Pemahaman
Salah satu ciri seseorang yang dapat dikatagorikan berhasil dalam suatu lingkungan atau masyarakat adalah bahwa ia pandai dalam mengkomunikasikan apa yang dipikirkannya. Komunikasi adalah proses penyampaian informasi yang dapat berupa pesan, gagasan atau perintah dan sebagainya, dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi di antara keduanya.
Salah satu ciri seseorang yang dapat dikatagorikan berhasil dalam suatu lingkungan atau masyarakat adalah bahwa ia pandai dalam mengkomunikasikan apa yang dipikirkannya. Komunikasi adalah proses penyampaian informasi yang dapat berupa pesan, gagasan atau perintah dan sebagainya, dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi di antara keduanya.
Komunikasi berasal dari bahas latin ‘communis’ yang artinya ‘sama’. Komunikasi dapat terjadi bila ada kesamaan antara ‘sender’ (pengirim pesan) dan ‘receiver’ (penerima pesan). Komunikasi tergantung pemahaman kedua belah pihak, artinya pesan yang disampaikan harus jelas dan mengikuti aturan atau etika sesuai dengan saluran atau sarana yang digunakan, sehingga dengan demikian ada umpan balik dari penerima pesan.
Maraknya
tawuran antar kelompok satu dengan lainnya, antar pelajar bahkan antar suku,
dan tidak jarang antar golongan, yang mengakibatkan terjadinya perpecahan
bahkan pembunuhan, sebagian besar adalah akibat dari buruknya cara
berkomunikasi di antara mereka yang bertikai. Dahulu di Bosnia, dan saat ini
kaum Muslim di Rohingya, telah terjadi bentrokan antara aparat setempat dan golongan
minoritas yang beragama Islam, sehingga mengakibatkan terjadinya pembunuhan
yang diindikasikan sebagai pemusnahan etnis.
Begitu
pentingnya komunikasi ini, Islam
mengajarkan agar ummatnya selalu berkomunikasi dengan baik bukan saja antar Muslim satu
dengan yang lainnya, namun juga dengan seluruh ummat manusia. Karena itulah kita
perlu memahami konsep komunikasi yang efektif menurut Islam.
Ajaran Rasulullah Saw
Selain fathonah - cerdas, amanah - jujur (terpercaya), shiddiq
- benar (tidak berbohong), salah satu sifat Rasulullah Saw yang terkenal adalah
tabligh atau komunikatif. Rasulullah Saw selalu menganjurkan, menebarkan
salam ketika bertemu dengan sesama Muslim dengan mengucapkan salam secara
lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
dan yang ditegur dianjurkan untuk menjawab: Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.
Bersin,
yang dianggap sebagian orang menebarkan kuman, juga menimbulkan komunikasi
antar sesama Muslim. Yang bersin dianjurkan mengucapkan: Alhamdulillah, - sambil menutup mulutnya, bukan malah dikeraskan. Kemudian
dijawab oleh yang hadir: Yarhamukallah
- Semoga Allah merahmatimu.” (bukannya dijawab dengan ucapan: sialan,
bersin seenaknya), lalu dijawab lagi dengan mengucapkan: Yahdikumullah wa yushlihu
balakum - Semoga Allah menunjuki dan membaikkan keadaanmu.
Bagaimana
cara kita berkomunikasi dengan sahabat kita yang terkena musibah? Rasulullah Saw
mengajarkan agar kita mengucapkan doa: “Inna
lillahi wa inna ilaihi raaji’uun, Allahumma ajirnii fii mushiibati wa akhluflii
khairan minhaa.” - “Sesungguhnya
kita ini milik Allah dan akan kembali kepadaNya. Ya Allah dampingi kami dalam
musibah ini, dan berilah ganti yang lebih baik dari padanya.” (HR Muslim dan
Ahmad).
Ini adalah
cara berkomunikasi yang sangat efektif, yakni dengan menyatakan bahwa semua
milik kita ini adalah kepunyaan Allah Swt dan pasti akan dikembalikan lagi
kepada-Nya, dan kemudian kita memohonkan agar digantikan dengan yang lebih
baik.
Menjenguk orang sakit, disunahkan mendoakan orang sakit itu agar Allah menyembuhkan sakitnya, artinya bahwa kita diminta berkomunikasi dengan orang sakit (hablum minannas) dan berkomunikasi dengan Allah (hablum minnallah): “Allahumma rabbannaa siadzibil ba’sa, asyfi antasyafii laa syifaa’a illa syifaa’uka syifaa’an la lughaadiru saqama. - Ya Allah Tuhan segala manusia, jauhkanlah penyakit itu dan sembuhkanlah ia. Engkau yang menyembuhkan, tak ada obat selain obat-Mu, obat yang tidak meninggalkan sakit lagi. Hilangkan penyakit itu wahai Tuhan pengurus manusia. Hanya pada-Mu lah obat itu, tak ada yang dapat menghilangkan selain Engkau, aku mohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan nya ‘arasy yang agung, semoga Dia menyembuhkanmu.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Bila
seseorang hendak memasuki rumah orang lain, Allah Swt memerintahkan agar kita
berkomunikasi terlebih dulu kepada penghuninya, sebagaimana firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا
تَدْخُلُوا بُيُوتاً غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا
عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan
memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar
kamu (selalu) ingat.” (QS An-Nuur 24 : 27).
Di dalam berkomunikasi Allah Swt memerintahkan kepada orang yang beriman
bila berkomunikasi, katakanlah hal yang benar: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah
perkataan yang benar.” (QS Al-Ahzaab
33: 70).
Saling
Menghargai
Dalam
mengembangkan komunikasi yang efektif, ada beberapa sikap yang perlu dimiliki
oleh orang yang hendak berkomunikasi dengan orang lain, salah satunya adalah
sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran penerima pesan. Apabila
kita ingin berhasil dengan baik dalam berkomunikasi, rasa
hormat dan saling menghargai merupakan hukum yang pertama dalam berkomunikasi,
karena pada prinsipnya manusia itu ingin dihargai dan dianggap penting.
Bahkan
bila kita harus mengkritik atau memarahi seseorang, lakukan dengan penuh hormat
atau terhadap harga diri dan kebanggaaan seseorang. Jika kita membangun
komunikasi dengan rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati, maka kita
dapat membangun kerjasama yang menghasilkan sinergi dan meningkatkan
efektifitas kinerja, baik sebagai individu maupun secara keseluruhan dalam sebuah
tim.
Menurut
mahaguru komunikasi Dale Carnegie dalam bukunya ‘How to Win Friends and
Influence People’, rahasia terbesar
yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam berurusan dengan manusia adalah
dengan memberikan penghargaan yang jujur dan tulus. Seorang psikolog terkenal
William James juga mengatakan: "Prinsip paling dalam pada sifat dasar
manusia adalah kebutuhan untuk dihargai."
Penghargaan
terhadap diri seseorang adalah sebagai
suatu kebutuhan yang harus dipenuhi, bukan seperti harapan ataupun keinginan
yang bisa ditunda atau bahkan tidak harus dipenuhi. Ibaratnya, penghargaan diri
adalah suatu rasa lapar hati manusia yang tak terperikan dan tak tergoyahkan.
Lebih jauh Carnegie mengatakan bahwa setiap individu yang dapat memuaskan
kelaparan hati seseorang atau sekelompok orang, ia akan menggenggam orang atau
sekelompok orang tersebut dalam telapak tangannya.
Charles
Schwabb, salah satu orang pertama dalam sejarah perusahaan Amerika yang
mendapat gaji lebih dari satu juta dolar setahun, mengatakan bahwa aset paling
besar yang dia miliki adalah kemampuannya dalam membangkitkan antusiasme pada
orang lain, atau kepada seluruh staf perusahaan.
Maka
untuk membangkitkan antusiasme dan mendorong orang lain melakukan hal-hal
terbaik adalah dengan memberi penghargaan yang tulus. Hal ini pula yang menjadi
satu dari tiga rahasia manajer satu menit dalam buku ‘The One Minute Manager‘
karya Ken Blanchard dan Spencer Johnson.
Di
sisi lain apabila amalan atau diri kita tidak dihargai oleh orang lain,
bagaimana kita menghadapinya? Psikolog Muslim termasyur Dr. Aidh Al-Qarni
menasihati kita: “Jangan
bersedih bila kebaikan Anda tak dihargai orang, sebab yang Anda cari adalah
pahala dari Allah.” Selanjutnya dikemukakan: “Ya sudahlah ... tak perlu kau
risaukan apabila hasil kerja kerasmu tak bernilai apa-apa di dunia, yakinlah
Allah telah melihat keringat yang menetes dalam peluhmu, telah melihat darah
yang menetes dari tubuhmu, dan telah melihat perbuatanmu. Azzamkan dalam
sanubarimu, bahwa segala yang kulakukan di atas dunia ini diniatkan semata-mata
hanyalah untuk Allah, sehingga tak ada lagi kata, tulisan, dan ekspresi yang
keluar dari mulut, pena, dan tubuhmu “keluh kesah” dalam menjalani hari-hari
yang sebetulnya indah namun mendadak menjadi tak menyenangkan karena dirimu
sendiri.”
Dalam Islam
sikap menghargai setiap individu ini sangat ditekankan. Jangankan terhadap
sesama Muslim yang masih hidup, kepada yang sudah mati saja kita ini diminta
menghormati jenazahnya. Kalau kita dalam keadaan sedang duduk, kemudian jenazah
yang diusung oleh kaum kerabatnya lewat, Rasulullah mengajarkan agar kita
berdiri dan diminta mendoakan: “Inna
lillahi wa innalillaihi raaji’un.
Sikap
menghargai sesama Muslim dalam Islam adalah merupakan kewajiban, bahkan Allah
Swt memerintahkan sesama Muslim adalah saudara antara satu dengan lainnya,
sebagaimana firman-Nya:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ.
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah
bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah
kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujuraat 49: 10).
Dalam
suatu hadits, Rasulullah saw menekankan agar setiap orang yang beriman tidak hanya saling menghargai namun mereka
disunahkan untuk saling mencintai dalam
sabdanya:
“Salah
seorang di antara kalian tidak beriman sampai dia mencintai saudaranya
sebagaimana dia mencintai dirinya.” (HR Al-Bukhari, Muslim, At-Turmudzi).
Pada
suatu hari ketika Rasulullah Saw sedang duduk bersama sahabat,
tiba-tiba muncul seorang pemuda meminta izin kepada beliau: “izinkanlah
saya
untuk berzina”. Mendengar perkataan yang tidak sopan tersebut, para
sahabat
saling menggelengkan kepala dan merasa amat marah dan malu kepada
Rasulullah. Namun, bagaimana sikap Rasulullah? Beliau bersikap tenang,
tidak marah dan menghargai pemuda tesebut, dengan tetap
melayani pemuda itu dengan baik. Beliau kemudian menyuruh pemuda itu
duduk
didekatnya.
Sesudah tenang, Rasul bertanya: ”Maukah engkau berzina dengan ibumu?” Pemuda
itu menjawab: “Tidak ya Rasul.” Lalu Nabi bertanya lagi: ”Sukakah kamu berbuat
jahat terhadap saudara perempuanmu sendiri?. Atau kalau kamu sudah beristri,
sukakah istri kamu dinodai org lain?” Pemuda itu menjawab: “Tidak ya Rasul”.
Kemudian Rasulullah meletakkan tangannya di atas pundak pemuda itu seraya
berdoa: ”Ya Allah sucikanlah hati pemuda ini, ampunkanlah dosanya dan
peliharalah dia dari melakukan zina.” Sejak saat itu pemuda tersebut menjadi
pemuda yang shaleh dan tiadalah pekara yang paling dibencinya kecuali berzina.
Penutup
Menguasai komunikasi berarti kita mewarisi salah satu sifat kepimpinan
Nabi, yakni tabligh atau komunikatif. Cara
berkomunikasi seseorang sangat menentukan mutu kehidupan ketakwaannya. Ia harus
bisa melaksanakan komunikasi dengan Allah, habluminallah - hubungan antara manusia dengan Allah - dengan
baik dan khusyu’, dan sekaligus dapat melaksanakan habluminannas -
hubungan antar manusia - dengan baik pula. Orang-orang yang takwa memahami
bagaimana memanfaatkan keberhasilan, tantangan atau cobaan yang
diberikan kepadanya dan mengkomunikasikan pandangan dan pemikirannya kepada dirinya, kepada orang lain dan kepada
alam sekitarnya sedemikian rupa sehingga
mereka berhasil mengubah sesuatu menjadi yang lebih baik dan bermanfaat,
dan dalam Al-Qur’an disebut orang-orang shaleh.
Djoeffan
Nawawi
No. 160
Alhamdulillah, terimakasih Pak Hermanto. (via-email)
BalasHapus