Kamis, 23 Agustus 2012

MEMBIARKAN KEZHALIMAN DAN KEMAKSIATAN ADALAH DOSA


Ummat Islam Indonesia perlu menyadari betapa perilaku mereka di bidang muamalah jauh dari Islami. yang hanya di peringkat 140 dari 208 negara yang disurvei sebagaimana diuraikan dalam tulisan 4 lajur kanan berjudul ‘Tinjauan Tentang KeIslaman Indonesia’. Sedangkan masyarakat di negara-negara Barat justru dinilai lebih Islami dalam kehidupan sosial mereka, meskipun mayoritas mereka bukanlah pemeluk Islam.
Masyarakat Islami peduli kepada sesama sebagaimana firman Allah:  “wa ahsin kamaa ahsanallahu ilaik - berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu  (QS Al-Qashash 28: 77), dan: “wa ta’awanuu alal birri wat taqwa - tolong menolong dalam kebajikan dan takwa (QS Al Maaidah 5: 2). Tetapi mengapa survei yang dilakukan oleh dua orang Muslim Amerika dari Universitas George Washington, Amerika itu menunjukkan hasil yang memprihatin dan memalukan?
Manusia diciptakan Allah Swt dengan disain dan karakter yang ditetapkannya. Dalam QS Al-Mukminun 23: 12-14, Allah menguraikan secara rinci proses penciptaan manusia seperti yang dijelaskan dalam sains. Menurut sains manusia adalah makhluk yang tubuhnya terdiri dari sel, yaitu bagian terkecil makhluk hidup. Jaringan sekumpulan sel-sel yang serupa bentuk, besar dan fungsinya yang terikat menjadi satu organ.
Setiap organ berfungsi sesuai peran masing-masing saling bersinergi satu sama lain yang menjadikan tubuh kita kuat dan kokoh. Namun selain kehebatan penciptaan dan struktur yang ada dalam tubuh, manusia juga ‘dianugerahi’ karakter buruk yang jika tidak diperbaiki, maka akan merugikan manusia itu sendiri. Beberapa karakter buruk itu dengan jelas disebut di dalam Al-Qur’an, yaitu:
1. Mengeluh dan Kikir. "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir." (QS Al-Ma’arij 70: 19). Disadari ataupun tidak, mengeluh adalah sifat dasar manusia yang timbul saat ia tertimpa masalah atau dalam kesempitan. Sedangkan kikir Allah secara rini menjelaskan di dalam QS Al-Israa’ 7: 100. “.. Dan adalah manusia itu sangat kikir.” Oleh karena itu, Rasulullah Saw menganjurkan agar kita selalu berdoa, “Allahumma inni a’udzubika minal bukhli - Ya Allah ,  aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir.”
2. Lemah. Di dalam Al-Qur’an, Allah menjelaskan dua kelemahan manusia, yaitu lemah secara fisik dan lemah dalam melawan hawa nafsu buruk. Allah Swt berfirman: * “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah..” (QS. Ar-Ruum 30: 54). * “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS An-Nisaa’ 4: 28). Menurut Syekh Nawawi Al-Bantany, tafsir ‘lemah’ dalam surah itu adalah lemah dalam melawan hawa nafsu.
3. Zhalim dan Bodoh. Allah Swt berfirman: “ Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS Al-Ahzab 33: 72). Kezhaliman dan kebodohan manusia dalam ayat di atas disebabkan karena rusak dan kotornya bumi, akibat pertumpahan darah dan ulah manusia itu sendiri, karena manusia tidak memelihara bumi dan seisinya sesuai dengan ketentuan Allah.
4. Tidak Adil. Berlaku adil adalah tindakan yang tidak mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kaum Madyan yang tidak berlaku adil, akhirnya diazab oleh Allah, seperti dalam firman-Nya: “Dan Syu'aib berkata, ‘Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (QS Huud 11: 85).
Maka untuk membangun kehidupan bermasyarakat yang baik, tabiat buruk itu harus disingkirkan. Memang tidaklah mudah untuk menghindari tabiat buruk yang sudah Allah lekatkan dalam diri manusia, namun dengan bertaubat dan terus berdoa kepada-Nya, niscaya Allah meminimalisasi karakter buruk tersebut dari dalam diri kita. Ummat Islam harus berusaha dengan sekuat tenaga - dengan kekuatan atau hukum - untuk membasmi semua gejala kerusakan sosial. Kita tidak boleh lemah dan berhenti dari sikap itu.
Pertanyaan kita sekarang, siapakah yang siap berdiri di jalan ini dan perjuangan ini? Jawabannya, hendaklah kita mengingat kembali pikiran Abubakar Siddiq Ra ketika akan berangkat untuk membasmi gerakan pemurtadan dan penyimpangan agama. Beliau mengatakan: “Siapa-siapa yang ingin menyelamatkan negeri ini marilah ikut dalam barisanku. dan siapa-siapa yang tidak dalam barisanku jadilah kalian seperti ummat Musa As, yang diam berpangku tangan sambil menunggu hasil kemenangan ini.” Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam menyikapi hal itu.
Pertama. Membuka mata dan telinga agar kita dapat memperhatikan bibit gerakan kezhaliman atau kemaksiatan - meskipun kelihatan kecil, dan kemudian mewaspadainya. Nabi Isa As sangat peka terhadap bibit keburukan, kekafiran, kezhaliman dan kemaksiatan, karena hal itu membahayakan eksistennsi kebenaran, maka Nabi Isa As mengumumkan perang terhadapnya.
Kedua. Memperbesar keberanian untuk membasminya hingga perbuatan itu tidak akan pernah muncul kembali, melawan dan membasmi kemaksiatan. Dengan keberanian melawannya, Allah Swt dan bala tentaranya akan memberikan bantuan dan pertolongan-Nya.
Ketiga. Memberdayakan potensi kebaikan, sehingga kebaikan itu menjadi surplus, yang dengannya ruang gerak kezhaliman dan kemaksiatan semakin sempit karena kebaikan mendominasinya.
Keempat. Memperkokoh keimanan kepada Allah Swt agar mendapatkan kekuatan dan pertolongan-Nya dalam membasmi kezhaliman dan kemaksiatan. Komitment kepada Allah Swt akan mengantarkan diri kita pada kemenangan menghadapi kezhaliman dan kemaksiatan. Maka jelaslah mencegah kezhaliman dan kemaksiatan adalah keniscayaan.
Rasulullah Saw mengumpamakan bahwa perjalanan hidup ini dalam menjaga ketentuan hukum Allah Swt, bagaikan para penumpang perahu, ada yang berada di atas dan ada yang di bawah. Penumpang yang di bawah harus melewati yang di atas bila ingin mengambil air. Kemudian muncullah keinginan penumpang yang di bawah untuk melubangi perahu tersebut sambil meyakinkan dirinya bahwa jika ia melubanginya, maka ia tidak lagi mengganggu kenyamanan penumpang di atasnya bila ingin mengambil air. Tentu saja hal itu berakibat fatal, karena jika dibiarkan perbuatannya, maka akan menenggelamkan seluruh penumpang. Dan sebaliknya bila tangannya ditahan dari perbuatan itu, maka penumpang perahu akan selamat.
Perumpamaan Rasulullah Saw tersebut sangatlah jelas bagi kita bahwa ummat Islam tidak boleh membiarkan orang lain melakukan kezhaliman dan kemaksiatan. Kita  harus menolongnya dengan menahan pelakunya, agar perbuatan itu tidak timbul. Dengan sikap demikian, maka akan menyelamatkan banyak orang, karena perbuatan zhalim dan maksiat akan berdampak negatif bagi siapa saja, baik pelakunya maupun orang yang berada di sekitarnya yang membiarkan perbuatan itu.  
Oleh karena itu, kita tidak boleh tinggal diam terhadap perbuatan buruk, kita harus sensitif sehingga dapat mendeteksi sejak dini. Kita harus waspada agar perbuatan itu tidak membesar, karena semakin besar kezhaliman dan kemaksiatan akan semakin sulit pula utuk dibasmi. Kita harus senantiasa meluruskan perilaku yang tidak benar.   
Kezhaliman dan kemaksiatan merupakan kegelapan yang dapat mencelakakan kehidupan ini. Ia akan membuat potensi kebaikan menjadi lemah dan peluang keselamatan menjadi kecil. Apalagi kezhaliman dan kesesatan yang kumulatif seperti sekarang ini. Segala bentuk kezhaliman dan kemaksiatan yang terjadi pada ummat terdahulu berkumpul dengan kualitas yang lebih dahsyat di hari ini. Dampaknya akan berpengaruh bukan hanya pada satu dekade mendatang, namun juga pada generasi-generasi  mendatang. Perbuatan itu mengakibatkan kerusakan sosial yang membahayakan banyak kalangan.
Saat ini ada sekitar dua juta lebih generasi muda kita telah menjadi korban narkoba. Anak-anak gadis telah keranjingan mode hanya untuk menuruti keinginan para durjana kaum lelaki. Orang-orang-tua tidak malu lagi berbuat mak-siat di hadapan banyak orang sambil bergoyang hina dalam dalam perbuatan kotor, melupakan tugas azasinya mencetak generasi pilihan. Orang-orang kuat membiarkan mereka yang lemah tak berdaya untuk memenuhi keinginannya. Orang-orang miskin dibuat mimpi kosong oleh keranjingan judinya. Orang-orang yang berkuasa memanipulasi amanah rakyat, sehingga mereka bisa terus melanggengkan kekuasaannya untuk mengeruk keuntungan pribadi. Banyak hak-hak segala pihak yang terampas karena kezhaliman dan kemaksiatan.
Maka mendiamkan kezhaliman dan kemaksiatan adalah perbuatan dosa. Bukan hanya dosa kepada Allah Swt, melainkan juga berdosa pada generasi mendatang di mana kita harus mempertanggungjawabkannya, karena kita mewariskan keadaan yang diliputi kezhaliman dan kemaksiatan itu. Ini berarti kita mewariskan pekerjaan berat bagi generasi mendatang.
Selain itu, kitapun berdosa pada generasi masa lalu yang telah memberikan dan wasiatnya agar kita dapat membasmi kezhaliman dan kemaksiatan. Generasi masa lalu telah memberikan patokan untuk kita semua. Mereka telah menyelesaikan tugasnya dan selanjutnya kita harus melanjutkan tugas mereka. Namun apabila kita tidak melakukannya dengan baik, maka berarti kita menyia-nyiakan bekal dan arahan mereka.
Maka sudah sepatutnya kita merealisasikan sabda Rasulullah Saw kepada para sahabat: “Tolonglah saudaramu yang berbuat zhalim dan yang dizhalimi, dikatakan: Ya Rasulullah, ini saya menolongnya yang terzhalimi, bagaimana saya menolongnya jika ia berbuat zhalim? Beliau menjawab: engkau cegah dan halangi dari perbuatan zhalim, maka itulah menolongnya.”  (HR Al-Bukhari dan Ahmad).
Keselamatan ummat akan terwujud bila kita mengerahkan  segenap kemampuan untuk menekan dan membasmi  kezhalimam dam kemaksiatan. Kita akan memberikan kecerahan kehidupan ini juga kepada generasi mendatang sehingga mereka dapat merajut harapannya untuk membangun ummat ini menjadi yang Islami.
Betapa banyak kewajiban yang harus kita lakukan di hadapan kita. Memberantas korupsi - termasuk korupsi pengadaan Al-Qur’an yang sangat menyedihkan dan memalukan - adalah keniscayaan. Membasmi kejahatan narkoba memerangi terorisme, dan paling tidak mencegah kezhaliman dan kemaksiatan selama bulan Ramadhan yang lalu agar kezhaliman dan kemaksiatan itu tidak terulang lagi adalah kewajiban kita
Inilah daftar kezhaliman dan kemaksiatan yang banyak terjadi di masyarakat Islam Indonesia pada bulan Ramadhan yang lalu. Peredaran uang palsu. * Penjualan makanan kadaluwarsa. Penggunaan zat dan pewarna dan pengawet berbahaya bagi kesehatan. * Banyaknya miras yang beredar. * Kemesuman di berbagai tempat. * Pelecehan seksual dan kekerasan di angkutan kota. * Pembuangan bayi dan penguburan janin. * Pembunuhan dan pemerkosaan. * Perampokan dan pencurian tetap marak. *  Penyuntikan gas elpiji. * Penimbunan sembako. * Peredaran narkoba di beberapa kelab malam. * Pencurian baut rel kereta api. * Dan masih banyak lagi kezhaliman dan kemaksiatan lainnya.
Sebagai kesimpulan, kita harus senantiasa meluruskan perilaku yang tidak benar, janganlah hanya menekankan melakukan amalan baik pada ibadah mahdah, melainkan lakukan pula amalan baik pada ibadah muamalah, yang sangat diperlukan untuk membentuk keshalehan sosial yang lebih baik. Janganlah kita membiarkan kezhaliman dan kemaksiatan berada di sekitar kita. Penulis menekankan bahwa hal ini bukanlah sekedar idealisme yang tak memiliki kekuatan, melainkan suatu tantangan bagi kita untuk bersama-sama menggali dan menggalang kekuatan demi membangun masyarakat Islami di kalangan masyarakat Islam sendiri, jika tidak ingin kita semua berdosa.
Janganlah ada di antara kita yang mengatakan “perbaikan apa yang bisa dilakukan hanya seorang di tengah-tengah masyarakat ‘jahiliyah’ seperti sekarang ini?” Di sisi lain hendaknya para da’i tidak menafsirkan secara keliru ayat Al-Qur’an yang menyebutkan: “Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihat-Nya …” (QS Yaasiin 36: 11). Ayat ini oleh sebagian da’i dimaknai secara sepotong mengabaikan konteks keseluruhan dengan mengatakan “kami hanya berkewajiban menyampaikan saja, selanjutnya terserah mad’u (penerima dakwah) yang mau mengikuti peringatan itu.“ Padahal memberi peringatan yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah peringatan yang berkaitan dengan keimanan dan ketakwaan, bukan tentang peringatan untuk berbuat kebajikan yang perlu tindak lanjut. Maka sikap dai’ yang keliru itu harus diperbaiki.
Semoga Allah Swt memberikan kemampuan pada kita untuk berada dalam barisan orang-orang yang melawan kezhaliman dan membasmi kemaksiatan. Aamiin ya rabbal alamiin.

Hermanto Harsolumakso
No. 159

3 komentar:

  1. Selamat Indulfitri pengurus JSM teriring do’a semoga Al Mustaqiim, makin mantap dalam mengemukakan kritik-kritik sosial yang membangun. Tulisan 159 bagus. Wassalam.

    BalasHapus
  2. Selamat Lebaran para ustadz, mohon maaf lahir batin. Salut Al Mustaqiim terus melakukan pembenahan di bidang dakwah seperti dikemukakan di atas. Semoga Allah selalu membimbaing kita ke jalan yang lurus. Amiin.

    BalasHapus
  3. Salut ustadz, tulisan yang berani. Banyak ulama / da’i yang berpegang pada QS Yaasiin: 11, mereka itu berdakwa, terima duit, selesai. Pokoknya sudah menyampaikan, gak peduli ummat mau jadi ada dan bagaimana. Selamat Idulfitri 1433 H, semoga para ustadz Al Mustaqiim senantiasa dalam lindungan, petunjuk dan keberkahan-Nya. Amiin.

    BalasHapus