Muqaddimah.
Salah satu informasi yang wajib dipercayai oleh setiap orang yang mengaku Muslim adalah keterangan tentang Hari Kiamat, hari yang mengakhiri kehidupan dunia sekaligus mengawali kehidupan akhirat. Kepercayaan mengenai hari kiamat adalah salah satu dari enam Rukun Iman.
Kiamat pasti terjadi, tetapi kapan datangnya, hanya Allah yang mengetahuinya. Allah SWT berfirman: “Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia". [QS Al A’raaf (7): 187]. Allah merahasiakan informasi mengenai hal itu kepada siapapun, termasuk Rasul, Malaikat Jibril, bahkan Malaikat ‘Israfil yang bertugas memberi tanda dimulainya hari kiamat tersebut.
Para ilmuwan menyebutkan kiamat akan terjadi pada tahun 2012 atau 2013 karena saat itu akan terjadi ledakan besar di atmosfer matahari. Ledakan itu diperkirakan dahsyatnya menyamai 66 juta kali ledakan bom atom
Kita lupakan saja hal itu, biarkan para ilmuwan melanjutkan penelitian yang menjadi tugas mereka, lebih baik kita cermati dua jenis fenomena dalam kehidupan bermasyarakat berkaitan dengan akan datangnya kiamat, yaitu fenomena dalam masyarakat itu sendiri dan fenomena alam. Kita akan membahas lebih lanjut kedua fenomena tersebut.
Kemudian kita perhatikan Sunatullah tentang berbagai fenomena dalam kehidupan kita di dunia ini. Sunatullah tidak terjadi seketika, melainkan didahului berbagai sinyal, agar kita bisa melakukan muhasabah sebelum terjadinya bencana yang lebih besar, bahkan sebelum akhirnya ajal atau kiamat tiba.
Fenomena Dalam Masyarakat
1. “Sesungguhnya tanda-tanda kiamat ialah, dicarinya ilmu itu dari ahli bid’ah.” [HR Abdullah bin Mubarak dan Ath Thabrabi, dishahihkan oleh Imam Albani]. Tentu menempuh jalan demikian adalah salah, seharusnya mereka menempuh jalan yang lurus, bukan jalan yang dimurkai Allah dan jalan mereka yang sesat. [QS Al-Faatihah: (1): 6-7]. Atau lebih jelasnya dapat dibaca pada lajur kanan halaman utama ini berjudul ‘Jalan yang Lurus’.
2. “Tidak akan tegak hari kiamat sampai manusia bermegah-megah dengan (membangun) masjid-masjid(nya). Aku tidak diperintah untuk memegahkan masjid-masjid. Sungguh kalian akan memperindahnya (masjid-masjid, sebagaimana Yahudi dan Nasrani memperindah tempat ibadah mereka.” [HR Abu Dawud]. Apakah rencana pembangunan Masjid dan Islamic Center di Ground Zero,
3. “Sesungguhnya di hadapan hari kiamat akan ada al harju, yaitu pembunuhan oleh sebagian kamu membunuh sebagian yang lain, sehingga seseorang sampai membunuh tetangganya, anak pamannya dan membunuh keluarganya.” [HR Ahmad]. Membunuh yang dimaksud di sini bukanlah membunuh dalam peperangan, tetapi pembunuhan sebagian dari kita membunuh yang lain sehingga terjadi bentrok antar warga, membunuh tetangga, kerabat dan keluarga sendiri, dan pembunuhan kejam lainnya seperti yang terjadi akhir-akhir ini.
Fenomena Alam
Dalam satu dekade belakangan ini, kita menyaksikan dan mengalami bencana (alam) yang cukup dahsyat di berbagai belahan bumi termasuk di
Allah SWT menjelaskan di dalam Al-Qur’an tentang hukum alam yang pasti yang disebut Sunatullah yang tidak berubah. Perhatikan isyarat Al-Qur’an ketika menyatakan bahwa air hujan yang diserap bumi menumbuhkan tanaman, dan bahwa perjalanan angin menyebabkan hujan, dan sebagainya [QS An Nahl (16): 11-12]. Alam mempunyai disain sempurna yang memiliki hubungan sebab dan akibat. Allah SWT telah menggariskan keseimbangan alam. Hujan dan hutan sudah memiliki ukuran (takdirnya) masing-masing.
Dengan adanya ulah manusia atas bumi dan udara di atasnya, maka terjadilah perubahan iklim, yang menimbulkan bencana alam. Karena hutan dirusak, maka sudah jelas bahwa sesuai dengan Sunatullah akan terjadi bencana banjir, karena fungsi hidrologis hutan tidak lagi berjalan. Hal ini ditegaskan oleh Allah bahwa kerusakan yang terjadi di alam semesta ini adalah karena ulah tangan manusia. Akan tetapi sering kali manusia mengabaikan sinyal-sinyal itu, sehingga keseimbangan alam menjadi rusak dan kemudian menjadi tidak terkendali dan menjadi bencana bagi kita.
Sunatullah tidak terjadi seketika, melainkan didahului berbagai sinyal kepada manusia. Makin meluasnya bencana banjir, menjadi bukti bahwa kita telah mengabaikan sinyal-sinyal yang terjadi sebelumnya. Terlihat jelas pula, bagi manusia yang selalu menentang hukum Allah, akan ditimpa malapetaka, adzab dan bencana, kehancuran dan kesengsaraan yang berkepanjangan hingga datangnya harti kiamat.
Setiap bencana selalu dapat dikaitkan dengan takdir, tetapi takdir juga hampir selalu menjadi cermin yang baik, yaitu; manusia macam apa kita ini. Satu dua bencana mungkin memang merupakan ujian dari Allah. Namun rangkaian bencana bisa jadi merupakan petunjuk nyata, bahwa kita bukanlah bangsa yang baik.
Gempa Bumi
Pada dasarnya bumi, memang punya potensi (kerentanan) yang besar seperti gempa bumi, meletusnya gunung api dan bencana alam lainnya; tsunami, tanah longsor, tanah amblas, semburan lumpur, gas dan lainnya dari perut bumi, semuanya itu sebenarnya sedang berlangsung dalam proses alam yang bekerja.
Gempa bumi merupakan salah satu bencana alam terbesar seperti halnya bencana akibat hujan dan angin. Kebanyakan gempa bumi disebabkan dari pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan yang dilakukan oleh lempengan yang bergerak. Semakin lama tekanan itu kian membesar dan akhirnya mencapai pada keadaan di mana tekanan tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempengan. Pada saat itulah gempa bumi akan terjadi. Beberapa gempa bumi lain juga dapat terjadi karena pergerakan magma di dalam gunung berapi. Gempa bumi seperti itu dapat menjadi gejala akan terjadinya letusan gunung berapi.
Beberapa gempa bumi, meskipun jarang, juga terjadi karena menumpuknya
Sabda Rasulullah Tentang Bencana
Tentang bencana, Rasulullah SAW bersabda: “Wahai kaum Muhajirin ada
Hadits ini sangat menarik, karena menjelaskan 5 (
1. Jika perbuatan keji sudah tampak dan dipublikasikan di berbagai media, ketika pornografi marak di mana-mana. Maka akan ada berbagai penyakit baru, antara lain HIV/AIDS, ISPA, anthrax, flu burung dan flu babi yang belum ada sebelumnya,
2. Jika takaran dan timbangan dikurangi, ketika praktik korupsi menjadi tradisi, ketika dana pembangunan dibocorkan, ketika mark up menjadi kebiasaan, maka kekeringan, kelaparan dan kekejaman penguasa akan terjadi. Hal ini semua sudah terbukti.
3. Ketika zakat tidak dibayar, ketika orang-orang sudah menimbun harta mereka, maka Allah akan mencegah turunnya hujan, kalau bukan karena kasih sayang Allah kepada makhluk selain manusia, maka tidak ada hujan sama sekali. Hal ini sering kita alami, sebaliknya kita sekarang sedang dalam kehujanan dan kebanjiran yang menimbulkan musibah.
4. Ketika ketentuan-ketentuan Allah dilanggar, ketika ajaran-ajaran Rasulullah SAW disepelekan, maka akan datang musuh kejam yang akan merampas segala yang dimiliki, baik nyawa maupun harta. Lihat saja perampokan dan terorisme.
5. Ketika para pemimpin jauh dari Kitabullah dan Sunnah Nabi, ketika mereka memuja dan memuji hedonisme, liberalisme, dan isme-isme lain yang bertentangan dengan agama, maka akan terjadi permusuhan di antara anak bangsa sendiri sehingga hilanglah rasa cinta kasih di antara mereka. Inilah malapetaka egoisme.
Belajar dari sabda Rasulullah SAW tersebut, kita seyogyanya menyadari bahwa bencana juga merupakan ulah mereka yang serakah, mengutamakan hidup dan nafsu untuk mengangkangi harta, dan tak peduli terhadap mereka yang miskin dan menderita, terutama mereka yang menjadi korban akibat bencana. Kita harus bisa mengakui bahwa musibah apapun halnya, adalah akibat kesalahan dan keteledoran kita bersama. Bangsa yang demikian adalah bangsa yang menghargai sesamanya yang telah ‘terkorbankan’ akibat bencana. Jika tidak, bukan mustahil akan datang bencana akan datang lebih dahsyat dan besar bagi bangsa ini.
Muhasabah
Kita telah mencermati beberapa fenomena dalam masyarakat dan fenomena alam seperti terjadinya bencana dan kepercayaan kita akan datangnya kiamat. Maka setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan dan merayakan Lebaran, hendaknya kita melakukan muhasabah, dengan mengevaluasi kegiatan kita sehari-hari dalam hidup menghadapi Lebaran yang kita rayakan selama ini.
Ustadz M. Ikhsan Tanjung dalam khotbah shalat Idulfitri 1431 H di komplek Laguna Radar AURI, Depok, mengemukakan fenomena menarik berkaitan dengan Lebaran. Dikatakan bahwa kesenangan Lebaran yang ditunggu-tunggu sepanjang tahun selama ini semuanya berakhir pasca Lebaran. Dan ini berulang sepanjang tahun selama berpuluh tahun. Kita rela bersusah-payah sepanjang tahun mengumpulkan tabungan, bermacet-macet di perjalanan yang rawan kecelakaan, berdesak-desakan di kendaraan umum – semuanya untuk kesenangan sesaat bersama keluarga dan kerabat di tempat mudik.
Kita semua tahu kesenangan itu akan segera berakhir. Kalau kita mau bekerja keras sepanjang tahun, mengerahkan seluruh sumber daya yang ada untuk kesenangan sesaat yang namanya mudik Lebaran dan Lebaran, mengapa kita tidak mulai berpikir juga bekerja keras sepanjang tahun dan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada untuk mudik kita yang abadi kelak?
Kita tentu merindukan ibu-bapak kita yang sudah tiada, anak-anak kitapun merindukan nenek-nenek dan kakek-kakek yang bahkan sering kasih sayangnya terhadap cucu-cucunya melebihi apa yang bisa kita berikan. Bila mereka menyiapkan masakan dan kue-kue Lebaran, targetnya bukan untuk kita anak-anaknya, tetapi untuk anak-anak kita yang adalah cucu-cucu mereka.
Kita bisa berkumpul kembali dengan mereka bila kita berusaha sekerasnya, karena Allah SWT menjanjikan pertemuan ini sebagaimana firman-Nya: “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka (di dalam surga), dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” [QS Ath-Thuur (52): 21].
Maka ketika Lebaran yang sesaat ini berakhir, marilah mulai bekerja keras kembali, bukan untuk kesenangan yang sesaat tetapi mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk pulang kampung kita yang abadi. Demikian dikemukakan oleh Ustadz M. Ikhsan Tanjung.
Khatimah
Dengan memperhatikan kedua fenomena berkaitan dengan datangnya kiamat, yaitu fenomena dalam masyarakat dan fenomena alam yang kita bahas pada bagian depan tulisan ini, mungkin kiamat sudah dekat. Meskipun bukan kiamat global, setidaknya ‘kiamat regional’ telah terjadi di negeri Muslim terbesar di bumi ini, negeri yang penuh bencana, negeri yang tidak aman lagi karena penuh dengan kekerasan, kejahatan dan segala macam akhaqul qabihah.
Namun, setidaknya bagi kita yang Mukmin dan Muttaqiin, masih ada pilihan terbaik menghadapi kiamat yaitu mengerahkan segala sumber daya untuk mempersiapkan diri menjemput kesenangan abadi di kampung akhirat nanti.
Pada hari ini kita marilah bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyuk, bacaan Al-Qur’an yang sarat taddabur, dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar kita, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga kita, serta perbuatan baik kita terhadap sesama.
Hari inilah yang akan kita jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya. Hari ini adalah hari kita, kita ucapkan selamat tinggal masa lalu, tenggelamlah bersama mataharimu. Dan bukan esok hari, karena hari itu belum tentu datang. Masa depan masih dalam keghaiban. Kita tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan.
Umur kita mungkin tinggal hari ini. Hari yang saat ini mataharinya menyinari kita. Hari ini kita hendaknya dengan niat ikhlas mempersiapkan kesenangan yang bersifat kekal abadi di kampung akhirat nanti. Hari ini milik kita, manfaatkanlah hari ini sebaik-baiknya menjalani hidup yang benar, sehingga apabila ajal atau kiamat tiba kita sudah siap. Ini pulalah yang disebut khusnul khatimah.
(Hermanto Hs)
Senang kami bisa membaca tulisan-tulisan bermanfaat di Al Mustaqiim. Terima kasih atas nasehat para ustadz. Muhasabah, kata kunci agar kita selalu berjalan di jalan yang lurus. Wassalam.
BalasHapusTulisan di atas tampil di saat meluasnya bencana banjir di segala penjuru dunia. Terlihat jelas pula, perubahan iklim akibat ulah manusia yang menentang hukum Allah, telah menimbulkan malapetaka, adzab dan bencana, kehancuran dan kesengsaraan yang berkepanjangan. Semoga sebelum kiamat tiba kita semua bisa melakukan muhasabah untuk memperbaiki perilaku hidup kita.
BalasHapusSunatullah tidak terjadi seketika, melainkan didahului berbagai sinyal kepada manusia. Makin meluasnya bencana banjir, menjadi bukti bahwa kita telah mengabaikan sinyal-sinyal yang terjadi sebelumnya. Terlihat jelas pula, bagi manusia yang selalu menentang hukum Allah, telah ditimpa malapetaka, adzab dan bencana, kehancuran dan kesengsaraan yang berkepanjangan. Di satu sisi saudara kita di Papua sedang dalam musibah, di sisi lain masih saja ada saudara kita yang saling bentrok memperjuangkan egoisme masing-masing. Belum lagi kebakaran melanda di mana-mana. Boleh jadi kiamat memang sudah dekat.
BalasHapusSepertinya sebagian besar elite bangsa sudah tidak peduli dan tidak takut kiamat. Makin sibuk dengan persiapan Pemilu. Mereka yakin sampai tahun 2014 belum kiamat, justru saat itulah akan dimulai kehidupan baru ……
BalasHapusApapun penyebab banjir bandang di Wasior, sesungguhnya kemalasan manusia melakukan muhasabah adalah penyebab utamanya, sehingga terjadi bencana besar yang menimbulkan banyak korban.
BalasHapusSudah begitu banyak bencana, silih berganti tempat dan ragamnya, tinggal tunggu saja kiamatnya. Astaghfirullah....
BalasHapus