Sabtu, 10 Mei 2014

MENJAUHI PERILAKU BERMEGAH-MEGAHAN


أَلْهَاكُ أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ﴿١﴾ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ ﴿٢﴾ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٣﴾ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٤﴾

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk liang kubur. Jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), Dan jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui. " (QS At-Takatsur 102:1-4).
 
Ayat pertama surah At-Takatsur yang kita pampangkan di atas mengecam keras orang-orang yang bermegah-megahan dalam kehidupan dunia. Yang dimaksud dengan bermegah-megahan adalah senang menampilkan berbagai kelebihan yang ada pada dirinya, yang berupa kekayaan, kepandaian, kedudukan, kekuasaan, ketampanan atau kecantikan, dan sebagainya. Sikap bermegah-megahan itu menjadikan dia lalai terhadap Allah, dalam arti tidak melaksanakan perintah Allah, enggan menjauhi larangan Allah, menolak mengikuti petunjuk Allah, dan tidak mau meneladani akhlak Rasul Allah. Pekerti buruk itu terus menerus dijalaninya sampai masuk liang kubur – maksudnya sampai dengan kematiannya. Padahal ketika seseorang mati, dia tidak dapat lagi memperbaiki diri, sehingga kelak di dalam pengadilan agung di padang Mahsyar, dia memperoleh rapor buruk dan hasil pemeriksaan yang buruk, yang mengantar dia menjadi penghuni neraka Jahanam.

Merupakan sebuah kenyataan bahwa orang mengumpulkan harta bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan lahiriah seperti makan, pakaian, rumah, kesehatan; kebutuhan seperti itu memiliki plafon yang rendah. Kebanyakan orang mengusahakan kekayaan yang sebanyak-banyaknya, untuk memperoleh kehormatan, prestise, dan pujian dari orang-orang lain. Orang membangun rumah yang luas dan megah, mengenakan pakaian yang indah, membeli mobil-mobil mewah, bukan hanya untuk dia nikmati secara fisik, tetapi terutama untuk menjadikan dirinya "orang terpandang" di tengah-tengah masyarakat, bahkan yang paling unggul di antara semua anggota masyarakat. Maka nafsu bermegah-megahan itu menjadi tidak berbatas, dan orang akan terus menerus mengejar keinginannya, dengan terengah-engah sampai saat kematian tiba, sampai liang kubur menelan tubuhnya.  

Sikap demikian itu telah menjadi kebiasaan manusia sejak dahulu. Al-Quran meriwayatkan sejumlah orang dari zaman berbeda yang berperilaku seperti itu. Surah Al-Qashash (28) ayat 78 sampai dengan 82 berkisah tentang Qarun, seorang yang karena kerja kerasnya dan juga kelicikannya menjadi sangat kaya raya. Dengan amat sombong dia mengatakan bahwa kekayaan itu dia peroleh semata-mata karena kepintarannya, bukan karena keberuntungan atau pertolongan siapapun. Maka secara berkala dia mengadakan parade pameran kekayaan ke seluruh pelosok negeri, dan menikmati decak kagum orang-orang yang menyaksikan pameran harta itu. Orang-orang yang berilmu mengritik perbuatan Qarun tersebut. Mereka mengatakan bahwa kekayaan yang berlimpah itu tidak ada artinya dibanding pahala Allah bagi orang-orang yang beramal saleh. Karena itu seyogyanya Qarun membelanjakan hartanya untuk menolong orang-orang yang lemah dan miskin, bukan memamerkannya kepada khalayak ramai. Tetapi Qarun justru menertawakan para pengritiknya itu dengan menganggap mereka sebagai orang-orang yang tak tahu diri. Akhirnya Allah Swt menurunkan adzabnya yang berupa gempa tektonik dahsyat, yang membenamkan dia bersama seluruh hartanya ke dalam tanah. Allah berfirman tentang nasib orang ini: "Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap adzab Allah. dan tidaklah dia termasuk orang-orang yang dapat membela dirinya. (QS 28 Al-Qasshash: 81).

Al-Quran menceriterakan pula perilaku Ratu Balqis yang merasa gerah ketika orang-orang membicarakan Sulaiman a.s., Raja Bani Israil yang perkasa dan juga seorang Rasul. Perempuan penguasa itu tidak mau disaingi dalam hal kemasyhuran dan kekayaan oleh Sulaiman. Maka dia melakukan kunjungan kehormatan ke negeri Bani Israil, bukan untuk bersilaturahim menjalin persahabatan dan kerjasama, tetapi hendak mendemonstrasikan kemegahan diri dan negaranya. Karena itu Sang Ratu membawa hadiah berupa emas permata yang sangat berharga. Sulaiman yang telah menerima informasi dari petugas intelejen, segera menyiapkan penyambutan yang tidak kalah megahnya. Tetapi dia melakukan itu untuk memertontonkan kelebihan. Dia hendak memperlihatkan bahwa apa yang dimiliki seseorang atau sebuah negeri, tidak berarti apa-apa dibanding keagungan Allah Swt. Raja pun mengerahkan pasukan jin untuk membangun istana yang luar biasa indah, kemudian memindahkan tahta Balqis sendiri ke istana baru itu. Ratu Balqis benar-benar terpesona oleh keadaan istana yang luar biasa megah itu, dan lebih-lebih lagi melihat mahligainya yang telah diangkut dengan cara ajaib tersebut. Maka diapun tunduk kepada Allah dan mengakui ke-Rasulan Sulaiman a.s. Kisah ini diceriterakan di dalam Al-Quran, surah An-Naml (27) ayat 15 sampai dengan 24.

Sikap bermegahan ini diikuti orang-orang dari kawasan ke kawasan dan dari generasi ke generasi sampai sekarang. Di Indonesia pada saat ini, di tengah kemiskinan yang menghimpit banyak orang, demam berfoya-foya justru makin menyeruak. Padahal apabila kita renungkan dengan saksama, banyak hal yang tidak masuk akal. Orang membeli mobil-mobil super mewah dan tentu juga super mahal, tetapi hampir tidak dapat diambil manfaatnya, kecuali memuaskan nafsu pamer belaka. Misalnya orang membeli mobil sport Ferrari atau Lamborghini, dengan spesifikasi luar biasa. Kita baca dalam majalah otomotif, Ferrari tipe terbaru dapat melesat dari berhenti ke kecepatan 100 km sejam hanya dalam 3 detik saja, dan mencapai kecepatan 200 km sejam sejak dari nol hanya dalam waktu 7 detik. Tetapi di mana di negeri ini, mobil tersebut dapat dipakai? Tentu tidak mungkin di jalan umum yang macet dan banyak renjulnya. Maka pemilik kendaraan ini hanya dapat menjalankan mobilnya pelan-pelan, untuk ditonton oleh para pengagum yang berdecak-decak. Orang itu merasa puas mendengar orang-orang berkata seperti pada masa Qarun: "Aduhai, alangkah senangnya bila kita memiliki apa yang dipunyai Qarun. Sesungguhnya dia memperoleh keberuntungan yang besar!". (QS 28 Al-Qashash: 79). Kita juga dapat menyaksikan keganjilan beberapa orang Indonesia yang membeli mobil mewah Rolls Royce Phantom II yang harganya lebih dari 13 milyar rupiah. Padahal beberapa waktu yang lalu masyarakat Jakarta menyaksikan mobil dengan merk sama tenggelam di tengah banjir Jakarta. Untung, mobil mewah yang terbenam di air itu "cuma" keluaran generasi pertama.

Surah 102 ini jelas dan tegas memerintahkan orang-orang beriman menjauhi perilaku bermegah-megahan. Perbuatan demikian menyebabkan atau menguatkan sifat 'ujub, kagum kepada diri sendiri. Seorang mukmin seharusnya tawaddhu' – merendah diri kepada Allah dan merendah hati kepada sesama manusia. Seorang mukmin tahu dan yakin benar bahwa yang Mahasempurna hanya Allah Swt. Yang berhak dan pantas menerima pujian hanya Allah Swt. Setiap orang punya kekurangan dan kelemahan, karena itu tidak patut dan tidak boleh sombong. Allah menyatakan: "Janganlah kamu terlalu membanggakan diri. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang terlalu membanggakan diri". (QS 28 Al-Qashash: 76). Rasulullah Saw menerangkan: "Tidak akan masuk surga orang yang ketika mati di dalam hatinya masih ada kesombongan walaupun hanya sebesar bijih sawi". (HR Muslim). Mengenai pengertian sombong, Rasulullah menerangkan bahwa sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia. (HR Muslim).

Bermegah-megahan juga menyebabkan kedengkian dan permusuhan. Telah kita bicarakan bahwa orang yang bermegahan ingin agar dia dihormati dan dipandang oleh orang-orang lain sebagai yang terbaik. Dengan sikap itu dia, sadar atau tidak sadar, menempatkan orang lain sebagai saingannya. Maka ketika menyaksikan seorang lain berprestasi, atau mendapat pujian dari masyarakat, dia tidak senang, kemudian dengki kepadanya, lalu memusuhinya. Orang yang dibenci dan dimusuhi juga mempunyai sifat yang sama; maka keduanya saling bermusuhan. Orang yang beriman tidak boleh mengidap penyakit seperti itu. Mukmin menyadari bahwa setiap orang dilahirkan di dunia ini sebagai keturunan Adam a.s. karena itu mereka bersaudara. Apa lagi orang-orang beriman, yang telah sama-sama berikrar untuk ber-Tuhankan Allah, beragama Islam dan meneladani Muhammad Saw sebagai Nabi dan Rasul Allah. Tentang hal ini Allah Swt berfirman: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah di antara saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat". (QS 49 Al-Hujurat:10). Rasulullah Saw bersabda: "Perumpamaan orang Islam yang saling mengasihi dan mencintai satu sama lain adalah ibarat satu tubuh,
Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasa sakit dan tidak bisa tidur" (HR Bukhari).

Inti persaudaraan adalah saling mengasihi, saling menolong dan saling melindungi. Termasuk dalam hal ini adalah menolong orang tersebut dari adzab Allah, dengan menghalanginya dari melakukan perbuatan buruk. Rasul berpesan: "Tolonglah saudaramu dalam keadaan zhalim atau dizhalimi", Abu Hurairah bertanya, "Wahai Rasulullah, aku tahu bagaimana menolong dia dalam keadaan dizhalimi, tetapi bagaimana aku menolongnya dalam keadaan zhalim?', beliau bersabda: "Kamu cegah dia dari berbuat dzalim. Itulah pertolonganmu kepadanya."(HR Bukhari)

Rangkaian ayat yang menjadi pokok bahasan kita hari ini mengingatkan semua kita agar menjauhi sikap bermegah-megahan, karena hanya akan merugikan diri sendiri, baik di dunia maupun di akhirat. Orang-orang yang meniru Qarun barangkali merasakan kesenangan dari pujian orang lain dan kekaguman mereka kepada dirinya. Tetapi kesenangan itu hanya sebentar sekali, dan semu. Segera setelah itu dia akan menyadari bahwa ada sejumlah orang lain yang memiliki kelebihan dibanding dirinya dalam hal-hal lain. Maka dia merasa kecil hati dan resah. Lalu dia berusaha lebih keras untuk memperoleh kemampuan lebih tinggi dari orang yang meresahkan hatinya itu, agar dapat memperlihatkannya kepada masyarakat. Demikian seterusnya sehingga hatinya tidak pernah tenteram. Allah Swt Pencipta manusia memang menerangkan bahwa manusia itu bersifat resah. Apabila menghadapi kesulitan dia mudah putus asa, tetapi tatkala memperoleh kegembiraan dia menjadi sombong dan kikir. Kecuali orang-orang yang shalat, dan menghayati shalatnya itu dengan sepenuh hati. Silakan membaca keterangan ini dalam surah 70 Al-Ma'arij ayat 19 sampai dengan 23. Semoga masing-masing kita memperoleh hikmah dari telaah ini.    
Sakib Mchmud
No. 219

Tidak ada komentar:

Posting Komentar