PENGANTAR
Mulai dari penerbitan
nomor ini insya Allah 'Media Dakwah Al-Mustaqiim' memperkenalkan pendekatan baru yang
dikenal sebagai Tafsir Maudhu'i atau Tafsir Tematik. Apabila biasanya kita
membicarakan suatu masalah yang kita kupas dengan menggunakan Al-Qur’an dan
Al-Hadits sebagai norma pokoknya, dalam Tafsir Maudhu'i kita berangkat dari
satu atau beberapa ayat Al-Qur‘an, yang kemudian kita jabarkan untuk menyoroti
berbagai persoalan nyata di dalam masyarakat. Tafsir Maudhu'i ini akan kita
sajikan sebulan sekali, Semoga dapat
menambah wawasan dan pemahaman kita terhadap petunjuk Allah Swt yang Dia
turunkan sebagai Rahmat bagi hamba-hamba-Nya, termasuk kita. Tafsir Maudhu’i ini
kami awali dengan tema:
MENGHAYATI KALIMAT
BASMALAH
‘Basmalah’ adalah kalimat di dalam Al-Qur’an: “Bismillahirrahmanir-rahim”, yang biasa diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia sebagai: “Dengan (menyebut) nama Allah yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang.” Ulama berbeda pendapat tentang
kedudukan kalimat tersebut di dalam Al-Qur’an. Ada tiga pendapat.
Pertama, yang menyatakan bahwa basmalah
merupakan ayat pertama dari semua surah, kecuali QS
At-Taubah 9. Maka menurut kelompok ini, ayat
pertama dari QS Al-Faatihah 1 sampai dengan QS An-Naas 114 adalah Bismillahirrahmanirrahim. Mengenai QS
At-Taubah,
sejak dari kodifikasi Al-Qur’an yang disusun pada masa Khalifah
Utsman bin ‘Affan, surah 9 itu tidak dimulai dengan basmalah.
Pendapat kedua menyatakan, basmalah
pada permulaan surah hanya merupakan pembatas antara dua surah, bukan ayat
pertama dari surah yang manapun, termasuk QS
Al-Faatihah 1. Kalimat itu dalam Al-Qur’an hanya merupakan bagian dari QS
An-Naml 27: 30, yaitu yang menyatakan: Innahu min
Sulaimana wa innahu Bismillahirrahmanirrahim -
Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: "Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang".
Pendapat ketiga menyatakan basmalah
sebagai ayat pertama dari surat Al-Faatihah saja. Penulis mengambil
pendapat terakhir ini.
Ayat pertama QS Al-Faatihah 1, diawali dengan perkataan Bismillah,
yang umumnya diterjemahkan: "Dengan
nama Allah" atau "Dengan
menyebut Nama Allah". Para penafsir menyatakan, maksud perkataan 'dengan Nama' adalah memulai sesuatu
dengan menyebut Nama Allah, atau memulai sesuatu dengan berdo’a kepada Allah. Tetapi dalam bahasa Indonesia, ungkapan 'dengan nama’ itu
tidak dikenal. Yang diketahui dan umum digunakan adalah 'atas nama'. Karena itu
menurut pendapat penulis, lebih tepat bila perkataan Bismillah itu
dimaknai di dalam Bahasa Indonesia sebagai "Atas
Nama Allah".
Dengan demikian orang yang mengucapkan kalimat itu
menyatakan pengakuannya bahwa yang hendak dia lakukan, termasuk membaca Al-Qur’an,
dia niatkan ‘karena Allah’ atau untuk
memenuhi perintah Allah. Perkataan ini memang seyogyanya diucapkan seorang Mukmin
setiap kali hendak memulai suatu pekerjaan. Mengenai hal ini Rasulullah Saw
bersabda: "Setiap perbuatan penting
yang tidak dimulai dengan bismillah maka perbuatan itu kurang berkah." (HR
Abu Dawud).
Tetapi hendaknya kalimat basmalah itu disertai atau
muncul dari hati, dan orang menghayati maknanya. Dengan demikian ucapan itu
mempunyai dua makna: sebagai niat, sehingga pekerjaannya menjadi ibadah, dan
sebagai pagar yang kukuh. Dia sudah meniatkan melakukan sesuatu 'karena Allah',
maka dia akan berusaha keras agar selalu berada di jalan Allah dan tidak akan
melanggar larangan-Nya.
Bagian terpenting dari ayat ini adalah perkataan 'Allah'.
Siapakah dia? Semua sepakat bahwa Allah adalah yang mencipta dan mengatur serta
memiliki seluruh alam. Hanya Dia yang menghidupkan, memberi perlengkapan hidup,
rizki dan petunjuk kehidupan kepada manusia. Dia memberi kemampuan alamiah kepada
manusia untuk mengenal diri-Nya. Psikolog terkemuka pemenang hadiah Nobel,
Prof. Dr. Carl Gustav Yung menyebut potensi mengenal Tuhan itu naturaliter
religiosa, kesadaran akan Tuhan yang alamiah. Al-Qur’an secara metaforik
(kiasan) menggambarkan hal itu: “Dan
ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka
dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka dengan berfirman: “Bukankah
Aku ini Tuhanmu?”. Mereka menjawab: “Benar, Engkau adalah Tuhan kami. Kami
menjadi saksi akan hal itu.” QS Al-A’raaf 7: 172).
Potensi mengenal Tuhan itu dipunyai manusia sejak lahir,
maka orang-orang Arab penyembah berhala pun mengenal Tuhan, bahkan mereka juga
menyebut Tuhan yang mencipta dan menguasai segala sesuatu itu ‘Allah’. QS Luqman
31: 25 menyatakan, “Dan sesungguhnya jika
kamu tanyakan kepada mereka; "Siapakah yang mencipta langit dan
bumi?", niscaya mereka akan menjawab: "Allah". Hanya saja
pandangan orang-orang Arab jahiliyah tentang Allah berbeda dengan
keterangan yang dikemukakan Allah sendiri. Mereka menganggap Allah tidak
berkomunikasi dengan manusia. Untuk itu manusia memerlukan 'perantara', yakni
berhala-berhala, yang meneruskan keinginan dan permohonan manusia kepada Allah,
dan kemudian menurunkan anugerah Allah kepada manusia. Maka pada saat-saat
tertentu orang-orang Musyrik Arab mempersembahkan sesuatu kepada
berhala-berhala mereka; al-Lata, al-Uzza, Manaat dan lain-lainnya agar bersedia
menyampaikan permohonan mereka kepada Allah dan berkenan pula meneruskan
anugerah dari Allah kepada mereka.
Anggapan orang-orang Arab jahiliyah itu jelas sekali salah;
para ulama sepakat bahwa kepercayaan mereka termasuk syirik - menyekutukan
Allah, memandang ada sekutu bagi Allah, yang mempunyai kekuasaan atau kekuatan
setara dengan Allah. Maka QS Al-'Ankabuut 29: 61 mengecam pernyataan kaum Musyrikin
Qureisy itu dengan sebuah pertanyaan retorika: "Maka betapa mereka dapat dipalingkan (dari jalan Allah yang
benar)."
Namun pandangan kaum Musyrikin Arab yang salah bahkan
merupakan sikap syirik itu justru kemudian diambil alih sebagian orang yang
sudah menyatakan dirinya Muslim. Mereka menjadikan kuburan para ulama yang
sangat mereka muliakan, sebagai wasilah - perantara untuk menyampaikan
permohonan kepada Allah. Mereka juga sering meminta para kiyai untuk
mendo'akannya dan berkeyakinan bahwa do'a orang-orang 'suci' itulah yang pasti
mendatangkan kebaikan dari Allah Swt. Sampai sekarangpun masih cukup banyak
orang yang menganggap dirinya mendapatkan berkah Allah karena telah bersalaman
dengan kiyai, bahkan karena meminum atau memakan sisa yang telah disantap oleh
kiyai.
Al-Qur’an mengajarkan, Allah adalah Tuhan yang Maha Esa,
yang tidak berputera dan tidak diputerakan, yang sendirian tanpa batuan
siapapun mengatur segala proses yang berlangsung di seluruh alam kemudian
menentukan hasil-hasilnya. Allah tidak memerlukan perantara untuk berkomunikasi
dengan hamba-hamba-Nya. QS Al-Baqarah 2: 186, menegaskan: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (wahai Rasul)
tentang Daku, jawablah bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang
yang berdo’a apabila dia memohon (langsung) kepada-Ku." Dengan
keterangan tadi jelas bahwa petunjuk terpenting yang dikemukakan Al-Qur’an
tentang Tuhan tidak terletak pada penyebutan namanya tetapi pada pengenalan hakikat-Nya,
posisi-Nya, dan hubungan-Nya dengan manusia. Karena itu ayat-ayat yang
pertama-tama diturunkan kepada Rasulullah Saw tidak atau belum menyebut Nama
itu. QS Al-‘Alaq 96: 1, menggunakan perkataan Rabbuka - Tuhanmu. Begitu pula keterangan pada QS Al-Muzammil 73 dan QS
Al-Mudatstsir
74, dan surah-surah yang memuat ayat-ayat yang
diturunkan kepada Rasulullah Saw pada masa awal kenabian beliau. Sebutan
'Allah' dikemukakan setelah orang memperoleh keterangan yang memadai mengenai
apa dan bagaimana Rabb itu.
Selanjutnya QS Al-Faatihah 1:
1 memaparkan
dua sifat Allah, yaitu Ar-Rahman dan Ar-Rahim, diterjemahkan
sebagai “Yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang.” Banyak pendapat tentang makna dua
sifat tersebut, tetapi semua sependirian bahwa Rahman dan Rahim
berasal dari akar kata yang sama yang makna dasarnya kasih sayang. Sebagian
ulama menyatakan bahwa Rahman adalah kasih sayang yang umum, yang
dicurahkan Allah kepada semua makhluk-Nya, sedangkan Rahim adalah kasih
sayang khusus, yaitu untuk mereka yang beriman dan mewujudkan imannya itu dalam
bentuk amal shaleh. Sebagian ulama lainnya menyatakan bahwa Rahman
adalah kasih sayang yang bersifat sementara atau duniawi, sedangkan Rahim
bersifat tetap, diturunkan di akhirat. Dua sifat tersebut merupakan sifat-sifat
Allah yang paling banyak dinyatakan dalam Al-Qur’an. Ulama mencatat, Rahman
dikemukakan 57 kali sedangkan Rahim 114 kali. Ini merupakan indikasi bahwa meskipun
Allah juga Syadidul 'Iqab - sangat
keras siksa-Nya, Al-Muntaqim – Maha Penyiksa,
tetapi Dia berkehendak agar orang beriman pertama-tama mengenali Dia sebagai
yang Pemurah dan Penyayang. Semua perbuatan-Nya Dia lakukan sesuai dengan kedua
sifat tersebut. Selanjutnya kedua sifat itu semestinya ditiru oleh orang-orang
beriman, karena Rasul telah memerintahkan: "Berakhlaklah kamu sekalian
dengan akhlak Akhlak Allah".
Rasulullah Saw menggambarkan bahwa Rahim Allah itu
jauh lebih besar nilainya dari Rahman-Nya. Dalam hadits riwayat Muslim
dinukilkan sabda beliau: “Allah Swt
menjadikan kasih sayang-Nya itu seratus bagian. Satu bagian digunakan untuk
seluruh makhluk-Nya di bumi ini sehingga seekor induk burung mengangkat sebuah
kakinya ketika takut menginjak telur yang berada di bawahnya. Sembilan puluh
sembilan bagian lagi Dia simpan untuk dianugerahkan di alam akhirat.” Maka
kalau 1% (satu prosen) dari kasih Allah saja telah cukup untuk menciptakan
harmoni semesta alam, bagaimana yang 99% (sembilanpuluh sembilan prosen) lagi?.
Karena itu orang beriman pasti sangat bersemangat untuk menjemput Rahim Allah
itu, dengan iman dan amal shaleh yang diusahakan dengan sebanyak mungkin dan
sebaik mungkin.
Kalimat Basmalah
yang ringkas tadi mempunyai makna yang sungguh sangat mendalam. Karena itu
seyogyanya orang-orang beriman menghayati arti kalimat tersebut, yang dia
ucapkan tatkala memulai suatu perbuatan yang baik, terutama ketika dia
membacanya di dalam shalat.
Pangasuh Media Dakwah Al-Mustaqiim
Sakib Machmud
Sakib Machmud
No. 162
Menu baru ini bagus, maju terus ....
BalasHapus