Al-Qur’an Surah Yusuf 12: 8,9,10 menurunkan informasi sekaligus petunjuk kehidupan kepada ummat Muhammad Saw sebagai berikut:
إِذْ قَالُواْ لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ
أَحَبُّ إِلَى أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلاَلٍ
مُّبِينٍ ﴿٨﴾ اقْتُلُواْ يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضاً يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ
أَبِيكُمْ وَتَكُونُواْ مِن بَعْدِهِ قَوْماً صَالِحِينَ ﴿٩﴾ قَالَ قَآئِلٌ
مَّنْهُمْ لاَ تَقْتُلُواْ يُوسُفَ وَأَلْقُوهُ فِي غَيَابَةِ الْجُبِّ
يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ إِن كُنتُمْ فَاعِلِينَ ﴿١٠﴾
(Renungkan pembicaraan di antara
saudara-saudara Yusuf putera Ya'kub As, yaitu) “Ketika mereka berkata:
"Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh
ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang
kuat). Sesungguhnya ayah kita ada dalam kekeliruan yang
nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal)
supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu
menjadi orang-orang yang baik." Seseorang di antara mereka berkata:
"Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya
dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat."
Rangkaian tiga
ayat yang kita pampangkan di atas menggambarkan perasaaan saudara-saudara Yusuf
As terhadap
ayah mereka yaitu Nabi Ya’kub As Kepada sesamanya mereka
mengeluhkan sikap Ya’kub yang dalam pandangan mereka membedakan cinta kasih
kepada anak-anaknya. Terhadap Yusuf dan Bunyamin beliau mencurahkan kasih
sayang yang besar, sedangkan kepada anak-anak lainnya kurang. Apakah
anggapan mereka itu benar? Untuk menganalisis hal ini terlebih dahulu kita
perlu memahami bahwa Ya'kub As mempunyai
dua belas putera yang lahir dari rahim empat orang isteri. Kisah yang beredar
luas menerangkan bahwa pada masa mudanya Ya'kub menginginkan seorang perempuan
bernama Rahil. Tetapi keinginan tersebut terhalang oleh kakak perempuan Rahil
bernama Laiah. Dia belum menikah padahal menurut adat, amat tidak elok seorang
adik perempuan mendahului kakak perempuannya. Maka atas permintaan keluarga
mereka, Ya'kub menikahi keduanya sekaligus. Sesudah itu baik Rahil maupun Laiah
menghadiahkan kepada suaminya seorang budak perempuan untuk dinikahi; maka
Ya'kub mempunyai empat orang isteri. Dari mereka beliau memiliki dua belas
anak; dua dari Rahil, yaitu Yusuf dan Benyamin, sedangkan sepuluh dari tiga
isteri lainnya.
Mengikuti riwayat tadi, wajar bila orang menyangka
bahwa Ya'kub lebih menyintai Yusuf dan Bunyamin karena keduanya lahir dari
rahim perempuan idamannya. Tetapi kita yakin bukan itu yang terjadi. Kita percaya bahwa Ya’kub
As. telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bersikap adil kepada
anak-anak-nya. Beliau seorang Rasul Allah, dan sebagai Rasul pasti beliau
berada di garda terdepan di dalam menunaikan norma-norma ketetapan Allah Swt,
karena norma-norma itu yang harus beliau sampaikan kepada ummat. Sekiranya tidak
demikian Allah pasti mengecam keras beliau, sebagaimana yang dikemukakan dalam QS Al-Baqarah 2: 44: "Mengapa
kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri,
padahal kamu membaca Al-Kitab. Tidakkah kamu berpikir"? Seorang Rasul itu ma'shum -
terjaga dari dosa; kalaupun beliau melakukan kesalahan, Allah segera
mengingatkan beliau sehingga beliaupun bergegas memperbaiki kekeliruannya.
Lebih dari itu Ya'kub As. tentu sadar bahwa sebagai
Rasul beliau menjadi uswatun hasanah - suri teladan kebaikan bagi ummatnya.
Salah satu norma yang ditetapkan Allah bagi semua orang dan diajarkan setiap
Rasul adalah bersikap adil kepada siapapun, bahkan kepada orang yang dibenci. QS Al-Maidah 5: 9 menurunkan
perintah Allah: "Dan jangan sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu
kelompok, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil
itu lebih dekat kepada takwa."
Sikap su-udzzon -
berprasangka buruk, sepuluh dari dua belas putera
Ya'kub kepada ayahandanya lahir dari rasa iri hati yang tidak berdasar. Yang selalu
terbayang dalam benak mereka adalah: Ya'kub senantiasa dekat dengan Yusuf dan
Bunyamin dan selalu bersemangat dalam membimbing keduanya dalam belajar dan
bekerja. Mereka tidak pernah berpikir introspektif: Barangkali ayah mereka
bersemangat mengajar adik-adiknya itu karena mereka memang rajin belajar dan
patuh melaksanakan tugas-tugasnya. Sedangkan mereka sendiri acap kali mangkir,
atau malas-malasan. Mereka tidak mau berpikir dengan pikiran jernih yang ke
luar dari hati yang bersih. Maka mereka beranggapan, Yusuf dan Bunyamin pintar
bermanis mulut mengambil hati ayah mereka, sampai Ya'kub melalaikan
putera-puteranya yang lain. Karena itu merekapun menyimpulkan, satu-satunya
jalan untuk memperoleh kembali perhatian Ya'kub hanyalah dengan menyingkirkan
rival-rival mereka, terutama Yusuf yang lebih besar dan lebih cerdik. Kesimpulan
demikian itu dihasilkan setelah mendengarkan berbagai seruan dan rayuan syeitan,
yang sebagaimana digambarkan pada QS 114 An-Naas 114: 4 dan 5: "Senantiasa membisik-bisikkan keburukan ke dalam hati
manusia. Syeitan itu terdiri dari makhluk berupa jin dan manusia".
Sepuluh orang putera Nabi Ya'kub As itu sepakat untuk menyingkirkan Yusuf. Bagaimana
caranya? Di antara mereka ada yang mengusulkan untuk membunuh saja anak itu
kemudian membuang mayatnya ke jurang di antara bukit-bukit, atau menanamnya di
tanah. Itu cara yang paling mudah dan paling singkat pelaksanaannya. Tetapi
kemudian mereka merasa tidak tega melakukan pembunuhan itu dengan tangan
sendiri. Bagaimanapun Yusuf adalah adik mereka, putera dari ayah mereka. Yusuf
telah bercampur gaul di rumah yang sama dengan mereka selama bertahun-tahun.
Tidak akan sampai hati mereka melumuri tangan dengan darah adik sendiri,
betapapun bencinya mereka ke kepada anak itu. Terbayang di angan-angan sebagian
putera Ya'kub itu, pada hari-hari ke depan, ketika sedang makan bersama tanpa
Yusuf, atau berangkat tidur tanpa ada Yusuf, atau mengaji dengan ayahnya tanpa
kehadiran Yusuf, saat-saat ketika anak itu mengaduh kesakitan sewaktu sakarotul
maut, matanya memandangi mereka dengan tajam mengerikan. Pasti mereka akan
merasakan trauma berkepanjangan. Maka ada usul lain yang dapat mengurangi atau
menghilangkan trauma itu. Yusuf mereka bawa saja ke tempat yang jauh, di tengah
gurun pasir tak berpenghuni, kemudian mereka tinggalkan di tempat itu. Anak
yang masih belia tersebut tidak akan dapat ke mana-mana karena tidak tahu
jalan. Dia akan mati kelaparan atau diterkam binatang buas di luar penglihatan
mereka, sehingga mereka akan bebas dari kenangan buruk.
Tetapi usul tersebut belum juga memuaskan hati semua
mereka. Bagaimanapun mereka tahu bahwa ditinggalkan di tempat yang jauh, anak
itu pasti mati. Maka hati mereka akan tetap membayangkan saat-saat ketika Yusuf
kehausan atau kelaparan di bawah sinar matahari yang sangat terik, lalu
menangis memanggil-manggil nama mereka satu per satu, memintanya untuk datang
kembali menolongnya. Bisa jadi tiap-tiap malam mereka bermimpi diteriaki Yusuf,
dengan suaranya yang parau semakin lama semakin lemah. Bisa jadi mereka
bermimpi melihat Yusuf didatangi serigala yang sangat buas, maka anak itu menjadi
sangat ketakutan, dan dalam kengerian yang sangat itu dia menyebut nama
kakak-kakaknya agar datang menyelamatkan dirinya. Bayangan demikian itu akan
tetap menjadi trauma yang menghantui mereka seumur hidup. Mereka tentu tidak
ingin tersiksa dengan hal-hal itu.
Ada lagi yang membuat mereka bimbang untuk melakukan
kejahatannya. Ya'kub As ayah mereka
telah mengajarkan kepada mereka berulang-ulang, mengenai perbuatan yang baik
dan yang buruk. Allah Swt pasti menyaksikan perbuatan setiap orang; maka perbuatan
yang baik akan Dia ganjar dengan kebaikan yang berlipat ganda sedangkan
perbuatan yang buruk akan Dia balas dengan keburukan yang setimpal. Nabi Ya'kub
memberi informasi yang sangat jelas kepada semua mereka dan semua ummat beliau, tentang surga
dan neraka yang disediakan Allah untuk dihuni manusia kelak pada hari Kiamat.
Keterangan yang sama diberitakan pula kepada umat Muhammad Saw di dalam
Al-Quran, QS Al-Zalzalah 99: 7,8: "Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat
atom pun, dia akan menyaksikan hasilnya. Dan yang mengerjakan keburukan seberat
atom pun, dia juga akan menyaksikan hasilnya." Para putera Ya'kub As tahu betul hal itu, dan merekapun menginginkan surga
dan takut masuk neraka. Mereka berharap masuk surga karena ayah mereka,
sebagaimana para Rasul yang lain menceritakan keindahan surga yang luar biasa
dan kesengsraan di neraka yang tidak ada tolok bandingnya.
Tetapi untuk hal terakhir ini mereka merasa menemukan penyelesaian
yang ganjil tetapi mereka anggap baik. Solusi yang memuaskan hati mereka itu
mereka peroleh dari bisik-bisik syeitan yang tidak
henti-hentinya memengaruhi mereka. Pembunuhan memang kejahatan yang buruk, yang
menghasilkan dosa yang besar, tetapi Allah Maha Pengampun
dan Maha Penyayang. Maka mereka harus memanfaatkan kebaikan Allah
itu. Ayat 8 surah Yusuf yang kita kutip pada permulaan uraian ini
menceriterakan ucapan salah seorang putera Nabi Ya'kub As: "Sesudah membunuh Yusuf, hendaknya kita
menjadi orang-orang yang saleh." Ini
berarti, sepuluh putera Ya'kub As merencanakan
untuk menjadi orang baik-baik, tetapi sesudah membunuh Yusuf. Ini sebuah
rencana ganjil karena dua hal. Pertama: tidak ada jaminan bahwa mereka masih
mempunyai umur dan kesempatan untuk bertobat setelah kejahatan mereka lakukan.
Bisa saja terjadi, dengan kehendak Allah mereka mati segera setelah berbuat
jahat yang direncanakannya. Tidak ada siapapun yang mampu menghalangi kematian
setelah Allah menetapkan waktunya. Kedua: tidak ada jaminan bahwa mereka
benar-benar melaksanakan rencana bertobat itu. Syaitan telah berhasil mempedaya
mereka untuk melakukan keburukan, maka dia pasti akan mendorong mereka untuk
melakukan keburukan bertikutnya, dan berikutnya lagi. Seperti sebelumnya,
bujukan syaitan itu kemungkinan besar berhasil, sehingga sampai mati mereka
tidak dapat lepas dari kedurhakaan. Mereka tidak menyadari hal tersebut.
Untuk masalah gulty feeling karena membunuh
atau menyebabkan kematian adiknya sendiri, putera-putera Ya'kub As juga merasa menemukan penyelesaian yang sangat baik.
Seorang dari mereka mengusulkan untuk membuang Yusuf ke suatu tempat, bukan
yang sunyi dan jauh dari orang-orang seperti rencana mereka terdahulu, tetapi
justru ke tempat yang pasti akan didatangi orang. Tempat yang dimaksud ialah
oasis, sumur yang terdapat di padang pasir, yang menjadi tempat singgah bagi
rombongan musafir atau kawanan pedagang. Mereka memerlukan tempat beristirahat
sekaligus sumber air untuk memuaskan dahaga dan untuk bekal perjalanan
selanjutnya. Maka kalau Yusuf dibuang di tempat tersebut, dia pasti ditemukan
oleh kafilah yang lewat dan beristirahat di situ. Dengan demikian tujuan
tercapai: Yusuf tersingkir dari rumah mereka tetapi tidak mereka bunuh dan
tidak akan mati. Kalau yang menemukan dia orang-orang jahat, itu memang nasib
buruk Yusuf, tetapi kalau dibawa orang baik dan diperlukan dengan baik-baik
pula, itu sebuah keburuntungan baginya. Demikian jalan pikiran yang akhirnya
disepakati oleh sepuluh putera Ya'kub As. Rencana
terakhir itu nampaknya lebih manusiawi namun tetap merupakan sebuah keburukan
yang pasti tidak diridhai Allah Swt.
Demikianlah rangkaian tiga ayat yang kita bahas sekarang,
membicarakan nafsu buruk yang bergejolak di dalam hati putera-putera seorang
Nabi dan Rasul Allah. Ayah mereka pasti telah memberikan
pendidikan yang sangat baik, tidak hanya dengan ucapan tetapi juga contoh
perbuatan nyata. Namun syaitan lebih berpengaruh terhadap mereka, karena mereka
membiarkan syaitan itu bersimaharajelala di hatinya. Allah Swt menjamin,
syaitan tidak berkuasa apa-apa kepada manusia kecuali kepada orang-orang yang
mengangkatnya menjadi pemimpin dan menyekutukan Allah dengan dia. (QS An-Nahl
16: 99-100). Sepuluh insan yang dibicarakan di sini justru
mengundang syaitan memimpin mereka. Sikap seperti putera-putera Ya'kub As ini bisa diikuti oleh siapa saja. Al-Quran diturunkan
Allah kepada umat Muhammad Saw maka isinya merupakan pelajaran dan peringatan
bagi semua kita.
Sakib Machmud
No. 170
Gitu kalo putra-putra nabi, mendengkipun masih berakhlak, dan Allah telah menjadikan Yusuf yang didengki menjadi nabi pula. Tapi gimana cerita Bunyamin?
BalasHapusDalam surah Yusuf diceriterakan, Bunyamin menjadi seorang yang saleh, meskipun tidak menjadi Nabi dan Rasul Allah. Kisah ini berakhir dengan happy ending. Sepuluh putera Ya'kub menyadari kekeliruannya, bertobat dan mengubah sikap dan perbuatannya. Bunyamin bersatu kembali dengan kakaknya di Mesir. bahkan akhirnya Ya'kub dan seluruh keluarganya "bedol desa" ke Mesir ketika tempat tinggal mereka di kawasan Palestina mengalami paceklik panjang. Itulah awal dari keberadaan mereka di negeri Mesir. Mereka menjadi orang baik-baik, tetapi beberapa generasi sesudah itu menjadi sombong, melecehkan penduduk asli Mesir, bahkan mengeksploitasi mereka. Orang-orang Mesir dendam kepada Bani Israil. Fir'aun yang tahu suara batin penduduk negerinya memanfaatkan situasi itu untuk mendapatkan dukungan rakyat. Dia membalikkan keadaan. Bani Israil dilucuti semua hak istimewanya, bahkan dijadikan orang asing yang harus mengabdi kepada penduduk pribumi. Policy itu disambut sangat baik oleh rakyat Mesrir, yang tidak sadar bahwa mereka lalu dieksploitasi habos-habisan oleh sang Raja. Akhirnya Allah mengembalikan Bani Israil ke kampung halamannya dahulu, dan Fir'aun ditenggelamkan di Laut Merah.
BalasHapusTerima kasih atas informasi ustadz.Wassalam.
BalasHapus