Minggu, 05 September 2010

87. TANTANGAN BAGI PEMIMPIN BANGSA

Rasulullah SAW bersabda: “Dunia ini ibarat kebun yang dihiasi dengan empat ornamen: ilmunya para ulama, keadilan para pemimpin, kepemurahan orang-orang kaya, dan do’anya orang-orang fakir”. [HR Abu Daud]. Dalam tulisan 69 / ‘Tanggungjawab Ulama / 5-03-10, kita telah membahas peran ulama sebagai kekuatan pertama dalam membangun bangsa dan negara. Selanjutnya kita akan membahas peran pemimpin sebagai kekuatan kedua yang tidak kalah penting. Terlebih dahulu, kita akan mempelajari apa saja persyaratan yang harus dipahami oleh seorang pemimpin, yang akan dijadikan modal untuk membangun bangsa dan negara.

Pertama, pemimpin haruslah menjaga amanah dan profesional. Hal itu, dijelaskan dalam Al-Qur’an: “Dan raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, raja berkata: "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami. Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir), sesungguhnya aku adalah penjaga amanah (hafidz) dan berpengetahuan (alim)." [QS Yusuf (12): 54-55].

Demikianlah kesiapan Nabi Yusuf penjaga amanah, yang dicerminkan dengan kata hafidz. Menjadi pemimpin adalah menerima amanah yang dipercayakan masyarakat kepadanya. Menunaikan amanah itu sangat berat, karena pemimpin harus menyadari bahwa padanya melekat wewenang, kekuasaan, dan harta kekayaan negara yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada masyarakat yang mempercayakan amanah itu, tetapi terutama ke hadapan Allah SWT.

Di samping itu pemimpin haruslah profesional yang dicerminkan dengan kata-kata berpengetahuan (alim). Seorang pemimpin yang mendapatkan amanah suatu jabatan, seharusnya telah mendapatkan tempaan dari ibadah yang dilakukannya, dan sudah selayaknya mengedepankan kejujuran, kebenaran, dan keberpihakan pada nilai-nilai Ilahiyah dalam setiap kebijakan dan tindakan yang dilakukannya.

Dengan profesionalisme yang tinggi, pemimpin harus berusaha bersungguh-sungguh memecahkan berbagai persoalan bangsa dan negara dengan perencanaan yang matang, kebijakan dan langkah yang jelas, transparansi yang terukur dan teruji, bukan semata-mata reaktif serta tambal sulam. Penanganan suatu masalah yang semata-mata mengandalkan pada kemampuan intuisi tanpa didasari alur logika yang sehat dan perencanaan yang baik, biasanya akan menambah masalah baru yang seharusnya tidak perlu terjadi. Jadi pemimpin haruslah berbekal amanah yang dibingkai dan diperkokoh oleh profesionalisme yang dilandasi keimanan dan ketakwaan.

Kedua, pemimpin harus menegakkan kebenaran dan keadilan. Alllah SWT berfirman:Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS Al- Maaidah (5): 8].

Ketiga, seorang pemimpin tidak boleh berbuat zhalim. Tentang kezhaliman Allah berfirman: “Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zhalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. [QS Asy-Syuura (42): 42].

Keempat, pemimpin harus memiliki daya saring (furqaan) yang tinggi dalam memilih dan memilah perbuatan yang bermanfaat dari perbuatan yang mudlarat dan merusak, perbuatan baik dari perbuatan buruk, dan perbuatan yang menyelamatkan dirinya dan masyarakatnya dari yang mencelakakannya. Allah SWT hanya memberikan furqaan kepada orang-orang Mukmin dan Muttaqiin sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan penghapuskan segala kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. [QS ِAl-Anfaal (8): 29]

>> Dalam melaksanakan amanah yang sangat berat itu, apabila seorang pemimpin melakukan kesalahan, keburukan dan kejahatan, tentu akan dikecam oleh rakyat, hal Itu wajar saja. Namun kenyataannya pula, jika pemimpin adalah orang yang menganjurkan, mengusahakan, membangun, dan memberikan kebajikan, kita juga sering menjumpai kritikan dan kecaman yang mungkin sangat pedas dan pahit kepada pemimpin itu. Bagaimana menghadapi kritikan dan kecaman tersebut?

Seorang pemimpin harus mempunyai pegangan yang kuat, yaitu senantiasa berpegang pada firman Allah: “Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang-orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung.” [QS Al-Ahzaab (33): 48]. Jadi, pemimpin cukup mengabaikan saja kecaman dan kritikan semacam itu, dan melanjutkan berbuat kebajikan. Kalau memang bisa begitu, itu yang lebih baik.

Tetapi memang tidak bisa semudah itu seorang pemimpin mengabaikannya, apalagi jika pengecam itu tidak mau diam mengkritik sebelum pemimpin itu lengser. Selalu ada saja perbuatan mereka yang membuat pemimpin bersedih. Itu manusiawi. Maka pegangan berikutnya bagi seorang pemimpin adalah seperti ditegaslah Allah: “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” [QS An-Nahl (16): 127].

Kita perlu menyadari ada kalanya orang-orang yang mengecam suatu perbuatan baik seorang pemimpin itu disebabkan karena mereka sudah membencinya dari awal, karena alasan tertentu yang subyektif. Apalagi jika orang-orang sangat berpengaruh di kalangan pendukungnya yang fanatik. Kalau begini, pemimpin itu dihadapkan pada posisi sulit. Mereka yang mengecam bisa melakukan ghibah (bergunjing) atau fitnah sedemikian rupa sehingga pemimpin itu bisa terkucilkan dari masyarakat.

Namun seorang pemimpin sejati tidak perlu khawatir. Ingat! Allah Sang Pencipta dan Pemberi Rezeki Yang Maha Mulia saja, seringkali kali mendapat cacian dan cercaan dari orang-orang yang bodoh dan tak berakal. Maka pegangan bagi pemimpin terhadap kecaman semacam itu adalah pembelaan Allah berikut ini: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.” [QS Al-Ahzaab (33): 69]. Ibarat Nabi Musa, seorang pemimpin tidak perlu berkecil hati, karena Allah menjamin akan membersihkan dari tuduhan orang-orang bodoh.

Sebagian dari orang-orang bodoh ada yang menganggap orang lain juga bodoh seperti mereka, meskipun tidak sedikit orang-orang pintar dan sok pintar yang juga suka membodohi orang lain, padahal yang dibodohi belum tentu bodoh. Terhadap sikap tersebut pegangan bagi pemimpin adalah sabda Rasulullah SAW berikut: “Berlapang dadalah kamu terhadap orang yang membodohi kamu. Engkau suka memberi maaf kepada orang yang telah menganiaya kamu." [HR Thabrani].

Dan apabila mereka masih juga mengecam, maka pegangan bagi pemimpin adalah, cukup mengomentari setiap perkataan mereka sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT kepada Muhammad Rasulullah SAW untuk melindungi beliau dalam menghadapi kecaman-kecaman bodoh: “Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: "Kami beriman"; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari karena marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (Muhammad): “Matilah kamu karena kebencianmu itu. [QS Ali Imran (3): 119].

Jika Allah saja sudah sampai memerintahkan begitu, maka berarti sikap dan perbuatan sekelompok orang munafik yang berhati buruk itu harus dienyahkan dari dunia ini. Tetapi seseorang tidak boleh membunuh orang lain gara-gara kritikan, kecaman, maupun kutukan yang dilakukan terhadap dirinya. Kita serahkan penyelesaian atas perbuatan orang-orang munafik itu di tangan Allah SWT. Rasulullah SAW pernah bersabda tentang orang-orang yang suka mencela: "Bukanlah seorang mukmin orang yang suka mencela, pengutuk, kata-katanya keji dan kotor." [HR Tirmidzi]. Muslimkah mereka? Berdasarkan hadits ini berarti mereka hanya mengaku Muslim tetapi sesungguhnya bukan, atau setidaknya bukan Muslim yang baik.

Begitulah salah satu fenomena dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka yang mengecam pemimpin karena pemimpin itu berbuat kebajikan, adalah karena hasad (iri) terhadap kemampuan dan kelebihan pemimpin itu. Padahal mereka sendiri tidak melakukan kebajikan seperti yang dilakukan pemimpinnya. Maka untuk menghadapinya, yang terbaik adalah tidak menjawab lagi kritikan mereka, melainkan ‘menyumpalkan ke mulut mereka potongan-potongan daging’ supaya mereka diam, dengan cara memperbanyak berbuat keutamaan, memperbaiki akhlak, dan meluruskan setiap kesalahan dengan terus berbuat kebajikan. Anggaplah kritikan dan kecaman itu sebagai penghormatan kepada pemimpinnya. Yakni semakin tinggi derajat dan posisi seorang pemimpin, maka akan lebih pedas pula kritikan itu.

Meskipun demikian, seorang pemimpin harus menyadari bahwa, mustahil dia bisa diterima semua pihak, dicintai semua orang, dan terhindar dari cela, dan mengangankan sesuatu yang terlalu jauh untuk diwujudkan. Seseorang yang melakukan sesuatu karena Allah tidak boleh merasa bahwa semua orang sepakat dengannya. Tidak ada satu pun masalah yang disepakati semua orang. Bahkan terhadap Nabi sekalipun. Namun para Nabi itu tidak pernah putus asa, meski banyak pihak yang tidak mau mengakui kebenaran, kejujuran dan kehebatannya. Pemimpin juga harus demikian. Apa yang menjadi kewajibannya harus dikerjakan, meskipun banyak orang yang tidak suka atau malahan memusuhinya.

>> Perlu kita sadari bahwa seorang pemimpin tidak akan bisa melaksanakan amanahnya dengan baik apabila rakyat tidak mentaati apa yang diaturnya. Itu adalah kewajiban rakyat. Allah SWT berfirman: ”Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnah) nya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [QS An-Nisaa’ (4): 59].

Rasulullah SAW bersabda: “Hendaklah kamu mendengar, patuh dan taat (kepada pemimpinmu), dalam masa kesenangan), dalam kesulitan dan kesempitan, dalam kegiatanmu, dan di saat mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, meskipun keadaan itu merugikan kepentinganmu.” [HR Muslim dan An Nasaa'i].

Pesan moral yang terkandung dalam ayat dan hadits di atas, kepada pemimpin terpilih dengan ridha Allah (bukan pemimpin yang terpilih karena kecurangan dalam Pemilu), hendaknya kita taati petunjuk dan bimbingannya. Itu adalah kewajiban ummat untuk mematuhinya dalam masa senang maupun masa sulit. Hanya orang-orang yang dengki, ujub dan riya yang menghina pemimpin. Jika tidak maka kita akan mendapat penghinaan dari Allah SWT sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa menghina penguasa Allah di muka bumi maka Allah akan menghinanya.” [HR Tirmidzi].

>> Penulis menghimbau kepada segenap anak bangsa, termasuk para politisi maupun pengunjuk rasa untuk senantiasa bersikap arif dan bijaksana dalam melakukan kritik dan saran kepada pemimpin dengan etika yang diajarkan Rasulullah SAW seperti telah dibahas dalam tulisan 76 / ‘Demokrasi dan Unjuk Rasa’ / 15-05-10. yaitu dengan mengedepankan musyawarah daripada melakukan orasi terbuka. Hendaknya masyarakat memberi kesempatan kepada pemimpin itu untuk menunaikan amanah yang dipegangnya sampai akhir masa jabatan sesuai amanat rakyat, karena pemimpin kita sekarang (siapapun presidennya) dipilih rakyat secara langsung sesuai UU Pemilu yang berlaku.

Dan jangan pula karena mereka gagal atau tidak mendapat kesempatan dalam kekuasaan, para politisi termasuk politisi berkedok ulama, pakar politik dan tokoh-tokoh partai oposisi, ingin ‘menggoyang’ atau menistakan pemimpin yang sedang bekerja. Para elite bangsa hendaknya bersikap sebagai negarawan yang bertanggungjawab, bukan sekedar mengritik dan mengecam apalagi memfitnah, seolah-olah mereka itu paling peduli dan paling mampu mengemban amanah rakyat.

Selama ini, elite bangsa yang sudah lengser maupun yang belum mendapat kesempatan untuk memimpin, ditambah politisi berkedok ulama, pengamat politik, media massa yang dikuasai oleh politisi tertentu, kebanyakan mereka melakukan kritik dan kecaman untuk sekedar fusuq dan jidal. Fusuq adalah perkataan dan perbuatan yang dimaksudkan untuk menyakiti, menyerang, merusak, bahkan merendahkan orang lain. Dalam jidal, semua pengritik dan pengecam menganggap pendapatnya paling benar.

Sesungguhnya kebenaran itu hanya pada Allah SWT, dan orang-orang yang iman dan takwanya benar, bukan pada mereka yang dikuasai kekuatan ghadab dan wahmiyah. Kekuatan ghadhab adalah dorongan untuk mengalahkan orang lain, di dalamnya termasuk kesombongan, kedengkian, rasa benci, rasa iri dan dendam. Kekuatan wahmiyah datangnya dari syeitan, yakni kekuatan yang membenarkan ucapan buruk. Ini pernyataan yang tidak enak, tetapi setidaknya itu merupakan tantangan bagi para elite bangsa untuk memperbaiki diri.

Ucapan seseorang mencerminkan hati dan lidahnya. Keduanya memiliki makna fisik dan metafisik. Secara fisik hati adalah jantung yang menjadi pusat dalam jasmani manusia. Secara metafisik hati adalah wadah dari segala pusat aktivitas diri dan menampung segala bentuk sikap, perbuatan dan pikiran manusia. Sementara itu lidah secara fisik adalah organ yang membuat manusia bisa berbicara, tetapi secara metafisik lidah adalah ucapan yang keluar dari hati manusia.

Semoga melalui ibadah puasa Ramadhan ini kita akan semua menjadi lebih bijaksana dalam ucapan dan perbuatan. Baik para pengritik dan pengecam maupun pemimpin yang sedang menunaikan amanah bangsa dan negara hendaknya menjadikan momen ini untuk saling memelihara silaturahim supaya kita memperoleh hikmah Ramadhan dan ibadah puasa, dan mendapatkan pahalanya. Dan semoga hikmah tersebut berbuah pada perbaikan ucapan dan perbuatan kita. Perbaikan itu bukan hanya sampai dengan usainya bulan Ramadhan, melainkan sampai dengan tibanya bulan Ramadhan berikutnya, Amiin.

(Hermanto Hs)

6 komentar:

  1. Excellent. Memang banyak orang fusuq dan jidal, orang-orang itu tidak bis membedakan bulan Ramadhan dan bulan biasa. Berarti puasa Ramadhan mereka tahun lalu itu sia-sia saja. Dan tentu puasa Ramadhan tahun ini mungkin tak akan menghasilkan sesuatu untuk 11 bulan ke depan. Wallau’alam.

    BalasHapus
  2. Assalamu alaikum ww.
    Masya Allah tulisan anda bagus, memang dari dulu anda berbakat menulis, go ahead da'wah tertulis dan selamat hari raya idulfitri taqoballallahu minnaa wa minkum. ag

    BalasHapus
  3. tentang pemimpin? waah, kalau mesti ini mesti itu lalu jangan ini jangan itu, lha kayakya kok susah banget nyarinya ya? eh, maapin aye yee kaluk ade sale. wassalam.

    BalasHapus
  4. Kapan elite bangsa kita bisa seperti para elite bangsa di negara yang demokrasinya sudah mapan? Presiden Kennedy mengatakan, “apa yang bisa kau berikan untuk negara, bukan apa yang negara bisa berikan kepadamu” Di negeri kita saat ini filosofi elite bangsa, “kapan aku bisa mengeruk kekayaan negara dan harta rakyat?”

    BalasHapus
  5. Tepat sekali uraian di atas, saya yakin ustadz kita ini tidak membela siapa-siapa, selain menghimbau para elite bangsa untuk berlaku fair dalam permainan politik.

    BalasHapus
  6. Metro TV norak sekali ingin menjatuhkan pemerintah, TV One masih agak lembut, karena Golkar ada di pemerintahan. Tetapi keduanya tidak layak disebut sebagai sumber berita yag obyektif. Padahal seharusnya mereka itu netral. Janganlah masalah perbatasan RI-Malaysia dijadikan alat untuk menggoyang pemerintah. Kalau terjadi perang dengan Malaysia, saya pikir RI akan lebih banyak menderita kerugian.

    BalasHapus