Selasa, 04 September 2012

KOMUNIKASI YANG EFEKTIF


Pemahaman 

Salah satu ciri seseorang yang dapat dikatagorikan berhasil dalam suatu lingkungan atau masyarakat adalah bahwa ia pandai dalam mengkomunikasikan apa yang dipikirkannya. Komunikasi adalah proses penyampaian informasi yang dapat berupa pesan, gagasan atau perintah dan sebagainya, dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi di antara keduanya. 

Komunikasi berasal dari bahas latin ‘communis’ yang artinya ‘sama’. Komunikasi dapat terjadi bila ada kesamaan antara ‘sender’ (pengirim pesan) dan ‘receiver’ (penerima pesan). Komunikasi tergantung pemahaman kedua belah pihak, artinya pesan yang disampaikan harus jelas dan mengikuti aturan atau etika sesuai dengan saluran atau sarana yang digunakan, sehingga dengan demikian ada umpan balik dari penerima pesan.
Maraknya tawuran antar kelompok satu dengan lainnya, antar pelajar bahkan antar suku, dan tidak jarang antar golongan, yang mengakibatkan terjadinya perpecahan bahkan pembunuhan, sebagian besar adalah akibat dari buruknya cara berkomunikasi di antara mereka yang bertikai. Dahulu di Bosnia, dan saat ini kaum Muslim di Rohingya, telah terjadi bentrokan antara aparat setempat dan golongan minoritas yang beragama Islam, sehingga mengakibatkan terjadinya pembunuhan yang diindikasikan sebagai pemusnahan etnis.
Begitu pentingnya komunikasi ini, Islam  mengajarkan agar ummatnya selalu berkomunikasi  dengan baik bukan saja antar Muslim satu dengan yang lainnya, namun juga dengan seluruh ummat manusia. Karena itulah kita perlu memahami konsep komunikasi yang efektif menurut Islam.
Ajaran Rasulullah Saw
Selain fathonah - cerdas, amanah - jujur (terpercaya), shiddiq - benar (tidak berbohong), salah satu sifat Rasulullah Saw yang terkenal adalah tabligh atau komunikatif. Rasulullah Saw selalu menganjurkan, menebarkan salam ketika bertemu dengan sesama Muslim dengan mengucapkan salam secara lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, dan yang ditegur dianjurkan untuk menjawab: Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.
Bersin, yang dianggap sebagian orang menebarkan kuman, juga menimbulkan komunikasi antar sesama Muslim. Yang bersin dianjurkan mengucapkan: Alhamdulillah, - sambil menutup mulutnya, bukan malah dikeraskan. Kemudian dijawab oleh yang hadir: Yarhamukallah - Semoga Allah merahmatimu.” (bukannya dijawab dengan ucapan: sialan, bersin seenaknya), lalu dijawab lagi dengan mengucapkan: Yahdikumullah wa yushlihu balakum - Semoga Allah menunjuki dan membaikkan keadaanmu.
Bagaimana cara kita berkomunikasi dengan sahabat kita yang terkena musibah? Rasulullah Saw mengajarkan agar kita mengucapkan doa: “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun, Allahumma ajirnii fii mushiibati wa akhluflii khairan minhaa.” -  “Sesungguhnya kita ini milik Allah dan akan kembali kepadaNya. Ya Allah dampingi kami dalam musibah ini, dan berilah ganti yang lebih baik dari padanya.” (HR Muslim dan Ahmad).
Ini adalah cara berkomunikasi yang sangat efektif, yakni dengan menyatakan bahwa semua milik kita ini adalah kepunyaan Allah Swt dan pasti akan dikembalikan lagi kepada-Nya, dan kemudian kita memohonkan agar digantikan dengan yang lebih baik.

Menjenguk orang sakit, disunahkan mendoakan orang sakit itu agar Allah menyembuhkan sakitnya, artinya bahwa kita diminta berkomunikasi dengan orang sakit (hablum minannas) dan berkomunikasi dengan Allah (hablum minnallah): Allahumma rabbannaa siadzibil ba’sa, asyfi antasyafii laa syifaa’a illa syifaa’uka syifaa’an la lughaadiru saqama. - Ya Allah Tuhan segala manusia, jauhkanlah penyakit itu dan sembuhkanlah ia. Engkau yang menyembuhkan, tak ada obat selain obat-Mu, obat yang tidak meninggalkan sakit lagi. Hilangkan penyakit itu wahai Tuhan pengurus manusia. Hanya pada-Mu lah obat itu, tak ada yang dapat menghilangkan selain Engkau, aku mohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan nya ‘arasy yang agung, semoga Dia menyembuhkanmu.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Bila seseorang hendak memasuki rumah orang lain, Allah Swt memerintahkan agar kita berkomunikasi terlebih dulu kepada penghuninya, sebagaimana firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتاً غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS An-Nuur  24 : 27).
Di dalam berkomunikasi Allah Swt memerintahkan kepada orang yang beriman bila berkomunikasi, katakanlah hal yang benar: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (QS Al-Ahzaab 33: 70).
Saling Menghargai
Dalam mengembangkan komunikasi yang efektif, ada beberapa sikap yang perlu dimiliki oleh orang yang hendak berkomunikasi dengan orang lain, salah satunya adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran penerima pesan. Apabila kita ingin berhasil dengan baik dalam berkomunikasi, rasa hormat dan saling menghargai merupakan hukum yang pertama dalam berkomunikasi, karena pada prinsipnya manusia itu ingin dihargai dan dianggap penting.
Bahkan bila kita harus mengkritik atau memarahi seseorang, lakukan dengan penuh hormat atau terhadap harga diri dan kebanggaaan seseorang. Jika kita membangun komunikasi dengan rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati, maka kita dapat membangun kerjasama yang menghasilkan sinergi dan meningkatkan efektifitas kinerja, baik sebagai individu maupun secara keseluruhan dalam sebuah tim.
Menurut mahaguru komunikasi Dale Carnegie dalam bukunya ‘How to Win Friends and Influence People’, rahasia terbesar yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam berurusan dengan manusia adalah dengan memberikan penghargaan yang jujur dan tulus. Seorang psikolog terkenal William James juga mengatakan: "Prinsip paling dalam pada sifat dasar manusia adalah kebutuhan untuk dihargai."
Penghargaan terhadap diri seseorang adalah  sebagai suatu kebutuhan yang harus dipenuhi, bukan seperti harapan ataupun keinginan yang bisa ditunda atau bahkan tidak harus dipenuhi. Ibaratnya, penghargaan diri adalah suatu rasa lapar hati manusia yang tak terperikan dan tak tergoyahkan. Lebih jauh Carnegie mengatakan bahwa setiap individu yang dapat memuaskan kelaparan hati seseorang atau sekelompok orang, ia akan menggenggam orang atau sekelompok orang tersebut dalam telapak tangannya.
Charles Schwabb, salah satu orang pertama dalam sejarah perusahaan Amerika yang mendapat gaji lebih dari satu juta dolar setahun, mengatakan bahwa aset paling besar yang dia miliki adalah kemampuannya dalam membangkitkan antusiasme pada orang lain, atau kepada seluruh staf perusahaan. 
Maka untuk membangkitkan antusiasme dan mendorong orang lain melakukan hal-hal terbaik adalah dengan memberi penghargaan yang tulus. Hal ini pula yang menjadi satu dari tiga rahasia manajer satu menit dalam buku ‘The One Minute Manager‘ karya Ken Blanchard dan Spencer Johnson.
Di sisi lain apabila amalan atau diri kita tidak dihargai oleh orang lain, bagaimana kita menghadapinya? Psikolog Muslim termasyur Dr. Aidh Al-Qarni menasihati kita: “Jangan bersedih bila kebaikan Anda tak dihargai orang, sebab yang Anda cari adalah pahala dari Allah.” Selanjutnya dikemukakan: “Ya sudahlah ... tak perlu kau risaukan apabila hasil kerja kerasmu tak bernilai apa-apa di dunia, yakinlah Allah telah melihat keringat yang menetes dalam peluhmu, telah melihat darah yang menetes dari tubuhmu, dan telah melihat perbuatanmu. Azzamkan dalam sanubarimu, bahwa segala yang kulakukan di atas dunia ini diniatkan semata-mata hanyalah untuk Allah, sehingga tak ada lagi kata, tulisan, dan ekspresi yang keluar dari mulut, pena, dan tubuhmu “keluh kesah” dalam menjalani hari-hari yang sebetulnya indah namun mendadak menjadi tak menyenangkan karena dirimu sendiri.”
Dalam Islam sikap menghargai setiap individu ini sangat ditekankan. Jangankan terhadap sesama Muslim yang masih hidup, kepada yang sudah mati saja kita ini diminta menghormati jenazahnya. Kalau kita dalam keadaan sedang duduk, kemudian jenazah yang diusung oleh kaum kerabatnya lewat, Rasulullah mengajarkan agar kita berdiri dan diminta mendoakan: “Inna lillahi wa innalillaihi raaji’un. 
Sikap menghargai sesama Muslim dalam Islam adalah merupakan kewajiban, bahkan Allah Swt memerintahkan sesama Muslim adalah saudara antara satu dengan lainnya, sebagaimana firman-Nya:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ.
 “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujuraat 49: 10).
Dalam suatu hadits, Rasulullah saw menekankan agar setiap orang yang beriman  tidak hanya saling menghargai namun mereka disunahkan untuk saling mencintai dalam  sabdanya:
“Salah seorang di antara kalian tidak beriman sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya.” (HR Al-Bukhari, Muslim, At-Turmudzi).
Pada suatu hari ketika Rasulullah Saw sedang duduk bersama sahabat, tiba-tiba muncul seorang pemuda meminta izin kepada beliau: “izinkanlah saya untuk berzina”. Mendengar perkataan yang tidak sopan tersebut, para sahabat saling menggelengkan kepala dan merasa amat marah dan malu kepada Rasulullah.  Namun, bagaimana sikap Rasulullah?  Beliau bersikap tenang, tidak marah  dan menghargai pemuda tesebut, dengan tetap melayani pemuda itu dengan baik. Beliau kemudian menyuruh pemuda itu duduk didekatnya.
Sesudah tenang, Rasul bertanya: ”Maukah engkau berzina dengan ibumu?” Pemuda itu menjawab: “Tidak ya Rasul.” Lalu Nabi bertanya lagi: ”Sukakah kamu berbuat jahat terhadap saudara perempuanmu sendiri?. Atau kalau kamu sudah beristri, sukakah istri kamu dinodai org lain?” Pemuda itu menjawab: “Tidak ya Rasul”. Kemudian Rasulullah meletakkan tangannya di atas pundak pemuda itu seraya berdoa: ”Ya Allah sucikanlah hati pemuda ini, ampunkanlah dosanya dan peliharalah dia dari melakukan zina.” Sejak saat itu pemuda tersebut menjadi pemuda yang shaleh dan tiadalah pekara yang paling dibencinya kecuali berzina.
Penutup
Menguasai komunikasi berarti kita mewarisi salah satu sifat kepimpinan Nabi, yakni tabligh atau komunikatif. Cara berkomunikasi seseorang sangat menentukan mutu kehidupan ketakwaannya. Ia harus bisa melaksanakan komunikasi dengan Allah, habluminallah  - hubungan antara manusia dengan Allah - dengan baik dan khusyu’, dan sekaligus dapat melaksanakan habluminannas - hubungan antar manusia - dengan baik pula. Orang-orang yang takwa memahami bagaimana memanfaatkan keberhasilan, tantangan atau cobaan yang diberikan kepadanya dan mengkomunikasikan pandangan dan pemikirannya  kepada dirinya, kepada orang lain dan kepada alam sekitarnya sedemikian rupa sehingga  mereka berhasil mengubah sesuatu menjadi yang lebih baik dan bermanfaat, dan dalam Al-Qur’an disebut orang-orang shaleh.
Djoeffan Nawawi
No. 160

1 komentar: