Minggu, 12 Agustus 2012

LAILATUL QADAR DAN KEISTIMEWAAN RAMADHAN


Bulan Ramadhan 1433 H telah masuk ke dalam sepuluh hari terakhir, dan apabila kita introspeksi apakah yang telah kita peroleh dari bulan yang penuh berkah ini? Akankah kita meninggalkan bulan Ramadhan dengan makin tinggi tingkatan takwa kita kepada Allah Swt, atau masih sama saja dengan waktu sebelum Ramadhan, suatu bulan yang telah Allah berikan penuh dengan keistimewaan?
Bulan Ramadhan yang diketahui memiliki sekian banyak keistimewaan, salah satunya adalah Lailatul Qadar, suatu malam yang dinilai dalam Al-Qur’an ‘lebih baik dari seribu bulan’. Namun apa dan bagaimana malam Lailatul Qadar itu dan bagaimana kedatangannya? Apakah ia selalu hadir dalam setiap bulan Ramadhan?.Apakah benar malam itu dilukiskan kehadirannya disertai dengan tanda-tanda fisik material yang menyertainya, yaitu dengan suasana begitu hening, air yang tenang dingin membeku, sedang pepohonan menunduk?. Dan apakah setiap orang yang menantinya pasti akan mendapatkannya?
Yang jelas setiap Muslim mempercayai bahwa malam itu adalah malam yang penuh berkah, di mana dijelaskan atau  ditetapkan segala urusan besar dengan penuh kebijaksanaan, karena telah dinyatakan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan besar di sisi Kami (QS Al-Dukhaan 44: 3-5). 
Malam tersebut terjadi pada bulan Ramadhan, sebagaimana kitab suci menginformasikan bahwa ia diturunkan  Allah pada bulan Ramadhan (QS Al-Baqarah 2: 185) serta pada malam Qadar (QS Al-Qadr 97: 1).
Malam itu malam ‘mulia’, tidak diketahui betapa besar kemuliaannya. Hal ini diisyaratkan oleh adanya ‘pertanyaan’ dalam bentuk pengagungan, yaitu: “Dan tahukan kamu apakah malam kemulian itu? (QS Al-Qadr 97: 2).
Penggunaan kata ma adraaka dalam Al-Qur’an berkaitan dengan obyek pertanyaan yang menunjukkan hal-hal yang sangat hebat, dan sult dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh akal pikiran manusia.
Apakah arti Qadar, dan mengapa malam itu dinamai demikian?
Qadar sendiri mempunyai tiga makna: 1. Penetapan dan pengaturan, sehingga Lailatul Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia, sebagaimana dijelaskan melalui firman Allah pada Surat Al-Dukhaan ayat 3 tersebut di atas. Al-Qur’an yang turun pada malam Lailatul Qadar, diartikan bahwa pada malam itu Allah Swt mengatur dan menetapan khiththah dan strategi bagi RasulNya, guna mengajak manusia kepada agama yang benar, yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan ummat manusia baik sebagai individu maupun kelompok.
2. Kemuliaan. Malam tersebut adalah malam yang mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Qur’an, serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Kata qadar yang berarti ‘mulia’ juga ditemukan dalam Al-Qur’an   yang bicara tentang kaum musyrik: “Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusiat”  (QS Al-An’aam 6: 91).
3. Sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, sebagaimana ditegasan dalam surat Al-Qadar: “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan”. (QS Al-Qadar 97: 4). Kata qadar yang berarti sempit digunakan juga dalam Al-Qur’an antara lain dalam surat Al-Ra’d 13: 26: “Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya)”.
Ketiga arti tersebut pada hakikatnya bisa menjadi benar karena bukankah malam tersebut adalah malam mulia, yang bila diraih maka ia menetapkan masa depan manusia, dan bahwa pada malam  itu malaikat-malakat turun ke bumi membawa kedamaian dan ketenangan.
Mengenai kehadiran Lailatul Qadar dalam setiap bulan Ramadhan, mayoritas ulama berpegang kepada teks ayat-ayat Al-Qur’an, serta banyak hadits yang menunjukkan bahwa Lailatul Qadar terjadi pada setiap bulan Ramadhan. Bahkan Rasulullah Saw menganjurkan ummatnya untuk mempersiapkan jiwa menyambut malam mulia itu, secara khusus pada malam-malam ganjil setelah berlalu dua puluh hari dalam bulan Ramadhan.
Sebagian ummat Islam menduga, apabila Lailatul Qadar hadir di bulan Ramadhan, ia akan menemui setiap orang yang terjaga (tidak tidur) pada malam kehadirannya itu. Kalau demikian maka yang memperoleh keistimewaan adalah mereka yang terjaga, baik untuk menyambutnya maupun tidak, karenanya perlu dipahami maknanya lebih dalam lagi. Ibarat tamu agung yang berkunjung kesuatu tempat, tidak akan menemui setiap orang di lokasi itu kecuali yang dikehendakinya, walaupun setiap orang-orang di sana mendambakannya.
Demikian juga dengan Lailatul Qadar. Itu sebabnya bulan Ramadhan menjadi bulan kehadirannya. Karena bulan ini adalah bulan penyucian jiwa, dan itu pula sebabnya sehingga ia diduga oleh Rasul Saw datang pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Karena, ketika  itu diharapkan jiwa manusia yang berpuasa selama dua puluh hari sebelumnya telah mencapai satu tingkat kesadaran dan kesucian yang memungkinkan malam mulia itu berkenan mampir menemuinya. Dan itu pula sebabnya Rasul Saw menganjurkan, sekaligus mempraktikkan i’tikaf (berdiam diri dan merenung di masjid) pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.
Bagi jiwa yang telah siap, kesadaran telah mulai bersemi, dan Lailatul Qadar hadir menemui seseorang, ketika itu, malam kehadirannya menjadi saat qadar, dalam arti saat menentukan bagi perjalanan sejarah hidupnya pada waktu yang akan datang. Saat itu, bagi yang bersangkutan adalah titik tolak meraih kemuliaan dan kejayaan hidup di dunia dan akhirat kelak. Dan sejak itu para malaikat akan turun guna menyertai dan membimbingnya menuju kebaikan sampai terbitnya fajar kehidupan yang baru kelak di hari kemudian.
Syaikh Muhammad Abduh, menjelaskan pandangan Imam Al-Ghazali tentang kehadiran malaikat dalam diri manusia, sebagaimana ilustrasi yang dilukiskan sebagai berikut:
“Setiap orang dapat merasakan bahwa dalam jiwanya ada dua macam bisikan, baik dan buruk. Manusia sering merasakan pertarungan antara keduanya seakan apa yang terlintas dalam pikirannya ketika itu sedang diajukan ke sidang pengadilan. Yang satu menerima dan yang lain menolak, atau yang ini berkata lakukan dan yang itu mencegah, sampai akhirnya sidang memutuskan sesuatu”.
Yang membiskkan kebaikan adalah malaikat, sedang yang membisikkan keburukan adalah setan, atau paling tidak, menurut Muhammad Abduh, penyebab adanya bisikan tersebut adalah malaikat atau setan. Turunnya malaikat pada malam Lailatul Qadar menemui orang-orang yang mempersiapkan diri menyambutnya, menjadikan yang bersangkutan akan selalu disertai oleh malaikat. Sehingga jiwanya akan selalu terdorong untuk melakukan kebaikan-kebaikan dan dia sendiri akan selalu merasakan salam (rasa aman dan damai) yang tak terbatas sampai fajar malam Lailatul Qadar, tapi sampai akhir hayat menuju fajar kehidupan baru di hari kemudian kelak.  
Ketika melaksakan i’tikaf dianjurkan untuk memperbanyak doa dan bacaan Al-Qur’an, atau bacaan-bacaan lain yang dapat memperkaya iman dan taqwa. Salah satu doa yang paling sering beliau baca dan hayati maknanya adalah: “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah pada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS Al-Baqarah 2: 201) 
Doa ini bukan sekedar berarti permohonan untuk memperoleh kebajikan dunia dan kebajikan akhirat, tetapi ia lebih lagi bertujuan untuk memantapkan langkah dalam berupaya meraih  kebajikan yang dimaksud, karena doa mengandung arti permohonan yang disertai usaha. Permohonan itu juga berarti upaya untuk menjadikan kebajikan dan kebahagiaan yang diperoleh dalam kehidupan dunia ini, tidak hanya terbatas dampaknya di dunia, tetapi berlanjut hingga hari kemudian kelak,
Adapun menyangkut tanda-tanda alamiah Al-Qur’an tidak menyinggungnya dengan jelas. Meskipun demikian terdapat beberapa hadits memberitakan hal tersebut, namun hadits tersebut tidak diriwayatkan oleh Bukhari, yang dikenal melakukan penyaringan yang cukup ketat terhadap hadits-hadits Nabi Saw.  
Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi meriwayatkan melalui sahabat Nabi Ubay bin Ka’ab, sebagai berikut: ”Tanda kehadiran Lailatul Qadar adalah matahari pada pagi harinya (terlihat) putih tanpa sinar”.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal: “Tandanya adalah, langit bersih, terang bagaikan bulan sedang purnama, tenang, tidak dingin, dan tidak pula panas”.
Namun tanda-tanda kehadiran Lailatul Qadar yang paling jelas bagi seseorang adalah kedamaian dan ketenangan. Semoga kita termasuk dalam orang-orang yang beruntung dihampirinya, serta Allah masih memperkenakan kita untuk bertemu lagi bulan Ramadhan pada tahun yang akan datang. (Bahan sebagian disarikan dari buku “Wawasan Al-Qur’an, Tafsir Maudhu’i atas pelbagai Persoalan Ummat” oleh DR. M. Quraish Shihab, M.A.)  
Mohammad Kamal
No. 158

Tidak ada komentar:

Posting Komentar