuhnya.
Kondisi Laura saat
ini yang kembali kelihatan cantik dan ceria, tidak seorang pun mengira bahwa di
dalam tubuhnya banyak benda-benda yang mendukung kehidupan barunya sekarang,
mulai dari plat di tulang pipinya, logam dan pin-pin pada tulang-tulang rusuk
dan bahunya, dan bagian tubuh yang baru setelah ditambal dari bagian tubuh yang
lain, berkat suatu operasi yang berhasil dengan baik.
Menurut pengakuannya,
pada waktu kejadian itu, ia merintih minta tolong dengan hampir putus asa, yang
diingatnya adalah memohon kepada Tuhan untuk diberikan kesempatan hidup lagi
untuk memperbaiki kesalahan dan kelakuan selama ini.
Selama proses
penyembuhan yang lama dan melalui serangkaian operasi dijalaninya dengan sabar,
dan pada saat-saat itu ia mengaku ‘berpikir’ tentang kelakuannya yang selama
ini tidak terpuji dan sering berani dan menyakitkan hati orang tuanya, bahkan
ada rasa tinggi hati dalam perilakunya,
sementara biaya perawatan dan operasi yang mencapai ratusan juta didukung oleh
orang tuanya yang mengasihinya. Ia berpikir apakah ini merupakan teguran dari
Tuhan atas semua itu, namun Dia telah mendengarkan dan mengabulkan doanya dengan
memberi kesempatan untuk hidup dan memperbaiki kelakuannya.
Nasihat Para Bijak Dan Kata-Kata Mutiara
Dari nasihat para
bijak dapat pula kita tafakuri, seperti contoh sebagai berikut: Imam Ali bin
Abi Thalib Ra berkata: “Tiada kekayaan
lebih utama daripada akal. Tiada kepapaan lebih menyedihkan daripada kebodohan.
Tiada warisan lebih baik daripada penidikan.”
Prof. Jalaluddin
Rahmat dalam bukunya ‘Islam Aktual’ berpendapat, seorang Muslim dituntut harus
bertindak secara sadar, yaitu dengan menggunakan seluruh kemampuan / potensi
intelektualnya. Menurutnya, karena itulah Al-Qur’an bertanya: “Katakan, apakah sama orang yang buta dan
orang yang melihat? Tidakkah mereka berpikir?” (QS Al-An’aam 6: 50).
Dr. M. Imaduddin
Abdulrahim, dalam bukunya ‘Kuliah Tauhid’ menafsirkan QS Al-A’raaf 7: 178 dengan
menjelaskan: “hikmah atau hidayah Allah tidak akan diberikan Allah secara cuma-cuma
(gratis), tetapi ini hanya diberikan kepada orang-orang yang dengan
sungguh-sungguh menggunakan akal dan rasa yang dimilikinya. ‘Akal’ untuk
menganalisa lalu memahami, dan ‘rasa’ untuk meresapkan atau menghayatinya.”
Kata-Kata Mutiara
Yang Patut Kita Tafakuri
Perbuatan dosa adalah
penghantar pada kekufuran, sebagaimana halnya demam penghantar menuju kematian.
Keinginan agar keistimewaanmu
diketahui orang adalah bukti tidak adanya kejujuran dalam kehambaannmu.
Orang yang sebenarnya
gila adalah orang yang pikirannya justru masih waras, ia mengaku hamba Tuhan dan
mengharapkan surga-Nya, sementara ia malas mematuhi perintah-perintah-Nya.
Maksiat yang anda lakukan
pada hakikatnya adalah secara sadar menanda tangani kontrak untuk tinggal di
neraka.
Demikian, beberapa
telaahan mengenai tafakur dengan
beberapa contohnya, semoga memberikan tambahan nuansa bagi kita agar secara
sadar dan aktif bertafakur untuk memperoleh hikmah dan hidayah dari Allah Swt.
Seseorang tidak perlu
menunggu ‘dipaksa’ oleh Allah untuk berpikir tentang kekuasaan-Nya dengan
mengalami peristiwa yang dahsyat, namun apabila hal itu terjadi maka dari
sanalah Allah menunjukkan kasih sayang kepada hamba-Nya dengan memberi
peringatan dan kesempatan untuk bertobat, kembali menyadari sebagai hamba dan
mentaati perintah-Nya.
Mengerti atau
mengenal ‘kebenaran’ saja tidaklah cukup. Karena di dalam Al-Qur’an dikatakan
bahwa, orang yang terhindar dari ‘kerugian’ adalah mereka yang memenuhi 4
kriteria: 1) yang mengenal kebenaran, 2)
yang mengamalkan kebenaran, 3) yang saling nasihat menasihati mengenai
kebenaran; dan 4) yang sabar dan tabah dalam mengamalkan serta mengajarkan
kebenaran.
(Tulisan utama disadur
dari buku ‘Bahan Renungan Kalbu’, penulis Permadi Alibasyah, kisah Laura
Lorenza disadur dari Talk Show ‘Kick Andy’, Metro TV)
Mohammad
Kamal
No. 176
Tulisan pertama dan kedua ini memang menarik dan mencerahkan bagi saya. Syukron ustadz. Wassalam.
BalasHapus