Jumat, 05 Oktober 2012

MEMBALAS KEBENCIAN DENGAN KASIH SAYANG


Allah Swt berfirman: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. (QS Al-Anbiyaa’ 21: 107). Dia adalah Dzat yang Paling Pengasih dan Penyayang (Ar-Rahman dan Ar-Rahim), yang menghendaki kasih sayang-Nya ditebarkan di muka bumi. Dia mengutus Rasul-Nya Nabi Muhammad Saw untuk menebarkan kasih sayang bagi semesta alam. Maka dalam segala hal Rasulullah Saw selalu mengutamakan kasih sayang meskipun orang lain berbuat jahat kepadanya.
Bila ada orang yang berbuat jahat kepada beliau. Rasulullah Saw selalu membalasnya dengan kebaikan. Salah satu contoh perilaku Rasulullah Saw dapat dilihat saat beliau dilempari orang sampai kakinya berlumuran darah di Thaif ketika mengajak mereka kepada Islam. Ketika itu Malaikat datang kepadanya menawarkan untuk menimpakan gunung di atas orang-orang yang menyerangnya, Rasulullah Saw hanya berkata: “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku karena mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti.”
Allah Swt berfirman: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS Ali ‘Imraan 3: 159).
Di antara perbuatan baik yang sangat tinggi nilainya adalah membalas keburukan orang kepada kita dengan kebaikan. Ini bukanlah suatu hal yang mustahil, melainkan ini adalah ajaran kesucian yang akan membawa kita lebih dekat kepada Allah Swt.
Salah seorang di antara tokoh besar dalam dunia kesucian adalah sufi Mesir yang bernama Abul Faiz Tsauban bin Ibrahim yang dikenal dengan nama Dzunnun. Karena ia berasal dari Mesir, maka ia dikenal dengan sebutan Dzunnun Al-Mishri - Dzunnun Orang Mesir (796 - 856 M). Ketika ia masih hidup, orang-orang tidak mengenalnya sebagai orang yang dekat dengan Allah. Ia lebih banyak dicela dan dicemooh orang karena dianggap kafir, ahli bid’ah, dan orang murtad. Ia tidak pernah membalas semua tuduhan itu dengan kemarahan atau serangan balik. Ia bahkan menunjukkan dirinya seakan-akan ia mengakui seluruh celaan itu. Orang mengetahui kedekatannya dengan Tuhan setelah Dzunnun meninggal dunia.
Menurut Sufi Al-Hujwiri dari Pakistan (1009-1072 M), pada malam kematian Dzunnun, ada tujuh puluh orang bermimpi melihat Rasulullah Saw. Dalam mimpi itu, Nabi bersabda: "Aku datang menemui Dzunnun, sang wali Allah." Sesudah kematiannya, konon di atas keningnya tertulis: “Inilah kekasih Tuhan, yang mati karena mencintai Tuhan, dan dibunuh oleh Tuhan.” Al-Hujwiri juga menuturkan, pada saat penguburan Dzunnun, burung-burung di angkasa berkumpul di atas kerandanya sambil mengembangkan sayap-sayap mereka, seolah-olah ingin melindungi jenazahnya. Ketika itulah orang-orang Mesir baru menyadari bahwa mereka telah keliru memperlakukan Dzunnun selama ini.
Dzunnun Al-Misri mengutamakan Allah atas segala-galanya. Semua ketentuan adalah kehendak Allah Swt. Sebagai pengembara yang memiliki kemampuan dan kebenaran untuk menyatakan pendapat. Dhunnun mempunyai banyak pengalaman dalam hidupnya. Terlebih dalam bidang ma’rifat - pengetahuan mengenal Allah. Pandangannya tentang marifat sungguh luar biasa. Sehingga tidak salah lagi jika dia disebut sebagai pelopor ajaran ahwal - keadaan mental yang dialami oleh para sufi dalam perjalanan spiritualnya - dan maqamat - tahapan taubat. Menurut Dzunnun A-Mishri, ma’rifat adalah karunia Allah yang dilimpahkan pada orang arif, seperti yang dikemukakannya ketika ditanya: “Dengan apakah kau mengenal mengenal Tuhanmu?” Jawabnya: “Aku mengenal Tuhanku dengan Tuhanku!  Tanpa Tuhanlu, aku tidak mungkin mengenal Tuhanku. 

Di samping itu ada lagi ajaran yang sangat penting dari pandangan Dzunnun Al-Mishri yaitu bahwa," Orang yang sudah mencapai tingkat mahabbah kepada Allah, adalah orang-orang yang mengutamakan Allah atas segalanya". Pandangan Dhunnun Al-Misri tentang ahwal dan maqamat yang begitu mendalam juga merupakan kecintaannya yang begitu besar kepada Allah yang membuatnya semakin pantas menyandang gelar sufi.
Alkisah, pada suatu hari, Dzunnun Al-Mishri dan murid-muridnya berlayar di sungai Nil. Ada dua kelopok orang yang sedang berekreasi di sungai itu, yaitu orang-orang shaleh seperti Dzunnun dan para santrinya, dan orang-orang yang menggunakan rekreasi sebagai alat untuk melakukan kemaksiatan. Di tengah jalan, bertemulah dua kelompok perahu yang itu. Pada perahu yang satu, terdapat Dzunnun, sang kiai, bersama para santrinya. Mereka melantunkan dzikir kepada Allah Swt. Pada perahu yang lain, ada sekelompok anak muda yang memetik gitar, berhura-hura, berteriak-teriak, dan berperilaku yang menjengkelkan para santri Dzunnun. Karena para santri percaya bahwa doa-doa Dzunnun pasti di-ijabah - dikabulkan, mereka meminta Dzunnun untuk berdoa kepada Allah supaya perahu anak-anak muda itu ditenggelamkan Tuhan jauh ke dasar sungai Nil.
Dzunnun lalu mengangkat kedua belah tangannya dan berdoa: Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memberikan orang-orang itu kehidupan yang menyenangkan di dunia ini, beri juga mereka satu kehidupan yang menyenangkan di akhirat nanti.” Santri-santrinya tercengang. Semula mereka berharap Dzunnun akan mendoakan anak-anak muda yang ugal-ugalan itu agar ditenggelamkan Tuhan karena anak-anak muda itu memandang kehidupan hanya semata-mata kesenangan saja.
Tetapi aneh bin ajaib, Dzunnun hanya berdoa seperti itu. Para santri terkejut mendengar doa Dzunnun. Ketika perahu anak-anak muda itu mendekat, mereka melihat Dzunnun ada di perahu itu, mereka menyesal dan meminta maaf. Entah bagaimana, memandang wajah Dzunnun membawa mereka kepada kesucian. Mereka menghancurkan alat-alat musik mereka dan bertaubat kepada Tuhan. Waktu itulah Dzunnun memberi pelajaran kepada para santrinya, “Kehidupan yang menyenangkan di akhirat nanti adalah bertaubat di dunia ini. Dengan cara begini, kalian dan mereka puas tanpa merugikan siapa pun.”
Lalu bagaimana dengan kita? Kita terbiasa untuk menaruh dendam kepada orang-orang di sekitar kita. Seringkali kita jengkel kepada orang-orang yang kita anggap buruk. Ketika ada orang yang memperlakukan kita dengan jelek, kita berharap bahwa kita bisa membalas kejelekan itu dengan kejelekan kita lagi. Untuk itu kita sering menutup-nutupinya dengan berkata, “Supaya ini memjadi pelajaran bagi mereka.” Tradisi para Rasul dan orang-orang shaleh mengajarkan kepada kita untuk membalas kejelekan yang dilakukan orang lain dengan kebaikan.
Bayangkanlah ketika kita berdoa supaya saingan kita hancur, agar musuh kita binasa, kita akan memperoleh satu manfaat saja, yaitu kepuasan hati karena hancurnya saingan kita. Tetapi ketika kita berdoa: “Ya Allah, ubahlah kebencian musuh-musuhku menjadi kasih sayang, maka kita akan mendatangkan manfaat kepada semua orang. Sama seperti doa Dzunnun Al-Mishri.
Dzunnun mengajari kita tradisi para Nabi dan orang-orang shaleh; membalas kejelekan dengan kebaikan. Jadilah kita seperti pohon mangga di tepi jalan, yang dilempari orang dengan batu tetapi ia mengirimkan kepada si pelempar itu, buah yang telah ranum. “Ahsin kamaa ahsanallaahu ilaik, - berbuatlah baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS Al-Qashash 28: 77).
Cerita tentang Dzunnun ini menarik karena kita terbiasa untuk menaruh dendam kepada orang-orang di sekitar kita. Seringkali setelah kita menjalani kehidupan yang baik, kita jengkel kepada orang-orang yang kita anggap buruk. Ketika ada orang yang memperlakukan kita dengan jelek, kita berharap bahwa kita bisa membalas kejelekan itu dengan kejelekan kita lagi.
Dzunnun melanjutkan tradisi para rasul Allah yang mengajarkan kepada kita untuk membalas kejelekan yang dilakukan orang lain dengan kebaikan. Bayangkanlah ketika seseorang berdoa supaya saingannya hancur, agar musuhnya binasa, dia akan memperoleh satu manfaat saja, yakni kepuasan hati karena hancurnya saingan orang itu. Tetapi ketika seseorang berdoa: “Ya Allah, ubahlah kebencian musuh-musuhku menjadi kasih sayang.” Do’a itu akan mendatangkan manfaat kepada semua orang.
Sama seperti do’a Dzunnun Al-Mishri. Dahulu, Nabi Isa As beserta murid-muridnya lewat di depan rombongan pemuda yang ugal-ugalan juga. Mereka bukan saja melakukan tindakan-tindakan maksiat ketika kelompok Nabi Isa datang, mereka juga malah melemparkan batu ke arah Nabi Isa.   Nabi berhenti dan memandang mereka untuk kemudian mendoakan kebaikan bagi mereka. Murid-muridnya bertanya, "Mereka melempari batu ke arahmu tapi mengapa engkau malah membalas dengan doa yang baik?" Nabi Isa As menjawab, "Itulah bedanya kita dengan mereka. Mereka kirimkan kepada kita keburukan dan kita kirimkan kepada mereka kebaikan."
Dalam kaitan ini Rasulullah Saw bersabda: “Berlapang dadalah kamu terhadap orang yang membodohi kamu. Engkau suka memberi maaf kepada orang yang telah menganiaya kamu. Engkau suka memberi kepada orang yang tidak pernah memberikan sesuatu kepadamu. Dan, engkau mau bersilaturahim kepada orang yang telah memutuskan hubungan dengan engkau." (HR At-Thabrani). Demikian nasihat Rasulullah Saw yang mengajarkan ummatnya untuk membalas kebencian dengan kasih sayang, yaitu salah satu cabang dari al-akhlaqul karimah.
Psikolog Syeikh Dr. ‘Aidh Al-Qarni (lahir 1960 M) mengatakan: "Hati tanpa kasih sayang, tak lebih sebongkah batu karang. Ruh tanpa kasih sayang, adalah sahara yang gersang. Lisan tanpa kasih sayang, bagaikan cemeti siksaan. Nasihat tanpa kasih sayang, sama artinya dengan pengumuman perang. Pedoman tanpa kasih sayang, tak ubahnya terowongan gelap memanjang. Pada zaman sekarang, kita lebih membutuhkan ungkapan kasih sayang, termasuk terhadap non Muslim. Karena kini merupakan zaman terasingnya agama, zaman di mana ulama yang kredibel hanya sedikit, sementara tawaran dan godaan begitu banyak. Maka, bagi siapa saja yang memiliki seberkas cahaya ilmu, atau sedikit kebaikan, hendaknya dia lebih mendahulukan bahasa toleransi dan prinsip kasih sayang, agar menjadi sebab kembalinya manusia kepada Tuhannya, dan menjadi penyambung antara makhluk dengan Khaliqnya serta penggiring keselamatan orang-orang yang celaka. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw: "Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu, kecuali dia akan menghiasinya. Dan tidaklah dia tercabut dari sesuatu, kecuali menjadikannya ternoda." (HR Muslim). Sudah saatnya, 'gaya' mencela, mencaci dan melukai ditutup selama-lamanya. Justru yang harus dibuka selama-lamanya adalah 'model' kasih sayang, toleransi dan lemah lembut. Demikian nasihat Syeikh Aidh Al-Qarni.
Begitu baik dan sempurnanya agama Islam, tetapi mengapa peringkat keIslaman ummat Islam Indonesia di bidang muamalah sebatas tawuran antar pelajar, antar mahasiswa, dan konflik antar warga? Inilah komentar pengasuh Al-Mustaqiim Ustadz Sakib Machmud tentang peristiwa tawuran pelajar yang menyedihkan belakangan ini:
 Di Jakarta dalam waktu yang sangat berdekatan terjadi dua peristiwa tawuran pelajar, keduanya menelan korban jiwa. Banyak orang berkomentar, baik para ahli, politisi, maupun anggota masyarakat ‘biasa’. Umumnya menyatakan bahwa ada kegalauan besar di kalangan remaja; pemicunya macam-macam. Maka dalam rangka upaya preventif, ada pihak-pihak yang diminta perhatian lebih banyak lagi: orang-tua, guru, pimpinan sekolah, ulama, polisi, dan sebagainya. Semua mereka dinilai kurang aktif dalam memberikan pendidikan moral kepada remaja. Orang-tua jarang bertemu anaknya dan kalau bertemu pun tidak berkomunikasi secara harmonis. Guru-guru merasa hanya bertanggungjawab untuk meningkatkan kapasitas intelektual, bukan moral. Kepala sekolah dan wali kelas hanya mengurusi masalah administratif. Ustadz dan pemimpin agama yang lain tidak fokus membina insan-insan muda yang tengah gelisah itu. Polisi hanya bertindak setelah tawuran terjadi dan sedikit sekali melakukan upaya preventif.
Demikian komentar banyak orang, yang disampaikan melalui media elektronik dan media cetak. Tetapi menurut saya, ada lagi pihak yang juga banyak sahamnya untuk memunculkan kegalauan pada semua orang termasuk remaja. Dia adalah media itu sendiri. Berita tentang tawuran ditampilkan berkali-kali dan kadang-kadang secara vulgar sehingga malahan menarik para remaja untuk mengikutinya. Berita politik sangat banyak menampilkan pertentangan antar kelompok. Berita demo acap kali fokus pada ricuhnya, bukan bagaimana menyelesaikan masalah-masalah yang dituntut pendemo. Sudah tentu ada juga media yang bijak, tetapi sayang hanya sedikit saja. Meskipun demikian, tentu saja kritik terhadap media itu sulit sekali. Siapa yang mau memuat? Atau kalaupun dimuat atau ditayangkan, sudah sangat dihaluskan.” Begitu kata ustadz kita.
Maka hendaknya kita lebih mendahulukan toleransi dan kasih sayang dalam hidup bermasyarakat, agar kita menjadi manusia yang kembali ke jalan Allah Swt, dan penggiring keselamatan orang-orang yang celaka.
Hermanto Harsolumakso
No. 163

1 komentar:

  1. Membalas kebencian dengan kasih sayang itulah Islam. Itulah yang seharusnya kita sosialisasikan supaya negeri ini menjadi aman, negeri tanpa konflik, tanpa terorisme, tanpa SARA, tanpa fitnah, bukan negeri yang rakyatnya terpecah belah menanamkan kebencian satu sama lain, mendahulukan kepentingan sendiri dari pada kepentingan bersama, tetapi negeri yang pemimpin dan rakyatnya saling bersinergi membangun NKRI.

    BalasHapus