Allah Swt berfirman: “Dan
tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi
semesta alam. (QS Al-Anbiyaa’ 21: 107). Dia adalah Dzat yang
Paling Pengasih dan Penyayang (Ar-Rahman dan Ar-Rahim), yang menghendaki
kasih sayang-Nya
ditebarkan di muka bumi. Dia mengutus Rasul-Nya Nabi Muhammad Saw untuk
menebarkan kasih sayang bagi semesta alam. Maka dalam segala hal Rasulullah Saw
selalu mengutamakan kasih sayang meskipun orang lain berbuat jahat kepadanya.
Bila ada orang yang berbuat jahat
kepada beliau. Rasulullah Saw selalu membalasnya dengan kebaikan. Salah satu
contoh perilaku Rasulullah Saw dapat dilihat saat beliau dilempari orang sampai kakinya berlumuran
darah di Thaif ketika mengajak mereka kepada Islam. Ketika itu
Malaikat datang kepadanya
menawarkan untuk menimpakan gunung di atas orang-orang yang menyerangnya, Rasulullah
Saw hanya berkata: “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku karena mereka
adalah orang-orang yang tidak mengerti.”
Allah Swt berfirman: “Maka disebabkan rahmat dari
Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap
keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.
Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS Ali ‘Imraan 3: 159).
Di antara perbuatan baik
yang sangat tinggi nilainya adalah membalas keburukan orang kepada kita dengan
kebaikan. Ini bukanlah suatu hal yang mustahil, melainkan ini adalah ajaran
kesucian yang akan membawa kita lebih dekat kepada Allah Swt.
Salah seorang di antara tokoh besar
dalam dunia kesucian adalah sufi Mesir yang bernama Abul Faiz Tsauban bin
Ibrahim yang dikenal dengan nama Dzunnun. Karena ia berasal dari Mesir, maka ia
dikenal dengan sebutan Dzunnun Al-Mishri - Dzunnun Orang Mesir (796 - 856 M). Ketika ia masih hidup, orang-orang tidak mengenalnya
sebagai orang yang dekat dengan Allah. Ia lebih banyak dicela dan dicemooh
orang karena dianggap kafir, ahli bid’ah, dan orang murtad. Ia tidak pernah
membalas semua tuduhan itu dengan kemarahan atau serangan balik. Ia bahkan
menunjukkan dirinya seakan-akan ia mengakui seluruh celaan itu. Orang
mengetahui kedekatannya dengan Tuhan setelah Dzunnun meninggal dunia.
Menurut Sufi Al-Hujwiri dari Pakistan
(1009-1072 M), pada malam kematian Dzunnun, ada tujuh puluh orang bermimpi
melihat Rasulullah Saw. Dalam mimpi itu, Nabi bersabda: "Aku datang
menemui Dzunnun, sang wali Allah." Sesudah kematiannya, konon di atas
keningnya tertulis: “Inilah kekasih Tuhan, yang mati karena mencintai Tuhan,
dan dibunuh oleh Tuhan.” Al-Hujwiri juga menuturkan, pada saat penguburan
Dzunnun, burung-burung di angkasa berkumpul di atas kerandanya sambil
mengembangkan sayap-sayap mereka, seolah-olah ingin melindungi jenazahnya.
Ketika itulah orang-orang Mesir baru menyadari bahwa mereka telah keliru
memperlakukan Dzunnun selama ini.
Dzunnun Al-Misri
mengutamakan Allah atas segala-galanya. Semua ketentuan adalah
kehendak Allah Swt. Sebagai pengembara yang memiliki kemampuan dan kebenaran
untuk menyatakan pendapat. Dhunnun mempunyai banyak pengalaman dalam hidupnya.
Terlebih dalam bidang ma’rifat - pengetahuan mengenal Allah. Pandangannya
tentang ma’rifat sungguh luar biasa. Sehingga tidak salah lagi jika dia disebut sebagai
pelopor ajaran ahwal - keadaan mental yang dialami oleh para sufi dalam perjalanan
spiritualnya - dan maqamat -
tahapan taubat. Menurut Dzunnun A-Mishri, ma’rifat adalah
karunia Allah yang dilimpahkan pada orang arif, seperti yang dikemukakannya
ketika ditanya: “Dengan
apakah kau
mengenal mengenal Tuhanmu?” Jawabnya: “Aku mengenal Tuhanku dengan Tuhanku! Tanpa Tuhanlu,
aku tidak mungkin mengenal Tuhanku.”
Di samping itu ada lagi ajaran yang sangat penting dari pandangan Dzunnun Al-Mishri yaitu bahwa," Orang yang sudah mencapai tingkat mahabbah kepada Allah, adalah orang-orang yang mengutamakan Allah atas segalanya". Pandangan Dhunnun Al-Misri tentang ahwal dan maqamat yang begitu mendalam juga merupakan kecintaannya yang begitu besar kepada Allah yang membuatnya semakin pantas menyandang gelar sufi.
Di samping itu ada lagi ajaran yang sangat penting dari pandangan Dzunnun Al-Mishri yaitu bahwa," Orang yang sudah mencapai tingkat mahabbah kepada Allah, adalah orang-orang yang mengutamakan Allah atas segalanya". Pandangan Dhunnun Al-Misri tentang ahwal dan maqamat yang begitu mendalam juga merupakan kecintaannya yang begitu besar kepada Allah yang membuatnya semakin pantas menyandang gelar sufi.
Alkisah, pada suatu hari,
Dzunnun Al-Mishri dan murid-muridnya berlayar di sungai Nil. Ada dua kelopok
orang yang sedang berekreasi di sungai itu, yaitu orang-orang shaleh seperti
Dzunnun dan para santrinya, dan orang-orang yang menggunakan rekreasi sebagai
alat untuk melakukan kemaksiatan. Di tengah jalan, bertemulah dua kelompok
perahu yang itu. Pada perahu yang satu, terdapat Dzunnun, sang kiai, bersama
para santrinya. Mereka melantunkan dzikir kepada Allah Swt. Pada perahu yang
lain, ada sekelompok anak muda yang memetik gitar, berhura-hura,
berteriak-teriak, dan berperilaku yang menjengkelkan para santri Dzunnun.
Karena para santri percaya bahwa doa-doa Dzunnun pasti di-ijabah - dikabulkan,
mereka meminta Dzunnun untuk berdoa kepada Allah supaya perahu anak-anak muda
itu ditenggelamkan Tuhan jauh ke dasar sungai Nil.
Dzunnun lalu mengangkat
kedua belah tangannya dan berdoa: Ya
Allah, sebagaimana Engkau telah memberikan orang-orang itu kehidupan yang
menyenangkan di dunia ini, beri juga mereka satu kehidupan yang menyenangkan di
akhirat nanti.” Santri-santrinya tercengang. Semula mereka berharap
Dzunnun akan mendoakan anak-anak muda yang ugal-ugalan itu agar ditenggelamkan
Tuhan karena anak-anak muda itu memandang kehidupan hanya semata-mata
kesenangan saja.
Tetapi aneh bin ajaib,
Dzunnun hanya berdoa seperti itu. Para santri terkejut mendengar doa Dzunnun.
Ketika perahu anak-anak muda itu mendekat, mereka melihat Dzunnun ada di perahu
itu, mereka menyesal dan meminta maaf. Entah bagaimana, memandang wajah Dzunnun
membawa mereka kepada kesucian. Mereka menghancurkan alat-alat musik mereka dan
bertaubat kepada Tuhan. Waktu itulah Dzunnun memberi pelajaran kepada para
santrinya, “Kehidupan yang
menyenangkan di akhirat nanti adalah bertaubat di dunia ini. Dengan
cara begini, kalian dan mereka puas tanpa merugikan siapa pun.”
Lalu bagaimana dengan
kita? Kita terbiasa untuk menaruh dendam kepada orang-orang di sekitar kita.
Seringkali kita jengkel kepada orang-orang yang kita anggap buruk. Ketika ada
orang yang memperlakukan kita dengan jelek, kita berharap bahwa kita bisa
membalas kejelekan itu dengan kejelekan kita lagi. Untuk itu kita sering
menutup-nutupinya dengan berkata, “Supaya ini memjadi
pelajaran bagi mereka.” Tradisi para Rasul
dan orang-orang shaleh mengajarkan kepada kita untuk membalas kejelekan yang
dilakukan orang lain dengan kebaikan.
Bayangkanlah ketika kita
berdoa supaya saingan kita hancur, agar musuh kita binasa, kita akan memperoleh
satu manfaat saja, yaitu kepuasan
hati karena hancurnya saingan kita. Tetapi
ketika kita berdoa: “Ya
Allah, ubahlah kebencian musuh-musuhku menjadi kasih sayang”, maka kita akan mendatangkan
manfaat kepada semua orang. Sama
seperti doa Dzunnun Al-Mishri.
Dzunnun
mengajari kita tradisi para Nabi
dan orang-orang shaleh; membalas kejelekan dengan kebaikan. Jadilah kita
seperti pohon mangga di tepi jalan, yang dilempari orang dengan batu tetapi ia
mengirimkan kepada si pelempar itu, buah yang telah ranum. “Ahsin kamaa ahsanallaahu ilaik,
- berbuatlah baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS Al-Qashash
28: 77).
Cerita
tentang Dzunnun ini menarik karena kita terbiasa untuk menaruh dendam kepada
orang-orang di sekitar kita. Seringkali setelah kita menjalani kehidupan yang
baik, kita jengkel kepada orang-orang yang kita anggap buruk. Ketika ada orang
yang memperlakukan kita dengan jelek, kita berharap bahwa kita bisa membalas
kejelekan itu dengan kejelekan kita lagi.
Dzunnun melanjutkan tradisi para rasul
Allah yang mengajarkan kepada kita untuk membalas kejelekan yang dilakukan
orang lain dengan kebaikan. Bayangkanlah ketika seseorang berdoa supaya saingannya
hancur, agar musuhnya binasa, dia akan memperoleh satu manfaat saja, yakni kepuasan
hati karena hancurnya saingan orang itu. Tetapi ketika seseorang berdoa: “Ya
Allah, ubahlah kebencian musuh-musuhku menjadi kasih sayang.” Do’a itu akan mendatangkan
manfaat kepada semua orang.
Sama seperti
do’a Dzunnun Al-Mishri. Dahulu, Nabi Isa As beserta murid-muridnya lewat di
depan rombongan pemuda yang ugal-ugalan juga. Mereka bukan saja melakukan
tindakan-tindakan maksiat ketika kelompok Nabi Isa datang, mereka juga malah
melemparkan batu ke arah Nabi Isa. Nabi
berhenti dan memandang mereka untuk kemudian mendoakan kebaikan bagi mereka. Murid-muridnya
bertanya, "Mereka melempari batu ke arahmu tapi mengapa engkau malah
membalas dengan doa yang baik?" Nabi Isa As menjawab, "Itulah
bedanya kita dengan mereka. Mereka kirimkan kepada kita keburukan dan kita
kirimkan kepada mereka kebaikan."
Dalam kaitan
ini Rasulullah Saw bersabda: “Berlapang dadalah kamu terhadap orang yang
membodohi kamu. Engkau suka memberi maaf kepada orang yang telah menganiaya
kamu. Engkau suka memberi kepada orang yang tidak pernah memberikan sesuatu
kepadamu. Dan, engkau mau bersilaturahim kepada orang yang telah memutuskan
hubungan dengan engkau." (HR At-Thabrani). Demikian nasihat Rasulullah Saw yang mengajarkan ummatnya untuk
membalas kebencian dengan kasih sayang, yaitu salah satu cabang dari al-akhlaqul karimah.
Psikolog Syeikh Dr. ‘Aidh
Al-Qarni (lahir 1960 M) mengatakan: "Hati tanpa kasih sayang, tak lebih sebongkah
batu karang. Ruh tanpa kasih sayang, adalah sahara yang
gersang. Lisan tanpa kasih sayang, bagaikan cemeti
siksaan. Nasihat tanpa
kasih sayang, sama artinya dengan pengumuman perang. Pedoman
tanpa kasih sayang, tak ubahnya terowongan gelap memanjang. Pada zaman
sekarang, kita lebih membutuhkan ungkapan kasih sayang, termasuk
terhadap non Muslim. Karena
kini merupakan zaman terasingnya agama, zaman di mana ulama
yang kredibel hanya sedikit, sementara tawaran dan godaan begitu
banyak. Maka, bagi siapa saja yang memiliki seberkas cahaya ilmu, atau sedikit
kebaikan, hendaknya dia lebih mendahulukan bahasa toleransi dan prinsip kasih
sayang, agar menjadi sebab kembalinya manusia kepada Tuhannya, dan menjadi penyambung
antara makhluk dengan Khaliqnya serta penggiring keselamatan orang-orang yang
celaka. Sebagaimana
sabda Rasulullah Saw: "Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu,
kecuali dia akan menghiasinya. Dan tidaklah dia tercabut dari sesuatu, kecuali menjadikannya
ternoda." (HR Muslim). Sudah
saatnya, 'gaya' mencela, mencaci dan melukai ditutup selama-lamanya. Justru
yang harus dibuka selama-lamanya adalah 'model' kasih sayang, toleransi dan
lemah lembut. Demikian nasihat Syeikh Aidh Al-Qarni.
Begitu baik dan sempurnanya agama Islam, tetapi mengapa peringkat
keIslaman ummat Islam Indonesia
di bidang muamalah sebatas tawuran antar pelajar, antar mahasiswa,
dan konflik antar warga? Inilah komentar pengasuh Al-Mustaqiim Ustadz Sakib
Machmud tentang peristiwa tawuran pelajar yang menyedihkan belakangan ini:
“Di Jakarta dalam waktu yang sangat berdekatan terjadi dua peristiwa tawuran
pelajar, keduanya menelan korban jiwa. Banyak orang berkomentar, baik para
ahli, politisi, maupun anggota masyarakat ‘biasa’. Umumnya menyatakan bahwa ada
kegalauan besar di kalangan remaja; pemicunya macam-macam. Maka dalam rangka
upaya preventif, ada pihak-pihak yang diminta perhatian lebih banyak lagi:
orang-tua, guru, pimpinan sekolah, ulama, polisi, dan sebagainya. Semua mereka
dinilai kurang aktif dalam memberikan pendidikan moral kepada remaja. Orang-tua
jarang bertemu anaknya dan kalau bertemu pun tidak berkomunikasi secara
harmonis. Guru-guru merasa hanya bertanggungjawab untuk meningkatkan kapasitas
intelektual, bukan moral. Kepala sekolah dan wali kelas hanya mengurusi masalah
administratif. Ustadz dan pemimpin agama yang lain tidak fokus membina
insan-insan muda yang tengah gelisah itu. Polisi hanya bertindak setelah
tawuran terjadi dan sedikit sekali melakukan upaya preventif.
Demikian
komentar banyak orang, yang disampaikan melalui media elektronik dan media
cetak. Tetapi menurut saya, ada lagi pihak yang juga banyak sahamnya untuk
memunculkan kegalauan pada semua orang termasuk remaja. Dia adalah media itu
sendiri. Berita tentang tawuran ditampilkan berkali-kali dan kadang-kadang
secara vulgar sehingga malahan menarik para remaja untuk mengikutinya. Berita
politik sangat banyak menampilkan pertentangan antar kelompok. Berita demo acap
kali fokus pada ricuhnya, bukan bagaimana menyelesaikan masalah-masalah yang
dituntut pendemo. Sudah tentu ada juga media yang bijak, tetapi sayang hanya
sedikit saja. Meskipun demikian, tentu saja kritik terhadap media itu sulit
sekali. Siapa yang mau memuat? Atau kalaupun dimuat atau ditayangkan, sudah
sangat dihaluskan.” Begitu kata ustadz kita.
Maka hendaknya kita
lebih mendahulukan toleransi dan kasih sayang dalam hidup
bermasyarakat,
agar kita menjadi manusia yang kembali ke
jalan Allah Swt, dan penggiring keselamatan orang-orang yang celaka.
Hermanto
Harsolumakso
No. 163
Membalas kebencian dengan kasih sayang itulah Islam. Itulah yang seharusnya kita sosialisasikan supaya negeri ini menjadi aman, negeri tanpa konflik, tanpa terorisme, tanpa SARA, tanpa fitnah, bukan negeri yang rakyatnya terpecah belah menanamkan kebencian satu sama lain, mendahulukan kepentingan sendiri dari pada kepentingan bersama, tetapi negeri yang pemimpin dan rakyatnya saling bersinergi membangun NKRI.
BalasHapus