Kita telah membicarakan golongan orang yang disebut Muttaqin - orang-orang yang takwa, sebagai manusia yang menyadari eksistensi Allah SWT selaku Pencipta, Pengatur, Pemelihara dan Penguasa alam semesta beserta segala isinya termasuk manusia. Karena kesadarannya itu mereka tunduk dan patuh kepada Allah dengan suka rela dan gembira. Maka Allah memberikan balasan terbaik kepada orang-orang tersebut, dalam kehidupannya di dunia maupun di akhirat.
Sebutan bagi orang-orang bermartabat tinggi itu ternyata bukan hanya Muttaqin. Di dalam Al Qur’an kita jumpai beberapa penamaan bagi orang-orang yang berhormat di hadapan Allah SWT. Salu satu di antaranya adalah Al Abrar – orang yang selalu berbakti kepada Allah. Mereka ditempatkan dalam derajat yang sama dengan Muttaqin. [QS Ali Imran (3): 198]. Catatan mengenai kebaktian Al Abrar itu disimpan rapih dalam Kitab yang dijaga oleh para malaikat [QS Al Muthaffifin (83): 18-21]. Karena kebaktian itu, kelak di alam akhirat mereka ditempatkan di surga yang sangat nyaman dan memenuhi segala keinginan yang pernah diangan-angankan manusia [QS Al Muthaffifin (83): 22-28]. Al Qur’an mendorong manusia untuk memohon hidayah kepada Allah, sehingga wafat dalam kondisi yang sama dengan Al Abrar. [QS Ali ‘Imran (3): 193].
Sebutan lain bagi orang yang sangat baik adalah Al Muqarrabun – orang-orang yang didekatkan kepada Allah. Mereka didekatkan karena mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan berbagai amal kebaikan. Mengenai hal ini Allah SWT berfirman dalam sebuah hadits qudsi: “Apabila seorang hamba mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Apabila dia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepada-Nya sedepa. Apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari [HR Bukhari dan At Thabrani].
Gelaran lain untuk orang-orang yang dimuliakan Allah adalah Ulul Albab; istilah ini diterjemahkan oleh Tim Tafsir Departemen Agama sebagai ‘orang-orang yang berakal’. Terjemahan yang sama dinyatakan dalam Tafsir Al Azhar karangan HAMKA, Tafsir Al Misbah tulisan M. Quraish Shibab, dan Terrjemah Al Qur’an secara Lafdhiyah terbitan YPMI Al Hikmah. A. Hassan dalam tafsirnya Al Furqon mengartikannya: ‘orang yang mempunyai fikiran’. The Meaning of The Holy Qur’an karangan Abdullah Yusuf Ali dan Interpretation of The Meaning of The Noble Qur’an terbitan Maktaba Dar us Salam,
Perlu kita pahami bahwa istilah bahasa Arab ‘Aql yang diambil oleh para penerjemah Al Qur’an ke dalam bahasa Indonesia, tidak hanya berkenaan dengan pikiran atau rasio, tetapi juga rasa atau hati. Keduanya secara bersama-sama membentuk pengertian yang mendalam. karena itu kita dapat memahami mengapa buku-buku terjemah bahasa Inggris yang sebut tadi memaknai Ulul Albab sebagai men of understanding. Sebenarnya ada istilah dalam bahasa Indonesia yang lebih tepat untuk menunjuk orang yang memiliki kemampuan demikian yakni cendekiawan. Maka rasanya kita akan lebih nyaman bila mengartikan Ulul Albab sebagai cendekiawan.
Ulul Albab atau cendekiawan itu tidak usah seorang profesor, bahkan tidak harus mengenyam pendidikan formal yang tinggi. Al Qur’an menggambarkan golongan ini sebagai berikut: “Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: “Ya Allah, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. [QS Ali ‘Imran (3): 191]. Ayat ini menerangkan bahwa seseorang disebut Ulul Albab bila memenuhi dua syarat. Pertama: senantiasa dzikrullah, dan yang kedua: tafakkur terhadap ciptaan-ciptaan Allah.
Dzikrullah artinya mengingat Allah. Perkataan “sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring” dalam QS Ali ‘Imraan (3): 191 menunjukkan bahwa cendekiawan itu mengingat-ingat Allah dalam setiap waktu dan segala keadaan. Ketika mengamati matahari terbit, menyembul di arah Timur, memancarkan cahaya kuning kemerahan yang luar biasa indah, dia menyadari bahwa benda langit adalah ciptaan Allah. Tatkala sedang berbaring sakit, dia ingat bahwa Allah yang menetapkannya sakit; maka dia bersikap sabar, sikap yang mengangkat derajajatnya ke tingkat tinggi. Ketika tengah bekerja keras dia sadar bahwa hasil kerjanya tidak bergantung kepada dirinya tetapi Allah yang menentukan. Karena itu dalam ikhtiarnya yang keras dia berserah diri (tawakkal) sepenuhnya kepada Allah SWT. Ingatan yang terus menerus kepada Allah menjadikan Ulul Albab tenang hatinya. Jiwa yang tenteram mengendurkan gejolak keresahan, maka dia mampu berpikir jernih sehingga mencapai sukses dalam banyak usahanya.
Tafakkur bermakna mengamati dengan saksama, menganalisis dengan cermat, dan menyimpulkan analisisnya itu secara matang. Yang diamati, dianalisis dan disimpulkan, sebagaimana dikemukakan dalam QS Ali ‘Imraan (3): 191, adalah proses penciptaan langit dan bumi beserta segala isinya. Tafakkur yang berjalin erat dengan dzikrullah tidak akan menimbulkan stres di dalam jiwa. Tafakkur yang demikian itu akan menghasilkan dua hal penting. Pertama, pengertian baru mengenai berbagai proses dan kejadian yang berlangsung di alam; pemahaman itu bermanfaat bagi orang itu dan bagi masyarakatnya. Kedua, kesadaran yang mendalam mengenai “Tangan-tangan Allah” yang mengatur dengan sempurna segala sesuatu di alam raya ini sehingga setiap unsur alam beriteraksi dengan unsur-unsur lain, membentuk harmoni yang bermanfaat bagi sistem alam.
Ulul Albab mengamati seekor cicak menangkap nyamuk. Dia heran, betapa cicak yang hanya dapat melata di dinding mampu menangkap nyamuk yang dapat terbang. Dia berpikir dan berpikir, sehingga sampai kepada kesimpulan bahwa Allah SWT menjadikan nyamuk yang memang ditakdirkan sebagai makanan cicak, pada saat tertentu dan karena keadaan tertentu mendekat ke dinding. Ulul Albab menyaksikan buah-buahan yang beraneka rupa. Dia berpikir dan meneliti asal muasal buah-buahan itu, ternyata terbentuk setelah terjadi perkawinan di dalam bunga, antara serbuk sari dengan putik. Keduanya tidak dapat beranjak dari tempat bertenggernya. Maka Allah menugasi lebah dan kupu-kupu selaku perantaranya. Dengan Kuasa Allah bunga memeiliki kelopak yang indah, dan memancarkan bau harum, dan menyimpan madu di dalamnya. Kumbang atau kupu-kupu tertarik, hinggap di kelopak bunga, menghirup madu; maka kakinya menyentuh serbuk sari yang berada di benang sari, menggugurkan serbuk halus itu dari tangkainya, jatuh ke bawah untuk bertemu dengan putik.
Ulul Albab mengetahui bahwa dirinya bernafas karena harus bernafas, harus memasukkan oksigen ke dalam tubuh untuk melakukan pembakaran dan menghasilkan energi. Hidup manusia dan hewan bergantung kepada oksigen, sehingga udara bersih itu harus selalu ada. Maka Allah memerintahkan chlorophyl dalam bagian-bagian pohon yang berwarna hijau, untuk menjadi ‘pabrik’ oksigen; dia bekerja sama dengan matahari mengubah carbon dioksida menjadi zat yang sangat vital bagi makhluk-makhluk hidup itu. Ulul Albab menyaksikan jari-jari tangannya sendiri memegang sesuatu, jantungnya selalu berdetak, darahnya mengalir, dan rambutnya memanjang. Dia bertanya karena keinginan tahunya: mengapa, bagaimana, untuk apa? Jawaban atas setiap pertanyaannya itu menambah kekaguman kepada yang Maha Pengatur segala sesuatu, Allah SWT.
Ulul Albab menyadari, menghayati, dan mengagumi kekuasaan Allah yang tidak berbatas, kemampuan Allah yang tidak terhalang, dan kebaikan Allah yang tanpa pamrih sedikitpun. Dia menyaksikan karya-karya agung Allah SWT yang luar biasa. Maka diapun mengartikulasikan suara hatinya: “Wahai Tuhan kami, (benar-benar) tidak Engkau jadikan (segala kejadian dan proses di alam raya) ini dengan sia-sia. (Semua serba harmonis, serba indah dan serba berguna); maka pelihara kami dari (pikiran-pikiran sesat yang menjauhkan kami dari-Mu dan yang menjadikan kami merasakan) siksa neraka”. Dua pengakuan dikemukakan dalam kalimat ini. Pertama, bahwa Allah SWT telah mencipta dan mengatur segala sesuatu dengan sempurna. Kedua, bahwa manusia rentan terhadap bujukan syeitan, yang membujuknya agar tidak mengakui Karya Agung Allah. Penolakan demikian akan membawa orang kepada siksa neraka.
Dari uraian di atas kita patut memperkirakan, sebutan-sebutan yang terdapat di dalam Al Qur’an mengenai orang yang sangat baik akhlaknya, seperti Muttaqin, Al Abrar, Muqarrabun, berkenaan dengan golongan manusia yang sama. Masing-masing sebutan menekankan sifat tertentu yang ditandai oleh sebutan tersebut. Pada dasarnya Allah SWT menghendaki setiap hamba-Nya untuk mengusahakan tingkatan tertinggi yang dapat dicapainya. Ikhtiar tersebut dilakukan dengan membina sikap yang benar dan perbuatan baik yang optimal. Keduanya didasarkan kepada kesadaran yang mendalam yang membentuk kecintaan penuh kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam.
Untuk mengantar manusia kepada kesadaran ke-Tuhanan yang sangat tinggi, Al Qur’an berulang kali mengemukakan berbagai kenyataan yang menjadi bukti keagungan Allah. QS Al Baqarah (2): 164, memaparkan terjadinya langit dan bumi, pergantian yang tetap antara siang dan malam, bahtera yang dapat mengapung di laut walaupun membawa beban yang berat, air yang turun dari langit dan air itu menyuburkan tanah, penyebaran aneka ragam satwa di muka bumi, dan pergerakan angin yang membawa awan ke berbagai tempat. QS Ar Rahmaan (55) mengemukakan banyak sekali realitas, antara lain bahwa manusia dapat berkomunikasi satu sama lain dengan menggunakan bahasa, bahwa tempat tinggal manusia adalah bumi yang padanya tumbuh aneka tanaman, yang di dahan-dahannya menggelantung buah-buahan yang lezat, di bumi mengalir sungai-sungai yang berkelok liku, kemudian bertemu laut yang sangat luas, dan di antara keduanya ada hidrodinamika yang membatasi kedua jenis air tersebut sehingga tidak segera menyatu. Tiga puluh satu (31) dari delapan puluh tujuh (87) ayat dalam QS Ar Rahmaan menyatakan: “Maka keterangan mengenai nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu anggap sebagai keterangan dusta?”.
QS Al Waaqi’ah (56) dengan pertanyaan-pertanyaan retorika mengajak manusia untuk berpikir, mereka sendirikah yang menumbuhkan pepohonan – salah satu sumber makanannya? Ataukah Allah? Mereka sendirikah yang menurunkan air hujan? Ataukah Allah? Mereka sendirikah yang mengadakan api? Ataukah Allah? Keterangan, pengingatan, dan penegasan tentang eksistensi Allah SWT tersebut membekas di hati sebagian orang, tetapi berlalu tanpa meninggalkan kesan apapun bagi sebagian yang lain. Maka dalam QS At Takwir (81): 26 Allah bertanya kepada manusia seluruhnya: “Kamu hendak ke mana?”. [Sakib Machmud].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar