Ummat Islam Indonesia perlu
menyadari betapa perilaku mereka di bidang muamalah jauh dari Islami. yang
hanya di peringkat 140 dari 208 negara yang disurvei sebagaimana diuraikan
dalam tulisan 4 lajur kanan berjudul ‘Tinjauan Tentang KeIslaman Indonesia’.
Sedangkan masyarakat di negara-negara Barat justru dinilai lebih Islami dalam
kehidupan sosial mereka, meskipun mayoritas mereka bukanlah pemeluk Islam.
Masyarakat Islami peduli kepada
sesama sebagaimana firman Allah: “wa ahsin
kamaa ahsanallahu ilaik - berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah
berbuat baik kepadamu (QS
Al-Qashash 28: 77), dan: “wa ta’awanuu alal birri wat taqwa - tolong
menolong dalam kebajikan dan takwa (QS Al Maaidah 5: 2). Tetapi mengapa
survei yang dilakukan oleh dua orang Muslim Amerika dari Universitas George
Washington, Amerika itu menunjukkan hasil yang memprihatin dan memalukan?
Manusia
diciptakan Allah Swt dengan disain dan karakter yang ditetapkannya. Dalam QS Al-Mukminun 23: 12-14,
Allah menguraikan secara rinci proses penciptaan manusia seperti yang
dijelaskan dalam sains. Menurut sains manusia adalah makhluk yang tubuhnya
terdiri dari sel, yaitu bagian terkecil makhluk hidup. Jaringan sekumpulan
sel-sel yang serupa bentuk, besar dan fungsinya yang terikat menjadi satu
organ.
Setiap organ berfungsi
sesuai peran masing-masing saling bersinergi satu sama lain yang menjadikan
tubuh kita kuat dan kokoh. Namun selain kehebatan penciptaan dan struktur yang
ada dalam tubuh, manusia juga ‘dianugerahi’ karakter buruk yang jika tidak
diperbaiki, maka akan merugikan manusia itu sendiri. Beberapa karakter buruk
itu dengan jelas disebut di dalam Al-Qur’an, yaitu:
1. Mengeluh
dan Kikir. "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi
kikir." (QS Al-Ma’arij 70: 19). Disadari ataupun tidak, mengeluh
adalah sifat dasar manusia yang timbul saat ia tertimpa masalah atau dalam
kesempitan. Sedangkan kikir Allah secara rini menjelaskan di dalam QS Al-Israa’
7: 100. “.. Dan adalah manusia itu sangat kikir.” Oleh karena itu,
Rasulullah Saw menganjurkan agar kita selalu berdoa, “Allahumma inni
a’udzubika minal bukhli - Ya Allah , aku
berlindung kepada-Mu dari sifat kikir.”
2. Lemah. Di
dalam Al-Qur’an, Allah menjelaskan dua kelemahan manusia, yaitu lemah secara
fisik dan lemah dalam melawan hawa nafsu buruk. Allah Swt berfirman: * “Allah,
Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah..” (QS. Ar-Ruum 30: 54). * “Allah
hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.”
(QS An-Nisaa’ 4: 28).
Menurut Syekh Nawawi Al-Bantany, tafsir ‘lemah’ dalam surah itu adalah lemah
dalam melawan hawa nafsu.
3. Zhalim dan
Bodoh. Allah Swt berfirman: “ Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat
kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul
amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu
oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS Al-Ahzab
33: 72). Kezhaliman dan kebodohan manusia dalam ayat di atas disebabkan
karena rusak dan kotornya bumi, akibat pertumpahan darah dan ulah manusia itu
sendiri, karena manusia tidak memelihara bumi dan seisinya sesuai dengan
ketentuan Allah.
4. Tidak Adil.
Berlaku adil adalah tindakan yang tidak mudah diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari. Kaum Madyan yang tidak berlaku adil, akhirnya diazab oleh Allah,
seperti dalam firman-Nya: “Dan Syu'aib berkata, ‘Hai kaumku, cukupkanlah
takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia
terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi
dengan membuat kerusakan.” (QS Huud 11: 85).
Maka untuk
membangun kehidupan bermasyarakat yang baik, tabiat buruk itu harus
disingkirkan. Memang tidaklah mudah untuk menghindari tabiat buruk yang sudah
Allah lekatkan dalam diri manusia, namun dengan bertaubat dan terus berdoa
kepada-Nya, niscaya Allah meminimalisasi karakter buruk tersebut dari dalam
diri kita. Ummat Islam harus berusaha dengan sekuat tenaga - dengan kekuatan
atau hukum - untuk membasmi semua gejala kerusakan sosial. Kita tidak boleh lemah
dan berhenti dari sikap itu.
Pertanyaan
kita sekarang, siapakah yang siap berdiri di jalan ini dan perjuangan ini?
Jawabannya, hendaklah kita mengingat kembali pikiran Abubakar Siddiq Ra ketika
akan berangkat untuk membasmi gerakan pemurtadan dan penyimpangan agama. Beliau
mengatakan: “Siapa-siapa yang ingin menyelamatkan negeri ini marilah ikut dalam
barisanku. dan siapa-siapa yang tidak dalam barisanku jadilah kalian seperti
ummat Musa As, yang diam berpangku tangan sambil menunggu hasil kemenangan
ini.” Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam
menyikapi hal itu.
Pertama.
Membuka mata dan telinga agar kita dapat memperhatikan bibit gerakan kezhaliman
atau kemaksiatan - meskipun kelihatan kecil, dan kemudian mewaspadainya. Nabi
Isa As sangat peka terhadap bibit keburukan, kekafiran, kezhaliman dan kemaksiatan,
karena hal itu membahayakan eksistennsi kebenaran, maka Nabi Isa As mengumumkan
perang terhadapnya.
Kedua. Memperbesar
keberanian untuk membasminya hingga perbuatan itu tidak akan pernah muncul
kembali, melawan dan membasmi kemaksiatan. Dengan keberanian melawannya, Allah
Swt dan bala tentaranya akan memberikan bantuan dan pertolongan-Nya.
Ketiga.
Memberdayakan potensi kebaikan, sehingga kebaikan itu menjadi surplus, yang
dengannya ruang gerak kezhaliman dan kemaksiatan semakin sempit karena kebaikan
mendominasinya.
Keempat.
Memperkokoh keimanan kepada Allah Swt agar mendapatkan kekuatan dan
pertolongan-Nya dalam membasmi kezhaliman dan kemaksiatan. Komitment kepada
Allah Swt akan mengantarkan diri kita pada kemenangan menghadapi kezhaliman dan
kemaksiatan. Maka jelaslah mencegah kezhaliman dan kemaksiatan adalah
keniscayaan.
Rasulullah
Saw mengumpamakan bahwa perjalanan hidup ini dalam menjaga ketentuan hukum
Allah Swt, bagaikan para penumpang perahu, ada yang berada di atas dan ada yang
di bawah. Penumpang yang di bawah harus melewati yang di atas bila ingin
mengambil air. Kemudian muncullah keinginan penumpang yang di bawah untuk
melubangi perahu tersebut sambil meyakinkan dirinya bahwa jika ia melubanginya,
maka ia tidak lagi mengganggu kenyamanan penumpang di atasnya bila ingin
mengambil air. Tentu saja hal itu berakibat fatal, karena jika dibiarkan
perbuatannya, maka akan menenggelamkan seluruh penumpang. Dan sebaliknya bila
tangannya ditahan dari perbuatan itu, maka penumpang perahu akan selamat.
Perumpamaan
Rasulullah Saw tersebut sangatlah jelas bagi kita bahwa ummat Islam tidak
boleh membiarkan orang lain melakukan kezhaliman dan kemaksiatan. Kita harus menolongnya dengan menahan pelakunya,
agar perbuatan itu tidak timbul. Dengan sikap demikian, maka akan
menyelamatkan banyak orang, karena perbuatan zhalim dan maksiat akan berdampak
negatif bagi siapa saja, baik pelakunya maupun orang yang berada di sekitarnya
yang membiarkan perbuatan itu.
Oleh karena
itu, kita tidak boleh tinggal diam terhadap perbuatan buruk, kita harus
sensitif sehingga dapat mendeteksi sejak dini. Kita harus waspada agar
perbuatan itu tidak membesar, karena semakin besar kezhaliman dan kemaksiatan
akan semakin sulit pula utuk dibasmi. Kita harus senantiasa meluruskan perilaku
yang tidak benar.
Kezhaliman
dan kemaksiatan merupakan kegelapan yang dapat mencelakakan kehidupan ini. Ia
akan membuat potensi kebaikan menjadi lemah dan peluang keselamatan menjadi
kecil. Apalagi kezhaliman dan kesesatan yang kumulatif seperti sekarang ini.
Segala bentuk kezhaliman dan kemaksiatan yang terjadi pada ummat terdahulu
berkumpul dengan kualitas yang lebih dahsyat di hari ini. Dampaknya akan
berpengaruh bukan hanya pada satu dekade mendatang, namun juga pada generasi-generasi
mendatang. Perbuatan itu mengakibatkan kerusakan
sosial yang membahayakan banyak kalangan.
Saat ini ada
sekitar dua juta lebih generasi muda kita telah menjadi korban narkoba.
Anak-anak gadis telah keranjingan mode hanya untuk menuruti keinginan para
durjana kaum lelaki. Orang-orang-tua tidak malu lagi berbuat mak-siat di
hadapan banyak orang sambil bergoyang hina dalam dalam perbuatan kotor,
melupakan tugas azasinya mencetak generasi pilihan. Orang-orang kuat membiarkan
mereka yang lemah tak berdaya untuk memenuhi keinginannya. Orang-orang miskin
dibuat mimpi kosong oleh keranjingan judinya. Orang-orang yang berkuasa memanipulasi
amanah rakyat, sehingga mereka bisa terus melanggengkan kekuasaannya untuk
mengeruk keuntungan pribadi. Banyak hak-hak segala pihak yang terampas karena
kezhaliman dan kemaksiatan.
Maka mendiamkan
kezhaliman dan kemaksiatan adalah perbuatan dosa. Bukan hanya dosa kepada Allah Swt,
melainkan juga berdosa pada generasi mendatang di mana kita harus mempertanggungjawabkannya,
karena kita mewariskan keadaan yang diliputi kezhaliman dan kemaksiatan itu.
Ini berarti kita mewariskan pekerjaan berat bagi generasi mendatang.
Selain itu,
kitapun berdosa pada generasi masa lalu yang telah memberikan dan wasiatnya
agar kita dapat membasmi kezhaliman dan kemaksiatan. Generasi masa lalu telah
memberikan patokan untuk kita semua. Mereka telah menyelesaikan tugasnya dan
selanjutnya kita harus melanjutkan tugas mereka. Namun apabila kita tidak
melakukannya dengan baik, maka berarti kita menyia-nyiakan bekal dan arahan
mereka.
Maka sudah
sepatutnya kita merealisasikan sabda Rasulullah Saw kepada para sahabat: “Tolonglah
saudaramu yang berbuat zhalim dan yang dizhalimi, dikatakan: Ya Rasulullah, ini
saya menolongnya yang terzhalimi, bagaimana saya menolongnya jika ia berbuat
zhalim? Beliau menjawab: engkau cegah dan halangi dari perbuatan zhalim, maka
itulah menolongnya.” (HR Al-Bukhari dan Ahmad).
Keselamatan
ummat akan terwujud bila kita mengerahkan
segenap kemampuan untuk menekan dan membasmi kezhalimam dam kemaksiatan. Kita akan
memberikan kecerahan kehidupan ini juga kepada generasi mendatang sehingga
mereka dapat merajut harapannya untuk membangun ummat ini menjadi yang Islami.
Betapa
banyak kewajiban yang harus kita lakukan di hadapan kita. Memberantas korupsi -
termasuk korupsi pengadaan Al-Qur’an yang sangat menyedihkan dan memalukan - adalah
keniscayaan. Membasmi kejahatan narkoba memerangi terorisme, dan paling tidak mencegah
kezhaliman dan kemaksiatan selama bulan Ramadhan yang lalu agar kezhaliman dan
kemaksiatan itu tidak terulang lagi adalah kewajiban kita
Inilah daftar
kezhaliman dan kemaksiatan yang banyak terjadi di masyarakat Islam Indonesia pada
bulan Ramadhan yang lalu. Peredaran uang palsu. * Penjualan makanan kadaluwarsa. Penggunaan
zat dan pewarna dan pengawet berbahaya bagi kesehatan. * Banyaknya
miras yang beredar. * Kemesuman di berbagai tempat. * Pelecehan
seksual dan kekerasan di angkutan kota.
* Pembuangan bayi dan penguburan janin. *
Pembunuhan dan pemerkosaan. * Perampokan dan pencurian tetap
marak. * Penyuntikan gas
elpiji. * Penimbunan sembako. * Peredaran narkoba di beberapa kelab
malam. * Pencurian baut rel kereta api. * Dan
masih banyak lagi kezhaliman dan kemaksiatan lainnya.
Sebagai
kesimpulan, kita harus senantiasa meluruskan perilaku yang tidak benar,
janganlah hanya menekankan melakukan amalan baik pada ibadah mahdah,
melainkan lakukan pula amalan baik pada ibadah muamalah, yang sangat
diperlukan untuk membentuk keshalehan sosial yang lebih baik. Janganlah kita membiarkan kezhaliman
dan kemaksiatan berada di sekitar kita. Penulis menekankan bahwa hal ini
bukanlah sekedar idealisme yang tak memiliki kekuatan, melainkan suatu
tantangan bagi kita untuk bersama-sama menggali dan menggalang kekuatan demi membangun
masyarakat Islami di kalangan masyarakat Islam sendiri, jika tidak ingin kita
semua berdosa.
Janganlah ada
di antara kita yang mengatakan “perbaikan apa yang bisa dilakukan hanya seorang
di tengah-tengah masyarakat ‘jahiliyah’ seperti sekarang ini?” Di sisi lain hendaknya
para da’i tidak menafsirkan secara keliru ayat Al-Qur’an yang menyebutkan:
“Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau
mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia
tidak melihat-Nya …” (QS Yaasiin 36: 11). Ayat ini oleh sebagian da’i dimaknai
secara sepotong mengabaikan konteks keseluruhan dengan mengatakan “kami hanya
berkewajiban menyampaikan saja, selanjutnya terserah mad’u (penerima
dakwah) yang mau mengikuti peringatan itu.“ Padahal memberi peringatan yang
dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah peringatan yang berkaitan dengan
keimanan dan ketakwaan, bukan tentang peringatan untuk berbuat kebajikan yang
perlu tindak lanjut. Maka sikap dai’ yang keliru itu harus diperbaiki.
Semoga Allah Swt
memberikan kemampuan pada kita untuk berada dalam barisan orang-orang yang
melawan kezhaliman dan membasmi kemaksiatan. Aamiin ya rabbal alamiin.
Hermanto Harsolumakso
No. 159
Selamat Indulfitri pengurus JSM teriring do’a semoga Al Mustaqiim, makin mantap dalam mengemukakan kritik-kritik sosial yang membangun. Tulisan 159 bagus. Wassalam.
BalasHapusSelamat Lebaran para ustadz, mohon maaf lahir batin. Salut Al Mustaqiim terus melakukan pembenahan di bidang dakwah seperti dikemukakan di atas. Semoga Allah selalu membimbaing kita ke jalan yang lurus. Amiin.
BalasHapusSalut ustadz, tulisan yang berani. Banyak ulama / da’i yang berpegang pada QS Yaasiin: 11, mereka itu berdakwa, terima duit, selesai. Pokoknya sudah menyampaikan, gak peduli ummat mau jadi ada dan bagaimana. Selamat Idulfitri 1433 H, semoga para ustadz Al Mustaqiim senantiasa dalam lindungan, petunjuk dan keberkahan-Nya. Amiin.
BalasHapus