Sabtu, 25 September 2010

89. MUHASABAH PASCA RAMADHAN

Hari ini tanggal 16 Syawal 1431 Hijriyah. Sudah lebih setengah bulan kita meninggalkan Ramadhan yang penuh rahmah dan sarat aktivitas ibadah. Harapan kita adalah, setiap amal kebaikan yang kita lakukan selama tigapuluh hari di bulan suci yang lalu, menjemput ridha Allah SWT, lalu Dia berkenan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang takwa, yang merupakan hasil puasa Ramadhan [QS Al-Baqarah (2): 183].

Tetapi apakah kita memang telah melakukan amal saleh dengan baik sehingga memenuhi syarat pengangkatan derajat kita menjadi muttaqin? Ataukah kita justru termasuk ke dalam kelompok orang yang dikatakan Rasulullah SAW: “berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga?”

Kita berikhtiar menjawab pertanyaan tersebut dengan melakukan muhasabah – introspeksi, mengingat-ingat apa yang kita perbuat pada bulan Ramadhan itu selain tidak makan, tidak minum dan tidak melakukan hubungan suami isteri di siang hari. Apakah kita sepanjang bulan mulia itu menahan seluruh indera dan anggota tubuh kita dari hal-hal yang tidak pantas menurut hukum Allah? Lalu kita isi masa siang maupun malam dengan dzikir, shalat sunnah, tadarrus Al-Qur’an, menunaikan zakat dan memberikan sadaqoh tathawwu’ (sunnah)? Atau kita hanya mengerjakan sebagian kebaikan sambil mengabaikan sebagian yang lain?

Muhasabah yang jujur akan menemukan berbagai kekurangan yang terjadi karena kealpaan, atau bahkan kemalasan. Sayang memang, karena amal saleh di bulan Ramadhan mempunyai nilai yang amat tinggi bila dibanding dengan amalan yang sama yang dilakukan pada bulan-bulan yang lain. Tetapi Allah SWT Maha menyayangi hamba-hamba-Nya. Maka setiap kekurangan masih dapat diperbaiki dengan amalan yang dilakukan pada waktu-waktu di luar Ramadhan.

Itulah yang harus kita lakukan sekarang tanpa menunda-nunda lagi. Muhasabah itu perlu dan seyogyanya dilakukan orang yang beriman di setiap waktu dan untuk segala masalah yang berkenaan dengan kewajiban dirinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya di muka bumi. Dalam tulisan ini akan dikemukakan contoh-contoh muhasabah yang membuahkan peningkatan ikhtiar dan kesungguhan dalam berbuat kebaikan.

>> Beberapa hari yang lalu di sebuah media massa dipaparkan ceritera seorang mantan pejabat tinggi Negara, yang pada suatu bulan Ramadhan melaksanakan tugas ke suatu negara Eropa. Karena merasa sedang safar (melakukan perjalanan jauh), dia memutuskan untuk tidak berpuasa dan kelak akan menunaikan shaum qadha. Maka dia masuk ke sebuah restoran dan menikmati santap siangnya. Pada waktu itu datang seorang pelayan, orang Marokko yang Muslim. Ketika mengetahui bahwa yang sedang makan itu orang Indonesia yang juga Muslim, pelayan tersebut bertanya: “Mengapa anda tidak berpuasa?”. Sang pejabat menjawab: “Saya kan musafir, boleh membatalkan puasa”.

Di luar dugaan, pelayan rumah makan itu berkata: “Ya benar, tetapi anda telah meninggalkan kenikmatan berpuasa di bulan Ramadhan. Anda kan tidak berjalan di padang pasir yang terik, dan tidak berjalan kaki atau naik onta?” Pejabat tinggi itu, menurut penuturannya sendiri, termenung diam. Menunaikan puasa di bulan Ramadhan tentu memberi kenikmatan yang jauh lebih tinggi dibanding dengan puasa qadha. Maka di hari-hari berikutnya dia berpuasa walau sedang safar.

>> Ceritera yang lain dialami adik penulis sendiri, seorang pedagang pakaian yang tinggal di kota Malang. Pada suatu hari di bulan Ramadhan, dia berbelanja batik di Pasar “Klewer” di kota Solo. Pasar itu memang ramai sekali, apa lagi pada bulan puasa. Adik penulis merasa gerah dan panas. Maka dia mulai pikir-pikir hendak membatalkan puasanya. Meskipun sambil ragu dia mendekati kios pedagang es. Ada es dawet kesenangannya yang nampak sangat menyegarkan.

Tetapi sebelum memesan, dia melihat seorang kuli panggul meminta sedikit es batu kepada sang pedagang. Ternyata es itu diusapkannya ke wajah dan sebagian tubuhnya sampai habis. Melihat hal itu adik penulis bertanya: “Untuk apa itu, pak?” Kuli panggul tersebut menjawab: “Untuk mengurangi panas dan rasa haus”. “Mengapa tidak minum?” “Kan sedang puasa”. “Mengapa tidak membatalkan puasa? Bapak kan kerja sangat keras, boleh membatalkan puasa.”

Sang kuli itu menjawab: “Sayang, kenikmatan setahun sekali saja kok ditinggalkan.” Adik penulis terpana. Dia menyalami orang itu dan mengucapkan terima kasih. Lalu dia meninggalkan tempat tersebut dengan melupakan niatnya membatalkan puasa. Terngiang terus di telinganya kata-kata bijak sang kuli: “Kenikmatan setahun sekali saja kok ditinggalkan”.

>> Ceritera ketiga dituturkan oleh seorang pensiunan dosen ITB yang sekarang sudah berusia lebih dari 80 tahun. Berkenaan dengan meninggalnya anak perempuan penulis lebih dari setahun yang lalu, beliau ta’ziyah ke rumah. Di tengah pembicaraan, tiba-tiba beliau berkata: “Pak Sakib, Alhamdulillah saya sekarang sudah shalat”. Terus terang penulis memang terkejut tetapi karena gembira.

Setahu penulis beliau memang tidak pernah mau shalat, bahkan ketika isterinya naik haji, juga tidak mau menyertai. Sang dosen kemudian berceritera. Beberapa bulan sebelum itu beliau mengalami stroke yang berat dengan sebab khusus. Mula-mula beliau dirawat di sebuah rumah sakit di Bandung, tetapi karena masalah peralatan medik dipindahkan di RSPAD Jakarta. Beberapa waktu kemudian dokter rumah sakit besar itu menganjurkan agar perawatan pasien dipindahkan ke Singapura. Untuk itu tentu saja beliau harus cukup kuat terlebih dahulu, sehingga selama beberapa hari terus dirawat di Jakarta.

Di luar dugaan ternyata dalam tiga hari beliau sembuh, sehingga bukan saja batal ke Singapura tetapi boleh pulang ke Bandung. Maka kata beliau: “Pada waktu itu saya renung-renung, Allah begitu baik kepada saya, walaupun saya tidak pernah shalat. Lalu saya ingat-ingat semua karunia Allah kepada saya, yang memang banyak sekali. Maka saya sadar bahwa selama ini saya benar-benar tidak tahu diri. Sejak saat itu saya shalat dan tekun mempelajari agama”.

>> Ceritera keempat tentang anak penulis yang telah dipanggil Allah. Pada ujung hayatnya dia menderita gagal ginjal, kerusakan jantung, dan stroke. Meskipun demikian, ketika sedang “baik”, dia dapat bepergian ke luar rumah. Pada suatu hari dia bersama suaminya menghadiri acara kenaikan kelas di sekolah anaknya.

Acara tersebut ternyata sangat berkesan baginya. Inilah kata-kata yang dia tulis di handphone-nya, dan baru kami temukan sekitar dua minggu yang lalu: “Kebahagiaan menghujaniku ketika anak sulungku, Fia, dinyatakan sebagai siswa berprestasi terbaik di kelasnya. Di tengah kondisiku yg sedang melemah, anakku telah berhasil menunjukkan jerih perjuangannya. Mungkin hanya sebuah cerita sederhana, tapi sangat membekas di hatiku. Wajah anakku mengabur. Air mata hatiku mengalir deras. Sesaat ciut hatiku. Wajah polos anakku seakan menantangku. Selama ini, sudahkah aku membahagiakan anakku? Wahai sayangku, bahagiakah kau memiliki aku sebagai ibumu, nak?”

Itulah yang dia tulis untuk mengekspresikan perasaannya dan tidak dia kirimkan kepada siapapun. Tetapi kami memang menyaksikan bahwa setelah acara itu dia lebih tekun dalam membantu anaknya belajar, mengaji, dan juga lebih sering bercanda, walau dalam kondisi sakit yang semakin memburuk.

Demikianlah beberapa kisah nyata tentang muhasabah dan perbaikan diri. Kisah-kisah tersebut sengaja ditampilkan dalam tulisan ini untuk mengantarkan kenyataan bahwa nilai-nilai yang diajarkan agama tidak bergantung jauh di langit, tetapi dapat diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari, dengan hasil yang amat bermanfaat.

Ada beberapa dorongan untuk muhasabah yang dikemukakan dalam ceritera tersebut. Ada yang melakukan introspeksi karena taushiyah seseorang meski “hanya” pelayan restoran. Ada pelajaran praktis dari seorang kuli pasar. Ada yang disentuh oleh penyakit berat yang kemudian sembuh, dan ada kegembiraan besar di tengah kegetiran.

Semua dorongan itu tidak akan menghasilkan perbuatan baik apabila orang yang didorong menolaknya. Bisa jadi sang pejabat tinggi justru tersinggung dan marah karena omongan pekerja restoran yang melayani dia. Bisa jadi pula orang yang menyaksikan keteguhan hati kuli panggul justru menertawakannya. Mungkin juga sang dosen menganggap kesembuhan sebagai bagian dari perkembangan alamiah belaka; hanya tidak diperkirakan sebelumnya oleh dokter yang merawat. Bisa juga seorang ibu yang menyaksikan keberhasilan anaknya cuma menganggap hal itu sebagai peristiwa biasa saja.

Maka menjadi kewajiban orang-orang beriman untuk secara terus menerus mengasah kepekaan rasa, sehingga setiap fenomena yang dia saksikan atau dia alami, mengembangkan kekaguman kepada keagungan dan kebaikan Allah SWT, Pencipta dan Pengatur segala sesuatu. Al-Qur’an berulang kali memaparkan berbagai peristiwa alam, seperti terbentuknya bumi beserta gunung-gunung dan sungai-sungai yang berada di dalamnya.

Di lereng dan lembah tumbuh aneka pepohonan yang bermanfaat bagi manusia. Setiap bagian bumi ini mengalami pergantian siang dengan malam. Semua itu adalah ayat-ayat Allah, tanda bukti kekuasaan Allah yang tidak berbatas. Namun yang menyadari hal itu hanyalah orang yang menggunakan akalnya dengan benar. [QS Ar-Ra’d (13): 3].

Orang yang menghayati eksistensi Allah sebagai Yang Teragung, selalu melakukan muhasabah mengenai apa yang telah dilakukannya, apa yang seyogyanya diperbuat tetapi belum dilakukan, dan apa program yang harus disusunnya untuk memperbaiki diri dari kelengahan dan kelalaian. Umar ibnu Khattab mengingatkan keharusan muhasabah ini dengan ucapannya yang mashur: “Haasibu qabla an tuhaasabu – Periksa dirimu sebelum diperiksa Allah pada hari Kiamat kelak”.

Kenyataan tentang beberapa kebaikan yang telah dilakukan seyogyanya diverifikasi lagi dengan muhasabah yang sekurang-kurangnya mengkaji tiga hal. >> Yang pertama niat, apakah perbuatan baik yang dilakukan itu ditujukan murni “karena Allah”, dan tidak terkontaminasi oleh pamrih-pamrih yang rendah seperti ingin dipuji orang? >> Yang kedua tata cara melakukan kebaikan itu. Untuk hal-hal yang mahdhoh (ritual), dicermati kembali apakah cara melakukannya sudah sesuai dengan perintah dan contoh Rasulullah SAW? Ataukah masih ada tambahan yang bukan saja tidak perlu tetapi tidak boleh dilakukan? Untuk yang bersifat ghairu mahdhoh (non ritual), dikaji kembali apakah cara melakukannya telah effektif dan memberi manfaat yang optimal? >> Muhasabah yang ketiga mengenai kesungguhan; apakah orang yang berbuat kebaikan itu melakukannya dengan semangat tinggi sehingga merasakan kebahagiaan ketika melakukannya? Dan kebaikan yang telah diperbuat mendorong semangat untuk melaksanakan kebaikan berikutnya?

Bagi orang yang beriman, muhasabah hendaknya menjadi bagian dari akhlak karimah, bukan hanya sekali-sekali tetapi kebiasaan yang amat bermanfaat. Dari introspeksi dihasilkan kesadaran dan kekurangan, untuk diperbaiki dan terus diperbaiki. Maka kapanpun orang itu dipanggil Allah SWT, dia berada dalam kondisi sedang memperbaiki diri. Itulah yang disebut husnul khatimah, akhir kehidupan yang baik. Semoga kita semua masuk ke dalamnya.

(Sakib Machmud).

2 komentar:

  1. Meskipun manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini, namun karena sifatnya yang lemah terhadap godaan syeitan dan hawa nafsunya, maka manusia tidak pernah terlepas dari berbuat kesalahan dan dosa, Dosa itu ada yang besar dan ada pula yang kecil. Jika seseorang berbuat dosa besar, maka pada umumnya ia akan segera menyadari dosa yang dilakukan itu. Tetapi terhadap dosa-dosa kecil, bisa jadi ia tidak menyadari bahwa yang dilakukannya adalah dosa. Karena itu kita harus waspada bahwa akumulasi dosa-dosa kecil tanpa kita sadari bisa menjadi besar juga. Karena itu kita perlu melakukan muhasabah sebagai suatu kebiasaan sebagaimana dianjurkan ustadz kita di atas.

    BalasHapus
  2. Setidaknya setiap shalat kita bisa manfaatkan untuk melakukan muhasabah.

    BalasHapus