Selasa, 25 September 2012

MENGHAYATI KALIMAT BASMALAH


PENGANTAR
Mulai dari penerbitan nomor ini insya Allah 'Media Dakwah Al-Mustaqiim' memperkenalkan pendekatan baru yang dikenal sebagai Tafsir Maudhu'i atau Tafsir Tematik. Apabila biasanya kita membicarakan suatu masalah yang kita kupas dengan menggunakan Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai norma pokoknya, dalam Tafsir Maudhu'i kita berangkat dari satu atau beberapa ayat Al-Qur‘an, yang kemudian kita jabarkan untuk menyoroti berbagai persoalan nyata di dalam masyarakat. Tafsir Maudhu'i ini akan kita sajikan sebulan sekali, Semoga dapat menambah wawasan dan pemahaman kita terhadap petunjuk Allah Swt yang Dia turunkan sebagai Rahmat bagi hamba-hamba-Nya, termasuk kita. Tafsir Maudhu’i ini kami awali dengan tema:
MENGHAYATI KALIMAT BASMALAH
Basmalah adalah kalimat di dalam Al-Quran: Bismillahirrahmanir-rahim, yang biasa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai: Dengan (menyebut) nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.Ulama berbeda pendapat tentang kedudukan kalimat tersebut di dalam Al-Quran. Ada tiga pendapat.
Pertama, yang menyatakan bahwa basmalah merupakan ayat pertama dari semua surah, kecuali QS At-Taubah 9. Maka menurut kelompok ini, ayat pertama dari QS Al-Faatihah 1 sampai dengan QS An-Naas 114 adalah Bismillahirrahmanirrahim. Mengenai QS At-Taubah, sejak dari kodifikasi Al-Quran yang disusun pada masa Khalifah Utsman bin ‘Affan, surah  9 itu tidak dimulai dengan basmalah.
Pendapat kedua menyatakan, basmalah pada permulaan surah hanya merupakan pembatas antara dua surah, bukan ayat pertama dari surah yang manapun, termasuk QS Al-Faatihah 1. Kalimat itu dalam Al-Quran hanya merupakan bagian dari QS An-Naml 27: 30, yaitu yang menyatakan: Innahu min Sulaimana wa innahu Bismillahirrahmanirrahim - Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: "Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang".
Pendapat ketiga menyatakan basmalah sebagai ayat pertama dari surat Al-Faatihah saja. Penulis mengambil pendapat terakhir ini.
Ayat pertama QS Al-Faatihah 1, diawali dengan perkataan Bismillah, yang umumnya diterjemahkan: "Dengan nama Allah" atau "Dengan menyebut Nama Allah". Para penafsir menyatakan, maksud perkataan 'dengan Nama' adalah memulai sesuatu dengan menyebut Nama Allah, atau memulai sesuatu dengan berdo’a kepada Allah. Tetapi dalam bahasa Indonesia, ungkapan 'dengan nama’ itu tidak dikenal. Yang diketahui dan umum digunakan adalah 'atas nama'. Karena itu menurut pendapat penulis, lebih tepat bila perkataan Bismillah itu dimaknai di dalam Bahasa Indonesia sebagai "Atas Nama Allah".
Dengan demikian orang yang mengucapkan kalimat itu menyatakan pengakuannya bahwa yang hendak dia lakukan, termasuk membaca Al-Qur’an, dia niatkan ‘karena Allah’ atau untuk memenuhi perintah Allah. Perkataan ini memang seyogyanya diucapkan seorang Mukmin setiap kali hendak memulai suatu pekerjaan. Mengenai hal ini Rasulullah Saw bersabda: "Setiap perbuatan penting yang tidak dimulai dengan bismillah maka perbuatan itu kurang berkah." (HR Abu Dawud).
Tetapi hendaknya kalimat basmalah itu disertai atau muncul dari hati, dan orang menghayati maknanya. Dengan demikian ucapan itu mempunyai dua makna: sebagai niat, sehingga pekerjaannya menjadi ibadah, dan sebagai pagar yang kukuh. Dia sudah meniatkan melakukan sesuatu 'karena Allah', maka dia akan berusaha keras agar selalu berada di jalan Allah dan tidak akan melanggar larangan-Nya.
Bagian terpenting dari ayat ini adalah perkataan 'Allah'. Siapakah dia? Semua sepakat bahwa Allah adalah yang mencipta dan mengatur serta memiliki seluruh alam. Hanya Dia yang menghidupkan, memberi perlengkapan hidup, rizki dan petunjuk kehidupan kepada manusia. Dia memberi kemampuan alamiah kepada manusia untuk mengenal diri-Nya. Psikolog terkemuka pemenang hadiah Nobel, Prof. Dr. Carl Gustav Yung menyebut potensi mengenal Tuhan itu naturaliter religiosa, kesadaran akan Tuhan yang alamiah. Al-Qur’an secara metaforik (kiasan) menggambarkan hal itu: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka dengan berfirman: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Mereka menjawab: “Benar, Engkau adalah Tuhan kami. Kami menjadi saksi akan hal itu.” QS Al-A’raaf 7: 172).
Potensi mengenal Tuhan itu dipunyai manusia sejak lahir, maka orang-orang Arab penyembah berhala pun mengenal Tuhan, bahkan mereka juga menyebut Tuhan yang mencipta dan menguasai segala sesuatu itu ‘Allah’. QS Luqman 31: 25 menyatakan, “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka; "Siapakah yang mencipta langit dan bumi?", niscaya mereka akan menjawab: "Allah". Hanya saja pandangan orang-orang Arab jahiliyah tentang Allah berbeda dengan keterangan yang dikemukakan Allah sendiri. Mereka menganggap Allah tidak berkomunikasi dengan manusia. Untuk itu manusia memerlukan 'perantara', yakni berhala-berhala, yang meneruskan keinginan dan permohonan manusia kepada Allah, dan kemudian menurunkan anugerah Allah kepada manusia. Maka pada saat-saat tertentu orang-orang Musyrik Arab mempersembahkan sesuatu kepada berhala-berhala mereka; al-Lata, al-Uzza, Manaat dan lain-lainnya agar bersedia menyampaikan permohonan mereka kepada Allah dan berkenan pula meneruskan anugerah dari Allah kepada mereka.
Anggapan orang-orang Arab jahiliyah itu jelas sekali salah; para ulama sepakat bahwa kepercayaan mereka termasuk syirik - menyekutukan Allah, memandang ada sekutu bagi Allah, yang mempunyai kekuasaan atau kekuatan setara dengan Allah. Maka QS Al-'Ankabuut 29: 61 mengecam pernyataan kaum Musyrikin Qureisy itu dengan sebuah pertanyaan retorika: "Maka betapa mereka dapat dipalingkan (dari jalan Allah yang benar)."
Namun pandangan kaum Musyrikin Arab yang salah bahkan merupakan sikap syirik itu justru kemudian diambil alih sebagian orang yang sudah menyatakan dirinya Muslim. Mereka menjadikan kuburan para ulama yang sangat mereka muliakan, sebagai wasilah - perantara untuk menyampaikan permohonan kepada Allah. Mereka juga sering meminta para kiyai untuk mendo'akannya dan berkeyakinan bahwa do'a orang-orang 'suci' itulah yang pasti mendatangkan kebaikan dari Allah Swt. Sampai sekarangpun masih cukup banyak orang yang menganggap dirinya mendapatkan berkah Allah karena telah bersalaman dengan kiyai, bahkan karena meminum atau memakan sisa yang telah disantap oleh kiyai.
Al-Qur’an mengajarkan, Allah adalah Tuhan yang Maha Esa, yang tidak berputera dan tidak diputerakan, yang sendirian tanpa batuan siapapun mengatur segala proses yang berlangsung di seluruh alam kemudian menentukan hasil-hasilnya. Allah tidak memerlukan perantara untuk berkomunikasi dengan hamba-hamba-Nya. QS Al-Baqarah 2: 186, menegaskan: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (wahai Rasul) tentang Daku, jawablah bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila dia memohon (langsung) kepada-Ku." Dengan keterangan tadi jelas bahwa petunjuk terpenting yang dikemukakan Al-Qur’an tentang Tuhan tidak terletak pada penyebutan namanya tetapi pada pengenalan hakikat-Nya, posisi-Nya, dan hubungan-Nya dengan manusia. Karena itu ayat-ayat yang pertama-tama diturunkan kepada Rasulullah Saw tidak atau belum menyebut Nama itu. QS Al-‘Alaq 96: 1, menggunakan perkataan Rabbuka - Tuhanmu. Begitu pula keterangan pada QS Al-Muzammil 73 dan QS Al-Mudatstsir 74, dan surah-surah yang memuat ayat-ayat yang diturunkan kepada Rasulullah Saw pada masa awal kenabian beliau. Sebutan 'Allah' dikemukakan setelah orang memperoleh keterangan yang memadai mengenai apa dan bagaimana Rabb itu.
Selanjutnya QS Al-Faatihah 1: 1 memaparkan dua sifat Allah, yaitu Ar-Rahman dan Ar-Rahim, diterjemahkan sebagai “Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” Banyak pendapat tentang makna dua sifat tersebut, tetapi semua sependirian bahwa Rahman dan Rahim berasal dari akar kata yang sama yang makna dasarnya kasih sayang. Sebagian ulama menyatakan bahwa Rahman adalah kasih sayang yang umum, yang dicurahkan Allah kepada semua makhluk-Nya, sedangkan Rahim adalah kasih sayang khusus, yaitu untuk mereka yang beriman dan mewujudkan imannya itu dalam bentuk amal shaleh. Sebagian ulama lainnya menyatakan bahwa Rahman adalah kasih sayang yang bersifat sementara atau duniawi, sedangkan Rahim bersifat tetap, diturunkan di akhirat. Dua sifat tersebut merupakan sifat-sifat Allah yang paling banyak dinyatakan dalam Al-Qur’an. Ulama mencatat, Rahman dikemukakan 57 kali sedangkan Rahim 114 kali. Ini merupakan indikasi bahwa meskipun Allah juga Syadidul 'Iqab - sangat keras siksa-Nya, Al-Muntaqim – Maha Penyiksa, tetapi Dia berkehendak agar orang beriman pertama-tama mengenali Dia sebagai yang Pemurah dan Penyayang. Semua perbuatan-Nya Dia lakukan sesuai dengan kedua sifat tersebut. Selanjutnya kedua sifat itu semestinya ditiru oleh orang-orang beriman, karena Rasul telah memerintahkan: "Berakhlaklah kamu sekalian dengan akhlak Akhlak Allah".
Rasulullah Saw menggambarkan bahwa Rahim Allah itu jauh lebih besar nilainya dari Rahman-Nya. Dalam hadits riwayat Muslim dinukilkan sabda beliau: “Allah Swt menjadikan kasih sayang-Nya itu seratus bagian. Satu bagian digunakan untuk seluruh makhluk-Nya di bumi ini sehingga seekor induk burung mengangkat sebuah kakinya ketika takut menginjak telur yang berada di bawahnya. Sembilan puluh sembilan bagian lagi Dia simpan untuk dianugerahkan di alam akhirat.” Maka kalau 1% (satu prosen) dari kasih Allah saja telah cukup untuk menciptakan harmoni semesta alam, bagaimana yang 99% (sembilanpuluh sembilan prosen) lagi?. Karena itu orang beriman pasti sangat bersemangat untuk menjemput Rahim Allah itu, dengan iman dan amal shaleh yang diusahakan dengan sebanyak mungkin dan sebaik mungkin.
Kalimat Basmalah yang ringkas tadi mempunyai makna yang sungguh sangat mendalam. Karena itu seyogyanya orang-orang beriman menghayati arti kalimat tersebut, yang dia ucapkan tatkala memulai suatu perbuatan yang baik, terutama ketika dia membacanya di dalam shalat.
Pangasuh Media Dakwah Al-Mustaqiim
Sakib Machmud
No. 162

1 komentar: