أَلْهَاكُ أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ﴿١﴾ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ ﴿٢﴾ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٣﴾ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٤﴾
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk liang kubur. Jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), Dan jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui. " (QS At-Takatsur 102:1-4).
Ayat pertama surah
At-Takatsur yang kita pampangkan di atas mengecam keras orang-orang yang
bermegah-megahan dalam kehidupan dunia. Yang dimaksud dengan bermegah-megahan
adalah senang menampilkan berbagai kelebihan yang ada pada dirinya, yang berupa
kekayaan, kepandaian, kedudukan, kekuasaan, ketampanan atau kecantikan, dan
sebagainya. Sikap bermegah-megahan itu menjadikan dia lalai terhadap Allah,
dalam arti tidak melaksanakan perintah Allah, enggan menjauhi larangan Allah,
menolak mengikuti petunjuk Allah, dan tidak mau meneladani akhlak Rasul Allah.
Pekerti buruk itu terus menerus dijalaninya sampai masuk liang kubur –
maksudnya sampai dengan kematiannya. Padahal ketika seseorang mati, dia tidak
dapat lagi memperbaiki diri, sehingga kelak di dalam pengadilan agung di padang
Mahsyar, dia memperoleh rapor buruk dan hasil pemeriksaan yang buruk, yang
mengantar dia menjadi penghuni neraka Jahanam.
Merupakan sebuah
kenyataan bahwa orang mengumpulkan harta bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan
lahiriah seperti makan, pakaian, rumah, kesehatan; kebutuhan seperti itu
memiliki plafon yang rendah. Kebanyakan orang mengusahakan kekayaan yang
sebanyak-banyaknya, untuk memperoleh kehormatan, prestise, dan pujian dari
orang-orang lain. Orang membangun rumah yang luas dan megah, mengenakan pakaian
yang indah, membeli mobil-mobil mewah, bukan hanya untuk dia nikmati secara
fisik, tetapi terutama untuk menjadikan dirinya "orang terpandang" di
tengah-tengah masyarakat, bahkan yang paling unggul di antara semua anggota
masyarakat. Maka nafsu bermegah-megahan itu menjadi tidak berbatas, dan orang
akan terus menerus mengejar keinginannya, dengan terengah-engah sampai saat
kematian tiba, sampai liang kubur menelan tubuhnya.
Sikap demikian itu telah
menjadi kebiasaan manusia sejak dahulu. Al-Quran meriwayatkan sejumlah orang
dari zaman berbeda yang berperilaku seperti itu. Surah Al-Qashash (28) ayat 78
sampai dengan 82 berkisah tentang Qarun, seorang yang karena kerja kerasnya dan
juga kelicikannya menjadi sangat kaya raya. Dengan amat sombong dia mengatakan
bahwa kekayaan itu dia peroleh semata-mata karena kepintarannya, bukan karena
keberuntungan atau pertolongan siapapun. Maka secara berkala dia mengadakan
parade pameran kekayaan ke seluruh pelosok negeri, dan menikmati decak kagum
orang-orang yang menyaksikan pameran harta itu. Orang-orang yang berilmu
mengritik perbuatan Qarun tersebut. Mereka mengatakan bahwa kekayaan yang berlimpah
itu tidak ada artinya dibanding pahala Allah bagi orang-orang yang beramal
saleh. Karena itu seyogyanya Qarun membelanjakan hartanya untuk menolong
orang-orang yang lemah dan miskin, bukan memamerkannya kepada khalayak ramai.
Tetapi Qarun justru menertawakan para pengritiknya itu dengan menganggap mereka
sebagai orang-orang yang tak tahu diri. Akhirnya Allah Swt menurunkan adzabnya
yang berupa gempa tektonik dahsyat, yang membenamkan dia bersama seluruh
hartanya ke dalam tanah. Allah berfirman tentang nasib orang ini: "Maka
Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya
suatu golonganpun yang menolongnya terhadap adzab Allah. dan tidaklah dia
termasuk orang-orang yang dapat membela dirinya. (QS 28 Al-Qasshash: 81).
Al-Quran menceriterakan
pula perilaku Ratu Balqis yang merasa gerah ketika orang-orang membicarakan
Sulaiman a.s., Raja Bani Israil yang perkasa dan juga seorang Rasul. Perempuan
penguasa itu tidak mau disaingi dalam hal kemasyhuran dan kekayaan oleh
Sulaiman. Maka dia melakukan kunjungan kehormatan ke negeri Bani Israil, bukan
untuk bersilaturahim menjalin persahabatan dan kerjasama, tetapi hendak
mendemonstrasikan kemegahan diri dan negaranya. Karena itu Sang Ratu membawa
hadiah berupa emas permata yang sangat berharga. Sulaiman yang telah menerima
informasi dari petugas intelejen, segera menyiapkan penyambutan yang tidak
kalah megahnya. Tetapi dia melakukan itu untuk memertontonkan kelebihan. Dia
hendak memperlihatkan bahwa apa yang dimiliki seseorang atau sebuah negeri,
tidak berarti apa-apa dibanding keagungan Allah Swt. Raja pun mengerahkan
pasukan jin untuk membangun istana yang luar biasa indah, kemudian memindahkan
tahta Balqis sendiri ke istana baru itu. Ratu Balqis benar-benar terpesona oleh
keadaan istana yang luar biasa megah itu, dan lebih-lebih lagi melihat
mahligainya yang telah diangkut dengan cara ajaib tersebut. Maka diapun tunduk
kepada Allah dan mengakui ke-Rasulan Sulaiman a.s. Kisah ini diceriterakan di
dalam Al-Quran, surah An-Naml (27) ayat 15 sampai dengan 24.
Sikap bermegahan ini
diikuti orang-orang dari kawasan ke kawasan dan dari generasi ke generasi
sampai sekarang. Di Indonesia pada saat ini, di tengah kemiskinan yang
menghimpit banyak orang, demam berfoya-foya justru makin menyeruak. Padahal
apabila kita renungkan dengan saksama, banyak hal yang tidak masuk akal. Orang
membeli mobil-mobil super mewah dan tentu juga super mahal, tetapi hampir tidak
dapat diambil manfaatnya, kecuali memuaskan nafsu pamer belaka. Misalnya orang
membeli mobil sport Ferrari atau Lamborghini, dengan spesifikasi luar biasa.
Kita baca dalam majalah otomotif, Ferrari tipe terbaru dapat melesat dari
berhenti ke kecepatan 100 km sejam hanya dalam 3 detik saja, dan mencapai
kecepatan 200 km sejam sejak dari nol hanya dalam waktu 7 detik. Tetapi di mana
di negeri ini, mobil tersebut dapat dipakai? Tentu tidak mungkin di jalan umum
yang macet dan banyak renjulnya. Maka pemilik kendaraan ini hanya dapat
menjalankan mobilnya pelan-pelan, untuk ditonton oleh para pengagum yang
berdecak-decak. Orang itu merasa puas mendengar orang-orang berkata seperti
pada masa Qarun: "Aduhai, alangkah senangnya bila kita memiliki apa yang
dipunyai Qarun. Sesungguhnya dia memperoleh keberuntungan yang besar!".
(QS 28 Al-Qashash: 79). Kita juga dapat menyaksikan keganjilan beberapa orang
Indonesia yang membeli mobil mewah Rolls Royce Phantom II yang harganya lebih
dari 13 milyar rupiah. Padahal beberapa waktu yang lalu masyarakat Jakarta
menyaksikan mobil dengan merk sama tenggelam di tengah banjir Jakarta. Untung,
mobil mewah yang terbenam di air itu "cuma" keluaran generasi
pertama.
Surah 102 ini jelas dan
tegas memerintahkan orang-orang beriman menjauhi perilaku bermegah-megahan.
Perbuatan demikian menyebabkan atau menguatkan sifat 'ujub, kagum kepada
diri sendiri. Seorang mukmin seharusnya tawaddhu' – merendah diri kepada
Allah dan merendah hati kepada sesama manusia. Seorang mukmin tahu dan yakin
benar bahwa yang Mahasempurna hanya Allah Swt. Yang berhak dan pantas menerima
pujian hanya Allah Swt. Setiap orang punya kekurangan dan kelemahan, karena itu
tidak patut dan tidak boleh sombong. Allah menyatakan: "Janganlah kamu
terlalu membanggakan diri. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang
terlalu membanggakan diri". (QS 28 Al-Qashash: 76). Rasulullah Saw
menerangkan: "Tidak akan masuk surga orang yang ketika mati di dalam
hatinya masih ada kesombongan walaupun hanya sebesar bijih sawi". (HR
Muslim). Mengenai pengertian sombong, Rasulullah menerangkan bahwa sombong itu
menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia. (HR Muslim).
Bermegah-megahan juga
menyebabkan kedengkian dan permusuhan. Telah kita bicarakan bahwa orang yang
bermegahan ingin agar dia dihormati dan dipandang oleh orang-orang lain sebagai
yang terbaik. Dengan sikap itu dia, sadar atau tidak sadar, menempatkan orang
lain sebagai saingannya. Maka ketika menyaksikan seorang lain berprestasi, atau
mendapat pujian dari masyarakat, dia tidak senang, kemudian dengki kepadanya,
lalu memusuhinya. Orang yang dibenci dan dimusuhi juga mempunyai sifat yang
sama; maka keduanya saling bermusuhan. Orang yang beriman tidak boleh mengidap
penyakit seperti itu. Mukmin menyadari bahwa setiap orang dilahirkan di dunia
ini sebagai keturunan Adam a.s. karena itu mereka bersaudara. Apa lagi
orang-orang beriman, yang telah sama-sama berikrar untuk ber-Tuhankan Allah,
beragama Islam dan meneladani Muhammad Saw sebagai Nabi dan Rasul Allah.
Tentang hal ini Allah Swt berfirman: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu
bersaudara, maka damaikanlah di antara saudaramu dan bertakwalah kepada Allah
agar kamu mendapat rahmat". (QS 49 Al-Hujurat:10). Rasulullah Saw
bersabda: "Perumpamaan orang Islam yang saling mengasihi dan mencintai
satu sama lain adalah ibarat satu tubuh,
Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasa sakit dan tidak bisa tidur" (HR Bukhari).
Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasa sakit dan tidak bisa tidur" (HR Bukhari).
Inti persaudaraan adalah
saling mengasihi, saling menolong dan saling melindungi. Termasuk dalam hal ini
adalah menolong orang tersebut dari adzab Allah, dengan menghalanginya dari
melakukan perbuatan buruk. Rasul berpesan: "Tolonglah saudaramu dalam
keadaan zhalim atau dizhalimi", Abu Hurairah bertanya, "Wahai
Rasulullah, aku tahu bagaimana menolong dia dalam keadaan dizhalimi, tetapi
bagaimana aku menolongnya dalam keadaan zhalim?', beliau bersabda: "Kamu
cegah dia dari berbuat dzalim. Itulah pertolonganmu kepadanya."(HR
Bukhari)
Rangkaian ayat yang
menjadi pokok bahasan kita hari ini mengingatkan semua kita agar menjauhi sikap
bermegah-megahan, karena hanya akan merugikan diri sendiri, baik di dunia
maupun di akhirat. Orang-orang yang meniru Qarun barangkali merasakan
kesenangan dari pujian orang lain dan kekaguman mereka kepada dirinya. Tetapi
kesenangan itu hanya sebentar sekali, dan semu. Segera setelah itu dia akan
menyadari bahwa ada sejumlah orang lain yang memiliki kelebihan dibanding
dirinya dalam hal-hal lain. Maka dia merasa kecil hati dan resah. Lalu dia
berusaha lebih keras untuk memperoleh kemampuan lebih tinggi dari orang yang
meresahkan hatinya itu, agar dapat memperlihatkannya kepada masyarakat.
Demikian seterusnya sehingga hatinya tidak pernah tenteram. Allah Swt Pencipta
manusia memang menerangkan bahwa manusia itu bersifat resah. Apabila menghadapi
kesulitan dia mudah putus asa, tetapi tatkala memperoleh kegembiraan dia
menjadi sombong dan kikir. Kecuali orang-orang yang shalat, dan menghayati
shalatnya itu dengan sepenuh hati. Silakan membaca keterangan ini dalam surah
70 Al-Ma'arij ayat 19 sampai dengan 23. Semoga masing-masing kita memperoleh
hikmah dari telaah ini.
Sakib Mchmud
No. 219
Tidak ada komentar:
Posting Komentar