Sungguh ironis di negeri yang ummat Islamnya terbesar di dunia ini sering terjadi kejahatan seperti mutilasi dan perbuatan keji lainnya, di samping berbagai kejahatan akibat kesenjangan sosial, serta konflik dan bentrok antar ummat, bahkan konflik antar elite bangsa, sebagaimana telah dibahas dalam tulisan 60 berjudul ’Bangsa Konflik’ (12-12-09). Terhadap tulisan itu, seorang pembaca Al Mustaqiim memberikan komentar antara lain sbb: ”Maafkan kami, jika kami berpendapat bahwa rasanya kok amat sedikit norma-norma agama yang disampaikan para ulama yang membekas di kepala / otak / jiwa anak bangsa ini. Siraman rohani yang disampaikan dari waktu ke waktu seakan siraman air ke lautan pasir.”
Sebelum kita menanggapi komentar pembaca tersebut, ada baiknya kita bertanya dalam hati, mengapa bangsa / ummat lain yang berbudaya / beragama lain bisa membangun kehidupan bermasyarakat dengan baik? Ternyata bangsa itu memiliki pedoman budi pekerti yang diajarkan oleh para guru / ulama mereka yang benar-benar piawai dalam mengajarkannya. Dan para guru / ulama itu menerapkan dengan konsekwen apa yang telah diajarkannya, sehingga menjadi teladan bagi bangsa / ummatnya.
Dalam tulisan 62 tentang ’Ilmu dan Teknologi’ (26-12-09), ada dua hal yang perlu kita perhatikan. Kedua hal ini akan merupakan bahan pertimbangan tentang apa dan siapa yang salah dalam keberagamaan kita.
Pertama, setiap orang mempunyai karakteristik yang berbeda dalam ras, warna kulit, bentuk tubuh, kepribadian, bangsa, kultur dan sebagainya. Perbedaan tersebut disengaja Allah Yang Maha Pencipta, agar orang saling kenal mengenal. Namun tidak ada karakteristik yang menyebabkan seseorang dengan sendirinya lebih baik atau lebih mulia daripada yang lain.
Jadi perbedaan karakteristik tersebut, bukanlah merupakan faktor penting yang membedakan baik-buruknya kualitas manusia. Sebagai contoh, imigran yang dikatakan malas di negeri asalnya, ternyata bisa menjadi kekuatan yang produktif di negara-negara maju. Hal ini disebabkan karena negara-negara maju memiliki SDM yang mampu melakukan manajemen perusahaan dan penerapan etika kerja yang baik. SDM ini bukan datang dengan sendirinya, sehingga suatu bangsa lebih baik daripada bangsa lainnya, tetapi dapat dikembangkan oleh siapa saja yang mengusahakannya.
Demikian pula untuk menjadikan bangsa Indonesia / ummat Islam berakhlak mulia, yang perlu diperbaiki adalah kemampuan para ulama (SDM ulama) Muslim untuk menyampaikan dakwah Islam secara tepat, dan memberikan teladan yang benar sesuai apa yang diajarkannya. Para ulama harus bisa menjawab tantangan bahwa tugas mereka bukan hanya menyampaikan dakwah, melainkan juga memberikan keteladanan. Hal ini selalu dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam dakwahnya, baik dengan ucapan maupun contoh perbuatan, agar melakukan dan membiasakan diri kepada akhlak yang baik.
Para ulama serta para da'inya atau melalui organisasinya, hendaknya senantiasa proaktif menegakkan apa yang Allah SWT telah mewajibkan atas mereka dan menerangkan secara hakiki, mengingatkan, mendo’akan kebaikan, dan mengarahkan para umara dan ummat kepada yang ma'ruf serta mencegah mereka dari yang munkar dan menjelaskan bahaya dari kemungkaran itu. Para ulama hendaknya paling dominan dibanding siapapun dalam kebijakan menyangkut akhlak bangsa / ummat.
Namun sangat disesalkan bahwa para ulama pada umumnya lebih banyak menekankan masalah akidah dan fiqih kepada para jama’ahnya. Memang akidah, fiqih dan ilmu-ilmu lainnya sangat penting, dan hal ini juga merupakan tema-tema yang ditampilkan di Al Mustaqiim, supaya kita mengetahui hakikat dan perkembangannya. Namun hidup di dunia tidak cukup dengan memiliki ilmu saja, melainkan perlu menerapkan ilmu yang kita miliki untuk mengelola kehidupan bermasyarakat agar harmonis.
Menanggapi komentar pembaca tersebut di atas, maka penulis berpendapat, bahwa para ulama telah gagal menyampaikan dakwahnya secara tepat, sehingga ajaran agama yang disampaikannya tidak membekas di hati ummat. Di sinilah peran para ulama yang seharusnya berada di garis depan untuk mengajarkan ilmu yang mereka miliki, dan memberi teladan dalam mengamalkan apa yang mereka ajarkan. Seharusnya kita malu sebagai ummat Islam yang memiliki agama yang sempurna, tetapi martabat bangsanya terpuruk.
Kedua, dalam kaitan ilmu dan teknologi, cara memanfaatkan ilmu untuk kepentingan praktis disebut teknologi. Jika materi dakwah diibaratkan ilmu, maka ijtihad adalah teknologinya. Ijtihad itu perlu untuk menangani masalah manusia yang berubah dan berkembang dari waktu ke waktu secara dinamik. Di sinilah tantangan bagi ummat Islam terutama para ulama, yakni harus berdiri paling depan bagaimana berijtihad merumuskan metoda (sistem penerapan dakwah) yang praktis dan tepat, sehingga ummat dapat dengan mudah melakukan muhasabah untuk meningkatkan kualitas iman dan takwanya.
Apakah manfaat ajaran Islam jika tidak bisa diterapkan secara hakiki di kalangan ummat Islam sendiri, sementara ini para umara dan ummat Islam menerapkan sistem di bidang sosial, politik, ekonomi, hukum, dan lainnya, yang bukan dari ajaran Islam? Ummat Islam masih membutuhkan nasihat dari orang-orang yang ikhlas dan bimbingan orang-orang yang bertaqwa. Tugas yang mulia ini dipikul di atas pundak para ulama. Merekalah yang melaksanakannya. Di sinilah peran para ulama yang harus selalu mengingatkan dan menasihati para umara dan ummat apabila terdapat kekeliruan dalam beragama.
Orang-orang berilmu seperti para ulama, hendaknya menyadari bahwa mempelajari ilmu itu seharusnya dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, meraih ridha-Nya, dan mendapatkan pahala dari-Nya, bukannya untuk meraih materi keduniaan yang fana. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang semestinya diniatkan untuk mendapatkan ridha Allah, namun dia tidaklah mempelajarinya, kecuali untuk mendapatkan keuntungan duniawi, maka dia kelak tidak akan mendapatkan aroma surga pada hari kiamat.” [HR Abu Hurairah].
Rasulullah SAW juga bersabda: “Dunia ini ibarat kebun yang dihiasi dengan empat ornamen: ilmunya para ulama, keadilan para pemimpin, kepemurahan orang-orang kaya, dan do’anya orang-orang fakir”. [HR Abu Daud.Dalam hadits di atas, ilmunya para ulama disebut paling awal – yang berarti pemeran paling utama, yaitu para ulama.
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah ulama”. [QS Faathir (35): 28]. Takut para ulama kepada Allah adalah takut dalam arti bertanggungjawab dan bisa menjadi contoh kebaikan bagi ummat atau masyarakatnya, yaitu tanggungjawab akan terwujudnya masyarakat yang benar-benar Islami. Bukan ulama yang hanya pandai memperjualbelikan ayat-ayat Allah demi kepentingan dunia yang sesaat, seperti yang sekarang banyak terjadi. Selesai berdakwah terima duit, tidak peduli masyarakat kelak akan menjadi apa dan bagaimana.
Kaum ulama tidak boleh menganggap dirinya sama seperti orang-orang pada umumnya dalam berperan di masyarakat. Semakin seseorang dekat kepada Islam, semakin besar pula tanggungjawabnya. Oleh sebab itulah para Nabi mempunyai tanggungjawab yang lebih besar dari siapa pun. Tapi mereka tidak pernah meninggalkan kewajiban mereka. Ulama pun harus demikian. Tanggungjawab mereka lebih besar dari pihak manapun, selain para Nabi. Boleh jadi banyak pihak yang mendapatkan keringanan karena ketidak-tahuan dan ketidak-mampuan mereka. Tapi tidak demikian dengan para ulama, sebab mereka mampu dan tersedia jalan untuk mengajarkan dan memberikan suri teladan.
Selain itu, para ulama secara moral mempunyai tanggungjawab bersama. Jika seorang ulama X melakukan perbuatan tercela, maka orang-orang akan menganggap semua ulama tercela. Orang tidak akan mengatakan ulama X saja yang tercela. Tapi tidak demikian jika seorang pedagang Y yang menjual barang dengan harga mahal. Orang tidak akan menganggap semua pedagang menjual mahal. Tapi hanya pedagang Y saja. Karena itu tanggungjawab ulama amat besar. Sedemikian besamya, jika seorang saja ulama berbuat salah maka semua ulama kena getahnya. Kesalahan yang dilakukan seorang ulama tidak ditimpakan kepada ulama X yang melakukannya, tapi ke seluruh ulama. Kesalahan seorang ulama dapat merusak citra semua ulama.
Selanjutnya yang perlu diwaspadai para ulama adalah egoisme. Semua malapetaka yang terjadi di dunia ini berasal dari sikap egoisme ini. Yaitu rasa cinta kedudukan, cinta kekuasaan, cinta harta, dan sebagainya. Semua itu bermuara pada rasa cinta diri. Inilah ‘berhala’ paling besar dan paling sulit dihancurkan, namun tetap harus dihancurkan. Jangan dibiarkan ‘berhala’ itu bebas bergerak. Sebab ia akan mencelakakan kita.
Satu hal lagi yang perlu diperhatikan para ulama, hendaknya hidup sederhana. Sederhana bukan berarti miskin. Cara hidup sederhana seperti inilah yang sesungguhnya mengangkat martabat kaum ulama dan memelihara eksistensi mereka selama ini. Mereka yang hidup sederhana inilah yang selalu menjadi sumber aspirasi, dihormati, dan didengar ummat. Nilai manusia bukan dilihat dari rumah yang dihuninya. Bukan dari kebun yang dimilikinya, juga bukan dari kendaraan mewah yang ditumpanginya.
Jika ini adalah nilai manusia maka para Nabi pasti sudah mengejarnya. Tapi para Nabi tidak demikian. Sebab nilai manusia memang tidak dilihat dari sisi ini. Tidak dari berapa kendaraan yang dimilikinya. Nilai kerohanian juga demikian. Tidak dilihat dari tempat tinggal, kantor kerja, atau fasilitas yang dimilikinya. Maka dalam menuntut ilmu, para ulama tidak boleh mengejar nilai-nilai formal. Semakin mereka mengejar nilai-nilai formal, semakin wibawa mereka berkurang.
Di kalangan ulama, para khotib shalat Jum’at mempunyai tanggung jawab yang lebih besar. Mereka lebih banyak berhubungan dengan masyarakat dibanding ulama lain.
Assalamualaikum Ustadz. Selaku ulama, apakah Ustadz selalu memberikan resep penerapan pada setiap akhir berdakwah? Mohon penjelasan. Terimakasih. Wassalam.
BalasHapusAlaikum salam wr.wb.
BalasHapusMenjawab pertanyaan Anda, pertama perlu saya jelaskan bahwa saya bukanlah ulama. Anda bisa melihat riwayat hidup saya yang tidak memiliki latar belakang pendidikan formal agama. Namun sebagai insan yang menginginkan kebaikan dan perbaikan, secara umum saya telah menyusun Sepuluh Prinsip Membangun Masyarakat Islami sebagaimana ditampilkan pada lajur kanan halaman utama Al Mustaqiim, dan rinciannya ditampilkan dalam tulisan 10 s/d 18 dan 22 (lihat Arsip dari tgl 30-11-08 s/d 2-7-09).
Dalam tulisan-tulisan lainnya, saya selalu menekankan bahwa setiap Muslim yang mengaku beriman dan bertakwa, seharusnya memiliki moral dan etika yang baik, jujur, bertanggungjawab, memiliki rasa bertanggungjawab, mematuhi kesepakatan bersama (patuh pada hukum dan undang-undang), memiliki kepedulian sosial yang tinggi, bersungguh-sungguh dan profesional dalam bekerja, ikut memikirkan masa depan generasi penerus, hidup sederhana dan berlaku disiplin. Sepuluh prinsip ini paling tidak harus dijadikan rujukan dalam melakukan muhasabah untuk melakukan kebaikan dan perbaikan.
Jika setiap Muslim dalam kehidupan pribadinya selalu berpegang pada sepuluh prinsip di atas, saya yakin akan terwujud masyarakat Islami.
Semoga Anda berkenan dengan jawaban ini.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Assalamualaikum wr., wb.,
BalasHapusSemoga Allah SWT senantiasa mengkaruniai Ustad Hermanto dengan kesehatan serta hidup yang bermanfaat dan penuh barokah. Amin3x.
Karya Ustad Hermanto bersama Al-Ustad Syakieb Mahmud semakin lama semakin tajam namun tetap enak dibaca. Maju truss pantang mundur!.