Bulan Ramadhan 1433 H telah masuk ke
dalam sepuluh hari terakhir, dan apabila kita introspeksi apakah yang telah
kita peroleh dari bulan yang penuh berkah ini? Akankah kita meninggalkan bulan
Ramadhan dengan makin tinggi tingkatan takwa kita kepada Allah Swt, atau masih
sama saja dengan waktu sebelum Ramadhan, suatu bulan yang telah Allah berikan penuh
dengan keistimewaan?
Bulan
Ramadhan yang diketahui memiliki sekian banyak keistimewaan, salah satunya
adalah Lailatul Qadar, suatu malam
yang dinilai dalam Al-Qur’an ‘lebih baik dari seribu bulan’. Namun apa dan bagaimana
malam Lailatul Qadar itu dan
bagaimana kedatangannya? Apakah ia selalu hadir dalam setiap bulan Ramadhan?.Apakah
benar malam itu dilukiskan kehadirannya disertai dengan tanda-tanda fisik
material yang menyertainya, yaitu dengan suasana begitu hening, air yang tenang
dingin membeku, sedang pepohonan menunduk?. Dan apakah setiap orang yang
menantinya pasti akan mendapatkannya?
Yang
jelas setiap Muslim mempercayai bahwa malam itu adalah malam yang penuh berkah,
di mana dijelaskan atau ditetapkan
segala urusan besar dengan penuh kebijaksanaan, karena telah dinyatakan dalam
Al-Qur’an: “Sesungguhnya Kami
menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang
memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah,
yaitu urusan besar di sisi Kami (QS Al-Dukhaan 44: 3-5).
Malam
tersebut terjadi pada bulan Ramadhan, sebagaimana kitab suci menginformasikan
bahwa ia diturunkan Allah pada bulan
Ramadhan (QS Al-Baqarah 2: 185) serta pada malam Qadar (QS Al-Qadr 97: 1).
Malam
itu malam ‘mulia’, tidak diketahui betapa besar kemuliaannya. Hal ini diisyaratkan
oleh adanya ‘pertanyaan’ dalam bentuk pengagungan, yaitu: “Dan tahukan kamu apakah malam kemulian itu? (QS Al-Qadr 97: 2).
Penggunaan
kata ma adraaka dalam Al-Qur’an
berkaitan dengan obyek pertanyaan yang menunjukkan hal-hal yang sangat hebat,
dan sult dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh akal pikiran manusia.
Apakah
arti Qadar, dan mengapa malam itu
dinamai demikian?
Qadar sendiri mempunyai tiga makna: 1. Penetapan
dan pengaturan, sehingga Lailatul Qadar
dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia,
sebagaimana dijelaskan melalui firman Allah pada Surat Al-Dukhaan ayat 3
tersebut di atas. Al-Qur’an yang turun pada malam Lailatul Qadar, diartikan
bahwa pada malam itu Allah Swt mengatur dan menetapan khiththah dan strategi bagi RasulNya, guna mengajak manusia kepada
agama yang benar, yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan ummat manusia
baik sebagai individu maupun kelompok.
2.
Kemuliaan. Malam tersebut adalah malam yang mulia tiada bandingnya. Ia mulia
karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Qur’an, serta karena ia menjadi titik
tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Kata qadar yang berarti ‘mulia’ juga ditemukan dalam Al-Qur’an yang bicara tentang kaum musyrik: “Mereka itu tidak
memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa
Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusiat” (QS
Al-An’aam 6: 91).
3.
Sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang
turun ke bumi, sebagaimana ditegasan dalam surat Al-Qadar: “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin
Tuhannya untuk mengatur segala urusan”. (QS Al-Qadar 97: 4). Kata qadar yang berarti sempit digunakan juga
dalam Al-Qur’an antara lain dalam surat Al-Ra’d 13: 26: “Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang
dikehendaki-Nya)”.
Ketiga
arti tersebut pada hakikatnya bisa menjadi benar karena bukankah malam tersebut
adalah malam mulia, yang bila diraih maka ia menetapkan masa depan manusia, dan
bahwa pada malam itu malaikat-malakat
turun ke bumi membawa kedamaian dan ketenangan.
Mengenai
kehadiran Lailatul Qadar dalam setiap
bulan Ramadhan, mayoritas ulama berpegang kepada teks ayat-ayat Al-Qur’an,
serta banyak hadits yang menunjukkan bahwa Lailatul
Qadar terjadi pada setiap bulan Ramadhan. Bahkan Rasulullah Saw
menganjurkan ummatnya untuk mempersiapkan jiwa menyambut malam mulia itu,
secara khusus pada malam-malam ganjil setelah berlalu dua puluh hari dalam bulan
Ramadhan.
Sebagian
ummat Islam menduga, apabila Lailatul
Qadar hadir di bulan Ramadhan, ia akan menemui setiap orang yang terjaga
(tidak tidur) pada malam kehadirannya itu. Kalau demikian maka yang memperoleh
keistimewaan adalah mereka yang terjaga, baik untuk menyambutnya maupun tidak,
karenanya perlu dipahami maknanya lebih dalam lagi. Ibarat tamu agung yang
berkunjung kesuatu tempat, tidak akan menemui setiap orang di lokasi itu
kecuali yang dikehendakinya, walaupun setiap orang-orang di sana
mendambakannya.
Demikian
juga dengan Lailatul Qadar. Itu
sebabnya bulan Ramadhan menjadi bulan kehadirannya. Karena bulan ini adalah
bulan penyucian jiwa, dan itu pula sebabnya sehingga ia diduga oleh Rasul Saw
datang pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Karena, ketika itu diharapkan jiwa manusia yang berpuasa
selama dua puluh hari sebelumnya telah mencapai satu tingkat kesadaran dan
kesucian yang memungkinkan malam mulia itu berkenan mampir menemuinya. Dan itu
pula sebabnya Rasul Saw menganjurkan, sekaligus mempraktikkan i’tikaf (berdiam diri dan merenung di
masjid) pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.
Bagi
jiwa yang telah siap, kesadaran telah mulai bersemi, dan Lailatul Qadar hadir menemui seseorang, ketika itu, malam
kehadirannya menjadi saat qadar,
dalam arti saat menentukan bagi perjalanan sejarah hidupnya pada waktu yang
akan datang. Saat itu, bagi yang bersangkutan adalah titik tolak meraih
kemuliaan dan kejayaan hidup di dunia dan akhirat kelak. Dan sejak itu para
malaikat akan turun guna menyertai dan membimbingnya menuju kebaikan sampai
terbitnya fajar kehidupan yang baru kelak di hari kemudian.
Syaikh
Muhammad Abduh, menjelaskan pandangan Imam Al-Ghazali tentang kehadiran
malaikat dalam diri manusia, sebagaimana ilustrasi yang dilukiskan sebagai
berikut:
“Setiap
orang dapat merasakan bahwa dalam jiwanya ada dua macam bisikan, baik dan
buruk. Manusia sering merasakan pertarungan antara keduanya seakan apa yang
terlintas dalam pikirannya ketika itu sedang diajukan ke sidang pengadilan.
Yang satu menerima dan yang lain menolak, atau yang ini berkata lakukan dan
yang itu mencegah, sampai akhirnya sidang memutuskan sesuatu”.
Yang
membiskkan kebaikan adalah malaikat, sedang yang membisikkan keburukan adalah
setan, atau paling tidak, menurut Muhammad Abduh, penyebab adanya bisikan
tersebut adalah malaikat atau setan. Turunnya malaikat pada malam Lailatul Qadar menemui orang-orang yang
mempersiapkan diri menyambutnya, menjadikan yang bersangkutan akan selalu
disertai oleh malaikat. Sehingga jiwanya akan selalu terdorong untuk melakukan
kebaikan-kebaikan dan dia sendiri akan selalu merasakan salam (rasa aman dan damai) yang tak terbatas sampai fajar malam Lailatul Qadar, tapi sampai akhir hayat
menuju fajar kehidupan baru di hari kemudian kelak.
Ketika
melaksakan i’tikaf dianjurkan untuk
memperbanyak doa dan bacaan Al-Qur’an, atau bacaan-bacaan lain yang dapat memperkaya
iman dan taqwa. Salah satu doa yang paling sering beliau baca dan hayati
maknanya adalah: “Wahai Tuhan kami,
anugerahkanlah pada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan
peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS Al-Baqarah 2: 201)
Doa
ini bukan sekedar berarti permohonan untuk memperoleh kebajikan dunia dan
kebajikan akhirat, tetapi ia lebih lagi bertujuan untuk memantapkan langkah
dalam berupaya meraih kebajikan yang
dimaksud, karena doa mengandung arti permohonan yang disertai usaha. Permohonan
itu juga berarti upaya untuk menjadikan kebajikan dan kebahagiaan yang
diperoleh dalam kehidupan dunia ini, tidak hanya terbatas dampaknya di dunia,
tetapi berlanjut hingga hari kemudian kelak,
Adapun
menyangkut tanda-tanda alamiah Al-Qur’an tidak menyinggungnya dengan jelas. Meskipun
demikian terdapat beberapa hadits memberitakan hal tersebut, namun hadits
tersebut tidak diriwayatkan oleh Bukhari, yang dikenal melakukan penyaringan yang
cukup ketat terhadap hadits-hadits Nabi Saw.
Muslim,
Abu Daud, dan Tirmidzi meriwayatkan melalui sahabat Nabi Ubay bin Ka’ab,
sebagai berikut: ”Tanda kehadiran
Lailatul Qadar adalah matahari pada pagi harinya (terlihat) putih tanpa sinar”.
Diriwayatkan
oleh Imam Ahmad bin Hanbal: “Tandanya
adalah, langit bersih, terang bagaikan bulan sedang purnama, tenang, tidak
dingin, dan tidak pula panas”.
Namun
tanda-tanda kehadiran Lailatul Qadar
yang paling jelas bagi seseorang adalah kedamaian dan ketenangan. Semoga kita
termasuk dalam orang-orang yang beruntung dihampirinya, serta Allah masih
memperkenakan kita untuk bertemu lagi bulan Ramadhan pada tahun yang akan
datang. (Bahan sebagian disarikan dari buku “Wawasan Al-Qur’an, Tafsir Maudhu’i
atas pelbagai Persoalan Ummat” oleh DR. M. Quraish Shihab, M.A.)
Mohammad
Kamal
No. 158
Tidak ada komentar:
Posting Komentar